"I'm telling you now,
I quit, I give up, being all alone is enough for me.
Because when I'm by myself, I don't have to say goodbye to anyone
I'm content with that." - Cho Kyuhyun
.
.
.
Dulu Kyuhyun pernah bermimpi.
(Ia tetaplah manusia biasa, kau tahu?)
Bermimpi tentang banyak hal. Tentang keluarga yang membuangnya, tentang dokter dan suster yang merawatnya, tentang anak-anak kecil dengan suara melengking yang sering bermain di taman dekat jendela kamarnya. Ia bermimpi akan banyak hal; akan orang-orang yang ia kenal namun tidak di saat yang sama.
(Bagaimana mungkin seseorang dapat berkata bahwa ia mengenal orang lain tanpa melihat wajahnya?)
Semuanya adalah asing bagi Kyuhyun. Mendengar tanpa melihat itu sangat menyiksa. Lebih menyiksa dari apapun yang ada di bumi ini. Namun ia sudah terbiasa—mungkin—untuk tidak berharap, terlebih ketika satu lagi orang asing muncul dalam kehidupan hitam putihnya.
Namun entah mengapa, kali ini berbeda.
Ia ingat sebuah musim hujan yang tidak pernah berakhir, ketika seorang pemuda asing datang mengetuk pintu kamarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kau tahu? Manusia dapat menyaksikan 250 warna dalam sehari
Baik itu warna senja—jingga & ungu, kau ingat?—atau warna biru laut yang berkilauan
Siapa yang bisa melupakkannya?
Tidakkah semuanya tampak jelas bagimu? Tiap-tiap warna itu.
Warna yang sangat menawan, bukan?
Menawan—
.
.
.
—sekaligus menyakitkan.
.
.
「i-r-i-d-e-s-c-e-n-t」
prologue
have i ever told you that i love you?
.
.
.
.
.
Garis langit mulai terlihat di sisi-sisi kelabu yang membungkus angkasa. Tak ada peringatan apapun; sejumput rona hitam pun tidak. Hanya hitungan detik, seringai berwarna silver keperakan menembus kumpulan awan, menyisakan jejak-jejak mengkilap hingga akhirnya menghilang di balik kabut.
Kyuhyun menghela nafas, hujan masih tetap turun.
Hujan lagi, huh?
Ia membenamkan wajahnya pada bantal, bermain-main dengan rambutnya yang ikal kecoklatan. Kaki-kaki jenjang miliknya beberapa kali menyentuh lantai, sebelum akhirnya diayunkan lagi di udara. Terus begitu, berulang-ulang, hingga akhirnya ia terlalu lelah dan berhenti.
"Kenapa...?" gumannya pelan. Matanya mencari-cari di antara kegelapan total. Tujuh belas tahun ia hidup, hanya gelap yang dapat dipandangnya.
Aku—
(Hanya warna hitam tanpa cahaya yang terpantul dalam retina matanya.)
—buta.
Sejak ia bayi, entah mengapa kedua matanya berwarna abu-abu. Bukan berarti itu salah, tidak. Warna itu bukanlah warna yang asing ataupun langka. Namun mata Kyuhyun memiliki warna abu-abu yang teduh, gelap, dan cenderung hampa. Bukan seperti kerlipnya bintang di angkasa, ataupun beningnya emas putih—bukan.
Manik matanya bagai menggambarkan langit saat hujan.
Kelabu, aku takut—
Ia difonis buta sejak lahir.
Semuanya… hitam.
Tujuh belas tahun hidupnya dihabiskan dalam gelap. Sepuluh tahun dalam hidupnya dihabiskan dalam gelap dan kesendirian. Ia bukanlah bayi yang terlahir normal. Kyuhyun cacat. Ia tidak bisa hidup layaknya anak seumurnya. Kyuhyun yakin setiap orang akan bertanya-tanya mengapa ia masih tetap dibiarkan hidup sampai sekarang.
Buta dan penyakitan, tidakkah itu memuakkan?
(Bahkan keluarganya berfikiran sama. Mungkin karena itu mereka membuangnya?)
Entah sejak kapan, ia dimasukkan di rumah sakit ini. Orangtuanya—terlalu sibuk, untuk sekedar mengunjunginya. Kedua hyungnya—sudah menyerah dengan keadaanya. Atau mungkin mereka malu mempunyai dongsaeng sepertinya? Kyuhyun tak tahu. Pada awalnya, mereka – atau setidaknya dia – selalu ada buatnya, selalu ada di sampingnya, dan Kyuhyun benar-benar menginginkan kehangatan itu kembali.
Ia terus berharap, sungguh.
Namun beberapa lama setelah itu, mereka hanya berhenti untuk peduli.
(Kini ia tidak berharap lagi.)
Sudah sepuluh tahun—ah, atau mungkin sudah memasuki tahun kesebelas? Jujur saja Kyuhyun sudah lupa. Hal itu tidaklah penting dan ia juga telah sejak lama berhenti menghitung—karena menurutnya hal itu sia-sia saja. Baginya entah di Rumah Sakit atau tempat menyesakkan yang disebutnya rumah, tak ada yang berbeda.
Karna semua tampak sama. Sama hampanya. Sama dinginnya.
Semuanya hitam.
Kedua iris indah sewarna perak itu tak dapat melihat apa-apa.
Karena itu, sama.
Kyuhyun selalu membenci hidupnya—dengan seluruh keberanian yang dimilikinya. Dunia yang ia tempati, dirasa bukan dunia yang tepat. Ia selalu berusaha mencari tempatnya sendiri, tempat miliknya seorang yang tak akan pernah direbut oleh orang lain. Namun sampai sekarang, tempat itu masih belum ditemukanya.
"Semua pencarian ini sungguh melelahkan." bisiknya pelan sambil duduk di atas ranjang putihnya, kaki-kakinya mulai berayun-ayun—menandakan seberapa gelisahnya pemuda itu. Hujan kini sudah agak mereda, tak ada lagi alasan baginya untuk bergelung dalam selimut. Dihempaskannya saja kain tebal itu sembarangan.
Pemuda itu menatap kedepan sejenak, pandangannya kosong. Warna hitam kembali menyapu penglihatannya. Senyum miris merekah pada bibirnya yang pucat.
Hidupku benar-benar seperti cerita dongeng tanpa alur yang memuakkan.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Ia lelah, sungguh. Ingin segera mengakhiri ini – entah apa – dan melepaskan semua kenangan miliknya pergi. Ia ingin diantarkan dengan bulir-bulir doa yang turun dari tiap-tiap mulut yang mengenalnya. Menghilang begitu saja; tak meninggalkan jejak.
(Tapi ia tak bisa; ia tak sanggup.)
Kyuhyun kembali memainkan ujung-ujung rambutnya yang kini tak lebih dari kumpulan helai kusut. Senyumnya perlahan memudar sambil tangannya menyelam di antara helaian-helaian hitam ebony. Gerakan-gerakan lembut itu kemudian berubah menjadi gengaman kasar yang membuat beberapa helai rambutnya jatuh ke lantai; tampak kontras dengan keramik porselen.
Manik kelabu miliknya mulai terpejam, lentik bulu mata mengecup kedua pipinya.
Kenapa harus sekarang?
.
.
.
.
.
Kenapa harus sekarang, sungguh?
Pemuda itu datang dalam kehidupannya saat ia sudah menyerah, saat ia sudah tidak sanggup menahan rasa sakit ini lagi. Pemuda itu datang dan mengingatkannya akan orang-orang yang sudah pergi meninggalkannya. Pemuda itu datang dan membuatnya merasakan kembali rasa sakit dan penyesalan.
Pemuda yang mengetuk pintunya saat hujan turun membasahi bumi.
Pemuda yang telah merubah dunia hitam putihnya.
.
.
.
.
.
"Hai, Kyuhyunnie." Dia menyapa. Suaranya ringan dan hangat. "Senang bisa bertemu denganmu."
Kyuhyun menyeritkan alisnya bingung. "Kau… aku tidak mengenalmu. Kau siapa?"
"Aku?" Pemuda itu tersenyum. "Kau tak perlu tahu namaku. Cukup tahu bahwa mulai sekarang, aku akan terus menemanimu."
"….menemaniku? Untuk apa?" balas Kyuhyun acuh tak acuh, kening berkerut. "Aku tidak butuh babysitter, jadi lebih baik anda keluar."
"Yak! Mereka benar, kau memang tidak sopan." dengus pemuda itu lucu, namun mata coklatnya tetap memancarkan kehangatan. "Tapi mengusirku juga tak ada gunanya." ucapnya kembali sambil mendudukkan dirinya di kursi. "Aku akan tetap disini, walaupun kau tidak menyukai keberadaanku."
"Kau orang aneh." Balas Kyuhyun sengit, buku-buku tangannya mulai memutih karena ia mengatupkan tangannya begitu erat. "Orang macam apa yang mau menemani pasien sepertiku? Aku buta dan penyakitan, apa kau memiliki kelainan otak?"
Kyuhyun tiba-tiba terdiam sejenak ketika sebesit pemikiran terlintas di kepalanya, pemikiran yang menyakitkan dan ia berharap agar itu tidak benar.
"Kyu—"
"Apakah kau—" potongnya cepat, suaranya kini mendadak tercekat di kerongkongan. Ia benar-benar berharap bahwa keluarganya tidak serendah itu. Ia lebih senang menjalani hari-harinya sendiri daripada harus menghadapi kebohongan lagi. "Kau – Apa kau suruhan keluargaku?"
Pemuda asing itu terdiam.
Ah, pikirnya. Seratus untukku, huh?
Senyum miris merekah di wajah Kyuhyun.
"Kau tahu, orang asing? Aku sangat membenci keluargaku." senyum mirisnya melebar. "Tapi aku lebih benci orang sepertimu. Jadi lebih baik kau enyah dari hadapanku sekarang."
Semuanya adalah sunyi sebelum sebuah tangan hangat mengelus pipinya pelan. Titik-titik hangat menyentuh kulitnya, membuat pemuda itu berjengit ke belakang. Ia tidak biasa dengan perlakuan selembut itu, sudah lama tidak pernah dirasakannya, namun si pemuda asing tetap mempertahankan posisi tangannya di pipi Kyuhyun.
"Apakah kau sangat menderita selama ini, Kyuhyun-ah?" Dia bertanya, suaranya sedikit bergetar. Kyuhyun ingin menepis tangan orang asing itu, sungguh ia ingin, terlebih saat dia berani untuk memanggilnya dengan suara penuh penyesalan itu, namun apa daya tubuhnya membatu. Bibirnya kelu, tak ada satupun kata berhasil lolos dari mulutnya dan sebaliknya kata-kata itu terngiang dalam otaknya seperti pita kaset yang terus diputar.
Lepaskan.
"Apakah kau ingin menyerah? Tidakkah hidupmu berarti lagi?"
Hentikan.
"Tidakkah kau ingin terus hidup?"
Kyuhyun mengedip. Matanya terasa panas—panas yang tidak dapat didefinisikannya. Panas yang asing – tidak tergambar – aneh – seperti halnya pemuda itu. Dan hatinya—
Sakit.
—hatinya berdenyut sakit. Sakit sekali. Entah sudah berapa lama semenjak ia merasakan sakit. Ia sudah lupa. Ini pertama kalinya ia merasakan sakit di hatinya dalam tahun-tahun yang ia lewatkan dibalik dinding putih khas rumah sakit ini.
(Tahun-tahun, yang ia lewatkan sendiri.)
"Kyuhyunnie….."
Hentikan. Hentikan. Hentikan. Hen—
"….apa sudah tak mungkin lagi untuk membuatmu tinggal?"
"—TIKAN!" teriak Kyuhyun beringas, nafasnya kian memburu dengan wajah merah padam menahan amarah. Gigi-giginya bergemeretak, kuat sekali hingga suaranya menggema. "Diam diam DIAM! AKU MUAK!"
Ini sakit sekali.
"Hei—jangan menangis." Kyuhyun kembali dikejutkan oleh sentuhan hangat di pipinya yang telah basah—tunggu, basah?
Ia… menangis?
(Sudah berapa lama?)
"Maaf." Kali ini tak lagi sebongkah kehangatan yang dirasakannya, namun sebuah rengkuhan penuh yang membuatnya ingin menangis lebih keras. Kyuhyun mengatupkan bibirnya rapat-rapat, takut jika lenguhan kecilnya terdengar lebih menyedihkan dari sebelumnya. "Maafkan aku, aku sedih jika melihatmu begini. Jebal, berhenti menangis." bisik pemuda itu lirih.
Kyuhyun mencoba—sungguh ia benar-benar mencoba, namun air mata sudah tak bisa dibendungnya sama sekali; butiran-butiran kristal bening itu terus jatuh melewati pipinya yang kini bersemu merah. Ah, mungkin lebih tepatnya, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk berhenti.
Ia lupa bagaimana caranya untuk berhenti.
(Sepuluh tahun melewati hari ditengah-tengah kehampaan, Kyuhyun telah melupakan banyak hal. Ia lupa bagaimana rasanya dipeluk. Ia lupa bagaimana asinnya tangis. Ia lupa sensasi menyesakkan yang kini menjalar di dadanya itu. Ia benar-benar—)
"Lupa.…."
"…..Kyuhyun-ah?"
"A-Aku lu–pa…." jelasnya dengan terbata-bata, rasa asin pekat di lidahnya membuatnya takut. Ia tidak mengenal rasa itu. "Bagaimana c-caranya – berhenti?"
Kyuhyun merasakan titik basah mengenai pundaknya, namun perasaanya masih terlalu kacau untuk menganggapnya tak lebih dari imajinasinya semata.
(Tapi jika ia ingat-ingat lagi, badan pemuda yang tidak ia ketahui namanya itu sedikit bergetar.)
"Pejamkan matamu." bisik pemuda itu tepat di telinga Kyuhyun. "Pejamkan matamu dan pikirkan tentang kebahagiaan."
Kyuhyun menggelengkan kepalanya pasrah. "Sudah hil–ang." Tuturnya pelan sambil diselingi dengan isakan. "Tidak ingat. Tidak tahu."
Pemuda itu makin mengeratkan rengkuhannya pada tubuh ringkih Kyuhyun, badanya bergetar hebat. "B-Biarkan aku megajarimu?"
Kyuhyun terdiam. Entah mengapa hatinya berdenyut kembali.
Haruskah aku percaya?
"Kyuhyun…..?"
Dan merasa sakit lagi?
"Kyuhyun ada ap—"
"Aku," potongnya lirih. "Tidak mau terluka lagi.
Sudah cukup.
.
.
.
.
.
"Apa kau masih ingin terus mencoba, Hae?"
Pemuda itu mendengus kesal. Entah sudah berapa kali ia mendengar pertanyaan itu keluar dari bibir hyungnya itu. "Aku yakin, hyung." katanya malas. "Bisakah kau berhenti mengulang pertanyaan yang sama? Kau membuat kepalaku pusing."
Jungsoo hanya dapat menggelengkan kepala pasrah. "Baiklah. Hyung—aku hanya ingin memastikan. Namun kau harus tahu resikonya—Dia bukanlah anak yang mudah untuk dipahami. Sangat susah untuk menembus tembok yang telah ia bangun, benar-benar susah."
"Apa karena itu kau tidak pernah mencoba, hyung?" lontar Donghae asal. Mungkin ia sedang dalam keadaan setengah sadar, atau mungkin semua itu hanyalah kelepasan semata, karena sejujurnya ia tidak berniat untuk melukai siapapun.
"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya Donghae-ah?" tanya Jungsoo lemah. Dan dari nadanya itu, Donghae tahu bahwa kata-kata itu berhasil membenam di hati pemuda yang lima tahun lebih tua darinya itu. Donghae lalu memandangnya sejenak sebelum ia mengalihkan perhatiannya pada sebuah pintu berpelitur putih lima langkah dari mereka berada.
"Kau tahu? Lukanya dalam. Dalam sekali." ia menjeda, pandangannya kosong. "Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mengobatinya, tapi aku akan berusaha semampuku. Aku tak sanggup melihatnya seperti itu terus."
Jungsoo memanas, ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya kala mendengar kata-kata yang dilontarkan pemuda tersebut. Tidakkah Donghae tahu bahwa dirinya pun terluka dengan keadaan ini?
"Kau pikir aku sanggup, Hae?"
Empat kata dan Donghae bungkam. Ditatapnya wajah yang kini penuh dengan gurat kelelahan itu tajam, seakan-akan ia mencoba untuk mengartikan sesuatu yang tercetak disana, apapun itu bentuknya.
"Tidak, hyung. Aku paham benar tentang hal itu." bisiknya pelan. "Bukankah itu yang menjadi alasanmu saat kau pergi meninggalkannya ke Amerika sepuluh tahun lalu? Karena kau tidak sanggup melihatnya terus menderita?"
Mata Jungsoo membulat. Hatinya kini serasa diiris. Sangat perih. "A-Aku—Aku tidak—"
"Kadang aku menyesal pernah bertemu denganmu, Jungsoo-hyung." ucapnya sambil tertawa hambar. "Jika aku tidak mengenalmu setidaknya aku dapat melewati hari-hari kelabuku dengan tenang, berkabung seperlunya, move on, lalu kembali seperti Donghae yang biasa. Namun sepertinya hidup tidak semudah itu, hm?"
"Donghae—"
"Tapi kini aku merasa beruntung." Kedua manik coklatnya yang semula meredup kini mulai menampakkan cahayanya kembali. "Jika aku tidak bertemu denganmu, aku juga tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mengenal Kyuhyun, orang yang sudah menyelamatkanku. Orang yang sudah memberikanku alasan untuk tetap hidup."
Jungsoo menggeleng lemah, air mata kini sudah menggenang di kedua pelupuk matanya. "Maafkan aku, kau tahu aku tidak bermaksud—"
"Bukan aku, hyung." sanggahnya pelan. "Bukan aku orang yang harus kau mintai maaf."
"Hae—"
"Aku lelah, Jungsoo-hyung." potong Donghae. "Permisi."
Bersamaan dengan sebuah tatapan yang tidak dapat Jungsoo tangkap maknanya, pemuda itu menghilang dibalik pintu, meninggalkan kehampaan dan penyesalan pada setiap langkahnya. Tatapan itu menoreh luka pada hati Jungsoo. Seakan menghakimi—kedua bulatan coklat teduh itu membuatnya ingin berlari menjauh dan tak pernah kembali untuk selamanya.
Bersamaan dengan itu pula, Jungsoo menyerah untuk bertahan dan membiarkan tubuhnya terhempas ke bawah, air mata mengalir kian deras di kedua sudut matanya.
Kau kejam, Jungsoo-ah.
Jungsoo mencengkram dadanya yang kini berdenyut kencang.
Kau sangat, amat, kejam.
Cengkramannya menguat. Tuhan, ini begitu sakit.
Bagaimana bisa kau tega meninggalkan adik kandungmu sendiri?
Jungsoo menangis dalam diam.
.
.
.
Author's notes:
Ahhhhh, ini benar-benar cerita yang pasaran, aku tahu (T^T). Cerita ini terinspirasi dari penpal-ku yang punya seorang adik dengan kekurangan fisik yang sama. Tapi selebihnya, ini adalah imajinasi yang terlahir dari otakku sendiri. Temanku (Mari yang baik hati dan rajin menabung, kau senang sekarang?) yang sama-sama suka Haekyu/Kyuhae brothership menyarankan buat nulis fanfic ini, karena jujur aku lagi jenuh ngelanjutin fanfic aku yang masih ongoing.
Katanya, anggap saja sebagai pengisi waktu luang. Aku juga nggak terlalu ngerti sih, tapi yah inilah hasil dari ideku yang pas-pasan….. Well, berhubung aku selalu ingin membuat cerita genre brothership, jadilah cerita abal-abal ini. Jujur saja EYDku benar-benar dibawah rata-rata belum lagi pengaruh writing style dari cerita lamaku yang masih melekat sampai sekarang, aku mohon maaf kalau terdapat banyak kesalahan di fanfic ini….
Sama seperti fic-fic angst pada umumnya, pastinya Kyu bakal menderita dan mengalami banyak ujian. Tapi di sini Kyu itu ibaratnya udah mati rasa—nggak ada sosok yang sabar diperlakuin semena-mena dan terus sayang sama keluarga yang sudah meninggalkannya, tapi lebih ke sosok yang sudah beku, sudah lumpuh otot-otot perasanya, sudah menyerah. Bisa dibilang juga sosok Kyu di sini lebih kejam – lebih realistis – karena itu dia susah memepercayai orang lain. Kyuhyun itu pinter, makanya di sini dia cenderung menggunakan otaknya daripada hati :) Sekarang, namja pinter satu ini bakal diuji sama kehadiran orang-orang yang kembali dalam hidupnya. Kita lihat apa dia masih sanggup hanya menggunakan otak dan bukan hati. Mau tahu reaksinya? Tunggu di episode selanjutnya~ #PLAAKKKK.
Lalu ada sosok Donghae juga—hampir sama seperti Kyu, aku juga mau buat Hae lebih realistis, yang sudah paham sama dunia nyata. Hae di sini tetaplah Hae yang lembut (well, dia kasar pada saat-saat tertentu) dan pantang menyerah kok, cuman nggak terlalu childish (mungkin pengaruh umur :D), jadi readers tenang aja~ Masalah Kyu sebagai 'penyelamat' Hae akan terkuak di chapter-chapter depan.
Kalau Teuk di sini sih pastinya bakal aku siksa juga. Sifatnya di sini sih bener-bener humane, manusia banget. Aku rasa dari semua member SJ – tidak peduli seberapa sering leader ini disebut angel – Leetuk adalah sosok yang paling mendekati karakter manusia XD. Mungkin selain Kyu, dia adalah yg paling aku siksa di fic ini hehe~
Hmmm, pasti banyak yang bingung dengan alur cerita ini, atau bakal gimana endingnya—tapi sabar-sabar aja ya readers. Banyak pertanyaan yang belum terjawab di chapter ini yang bakal terjawab di chapter-chapter depan. Intinya aku bakal membahas semua masalah dari berbagai sudut pandang, jadi siap-siap untuk memilih. Tapi kalau ada yang menjanggal, kritik dan saran dari kalian selalu ditunggu :D
Yah pokoknya gitu deh, aku harap fanfic perdanaku di fandom ini bisa memenuhi standard dan membuat kalian terhibur. Sampai jumpa di chapter dua! :) RnR? ^^
