.My Lovely Bandmate.

Disclaimer: God, Their parents, S.M Ent.

Character: Donghae, Hyukjae, others.

Length: Chaptered

Rated: T

Genre: Romance, fluff/?, friendship

Warning: Genderswitch!Donghae, typo(s), messy plot.

.

Enjoy! Happy reading!


Cerita ini di mulai dari kehidupan seorang gadis cantik bernama Lee Donghae yang tinggal agak jauh di sebelah timur negara Korea Selatan. Gadis ini sedikit kurang beruntung. Mengapa? Ia berasal dari keluarga yang tidak berada. Umurnya saat ini sudah menginjak 19 tahun.

Hidupnya dan keluarganya sangatlah sederhana. Sehari-hari Donghae bekerja apa saja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya—walaupun tetap saja kurang. Sang ayah, sudah lama meninggal akibat penyakit yang dideritanya. Walaupun ia mempunyai seorang oppa, ia tetap berniat untuk bekerja membantu oppa dan ibunya.

Selayaknya gadis biasa, Donghae juga memiliki kegemaran tersendiri. Ia gemar bernyanyi dan menari, tak jarang ia mempertunjukkan keahliannya didepan banyak orang dan mendapatkan uang. Walaupun hasil yang ia dapatkan tidak tetap, tergantung keberuntungannya saat itu.

Lalu suatu hari saat ia tengah berjalan untuk mengantarkan sebuah paket kiriman, tiba tiba saja seorang namja asing muncul tepat dihadapannya. Sontak ia pun kagetㅡnyaris saja barang yang dipegangya terlepas dan jatuh.

"Hei, nona. Apa kau berniat untuk mengikuti audisi ini?"Tanya pria misterius itu tiba-tiba sambil memberikan selembar kertas yang berisikan,

'Dicari satu orang lagi untuk masuk kedalam grup bernama Super Junior. Audisi tidak dipungut biaya apapun. Jika berminat silahkan datang ke alamat ini. SM entertaiment, Seoul. Jalan XXXX'

Donghae terperangah. Kaget dan juga bingung. Untuk apa pria ini memberikan brosur itu padanya.

"Kau bertanya mengapa aku memberikan brosur ini padamu?"Ujar namja misterius itu seolah-olah mengetahui apa isi kepala Donghae.

"U-um, iya.."

"Aku tau kau butuh uang bukan? Untuk menghidupi oppa dan eommamu. Makanya akuㅡ"

"Kau tahu dari mana aku membutuhkan uang?"Sela Donghae, ia memicingkan matanya. Curiga. Siapa namja ini sebenarnya?

"Kau tak perlu tau. Yang penting kau hanya harus mengikuti audisi ini dan lulus. Aku akan memberikan biaya untuk kau pergi kesana,"balas pria itu galak. Donghae bergidik agak ngeri dengan pria asing didepannya ini.

"T-tapi bukankah hanya namja saja yang dapat mengikutinya?"Tanya Donghae bingung.

"Kau bisa saja menyamar menjadi seorang namja. Mudah bukan?" Kata pria misterius itu sambil menyilangkan kedua tangan didepan dadanya,

"Tapi... "

"Sudahlah, aku yakin kamu pasti akan lulus audisi itu" kata pria misterius memaksa.

"Baiklah, a-aku akan mencobanya" jawab Donghae walaupun agak ragu, ia menggigit bibir bawahnya.

"Hanya saja aku harus izin terlebih dahulu dengan oppa dan eomma…"Lanjut Donghae lagi,

"Hah, baiklah jika seperti itu maumu. Jika sudah pasti kau bisa datang kembali kesini sebelum pukul 7 pagi, otte?"

"Ne, aku mengerti,"

Pria itu pun hanya menganggukkan kepalanya sedikit lalu pergi entah kemana, Donghae sempat membungkukkan badannya sedikit sesaat sebelum pria itu menghilang. Dan bodohnya, ia belum sempat bertanya siapa nama pria itu. Mengapa ia mudah sekali percaya pada pria asing seperti itu. Ia menepuk kepalanya pelan, bagaimana jika ia punya maksud padanya atau keluarganya?Ia menghela napasnya pelan.

Lalu gadis ini kembali menatap brosur yang ada ditangannya saat ini,

'Audisi ya…'

.

.

"Eomma, oppa? Hae pulaang~!"teriak Donghae nyaring memenuhi rumahnya yang terbilang sederhana itu. Ia pun melepaskan sepatunya dengan cepat lalu menaruhnya dengan rapih di lemari dimana tempat sepatu-sepatu itu berada lalu pergi kedalam dan mencari dimana keberadaan sang eomma ataupun sang oppa.

"Oppa? Eomma?" Donghae menilik setiap sudut rumah sederhananya itu, mencari keberadaan kedua orang yang sangat ia sayangi. Tetapi hasilnya nihil, mereka tidak ada dimana-mana. Bagaimana bisa mereka hilang dirumah sesederhana ini?pikirnya dalam hati.

"Bagaimana ini, aku harus meminta izin dari mereka malam hari ini juga. Jika tidak…"

"Jika tidak apa, Hae?"

"Kyaa! Kau mengagetkanku oppa,"sahut Donghae kesal sambil memukul pelan bahu sang oppa dan mempoutkan bibirnya manis.

"Lagipula kau berbicara sendiri seperti itu, keke~"balas sang Oppa sambil menjulurkan lidahnya, mengejek.

"Yah! Apa-apaan kau ini. Oppa habis darimana saja sih? Eomma dimana?"Donghae pun memborbadir Oppanya dengan pertanyaan dan dijawab dengan jitakkan pelan dikepalanya dari sang Oppa.

"Bertanyalah satu-satu, Hae,"ucap sang Oppa sambil menghela napas pelan,

"Eomma eoddisseo?"

"Sedang berbelanja kurasa, memangnya kenapa?"

"A-ani, aku hanya ingin bertanya—"

"Eomma pulaang!"

Mendengar teriakan dari sang eomma sontak saja Lee bersaudara itu mengalihkan pandangannya kearah sang eomma yang saat ini tengah membawa banyak barang dikedua tangannya. Sebagai satu-satunya laki-laki disana, Donghwa—nama sang oppa—dengan sigap membantu sang ibu mengangkat barang yang dibawa wanita paruh baya itu dan memindahkannya ke dapur. Donghae hanya bisa menggigit bibir bawahnya gugup.

"Tidakkah kau akan membantuku juga, Hae?"kata sang eomma, Donghae sedikit bergidik—entah mengapa.

"Ah iya eomma, mianhae.."balasnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu membungkuk pelan.

"Hah, gweanchana Hae. Eomma lelah, eomma keatas dulu, ne."ujar wanita paruh baya itu sambil melempar senyum pada Donghae.

Donghae hanya mengangguk kecil sambil membalasnya dengan sebuah senyuman manis. Baru saja sang eomma hendak membalikkan badannya, Donghae memanggil ibunya.

"Ne?"balas sang eomma.

"A-aku hanya ingin mengatakan sesuat—"

"Mwoya? Apakah kau punya namjachingu? Katakan pada ibu, Hae!"sang eomma langsung saja memotong perkataan Donghae dan menanyakan pertanyaan beruntun pada anak gadisnya.

"Yah, eomma! Aku belum selesai berbicara,"bentaknya pada sang Eomma, dan mempoutkan bibirnya sambil pura-pura merajuk. Ia tahu eommanya tidak akan tega melihat anaknya merajuk seperti yang Donghae lakukan saat ini.

Sang eomma hanya terkekeh pelan lalu mendekat kearah Donghae. Sang eomma mengelus rambut anaknya pelan,"mian, neh? Eomma hanya bercanda,"

Donghae hanya bisa menyengir dan menampilkan deretan giginya yang rapih.

"Mungkin nanti saja aku tanyakan saat makan malam, neh? Eomma istirahat saja dulu,"

"Neh, kalau begitu eomma diluan ya, Hae. Kalau butuh apa-apa datang saja kekamar eomma,"lalu wanita paruh baya itu pun bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat sejenak.

Wajar saja, eommanya sudah tak lagi semuda dan sekuat dulu. Perlahan tenaganya dimakan oleh waktu dan kondisi badannya juga gampang untuk lelah. Hal inilah yang membuat Donghae ingin membantu eommanya, walaupun hanya sekedar untuk membeli sayur-sayuran dengan hasil perkejaannya.

Ia merogoh kantong celananya dan mengambil brosur yang tadi diberikan oleh pria asing itu. Bagaimana pun juga ia harus mengikuti audisi ini, demi membantu perekonomian keluarga mereka. Ia pun kembali memasukkan brosur itu kedalam kantong celananya lalu bergegegas pergi kearah dapur—untuk membantu sang oppa tentunya.

At Night ~ Dinner

Suasana meja makan keluarga Lee ini seperti biasa sangat hangat, penuh dengan canda tawa dari ketiga orang yang saling menyayangi ini. Walau kehadiran sosok suami dan appa sudah tidak ada lagi tetapi mereka tidak terlihat putus asa dan larut dalam kesedihan yang berlarut-larut. Mereka justru mulai membangun dan menata kehidupan mereka kembali seperti awal saat sosok appa masih ada didunia ini.

Meja makan mereka tidak dipenuhi berbagai jenis makanan, yah walaupun dibilang sangat sederhana—tetapi cukup untuk mengisi perut mereka ketiga orang itu.

Sang eomma meletakkan sumpitnya diatas mangkuk yang tadi berisi penuh nasi lalu meletakkan dagunya dengan tumpuan kedua tangannya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu menatap satu-satu anak gadisnya dengan tatapan kau-ingin-mengatakan-sesuatu-tadi-itu-sekarang-buk an.

Donghae membalas tatapan eommanya dan ia mengangguk pelan—mengerti maksud sang eomma.

"Err, begini. Aku ingin bertanya—ehm, lebih tepatnya ingin minta izin dari kal—"

"Memangnya kau ingin kemana, Hae?"potong sang oppa, Donghwa.

"U-um, sebenarnya tadi ada pria asing yang menawariku pekerjaan. Ha-hanya saja pekerjaan itu mengharuskan aku pergi dari sini.."jelasnya sambil menundukkan kepala, ia takut jika oppa dan eommanya marah.

"Pekerjaan apa, Hae? J-jangan bilang—"

"Yah! Bukan pekerjaan yang seperti itu, oppa! Aku masih punya harga diri! Dan jangan memotong omonganku seperti itu"balas Donghae agak kesal. Apa-apaan oppanya ini, menganggap rendah dirinya seperti itu. Donghwa hanya menolehkan kepalanya kesal. Sang eomma yang melihat tingkah laku kedua anaknya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.

"Jadi pekerjaan macam apa, Hae sayang?"Tanya sang eomma lembut,

Donghae menarik napasnya pelan,"sebenarnya aku harus mengikuti beberapa langkah untuk mendapatkan pekerjaan ini. Aku harus ikut audisi terlebih dahulu, jika aku diterima aku akan m-menjadi salah satu grup music, eomma. Otthe?"jelasnya sambil mengulum sebuah senyuman kecil, berharap agar sang eomma memberinya ijin.

"Disamping itu a-aku sudah lama memimpikan hal seperti ini,"tambahnya lagi,

Sang eomma sedikit melotot—kaget mungkin? Setelah itu dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya. Ia menghembuskan napasnya pelan.

"Aku tahu memang sejak kecil kau suka sekali menyanyi dan menari. Bahkan appamu dulu menyarankan agar kami memasukkanmu dalam audisi menyanyi. Tapi itu dulu saat appamu masih hidup…"eommanya memberi jeda sejenak.

"Tapi jika eomma kembali ditanya, eomma memberikan jawaban 'ya'"lanjutnya, sambil kembali tersenyum.

Donghae hanya bisa diam. Ia mengira bahwa ia tidak akan diijinkan oleh eommanya. Ia melirik kearah sang oppa. Dari raut wajahnya ia tampak kesal dan juga sedih? Mungkin karena satu-satu dongsaeng kesayangannya akan jauh dari dirinya. Tetapi sang oppa tetap tersenyum sambil menatap Donghae.

Donghae merasakan matanya yang perlahan memanas dan pandangannya menjadi kabur. Ia pasti akan segera menangis, pikir kedua orang itu—eomma dan oppanya.

Dan benar, sedetik kemudian sudah terdengar isakkan-isakkan kecil dari Donghae. Memang Donghae itu adalah seorang crybaby sejak kecil. Donghae menghapus airmata dari kedua matanya lalu menghampiri oppa dan eommanya dan memeluknya erat—sangat erat.

"Gomawo, eomma, oppa.."

Keesokan paginya

"Kau sudah siap, Hae? Eomma dan oppa berencana akan mengantarmu. Sini biar barangmu oppa bawa,"tawar Donghwa dan kemudian mengambil barang-barang Donghae dari kedua tangannya.

"Gomawo, oppa,"balasnya sambil tersenyum manis. Ia memperbaiki letak topinya yang agak miring tadi. Tanpa seseorang tahu, kemarin malam ia telah memotong pendek rambut brunnetenya itu agar saat audisi nanti tidak ada yang curiga bahwa sebenarnya ia adalah seorang yeoja dan bukan namja.

Setelah itu pun eomma dan oppanya mengantar Donghae tepat dimana pria asing itu memintanya untuk datang. Ia melirik jam tangan baby blue yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Jam 6.45, pikirnya dalam hati.

"Eomma, Oppa, kurasa kalian bisa pulang lebih dulu. A-aku bisa pergi sendiri, neh? Lagipula akan ada yang menjemputku nanti,"ucap Donghae mencoba untuk meyakinkan mereka bahwa ia akan baik-baik saja.

"Tap-"perkataan sang eomma berhenti saat mendengar sebuah klakson dari mobil sedan yang tiba-tiba datang dan berhenti tepat didepan mereka.

Kaca mobil itu perlahan turun dan menampilkan sebuah wanita yang kira-kira berusia 20-23 tahun. Dengan kacamata hitam yang tersemat kepalanya. Wanita itu tersenyum sangat ramah.

"Annyeong, kalian pasti keluarga Donghae, neh? Perkenalkan naneun Jung SeoHee imnida, disini saya akan mengantar Donghae menuju Seoul,"ucap Seohee memperkenalkan dirinya pada mereka bertiga.

"Donghae silahkan masuk kedalam mobil, kita agak sedikit terlambat tampaknya,"ucap Seohee lagi. Donghae sedikit kaget, lalu ia bergegas memasukkan barang-barangnya kedalam mobil Seohee.

Setelah memasukkan barang-barangnya ia kembali kepada oppa dan eommanya. Donghae memeluk mereka untuk terkahir kalinya sebelum ia pergi. Sang eomma juga membisikkan agar anak gadisnya ini untuk hati-hati disana. Donghae membalasnya dengan menganggukkan kepalanya lalu tersenyum, setelah itu ia membungkuk sedikit lalu bergegas masuk kedalam mobil Seohee.

Lalu perlahan mobil itu mulai melaju dan meninggalkan kedua orang yang akan sangat Donghae rindukan.

.

"Nah, Donghae-ssi, aku disini akan menjadi pengawasmu, aku akan mengawasimu dari jauh. Bisa tolong ambilkan benda dari laci didepanmu itu?"

"Ah, ne." Donghae pun membuka laci itu, ia melihat bahwa ada satu ponsel canggih didalamnya. Donghae menatap Seohee bingung.

"Tak usah bingung, ponsel itu untukmu. Nomorku juga sudah ada disana. Jika kau butuh apa-apa kau bisa katakan padaku. Dan usahakan untuk bertindak seperti namja biasanya dan panggil aku noona, neh?"jelas Seohee panjang lebar dengan tetap focus menyetir mobilnya. Donghae hanya mengangguk.

"Ah jangan lupa untuk mengenakan itu. Agar kau tidak ketahuan seperti yeoja,"ucap Seohee sambil menggoda Donghae yang memerah wajahnya. Ia mengerti maksud Seohee dengan mengenakan itu. Sekali lagi Donghae kembali mengangguk.

"Baiklah, unn—eh, noona"balasnya sedikit awkward. Ia masih belum terbiasa dengan hal-hal seperti itu tampaknya. Seohee hanya bisa tertawa dan itu membuat Donghae sedikit malu.

"Kau sudah bisa lepaskan topimu, Hae. Kau tampak manis dengan potngan rambut pendek seperti itu, heh,"goda Seohee lagi. Donghae menggumamkan kata terimakasih lalu melepaskan topinya.

"Ah! Apa kau sudah menyiapkan apa saja yang akan kau lakukan saat audisi nanti, hm?"Tanya Seohee sambil melirik Donghae sedikit,

"Yap, aku sudah menyiapkannya…noona,"balasnya sambil terkekeh pelan. Seohee hanya tersenyum.

"Apa yang kau berikan nanti?"

"A-aku a-akan menyanyi noona.."jawabnya agak gugup dan malu

"Jinjja? Wah, bisa kah kau nyanyikan sekarang Hae? Jebaal~"pinta sang noona sambil mengedip-ngedipkan matanya lucu kearahnya—dan bertepatan sedang ada lampu merah dan mobil mereka berhenti, jika tidak mungkin mereka sudah bertabrakan. Donghae menggaruk tengkuknya. Sebenarnya dia bukan tipe orang yang mempunyai percaya diri tinggi, justru sebaliknya. Ia suka sekali nervous dan gugup.

"H-hanya sedikit saja neh?"ucapnya, ia pun mulai berdeham pelan, ia mulai memejamkan matanya dan mulai bernyanyi, suaranya mengalun dengan lembut.

You are my everything,

Nothing your love won't bring,

My life is yours alone,

The only love I've ever known,

Your spirit pulls me through,

When nothing else will do,

Every night I pray,

On bended knee,

That you will always be,

…My everything.

Seohee hanya bisa terperangah, mulutnya terbuka agak lebar. Agak memalukan memang, untung saja saliva dari mulutnya tidak jatuh, ugh.

"Err, noona—"

TIN TIN

"Noona! Kita harus jalan!"teriak Donghae sambil mengguncang-guncangkan badan Seohee. Pasalnya saat ini lampu itu sudah berubah menjadi warna hijau dan sudah seharusnya mereka untuk maju, jadi tak salah jika mobil dibelakang mereka meminta mereka untu maju.

"A-ah, iya jalan.."dengan cepat Seohee memasukkan kopling dan mulai menjalankan mobilnya,

"A-apa s-suaraku jelek noona?"Tanya Donghae ragu sambil menggigit bibirnya dan sudah siap untuk menangis kapan saja,

"M-mwo? Ah, ani! Suaramu indah, sangat indah, Hae!"puji Seohee sambil menepukkan kedua tangannya. Eh?

"YAH! Noona! Jangan lepas kemudinya! Aku belum mau matiii!"teriak Donghae lagi, Seohee langsung memegang stir kemudi mobilnya lalu tersenyum lebar.

"Kau membuatku jantungan noona,"ucapnya sambil mempoutkan bibirnya,

Seohee kembali terkikik pelan, tangannya menjulur kearah Donghae dan mencubit pipi Donghae gemas,

"Bersikaplah manly sedikit, Hae~"Donghae semakin mempoutkan bibirnya,

"Tapi aku serius, suaramu sangat indah, Hae. Kau pasti lulus audisi itu dan bisa membantu keluargamu."ucap Seohee, Donghae menundukkan kepalanya.

Mulai dari saat ini aku akan fokus dan berusaha untuk mendapatkan tempat di Super Junior, dan aku yakin aku pasti lolos audisi itu sesuai dengan Seohee noona harapkan dan…ahjussi misterius itu, pikirnya dalam hati.

Tapi siapa sebenarnya ahjussi itu?

.

.

To Be Continued


A/n:

Astaga, apa ini.../face palm/

sebenernya ide ini saya dapet dari temen saya u.u dia yang ngusulin bikin fanfic ini. dan voila/? terciptalah fanfic ini~!

teman saya ini sebenernyajuga terinspirasi dari salah satu drama korea.

ok,

Mind To Review, please?/puppy eyes/

with love,

rinchaaan.