Exceptional
Desclaimer Rosalina Lintang
:
Langkah demi langkah pemuda itu mencoba berjalan. Melewati gerbang sekolah yang masih terasa familiar walau sudah berganti warna dan model. Melihat bangunan di sekeliling sekolah yang sudah banyak berubah. Sedikit tertawa melihat pagar samping yang menjadi saksi bisu nya ketika dulu terlambat. Juga, bangku di pinggir lapangan yang menjadi spot favoritnya.
Ya, kesukaannya. Menjadi objek tatapannya setiap hari. Karena di sana, dia bisa melihat bidadari secerah mentari yang tertawa. Tidak bisa mendekat. Kau tahu kan? Mentari, saat kau mendekat maka kau akan terbakar. Maka, dia lebih memilih menikmati hangat sinarnya saja.
Hari ini hari Sabtu. Tidak ada kegiatan belajar mengajar, tapi para siswa masih semangat mengikuti ekstra kulikuler. Dia bisa melihat puluhan anak yang berlari keliling lapangan dengan seragam bela diri kebanggaan mereka. Juga anak-anak basket yang sibuk menyapu peluh di lapangan belakang. Serta beberapa ekskul lain yang mengisi ruang kelas.
Ketika dia SMA, hari Sabtu adalah hari kesukaannya. Dia bisa bertemu dan bercengkrama dengan semua orang tanpa ada tugas atau apapun itu. Dan pada hari Sabtu juga dia bisa menikmati mentarinya bersinar lebih cerah.
Drrt drrrt
"Halo?"
"Katanya di Jakarta ya? Kok nggak bilang? Aku mau jemput padahal. Kangen," Pemuda itu terkekeh pelan mendengar nada manja sepupunya. Dia harus mengucap syukur ribuan kali ke Tuhan karena memiliki sepupu seperti wanita ini.
"Sorry, ini mendadak kok. Aku mau ke rumah kamu nanti, mau lihat baby kesayangan om Filan ganteng."
"Hush, narsis terus. Bener ya ke sini? Oke, kita tunggu ya om Filan. Jangan lupa bawa makanan enak yaaa."
Filan menaruh smartphone nya kembali ke saku. Nostalgia sudah selesai. Ternyata benar, datang ke sini hanya mengorek luka lama. Salahnya dia juga sih! Ya salahnya, salahnya yang tidak bisa menghilangkan mentarinya itu dari pikirannya. Sudah delapan tahun dan Filan masih tenggelam dalam masa lalu nya.
Filan memutar tubuhnya kembali kea rah luar. Dia harus segera pergi dari sini, tidak enak juga mengganggu waktu anak sekolah. Dia sudah jelas terlalu tua untuk berada di sini.
"Pak awas pak permisi! Kita bawa barang banyak pak! Permisi!" Filan hampir saja terjatuh karena sekitar lima orang anak yang berlari sambil membawa beberapa tas besar yang sepertinya berisi alat musik. Gila, mereka sudah tahu bawa barang besar bukannya jalan pelan-pelan malah berlari.
"Bapak maaf ya.." anak terakhir membungkuk singkat ke Filan dan berusaha mengejar anak yang lain.
"Duh, Bu Carmell pasti bete nih kita telat."
Filan tidak tahu, dia sedang berdelusi atau tidak. Tapi rasanya, masih tidak berbeda dari delapan tahun lalu. Walau itu hanya sekedar nama, bahkan belum tentu orang yang sama.
Tapi efeknya? Mata Filan bahkan tidak bisa berhenti mengikuti kelima anak yang berlari-lari tadi, bahkan ketika mereka berhenti di depan kelas dan seorang wanita keluar dari kelas itu. Rambut merah yang diikat satu, dengan kaca mata yang ditaruh di atas kepala. Wajah yang pura-pura kesal lalu tertawa di beberapa detik kemudian.
Filan sadar, dia kalah. Dia kalah telak.
