All Hope Is Ghone..
Prolog..
Semua terasa sepi, hampa, dan tak ada yang bisa kurasakan, ketika semua menjauh dariku meninggalkan aku yang hanya sebuah sampah tak berarti..
Didalam setiap diri manusia pasti ada kebaikan dan keburukan, namun tak semua kebaikan itu akan membawa sesuatu yang baik, karena disini sebuah realita hidup seorang bocah yang harus merasakan kerasnya kehidupan dijalanan,
Menjadi gelandangan, dan dipelihara bagai binatang oleh seorang pemimpin desa, orang yang menyandang gelar hokage sebuah gelar yang sangat banyak mencakup arti dari shinobi yang paling hebat, pemimpin yang tangguh dan kuat, atau pemimpin yang ditakuti oleh para musuhnya, dan sangat bijaksana terhadap rakyatnya di desa konoha.
Tapi dibalik semua itu hanya seorang bocah malang yang dapat merasakan sebuah dendam yang belum dia mengerti, namun dia mengerti akan setiap tatapan orang terhadapnya, mengerti setiap cacian dan makian yang dia terima, mengerti akan penyiksaan yang dia dapati, namun semua itu dia dapatkan tanpa alasan yang jelas untuk dipahami, kenapa dia di aniaya, kenapa dia disakiti, kenapa dia dicaci, kenapa tatapan jijik yang dia terima, bahkan seorang hokage yang dia hormati, yang dia sayangi memperlakukannyaa seperti binatang peliharaan.
Terkadang dia bingung kenapa dia harus dilahirkan kedunia ini, karena sejak dia sudah bisa berfikir akan kenyataan dunia disitu dia merasa hanya sebagai sampah didesa kelahirannya sendiri, dia dibesarkan disebuah panti asuhan pinggiran desa tanpa mendapatkan kasih sayang, teman atau pun seseorang yang di anggapnya penting, hahhaha, sungguh ironi yang indah, sungguh kenyataan yang nikmat membutakan dirinya akan rasa sakit, sedih dan cinta, yang ada hanya sebuah kekokosongan mengisi jiwanya, terlepas dari panti asuhan semenjak umur 5tahun dia harus mencoba hidup dijalanan karena panti asuhan yang seharusnya menampung dirinya ketika itu mengusirnya dengan alasan banyak yang membencinya, dirinya hanya sebuah kutukan, dirinya hanya sebuah wujud monster yang telah membunuh dan menghancurkan keluarga mereka, rumah mereka dan meninggalkan bekas luka yang sangat dalam dilubuk hati mereka masing-masing sehingga mereka melampiaskan semua kebencian mereka kepada bocah yang mereka anggap sebagai jelmaan monster yang telah menyerang konoha pada 5tahun yang lalu..
Maka disinilah dirinya sekarang, telah dibuang dari tempat dia bernaung, mencoba menjalani keras kebidupan dijalanan, mencari makan ditempat sampah, atau pun bekas sisa makanan orang yang tidak layak lagi untuk dimakan, sesekali melihat kesempatan mencoba mencuri makanan hanya untuk mengganjal perutnya yang sudah kosong tanpa ada belas kasih yang dia dapati, dan disisi lain sang hokage ingin segera membunuh jelmaaan monster tersebut, karena monster itu lah istri yang sangat dicintainya, disanyanginya tewas waktu penyerangan kyubi 5tahun yang lampau, ingin niat membunuh bocah tersebut namun dirinya tidak bodoh akan tindakan nekad itu, karena dia sangat paham akan pola segel yang menyegel monster itu didalam tubuh bocah itu, jika sang bocah mati maka pola segelnya akan otomatis terbuka dan hal yang pernah terjadi dulu sudah cukup untuk dia saksikan, ingin menyiksa untuk pelampiasan rasa bencinya namun dirinya paham akan hal bahwa dia tak akan puas menyiksanya, karena setiap memikirkan hal tersebut membuat kebencianya membuncah dan nafsu membunuh kian kuat tak bisa dibendung lagi dan sekarang sang hokage hanya membiarkan apa yang akan terjadi terhadap bocah itu terjadilah biarkanlah orang lain yang mewakili atas niatnya itu, dirinya hanya perlu menikmati dan menyaksikan saja.
Dipinggiran sungai dekat pasar desa konoha, sang bocah di anggap perwujudan monster kyubi yang bernama Uzumaki naruto sedang duduk terdiam dipinggir sungai, menatap pantulan bayangan dirinya di air sungai yang sangat jernih sambil menggenggam sebuah roti yang telah dia curi dan memakannya secara perlahan hanya untuk mencoba menikmati apa yang dirasakan sebuah rasa abstrak bernama kenyang, hahaha, naruto tertawa sendiri setelah menghabiskan roti tersebut dirinya mencoba mengambil air sungai untuk diminumnya karena merasa haus setelah menghabiskan sebuah roti, rasa lapar sudah hilang, rasa haus sudah hilang, sekarang dirinya hanya memandang lekat terhadap pantulan dirinya di air sungai yang jernih, melihat dirinya dengan seksama hanya memakai baju kaus polos warna hitam yang sudah robek sana sini, dengan celana pendek selutut berwarna biru terlihat kumal dan kotor, rambut berwarna kuning gelap, dengan tanda lahir berupa kumis kucing disetiap pipinya tak lama setelah memperhatikan dirinya di pantulan air, naruto pun melompat menceburkan dirinya kesungai hanya untuk merendamkan seluruh tubuhnya yang terasa kumal dan kotor, setelah agak lama berendam di pinggiran air sungai segeralah dia bangkit dan berjalan ke tepi, duduk diatas batu membiarkan dirinya terkena panas terik matahari hanya untuk mengeringkan tubuh dan pakaian yang dia pakai, terdiam merasakan hembusan angin sejenak terfikir oleh otak kecil polosnya "mengapa aku hidup"dan tak ada jawaban yang dimiliki..
Setelah beberapa saat dipinggiran sungai, tanpa terasa haripun menjelang sore, naruto pun bangkit dari tempat duduknya dibatu tersebut dan pergi berjalan untuk kembali ketempat biasa dia bernaung, berjalan mengitari pinggiran desa yang berbatasan dengan hutan yang lebat, sangat berbahaya karena bisa saja ada hewan buas yang akan memangsa dirinya, namun itu tak membuat takut mentalnya, karena setiap hari para pemangsa berwujud penduduk desa terus memangsanya dan menyiksanya, dan hal yang dia herankan setiap dirinya kena siksa dan hampir membuatnya mati tak sanggup menahan siksaan dari para penduduk desa hingga membuat dirinya pingsan dan setelah dirinya tersadar setiap luka penyiksaan terhadap dirinya sembuh dan hanya meninggalkan bekas luka, karena sudah terbiasa dengan itu dia tak terlalu memikirkannya, karena hanya dengan itu sudah cukup untuk dirinya bertahan dan menikmati apa yang dia dapati dan dia rasakan.
Ketika naruto sudah melewati hutan pinggiran desa, ya naruto namanya atau dikenal dengan uzumaki naruto, maka sampailah dirinya ditempat dia beristirahat, bernaung dan bersembunyi, yaitu ditengah-tengah sebuah hutan yang sering dia dengar sebagai hutan kematian, ditempat dia bernaung itu adalah bekas tempat penjaga hutan itu yang telah tewas dimangsa binatang buas setahun yang lalu, dan dimana binatang buas tersebut telah ditangkap oleh para anbu yang sempat melihat binatang buas itu sedang menikmati bangkai manusia yang diserangnya, dan saat ini naruto memasuki sebuah gubuk tua yang telah dia tempati sejak setengah tahun yang lalu mencoba merebahkan diri diatas tikar peninggalan sang penghuni gubuk dan mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan penat, letih pada tubuhnya sampai akhirnya dia tertidur..
Terbangun dipagi hari yang sangat cerah, naruto merasakan perutnya sangat lapar, bangkit dari tempat tidur pergi kebagian belakang gubuk ketempat sumur air berada, mengambil air disumur dengan ember guna membasuh wajahnya dan hanya sensasi dingin dan sejuk naruto rasakan, dan meminum air sumur sedikit guna untuk mengisi perutnya yang meronta, setelah membasuh mukanya naruto pergi kepedalaman hutan yang lebih dalam hanya untuk pergi ketempat biasa dia menangkap ikan disebuah sungai kecil didalam hutan tersebut, setelah berhasil menangkap beberapa ekor ikan naruto pun membersihkan ikan dan menyiapkannya untuk dibakar, setelah ikan yang dia tangkap sudah siap untuk dibakar maka naruto menyusun ranting pohon yang sudah mengering dan mulai membakarnya dengan cara tradisional yaitu menggosokan dua buah ranting kayu sampai panass dan akhirnya menimbulkan api walau cukup melelahkan menggosok kedua ranting mamun setidaknya ada hasil yang dia dapat membakar dan terus membakar hingga apinya menjadi semakin besar dan siaplah untuk membakar ikan hingga matang,...
Setelah ikannya matang naruto pun memakannya dengan lahap hingga hanya menyisakan tulang ikannya saja, dia sungguh menikmati ikan tangkapannya, setelah perutnya terisi penuh dan kekenyangan barulah dia kembali kegubuknya, didalam perjalan pulang naruto mendengarkan adanya bunyi dentingan besi yang beradu, dia pun mempercepat langkahnya untuk kembali pulang karena dia merasakan firasat yang sangat buruk semakin dia menjauh semakin jelas pula bunyi dentingan besi itu berbunyi, dan akhirnya naruto sampai digubuknya lekas masuk kedalam gubuk dan bersembunyi disudut ruangan tengah ditutupi dengan tikar untuk menutupi dirinya.
Tak lama kemudian suara dentingan besi pun sudah tak terdengar lagi, bagai ditengah kesunyian, yang ada hanya bunyi jangkrik dan hembusan angin yang menggerakkan dahan pohon yang terbembus, naruto pun secara perlahan mengeluarkan sebagian kepalanya dari dalam tikar, dan secara perlahan dia pun bangkit dan berjalan ke arah jendela samping untuk mengintip keadaan sekitar gubuk tuanya, hening dan tentram dengan pandangan terbatas dari jendela dia pun berniat untuk melihat keadaan sekitar gubuknya dengan keluar dari sana, dan membuka pintu secara perlahan menatap sekitar dengan seksama dan keadaan sudah kembali aman, dan tenang, menghirup udara sebanyak yang dia bisa untuk menghilangkan rasa takut dihatinya menenangkan dirinya berjalan mengitari gubuk tua nya, tak menemukan apa pun, tak berselang lama naruto pun mulai tenang dan berjalan mengitari area hutan untuk menghilangkan rasa penasarannya terhadap bunyi dentingan besi tadi, apakah itu pertarungan ninja, atau para shinobi konoha menjalankan latihan didalam hutan tersebut karena pasalnya naruto sudah hampir setahun tinggal didalam hutan itu tak pernah menemukan adanya shinobi berlatih didalam hutan bahkan pertarungan, dan mungkin bunyi dentingan besi barusan adalah bekas bunyi pertarungan,
Setelah berjalan beberapa menit neruto pun menemukan sisa-sisa kunai dan shuriken, bahkan ada noda darah yang masih segar tercecer di sekitar pepohonan namun anehnya tak ada korban maupun mayat ninja yang didapatinya.
Setelah puas dengan rasa penasarannya, naruto pun kembali kegubuknya untuk menutup pintu dan dia ingin kepusat desa hanya untuk menikmati kehidupannya sebagai bocah monster 👾 jelmaan kyubi, berjalan gontai menghiraukan semua pandangan tak mengenakan dari para warga konoha tetap berjalan dengan langkah santai, maka sampai lah dia di pusat pasar konoha menjalankan kesehariannya seperti biasa, mencari makanan sisa, mencuri makanan kalau ada kesempatan dan menerima pukulan, cacian setelah itu kabur bersembunyi di dalam sebuah gang sempit dan sepi, menangis meringkuk kesakitan hingga tertidur dan kembali sadar dalam keadaan sehat hanya bekas luka yang tersisa dari tubuhnya sendiri.
Hari menjelang sore, langit pun menjadi senja warna kemerahan mendominasi permukaan bumi dengan kekuatan yang lebih besar daripada jumlah orang yang tersisa di desa konoha bahkan lebih dari sebuah negara yang memiliki penduduk sebanyak mungkin.
Sebuah banyangan mulai memasuki gerbang desa, dengan langkah tegap dan perawakan berbadan besar, perlahan mendekat pada pos penjaga yang dihuni oleh dua orang jounin yaitu izumo dan kotetsu, dua pasangan yang selal dikira homo, namun itu hanyalah sebuah pandangan memilukan yang hanya diketahui oleh para ninja di desa konoha, ya, lelaki yang sedang berjalan ke pos penjagaan sudah medekat, ketika izumo mengetahuinya dia langsung membangunkan kotetsu yang sedang tertidur, ketika sudah bangun para penjaga itu mereka langsung mengetahui siapa yang ada didepan mereka. Yaitu adalah salah seorang legenda shanin yang terkenal dengan kemesumannya, yaitu adalah jiraya salah seorang anak 👶 didikan sang hokage ke tiga, salah satu ninja veteran terkuat dari tiga legenda shanin, ketika jiraya telah sampai di dekat pos penjagaan dia pun langsung memberikan sebuah gulungan kepada izumo dan kotetsu, setelah izumo menangkapnya dan membaca gulungan yang diberikan jiraya, mereka pun menjadi pucat 😓 pasi, karena itu adalah laporan hasil dari misi jiraya, dan izumo pun memberikan kode kepada anbu yang berjaga disekitar gerbang untuk segera mengantarkan gulungan tersebut kepada hokage, karena dia tahu bahwa kebiasaan jiraya jika telah memasuki desa, yaitu pergi melakukan PENGINTAIAN disekitar pemandian air panas wanita, dan itulah yang menjadi cirikhas jiraya, "baiklah izumo, kotetsu misi ku sudah selesai dan aku akan melanjutkan misi rahasiaku, Hahahaha" ujar jiraya dengan tawa nistanya, mulai berjalan santai dan melompati beberapa gedung dan rumah warga untuk segera sampai pada tempat tujuannya,
Disisi lain seorang bocah, yang sehabis dipukuli karena ketahuan mencuri sebungkus roti berusaha bersembunyi dibalik semak-semak, untuk menghindari amukan para warga desa yang ingin benar-benar membunuhnya.
Setelah keadaan cukup aman barulah naruto keluar dari persembunyiannya, keadaan sudah cukup tenang dan para warga yang mengejarnya tadi juga sudah bubar karena sudah puas dan sudah lelah menghajar, mengejar naruto, ketika naruto berjalan dengan was was disebuah gang sempit dekat perumahan penduduk dia melihat seseorang berambut putih dengan pakaian seperti shinobi khusus yang membawa gulungan besar dipunggungnya seperti mengendap ngendap mengintai sesuatu namun dari raut wajah nya terlihat seperti wajah yang sangat berbeda dengan aksinya, yaitu wajah yang terkesan lebih mesum dengan darah yang mengalir dari hidungnya, namun naruto tetap was was Dan berhati-hati serta berjalan pelan supaya dia tak diketahui oleh seorang yang sedang mengintai atau lebih tepatnya mengintip di dekat pemandian air panas wanita, berjalan pelan, dan berhati-hati naruto tetap fokus pada jalanan yang di tempuhnya, setelah berhasil menghindari si pengintip naruto mencoba berlari sekencang yang dia bisa agar dirinya aman hingga ketempat tujuannya, berlari melewati jalanan pinggiran desa, mencapai bukit yang dia tuju, dimana tempat yang sangat aman dan tenang untuk menyendiri menikmati kesunyian, dan hembusan angin yang bertiup pelan melewati setiap inci kulit kurusnya pucatnya, naruto terdiam duduk diatas pahatan patung hokage ke dua, yaitu tobirama senju, hokage yang dikenal kejam dimasa kejayaanya. Tanpa naruto sadari ada seseorang bertubuh tegap dengan berambut putih panjang yang acak-acakan, memperhatikan diatas sebuah pohon didekat pinggiran bukit pahatan patung wajah para kage konoha, dengan tatapan sedih dia memperhatikan naruto, tangan yang terkepal kuat seakan hanya untuk meredam emosinya yang sedang terbakar oleh sebuah amarah kebencian untuk menyalahkan seseorang yang seharusnya bertanggungjawab atas seorang bocah yang dia perhatikan dari kejauhan, tak sanggup until menahan amarahnya sang penguntit akhirnya shunsin dengan tekanan aura chakra yang sangat kuat seiring dengan aura kemarahan yang siap dia ledakan kepada sang penanggungjawab atas terlantarnya si bocah yang dia ikuti beberapa saat yang lalu, tak selang beberapa menit jiraya pun sampai didepan jendela ruangan hokage ke tiga karena sudah kebiasaannya sang shanin biasa melewati jendela dari pada pintu yang terlalu formal untuk antara mantan guru dan murid.
Karena merasakan kehadiran seseorang yang dikenal oleh hokage ke tiga, maka dia pun tersenyum pada sang tamu mengunjunginya, namun sang hokage sadar jika melihat raut wajah yang sitampakan oleh muridnya itu, sudah lama sang hokage tak melihat raut wajah jiraya dengan seserius itu, dan ditambah dengan aura chakra yang memenuhi ruangan hokage itu, dengan basa-basi yang menjurus ketopik pembicaraan sang hokage mulai berbicara dengan raut wajah yang tak kalah serius dari jiraya. "apa yang telah terjadi dengan mu jiraya..?" Tanya sang hokage, namun hanya delikan amarah yang diterimanya, dengan tangan terkepal kuat jiraya menjawab"apa yang terjadi denganku sensei, hahaha, tidak ada, aku hanya kasian kepada anak angkatku yang sekarang menjadi sebuah aib, kutukan dan diperlakukan bagai binatang liar, apa kau sadar sensei, minato telah menitipkan anaknya padamu untuk kau jaga dan kau lindungi apa kau tidak ingat dengan janjimu sebagai kembalinya tahta hokage padamu sebagai penerus hokage ke empat yang telah mati karena melindungi desa konoha ini dan bahkan dia telah mengorbankan anaknya sendiri untuk mengurung biju kyubi kedalam tubuh anaknya hanya untuk melindungi desa kelahirannya, apa kau tidak ingat TUA BANGKA.." Teriak jiraya, mencoba menenangkan dirinya sendiri karena jiraya telah menganggap naruto adalah anaknya sendiri, sejak kematian sang yondaime namikaze minato salah satu murid kesayangan jiraya, dia telah berjanji ditugu peringatan para pahlawan konoha yang telah gugur bahwa dia akan merawat dan membesarkan naruto dengan sepenuh hatinya setelah dia menyelesaikan segala misi dan tugasnya yang telah diberikan oleh hokage dan para tetua desa sebagai membuktikan dirinya sendiri masih bagian dari konoha dan salah satu ninja yang paling ditakuti diantara lima desa besar elemental pemegang wilayah yang terkuat.
Dan sebagaimana informasi yang dia dapatkan dari gurunya bahwa dengan wajah sedih tercampur emosi sang guru hanya terdiam setelah mendengarkan amarah jiraya, namun disamping itu sang hokage ke tiga berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekat ke arah jendela dan menatap hamparan desa konoha yang tentram dan damai, menghembuskan asap rokok dari mulutnya, mulai menggali kenangan yang seharusnya dia simpan rapat dihatinya, 'kau tidak tahu jiraya, kesedihan yang ku simpan didalam hatiku, ketika mengingat kejadian sekitar 5tahun yang lalu
