Fandom: Shin Megami Tensei: Persona 3 FES

Disclaimer: P3FES © Atlus

Genre: Angst/Drama

Character, Pairing: Yukari Takeba, Minato Arisato. MinatoXYukari.

Challenge: [FFC] Double-fiction (—Fictogemino), by kuroliv.

Warning: AR, AT, semi-canon, drabble, etc. DLDR! (Fic ini dapat dibaca dari paragraf awal sampai akhir, atau sebaliknya, karena double-fiction adalah fiksi kembar.)

.

Covet

© Matsura Akimoto

.

Hujan mengguyur lagi. Sudah keberapa kali hujan turun di Iwatodai hari ini?

"Aku merindukanmu."

Yukari duduk di atas ranjang (yang bukan miliknya tersebut). Dipandanginya rinai hujan yang masih tampak di balik jendela.

Sore ini begitu—begitu—

"Apa kamu bahagia di sana, Minato-kun?" Gadis berambut coklat susu tersebut bermonolog terus. Dikulumnya sebuah senyuman. Sinting, mungkin. (Tentu saja, karena cinta membutakan segalanya.)

"Kamu tahu, Minato-kun?" Yukari bagaikan bertanya pada tembok yang dingin, padahal tidak. Ia melanjutkan, "Setelah kamu tiada… Semua terasa sepi."

(Penyesalan serasa menelanjanginya.)

Yukari tersenyum kecut. "Hahaha, yah—" kalimat dan tawanya menggantung di antara udara kamar kosong itu, sebelum ia melanjutkan lagi, "—aku sungguh tidak berguna, Minato-kun. Kamu mati karena kamu terlambat kuselamatkan."

Kamar kosong ini milik Minato, tentu saja.

Kaki Yukari gemetaran. Beban hatinya terlalu… berat.

"Mitsuru-senpai selalu berkata bahwa aku harus melindungimu, tapi—tapi—"

Blazer merah jambu Yukari serasa tidak berguna. Dingin begitu terasa. "Baru beberapa hari kamu pergi, kami sangat kehilanganmu—asalkan kamu tahu." Yukari mengelus-elus sprei ranjang kamar tersebut. Lembut (dan penuh wangi Minato).

Yukari kini berdiri (namun kakinya terasa minim tenaga). Raganya seperti enggan membawanya pergi dari sana.

"Salahkan aku Minato-kun. Aku gagal dalam melindungimu," katanya halus. Kamar kosong tersebut mulai dipenuhi afeksi yang sakit. Sakit. Sakit. Sakit.

Dia mendongkakkan wajahnya ke atas, ke arah langit-langit. Ia berharap bisa melihat Minato di sana, tetapi itu tak mungkin. Personifikasi indigo itu mustahil kembali.

"Okay—" Yukari berusaha tidak menangis. Ia berhasil, dan melanjutkan, "—aku tidak akan melihat Orpheus lagi; karena kamu tidak mungkin men-summon dia lagi."

Hujan lagi. Tik. Tik. Tik. Tik.

"Aku mencintaimu," bisik Yukari lembut—bagaikan berbisik di telinga Minato.

.

(Silahkan dibaca dari paragraf akhir sampai awal)

.

Selesai

.

APA INI. =))

Untuk kak oliv (yang sangat awesome dan cantik dan—yeah, dengan ide variasi fic-nya yang awesome semua); maaf saya nyampah di challenge-mu yang awesome ituuuu. Maaf. Saya membuat fic ini hanya sejam, sih. Terburu-buru. ;;

Untuk penghuni fandom megaten; maaf saya nyampah teruuuus. Uhuhuhu. ;_;

RnR, or CnC please? Double-fiction pertama saya. 8D;