Kuroko no Basuke disclaimer by Fujimaki Tadatoshi-sensei
Mayonaka no Shadow Boy by Rin Shouta
Rate : T
Genre : Romance, Drama, Angst
Pair : KuroFem!Aka
Warning : Gender bender. AU, OOC, typos, etc. Mungkin bisa langsung tahu jalan ceritanya gimana kalau sambil mendengarkan lagu Mayonaka no Shadow Boy-nya Hey! Say! JUMP yang menjadi inspirasi fanfic ini. :) Don't like, don't read. I've warned you, 'kay?
Look my way, chérie
Not that way, chérie
My wish never come true
Hey! Say! JUMP – Mayonaka no Shadow Boy
Bulan Juli adalah salah satu hal yang kurang disukai oleh Kuroko Tetsuya. Udara terasa lebih lembab karena hujan hampir tiap hari membasahi bumi. Matahari pun sering sekali bermain petak umpat di atas langit. Namun siang hari ini, Tetsuya bisa membentuk lengkungan ke atas pada garis bibirnya sedikit lantaran cuaca berawan dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan.
Kamera DSLR berwarna hitam merek Conan sejak bel pertanda istirahat makan siang tadi terus menggantung di depan dada Tetsuya. Kedua mata beriris biru muda itu bergerak mencari sesuatu di gedung utama SMA Teikou. Ia menyipit kemudian bersiap untuk memotret hal yang dicarinya barusan. Semua komposisi dalam kamera diatur sedemikian rupa supaya menghasilkan foto yang bagus. Fokus dipertajam setelah men-zoom out lensa kamera sehingga sang obyek terlihat sangat jelas, meski jarak mereka terbentang sampai ratusan meter jauhnya.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
Tiga foto berhasil ia ambil. Tetsuya tersenyum puas melihat hasil bidikannya tersebut. Perfect.
"Tetsu, kau tidak bosan memotretnya terus dari jauh?"
"Aku takkan bosan, Aomine-kun. Apalagi wajah Akashi-san sangat pas di lensa kameraku."
Aomine Daiki hanya berdencih. Pemuda berkulit cokelat itu tidak bodoh untuk membaca keadaan sekitarnya. Bolehlah nilai semua mata pelajarannya sulit tertolong, tapi ia salah satu manusia peka di antara mereka berdua.
Yap. Mereka, Tetsuya dan Daiki sedang makan siang bersama di atap sekolah gedung barat. Tenang, mereka hanya sahabatan, kok.
Kembali kepada topik pembicaraan di antara dua pemuda berambut biru tersebut.
Akashi Seijuurou. Nama lengkapnya yang sempat disebut Tetsuya adalah obyek foto yang hampir tiap hari mengisi memori kamera pemuda berperawakan mungil itu. Tapi mohon jangan salah paham dulu.
Tidak. Tidak. Tetsuya bukan memotret seorang laki-laki, dirinya masih normal. Melainkan memotret gadis cantik yang memiliki nama seperti milik nama anak laki-laki. Parasnya sangat cantik bagaikan puteri dongeng. Tingginya rata-rata, sekitar sebahu Tetsuya. Rambutnya merah namun berwarna agak muda, sesuai dengan nama marganya, yakni aka dari Akashi.
Ia anak satu-satunya dari sepasang suami-istri keturunan bangsawan, Akashi Masaomi dan Akashi Shiori. Sehingga tidak heran jika mobil limosin berplat nomor 4K4-5H1 sering terparkir di depan gerbang SMA Teikou. Namun itu hanya beberapa kali terlihat karena Tetsuya sempat mendengar sang puteri protes dan menelpon ayah tercinta untuk menghentikan kegiatan antar-jemput dirinya tiap hari.
Omong-omong, hari itu adalah hari pertama Tetsuya dan Seijuurou saling tatap untuk pertama kalinya. Gadis merah yang selalu dipanggil "Chérie" dalam hati Tetsuya tersebut tersenyum canggung. Tetsuya sendiri hanya mengangguk sekali kemudian masuk ke dalam area sekolah. Ah, ia takkan pernah lupa betapa merahnya warna kedua pipi tembam Seijuurou saat itu.
"Delusi lagi?" Daiki menyeringai kemudian.
"Aku hanya mengingat kenangan manisku dengan Akashi-san," elak Tetsuya jujur.
"Kau tidak mau berpaling, huh?"
Alis sebelah kanan Tetsuya terangkat. "Maksudmu?"
"Kau tidak tahu kalau kau cukup populer di sekolah?" tanya Daiki dengan tatapan menuding.
Pemuda minim ekspresi itu tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap salah satu jendela yang terbuka di lantai tiga gedung utama, tempat pujaan hatinya berada. Yang ditatap masih tidak sadar dan nampak sibuk dengan kertas-kertas yang Tetsuya yakini adalah laporan-laporan kegiatan OSIS SMA Teikou.
"Kurasa tidak bisa, Aomine-kun. Setidaknya sampai aku lulus dari sekolah ini," jawab Tetsuya seraya bersiap memotret lagi.
Daiki mengangkat kedua bahunya. "Terserah, deh. Tapi kusarankan jangan terlalu terpaku pada seseorang yang me-notice-mu pun tidak, padahal ada seorang lagi sedang berdiri di sekitarmu dan menunggumu, Tetsu."
"Aomine-kun sedang tidak membicarakan diri sendiri, kan?" tanya Tetsuya sambil menatapnya horor.
"Oi! Aku masih straight, ya! Aku masih suka gadis berdada besar!"
"Itu tidak menjamin kau straight atau tidak, Ganguro kurosuke."
"Jangan ikut-ikutan Satsuki!"
Tetsuya mengabaikan protes Daiki dan mulai sibuk kembali dengan kameranya. Dalam hati ia lelah membicarakan tentang cinta bertepuk sebelah tangannya itu. Ketika Tetsuya mengatur fokus lensa, tiba-tiba sang obyek menengok ke arahnya. Tetsuya yang kaget langsung berlari menjauhi pagar pembatas yang tingginya sekitar satu meter dan bikin Daiki tersedak. Jarang sekali pemuda dim itu melihat sahabat mungilnya berekspresi panik.
"Gawat. Sepertinya hidupku sudah berakhir."
"What—!?"
.
.
.
Senyum tipis muncul di wajah cantik Akashi Seijuurou, Ketua OSIS SMA Teikou. Tangan kanannya memutar-mutarkan pulpen tinta hitam di atas meja. Mata sewarna buah delima itu terlihat memancarkan cahaya lain. Beberapa detik yang lalu ia berhasil menangkap basah salah satu penggemar rahasianya. Salah satu, loh.
Dirinya sadar kalau ia adalah idola di sekolah ini secara tidak langsung. Bagaimana tidak? Waktu ujian masuk, Seijuurou berhasil mendapat nilai sempurna. Bahkan prestasinya itu tak pernah turun. Ia selalu bertahan di posisi pertama seangkatan sampai sekarang.
Sekali lagi kepalanya menengok ke arah atap gedung barat SMA Teikou. Sosok yang diam-diam memotretnya dari sana sudah tak terlihat lagi batang hidupnya. Seijuurou hanya tersenyum geli.
"Akashi, kau kenapa?" tanya Midorima Shintarou selaku Wakil Ketua OSIS.
Seijuurou mendongak. "Bukan apa-apa."
"Pasti fans-mu lagi. Memang susah ya, jadi idola-nanodayo."
"Kau iri, Midorima?"
Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya sambil mendengus pelan. "Untuk informasimu saja, aku juga terkenal karena posisiku sebagai Wakil Ketua OSIS dan Ketua Klub Basket Putera-nanodayo." Ekspresi narsis terlihat walau samar-samar.
Kali ini Seijuurou yang mendengus. "I knew that so well."
"Right."
Shintarou menaruh secangkir darjeeling tea beserta piring kecil untuk alasnya ke atas meja kerja Seijuurou. Di tangan kirinya juga ada cangkir dan piring kecil dengan isi yang sama. Tentu itu bagiannya. Ia berjalan menuju meja kerjanya yang ada di sisi kanan Seijuurou dengan menghadap ke arah timur.
"Tak ada yang lebih menenangkan dari harum darjeeling tea setelah mengurus laporan kegiatan OSIS-nanodayo," ujar Shintarou sebelum meminum teh buatannya itu.
Dua bola mata Seijuurou bergerak mengikuti pergerakan tubuh wakilnya lalu menatap curiga pada secangkir darjeling tea. "Kau tahu, Midorima? Akhir-akhir ini aku berpikir kalau ini salah satu cara modusmu untuk mendekatiku," komentar Seijuurou jujur.
Shintarou tersedak dan dengan susah payah menyahut. "Kau kepedean, Akashi! Kau tahu kalau aku—"
"—haaaaai! Shuryou!" potong Seijuurou.
"Ugh, jangan buat aku mengucapkannya dengan jelas, Akashi."
Seijuurou menyipitkan mata. Kurang suka jika disalahkan. Selang tiga detik, perhatiannya teralih. "Hei, kau tahu siswa berambut biru yang sering membawa kamera ke sekolah?" tanya gadis berambut merah sepunggung itu penasaran.
"Siswa berambut biru..." Shintarou memasang wajah berpikir. "Di sekolah ini banyak siswa berambut biru. Tapi kalau yang sering bawa kamera... mungkin anggota klub fotografi atau klub koran," jawabnya tidak yakin.
Ekspresi kecewa mampir di wajah Seijuurou. "Itu berarti kau tidak tahu."
"Aku hanya memberikan dugaan. Tolong jangan salah paham."
"...oke, thanks."
Sebuah proposal dengan judul Teikou Bunkasai menarik perhatian Seijuurou. Ia mengambil proposal tersebut lalu mengecek isinya. Memang belum lengkap tapi Kepala Sekolah sangat mendukung acara tahunan itu dan siap menandatangani proposal jika sudah selesai dibuat.
"Oh iya, besok rapat pertama Teikousai. Sudah diinformasikan?" tanya Seijuurou pada satu-satunya orang yang ada di ruang OSIS selain dirinya.
"Saki sudah menginformasikan semua KM untuk mengumpulkan data murid yang tidak ikut ekskul besok pagi. Sesuai permintaanmu-nanodayo," jawab Shintarou. Bola mata hijaunya melirik ke mading khusus agenda pengurus OSIS.
Bulan Agustus diisi dengan persiapan dua acara tahunan, tapi di catatan kecil yang ada di ujung kanan bawah mading tertulis agar semua pengurus OSIS fokus ke Teikousai dulu. Tanggal acaranya sudah disepakati oleh semua murid dan para guru, yaitu selama dua hari. Tanggal 15 dan 16 September, hari Jum'at dan Sabtu. Kemudian di hari Minggu (17 September) akan diadakan kerja bakti untuk membersihkan sisa-sisa dari Teikousai.
Setelah Teikou Bunkasai, pengurus OSIS mulai disibukkan dengan persiapan Teikai atau Teikou Undokai yang akan dilaksanakan awal bulan Oktober. Namun sesibuk apapun agendanya, Seijuurou sangat menantikan acara-acara dimana dirinya menjadi penanggung jawab acara. Jika sukses, tentu ia akan merasa senang dan bangga.
"Aku tidak tahu apa aku bisa mengimbangi jadwalku dengan kegiatan pengurus OSIS ini," gumam Shintarou.
"Kalau keadaan darurat, aku mengizinkanmu memilih klub basket, Midorima," sahut Seijuurou seraya menyeruput darjeeling tea-nya.
"Thanks-nanodayo."
"Dan bisakah kau berhenti mengucapkan 'nanodayo' di akhir kalimat?"
"Kau tahu kalau ini kebiasaanku-nanodayo."
"..."
.
.
.
Bel selesainya kegiatan belajar mengajar baru saja berbunyi. Semua murid kelas 2-4 berdiri lalu membungkukkan badan. Tetsuya memasukkan alat-alat tulis dan buku ke dalam tas sekolah berwarna biru tuanya. Ia menggendong tas itu di bahu kanan. Sebuah tas hitam kecil berisi kamera DSLR ikut digendong di bahu yang sama, namun disampirkan ke sisi kiri tubuhnya.
"Kuroko-kun, bisa ke ruang guru sebentar?" tanya Nakamura-sensei.
"Hai," jawab Tetsuya sambil mengangguk.
Kagami Taiga, pemuda yang sudah sekelas dengan Tetsuya sejak kelas 1 kini berdiri di samping kanannya. Ekspresinya nampak bingung. Setahunya Tetsuya tidak pernah bermasalah sampai harus disuruh menghadap ke Wali Kelas mereka sepulang sekolah nanti. Oh, mungkin karena hal ini.
"Nakamura-sensei ingin kau masuk ke klub tertentu?" tanyanya.
Tetsuya mengedikkan bahu. "Sepertinya Sensei sudah menyerah soal itu."
"Padahal tinggal pilih salah satu klub saja tidak mau." Taiga geleng-geleng kepala.
"Kau tahu sendiri kalau aku sudah sibuk dengan kegiatan di luar sekolah, Kagami-kun. Apalagi setelah foto-fotoku dipajang di galeri Kaguya-sensei," ucap Tetsuya seraya bersiap menuju ruang guru. Helaan napas berat terdengar di akhir.
"Aku tahu, aku tahu." Taiga terkekeh pelan kemudian berubah panik. "Yabai! Aku harus ke gym sekarang sebelum si megane mengomel! Bye, Kuroko!"
Dalam hitungan menit sosok sahabatnya sudah menghilang bersama Aomine Daiki yang sempat bertabrakan dengannya tepat di depan pintu kelas. Tetsuya geleng-geleng kepala melihat mereka berdua saling menyalahkan lalu ikut melangkahkan kaki ke luar kelas. Ia sempat bertukar salam kepada beberapa teman sekelasnya yang kebagian jadwal piket hari ini.
Namun baru satu langkah Tetsuya keluar kelas, ekstensi seseorang muncul dari arah kirinya. Tanpa sadar ia menahan napas karena sosok itu ikut berhenti. Mereka saling tatap sebelum sepasang mata beriris ruby menatap tas kamera di sisi kiri Tetsuya. Dalam hati dirinya mulai panas-dingin, walau yang terlihat di wajahnya adalah tanpa ekspresi. Baru siang tadi Tetsuya tertangkap basah dan sekarang Seijuurou sudah mengenalinya!?
Ini. Benar-benar. Mimpi. Buruk.
"..."
"..."
"Sei!"
Kedua muda-mudi itu tersentak akibat suara seseorang yang memanggil nama kecil Seijuurou. Inner Tetsuya gigit jari. Tak ada lagi manusia di sekolah ini yang memanggil nama sang Ketua OSIS dengan nama "Sei" kecuali dia.
Nijimura Shuuzou. Mantan Ketua Klub Basket Putera. Pacar Akashi Seijuurou.
Iya, PACAR.
Gadis chérie-nya menelengkan kepala sedikit dan tersenyum. "Shuu." Tanpa menoleh lagi, Seijuurou melangkah melewati Tetsuya yang masih bergeming di tempatnya.
Tak mau larut dalam kesedihan, Tetsuya berbalik sehingga mereka saling membelakangi.
Begitulah kisah cinta pertama seorang Kuroko Tetsuya yang bertepuk sebelah tangan. Akashi Seijuurou resmi jadi kekasih Nijimura Shuuzou sejak beberapa bulan yang lalu. Cintanya kandas bahkan sebelum mereka resmi berkenalan secara langsung. Tetsuya juga tidak yakin apakah eksistensinya di dunia ini disadari oleh Seijuurou.
Miris... Miris... Miris...
Tapi tidak apa. Jadi penggemar rahasia pun tidak masalah. Rasa cinta ini takkan hilang sampai Tetsuya berpindah ke lain hati. Meski ia tidak tahu kapan hal itu terjadi. Entah tahun ini, tahun depan, atau sepuluh tahun kemudian.
Tap. Tap. Tap.
Tetsuya menggelengkan kepalanya pelan kemudian mendongak. Menatap lurus ke depan. Dalam hati masih menanti masa depan cerah dirinya bersama pujaan hati.
Berbeda dengan Tetsuya, Seijuurou yang tahu pelaku pemotretan dirinya siang tadi adalah pemuda yang ditemuinya barusan itu menengok sebentar. Sambil melangkah menuju kekasihnya yang berdiri di ujung koridor, ia tersenyum senang hingga Shuuzou menampilkan ekspresi bingung. Tapi sedetik kemudian, ia tak mau ambil pusing dan merangkul bahu Seijuurou untuk menuruni anak tangga bersama.
To Be Continued
:') Loha! Saya bawa oleh-oleh fanfic gender bender baru dari kampung-ssu. Plotnya belum selesai, tapi saya gak sabar mau publish ini, jadi~ TADA!
Yang tau saya di FB, pasti ngerti. Saya lagi kena demam Hey! Say! JUMP, makanya dapat inspirasi dari lagu mereka. Rekomendasiin banget tiap baca fanfic ini sambil dengerin lagunya. XD Dan untuk nama chara, saya gak mau merubah nama walau gendernya beda. :D Gak tau kenapa, gak suka aja kalau ganti nama. ._.
Err, saya berusaha bikin fanfic angst, tapi susah-susah gampang. Jadilah fanfic ini... Mood saya selalu baik akhir-akhir ini, udah gak galau lagi. Jadi gak tau harus senang atau gak. TAT Diusahakan up secepatnya sambil ngelanjutin fanfic ZPS, kok. '-')/
Terima kasih sudah mampir!
See You Next Shadow(?)!
CHAU!
