Warning
Typo, OOC, Gaje, Abal, Harap maklumyaa :D
Enjoy
Planning
Inojin merengut menatap ayahnya yang kini sedang sibuk menulis sesuatu dalam buku catatan kecilnya. Mata pria bersurai hitam itu terfokus pada buku kecil dihadapannya mengabaikan tatapan sebal bocah berkulit sepucat dirinya yang kini sedang duduk disebelahnya.
Inojin memencet remote TV berkali-kali berharap ada salah satu Channel televisi yang menyiarkan program lebih mendidik daripada drama remaja atau sinetron yang biasa di tonton mamanya.
"Touchan", panggil Inojin tetap fokus menatap layar kaca sambil mengembungkan pipinya. Yang dipanggil tetap cuek sambil menenggelamkan diri dengan buku catatannya.
"Touchaaaaann…..", rengek Inojin yang kini tengah menarik lengan kaus hitam ayahnya. "Perhatikan aku".
Sai, ayah si anak, kini menengadahkan kepala memalingkan wajahnya dari buku catatan kecil yang belum selesai ia tulisi. Matanya sedikit menyipit karena bibirnya kini sedang tersenyum lebar menatap sang anak.
"Ya, Inojin", ujarnya kemudian. "Ada apa kau memanggil Touchan?".
"Aku bosan di rumah", ujar bocah bersurai pirang berusia 7 tahun itu sambil menggerutu. "Aku ingin sesekali jalan-jalan seperti Shikadai dan Chouchou. Tiap liburan orang tua mereka pasti menyempatkan waktu untuk menikmati liburan bersama. Shikadai saat ini sedang ke Suna mengunjungi paman-pamannya dan sepupunya. Chouchou saat ini sedang liburan di tempat asal ibunya. Sedangkan aku? Touchan dan Kaachan tak pernah mengajakku jalan-jalan. Apalagi pulang kampung seperti mereka".
"Pulang kampung?" Tanya sai sambil tersenyum geli menanggapi cerita anak lelakinya. "Kampung ibumu kan Konoha".
"Kita kan bisa berkunjung ke tempat asal Touchan", seru Inojin sambil menatap penuh harap.
"Touchan rasa tempat asal Touchan kurang tepat untuk tempat menghabiskan waktu liburan", jawab Sai sambil lalu. "Apa kau ingin berlibur atau ingin ke tempat asal Touchan?".
"Aku ingin berlibur Touchan", jawab Inojin mantap. "Kemana saja asal kita bisa mengisi waktu liburan bersama-sama. Lagipula aku tidak mau kalau nanti kami kembali ke akademi hanya aku saja yang tak punya cerita. Aku mau seperti teman-teman".
Sai merenung sejenak. Ia kembali mengingat masa lalunya yang kelam. Jangankan liburan, teman saja ia tak punya. Saat ini ia hanya berharap mampu memberikan kebahagiaan bagi istri dan putranya tercinta. Ia akan memberikan apa saja untuk mereka. Jika yang diminta Inojin hanya liburan kenapa tidak? Justru bagus, ia dan Inojin bisa lebih dekat lagi. Meskipun anak itu memang sangat dekat dengannya dan dengan istrinya. Walau begitu Sai bersyukur Inojin tidak tumbuh menjadi bocah yang manja dan cengeng. Kemampuannya patut diperhitungkan. Ia mewarisi darah Sai dan Ino. Dua Shinobi yang patut diperhitungkan di Konoha. Dan Inojin mewarisi kedua kemampuan orang tuanya walaupun saat ini masih belum sempurna.
"Baiklah", ujar Inojin. "Touchan akan bicara dengan Kaachanmu nanti sore. Besok kita akan pergi berlibur. Dan sebaiknya Kaachanmu yang menentukan hendak berlibur kemana. Bagaimana menurutmu?".
"Ya, tentu saja, Touchan", sambung Inojin. "Aku setuju. Apa perlu aku sendiri yang menyampaikan ini ke Kaachan? Kaachan ada di depan. Boleh aku yang menyampaikannya?".
Sai mengangguk singkat. Senyumnya terkembang melihat putranya begitu bersemangat, Ia iku bahagia melihat Inojin sumringah.
"Berlibur katamu?", Tanya Ino sambil menata helaian bunga dihadapannya. Tangannya yang mulus sedang bergerak lincah memotong tangkai-tangkai bunga yang layu.
"Iya, Kaachan", seru Inojin bersemangat. "Touchan yang bilang kita akan berlibur".
"Kemana?", Tanya Ino penasaran. Maniknya kini sedang menatap kearah putra kesayangannya yang sedang duduk di kursi rotan tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia penasaran Sai akan mengajak mereka liburan kemana. Pasalnya suaminya itu biasanya tidak pernah mengusulkan sesuatu. Biasanya dirinyalah yang aktif mengajak mereka melakukan aktifitas keluarga seperti liburan atau piknik. Menikmati perayaan festival atau hanami bersama. Mendengar Sai mengajak mereka liburan sontak membuat Ino heran. Suaminya terkadang terlalu cuek untuk hal-hal seperti ini. Tapi tentu saja Ino bersyukur atas perubahan suaminya tersebut.
"Touchan bilang biar Kaachan saja yang menentukan mau berlibur kemana", jawab Inojin sambil menatap Ino penuh harap. Ia berharap ibunya memberikan pilihan yang terbaik untuk mengisi waktu liburan mereka.
Ino sendiri sweatdrop mendengar penuturan anaknya. Ternyata tetap saja Ino yang harus mengusulkan tempat. Pria itu sepertinya masih kurang inisiatif untuk memberikan kejutan buat anak mereka.
"Hmm… Kemana ya? Coba Kaachan pikir dulu", Ino menengadahkan wajah sambil menopang dagu denga ujung jemarinya. Diam-diam Inojin mengagumi ibunya yang kini terlihat cantik dengan posisi berpikirnya. Ia dengan reflek ikut mengangkat jari telunjuknya dan menempatkannya dibawah dagu. Wajahnya sedikit ia dongakkan sambil matanya terlihat menerawang dan bibirnya sedikit mengerucut, persis seperti Ino. Rambut berwarna pirang, mata berwarna biru, kuncir kuda dan poni miring mereka sangat-sangat mirip. Sepertinya Inojin adalah klon Ino versi mini. Mereka begitu mirip kecuali kulit pucat Inojin yang menurun dari gen yang ia warisi dari sang ayah.
"Kalian sedang apa?", Tanya Sai heran menatap kedua anak dan ibu dihadapannya. Mereka terlihat menggemaskan dengan pose seperti itu. Tak ayal sikap konyol mereka membuat Sai terbahak. Ino yang menyadari suami sedang menertawakan pose mereka kini ikut tergelak. Disisl gelakan tawa darisi sulung Inojin.
"Kau bilang ingin mengajak kami jalan-jalan", ujar Inojin sedikit menyindir suaminya. "Tapi kenapa kau masih memintaku untuk menentukan tempatnya sih? Niat sekali ya".
"Oh itu", jawab Sai sambil tersenyum menatap anaknya yang kini sedang harap-harap cemas. "Kupikir kau selalu punya ide lebih baik dariku, sayang".
Ino tersanjung mendengar penuturan suaminya. Senyumnya terkembang menanggapi kata-kata yang meluncur dari bibir Sai.
"Bagaimana aku tau ideku lebih baik atau tidak kalau aku sama sekali mendengar usulanmu, sayang?", balas Ino sambil mengerling sang suami. "Cobalah berikan ide pada kami, Sai. Siapa tau idemu justru lebih bagus. Mulailah dari tempat yang muncul dipikiranmu saat mendengar kata liburan".
"Ranjang kita", jawab Sai singkat dan tetap memasang wajah datar. Inojin hanya menatap ayahnya dengan pandangan bertanya. Bagi anak seperti dia, ia tidak cukup peka dengan apa yang dipikirkan Touchannya.
Sedangkan Ino, kini wajahnya sedang memerah menahan malu dan marah. Bagaimana dia bisa lupa kalau suaminya sepolos itu. Ya ampuunn… Yang terbayang dipikirannya kini malah adegan-adegan yang tak pantas dibahas dihadapan anak tersayangnya. Terkutuklah kau Sai, yang membawa imajinasi nakal dipagi hari ini. Batin Ino geram.
"Kenapa liburan harus diranjang Touchan?", Tanya Inojin polos. Mata Ino kini menatap tajam suaminya. Berharap kode yang ia sampaikan melalui mata bisa ditangkap suaminya.
"Ya karena kalau diranjang Touchan dan Kaachan bisa..", kalimat Sai yang polo situ langsung tenggelam karena suara pekikan keras Ino.
"Sai, Baka!", umpat Ino sambil mencubit perut suaminya dengan gemas. Ino tak tau saja jika yang dicubit kini sedang meringis kesakitan.
"Inojin sayang", panggil Ino sambil mengalihkan tatapan anaknya dari sang ayah. "Kita akan berlibur di villa Yamanaka. Bagaimana menurutmu?".
"Villa lagi, Kaachan?", Tanya Inojin sedikit kecewa. "Baiklah".
"Kaachan tau kau pasti bosan di villa. Tapi Kaachan sudah punya rencana bagus untuk menghabiskan waktu disana. Bagaimana menurutmu sayang?", Ino memalingkan muka menghadap kearah suaminya. Sai mengangguk ringan sambil tetap memamerkan senyum khasnya yang menggoda.
"Kuharap ada kegiatan menarik juga untuk kita dimalam hari", sambung Sai sambil terkikik melihat ekspresi terkejut Ino.
.
.
tbc
.
.
Author tau masih ada utang fanfic yang harus diselesaikan. Tapi refresh sejenak ya sambil menikmati story baru ini. Sebenernya mau dilanjut sampai habis. Tapi lihat jam menunjukkan angka jam satu pagi, so... kayaknya besok aja deh lanjutannya. Review ya,, supaya saya bisa ngebut updatenya. hehe. Salam sayang buat readers,, Ein Michal.
