a/n : disarankan baca Misunderstanding sebelum baca ini, karena ini sequelnya;D dan soal judul, mungkin nggak nyambung, hehe maaf. Ini FF nggak di cek ulang, jadi kalau ada typo, maklumin yaa..


Disclaimer : J.K. Rowling

Be Alright's by : noninonayy

Sequel's of : Misunderstanding

Pairing : Draco Malfoy and Harry Potter [Drarry]

.

.

Don't read if you don't like the pair! Just click back button at the top left.


Happy reading!

.

Sudah sebulan sejak Draco dan Harry berstatus sebagai sepasang kekasih. Status mereka yang sebulan lalu hanya teman –atau mungkin bisa kita sebut sebagai musuh– kini sudah menjadi sepasang kekasih, hal itu sempat membuat murid-murid Hogwarts gempar.

Tapi hal itu hanya dianggap sebagai bisikan indah bagi Draco, karena bagaimana pun Ia merasa senang jika semua orang mengetahui hubungan mereka, bahkan Ia sangat senang karena orang lain mengetahui dengan jelas bahwa Harry hanya miliknya, seutuhnya, bukan orang lain, begitu pun dengan dirinya, yang menjadi milik Harry seutuhnya, hati dan jiwanya.

"Bangun Harry! Kita bisa terlambat ke kelas jika kau bermalas-malasan seperti itu!"

Harry menggelIat di bawah selimut berwarna merah –warna khas asrama Gryffindor. "Grr… aku sedang sakit perut, jadi aku akan bolos sekolah hari ini." Ceracau Harry yang terganggu dari tidur nyenyaknya.

Draco sedikit menggeram, kekasihnya ini terkadang sangat bersemangat, tapi bisa menjadi malas –seperti saat ini– disaat yang berbeda. "Aku tahu kau berbohong, Harry. Ayolah! Jangan seperti ini!"

Harry menarik selimutnya hingga menutupi rambut hitam berantakan miliknya, "Arrgh.. aku kan sudah pernah bilang, kau tidak harus datang setiap pagi, Draco."

Draco menghembuskan napasnya, membosankan jika harus ada drama dipagi hari. Ia menyeringai, tiba-tiba terlintas sebuah ide di otak jeniusnya –menurutnya.

"Baiklah, tapi aku tidak bertanggung jawab jika profesor Snape menghukummu nanti! Apalagi harus membersihkan belasan kuali gosong, apa kau mau, eh?" ancam Draco yang perlahan mulai bangkit dengan seringaian yang tercetak jelas dibibirnya, lalu Ia pun bergerak untuk meraih buku miliknya yang sempat Ia letakkan di meja nakas kecil samping tempat tidur Harry.

Gerakan tangan Draco terhenti ketika telapak tangan Harry menahan lengannya. Tampak Draco yang makin menyeringai lebar, kemudian Ia melirik Harry dari ujung matanya, tampak Harry yang sedang membuka selimut yang menutupi kepalanya dan mendudukkan diri persis di sebelah Draco.

"Okay, okay, jangan menakutiku, kau tahu kan kalau profesor yang satu itu menyeramkan," Ucap Harry yang sedikit bergidig membayangkan Severus Snape menghukumnya, apalagi jika menyuruhnya membersihkan belasan kuali-kuali kotor seusai pelajaran ramuan.

Draco tersenyum dan memberi kecupan kecil di bibir Harry, "Aku sedikit membohongimu, pagi ini jadwalnya profesor Lupin," dengan tersenyum tanpa dosa.

Draco langsung berlalu dari duduknya dan meninggalkan Harry yang menggeram kesal sekaligus memberikan sumpah serapah pada orang yang dicintainya itu –yang memang hanya ditanggapi Draco dengan tawanya yang menggema sebelum menghilang dibalik pintu besar kamar itu.

.

.

Jangan heran jika Draco tahu password asrama Harry, Ia adalah kepala asrama Slytherin, itu menjadi alasannya –yang walau bagaimana pun tidak ada hubungannya dengan asrama Gryffindor– untuk meminta password asrama kekasihnya, dengan alasan 'Jika sesuatu yang buruk terjadi, aku dapat langsung menanganinya'. Sebenarnya itu hanya alasan baginya agar dapat setiap saat bertemu dengan kekasihnya, sekaligus membangunkan kekasihnya dipagi hari, seperti barusan.

.

.

Aula besar yang telah dipadati beberapa murid yang sudah mulai mengisi perut mereka dengan sarapan bergizi yang telah tersedia di atas meja panjang. Harry sedikit melamun, kadang Ia tidak konsentrasi hingga harus mengucapkan kata 'maaf' pada orang yang tak sengaja bahunya Ia tabrak. Bahkan sapaan dari beberapa murid tidak dihiraukannya. Berbeda dengan biasanya, biasanya Ia selalu membalas sapaan beberapa murid bahkan mengembangkan senyum menawannya untuk orang-orang yang menyapanya.

Entah apa yang terjadi hingga Ia hanya melewati beberapa sapaan itu yang bagai angin. Ia menatap meja asramanya, beberapa anak di belakangnya ada yang berbisik, dan ada pula yang mengagumi sosok 'pahlawan' itu. Ia memutuskan untuk duduk di samping Seamus yang menatapnya bingung. Pasalnya Ia jarang melihat 'pahlawan' mereka itu duduk di meja asrama Gryffindor setelah menyandang status sebagai kekasih seorang Draco Malfoy.

Harry lebih sering menghabiskan jam makan di meja asrama kekasihnya dibanding menghabiskan jam makannya yang berharga di meja asrama Gryffindor, kadang kala Hermione dan Ron mengikutinya dengan duduk di meja makan murid asrama Slytherin.

Harry menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari tahu keberadaan kedua sahabatnya yang biasanya menemaninya. Namun Ia tidak melihat Ron dan Hermione di meja Gryffindor.

Tepukan di bahu Harry dari samping kanan, membuat pemuda dengan tanda petir di keningnya itu menggumam, "Hm?" tanpa menoleh Ia yakin bahwa yang menepuknya tadi adalah Seamus.

"Tumben kau duduk disini man!" seru seorang pemuda yang memang adalah Seamus.

Harry menoleh ke arah Seamus dengan mengunyah roti dimulutnya, setelah menelannya, Ia baru bicara, "Memangnya kenapa? Apa tidak boleh?" tanya Harry dengan polosnya, lalu Ia mengalihkan pandangannya pada piala berisi jus labu dihadapannya, menegak setengah dari isinya.

"Boleh lah," Seamus mengangguk sekali, "maksudku, tumben kau disini? Tidak dengan Draco?" lanjutnya.

Harry menggeleng, "Dia ada urusan dengan profesor Snape" jawab Harry. Oh, jadi alasannya murung pagi ini karena kekasihnya itu tidak bersama dengannya, padahalkan Draco lah yang membangunkannya pagi-pagi tadi. 'Oh great!' batinnya.

Seamus hanya bisa membulatkan bibirnya dan kembali beralih pada makanan yang tersisa setengah di depannya.

.

.

Hari libur dihabiskan oleh Harry hanya dengan merilekskan diri di atas tempat tidurnya yang nyaman. Ia juga tidak bersama Draco, bukan karena dia tidak mau menghabiskan waktu liburannya bersama pemuda yang ia cintai itu. Tetapi karena kekasihnya itu memang memiliki kelas tambahan penting dari profesor yang menurut Harry 'menyeramkan' itu. Profesor Snape menyuruh kekasihnya itu untuk mengikuti jam belajar tambahan di ruang pribadinya. Sang potion master itu menyuruh Draco untuk mengambil kelas tambahan, itu dilakukan agar Draco lebih siap menghadapi ujian praktek beberapa bulan lagi.

Harry sempat menggerutu, 'Aku kan lemah dalam hal ramuan, sedangkan Draco? Dia kan pandai dalam bidang itu… Dasar profesor pilih kasih!'

Jadilah sekarang, Harry dengan tempat tidur nyamannya. Jika tentang Hermione dan Ron, tak usah ditanya, sepasang kekasih itu menghabiskan waktu mereka dengan jalan-jalan, jalan-jalan yang 'hanya berdua', atau sering disebut dengan kata 'kencan'.

Harry membenamkan kepalanya di balik selimut saat dirasa angin berhembus kencang dari arah belakang. Harry membuka selimutnya dan berjalan ke arah jendela kamarnya dengan sedikit gontai setelah menyadari bahwa jendela kamarnya terbuka.

Ketika akan memutar knop agar jendela itu terkunci, sebuah lenguhan burung terdengar dari luar sana. Gerakan tangannya pun berhenti, perlahan Ia membuka jendela itu ketika kedua matanya menangkap bayangan sebuah burung hantu yang mendekat ke arah jendelanya.

Burung hantu warna hitam itu menyerahkan sebuah amplop putih pada Harry melalui paruhnya saat kedua tangan Harry mengelus kepala burung itu. Harry mengambilnya, ketika akan mengelus kepala burung hantu itu lagi, burung hantu itu beranjak pergi, mungkin karena burung itu merasa bahwa tugasnya disana sudah selesai dan si pengirim surat tidak meminta Harry membalas surat itu.

Harry tak ambil pusing dengan kelakuan burung hantu itu, ia menutup 'lagi' jendela tersebut dan mulai mendudukkan dirinya di sisi ranjang miliknya. Tangannya dengan perlahan membuka amplop berisi surat tersebut, dan mulai membaca kata per kata yang tertulis di atas kertas itu.

.

"Dear Harry,"

Kata pertama yang Ia baca membuatnya sedikit penasaran, gaya bahasa yang digunakan dalam surat itu terlihat seperti gaya bahasa wanita. Kemudian Ia membaca kalimat-kalimat selanjutnya.

"Kami mengundangmu makan malam di manor minggu depan, datanglah bersama Draco. Beritahu dia, karena kami belum sempat memberinya kabar. Lucius ingin bicara dengan kalian."

Kali ini mata Harry sedikit melotot, disana tertulis juga nama Draco dan… Lucius? Ayah Draco? Lalu pandangan mata Harry tertuju pada tulisan yang terletak pada bawah sebelah kanan surat.

"Malfoy"

Sungguh kali ini nafas Harry tercekat, ia seperti terkena petir di langit yang cerah. Matanya yang tadi sempat mengantuk dan malas-malasan pun langsung melotot sempurna, mulutnya mengangakan. Buru-buru ia melipat kembali surat itu.

.

Cklek

.

Blam

.

Dengan cepat Harry berlari menuruni tangga dan duduk di salah satu sofa ruang rekreasi asrama Gryffindor. Ia menepuk bahu seseorang yang kini menatapnya bingung, pasalnya Harry turun 'masih' dengan baju tidurnya.

"What's wrong, Harry?" suara anak lelaki –yang bahunya ditepuk tadi, membuat Harry mendongakkan kepalanya yang sempat tertunduk.

Harry menaik-turunkan kedua tangannya dari dada ke atas kepala, hendak mengurangi rasa lelahnya.

Harry menyodorkan surat itu ke arah lelaki tadi, "Bacalah, Ron" perintah Harry.

Lelaki yang dipanggil Ron itu hanya mengedikkan bahunya saat kekasihnya, Hermione, yang bertanya dalam gerak mata dengannya. Hermione semakin merapatkan dirinya ke arah kekasihnya yang berambut coklat itu karena Ia merasa penasaran dengan isi dari selembar kertas yang diserahkan Harry ke tangan kekasihnya itu.

Pertama, tampak Ron dan Hermione yang mengeluarkan ekspresi menyatukan kedua alis matanya, lalu dilanjutkan dengan pelototan tajam yang mengarah pada kertas tak bersalah itu. Dan yang ketiga Ron berteriak,

"APA?!"

Beruntung karena saat itu asrama mereka benar-benar sepi, beruntung juga karena Harry dan Hermione yang memiliki refleks baik, jadinya mereka sudah menutup kedua telinga mereka agar tidak terlalu mendengar teriakkan histeris pemuda berambut merah itu. Hermione melotot tajam ke arah Ron yang kini hanya diam dan menatap Harry dengan serius.

"Kapan kau menerima surat ini, Harry?" Hermione bertanya pada Harry yang sekarang malah menggaruk belakang kepalanya.

"Sekitar lima belas menit yang lalu"

Ron menyerahkan kembali surat itu pada Harry, "Hebat kau, mate! Pakai mantera apa sampai calon mertua mu bisa luluh? Bahkan sampai mengundangmu makan ma-"

Pletak

Hermione menggeleng kesal, tetapi kekesalannya sudah berkurang setelah Ia menjitak kepala kekasihnya yang menurutnya 'bodoh' itu. Ia menatap Ron kesal, "Kau ini! Memangnya kau tahu kalau keluarga Malfoy-yang-terhormat itu menerima Harry? Jika tidak, bagaimana eh?"

Harry yang mendengarnya langsung berpikir bahwa ucapan sahabat perempuannya itu ada benarnya juga. Karena bagaimana pun ia belum tahu maksud sebenarnya dari undangan keluarga kekasihnya itu. Bisa saja mereka mengundang Harry karena ingin memaksa mereka berpisah. Who knows? Akhirnya Harry, Ron, dan Hermione menghabiskan waktu mereka bertiga dengan perbincangan mengenai 'kemungkinan' dan 'alasan' datangnya surat berisi undangan itu.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.


a/n : yeiyyy Drarry ber chapter pertama! horeeeeeeeee *ditendang karena berisik* haha, maaf kalau jelek yaa... maaf kalau banyak typo, soalnya nggak di cek lagi.. kalau mau di lanjut, review dulu yaa m(-_-)m *bow. Ditunggu lho!

.

.

Mau dilanjut atau stop?

.

.

R

E

V

I

E

W

.

.

.

See ya next chapter!