Resurrection of the Dark Lord (remake)
Chapter 1: Mysterious guy
Disclaimer:
Katekyo Hitman Reborn! © Amano Akira
Resurrection of the Dark Lord & some OC © Sakamoto Tsuyoshi
Warning:
Semi Alternative Universe, lil bit Out Of Character, some Original Characters, etc.
Pairing (this chapter):
No pairing
·
·
·
·
xxxDon't Like, Just Don't Readxxx
·
·
·
·
xxxRome, Italy 10:05 p.
Kedua lelaki itu muncul begitu saja, berjarak beberapa meter di jalan kecil disinari cahaya bulan. Sesaat mereka berdiri diam handgun terarah ke dada yang lain; kemudian saling mengenali, mereka menyimpan handgun di balik jas hitam mereka dan mulai berjalan cepat kearah tujuan yang sama.
"Berita?" tanya yang lebih jangkung.
"Paling baik," jawab Knuckle.
Jalan kecil itu di sebelah kirinya dibatasi semak rendah yang tumbuh liar, di sebelah kanannya oleh pagar tanaman tinggi yang terpangkas rapi.
"Kupikir aku akan terlambat," kata Xavio, profilnya yang kasar hilang-hilang timbul sementara cabang-cabang yang menjuntai dari pepohonan menghalangi sinar bulan.
"Sedikit lebih rumit daripada yang kuperkirakan. Tetapi kuharap dia puas. Kau kedengarannya yakin hasil kerjamu akan diterima baik?"
Knuckle mengangguk, tetapi tidak menjelaskan lebih jauh. Mereka berbelok ke kanan, ke jalan kereta yang terhampar dari jalan kecil itu. Pagar tanaman membelok bersama mereka, membentang jauh sampai ke pagar besi-tempa impresif yang menghalangi jalan kedua orang itu. Tak ada yang menghentikan langkah; dalam diam keduanya mengangkat handgun berornamen hitam itu seperti siap menembakan peluru dan berjalan terus seakan logam gelap itu asap belaka.
Pagar cemara meredam langkah-langkah kedua orang ini. Terdengar bunyi kresek di sebelah kanan mereka: Xavio mencabut handgunnya lagi, mengacungkannya diatas kepala temannya, namun sumber bunyi itu hanyalah seekor anjing jenis golden retriver hanya saja berbulu putih bersih, yang berjalan pongah dan anggun.
"Dia selalu memiliki yang aneh-aneh, Daemon Spade. Anjing albino…" Xavio menyelipkan kembali handgunnya ke balik jas sambil mendengus.
Sebuah gedung megah muncul dari kegelapan di ujung jalan kereta yang lurus, cahaya berkilau pada kaca-kaca jendela lantai bawah yang berbentuk wajik.
Di suatu tempat di kebun gelap di balik pagar, terdengar gemericik air mancur. Knuckle dan Xavio bergegas menuju pintu depan, seorang butler segera membukakan pintu itu.
Ruang depan itu luas, penerangannya remang-remang, dan dekorasinya mewah dengan permadani besar indah terhampar menutupi sebagian besar lantai batu. Kedua laki-laki itu berhenti di depan pintu kayu tebal yang menuju ke ruang berikutnya, ragu-ragu sesaat, kemudian Knuckle memutar pegangan perunggunya.
Ruang tamu itu dipenuhi orang-orang yang diam, duduk mengelilingi meja panjang dengan banyak ornamen. Penerangan datang dari api yang menyala-nyala dalam perapian, di bawah rak marmer indah, yang di atasnya digantungi cermin berbingkai sepuhan emas. Knuckle dan Xavio diam sejenak di ambang pintu. Setelah mata mereka menyesuaikan diri dalam ketiadaan cahaya, pandangan mereka tertuju ke pemandangan yang paling aneh: sesosok manusia yang tidak bergerak dalam sebuah tabung besar yang dipenuhi air, seperti di penjara air vendicare melayang diatas meja, berputar pelan seakan tergantung pada tali yang tidak kelihatan, dan bayangannya terpantul di cermin serta permukaan meja yang berpelitur dan kosong dibawahnya. Tak seorang pun dari orang-orang yang duduk dibawah satu-satunya pemandangan ini memandangnya, kecuali seorang pemuda berambut hijau yang duduk hampir tepat dibawahnya. Tampaknya dia tak bisa menahan diri agar tak mengerling ke atas kira-kira setiap menit sekali.
"Xavio, Knuckle," kata suara tegas namun tenang dari kepala meja. "Kalian nyaris saja terlambat."
Sosok yang berbicara duduk persis di depan perapian, sehingga sulit, awalnya bagi kedua pendatang baru ini untuk melihat lebih dari sekedar siluetnya. Namun ketika mereka mendekat, wajah sosok itu berkilat dalam kegelapan, berambut pirang secerah matahari yang kontras sekali dengan ruangan yang remang-remang dan mata oranye berkilat yang pupil matanya vertikal. Dia pucat sekali sehingga kelihatannya mengeluarkan pendar mutiara.
To Be Continued…
Tsuyoshi: Thanks sudah meluangkan waktu untuk membaca fic gaje ini, ceritanya sengaja Tsu potong disini. Review sangat diharapkan, apalagi yang mau repot-repot mengoreksi kesalahan penulisan, flame juga boleh, asal jangan asal sembur. Arigatou ne, and then… REVIEW PLEASE?
xxxNext chapterxxx
"Knuckle, di sini," kata pria tadi, menunjuk kursi kosong di sebelah kanannya. "Xavio―di sebelah Gwendolyn."
Kedua laki-laki itu duduk di tempat yang diberikan kepada mereka. Sebagian besar mata di sekeliling meja mengikuti Knuckle dan kepadanyalah Knuckle bicara lebih dulu.
"Jadi?"
"My Lord, Vongola Famiglia bermaksud memindahkan Vongola Decimo dari tempatnya yang aman saat ini pada hari sabtu depan, saat malam tiba."
Minat di sekeliling meja menajam dengan gamblang: beberapa orang menegang, yang lain gelisah, semuanya menatap Knuckle dan sang Lord.
"Sabtu… saat malam tiba," ulang sang Lord.
