Hai! Selamat Datang di Fic Vocaloid ke-sekian (?) saya OvO

Yang berkenan baca silahkan roll ke bawah, yang nggak berkenan silahkan tekan 'back' atau 'close' aja /woi/

.

.

.

Langsung aja ya OwO

.

.

.

DISCLAIMER! VOCALOID BUKAN PUNYA SAYA! QwQ

.

.

.

Selamat membaca XD

.

.

.

Eh iya QwQ yang berkenan mohon kasih Review ya /heh/

.

.

.

Oke OvO Semoga SUKA…

.

.

.


Tuhan tidak akan selalu memberikan semua yang kita mau, tapi Tuhan pasti akan selalu memberikan semua yang kita butuh. Kita boleh berencana, tapi Tuhan lah yang akan menentukan. Tuhan lebih memahami diri kita dari pada kita sendiri. Tuhan tau segalanya tentang kita. Kita bisa membohongi orang lain, tapi tidak bisa membohongi Tuhan. Orang lain bisa mengkhianati kita, tapi Tuhan tidak akan pernah mengkhianati kita. Karena itulah Hatsune Miku, gadis cantik berusia 16 tahun ini sulit untuk percaya pada siapapun, bahkan dia enggan untuk berteman dengan siapapun. Baginya Tuhan sudah cukup untuk menemaninya.

Saat jam istirahat tiba, Miku hanya makan bekal dari rumah seorang diri di dalam kelas sedangkan yang lainnya pergi ke kantin. Maklum saja, Miku berasal dari keluarga yang cukup kekurangan. Sekarang dia bersekolah di SMA Scarleticia, sekolah kelas atas yang bayarannya sangat mahal. Dia beruntung bisa sekolah disana dengan beasiswa yang diperolehnya. Meskipun sering di teriaki sebagai anak orang miskin, Miku tidak pernah mempermasalahkannya karena dia yakin Tuhan sedang merencanakan skenario kehidupan yang indah untuknya.

Kepribadian Miku yang selalu sabar berhasil menarik perhatian seorang anak laki-laki bernama Kaito Shion, cucu pemilik sekolah Scarleticia. Meskipun berada di kelas yang berbeda, Kaito sering melihatnya ketika hendak pergi ke kantin.

"Aku tidak pernah melihatmu makan di kantin" Kata Kaito yang masuk ke dalam kelas Miku. Miku langsung menutup bekal makan siangnya dan menundukan kepalanya. "Kenapa?" Tanya Kaito dengan lembut. Miku menggelengkan kepalanya, Kaito pun duduk di kursi sebelah Miku. "Kau tidak dengar pertanyaanku?" Tanya Kaito lagi.

"Ma-maaf, aku mendengarnya. Makanan disana mahal, jadi aku lebih memilih membawa bekal dari rumah" Jawab Miku yang masih menundukan kepalanya. Kaito tersenyum.

"Jawabanmu jujur sekali hahaha" Kaito tertawa. Miku hanya diam dengan sedikit gemetaran, Kaito yang menyadarinya pun langsung mengusap kepala Miku. "Jangan takut, aku tidak akan berbuat jahat padamu" Kata Kaito yang langsung berjalan keluar kelas. Miku hanya memandangi punggung Kaito.

"Aku ingin mempercayaimu, tapi aku tidak bisa" Ucap Miku saat Kaito sudah tidak ada disana.


Sepulang sekolah, Miku selalu membantu ayahnya yang memang berjualan sayuran 'sisa' yang beliau dapatkan di pasar. Tentu saja sayurannya yang masih layak untuk di konsumsi. Miku selalu membantu kedua orang tuanya dengan penuh senyuman, ibunya hanya seorang buruh cuci, Miku juga memiliki seorang adik laki-laki bernama Mikuo yang usianya masih 10 tahun. Tapi sejak lahir Mikuo tidak bisa bermain keluar, kakinya lumpuh dan membuatnya hanya bisa terbaring di atas kasur.

"Onee-chan" Panggil Mikuo pada Miku yang sedang belajar di samping kasurnya.

"Ada apa?" Tanya Miku dengan lembut.

"Aku haus.." Jawab Mikuo. Miku membelai kepala adiknya itu.

"Tunggu sebentar ya, akan aku ambilkan" Miku berjalan keluar kamar.

Saat dia hendak ke dapur, dia mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Mereka berdua sangat khawatir dengan keuangannya. Mereka harus selalu membawa Mikuo ke rumah sakit, dan mereka tau biaya untuk ke rumah sakit itu tidaklah murah. Miku yang mendengar pembicaraan itu pun langsung menghampiri kedua orang tuanya.

"Aku akan mencari pekerjaan dan mendapatkan uang" Ucap Miku yang membuat kedua orang tuanya terkejut.

"Kau tidak perlu melakukannya sayang, ayah masih sanggup bekerja yang lainnya" Kata ayahnya, tapi Miku masih bersikeras ingin mencari pekerjaan untuk membantu ekonomi keluarganya. Akhirnya mereka berdua pun mengizinkannya. Setelah itu Miku langsung pergi ke dapur dan mengambil minum untuk adiknya.

"Arigato" Ucap Mikuo. Miku tersenyum dan membantunya untuk bangun.

Saat adiknya tertidur, Miku selalu mengelus kepalanya bahkan air matanya sering keluar membasahi pipi lembut Miku. Dia sangat menyayangi adiknya, baginya Mikuo adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menghapus rasa sepinya. Karena itulah Miku akan melakukan apapun demi adik kesayangannya itu.


Esok paginya saat Miku berjalan menuju kelasnya, dia mendengar segerombolan anak perempuan membicarakan mengenai Kepala Sekolah yang membutuhkan pembantu di rumahnya. Miku memang cukup akrab dengan Kepala Sekolah maka dari itu dia langsung bergegas ke ruangan Kepala Sekolah.

"Apa? Kau mau bekerja di kediamanku?" Tanya Kepala Sekolah dengan sedikit terkejut.

"Iya. Keuangan keluargaku sedang bermasalah, makanya aku—"

"Baiklah, kau bisa bekerja sepulang sekolah. Datang saja ke alamat ini" Kepala Sekolah memberikan selembar kertas pada Miku.

"Terimakasih banyak" Kata Miku dengan raut wajah yang riang gembira. Dia pun pamit dan berlari ke kelasnya.

Saat memasuki kelasnya, semua mata anak perempuan yang ada disana pun tertuju padanya.

"Hey orang miskin! Kau terlihat sangan gembira hari ini" Cetus seorang anak perempuan dengan rambut pirang yang tergerai indah. Miku langsung menundukan kepalanya.

"Lily kau jangan kasar begitu" Kata seorang anak perempuan lain sambil menaruh jari telunjuknya di kening Miku dan sedikit mendorongnya. Miku hanya diam dan tidak melawan. "Sampah sepertimu tidak pantas ada disini" Lanjutnya.

Tiba-tiba ketua kelas pun datang dan segera menyingkirkan tangan anak perempuan itu dari Miku.

"Inikah pelajaran sopan santun yang diajarkan di rumah kalian?" Tanya ketua kelas.

"Gakupo terus saja melindunginya, menyebalkan huh!" Keluh Lily.

"Kembali lah ke tempat dudukmu" Kata Gakupo pada Miku. Miku hanya menganggukan kepalanya dan segera berjalan ke tempat duduknya, sementara Gakupo sedang berbicara kepada dua perempuan yang tadi.

Gakupo memang orang yang sangat baik. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak pernah mencela Miku di kelasnya, justru dia adalah satu-satunya orang yang selalu membela dan melindunginya. Meskipun begitu Miku masih belum bisa percaya pada Gakupo sepenuhnya.

Saat jam istirahat tiba seperti biasanya ketika semuanya pergi ke kantin, Miku hanya makan bekalnya di dalam kelas dan seperti hari kemarin Kaito datang menghampirinya.

"Sekali-sekali makanlah di kantin" Kata Kaito. Miku menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" Tanya Kaito. Miku hanya diam dan fokus pada makanannya. "Miku punya pacar?" Tanya Kaito tiba-tiba.

"T-tidak" Jawab Miku yang sedikit terkejut.

"Kau tidak pacaran dengan Gakupo?" Tanya Kaito lagi.

"Aku tidak memiliki hubungan seperti itu dengannya" Jawab Miku sambil menutup kotak bekalnya. Kaito tersenyum, kemudian mengelus kepala Miku dan berjalan keluar kelas. Wajah Miku pun seketika merah ketika dia merasakan lembutnya belaian tangan Kaito. Tiba-tiba…

"Kenapa si Kaito datang kesini?" Tanya Gakupo sambil berjalan ke arah Miku.

"Aku tidak tau" Jawab Miku. Gakupo duduk di bangku depan Miku.

"Apa dia berkata yang tidak-tidak padamu?" Tanya Gakupo lagi. Miku menggelengkan kepalanya. Gakupo menatap wajah Miku yang selalu murung itu. "Kau akan terlihat lebih manis jika tersenyum" Kata Gakupo sambil meletakan jari telunjuk dan jari tengahnya ke tepi bibir Miku dan sedikit menariknya ke atas. Miku sedikit terkejut dan malu karena baru kali ini ada orang lain yang berkata seperti itu.

Saat jam pelajaran kembali dimulai, Miku tanpa sadar terus menatap ke arah Gakupo. Gakupo yang menyadarinya pun hanya tersenyum padanya. Tapi Miku tidak membalas senyumannya dan malah menunduk dengan wajah murungnya.

Jam pelajaran pun berakhir, saatnya Miku pergi ke tempat kerjanya.


Saat sampai di rumah Kepala Sekolah, Miku sangat terkesan dengan rumahnya yang terbilang sangat besar, mewah, dan luar biasa itu.

"Ini istana?" Ucap Miku. Tiba-tiba seorang wanita datang dan menghampirinya.

"Apakah kau Hatsune Miku yang akan bekerja disini?" Tanyanya dengan ramah.

"Iya" Jawab Miku.

"Kalau begitu mari ikut saya" Wanita itu pun menarik tangan Miku kedalam rumah mewah itu.

Saat berada di dalam, Miku kembali terkesan saat melihat keindahan disana. Miku terus berjalan bersama wanita itu ke sebuah ruangan khusus pegawai.

"Nah ini adalah tempat khusus bagi para pegawai wanita sedangkan ruangan khusus bagi pegawai pria ada di sebelah" Ucap wanita itu. "Nah sekarang kau pakai seragammu" Wanita itu memberikan seragam Maid pada Miku. Saat Miku selesai memakainya, semua pegawai yang ada disana pun terlihat takjub.

"Kawaii ne Miku-san" Ucap salah satu pegawai yang ada disana. Miku tersenyum dengan sedikit malu.

"Ring tolong bawa Miku ke dapur dan beritau tugas pertamanya" Ucap wanita yang tadi.

"Baik! Ayo Miku…" Ring menarik tangan Miku dengan gembira.

Saat mereka sudah berada di dapur, Ring mengatakan bahwa Miku harus mengantarkan teh dan beberapa kue pada Tuan Muda. Miku yang belum mengetahui siapa yang di panggil Tuan Muda itu pun kebingungan.

"Di lantai 2 ada pintu berukuran besar, itu adalah kamar tuan muda. Sebelum kau masuk ketuk dulu pintunya" Jelas Ring. Miku menganggukan kepalanya. "Nah selamat bertugas!" Ring melambaikan tangannya. Miku hanya tersenyum.

Miku pun berjalan seorang diri ke kamar yang dimaksud. Dia berjalan dengan sangat hati-hati saat berjalan di tangga. Saat dia berada di lantai 2, dia melihat dua foto berukuran sangat besar terpajang di dinding. Di foto itu ada tulisan Tuan dan Nyonya Shion. Miku tidak berlama-lama melihatnya, dia langsung berjalan menuju kamar dengan pintu besar.

"Inikah kamarnya?" Miku sedikit gugup. Dia pun memberanikan diri untuk mengetuknya.

"Masuk" Ucap seorang laki-laki dari dalam kamar itu. Miku pun membuka pintunya dan masuk, lalu membungkuk memberikan salam.

"Selamat siang Tuan Mu—"

"Miku?"

"K-Kaito-san?" Miku terkejut bukan main. "I-ini rumahmu?" Tanya Miku.

"Begitulah" Jawab Kaito yang juga terkejut.

"Apa kepala sekolah juga tinggal disini?" Tanya Miku lagi.

"Tentu saja tidak. Dia pamanku tapi dia tidak tinggal denganku. Tadi pagi pamanku bilang jika dia sudah mendapatkan pegawai baru untuk bekerja disini, tapi aku tidak menyangka jika orang itu adalah kau" Jawab Kaito sambil tersenyum manis pada Miku.

"I-ini teh dan kue nya" Miku meletakkan keduanya di meja Kaito. "Kalau begitu aku permisi" Miku berjalan menuju pintu tapi tangannya di tarik Kaito.

"Jangan pergi" Kata Kaito.

"Tapi aku harus bekerja" Balas Miku sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Kaito.

"Disini aku adalah majikanmu. Kau bekerja untukku. Maka dari itu kau harus menuruti semua perintahku" Ucap Kaito sambil menarik Miku kedalam pelukannya.

Miku mendengar detak jantung Kaito yang begitu kencang. Tidak lama kemudian Kaito melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Miku.

"Aku mau belajar" Kaito duduk di kursinya. Miku hanya berdiri dan memperhatikannya. "Kau duduk disini" Kata Kaito.

"Disini? Dimana?" Tanya Miku.

"Disini. Di pangkuanku" Jawab Kaito. Miku terkejut dan sempat menolak tapi Kaito mengancam akan memberhentikannya jika dia menolak. Jadi pada akhirnya Miku pun menurut dan duduk di pangkuan Kaito. "Wangimu enak" Kata Kaito.

"Tolong jangan bicara yang aneh-aneh" Kata Miku yang terlihat sedikit tidak nyaman. Kaito tersenyum dan mulai membuka buku dan mengisi soal-soal yang ada disana. Miku melihat keseriusan Kaito dalam belajar. "Kau pintar" Kata Miku lagi.

"Aku tidak mau terlihat bodoh di depanmu" Kaito memeluk Miku dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya sibuk mengisi soal. Miku hanya diam dan tidak bicara apa-apa lagi.

Tok..tok..tok..

"Kaito kau ada di dalam?" Tanya seseorang di balik pintu. Miku langsung turun dari pangkuan Kaito dan segera berdiri di sampingnya. Seseorang itu pun membuka pintu secara perlahan.

"Ada apa?" Tanya Kaito.

"Aku hanya ingin memberi kan in— Miku?"

"G-Gakupo-san?" Miku terlihat sedikit terkejut. Kaito hanya diam.

"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau berpakaian Maid?" Tanya Gakupo sambil berjalan menghampirinya.

"Mulai hari ini aku bekerja disini" Jawab Miku sambil menundukan kepalanya. Tiba-tiba Gakupo menarik tangan Miku. "Gakupo-san?" Miku bingung.

". . ." Gakupo hanya diam dan memberikan sebuah berkas pada Kaito kemudian menarik Miku keluar dari kamarnya.

Gakupo terus menarik tangan Miku sampai ke taman belakang istana itu.

"Gakupo-san?"

"Jauhi Kaito"

"Eh?"

Suasana disana pun hening untuk beberapa saat. Angin pun bertiup cukup kencang sampai kelopak bunga mawar berwarna ungu yang ada disana pun berterbangan ke arah mereka.

"Tetaplah bersamaku, maka kau tidak akan mendapat masalah" Ucap Gakupo. Miku hanya diam dalam kebingungannya.

"Aku tidak mengerti…"

"Kalau kau dekat dengan Kaito, itu sama artinya dengan menggali kuburanmu sendiri" Ucap Gakupo lagi.

"Maksudmu Kaito-san adalah orang yang buruk?" Tanya Miku yang masih bingung. Tiba-tiba Gakupo menarik tangannya dan menjatuhkannya dalam pelukannya. Miku terkejut.

". . ." Gakupo melihat ke arah kamar Kaito. Gakupo menyadari jika Kaito sedang memperhatikan mereka berdua. "Turuti kata-kataku. Jangan mendekati Kaito saat aku tidak ada baik itu disini ataupun di sekolah" Bisik Gakupo. Miku hanya diam.

Gakupo dan Kaito tinggal di rumah yang sama. Kenapa? Karena mereka itu sepupu. Ibu dari Kaito adalah adik dari Ayah Gakupo. Mereka sudah tinggal bersama sejak kecil.

"Aku akan melindungimu…" Kata Gakupo sambil berjalan meninggalkan Miku. Saat Miku membalikan badannya, Gakupo sudah tidak ada disana.

"Aku…harus kembali bekerja" Ucap Miku sambil berjalan perlahan menuju dapur.

Saat turun ke tangga, dia melihat Kaito sedang berdiri disana sambil menatapnya. Miku pun hanya membungkukan badannya dan pergi meninggalkan Kaito.

"Aku tidak akan melepaskanmu" Ucap Kaito dengan tiba-tiba. Miku hanya diam dan terus berjalan. "Miku…" Panggil Kaito. Miku menghentikan langkah kakinya dan membalikan badannya. "Aku tidak akan berbuat buruk padamu, karena itu…ku mohon jangan takut padaku"

"Aku tidak mengerti dengan semua ini. Tapi aku tidak takut padamu" Ucap Miku. Kaito sedikit tersenyum. "Aku harus kembali bekerja, sampai nanti" Miku kembali berjalan menuju dapur.

Miku pun kembali bekerja. Kali ini dia membersihkan berbagai ruangan bersama Gumi, salah satu pelayan yang ada disana. Saat beres-beres Miku melihat berbagai macam lukisan raksasa di gudang. Karena penasaran, Miku mendekati salah satu lukisan yang ada disana.

"Gumi, ini siapa?" Tanya Miku pada lukisan seorang wanita berambut panjang yang berparas cantik.

"Beliau adalah ibu dari tuan Gakupo, tapi sekarang beliau sudah tidak ada. Sudah beristirahat dengan tenang" Jawab Gumi. "Tuan Gakupo meminta kami untuk menyimpannya di gudang, dia tidak ingin tenggelam dalam kesedihannya" Lanjut Gumi.

"Kenapa beliau bisa meninggal?" Tanya Miku.

"Kami para pelayan tidak pernah mengetahuinya. Tiba-tiba nyonya sudah bersimbah darah di kamarnya" Jawab Gumi lagi. Miku menatap mata lukisan itu kemudian menyentuhnya.

Dhegh

"Mama! Mama!"

"Gakupo! Lari!"

"Mamaaaa!"

"Miku-chan, Miku-chan, Miku-chan" Gumi mencubit pipi Miku. Miku tersadar dan segera menjauh dari lukisan itu. "Ada apa?" Tanya Gumi yang khawatir.

"Tadi…aku seperti mendengar suara saat menyentuh lukisannya" Jawab Miku. Gumi yang khawatir langsung mengajaknya keluar.

"Ada apa?" Tanya seorang laki-laki yang sedang bersandar di dinding.

"Tidak ada apa-apa tuan muda" Jawab Gumi.

"Tuan muda?" Miku melirik laki-laki bertubuh tinggi dan berwajah tampan yang belum pernah dia temui itu. Gumi pun memberikan salamnya dan kemudian menarik Miku pergi dari sana.

Mereka pun terus berjalan bersama sampai akhirnya berpisah. Gumi pergi menuju ruang makan dan Miku di minta untuk membersihkan kamar yang ada di lantai 4.

Miku berjalan seorang diri, rumah itu sangatlah besar. Banyak lorong dimana-mana, dan itu membuat Miku sering tersesat. Saat dia mulai menginjak lantai 4, Miku mendengar nyanyian seorang laki-laki.

"Kagome kagome, seperti burung di dalam sangkar…"

"Siapa yang bernyanyi?" Tanya Miku dalam hatinya.

"Kapan aku bisa keluar dari sini?"

Miku terus berjalan menuju kamar yang dikatakan Gumi.

Diikat, menjadi tawanan. Aku menunggu sampai pagi hari. Seorang diri saja…"

Semakin lama suara nyanyian itu pun semakin jelas terdengar di telinga Miku.

"Aku melihat bulan"

Miku berjalan perlahan saat pintu besar sudah terlihat tepat di depan matanya.

"Kagome kagome, seperti burung di dalam sangkar. Kapan aku bisa keluar dari sini? Rantai di leherku memperlancar pada tahap akhir dari Surga"

Saat Miku berdiri tepat di depan pintu itu, Miku pun tersadar jika suara nyanyian itu berasal dari dalam kamar itu.

"Aku menari, aku telah bermimpi…"

Miku pun hendak mengetuk pintu itu, tapi belum juga tersentuh oleh Miku pintu itu pun mulai terbuka secara perlahan.

"Siapa yang ada di belakangku sekarang?"

Saat pintu terbuka lebar, Miku melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri menatap ke luar jendela. Laki-laki itu pun membalikan badannya perlahan. Dia menatap Miku dengan tatapan yang kosong padahal matanya terlihat begitu indah.

"Masuk…" Ucap laki-laki itu. Miku hanya diam. "MASUK!" Bentak laki-laki itu. Tiba-tiba tubuh Miku seperti di tarik masuk kedalam kamar itu. Dan dengan seketika pintu kamar itu pun tertutup kembali. "Ketika aku memberikan perintah, kau seharusnya segera melakukan apa yang aku katakan!" Bentaknya lagi. Miku meminta maaf. Tubuh Miku gemetar karena ketakutan. Miku merasakan hal yang aneh pada laki-laki itu. Kemudian laki-laki itu pun berbaring di lantai.

"T-tuan muda…" Panggil Miku.

"Jangan pedulikan aku. Lakukan saja tugasmu" Ucap laki-laki itu.

Dia terus berbaring di lantai tanpa berkedip sedikitpun. Dan itu membuat Miku merasa tidak nyaman ada disana. Miku terus membereskan kamar yang amat berantakan itu dengan tenang. Tiba-tiba buku tebal yang di pegang Miku pun terjatuh. Laki-laki itu langsung menatap ke arah Miku.

"Ma-maaf…" Miku langsung mengambil kembali buku itu dan meletakannya kedalam rak buku. Tanpa Miku sadari, laki-laki itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Miku terkejut saat membalikan badannya. "T-tuan muda…"

". . ." Laki-laki itu hanya diam dan menatap Miku. Miku semakin gemetaran karena takut. Tiba-tiba laki-laki itu menyingkirkan rambut yang menutupi leher Miku dan kemudian mencengkram kedua tangan Miku lalu sedikit mendorongnya sampai punggung Miku menyentuh rak buku.

"T-tuan muda…" Miku mencoba melepaskan cengkraman tangan laki-laki itu.

"Panggil aku Len" Bisiknya. Kemudian Miku merasakan sesuatu yang tajam mencoba menembus kulit lehernya.

"Itai…" Miku menahan sakit saat sesuatu yang tajam itu berhasil menembus kulitnya. Menyadari Miku mulai mengeluarkan air mata, Len melepaskan gigitannya di leher Miku.

"Sakit ya?" Tanya Len dengan wajah yang dingin. Miku menangis terkejut saat melihat darah yang ada di tepi bibir Len. Miku pun semakin lemas sampai akhirnya tidak sadarkan diri.

Beberapa jam kemudian Miku membuka matanya.

"Cuma mimpi ya…" Ucapnya dalam hati.

"Sudah bangun?" Tanya Len yang berbaring di sampingnya. Miku terkejut dan segera menyentuh lehernya. "Kau bekerja disini tapi kau tidak tau siapa yang ada disini" Ucap Len sambil membelai pipi Miku.

"Hiks…"

"Ngh? Kenapa kau malah menagis? Hahahaha! Manusia sungguh lucu" Ucap Len yang tentu saja membuat Miku semakin terkejut.

"Kenapa kau bicara begitu? Bukankah kau juga manusia?"

"Tentu saja bukan"

"Lalu kau ini apa?" Tanya Miku yang masih sangat ketakutan.

"Vampire"

Dhegh… Miku jadi semakin ketakutan saat mendengar perkataan Len. Miku langsung bangun dan turun dari kasur Len. Dia melihat jam sudah menunjukan jam 23:50. Miku semakin panik karena saat dia mencoba membuka pintu, pintunya tidak mau terbuka.

"Bagaimana ini" Miku panik.

Blam… tiba-tiba pintu itu pun terbuka dengan sendirinya.

"Seharusnya kau bisa mengendalikan dirimu, Len" Ucap seseorang yang berdiri tepat di depan kamar Len. Len hanya tersenyum padanya.

"Vampire tidak sempurna sepertimu mengerti apa tentangku?" Tanya Len.

"Kaito-san…" Panggil Miku.

". . ." Kaito hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Len. Tiba-tiba Gakupo datang dan menarik Miku kedalam pelukannya.

"Sepertinya aku harus menjauhkanmu dari mereka berdua" Ucap Gakupo yang langsung menghilang bersama Miku.


Gakupo pun membawa Miku ke danau yang letaknya cukup jauh dari kediamannya.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Gakupo. Miku menganggukan kepalanya.

"Gakupo-san, apa kau juga seorang vampire?" Tanya Miku dengan tiba-tiba. Gakupo terkejut.

"Kenapa ka—" Gakupo melihat luka gigitan di leher Miku. "Begitulah…" Jawab Gakupo. Miku langsung menjaga jarak dengan Gakupo. "Tapi aku tidak akan melakukan hal yang seperti Len lakukan" Ucapnya.

"Apa Kaito-san juga seorang vampire?" Tanya Miku lagi. Gakupo menganggukan kepalanya.

"Aku tidak punya pilihan lain, jadi dengarkan penjelasanku baik-baik…" Ucap Gakupo pada Miku yang masih menjaga jarak dengannya.

Gakupo pun mengatakan semuanya pada Miku. Ada 6 vampire yang tinggal disana. Ada 5 vampire sempurna dan 1 vampire tidak sempurna. Maksudnya, vampire yang sempurna itu vampire yang tidak memiliki percampuran darah dari manusia dan vampire yang tidak sempurna itu vampire yang memiliki percampuran darah dari manusia, contohnya adalah Kaito. Meskipun vampire yang tidak sempurna, Kaito adalah vampire yang paling berbahaya dari semuanya. Karena itulah Miku harus menjaga jarak dengan Kaito.

Kaito sangat ingin menjadi vampire yang sempurna seperti ke-5 saudaranya yang lain. Dia selalu merasa di bedakan sejak kecil karena ayahnya adalah seorang manusia. Meskipun begitu dia tetap tidak pernah menyalahkan ayah atau ibunya. Kaito mengetahui rahasia untuk menjadi vampire yang sempurna, yaitu dengan memasukan sebuah Kristal yang berada di dalam jantung seorang pendeta pembasmi vampire kedalam jantungnya. Dan sekarang Kaito sudah menemukan keberadaan Kristal itu.

"Kristal itu ada di dalam jantungmu"

"Kristal?"

"Jika Kaito mendapatkan Kristal itu, maka dia akan menjadi vampire yang sempurna. Karena itu aku memperingatkanmu untuk menjauh darinya" Gakupo mengelus kepala Miku.

"Tapi…aku bukanlah seorang pendeta pembasmi vampire" Ucap Miku.

"Kau mungkin bukan pendeta pembasmi vampire, tapi kau adalah keturunannya" Balas Gakupo. Miku terdiam. "Aku, Kaito, dan yang lainnya sudah hidup lebih lama daripada dirimu. Dan besok adalah ulang tahunku yang ke-309 tahun"

"Lalu…kepala sekolah juga vampire?" Tanya Miku lagi.

"Begitulah. Kau tau? Scarleticia adalah gerbang bagi para Vampire untuk masuk kedalam dunia manusia. Tidak semua yang bersekolah disana adalah manusia sepertimu, ada beberapa vampire yang bersekolah disana. Beberapa dari mereka hanya penasaran dengan tingkah laku manusia. Dan tidak jarang beberapa diantara mereka malah jatuh cinta pada manusia" Jawab Gakupo. "Kalau kau takut, besok kau tidak perlu datang ke kediaman kami" Lanjut Gakupo.

"Aku…mau pulang" Ucap Miku sambil menundukan kepalanya. "Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini…banyak hal yang sulit utuk aku percayai"

Gakupo pun memeluk Miku dan mengantarkannya pulang ke rumah.


Dengan hitungan detik, mereka pun sudah sampai di depan rumah Miku.

"Aku baru ingat kalau barang-barangku ada disana" Ucap Miku. Gakupo tersenyum.

"Saat kau buka matamu besok, kau akan menemukannya di kamarmu" Gakupo pun menghilang. Miku hanya diam.

Miku masuk kedalam rumahnya dan melihat kedua orang tuanya sudah tertidur pulas. Dan saat dia berjalan melewati kamar adiknya, dia melihat sesosok anak perempuan sedang duduk di lantai di samping kasur adiknya. Karena terkejut, Miku segera kembali ke kamar adiknya tapi dia tidak menemukan anak perempuan itu.

"Sepertinya sirkuit otakku mulai terganggu" Ucap Miku sambil menyentuh keningnya dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah itu dia kembali lagi ke kamar adiknya dan kembali melihat anak perempuan itu. Kali ini Miku yakin jika ini bukanlah halusinasinya. Miku melihat anak perempuan itu hendak menyentuh adiknya, dengan segera Miku berlari dan menghentikan tangan anak perempuan itu. "Apa yang mau kau lakukan?" Tanya Miku.

"Le-lepaskan.." Pinta anak itu sambil menarik-narik tangannya yang di cengkram Miku. Kemudian anak perempuan itu pun membuka mulutnya dan hendak menggigit tangan Miku.

"Vampire!" Miku langsung melepaskan tangannya. Anak perempuan itu pun mengeluarkan air mata dan lalu menghilang.

Miku yang masih khawatir pun langsung tidur di samping adiknya. Miku mengelus kepalanya dan tidur sambil memeluknya. Miku masih bingung kenapa vampire perempuan itu berada disamping Mikuo.

Pagi harinya Miku menemukan seragam dan tas sekolahnya di depan kamarnya. Dia bergegas mandi dan sarapan bersama keluarganya. Setelah itu dia membangunkan Mikuo yang masih tertidur dan menyuapinya makan.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Miku pada adik tercintanya itu.

"Aku baik-baik saja" Jawabnya sambil tersenyum.

"Cepat berangkat nanti kau kesiangan" Ucap ibunya yang masuk kedalam kamar adiknya.

"Iya. Aku berangkat" Miku berjalan keluar rumah.


Miku terus mengkhawatirkan adiknya, dan kekhawatiran itu terus berlangsung sampai di sekolah. Saat di depan gerbang Miku sempat terdiam karena melihat suasana sekolah yang sangat sepi dan berbeda dari biasanya.

"Miku!" Panggil seseorang.

"Kaito-san?"

"Kenapa kau datang ke sekolah?!" Tanya Kaito dengan sedikit panik.

"Tentu saja untuk sekolah" Jawab Miku dengan polosnya.

"Apa kemarin kau tidak dapat telpon dari pihak sekolah?" Tanya Kaito lagi. Miku menggelengkan kepalanya.

"Kami tidak punya telpon di rumah" Jawab Miku lagi. Kaito terlihat sangat panik dan segera menarik Miku kedalam gedung olahraga. "A-apa yang terjadi?"

"Kau sudah tau kalau tidak semua yang bersekolah disini adalah manusia kan?" Tanya Kaito. Miku menganggukan kepalanya. "Hari ini semua manusia yang bersekolah disini di liburkan dan sekarang semua yang ada disini hanyalah Vampire!" Lanjut Kaito. Miku terkejut. "Berbahaya jika ada manusia disini"

"Lalu aku harus bagaimana?" Miku mendadak panik.

"Ada satu cara untuk menyamarkan bau manusiamu menjadi bau vampire" Ucap Kaito.

"Apa caranya?" Tanya Miku.

"Kau harus berciuman dengan Vampire" Jawab Kaito. Miku semakin terkejut.

"Kalau begitu aku mau pulang saja" Miku berjalan menuju pintu tapi Kaito langsung menariknya.

"Terlambat, sudah banyak Vampire yang datang" Kaito menujuk ke luar jendela.

"Lalu aku harus berciuman? Dengan siapa?"

"Denganku. Apa kau mau?" Tanya Kaito. Miku terkejut. "Ada seseorang yang menuju kemari, Miku ki—"

"Kalau begitu cepat lakukan, aku takut…hiks" Air mata Miku mulai membasahi pipinya. Kaito pun mulai mendekatkan wajahnya pada Miku. "Ini pertama kalinya bagiku…" Ucap Miku. Kaito hanya diam dan akhirnya bibir mereka saling bersentuhan dengan lembut.

"Apa yang kalian lakukan disini? Acaranya akan segera dimulai!" Teriak seseorang yang membuka pintu gedung olahraga.

"Kami akan segera kesana" Balas Kaito. "Jangan lepaskan tanganku" Kaito menggenggam erat tangan Miku.

Mereka pun memasuki aula bersama-sama. Disana Miku duduk bersebelahan dengan Kaito.

"Are? Ha..hahahaha" Len tertawa saat melihat Miku yang ada disana.

"Miku?!" Gakupo yang datang bersama Len cukup terkejut.

"Gakupo, Len cepat duduk" Ucap seorang laki-laki yang pernah Miku termui di kediaman Kaito. "Kau…" Laki-laki itu menatap Miku dengan tatapan aneh.

"Cepat duduk Ted.." Sahut Kaito.

Miku pun mulai gemetaran saat aula di penuhi oleh Vampire. Miku merasakan aura menakutkan keluar dari mereka semua. Kaito yang menyadari Miku gemetar pun menggenggam tangannya lebih erat lagi.

"Kaito-san?" Miku melirik ke arah Kaito.

"Jangan takut.." Kaito tersenyum lembut. Miku sedikit tersenyum. "K-kau…" Kaito terkejut.

"Hng?" Miku menatap bingung pada Kaito.

"Ngh..tidak, bukan apa-apa" Kaito kembali tersenyum.

Kemudian acara pertemuan antara Vampire pun dimulai. Mereka mulai membahas hal-hal yang sama sekali tidak di mengerti oleh Miku.

"Kaito-sama bagaimana pendapat anda mengenai manusia?" Tanya seseorang yang berdiri diatas podium.

"Mereka luar biasa.." Jawab Kaito.

"Ha..ha..hahahahaha" Len tertawa lepas. "Mereka memang luar biasa, benarkan?" Len langsung bersandar ke pundak Miku dengan sengaja.

"Manusia itu seperti mainan" Cetus seorang laki-laki yang duduk di kursi paling depan. "Mereka akan terlihat sangat menarik ketika menangis dan memohon ampun" Lanjutnya. "Dan setelah bosan kita bisa menghisap darahnya sampai habis hahahaha"

Miku terkejut sekaligus ketakutan saat mendengarnya.

"Aku setuju denganmu Nero! Hahahaha" Sahut Len.

"Sayangnya tidak semua darah manusia itu enak" Ucap Ted sambil membersihkan kacamatanya.

"Setidaknya kemarin aku merasakan darah yang enak" Len kembali bersandar pada Miku. Gakupo dan Kaito langsung menatap sinis Len.

Miku hanya diam dan tidak bicara sepatah katapun. Len terus menyentuh bagian leher Miku yang kemarin dia gigit.

"Sudah hilang ya.." Ucap Len dengan nada suara yang pelan. "Ha..hahaha, jangan khawatir aku akan melakukannya lagi untukmu" Bisik Len.

Pertemuan antar Vampire pun selesai. Semuanya seketika menghilang dari tempatnya.

"Kita juga pulang" Ucap Ted sambil berdiri dari tempat duduknya.

Saat sudah di luar, Miku pamit pulang pada Gakupo dan Kaito tapi tiba-tiba Len menarik tangannya.

"Kau ikut pulang bersama kami" Ucap Len dengan nada suara mengancam.

"Tapi aku…"

"Kau lupa dengan apa yang aku katakana kemarin? Ketika aku memberikan perintah, kau seharusnya segera melakukan apa yang aku katakan" Jelas Len. Miku terdiam.

"Semuanya cepat masuk kedalam mobil" Ucap Ted. Semuanya pun menurut. Gakupo duduk di kursi depan bersama Ted. Lalu Miku duduk di antara Kaito dan Len.

Selama di perjalanan, Len terus menatap Miku dan itu membuat Miku merasa tidak nyaman.


Saat sampai di kediaman mereka, Ted langsung menghilang sesaat setelah memarkirkan mobilnya. Len langsung masuk kedalam rumah, begitu juga dengan Kaito.

"Kalau kau ada apa-apa segera teriakkan namaku" Kata Gakupo yang kemudian menghilang ntah kemana. Miku pun masuk kedalam dan pergi ke ruangan khusus pegawai. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Miku segera menuju dapur.

"Miku-san, kau bisa memetik bunga mawar di taman?" Tanya Ring. Miku menganggukan kepalanya. "Hati-hati ya, jangan sampai tanganmu terluka" Ring memberikan keranjang dan gunting pada Miku. Miku langsung bergegas ke taman dan memilih bunga mawar yang bagus.

"Miku-chan! Kau sedang memetik bunga? Kalau sudah selesai bawa kesana ya!" Teriak Gumi sambil melambaikan tangannya. Miku menganggukan kepalanya.

Setelah selesai, Miku segera menuju tempat yang dikatakan Gumi.

"Tempat apa ini?" Tanya Miku dalam hatinya. Miku terus melangkah lebih jauh sampai akhirnya dia melihat air terjun dan sebuah kuburan.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya seseorang yang suaranya pernah Miku dengar.

"Aku diminta untuk mengantarkan in—" Miku terkejut saat melihat laki-laki bernama Nero berdiri tepat di hadapannya.

"Jadi kau manusia?" Tanya Nero. Miku menundukan kepalanya. "Hee? Coba kau ambilkan bunga mawar itu dengan kedua tanganmu" Ucap Nero sambil tersenyum. Miku pun mengambilnya dengan perlahan agar tangannya tidak tertusuk duri. Tiba-tiba satu tangkai bunga mawar jatuh ke tanah. "Pegang yang erat!" Ucap Nero lagi. "Aku bilang yang erat! Seperti ini!" Nero menggenggam tangan Miku dan membuatnya menggenggam mawar beduri itu dengan erat sampai akhirnya tangan Miku terluka dan meneteskan darah. "HAHAHAHAHA" Nero tertawa lepas.

"Hiks…" Miku meneteskan air mata karena menahan sakit.

"Letakan bunga itu di atas makam ibuku" Ucap Nero. Miku pun meletakannya. Beberapa tetes darah Miku pun berceceran di atas nisan ibu Nero. "Jangan kotori makam ibuku" Nero menghapus darah Miku dengan tangannya kemudian menjilatnya. Nero sedikit tertawa. Nero melangkah mendekati Miku dan mendorongnya sampai terjatuh.

"Sakit..hiks…" Miku kembali menangis. "Ak..u ti..dak..bi..sa..ber..nap..as" Nero mencekik Miku dengan cukup kencang.

"Perlihatkan ekspresi kesakitanmu, perlihatkan sisi cantikmu" Ucap Nero yang mencekik Miku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya mencengram tangan Miku dan menjilati darah yang masih keluar dari sana.

Tiba-tiba sebuah pisau melesat tepat ke arah Nero, tapi Nero berhasil menangkapnya.

"Teddy jangan jahil begitu" Ucap Nero yang melepaskan cekikannya dari Miku.

"Uhuk…uhuk…" Miku hampir kehabisan napas saat di cekik Nero.

"Aku juga mau main dengannya" Ted berjalan mendekati Nero dan Miku. Ted langsung mengangkat Miku ala Bridal Style dan membawanya pergi.

Ted membawa Miku ke kamarnya dan membiarkannya duduk di sofa kesayangannya.

"Kau mau minum?" Tanya Ted. Miku menggelengkan kepalanya. "Lalu, kau mau memberiku minum?" Tanya Ted lagi. Miku terkejut. Ted berjalan dan mengambil pisau yang tergeletak di meja.

"A-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Miku yang ketakutan.

"Aku akan mengeluarkan Kristal itu dari jantungmu.." Jawab Ted yang tiba-tiba langsung ada di belakang Miku dan mengarahkan pisau itu pada jantungnya.

"Jangan…" Miku kembali mengeluarkan air mata ketakutannya.

"Sayonara, Maid-chan"

.

.

.

=TBC=


Hai! Makasih yang udah baca chapter 1, gimana menurut kalian? TvT btw chapter 2 nya masih dalam proses nih TvT huhu.. di usahain update kilat /jreng/

Yaudah, gitu aja XD ketemu lagi di chapter selanjutnya ya…