PROLOG

Hujan deras mengguyur sedari sore tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Taeyong memutuskan meringkuk di kasur kamarnya dengan selimut menutup seluruh badannya. Penghangat ruangan yang telah dinyalakannya dirasa masih belum mampu menghangatkan badannya. Ia mencoba memejamkan matanya untuk tertidur dan melupakan hawa dingin disekitarnya namun tak berhasil. Akhirnya dia terbangun dari tempat tidurnya dan melangkah ke dapur mencoba untuk membuat coklat panas yang siapa tau akan membuat badannya lebih baik.

Taeyong memasukkan air ke dalam kettle secukupnya dan menaruhnya di atas kompor. Tiba-tiba pintu rumah sewaannya digedor-gedor oleh seseorang. Dengan perasaan setengah takut ia melangkah menuju pintu. Jam menunjuk pukul 23.51 malam. Siapa yang datang kerumahnya pada tengah malam seperti ini batinnya.

Sebelum membuka pintunya, ia berusaha melihat lewat kaca pengintip pintu. Dilihatnya seorang pria dengan badan agak besar menggunakan jas hujan dengan tudung yang menutupi mukanya dan juga masker membawa dua koper besar di belakangnya. Terlihat mencurigakan dimatanya namun ia masih memberanikan diri berteriak.

"Siapa disana?" teriak Taeyong karena hujan yang mengguyur deras ia khawatir orang dibalik pintunya tidak mendengarnya.

Pria itu tidak menjawab malah menunjukkan selebaran kertas yang basah yang tidak jelas gambarnya. Taeyong menyipitkan matanya mencoba mengerti apa yang ditunjukkan oleh pria di balik pintu itu. Setelah berpikir sesaat akhirnya Taeyong tahu maksud pria itu. Selebaran tersebut adalah iklan sewa rumah yang dibuatnya.

Ceklek...

Pintu terbuka membuat pria dibalik pintu tersebut langsung menerobos masuk ke dalam membawa koper-kopernya. Pria itu lalu membersihkan tetes-tetes air yang ada di jas hujannya dan lalu membuka kancing jas hujannya. Taeyong mundur beberapa langkah agar tak terkena siratan air dari jas hujan pria tersebut.

Masker yang menutupi wajah pria tersebut akhirnya dibuka. Nampaklah seorang pria putih tampan dan ditambah senyum sangat manis dengan dimple di pipinya.

"Aku mendapat iklan ini dari salah satu temanku, aku membutuhkan tempat tinggal." Pria itu tersenyum dan menunjukkan kertas yang sudah tidak jelas bentuknya pada Taeyong.

Taeyong mengerutkan keningnya bingung. "Iya itu memang iklanku, tapi apa harus kau kesini tengah malam seperti ini? Untung saja aku belum tidur." ujarnya.

Pria itu hanya terkekeh ditanyai seperti itu. "Maafkan aku, tapi memang aku membutuhkannya sekarang."

"Baiklah, siapa namamu?" tanya Taeyong kemudian.

"Namaku Jaehyun," jawab pria itu menjabat tangan Taeyong.