SECRET
BTS fanfiction
KookV
Rating: T-M
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, M-preg, Typo
Cast: All BTS member and other
Halooo ini debut pertama fanfic BTS saya. Hehehe saya memang ingin bertualang dengan berbagai macam boyband. WINNER, EXO, sekarang giliran BTS. Maaf atas semua kesalahan dan selamat membaca. Happy reading all….
BAB SATU
Taehyung menggaruk kasar pelipis kanannya ini menyebalkan, sangat menyebalkan, kenapa si diktator itu tidak memilih orang lain untuk menjadi menejer tim BTS. "Bersemangatlah Taehyung, BTS itu sangat menyenangkan apalagi semua membernya tampan-tampan!" pekik Lauren bersemangat.
"Diam!" dengus Taehyung. "Bisakah kau mengatakan pada Si diktator untuk mencari orang lain? Lebih baik aku bekerja di kantor saja daripada mengurus member." Keluh Taehyung.
"Si diktator sangat percaya padamu aku yakin kau pasti bisa melakukan hal ini!" Lauren kembali memberi semangat.
"Kenapa kau pergi ke Jepang?"
"Ini untuk kepentingan BIG HIT." Ucap Lauren.
"Pergantian menejer yang mendadak lalu BTS sangat sibuk dengan promosi album, acara televisi, radio, pemotretan, konser….,"
"Cukup Taehyung, karena itu bekerjalah dengan baik." Ucap Lauren kemudian diakhiri dengan senyum cantiknya sebelum berjalan keluar meninggalkan ruangan Taehyung yang masih menggerutu panjang lebar. "Taehyung." Ucap Lauren yang kembali menyembulkan kepalanya dari pintu. "Kau akan diperkenalkan sebentar lagi. Sebentar aku akan keluar untuk membuang kotak jus kosongku."
Ucapan Lauren membuat jantung Taehyung seolah berhenti. Taehyung menarik napas dalam-dalam, ini semua tidak bisa dihindari. Setelah pintu tertutup kembali, Taehyung duduk di atas meja kerjanya, mengangkat pot mini berisi kaktus peliharaannya. Tidak ada yang aneh dengan BTS, tidak ada masalah dengan BTS, Taehyung bahkan mengenal seluruh member BTS, dia pernah menjadi trainee BIG HIT namun mundur sebelum debut.
Taehyung hanya ingin menghindari seseorang. Jeon Jungkook. Taehyung harus menghindari Jeon Jungkook. "Taehyung Ayo!"
"Ah!" Taehyung berteriak kaget. "Bisakah Noona masuk dengan cara biasa saja?!" Taehyung memekik kesal. Lauren terkikik pelan. "Ayo, kau harus memperkenalkan dirimu sekarang."
Taehyung sengaja menulikan kedua telinganya dan memilih untuk bermain dengan lembaran-lembaran dokumen tidak penting di mejanya. "Taehyung!" Lauren memekik dan menarik tangan kanan Taehyung. Taehyung hanya mendengus dan membiarkan Lauren menarik tangan kanannya. "Kau akan r bekerja besok, semua yang harus kau sampaikan pada anggota BTS akan dikirimkan nanti pukul tiga sore lewat email, besok datang pagi, jangan sampai terlambat, bersemangatlah Taehyung!"
Taehyung hanya mengerucutkan bibir penuhnya mendengar suara Lauren yang tak kunjung berhenti. "Ayo!" Lauren menyeret Taehyung semakin gencar, Taehyung ingin berteriak kesal namun itu tak akan sopan berteriak pada seseorang yang lebih tua.
Lauren mendorong pintu sebuah ruangan dengan bersemangat sedangkan Taehyung berharap, jika bumi terbelah sekarang juga dan menelan tubuhnya bulat-bulat. "Halo!" Lauren berteriak nyaring menarik perhatian kelima member BTS.
"Lauren!" pekik seluruh member.
"Ah Taehyung! Kau Taehyung kan?! Kim Taehyung apa kabar?!" Taehyung hanya tersenyum masam menanggapi pertanyaan bertubi itu.
"Aku merindukanmu Taehyung!" kali ini SeokJin yang menghampiri Taehyung dan memeluk tubuh Taehyung erat. Napas Taehyung seolah tercekat di tenggorokan melihat tatapan tajam yang ditujukan padanya.
"Baiklah kalian duduk yang tenang." Perintah Lauren membuat ruangan kembali hening. "Karena aku harus bekerja di Jepang maka urusan di sini akan ditangani oleh Kim Taehyung mulai besok."
"Benarkah?!" Hoseok menanggapi dengan ceria ia bahkan bertepuk tangan heboh.
"Kenapa bukan orang lain?" pertanyaan Jungkook yang menusuk membuat semua orang terperanjat.
" Jungkook jaga bicaramu." Namjoon mencoba menasehati. "Maafkan Jungkook, Taehyung." Namjoon berucap ramah diselingi senyuman lebar. Taehyung mengangguk pelan.
"Ayo Taehyung," Lauren menggumam pelan sambil mendorong-dorong punggung Taehyung.
"Halo aku Kim Taehyung—kurasa kalian semua sudah tahu, kita saling kenal saat masa trainee dulu. Sekarang aku akan menjadi menejer kalian, ah mulai besok tepatnya aku akan menjadi menejer kalian." Taehyung tersenyum manis. "Mari bekerjasama dengan baik." Ucap Taehyung kemudian membungkukkan badannya.
"Ya mari bekerjasama dengan baik Kim Taehyung." Ucap semua member BTS ramah, kecuali satu member yang masih melempar tatapan tajam untuk Taehyung. Siapa lagi jika bukan Jungkook.
"Sudah selesai kan? Aku ingin pergi ke toilet." Ucap Jungkook kemudian berdiri dari kursinya tanpa menunggu izin terlebih dahulu. Setiap orang sontak melempar tatapan curiga kepada Jungkook dan Taehyung secara bergantian.
"Sampai besok semua." Ucap Taehyung ramah dia berbisik kepada Lauren untuk keluar dari ruangan. Lauren memberi izin.
Tidak, Taehyung tidak keluar untuk menyusul Jungkook dia keluar untuk menghirup udara segar. Jika ada pilihan, sungguh Taehyung tidak akan menerima pekerjaan yang mungkin diimpikan oleh orang lain di luar sana, Taehyung akan memilih bekerja di belakang layar di kantor BIG HIT dan tidak berhubungan langsung dengan para artis. Terlalu merepotkan. "Ah ya ampun…," desah Taehyung sambil melangkahkan kedua kakinya dengan malas menuju mesin penjual minuman.
Taehyung memasukan koin ke dalam mesin penjual minuman, kedua matanya menyipit untuk membaca label minuman pada permukaan botol dan kaleng. "Ini saja," ucapnya sambil memilih kaleng minuman yang ia inginkan. Jus jeruk, entah kenapa dari dulu Taehyung menyukai buah-buahan.
"Kenapa kau kembali?"
"Ugh!" Taehyung hampir tersedak minumannya. Ia memutar tubuhnya dengan cepat dan mendapati seorang Jeon Jungkook sudah berdiri di hadapannya. "Jangan membuatku kaget— Jungkook."
"Kenapa kau kembali?" Jungkook mengulangi pertanyaannya dengan nada dingin.
"Aku selalu di BIG HIT, apa maksudmu kenapa aku kembali lagi? Aku tidak pernah pergi."
"Cih! Hentikan dustamu Kim Taehyung!" geram Jungkook. "Kau pergi sebelum debut, tanpa penjelasan apapun."
"Aku memberi penjelasan." Taehyung membela diri.
"Penjelasan apa? Sekolah di Inggris? Kau memang pergi ke Inggris tapi tidak untuk sekolah Taehyung." Kalimat Jungkook membuat seluruh tubuh Taehyung menegang. "Jangan kau pikir aku tidak menyelidiki kepergianmu Taehyung."
Taehyung menelan ludahnya kasar, mencoba untuk mengumpulkan keberanian melawan Jungkook. "Apa pedulimu? Aku memilih jalanku sendiri kau juga memilih jalanmu sendiri, pada akhirnya masing-masing manusia harus memutuskan takdir mereka sendiri-sendiri." Ucap Taehyung.
Jungkook tersenyum miring selama beberapa detik kemudian senyum itu menghilang sepenuhnya dari wajah tampannya. Meninggalkan wajah datar dan dingin. Tangan kanan Jungkook bergerak cepat untuk mencengkeram lengan kiri Taehyung. "Kita pernah bersama dan kau berjanji untuk selalu bersamaku, lalu apa yang kau lakukan Taehyung? Kau pergi begitu saja." Geram Jungkook sebelum menyentak lengan kiri Taehyung. Membuat tubuh Taehyung sedikit terhuyung ke belakang.
"Taehyung!" panggilan itu menarik perhatian keduanya. Jungkook langsung melangkah mundur dan membungkukkan badannya melihat siapa yang datang menghampiri mereka. "Ah ada Jungkook juga?" Jimin bertanya dengan ramah." Jungkook memaksa dirinya untuk tersenyum. "Taehyung aku ada waktu luang satu jam, ayo makan siang bersama." Taehyung mengangguk pelan, Jimin tersenyum lebar ia tarik tangan kanan Taehyung.
Jungkook tersenyum ketika Taehyung dan Jimin melewati tubuhnya hanya untuk mengelabuhi Jimin, seakan semuanya baik-baik saja, ia menoleh ke belakang dan menatap punggung Taehyung yang berjalan menjauh. Tanpa sadar Jungkook mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "Kim Taehyung…," geram Jungkook.
.
.
.
"Aku tahu kau tak menginginkan hal ini." Ucap Jimin, ia membawa Taehyung ke ruang latihan yang akan dipakai olehnya. Jimin bergabung di BIG HIT namun dia tidak dimasukan dalam BTS, Jimin sukses menjadi penyanyi solo. Taehyung memilih bungkam. "Kau tidak perlu menerimanya, aku bisa membantumu mencari pekerjaan lain Taehyung."
Taehyung tersenyum tipis. "Aku tidak bisa terus bergantung padamu."
"Kita sahabat."
"Aku tidak bisa terus bersembunyi dengan label sahabat itu. Aku baik-baik saja jangan cemas. Kau bilang lapar kita bisa pergi ke kantin sekarang."
"Aku tidak lapar, aku melihat apa yang Jungkook lakukan." Jimin menatap kedua mata bulat Taehyung, dengan cepat Taehyung mengalihkan pandangannya dari tatapan penuh selidik Jimin. "Apa yang terjadi Taehyung?"
" Jungkook dia—dia…," Taehyung sedikit ragu untuk menjawab. "Dia tahu jika aku pergi ke Inggris tapi tidak untuk sekolah di sana." Pada akhirnya Taehyung tak pernah bisa menyembunyikan rahasia dari Jimit.
Jimin tak langsung menjawab ia terlihat terkejut dan juga berpikir keras. "Aku akan memastikan semuanya baik-baik saja." Ucap Jimin berharap Taehyung akan mendapat kelegaan dari kalimat yang baru saja ia sampaikan.
"Terimakasih." Ucap Taehyung.
"Kau akan pulang cepat hari ini?"
"Tidak, aku akan membereskan ruanganku. Aku akan pindah ruangan dan kurasa aku akan lebih banyak bekerja di luar."
Jimin tersenyum lebar. "Dulu kau mengajukan untuk menjadi menejer SHINee di SM, kurasa tidak akan jauh berbeda rasanya, BTS sangat ramah, maksudku—abaikan keberadaan Jungkook."
"Hmm." Taehyung menggumam pelan.
"Latihanku tidak akan lama, jangan pulang sebelum aku selesai. Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu Jimin, itu merepotkanmu….,"
"Taehyung." Ucap Jimin dengan nada memperingati membuat Taehyung menghentikan kalimat apapun yang ingin ia ucapkan.
"Baiklah aku akan menunggumu jangan terlalu lama."
"Aku akan tetap mengantarmu pulang pukul lima sore, aku akan menghentikan latihanku dan langsung mengantarmu."
"Apa boleh melakukan hal itu?" sindir Taehyung. "Meski sekarang kau sangat terkenal jangan seenak jidatmu Jimin." Canda Taehyung.
Jimin hanya tertawa dengan keras kemudian mendorong pelan bahu kanan Taehyung. "Sudah aku pergi dulu jika barangmu terlalu banyak jangan ragu untuk meminta tolong petugas kebersihan."
"Ya." Balas Taehyung singkat.
Jimin tersenyum kemudian memeluk Taehyung erat. "Kurasa kau yang harus keluar dari ruang latihan ini, Kim Taehyung."
"Baiklah, baiklah," balas Taehyung diiringi derai tawa cerianya. Jimin melepas pelukannya dari Taehyung. "Sampai nanti Jimin," ucap Taehyung sebelum melangkah keluar meninggalkan ruang latihan.
"Hai Taehyung!" Sapa para dancer Jimin dengan ramah Taehyungpun tersenyum lebar kemudian membungkukkan badannya.
"Jangan bersikap formal!" Jo Kwon memekik dengan suara tinggi kemudian mengacak rambut Taehyung dengan gemas setelah berhasil menyusul langkah kaki Taehyung. Taehyung hanya tertawa menanggapi sikap Jo Kwon.
"Kudengar kau menjadi menejer BTS?" Tanya Jo Kwon tanpa basa-basi.
"Ya." Taehyung membalas singkat disertai anggukan.
"Wah! Selamat! Ada banyak orang yang ingin menjadi menejer BTS!" Jo Kwon kembali memekik dengan antusias. "Itu pekerjaan impian Taehyung semoga kau menikmati pekerjaanmu dengan bahagia." Jo Kwon tersenyum lebar memaksa Taehyung untuk ikut tersenyum.
"Baiklah Taehyungie kami latihan dulu, kami pinjam Jimin-mu ya. Vokalnya harus diperbaiki."
"Hari ini kan jadwal latihan dance!" Protes Jimin.
"Dance-mu nyaris sempurna kita perbaiki vokalmu." Jo Kwon bersikeras. Taehyung hanya tertawa keras mendengar perdebatan Jimin dan Jo Kwon. Taehyung melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Jimin dan Taehyung baru beranjak pergi setelah Jimin masuk ke dalam ruang latihan.
"Hari ini pasti melelahkan—dan hari-hari selanjutnya…," desah Taehyung sembari melangkahkan kedua kakinya memasuki lift.
"Tuan Kim."
"Ah ya Bibi." Taehyung membalas seorang perempuan paruh baya yang menyapanya sesaat setelah dia melangkahkan kaki keluar dari lift.
"Kardus bekas yang Anda minta sudah saya letakkan di kantor Anda."
"Terimakasih banyak Bibi Lee." Taehyung berujar ramah sambil membungkukkan badan. "Sekali lagi terimakasih dan bisakah Anda tidak memanggil saya dengan sebutan Tuan, rasanya tidak enak karena Anda lebih tua dari saya."
"Jabatan Anda lebih tinggi."
"Tidak." Ucap Taehyung bersikeras. "Jangan panggil saya dengan Tuan, cukup Taehyung saja Bi."
"Baiklah kalau begitu kau selalu keras kepala Kim Taehyung." Canda Bibi Lee, Taehyung menanggapi dengan senyuman.
Taehyung mendorong pintu ruangan tempatnya bekerja, ia melangkah masuk dan sengaja membiarkan pintu sedikit terbuka. Kardus bekas yang bibi Lee maksudkan diletakkan di depan meja kerjanya. Taehyung tidak memiliki banyak barang tapi tetap saja acara bersih-bersih dapat dipastikan akan cukup menyita waktu. "Aku mulai dengan komik." Ucap Taehyung kepada dirinya sendiri.
Iapun mengambil kardus bekas pada tumpukan teratas, meletakannya ke lantai membuka penutup kardus lebar-lebar. Ada cukup banyak komik yang Taehyung bawa ke tempat kerja mungkin kebiasaan yang sebenarnya tak patut ditiru. Agar tak terlalu bosan Taehyung memilih untuk mendengarkan lagu di sela kegiatan bersih-bersihnya. Diletakkannya ponsel miliknya ke atas meja kerja dan memutar musik dalam volume sedang.
Taehyung tersenyum saat melihat bebek-bebek karet lucu yang menemaninya selama ini. Terkadang Taehyung merasa geli dengan dirinya sendiri. "Kau masih menyukai Komik." Meski lagu tengah mengalun Taehyung tahu dengan jelas siapa yang kini berbicara dengan dirinya.
Lagu yang Taehyung putar tak terdengar kembali. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku pikir mungkin kau butuh bantuan."
Taehyung memutar tubuhnya cepat bahkan bebek-bebek karet yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Taehyung merebut ponselnya yang berada di tangan Jungkook. "Jangan menyentuh barang milik orang lain tanpa izin." Peringat Taehyung. Jungkook hanya tersenyum miring. "Aku tidak butuh bantuan, pergilah Jungkook."
"Aku selalu menahan diri untuk tidak pergi ke ruanganmu, menahan diri untuk tidak memanggil namamu saat aku tak sengaja melihatmu."
Taehyung mengacuhkan keberadaan Jungkook atau lebih tepatnya berpura-pura acuh. Ia berjongkok dan mulai memunguti bebek-bebek karet yang tadi dijatuhkannya. Jungkook ikut berjongkok di hadapan Taehyung, memungut salah satu bebek karet berwarna merah yang hendak Taehyung pungut, membuat kedua tangan mereka bersinggungan. Taehyung menarik tangan kanannya ke belakang dengan cepat. "Pergilah Jungkook kau pasti sangat sibuk."
"Aku hanya ingin tahu kenapa kau tiba-tiba pergi Taehyung?"
"Aku pergi untuk melanjutkan sekolahku."
"Pembohong!" geram Jungkook. "Aku tahu kau berbohong katakan yang sebenarnya sekarang juga Taehyung."
Taehyung mengangkat wajahnya menatap kedua mata sipit Jungkook secara langsung. "Aku memiliki alasannya sendiri, kuharap kau bisa menghormati alasanku."
"Alasan yang tidak bisa kau katakan pada kekasihmu?"
Taehyung menelan ludahnya kasar. "Itu sudah berlalu sangat lama Jungkook, sekarang kau bersama dengan Hoseok jadi lupakan saja apa yang pernah terjadi di masa lalu."
"Apa hanya itu yang bisa kau katakan padaku?"
"Memang apalagi yang ingin kau dengar dariku?"
Taehyung berusaha keras untuk tidak meruntuhkan tembok pertahannya ketika kedua mata Jungkook menjadi sembab dengan cepat. "Apa salahku sampai kau pergi begitu saja? Apa kau tidak bisa sekedar menghubungiku untuk mengucapkan perpisahan?"
"Aku terlalu naif saat itu Jungkook, maaf." Taehyung menarik napas dalam-dalam kemudian tersenyum. "Kau sudah bersama Hoseok sekarang dia jauh lebih baik dariku."
"Darimana kau tahu aku bersama Hoseok?"
"Semua orang tahu kau bersama Hoseok."
Jungkook tertawa pelan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Itu hanya setingan." Tangan kiri Jungkook bergerak pelan menyentuh lengan kanan Taehyung. "Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan orang lain setelah kau pergi."
"Maaf." Taehyung berbisik pelan. " Jungkook." Taehyung mendorong dada Jungkook saat Jungkook mencoba untuk menciumnya. Taehyung berdiri dengan cepat, menegakkan tubuhnya. "Maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan di masa lalu."
Jungkook ikut berdiri, keduanya kini berhadapan. "Apa kita tidak bisa memulainya kembali Taehyung?" Taehyung menggeleng pelan. "Apa karena Jimin?"
Tidak, bukan karena Jimin kami hanya bersahabat. Taehyung menjawab di dalam hati. "Taehyung." Tuntut Jungkook.
"Bukan karena Jimin hanya saja situasinya sekarang sangat berbeda Jungkook. Percayalah kau akan menemukan yang lebih baik dariku, dan saat kau menemukan orang yang tepat kau akan melupakan aku dengan cepat. Semuanya akan baik-baik saja."
"Sekarang hubungan kita hanya rekan kerja? Itu yang kau maksudkan?"
"Ya."
Jungkook tersenyum miring. "Kau pergi begitu saja dan bahkan sampai sekarang aku tidak bisa melupakanmu, lalu aku datang untuk menawarkan kesempatan kedua padamu. Kau pasti tertawa dalam hati sekarang Taehyung, melihat betapa menyedihkannya aku."
"Aku—aku juga tidak bisa melupakanmu Jungkook." Kalimat Taehyung membuat Jungkook terperanjat dan kembali berharap. Jungkook melangkah maju namun Taehyung melangkah mundur. "Aku benar-benar merasa bersalah, maafkan aku. Tapi semuanya sudah berakhir Jungkook sebaiknya kita mengambil jalan masing-masing. Lupakan aku."
Jungkook mengeraskan rahangnya, ia tak mengatakan apapun hanya memutar tubuhnya dengan cepat dan keluar dari ruang kerja Taehyung. BRAK! Pintu terbanting dengan kasar. "Maaf." Taehyung berbisik pelan. Menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri sebelum memutuskan untuk membereskan sisa barang yang harus dimasukkan ke dalam kardus.
.
.
.
" Jungkook kau terlambat." Ucap Namjoon yang berdiri di depan van BTS.
"Maaf." Jungkook hanya menjawab singkat kemudian memasuki van ia memilih duduk di depan, di samping sopir. Hal yang selalu ia lakukan setelah Taehyung pergi. Jungkook tidak pernah dekat dengan siapapun setelah Taehyung pergi, di depan kamera dia bisa menjadi Jungkook yang ramah, imut, dan lucu, begitupun di depan para fans. Namun, saat semua selesai, Jungkook kembali menjadi seorang Jeon Jungkook yang dingin dan kaku.
"Uh!" Protes Namjoon ketika SeokJin menarik telinga kirinya. "Apa?" Namjoon menatap sang sahabat dengan bingung.
"Kupikir setelah Taehyung kembali, Jungkook akan bahagia." Bisik SeokJin pada telinga Namjoon.
"Berarti ada masalah di antara mereka."
"Apa kita perlu melakukan penyelidikan?"
"Namjoon, SeokJin hyung sebaiknya kalian tidur." Tegur Suga yang kebetulan duduk tepat di depan duo berisik Namjoon dan SeokJin yang biasanya tenang itu.
"Sssstttttt….," Namjoon mendesis pelan sambil meletakkan telunjuk kirinya di depan bibir. SeokJin mengangguk pelan. Tak kurang akal SeokJin mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Namjoon. Namjoon bergegas meraih ponselnya yang bergetar di dalam saku jaket.
From: SeokJin
Jadi bagaimana? Penyelidikan?
Namjoon mengetik cepat. SeokJin menatap tajam layar ponselnya.
From: Namjooooooon
Oke, kau yang menyusun rencana
"Tidak bisa diandalkan," desis SeokJin, ketika ia melirik kepada Namjoon laki-laki bermata bulat itu hanya nyengir lebar. "Baiklah!" SeokJin berteriak cukup kencang yang dihadiahi oleh desisan dari seluruh member BTS. Tapi bukan SeokJin namanya jika memperdulikan hal seperti itu.
"Bagus!" Kini giliran Namjoon yang memekik keras, keduanya lalu membuat selebrasi dengan ber-High five ria dan berisik.
"Kalian berdua diam atau aku turun tangan." Ancam Suga.
"Wah mengerikan!" Namjoon dan SeokJin justru berteriak heboh kemudian berakting seperti aktor film yang dikejar pembunuh. Suga benar-benar akan melapas sabuk pengaman dan pergi ke kursi belakang, untuk mencekik Namjoon dan SeokJin jika tak dihentikan oleh Hoseok.
"Abaikan mereka, simpan tenagamu untuk bernyanyi nanti."
"Baiklah." Balas Suga menahan kesal.
"Bisakah kalian berdua tenang selama beberapa menit saja?" Keluh Jungkook sambil memijit batang hidungnya.
.
.
.
"Kau pembohong Jimin tadi kau bilang akan langsung mengantarku pulang, kau justru mengajakku jalan-jalan ke sungai Han."
"Aku butuh udara segar." Balas Jimin santai, ia bahkan tersenyum lebar, Taehyung mendengus sebal. "Ayolah—sudah sangat lama kita tidak menghabiskan waktu bersama."
"Kita terlalu sibuk dan bagaimana jika besok apa yang kita lakukan sekarang, dimuat di berita?"
"Aku tidak masalah dengan itu." Taehyung tak membalas jika Jimin sudah keras kepala tidak ada yang bisa dilakukan lagi. "Apa kau kedinginan?" Jimin memperhatikan Taehyung yang merapatkan jaket putihnya. "Kau bisa memakai jaket milikku sebagai tambahan."
Taehyung menggeleng cepat. "Tidak, terimakasih. Jadi apa yang kau inginkan sekarang? Apa kita hanya akan berjalan-jalan saja di sepanjang sungai?"
"Hanya itu yang bisa aku pikirkan, apa kau memiliki ide?"
"Tidak. Kurasa hanya berjalan-jalan seperti ini tidak buruk juga." Taehyung tersenyum diakhir kalimat.
"Aku ingin tahu apa yang Jungkook katakan padamu tadi siang, tentu saja jika kau tidak keberatan untuk menjelaskannya."
"Aku sudah mengatakannya kan, Jungkook tahu jika aku pergi ke Inggris bukan untuk melanjutkan sekolah. Dan kurasa—kurasa Jungkook akan mencoba mencari tahu apa yang terjadi."
Jimin menghentikan kedua langkah kakinya membuat Taehyung melempar tatapan penuh tanya. "Apa ini saatnya untuk berkata jujur pada Jungkook?" Taehyung menggeleng pelan. "Apa selamanya kau akan menyembunyikannya Taehyung?"
"Apa berkata yang sebenarnya akan berakhir baik?" Taehyung melempar pertanyaan lain bukannya menjawab pertanyaan dari Jimin.
"Lalu apa menyembunyikan Youngjae adalah hal yang baik? Apa kau yakin Jungkook tidak akan melakukan sesuatu saat dia mengetahui jika kau menyembunyikan putranya?"
"Jadi kau ingin mengatakan jika aku harus datang kepada Jungkook, menyapanya dengan ramah, halo Jungkook aku mengundurkan diri sebelum debut karena aku mengandung anakmu, aku pergi ke Inggris agar kau tidak mendapatkan masalah, agar aku bisa melahirkan dengan tenang, karena impianmu terlalu berharga untuk dikorbankan demi seorang anak yang mungkin tidak kau inginkan." Taehyung berucap panjang sambil menatap nanar Jimin.
"Ya." Jimin hanya menjawab singkat.
"Terimakasih Jimin." Taehyung menjawab dengan amarah yang terlihat jelas.
"Aku tidak memaksamu untuk melakukan semua itu Taehyung, aku hanya berpikir mungkin itu yang terbaik, tetapi apapun yang menjadi keputusanmu aku akan mendukungmu."
"Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau bersikap terlalu baik padaku?" Jimin tak langsung menjawab. "Kenapa?" ulang Taehyung.
"Karena—karena aku mencintaimu."
Taehyung terpaku untuk beberapa detik sebelum tertawa pelan. "Jangan bercanda Jimin."
"Aku tidak bercanda Kim Taehyung. Apa sahabat akan membantumu tanpa pamrih, apa sahabat bersedia mengakui anakmu sebagai anaknya sendiri?"
Taehyung menelan ludahnya kasar. "Kau tahu Jimin—aku tidak bisa membalas cintamu. Maaf." Taehyung melempar tatapan penuh penyesalan.
"Aku tahu Taehyung, aku akan menunggu sampai kau membuka hatimu lagi."
"Ayolah Jimin jangan konyol, kau bisa jadi perjaka tua. Cari saja orang lain aku yakin ada ribuan bahkan jutaan orang di luar sana yang menginginkanmu."
"Bagaimana jika hanya kau yang aku inginkan?"
"Jangan berharap Jimin."
Jimin menatap lekat kedua mata bulat Taehyung. "Apa kau tidak bisa membuka hatimu sekali lagi, Taehyung?"
"Cinta itu menyakitkan Jimin. Sudahlah, malam semakin dingin, besok aku harus bekerja pagi kita pergi saja dari sini." Taehyung memutar tubuhnya dengan cepat, melangkah meninggalkan Jimin.
TBC
