Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, 1999
Purnama yang Redup © Alone Fuku, 2012
Warning: OOC, AU, miss-typo, multi-chapter, dan segala hal maupun kekurangan yang terdapat di dalam fanfic.
Don't like? Don't read!
.
.
.
Happy reading!
Chapter 1: Teman?
(Hinata P.O.V)
Hai semuanya! Apa kabar? Kuharap kalian semua baik-baik saja. Umm, aku harus mulai darimana, ya? Baiklah, akan kucoba dari perkenalan saja!
Namaku Hyuuga Hinata. Umurku 17 tahun. Aku sulung dari 2 bersaudara, dan memiliki adik manis bernama Hyuuga Hanabi. Dia cantik dan berbakat. Ya, sangat berbakat! Saking berbakatnya kadang aku seringkali dibuatnya iri, karena ayah lebih sering memujinya dibandingkan aku.
Seperti sekarang ini, ayah mengadakan pesta atas keberhasilannya meraih juara 1 dalam olimpiade Fisika se-Konohagakure. Lihat senyum sumringah ayah itu! Huft, aku belum pernah sekalipun diperkenalkan dan dipuji habis-habisan di depan rekan bisnis ayah.
"Hei, kenapa menyendiri disini!" sapa sebuah suara yang masih asing dari arah bingkai pintu balkon.
Ya, sekarang aku sedang di balkon. Sendirian saja, karena aku memang tak terlalu berminat dengan pesta. Lagipula, ayah juga tidak memperdulikan keberadaanku.
"Aku bicara denganmu, lho!" ucap orang itu lagi. Kuperhatikan wajahnya. Memang masih asing bagiku. "Wah, tidak dijawab. Terpesona oleh ketampananku, ya? Hehehe," cengirnya penuh keceriaan.
DEG!
Aku berbalik membelakanginya. Ada apa ini? Wajahku rasanya memanas melihat ekspesi wajahnya. Perasaan ini... unik.
"Aku becanda, kok. Oh iya, namaku Naruto. Uzumaki Naruto!" katanya memperkenalkan diri, dan masih dalam senyum.
"H-Hinata. Hyuuga Hinata," jawabku membalas untuk menjabat tangannya dengan ragu. Tangan yang hangat. Ah, apa yang kupikirkan ini. Buru-buru kulepaskan tanganku darinya, dan menghindari tatapan matanya.
"Kakak kandung Hanabi?" tanyanya dan kujawab dengan anggukan kepala. "Kukira paman Hiashi hanya punya satu anak. Maaf ya," balasnya.
"Wakatta."
Beginilah hidupku. Seperti anak tak diharapkan dan tak dipandang sedikitpun. Sepeninggalan ibu, aku merasa sangat kesepian. Tidak ada lagi yang memperhatikanku, dan ayah fokus pada prestasi yang diraih Hanabi.
"Kau kesepian ya," ucap Naruto melepas kesunyian yang sempat melanda kami. Kutundukan wajahku dan menatap lurus keramik coklat tempatku berpijak. "Mau menjadi temanku?"
"Eh?"
.
.
.
"Ohayou, Hinata-chan!"
"Ohayou, Ino-san!"
"Aku kangen, tahu?! Satu minggu rasanya satu tahun, ya!" lugas Ino ceria dan duduk manis di bangkunya yang ada di sampingku.
Aku hanya tersenyum seperti biasanya. Benar! satu minggu sudah berlalu. Kini aku kembali ke aktifitas sekolahku setelah libur ujian tengan semester. Dan semenjak hari pesta yang di adakan 3 hari yang lalu, aku masih sering memikirkan perkataan Naruto. Menjadi teman? Huft, apa mungkin?
Kelas semakin ramai. Teman-teman sekelasku asyik membahas tentang liburan mereka. Ino juga, dia tampak terpaut dengan telepon genggamnya, dan berbincang dengan seseorang lewat telepon. Sedangkan aku hanya diam sambil membolak-balik catatanku.
KRIIEET!
Pintu kelas dibuka dan memperlihatkan sosok guru Sejarah kami yang membawa selempang tas kerjanya. Kontan saja seluruh murid di kelas dibuat risuh. Namun moment tersebut hanya berlangsung sesaat, keadaan kembali tenang ketika semua telah kembali ke tempat duduk masing-masing.
Iruka Umino, guru sejarah yang terkenal ramah tersebut menyapa kami dan menanyakan tentang liburan kami. Ya, begitulah! Basa-basi yang sering terjadi di setiap awal semester.
"Baiklah! Sebelum saya membacakan silabus yang akan kita pelajari semester dua ini, saya akan memperkenalkan teman baru yang baru saja pindah ke sekolah ini. Silahkan masuk!" panggil guru Iruka kepada seseorang di balik pintu kelas.
Seisi kelas kembali kisruh dengan beribu pendapat dan pertanyaan tentang sosok murid baru di kelas kami. Mataku juga tertuju pada pintu kelasku. Ya, aku memang tidak banyak bicara seperti yang lain. Tapi jujur saja, aku juga penasaran.
KRIEET!
TAP! TAP! TAP!
Rambut kuning, mata biru, dan senyuman itu...
"Ohayou, minna! Hajimemashite! Boku wa Naruto Uzumaki. Douzo yoroshiku!" serunya lantang dengan mengacungkan ibu jari ke arah semua murid di kelas.
"Kyaaa! Hansamu desu!" komentar salah satu teman sekelasku.
"Kakkoi!"
"Baiklah, Naruto. Silahkan duduk di bangku kosong yang ada di depan Hinata. Hinata acungkan tanganmu!" suruh guru Iruka. Ah, layaknya anak kecil, aku menurut dan mengacungkan tanganku. Kulihat dia menunjukan cengirannya lagi, kemudian berjalan menuju bangkunya dan berhenti tepat di depanku.
"Hehe, bertemu lagi, ya? Seperti yang kubilang. Aku akan menjadi temanmu dan tidak akan membiarkanmu kesepian," tuturnya seraya tersenyum.
Ugh! Jantungku... Ada apa ini? Perasaan apa ini? Aku tertunduk tanpa menjawab. Malu? Tapi kenapa? Aku tak pernah melakukan kesalahan apapun di depannya, kan? Kami-sama, tolong beritahu aku...
.
.
.
to be continued
.
.
.
A/N: Oh ayolah… Aku tahu bahwa aku masih punya hutang fanfic multi-chapter lainnya. Tapi mohon review-nya untuk fanfic yang baru ini, ya. Arigatou gozaimasu! :)
