"Kazu-kun!"
"Takao!"
"Bangun, Kazu-kun! Ini bercanda kan?! Jangan tinggalkan Okaasan! Kazu-kun!"
"Yuzuki Oba-san.."
"Kazu-kun! Hanya kau yang Okaa-san punya! Kazu-kun! Buka matamu! Kazu-kun!"
"Maaf, Takao-san.. Tetapi anak anda.. Sudah meninggal."
"Tidak.. Tidak mungkin.. Tidak mungkin.."
Suasana duka sedang menyelimuti ruangan di sebuah rumah sakit itu. Sang ibu terus menangisi kepergian anak-anaknya, sedangkan beberapa orang di belakangnya hanya bisa bersedih sambil menahan tangis mereka.
.
.
.
.
The Pain of Unforgettable.
Pair : Midorima Shintarou x Takao Yuzuki/Takao Kazunari's Mom/OC
Real Genre : Romance, Drama, Angst, Hurt/comfort
Warning : maybe PEDO cause its love beetween 2 person with 15 ages gap
Kuroko no Basuke owned by Fujimaki Tadatoshi, but this story is mine
Enjoy Reading!
.
.
.
.
Tiga bulan setelah winter cup, tidak ada yang berubah. Klub basket masih berlatih seperti biasanya, kecuali para anak kelas tiga yang sudah pensiun.
Semuanya berlatih. Terutama Midorima Shintarou yang merupakan shooter terhebat sekaligus ace shuutoku itu. Walaupun dia sudah mendapat predikat jenius, tetap saja dia tidak berhenti latihan. Yang ada setiap harinya dia menambah jarak semakin jauh untuk menembak bola.
"Otsukare, semuanya!"
"Otsukare!"
Setelah melihat semua anggota klub basket Shuutoku berhamburan keluar, pemuda berambut hijau itu juga ikut keluar. Tidak biasanya memang, karena setiap harinya dia akan tetap berlatih ketika yang lain pulang. Terus berlatih walaupun tembakannya tidak pernah meleset sejauh apapun jarak yang digunakannya.
Shintarou langsung mencuci muka dan mengganti baju kembali dengan seragamnya. Mentaping jari-jarinya setelah itu mengambil tas nya dan berjalan keluar dari ruangan loker.
"Otsukare-sama.."
"Otsukare, Midorima.."
Semua yang berada disana memandang Shintarou yang mulai menjauh dengan sedikit sendu. Bukan mencemaskan pemuda itu, namun hal lain yang membuat mereka kembali sedih.
"Biasanya Takao akan pulang bersamanya bukan?"
"Begitulah.. Jalan rumah mereka sama."
"Tapi sekarang.."
Mereka hanya bisa kembali mengingat momen-momen mereka bersama seorang Takao Kazunari. Anak laki-laki yang bodoh, namun sangat ceria. Membuat mereka terhibur dengan kebodohannya yang mau menjadi supir gerobak milik Shintarou, dan juga satu-satunya orang yang dengan santainya selalu menggoda Shintarou.
Shuutoku benar-benar kehilangan..
.
Sekali lagi Shintarou berhenti dihadapan sebuah rumah kecil. Mungkin ukurannya hanya seperlima dari rumahnya, dan juga bergaya kuno. Menggunakan pintu geser, serta dinding yang mudah robek. Bahkan kalau tidak berjalan hati-hati, bisa terjatuh dan membuat lantai kayu tersebut menjadi rusak.
Rumah itu memang sudah kuno. Namun ibu dan anak yang tinggal disana, terus merawatnya dengan rajin.
Ya.. Shintarou sempat beberapa kali masuk kedalam sana dan merasakan betapa hangatnya keluarga mereka walaupun hanya terdiri dari ibu dan anak saja.
"Shin-chan?"
Shintarou mengenali panggilan itu. Ada satu orang lagi selain Kazunari yang memanggilnya seperti itu. Seorang wanita dewasa berjalan menghampirinya. Wanita tersebut berambut hitam dan mempunyai wajah yang awet muda serta cantik. Membuat siapapun tidak mungkin percaya jika perempuan ini adalah wanita dewasa, bukan seorang anak SMA.
"Konbanwa, Takao-san.."
"Maa.. Sudah kubilang bukan jangan memanggilku seperti itu? Kau bisa memanggilku oba-san atau Yuzuki-san.."
Lagi-lagi tersenyum. Senyuman yang sudah sangat sering Shintarou lihat. Namun ada perbedaan dengan senyum orang lain pada umumnya. Ada kesedihan dibalik senyum itu.
Shintarou tahu hal itu..
"Apa yang kau lakukan disini? Kau bukan mencari Kazu-kun bukan?"
Hal yang sangat konyol. Bagaimana bisa dia menanyakan hal itu saat orang yang disebut saja sudah tidak ada?
"Tidak. Aku hanya kebetulan lewat sini nanodayo. Selamat malam, Takao-san.."
"Eh Shin-chan.. Tunggu dulu.."
"Ada apa?"
"Apa kau mau singgah untuk makan malam sebentar? Tanpa sadar aku membeli Kimchi untuk dua orang.."
Senyuman miris kembali terlukis di wajah cantiknya. Dan Shintarou juga mengerti hal ini. Wanita didepannya masih sangat terpukul atas kematian anaknya. Masih belum bisa melupakan kenyataan bahwa anaknya sudah tidak ada di dunia ini.
"Aku tidak bisa menghabiskannya sendiri, Shin-chan.. Jadi, onegai.."
"Baiklah.."
"Terima kasih. Ayo masuk, Shin-chan.."
"Ojamashimasu.."
Shintarou kembali memasuki rumah kecil itu lagi. Tetapi kini cukup berbeda. Tidak ada sahabatnya yang menemaninya. Hanya mereka berdua. Dirinya dan ibu dari sahabatnya yang telah tiada.
"Aku akan menyiapkannya dulu. Kau mau minum apa, Shin-chan?"
"Apapun tidak masalah nanodayo."
"Kalau begitu tunggu sebentar ya.."
Sesuai dengan kata-kata tuan rumah, Shintarou hanya duduk di lantai beralaskan sebuah bantal. Diam sejenak tanpa melakukan apapun sambil meletakkan tangannya diatas meja yang pendek itu.
Shintarou mengamati sekeliling. Rumah ini masih sama persis seperti sebelumnya. Namun terlihat lebih sedikit berantakan. Sepertinya si empunya rumah menjadi jarang membersihkannya. Padahal kini rumah itu telah bertambah satu barang yang cukup memakan tempat.
Altar untuk mendoakan Takao Kazunari yang telah tiada.
Melihat itu, Shintarou pun beranjak berdiri lalu berjalan kearah altar itu. Duduk berlutut kemudian menyatukan kedua tangannya didepan altar yang juga terdapat foto Kazunari yang tersenyum lebar. Memejamkan mata sambil berdoa dalam hati.
"Ara.. Kau sedang berdoa untuk Kazu-kun?"
Yuzuki kembali dengan nampan berisi dua gelas teh dan juga tiga mangkuk berisi Kimchi, yang salah satunya berisi mangkuk kecil.
"Yang ini untuk Kazu-kun.."
Dia meletakkan salah satu dari mangkuk yang besar didepan altar itu. Setelah itu kembali berjalan kearah meja kecilnya.
"Ayo makan, Shin-chan.. Itadakimasu!"
Shintarou masih terdiam. Dia melihat mangkuk kecil yang digunakan wanita didepannya. Mungkin hanya berisi sepertiga dari satu porsi normal Kimchi.
"Kenapa tidak dimakan, Shin-chan?"
"Takao-san... Itu.."
"Ah, sebenarnya aku tidak lapar. Tadi aku sudah makan di kantor. Hanya saja saat melewati toko Kimchi dan mencium baunya.. Aku teringat akan Kazu-kun yang sangat menyukai ini.. Tanpa sadar membeli Kimchi ini.."
Kini Shintarou merasa bodoh. Bodoh bodoh dan sangat bodoh. Mungkin lebih bodoh dibandingkan dengan dua mantan rekan timnya di Teikou dulu. Karena berkat perkataannya itu, wajah Yuzuki kembali murung.
"Tidak boleh begitu nanodayo.."
Shintarou mendekatkan mangkuknya. Mengambil beberapa Kimchi miliknya dan meletakannya pada mangkuk kecil milik Yuzuki. Membuat mangkuk tersebut kini terlihat sangat penuh.
"Eh? Tetapi tadi aku sudah makan, Shin-chan.."
"Aku tahu itu tidak benar, nanodayo."
Bukan karena sekarang Shintarou menjadi seperti Seijuurou yang mengetahui segalanya. Hanya saja Shintarou sudah sangat mengerti bagaimana perilaku sehari-hari wanita didepannya setelah ditinggal anak satu-satunya.
Mulai dari jarang mengurus rumahnya, dirinya, hingga kesehatannya. Beberapa tanaman di halaman kecilnya juga banyak sekali yang mati. Pernah sekali Shintarou menemukannya hampir pingsan karena dia belum makan sejak pagi.
"Kau mengajakku makan malam bukan? Sangat tidak sopan jika tamu makan lebih banyak dari tuan rumah. Lagipula kau tidak terlihat sudah makan malam, Takao-san.."
Barulah Shintarou puas setelah memberikan Kimchi miliknya hingga porsi mereka sama.
"Shin-chan.. Ini.."
"Itadakimasu."
Shintarou mulai makan Kimchi itu. Matanya tidak berhenti memperhatikan Yuzuki yang tetap diam sambil terus menatap Kimchi didalam mangkuk kecilnya yang penuh.
"Kalau tidak dimakan akan segera dingin nanodayo."
Akhirnya wanita itu luluh. Dia mengambil kembali sumpitnya dan memakan Kimchi miliknya yang baru saja mendapat tambahan dari Shintarou.
"Arigatou, Shin-chan.."
Yuzuki tersenyum. Meski belum sepenuhnya senyuman tulus, namun membuat Shintarou sedikit lega. Bukannya wanita itu dingin atau sebagainya hingga tidak bisa tersenyum tulus. Malahan dia sangat ramah, memberikan senyumannya pada siapapun. Hanya saja senyumannya sekarang, adalah senyuman yang sangat dipaksakan. Bukan senyuman yang murni dari dalam hatinya.
"Sebentar lagi Shin-chan akan naik ke kelas dua bukan?"
"Begitulah.."
"Waktu berjalan cukup cepat ya.."
"Sebenarnya waktu berjalan seperti biasa nanodayo.."
"Kau benar.."
Shintarou mengerti maksud dari perkataannya. Sangat mengerti jika wanita didepannya lelah menanti. Dia berkata jika waktu berjalan cepat, namun dirinya tidak kunjung menyusul dimana Kazunari berada. Ingin segera meninggalkan dunia ini dan menyusul anak satu-satunya. Buah hati yang dimilikinya.
Karena Yuzuki, tidak memiliki siapapun lagi..
.
.
Flashback..
.
.
"Kau tau? Sebenarnya aku ini anak haram.."
Kalimat itu sukses membuat Shintarou yang sedang minum menjadi tersedak. Memandang Kazunari dengan tatapan horror dan heran. Tidak biasanya Kazunari yang selalu terlihat bercanda dan mengganggu itu, kali ini terlihat serius.
"Jangan berbicara sembarangan nanodayo!"
"Aku tidak sembarangan. Itu benar~. Aku juga baru mengetahuinya tidak lama ini.."
Kazunari memandang ke langit biru yang indah itu. Tersenyum melihat awan-awan putih yang ikut menghiasi birunya langit.
"Okaa-san pernah sangat mencintai seorang pria. Seorang pria yang sangat brengsek. Meninggalkannya begitu saja setelah menghamilinya."
Wajah Kazunari yang biasanya selalu tersenyum jenaka berubah. Menunjukkan emosi yang campur aduk antara marah, kecewa, dan juga sedih.
"Meskipun berkat pria itu aku bisa terlahir di dunia ini, sangat susah bagiku untuk memaafkannya begitu saja. Membuat Okaa-san putus sekolah, dan harus bekerja keras. Keluarga Okaa-san menyuruhnya untuk menggugurkanku, tetapi Okaa-san bersih keras untuk tidak melakukannya. Karena itu, akhirnya dia pun harus angkat kaki dari keluarga Takao.."
Kedua iris hijau Shintarou berubah sejenak. Kini Shintarou mengerti alasan mengapa hanya ada Kazunari dan ibunya saja di rumah. Sangat mengerti mengapa selama ini mereka berdua tidak pernah membahas anggota keluarga besarnya ataupun ayahnya. Mengerti mengapa selama ini Kazunari serta ibunya tidak pernah terlihat untuk berkumpul kembali dengan anggota besarnya, ataupun mendapat uang tahun baru. Dan juga mengerti kenapa ibu Kazunari sangat muda. Hanya berselisih lima belas tahun dengannya serta Kazunari.
"Yaah.. Tapi sudahlah! Okaa-san berkata padaku untuk tidak membencinya dan mensyukuri saja semuanya. Berkat dia, aku dapat lahir. Walaupun Okaa-san harus diusir dari keluarganya dan berjuang keras, Okaa-san tetap saja tersenyum. Terus membuat hari-hariku menyenangkan dan juga berarti. Terus menyayangiku meskipun aku bukanlah anak yang diinginkan.."
"Baka!"
"Eh? Shin-chan?"
"Apa kau bilang ibumu tidak menginginkanmu nanodayo?! Kau sungguh bodoh! Kalau dia tidak menginginkanmu, maka dia sudah menggugurkanmu! Tetapi dia lebih memilih untuk tetap melahirkanmu dan berjuang seorang diri! Apa kau masih berkata jika kau bukan anak yang diinginkan?"
"Shi.. Shin-chan.."
"Takao.. Maksudku, Yuzuki-san benar-benar menyayangimu. Kau sangat keterlaluan jika menyebut dirimu anak yang tidak diinginkan nanodayo! Apa kau lupa dengan album foto yang Yuzuki-san ambil saat kau masih bayi? Itu adalah bukti jika dia sangat menanti kehadiranmu sebelum kau lahir nanodayo!"
Kazunari tertegun. Kaget. Kaget dengan sahabatnya yang tiba-tiba marah dan menasehatinya seperti ini. Memang dia sendiri sudah mendengar beberapa kali si hijau marah. Tetapi inilah yang pertama kalinya sahabatnya marah karena alasan lain.
Kazunari menyungginkan senyum tulus di bibirnya.
"Arigatou, Shin-chan! Meski kau tsundere, ternyata kau baik hati ya~"
"Di-diam nanodayo!"
"Okaa-san sangat bersyukur aku bisa memiliki teman sepertimu! Walaupun dia tidak kasihan padaku karena kau memperbudakku. Malah hanya tersenyum melihat anaknya diperbudak begitu.. Cih.. Aku menjadi sedikit kesal.."
Keterkejutan kembali tertampang di wajah Shintarou setelah mendengarnya. "Kau kesal pada ibu yang telah melahirkanmu dan membesarkanmu nanodayo?"
"Benar! Dan mungkin aku akan membalasnya dengan mengerjai Okaa-san nanti! Etto.. Apa aku harus membeli alat-alat yang digunakan untuk memberi kejutan pesta saja ya? Agar membuat Okaa-san kaget! Atau meletakkan kecoak di sepatunya? Ekspresi Okaa-san saat kaget sangat lucu! Hahahahahaha!"
Shintarou menghela nafas. Bodoh sekali dia sempat berpikiran jika Kazunari ingin balas dendam dalam arti lain. Ternyata yang dilakukannya malah hal konyol yang mungkin akan membuat ibunya marah sekaligus senang.
"Kau benar-benar bodoh nanodayo.."
"Hehehe memang begitulah~ tetapi terima kasih Shin-chan! Walau kau tsundere, ternyata kau orang yang sangat baik! Kalau Okaa-san mendengar kata-katamu barusan, mungkin dia akan jatuh cinta padamu!"
Untuk yang kedua kalinya Shintarou tersedak akibat perkataan temannya itu. "Ta-Takao!"
"Hee? Shin-chan! Mukamu memerah! Apa jangan-jangan.. KAU SUKA PADA OKAA-SAN?!"
"Jangan berpikir aneh-aneh nanodayo!"
"Tapi wajahmu memerah, Shin-chan! Dan juga bukankan wanita seleramu adalah wanita yang lebih tua? Hmm... Aku harus memperingatkan Okaa-san agar berhati-hati.. Atau membiarkanmu saja ya? Mungkin kau akan menjadi ayah angkatku nanti?"
"TAKAAOO!"
.
Flashback End.
.
"Shin-chan? Kenapa kau melamum terus?"
"Tidak. Jangan terlalu dipikirkan, nanodayo.."
Yuzuki tertawa pelan mendengar jawaban pria muda didepannya ini. "Sampai kapanpun, Shin-chan akan tetap tsundere ya?"
"Ta-Takao-san!"
"Tetapi tidak apa-apa.. Itu sisi manis Shin-chan!"
Shintarou tidak menanggapinya lagi. Dia mempercepat makanannya sebagai pengalih perhatian dari wanita didepannya ini.
"Eh?"
Yuzuki menoleh kearah jendela saat mendengar suara hujan. Dan benar, kini air telah turun dengan derasnya membasahi Tokyo. Cuaca yang sedikit membuat warga Tokyo heran karena saat itu musim semi baru saja berlangsung.
"Tiba-tiba hujan deras begini.. Sebaiknya kau menunggu disini sebentar, Shin-chan.. Apa aku perlu memberitahu orang tuamu?"
"Tidak usah. Dan maaf karena merepotkan anda nanodayo.."
"Sama sekali tidak merepotkan, Shin-chan!"
Mereka berdua kembali melanjutkan makan malamnya. Terdapat kehangatan diantara mereka meskipun mereka bukanlah ibu dan anak. Sesekali Yuzuki tertawa pelan dan ringan sedangkan Shintarou hanya diam. Walau sedikit senyum juga sempat tersungging di bibirnya.
Shintarou sadar, dia bukanlah Kazunari. Bukan orang yang sebenarnya diinginkan Yuzuki untuk makan malam bersamanya.
Dia hanya pengganti keberadaan Kazunari. Yuzuki menganggapnya sebagai pengganti Kazunari. Meskipun tidak sepenuhnya Yuzuki menganggapnya sebagai Kazunari, hanya sebagai pengganti anaknya. Anak yang selalu menemani hari-harinya.
"Bagaimana ya.. Hujan tidak kunjung reda.."
"Boleh aku meminjam payung saja? Ini sudah terlalu malam, Takao-san.."
"Eh? Tetapi hujan tetap deras loh.."
"Tidak masalah nanodayo."
"Baiklah kalau begitu.. Tetapi berhati-hatilah, Shin-chan.."
Yuzuki mengantar Shintarou hingga kedepan pintu rumahnya. Sambil menyerahkan sebuah payung plastik yang akan dipinjamkannya pada Shintarou.
"Terima kasih atas makan malamnya, Takao-san. Aku mengembalikan payung ini besok. Maaf telah merepotkan nanodayo."
"Tidak sama sekali, Shin-chan! Hati-hati di jalan.."
"Kalau begitu aku permisi dulu."
Shintarou mulai berjalan beberapa langkah keluar dari rumah itu. Sesekali dia menoleh ke belakang, dan mendapati Yuzuki yang melambaikan tangannya sambil tersenyum. Dia berjalan lagi, dan juga menoleh ke belakang lagi.
Ada sesuatu yang membuat perasaannya tidak enak. Entah apa itu.
Tiga menit berjalan, Shintarou tidak bisa menahannya lagi. Dia berbalik menuju rumah Takao. Bagaimanapun juga, hati kecilnya terus berteriak untuk kembali ke sana. Shintarou selalu percaya dengan takdir, karena itu dia tidak akan ragu mendengar suara hatinya.
Baru saja dia kembali mendekati gerbang kecil milik rumah keluarga Takao, dia dikejutkan oleh suatu hal. Matanya membesar, dan tanpa memperdulikan sekelilingnya dia membuka gerbang itu dan berlari.
"Takao-san!"
Saat itu Shintarou melihat hal yang menyedihkan. Yuzuki tengah basah kuyup karena hujan. Kepalanya mendongak ke langit, dan membiarkan air hujan membasahi tubuhnya. Tidak hanya itu sebenarnya, Yuzuki juga membiarkan air hujan menyamarkan air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
"Takao-san! Apa yang kau lakukan disini?!"
"Shin...chan?"
Dengan segera Shintarou ikut memayungi wanita dewasa didepannya ini. Sebenarnya pertanyaannya barusan tidak perlu ditanyakan lagi. Dia sangat mengerti apa yang dilakukan oleh Yuzuki.
Menangis. Menangisi kepergian Kazunari. Menangisi kepergian anaknya yang masih belum dia relakan sepenuhnya.
"Kau bisa masuk angin nanodayo!"
Tidak memperdulikan sifat tsundere atau apapun lagi, Shintarou membawa Yuzuki kembali masuk kedalam rumah. Menarik tangannya dan tanpa aba-aba mengambil handuk dari sebuah lemari yang berada di dekat kamar mandi. Memang cukup aneh jika dia bertingkah tidak sopan mengambil barang tanpa ijin seperti itu, bahkan mengetahui dimana handuk diletakkan. Tetapi Shintarou tidak memperdulikannya. Dia harus mengeringkan Yuzuki sekarang juga sebelum wanita itu akan masuk angin dan jatuh sakit.
"Kau seperti pencuri saja, Shin-chan!"
Tertawa ringan terdengar dari mulut Yuzuki. Disaat seperti ini wanita itu masih sempat bercanda dengan senyum palsu. Pandangan matanya tetap kosong dan sendu. Tidak memperdulikan celoteh wanita didepannya, Shintarou terus mengeringkan rambutnya hingga tidak terlalu basah.
"Sebaiknya kau mandi sekarang, Takao-san. Sebelum tubuhmu masuk angin nanodayo."
"Baiklah.. Apa Shin-chan tidak pulang?"
"Aku akan menunggu hingga kau selesai mandi, Takao-san.."
"Eh? Ada apa, Shin-chan? Kau ingin mengintipku mandi?"
Kalau wanita didepannya ini adalah Kazunari, mungkin Shintarou sudah melemparinya dengan suatu barang. Tetapi ini berbeda. Wanita itu tidak bermaksud menggodanya. Dia hanya berpura-pura ceria untuk menutupi kesedihannya. Menutupi segala perasaannya dari pemuda didepannya ini.
"Cepatlah mandi nanodayo.."
"Baik.. Baik.."
Dengan santai Yuzuki langsung menuju kamar mandi. Shintarou kembali duduk di ruang tamu yang kecil itu dan diam tanpa melakukan apapun. Hanya bisa memikirkan ibu dari sahabatnya yang telah meninggal ini.
Shintarou mengerti, Yuzuki sangat terluka. Bahkan dia tidak pernah melihat orang sedepresi ini selain Yuzuki. Tetapi kenapa sampai harus seperti ini? Harus sampai Yuzuki kehilangan harapan hidupnya? Shintarou tahu jika Kazunari adalah satu-satunya yang dimiliki oleh Yuzuki. Keluarga satu-satunya, putra kesayangannya, dan buah hatinya. Namun apa tidak bisa Yuzuki juga memikirkan dirinya sendiri walaupun sedikit? Bukan hanya sekali dua kali pula Shintarou menemukan wanita itu tengah mencoba untuk mengakhiri hidupnya, terdapat banyak sayatan silet dibalik tangannya yang selalu ditutupi dengan baju lengan panjang. Racun juga pernah hampir diminum oleh Yuzuki jika Shintarou tidak segera datang dan mencegahnya saat itu.
'Shin-chan... Tolong... Jaga Okaa-san...'
Kalimat itu kembali terputar di otaknya. Saat dia menemukan Kazunari sedang dalam keadaan berlumuran darah. Saat terakhir kalinya dia bertemu dengan sahabatnya itu sehabis winter cup selesai.
"Kau bodoh, Takao. Tidak perlu mengatakannya pun aku akan menjaganya nanodayo.."
.
.
.
.
.
.
.
To Be continued.
NB : Saya tau kalo crita ini NGAYAL banget, jadi mohon dimaafkan ;;_;;. Kalo di aslinya Midorima memang suka sama yang lebih tua, tapi ngga sampe segini :'D sama Takao itu bukan anak satu-satunya, dia punya adik o_o.
Saya ucapkan terima kasih kalau ada yang mau baca ;;;_;;; maafkan atas ide absurd saya jadi bkin crita PEDO gini.
And Last, mind to gimme anything about what you're thinking?
Arigatou~
