Ada euforia tersendiri yang ia rasakan saat tetes demi tetes air itu membasahinya.

Lantas ia tersenyum—tersenyum pada setiap tetes air yang jatuh dari langit, tersenyum pada seberkas cahaya yang ia lihat di langit ujung sana.

Pria itu menggenggam tangannya, menapaki rerumputan yang telah basah, membawanya ke suatu tempat yang telah luput dari ingatan—tempat yang tidak ia ingat sekeras apapun ia mencoba.

Lalu pria itu menghentikan langkahnya, pun dirinya—berhenti tepat di depan gundukan tanah yang tak tersentuh rerumputan liar, pertanda si pemilik tak pernah benar-benar diabaikan.

Ia terduduk, pilu. Menatap nanar ke arah itu, meraba nisan yang biru. Mengeja dengan susah nama yang terpatri jelas di sana—Akashi Seijuurou.

Lalu mengorek paksa ingatannya yang tak lagi setajam sembilu, nyaris selalu keliru. Apa nama itu pernah ada di kehidupannya dulu?

Pria itu menatapnya, lalu tersenyum agak terpaksa, "Dia ada di sini. Seseorang yang kau rindui, yang ingin kau temui."

"Hujan?" senyumnya perlahan memudar merasakan kejanggalan pada ucapan pria itu.

"Ya, hujan…"

.

.

.

"It's Raining"

by

Harada Kiyoshi

.

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

.

Cover Image © Eulalie Fujioka

.

Pairing: Akashi X fem!Kuroko

.

Warning: fem!Kuroko, AU, possibly OOC, typo(s), EYD berantakan, absurd, terlanjur nista dan ga jelas

.

Ga suka jangan baca, oke?

.

.

.

Ketika hujan turun…

Apa yang kau pikirkan tentang tetes-tetes air yang jatuh dari langit? Bukankah itu seperti permainan sulap? Tidakkah kau berpikir itu ajaib?

Seperti permainan sulap ataupun ajaib—itu bukan alasan bocah bersurai biru senada langit musim panas tanpa awan ini menyukai hujan.

Ia begitu menyukai bunyi-bunyi basah itu, saat ratusan juta partikel air menyentuh atap rumahnya dan menghasilkan pola gemericik yang khas.

Ia bahkan mempunyai filsafat sendiri tentang hujan, walaupun agak sulit diterima logika. Bidadari cantik sedang menangis karena kehilangan sayapnya.

Ah, ia masih terlalu kecil untuk mengerti bagaimana proses hujan yang sebenarnya, bukan?

Beberapa menit yang lalu ia masih berada di luar sana, di lapangan basket kecil yang bersebelahan dengan taman bunga di halaman depan, mendribble bola tanpa sempat melakukan shoot karena ibu sudah meneriakinya lebih dulu, menyuruhnya masuk. Sebentar lagi akan hujan, ibu bilang.

Ketika ia ingin melakukan penolakan, anak laki-laki dengan tinggi yang berbeda sekali dengannya dan mengaku sebagai kakak sepupunya beberapa waktu lalu langsung berlari ke arahnya, merebut paksa bola basket di tangannya, menariknya masuk ke dalam rumah disertai umpatan menyebalkan yang membuat si bocah bersurai biru muda lebih memilih bungkam. "Dengarkan perintah ibumu, bodoh!"

Tidak ada penolakan lagi.

Benar saja,sepuluh detik setelah bocah biru muda itu masuk, hujan mulai mengguyur seisi Tokyo. Bidadari cantik sedang menangis dan ia merasa senang. Uh, dasar, bocah nakal.

Ia yang tadinya kesal karena dikatai 'bodoh' oleh anak laki-laki yang mengklaim dirinya adalah kakak sepupu si surai baby blue, kini menikmati keajaiban yang alam berikan. Tontonan yang menakjubkan tanpa perlu mengantri membeli karcis terlebih dahulu. Ia berdecak kagum, juga kaget saat kilatan cahaya diiringi suara menggelegar terlihat di langit ujung sana. Mengerikan sekaligus menakjubkan. Kutuk sekaligus nikmat.

Ia tersenyum senang. Sekarang bidadari cantik sedang menangis dan juga marah, pikirnya.

Ia melirik kakak sepupunya yang sibuk menutupi telinga karena kaget dengan suara yang memekakkan barusan. "Kagami-kun—"

"Panggil aku onii-sama, dong. Sudah kubilang, kan, aku ini kakakmu, Kuroko," potongnya kesal.

"Tidak mau. Aku anak tunggal, tidak punya kakak, apalagi berisik seperti Kagami-kun," balas Kuroko tak kalah kesal.

Oh, hati Kagami nyeri, tersakiti oleh ucapan gadis kecil yang lebih muda 5 tahun darinya ini.

"Lagian, memangnya ada seorang kakak yang takut dengan suara petir sementara adiknya tidak?"

Skak mat. Kagami bungkam.

Saat Kagami sibuk mengobati hatinya yang nyeri dengan memotivasi diri sendiri, Kuroko kembali memusatkan atensi pada hujan yang turun menghantam bumi. Lalu tersenyum senang saat menemukan sesuatu yang tak kalah menarik dari hujan.

"Senpai?" gumamnya pelan saat mendapati anak laki-laki bersurai crimson melewati halaman depan rumahnya dengan bola basket di pelukannya.

Ia membersihkan uap di kaca jendela yang sedikit mengaburkan pandangannya untuk memastikan penglihatannya tidak keliru dan anak laki-laki itu benar Akashi Seijuurou yang terkenal jenius basket dan ia kagumi itu.

"Apa yang dia lakukan? Apa ibunya tidak memarahinya hujan-hujanan begitu?" gumamnya lagi dan kali ini berhasil menarik atensi Kagami.

Belum sempat Kagami buka mulut untuk bertanya siapa senpai yang Kuroko maksud, Kuroko sudah membuka jendela kamarnya, menaiki kursi lalu melompat ke luar jendela. Gerakannya terlalu cepat—mungkin karena terlalu antusias ingin berjumpa senpai-nya—sehingga Kagami tak sempat mencegah, malah sekarang mulutnya terbuka—antara kagum dan kaget—melihat aksi gadis kecil itu.

Kuroko berlari kecil ke arah anak laki-laki itu, tangan kanannya refleks menutupi kepalanya karena hujan walaupun itu tidak terlalu membantu. Ini hujan deras, bukan gerimis yang turun satu-satu.

Menyadari seseorang mendekatinya, Akashi menghentikan langkahnya. Dahinya berkerut ketika menyadari yang ia temui adalah anak perempuan bersurai baby blue yang sudah basah kuyup seperti dirinya.

"Senpai jangan hujan-hujanan, nanti ibu senpai marah seperti ibuku," ujar Kuroko bergetar karena kedinginan.

Dahi Akashi makin berkerut. Jadi ia hujan-hujanan hanya untuk mengatakan ini pada Akashi? Akashi harus kagum pada kebaikannya atau meneriakinya bodoh karena ia tidak sadar tengah melanggar aturan ibunya sekarang?

Akashi baru saja ingin menanggapi ucapan Kuroko tadi sebelum suara berisik dari Kagami yang sudah berhasil melompati jendela dan sekarang tengah berlari menuju Kuroko mengganggu indera rungunya. "Oi, Kuroko, Teme!" teriaknya agak murka, "jangan hujan-hujanan, bodoh! Nanti ibumu marah!" tambahnya diikuti satu pukulan yang mendarat di kepala biru muda Kuroko.

Ekspresi datar Kuroko berubah menjadi panik ketika ia menyadari dirinya dan Kagami sudah basah kuyup sekarang, ditambah teriakan Kagami barusan yang nyaring sekali. Pasti sebentar lagi ibu Kuroko akan muncul di jendela kamar Kuroko, meneriakinya lagi.

Benar saja, pada hitungan kelima Kuroko dan Kagami bisa melihat kepala biru muda menyembul ke luar jendela, wajah ekspresif yang bertolak belakang sekali dengan wajah datar Kuroko kini terlihat merah padam menahan amarah, lengkap dengan satu teriakan yang Kuroko tahu tidak akan menerima penolakan. "Tetsuya, Taiga, masuk!"

Oh, ingatkan Kuroko untuk mengatai Kagami 'bodoh' nanti, karena ibunya murka begini adalah kesalahan Kagami. Kalau Kagami tidak berteriak tadi, mungkin ibu Kuroko tidak akan tahu Kuroko hujan-hujanan dan Kuroko bisa diam-diam masuk dari jendela lalu mengeringkan badan.

Kagami panik, Kuroko makin panik, sedangkan Akashi sibuk mencari-cari nama 'Kuroko Tetsuya' dalam ingatannya. Apa mereka pernah berkenalan sebelumnya? Dan tadi Kuroko memanggilnya senpai? Adik kelasnya?

"Masuk sekarang juga!" satu teriakan lagi dan Kagami langsung berlari, sementara Kuroko masih sempat-sempatnya melirik Akashi.

"Ayo, masuk, senpai. Nanti ibumu marah seperti ibuku," ujarnya sembari menarik lengan Akashi, mengajaknya berlari. Akashi hanya mengikuti, ingin tahu seperti apa rasanya dimarahi seorang ibu.

Akashi tahu seberapa murka ibu Kuroko ketika ibu Kuroko melempar tiga handuk dengan kasar ke arah mereka diikuti ucapan-ucapan pedas yang membuat Kuroko dan Kagami menundukkan kepala ketakutan, sementara Akashi—entah kenapa—malah tersenyum padahal suasanya menegangkan.

Kuroko melirik Akashi sekali lagi ketika ibunya telah menghilang di balik pintu yang ditutup dengan kasar dan mendapati senpai-nya itu tengah tersenyum. Bukankah itu ajaib? Selama Kuroko mengagumi Akashi, baru kali ini ia melihat bibir itu terangkat ke atas dan menciptakan lengkungan senyuman. Tatapan mata yang biasanya dingin itu menjadi teduh dan menghangatkan.

Kuroko ikut tersenyum. Ada euforia yang mengaliri darahnya, membuat Kuroko tak henti-hentinya tersenyum—tersenyum pada hujan, tersenyum pada setiap tetesnya, tersenyum pada setiap partikel-partikel air yang dibawanya.

Ia mulai berpikir hujan memiliki makna disetiap tetesnya—

—dan ketika hujan turun, saat itu pula semua bermula.

.

.

.

Sebentar lagi akan turun hujan…

Hari itu guru matematika menghukum Kuroko karena ia tidak mengerjakan tugas yang guru itu berikan beberapa hari yang lalu. Ia tidak membenci matematika sejujurnya, hanya kurang menyukainya saja. Jadi, wajar, kan, kalau Kuroko tidak ingat untuk mengerjakannya?

"Sedang apa?"

Suara itu mengagetkannya dan nyaris membuat jantungnya berhenti berdetak. Refleks, ia mengalihkan pandangan ke arah suara itu.

Ah, hanya Akashi—laki-laki yang ia sukai.

Kuroko hanya tersenyum padanya—pada laki-laki yang ia sukai seperti ia menyukai hujan.

"Coba jelaskan apa maksud senyummu itu, Tetsuya? Dihukum lagi?" tanya Akashi agak sarkastik.

"Begitulah," jawabnya datar dan sukses membuat mulut si surai crimson gatal untuk berujar lebih sarkastik lagi.

"Lucu sekali. Kau pikir sudah berapa kali kau dihukum karena lupa mengerjakan tugas? Kau sengaja melakukannya supaya guru-guru membencimu?"

"Kau sendiri? Baru selesai menyiksa anggota klub basketmu? Kalau kau terus menyiksa mereka, mereka juga akan membencimu, tahu."

"Sopan sedikit, Tetsuya."

Oh, sejak kapan Kuroko Tetsuya jadi pandai memojokkan Akashi begini? Lihat, tatapan Akashi jadi semakin dingin. Siapapun akan takut melihatnya, kecuali Kuroko yang malah berjalan melewatinya sambil tersenyum senang karena tugasnya telah selesai, mengabaikan Akashi yang masih menatapnya—antara dingin dan khawatir. Bagaimanapun, membuat masalah dengan guru tidak ada sisi baiknya.

"Aku hanya lupa,senpai. Mungkin sekarang aku harus membeli buku catatan kecil," ujar Kuroko dengan penekanan pada kata 'senpai' karena Akashi menuntut agar Kuroko sopan tadi, menyunggingkan senyum yang hanya dibalas Akashi dengan tatapan tidak suka. Yah, Akashi pernah meminta Kuroko jangan memanggilnya senpai beberapa tahun lalu, dan sekarang Kuroko melakukannya karena ia tahu Akashi tidak suka. Berniat menggoda, sepertinya.

Kuroko mulai menyusuri koridor, lalu berhenti sebentar untuk melihat Akashi yang masih berdiri di depan pintu masuk kelasnya. "Tidak pulang, Akashi-kun? Masih punya jadwal menyiksa anggotamu?" sindir Kuroko yang hanya ditanggapi Akashi dengan decihan kesal. Beberapa detik setelah itu, mulai terdengar suara sepatu Akashi menghantam lantai koridor. Akashi berlari kecil mengejar Kuroko, lalu berjalan di belakangnya. Selanjutnya yang terdengar hanya suara langkah kaki Kuroko dan Akashi, tidak ada orang lain. Anggota klub basket selain Akashi mungkin masih terbaring nyaris tak bernyawa di lapangan basket indoor SMA Teikou.

"Sepertinya akan hujan," gumam Kuroko sembari menatap mendung yang menggelayuti langit Tokyo. Akashi tidak menanggapi, hanya ikut menatap langit dalam sunyi.

Kuroko kembali melanjutkan langkahnya, Akashi mengikuti di belakang. Diam-diam Kuroko berharap Akashi berjalan di sampingnya, lalu menceritakan beberapa cerita lucu yang akan membuat Kuroko tertawa atau sekedar percakapan basi yang membosankan. Walaupun itu bukan Akashi sekali, tapi tidak ada salahnya berharap, kan? Karena hal itu mungkin saja terjadi, entah kapan.

Buaian angin membelai surai biru muda sebahu milik Kuroko, pun surai crimson milik Akashi. Detik itu pula Kuroko berharap hujan segera turun membasahi. Ia hanya ingin bernostalgia dengan kenangan masa kecilnya—merasakan milyaran tetes air hujan yang menghantam bumi bersama laki-laki itu.

Ia telah sampai di rumahnya. Rumah sederhana yang kelihatan sedikit ramai dengan warna hitam yang mendominasi.

Ia berdiri terpaku beberapa menit di depan pagar rumahnya, sedikit bingung dengan apa yang ia lihat. Nyata atau ilusi, ia lebih memilih semoga ini hanya mimpi. Lalu seseorang berlari ke arahnya, memeluknya erat-erat.

"Kagami-kun? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara getir.

"Ibumu telah pergi."

"Menemui ayah?"

Hujan turun, seperti yang ia harapkan. Milyaran tetes air berjatuhan beriringan dengan tetes air matanya. Seperti adegan dalam film, dan sialnya ia adalah pemeran utamanya.

"Ibu… meninggal."

Air mata menggenangi pelupuk matanya, dan ia berharap menjadi tunarungu detik itu pula.

Laki-laki bersurai crimson itu berdiri di sana, menyaksikan hujan yang kau sukai sekaligus kematian yang menyayat nurani.

Seperti yang ia harapkan, hujan turun dan membasahi mereka berdua. Inikah makna yang ingin hujan sampaikan padanya kali ini?

.

.

.

Hujan turun lagi hari ini…

Siang yang mendung dan sepi, suasana yang dipuja gadis ini. Ia menyukainya dan masih betah berlama-lama di sana.

Ia memejamkan matanya, tersenyum merasakan angin yang membelainya, menikmati suasana kampus yang jarang sekali sepi seperti ini.

"Belum ingin pulang? Taiga barusan meneleponku, memintaku mengantarmu pulang," ujar laki-laki bersurai crimson yang baru saja menutup flip phone miliknya dengan penekanan pada kata 'meminta', tanda ia tak suka. Kuroko membuka matanya perlahan, lalu tersenyum geli menanggapi ucapan Akashi. Ia yakin Kagami hanya meminta tolong, tapi Akashi malah berpikir Kagami memerintahnya.

"Kenapa dia tidak meneleponku, ya?" tanya Kuroko lebih pada diri sendiri.

"Taiga bilang kau meninggalkan ponselmu di rumah," jawab Akashi menanggapi.

Kuroko bangkit dari duduknya, mungkin hanya lupa dan ia malas memusingkannya. "Kagami-kun memintaku pulang, artinya aku harus pulang. Aku tidak boleh membantahnya, kan? Lebih baik kita pulang, Akashi-kun," ujar Kuroko.

Ia merogoh saku celananya, lalu saku baju hangat, kemudian tasnya. Tetapi tidak juga ia temukan benda yang ia cari. Senyum tipis yang tadinya terpatri di sana perlahan memudar, berganti dengan raut bingung yang kentara.

"Mencari sesuatu?"

"Kunci mobil. Akashi-kun melihatnya?"

Dahi Akashi mengerut. "Kau tidak bawa mobil, Tetsuya. Pagi tadi aku menjemputmu, kau bilang ingin kutemani berjalan kaki ke kampus."

"Benarkah?" Ada nada tidak percaya di sana, dan Akashi tidak suka.

"Coba katakan, kapan aku pernah membohongimu, Tetsuya?"

"Tidak pernah, Akashi-kun," jawabnya pelan, nyaris tak terdengar.

Akashi bangkit dari duduknya, lalu berjalan di samping Kuroko, menuju rumah. Hari yang indah, bukan? Kuroko dan Akashi—laki-laki yang ia sukai, berjalan bersama.

Untuk kesekian kalinya , milyaran tetes air itu menghantam bumi saat Kuroko bersama Akashi. Memangnya ada takdir yang terlalu manis seperti ini? Atau hujan hanya ingin menjadi saksi bagaimana Kuroko dan Akashi menjadi semakin dekat seiring berjalannya waktu?

Kuroko merasakan euforia itu lagi—euforia yang berputar-putar menyenangkan di perutnya dan mengalir bersama darahnya saat menembus hujan bersama Akashi.

Akashi menggenggam tangan Kuroko, dan otomatis Kuroko menghentikan langkahnya, mengamati tangan yang selalu akrab dengan bola basket diakhir pekan itu menggenggam tangan miliknya. Lalu bergantian menatap wajah Akashi yang telah basah dalam waktu sepersekian detik.

"Tunggu apa lagi? Ayo, lari!"

Akashi tersenyum—senyum yang Kuroko pikir tidak akan pernah laki-laki itu tunjukkan lagi padanya, senyum yang membuatnya melayang ke masa kanak-kanaknya bertahun-tahun silam—

—dan itu memaksa Kuroko mengakui kebenaran teorinya.

Hujan benar-benar memiliki makna disetiap tetesnya.

.

.

.

November kelabu, ketika rintik itu bermultiplikasi menjadi seribu…

Hari itu adalah salah satu hari di bulan November yang tidak pernah benar-benar ada cahaya. Kuroko kembali mengaduk teh dengan ekstrak vanilla di depannya, tanpa berniat meminumnya. Lalu menengok ke luar café, berharap orang itu ada di sana, melambaikan tangan padanya dengan senyum yang selalu terlihat memesona. Tapi nihil, yang ia dapati hanya lalu lintas Tokyo yang tengah sibuk karena masing-masing orang terburu-buru untuk sampai ke rumah. Sebentar lagi hujan akan turun, dan rumah adalah tempat hangat penuh cinta yang akan melindungi mereka.

Mengembuskan napas berat, ia tahu rasa bosan sudah menjalari tulang-tulangnya. Tetapi karena tidak ingin mengecewakan orang itu, ia tetap memilih menunggu, meskipun ini sudah berjam-jam dan orang itu tak kunjung datang.

"Akashi-kun lama sekali, sih," gumamnya kesal sembari mengamati seisi café, sudah banyak yang pulang dan Akashi belum juga datang.

Lalu Kuroko kembali menengok ke luar, dan yang ia temukan berhasil membuat bibirnya terangkat ke atas. Akashi di sana, dengan baju hangat merah maroon dan ia kelihatan semakin memesona.

"Akashi-kun? Dengan siapa?" pertanyaan yang Kuroko tujukan pada diri sendiri ketika ia menyadari ada seseorang yang berjalan di samping Akashi. Seorang laki-laki? Siapa? Rekan kerja Akashi? Atau kekasihnya? Mengingat Akashi tidak hanya populer dikalangan wanita.

Kuroko melihatnya, seorang Akashi Seijuurou yang tengah tertawa—hal langka yang jarang ia temui meskipun telah banyak menghabiskan waktu bersama. Kuroko berpikir lebih cepat dibandingkan mesin uang ketika kembali melihat Akashi dan laki-laki itu dalam sekali pandang. Lalu, pelan-pelan ia menyadari sesuatu yang lebih penting dari rasa cemburu—

—bahwa dirinya bukanlah kekasih Akashi Seijuurou.

Kuroko mulai tertawa, menyadari betapa sempurnanya peristiwa yang dihadapinya. Wajar bagi Kuroko jika seseorang membatalkan janji dengan teman masa kecil demi janji dengan kekasih tercinta, tak terkecuali Akashi yang notabene selalu menepati janji.

Namun, seberapapun ia memahami situasi, nyeri itu tetap menusuk-nusuk nurani.

Daya tahannya kian rontok ketika sosok itu muncul di hadapannya dan menatapnya, heran. Detik itu pula jantungnya berdetak dalam ritme yang jauh berbeda dari biasanya, dan dingin pelan-pelan menyerbu dari segala penjuru.

"Tetsuya?" suara berat itu mengalun di telinganya, memaksa air mata yang mati-matian ia tahan mengalir di pipinya.

Lalu Kuroko memutar haluan, tidak berniat menyahuti panggilan bernada heran Akashi tadi, dan ia mulai berlari.

Begitu pula Akashi. Ia mengabaikan laki-laki yang memasuki café bersamanya tadi, dan mulai berlari mengejar Kuroko. Sebab ada yang jauh lebih besar dari sekedar rasa heran yang menari-nari di kepalanya—

—ketakutan yang menjalar.

Kuroko tahu, berlari sambil menangis itu terlalu menguras tenaga. Tetapi, meskipun ia tahu, ia tidak bisa melakukan apa-apa karena air mata itu mengalir deras dengan sendirinya. Kuroko berbelok ketika ekor matanya menemui gang sempit, lalu rubuh berlutut karena terlalu lelah berlari dan tak sanggup lagi menopang berat badannya. Bersandar pada tembok gang sempit itu, Kuroko mengatur napasnya yang memburu. Ia tahu Akashi akan segera menemukannya.

Denyut nadinya meningkat cepat ketika sosok itu telah hadir di sana, menatapnya penuh tanya. Surai crimson yang selalu kelihatan rapi itu menjadi agak acak-acakan karena kegiatan lari yang baru saja ia lakukan, meninggalkan kesan berantakan tapi keren.

"Coba jelaskan, Tetsuya, mengapa kau lari ketika melihatku?" tanya Akashi yang kini sudah berjongkok di hadapan Kuroko, menatap lekat-lekat manik biru muda senada langit musim panas itu.

Ada senjang senyap di sana sebelum Kuroko berujar sambil terisak mengenai janji yang dilupakan Akashi.

"Janji?" ujar Akashi heran. Akashi bukan seorang pelupa, tentu ia akan langsung ingat jika membuat janji dengan seseorang, terlebih Kuroko. Jika masalahnya bukan pada Akashi, berarti pada Kuroko.

"Begini, Tetsuya. Kau dan aku memang pernah makan malam di sana, tapi itu sudah seminggu yang lalu, saat kita terjebak hujan di perjalanan pulang. Kau bilang tidak ingin lagi pergi ke sana karena pelayan di sana tidak menyadari keberadaanmu. Dan hari ini, aku dan rekan bisnisku berencana membicarakan masalah pekerjaan di sana. Tidak ada janji yang kita buat hari ini, Tetsuya," jelas Akashi.

Rekan bisnis? Bukan kekasih?

Air mata Kuroko mengering, menyisakan sesenggukan kecil yang masih bisa ditangkap indera rungu Akashi. Kesedihan di wajah Kuroko telah memudar, berganti dengan bingung yang kentara. Jika bukan dengan Akashi, lalu dengan siapa?

Detik itu ponsel Akashi berdering, menampilkan nama 'Kagami Taiga' di sana. Dahi Akashi berkerut.

"Ya? Ada apa?"

"Tetsuya? Dia bersamaku."

"Aku bertemu dengannya di café sebelah utara Maji Burger."

"Ya, aku akan menyampaikannya pada Tetsuya."

"Ya."

Akashi menutup flip phone miliknya, lalu menatap wajah bingung Kuroko lekat-lekat. "Bukan denganku, Tetsuya, tetapi dengan Taiga, kakakmu."

"Kagami-kun…?"

Arus dingin mengaliri tulangnya. Bagaimana bisa ia lupa janji dengan Kagami, dan malah berpikir memiliki janji dengan Akashi? Hanya karena warna rambut mereka sama-sama merah? Tidak mungkin, kan?

Menyadari bibir Kuroko yang nyaris biru karena kedinginan, Akashi melepaskan baju hangat merah maroon miliknya, menyisakan kemeja cokelat gelap lengan panjang yang digulungnya sampai siku, lalu memasangkannya pada Kuroko. "Sebentar lagi musim dingin, Tetsuya. Jika ingin keluar rumah, setidaknya gunakan baju hangat. Kau akan sakit jika hanya menggunakan gaun tanpa lengan begini."

Akashi tidak pandai berujar dengan lembut, tapi kali ini ia mencobanya karena tidak ingin perasaan Kuroko tersakiti dan malah menyulut emosi Kuroko seperti beberapa waktu lalu, saat Akashi dipenatkan dengan masalah kantor dan ayahnya yang selalu menuntut kesempurnaan dan berakibat pada ucapannya yang melukai perasaan Kuroko. Ada hal yang harus Akashi pahami pelan-pelan, bahwa Kuroko yang jarang terpancing emosinya, sekarang jauh lebih labil dari dirinya yang itu—yang gampang sekali emosi.

"Musim… dingin?"

Akashi mengangguk pelan, lagi-lagi ia merasakan ketakutan yang menjalar ketika melihat ekspresi sedatar triplek Kuroko yang kelihatan semakin datar, tatapan matanya nyaris kosong.

"Tetsuya?" suara itu mengalun di telinga Kuroko, menarik atensinya. Manik matanya berpusat pada Akashi, tetapi tidak pikirannya.

Akashi bergerak tanpa suara, menenggelamkan gadis yang lebih pendek darinya itu dalam pelukannya. Mengusir dingin yang ada, memudarkan gelisah yang jelas tergambar di sana.

"Semua akan baik-baik saja, Tetsuya."

Lalu tubuh dalam pelukannya itu bergetar hebat, terisak lagi karena memikirkan kemungkinan terburuk yang ada—yang jauh dari kata 'baik-baik saja'.

"Akashi-kun," ujarnya dengan suara bergetar, "aku… mencintaimu."

"Harusnya aku yang mengatakan itu lebih dulu."

Merah darah bertemu biru muda. Kuroko mencari-cari kebohongan di mata Akashi, tapi nihil. Sorot mata yang selalu tajam itu tidak menunjukkan kebohongan sedikitpun.

Detik berikutnya, Kuroko merasakannya, bibir lembut Akashi menyentuh bibirnya yang nyaris beku karena kedinginan. Hanya beberapa detik, lalu membisikkan tiga kata yang berhasil membuat pipi putih pucat itu merona hebat.

"Aku mencintaimu, Tetsuya."

Lalu hujan rintik-rintik mulai turun, semakin lama semakin banyak dan terasa seperti jarum yang menyakitkan di kulit. Akashi menarik lengan Kuroko, membantunya berdiri.

"Kembali ke café, mengambil tas tanganmu lalu menyusul Taiga di Maji Burger. Dia sudah menunggumu berjam-jam," ujar Akashi.

Ah, Kuroko sadar ia melupakan hal lain lagi—tas tangannya, juga hujan yang mulai bermultiplikasi dan menjadi saksi tak ada lengkung senyum yang tercipta di sana ketika hujan menyentuhnya, tak ada senyum yang ia tujukan pada Akashi seperti hujan sebelumnya. Dan Akashi—entah kenapa—merasa nuraninya tersakiti mengetahui kenyataan bahwa ekspresi itu jauh lebih datar dari sebelumnya.

To be continue

.

.

.

A/N:

Ah, maafkan saya menistakan Kuroko lagi. Saya maksa pake Kuroko karena ekspresi sedatar triplek Kuroko mendukung sekali hahaha. Dan, yah, sebenarnya hanya gender Kuroko yang berubah, saya tidak berniat mengubah yang lainnya, apalagi mengubah rasa cintanya pada Akashi /abaikan ini/

Saya juga ga berniat menjadikan Akashi atau Kuroko atau Kagami OOC, tapi kalau mereka kelihatan OOC saya minta maaf, ya.

Kalau sebelumnya reader-sama pernah membaca fanfiction yang ceritanya mirip seperti ini dengan judul berbeda, itu fanfiction buatan saya dan ini mungkin remake-nya dengan perubahan tokoh dan beberapa bagian cerita, jadi ini bukan plagiat, ya. Dan ini akan tamat pada chapter ketiga, semoga hehe.

Last, reviewkudasai, reader-sama. Saya butuh masukan untuk fanfiction ini dilanjutkan atau tidak. Terimakasih