Aku selalu mencoba menyembunyikan perasaanku... Mungkin dia akan merasa tidak nyaman jika tau aku menaruh hati padanya..
"Apa yang sedang kau lamunkan?" Lucci sudah berdiri di depannya, mengamati apa yang barusan saja terjadi. Califa langsung tersadar dari lamunannya tadi.
"Bukan apa-apa.." jawab Califa. Baru saja ia melamunkan tentang 'menyembunyikan perasaan yang sebenarnya pada Lucci' dan tanpa disadari langkahnya terhenti. Lucci yang sudah berjalan sedikit jauh didepan, menyusul kebelakang untuk melihat apa yang dilakukan oleh Califa hingga langkahnya terhenti.
"Baiklah kalau begitu.." Lucci kembali berjalan. Langkahnya cukup cepat, dan Califa mengikutinya dibelakang.
Awalnya, Califa ingin berbelanja keperluannya, namun ia meminta Lucci untuk sekedar 'menemaninya'. Memang tidak mudah untuk membujuk Lucci, namun pada akhirnya, ia berhasil.
Merekapun terus berjalan, hingga akhirnya sampai di sebuah toserba
"Aku akan menunggu disini" Lucci memutuskan untuk menunggu Califa di depan toko. Califa hanya mengangguk pelan. Ia memasuki toko tersebut, mengeluarkan catatan kecilnya. Ia melihat catatannya itu, yang berisi barang-barang apa yang akan dibelinya.
Namun, tanpa ia sadari, ada seseorang yang sedang mengamatinya...
Tch.. akan kusiksa kau seperti kau dulu menyiksa Tuan Iceburg!
Lelaki yang menghisap cerutu itu mengamati Califa dengan hati-hati. Dia terlihat mengeluarkan sesuatu dari balik jas nya. Lebih tepatnya, Kairoseki...
Di sisi lain, Califa mengambil barang-barang keperluannya dan memasukkannya ke keranjang belanjaan. Kemudian ia mengulurkan tangannya saat ingin menjangkau barang yang terletak di rak paling tinggi. Saat itu juga laki-laki yang sejak tadi terus mengamatinya, melempar kairoseki tersebut ke tangan Califa sampai akhirnya kairoseki tersebut berhasil melilit tangan Califa dengan sempurna.
Califa agak terkejut. Tubuhnya seketika menjadi lemas. Iapun terjatuh.
Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi? batin Califa dalam hati. Matanya terlihat sayu, ingin pingsan. Kairoseki memang sangat bagus untuk melumpuhkan seorang pengguna buah iblis, tak terkecuali Califa.
Califa masih terbaring lemas di lantai toko, wajahnya memucat. Ia bahkan tak dapat bangun walaupun sudah berusaha. Saat itu juga, laki-laki tadi menghampirinya.
"Apa kau masih ingat saat kau mengkhianati Tuan Iceburg?" ucap lelaki itu
"Paulie?"
"Ya. masih ingat padaku? Sekarang kita bertemu lagi" Paulie menyeringai
"B-bagaimana kau.. bisa ada... disini?" Califa menanyakannya, masih dalam keadaan lemas. Ia heran bagaimana Paulie bisa berada di Saint Poplar. "Dan apa maumu?"
"Itu bukan urusanmu, Califa. Yang terpenting sekarang, aku akan membawamu ke Water Seven untuk bertemu denngan Tuan Iceburg" Paulie segera melilit badan dan leher Califa. Entah bagaimana caranya, Paulie membuat Califa pingsan.
Paulie pun menghisap cerutunya, seraya mengangkat Califa. Namun saat itu juga ada sebuah suara yang tak asing baginya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Paulie? Balas dendam?"
Paulie segera menoleh ke arah sumber suara.
"L-Lucci?!"
"Ya, ini aku." tanpa banyak bicara lagi, Lucci langsung menggunakan soru hingga ia berada dibelakang Paulie, lalu meluncurkan sebuah serangan shigan.
"Ugh.." Paulie pun ambruk hanya dengan 1 serangan, meskipun dia belum sekarat. Darah mengalir dari punggungnya.
"Jangan coba-coba melakukannya lagi..." Lucci menatap Paulie dengan dingin. Ia segera menangkat Califa, membawanya ke rumah miliknya.
