Splashing Sound

Warning: PWP! Yaoi, twincest, bathtub-smex!

Disclaimer: Blue Exorcist©Kazue Kato


Hari ini termasuk salah satu hari yang melelahkan bagi Yukio. Memberi pelajaran pada Rin, memang sangat menyusahkan. Butuh tenaga ekstra–pikiran dan fisik—untuk membuat Rin mengerti dan dapat melakukan penerangannya dengan baik. Sepertinya sehabis ini, berendam dengan air hangat akan dapat menenangkan dan mengembalikan tenaganya kembali.

Yukio segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia hanya berbalut handuk kecil yang melingkar di pinggangnya. Saat membuka pintu kamar mandi, raut wajahnya sedikit terkejut—ternyata ada yang sudah mendahuluinya, namun sedetik kemudian mukanya kembali datar. Rin yang kaget karena kehadiran seseorang, dengan reflek melemparkan botol sampo—yang berhasil dihindari Yukio dengan telak.

"Apa yang kau lakukan di sini? Dasaaaar!" Rin berteriak kesal pada Yukio yang telah mengganggu waktu berendamnya.

Pemuda yang diteriaki itu malah dengan santainya langsung saja masuk ke dalam kamar mandi, tanpa mempedulikan omelan Rin dan lemparan sabun mandi yang tak kena sasaran. Ia berjalan mendekat dan sekarang berdiri tepat di sebelah Rin yang sedang duduk berendam di bathtub.

"Salahmu sendiri tidak mengunci pintu kamar mandi," ucap Yukio.

"Bu—bukan itu masalahnya!" bantah Rin sambil menutupi daerah privasinya dengan kedua tangan, ekor iblisnya mengibas-ngibas. "Kau kan bisa mengetuk pintu atau—w-waah! Jangan main masuk ke dalam bathtub!"

"Aku tak punya waktu untuk menunggumu selesai mandi," Yukio merendamkan tubuhnya dan duduk bersender tepat di belakang Rin, "lagipula bathtub ini cukup untuk dua orang."

"Ugh... terserah lah," kali ini muka Rin sudah semerah tomat, ia menunduk untuk menyembunyikannya. Hei, apa salahnya kakak-beradik mandi bersama? Mereka sering mandi bersama waktu kecil, sekarang sama saja kan? Ya, sama saja. Tapi entah kenapa Rin tak bisa menghilangkan semburat merah di wajahnya. Yukio tak berkomentar, ia sibuk sendiri menyabuni badannya.

Suasana menjadi diam dan kikuk. Rin tidak suka suasana seperti ini. Ekornya mengibas gelisah. Baru saja ia ingin membuka topik pembicaraan, tiba-tiba tubuhnya bergetar dan mulutnya mengeluarkan sebuah desahan yang tertahan.

"Ah, Y—Yukio..."

"Ekormu menghalangiku, kak."

"Ngh—lalu kenapa kau masih memegangi ekorku?" tubuh Rin bergetar saat merasakan sensasi aneh setiap kali tangan Yukio mengelus ekornya. Sementara orang yang disebutkan tadi hanya tersenyum. "Aku mau sekalian membersihkan ekormu, apa itu salah?" Yukio memasang tampang tanpa dosa, ia mengelus secara perlahan ekor Rin dari pangkal sampai ujung. Rin menggigit bibirnya, mencoba menahan suara aneh yang keluar tanpa diminta. Sensasi ini terlalu asing, terlalu aneh sampai-sampai sebuah desahan berhasil terlepas dari mulutnya. Ia menggeram.

"Hm, sepertinya ada yang sedang menikmati tindakanku ya?" bisik Yukio parau di telinga Rin, membuat pemuda yang lebih pendek itu merinding.

"Diam kau, Yukio, kau tahu ekorku adalaa—ah!" Yukio menggigit pelan telinganya, "—kh... kelemahanku..." Rin terbungkam, takut jika membuka mulut suara-suara aneh itu akan keluar lagi. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang terjadi di sini? Semua ini begitu aneh bagi Rin. Wajahnya panas, dan bathtub yang berisi air hangat ini sama sekali tak membantu.

Saat pemuda bertaring itu merasakan tangan adik kembarannya berpindah dari ekor menuju bagian dalam pahanya, ia terlonjak. "Stop... hen—hentikan," tangan itu justru bergerak makin ke atas, hampir tak menyentuh kulit Rin, namun masih terasa. Ini tak boleh dilanjutkan, benak Rin, dan jika Yukio tak menghentikannya sekarang, ia akan...

Rin bangun dari duduknya dan berbalik badan, "Kubilang, hentikan!" Namun ia kehilangan keseimbangan dan tergelincir ke belakang. Yukio—dengan sifat protektifnya, secara refleks terbangun dan memegang bagian belakang kepala kakaknya untuk mencegah benturan. Sementara itu Rin menarik tangannya, yang tanpa sadar malah mengajak untuk jatuh bersama. Lalu keduanya terjatuh ke sisi bathtub yang lain—menimbulkan cipratan air yang... wow. Air di dalam bathtub yang tadinya penuh kini tinggal setengah.

Mungkin ia harus berterima kasih, sebab kepalanya bisa saja memar gara-gara terbentur pinggiran bathtub kalau tidak karena tangan Yukio. Tapi... posisi mereka saat ini...

Rin—dengan posisi bersender di dinding bathtub, mencoba mendorong Yukio yang tepat berada di atasnya dengan kedua tangannya, namun ia tidak bergeming. Ia merasakan mata Yukio memandanginya dari atas ke bawah. "Hei, apa yang kau—mmnh!" tiba-tiba Yukio menciumnya, ia memanfaatkan saat dimana Rin masih terlalu kaget untuk bertindak dan menjilat bibir bagian bawahnya, yang dibalas dengan suara manis dari mulut kakak kembarannya itu. Secara spontan, entah kenapa, Rin membuka mulutnya. Pemuda di atasnya tersenyum dan mulai merasakan rongga mulut Rin dengan lidahnya. Jari telunjuknya menyentuh dadanya dan secara perlahan bergerak turun ke perutnya, hampir tak bersentuhan dengan kulitnya semakin ke bawah jari itu bergerak, memberikan sensasi tersendiri yang membuat Rin merinding.

Yukio melepaskan ciumannya, nafasnya berat dan cepat, ia berganti menuju leher Rin—menggigit bagian di antara leher dan bahunya dengan perlahan, namun cukup kuat untuk meninggalkan bekas merah. Yukio segera menjilat bekas tersebut. Rin mendesah tertahan, ekornya melilit tangan Yukio yang sekarang berada di perutnya. Ia merasakan tangan tersebut bergerak menuju daerah pribadi-nya. "Tunggu... ah—Yukio," Rin menghentikan tangannya. "Ssst..." balas Yukio di telinga Rin, "nikmati saja, kak."

Mengapa ia melakukan ini semua? Tak ada jawaban pasti, yang jelas suara manis Rin saat ia mengelus ekornya memberikan perasaan aneh di perutnya. Perasaan ini, apa sebutan orang barat...? Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutmu? Mungkin saja, batin Yukio.

Tangan Rin langsung menggenggam kuat pinggiran bathtub saat tiba-tiba Yukio meremas sesuatu di antara pahanya—yang sekarang sudah menegang sejak entah kapan. Tubuhnya merinding saat tangan Yukio mulai melakukan gerakan naik-turun. Ia takut kedua tangannya tak mampu menahan tubuhnya untuk tergelincir ke dalam bathtub, karena gerakan Yukio itu membuatnya lemas seketika. Bukan berarti ia tidak menyukainya, sebab... oh, sungguh, ia tak pernah merasa senikmat ini.

Yukio menjatuhkan kepalanya di bahu kiri Rin, sesaat setelah memandangi wajah kakaknya yang bersemu merah. "Maafkan aku," ia menghela nafas, "...aku tak bisa menahan perasaan ini."

"Ma—maksudmu?" tanya pemuda di bawahnya bingung. Namun Yukio tak menjawab, malah mempercepat gerakan tangannya—yang dipermudah dengan air bathtub yang bersabun.

"Yukio... Yukio—ahh..." Rin tak bisa menahan suaranya. Genggaman tangannya semakin kuat. Ekor iblisnya langsung berpindah ke mulutnya—menahannya supaya tak berteriak. Gejolak rasa yang berasal dari bagian bawah tubuhnya sudah di luar kendalinya. "Ini... gila," batin Rin. Ia dapat merasakan Yukio makin mempercepat gerakannya. Rin menggigit ekornya, yang justru menambah nikmat yang ia rasakan. Pemuda iblis itu memejamkan matanya yang berkabut, tubuhnya menegang. Sedetik kemudian Rin mencapai klimaks, cairan putih pun menggenangi air di dalam bathtub.

Dengan nafas yang terengah-engah, Rin membiarkan kepalanya bersender di pinggiran bathtub, ekornya yang tadi digigitnya kini terkulai di dasar air. Ia kemudian tersentak saat pemuda di atasnya mulai beranjak. Rin menarik tangan pemuda itu.

"Aku... akan lebih membencimu—haah—jika kau langsung pergi begitu saja..." ucapnya di antara nafasnya yang berat.

"Tenang saja," Yukio tersenyum, "aku hanya ingin mengambil lotion itu."

TBC


A/N: *Trollface* wah, maaf ya kalau ending-nya cliff-hanger banget. Sebenarnya fanfic ini sudah ditulis dari sebelum puasa. Tadinya mau di-publish setelah lebaran, tapi udah keburu gak sabar (malah curcol). Parah, puasa malah nge-publish fanfic kayak gini haha.

Btw, bagi yang gak tau lotion di atas buat apa:

Kid, you're not old enough.