Daimo arigatou gozaimazu, pengunjung setia Fanfiction Naruto. Karena sudah mau mengeklik fict saya ini. Fufufufu...

Setelah sebelumnya membuat fict Cannon dengan judul "Buku Kutukan", kali ini saya mencoba untuk membuat fict yang sedikit berbeda. Fict ini berlatar di kehidupan SMU yang akan dijalani Uzumaki Naruto dalam sebuah lika-likunya berpetualang di SMU barunya. Tapi berhubung saya tidak terlalu mahir membuat Romance. Genre kali ini Friendship & Action meski sebenarnya campuran sih. Hehehehe..

Read and Review? Oke!


Disclaimer © Masashi kishimoto

"New School, New Friends"

Warning : AU, OOC, Non-Cannon, akan ada banyak pertarungan, Typo's

Genre : Friendship & Action

Rate : T

Author : "KeMondKemon"

Chapter 1

First Friend, Iruka-Senpai

.

.

"Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah punya teman! Dasar B-O-D-O-H!"

"Hahahaha.."

Empat orang anak laki-laki, Terlihat pergi menjauh meninggalkan bocah ingusan berperawakan sedang yang terikat di sebatang pohon. Tak tahu sudah berapa kali bocah itu di kerjai seperti ini.

"Dasar brengsek! Lihat saja! Setelah lulus nanti! Aku akan mendapat banyak teman dan menghajar kalian!" Nafas bocah itu sangat memburu. Dia tampak sangat kesal dengan perlakuan ke-4 anak tadi.

Anak-anak tadi berhenti, Mereka membalikan badannya. "Apa kau bilang? Kau bisa lulus saja sudah sangat beruntung! Jangan bermimpi untuk menghajar kami!" Kata salah satu dari mereka, mengejek.

"Hahahaha..." Lalu ke-4 orang tadi menghilang di rerimbunan ilalang tanpa jejak.

"Sial! Sial! Sial!" Bocah itu hanya menggerutu. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu pertolongan seseorang.

Tiga Bulan Kemudian

New Life

Masa SMU? Siapa yang tak tahu? Semua orang yang telah mengenyam pendidikan ditingkat atas pasti tahu, kalau masa SMU merupakan masa yang paling menyenangkan.

Termasuk juga untuk bocah remaja berambut kuning yang hiperaktif, ambisius, optimis, dan ceroboh, Uzumaki Naruto. Dia yang bisa disebut anak bodoh, akhirnya bisa lulus SMP juga. Tentunya dengan dukungan orangtuanya, Minato Namikaze dan Uzumaki Kushina.

Di sekolahnya dulu yakni SMP Akademi, dia dikenal sebagai anak yang ceroboh dan tukang bikin onar. Bocah berambut kuning itu selalu menentang anak-anak bandel yang menguasai sekolahnya, walaupun sebenarnya dia tahu kalau kekuatan mereka jauh lebih kuat dibanding dirinya.

Akibatnya bisa ditebak, ya, dia selalu ditindas dan dibully. Hal itu dilakukan, karena sewaktu SMP dia tidak memiliki teman yang disebabkan para penguasa itu melarang siapa saja berteman dengan Naruto. Tapi sekarang, dia telah lulus SMP. Dia bertekad untuk mencari teman sebanyak-banyaknya di SMUnya nanti...

Prologue

First Friend, Iruka-Senpai

Hari ini adalah hari pendaftaran sekolah. Di sebuah rumah di kota Konohagakure, terlihat dua orang yang memiliki rambut warna kuning sedang berdebat. Mereka sedang perang adu mulut karena berbeda pendapat dalam bernegosiasi.

"Pokoknya aku mau masuk SMU Akatsuki!"

"Tidak bisa! SMU itu buruk untukmu Naruto..?! Ayah tidak suka kalau kau masuk sekolah itu!"

"Harus bisa! Aku ingin membalas kelakuan anak-anak itu Ayah! Mereka ingin masuk ke SMU Akatsuki! Jadi aku harus masuk ke situ juga!"

"What?! Jadi itu alasanmu?!" Sahut Minato memberi tatapan kaget pada Naruto.

Seketika itu juga Naruto memegang mulutnya, dia ternyata keceplosan. "Ayah... Tolonglah, biarkan aku masuk SMU Akatsuki."

Seraya memejamkan mata, Minato pun menjawab "Tidak, tidak, dan tidak!" Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali.

"Waktu masuk SMP kamu memutuskan sendiri kemana kamu akan masuk, Oke? Saat itu Ayah biarkan. Tapi kali ini takan terulang kembali. Kamu harus ikuti permintaan ayah! Masuk ke SMU Konoha! Mengerti?!" Tegas laki-laki berambut kuning berponi sambil mengacungkan telunjuknya.

Bocah beriris biru itu hanya berdecak lidah dengan keputusan ayahnya, "Huh!" Gumamnya.

"Sekarang cepat mandi dan bersiap-siap! Jam 8 kita berangkat ke SMU Konoha."

Kemudian Minato berlalu. Naruto juga ikut melangkah meninggalkan ruang keluarga menuju kamar mandi. Merasa tidak puas dengan keputusan ayahnya, bocah itu terdengar menggerutu kesal. "Huh! Seenaknya saja membuat keputusan. Dia pikir siapa yang akan sekolah."

Jam 07.58 AM

Nit.. Nit..

Suara klakson mobil terdengar sampai ke ruang tengah rumah Naruto. "Naruto! Ayo cepat, kita bisa terlambat."

"Yeah sebentar, aku masih memakai sepatu, ayah!"

"Naruto, kamu yakin? Gak mau makan dulu?" Ujar seseorang tiba-tiba dari arah dapur.

"Ah, ibu. Kau mengagetkanku. Hehe, Iya engga perlu, hari ini cuma mendaftar ko. Takan lama. Hehehe" Senyum Naruto manis.

"hemm, begitu ya. Yasudaah, semoga harimu menyenangkan."

"Yup, Aku berangkat dulu bu." Pamit Naruto sembari tersenyum dan mengacungkan jempol pada wanita berambut merah panjang, Kushina.

"Ya, hati-hati Naruto.." Respon Kushina menatap punggung Naruto yang semakin menjauh itu.

Di perjalanan, suasana begitu hening. Ini sangat jarang, biasanya Naruto selalu berisik dan banyak omong saat perjalanan seperti ini. Dia selalu membuka pembicaraan dengan topik apa saja. Tapi kali ini lain, Naruto tampak murung.

"Hmm, Naruto? Kenapa kamu diam saja? Biasanya kamu mengajak ayah ngobrol?" Ujar Minato membuka pembicaraan.

"Kamu marah ya? Sudahlah, jangan dipikirkan terus. Ayah memutuskan ini bukannya tanpa alasan." Sekilas Minato memandang ke arah samping, memastikan apa yang yang sedang dilakukan Naruto.

"..." Naruto masih tak bergeming. Bocah itu hanya fokus bermain game di ponselnya pura-pura tidak dengar. Minato yang melihat perilaku Naruto menjadi khawatir. Dia takut kalau keputusannya tadi, akan membuat Naruto tertekan.

"Hm... baiklah. Begini saja, kamu coba dulu masuk SMU Konoha 1 bulan. Jika kamu tidak betah, kamu boleh pindah ke SMU Akatsuki, bagaimana?"

Seketika itu Naruto menghentikan aktifitasnya main game. nampaknya dia tertarik, "Hn, benarkah?"

"hemm..."

"Asyik... Kalau begitu aku setuju. Hehehe." Kata Naruto riang kembali. Minato hanya tersenyum melihat anak semata wayangnya kembali riang.

"(aku yakin, Kau pasti lebih menyukai SMU Konoha)" Batin Minato memandang buah hatinya.

Kemudian suasana kembali seperti semula. Naruto jadi aktif bertanya pada ayahnya. Obrolan antara Ayah dan anak itu diwarnai tawa dan guyonan lucu mereka. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di SMU Konoha. Minato langsung memarkir mobilnya dan segera mencari tempat pendaftaran.

Sepi, sunyi, seperti tak berpenghuni. Mereka tampak bingung dengan letak ruang pendaftaran. Ya, mungkin saja karena banyaknya ruangan kosong dan ukuran 60.2 hektar SMU Konoha terlalu luas untuk ukuran sekolah. Akibatnya mereka menghabiskan beberapa puluh menit untuk mencari ruang pendaftaran itu.

Pada akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan yang terlihat ramai. Ya, itu adalah ruang pendaftaran. Bisa dilihat dari orang-orang yang keluar masuk ruangan itu, kebanyakan kebanyakan dari mereka menggunakan seragam SMP. Buru-buru Minato dan Naruto masuk ke ruangan itu.

Sebuah ruangan yang cukup besar dan luas. Di dalam sangat sesak, ramai, berisik, dan meskipun ber-AC tetap saja panas. Ya, wajar saja, karena SMU Konoha begitu terkenal. Jadi, tak heran kalau siswa yang mendaftar mencapai 2000 lebih, walaupun tak semuanya diterima sih. Duo rambut kuning itu terpaksa harus sabar mengantri.

Hmm, ngomong-ngomong soal SMU Konoha, ada cerita menarik dibalik terkenalnya SMU tersebut. Minato Namikaze, dulunya murid SMU Konoha juga. Dia menjadi murid paling berbakat dan tercerdas di angkatannya karena dia menguasai segala jenis materi dengan baik. Di masanya bersekolah, dia sering mewakili sekolahnya untuk lomba apa saja tingkat kota, dan hebatnya dia selalu menjadi yang terbaik. Akibatnya, SMU lain banyak yang iri karena segala perlombaan hampir selalu dimenangkan SMU Konoha.

SMU Konoha pun mempunyai banyak musuh. Atas dasar hal itulah, pada akhirnya terjadi perselisihan yang tidak wajar seperti terjadinya bentrokan-bentrokan antar sekolah. Minato yang saat itu menjadi pemegang SMU Konoha selalu membawa pasukannya ikut berpatisipasi juga. Dia pun mendapat julukan The Yellow Flash dari Konoha karena kehadirannya di setiap tawuran tanpa ada yang tahu.

Sampai akhirnya, SMU Akatsuki begitu dendam dengan SMU Konoha. Hal ini terjadi, karena salah satu murid Konoha membunuh ketua SMU Akatsuki saat itu, Madara. walaupun sebenarnya masalah ini sudah berakhir damai karena pihak berwajib turun tangan. Tapi dendam itu terus disimpan oleh siswa Akatsuki sampai ke generasi berikutnya...

Bicara soal dendam, apa yang kita temukan disini.

"Minato?"

"Fugaku? Kaukah itu?"

"Ya, kau masih mengenaliku rupanya? Hahaha" Ujar Fugaku Uchiha sembari memeluk Minato.

Fugaku adalah teman seangkatan Minato. Dia merupakan rival abadi Minato saat memperebutkan kekuasaan SMU Konoha. Fugaku sebenarnya memiliki dendam terhadap Minato, karena Minato berhasil menjatuhkannya di pertarungan terakhir. Tapi itu adalah cerita zaman dulu saat mereka masih bersekolah. Sekarang mereka menjadi teman baik atau bisa disebut sahabat.

"haha.. Tentu saja Teme! Lama tidak jumpa? Bagaimana kabarmu?"

"Hahaha.. Baik! Kau masih ingat dengan panggilan itu Dobe?" Kata Fugaku membalas sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Tentu saja, hehe. Dan lumayan baik. Oya ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini?" Tanya Minato melihat Fugaku membawa kwitansi yang sama dengan yang dipegang dirinya.

"Aku sedang mengantar anakku mendaftar di sini. Kalau kau?"

"Wah, sama dong. Aku juga. Ini perkenalkan anakku, Naruto."

"Naruto Ayo beri salam pada paman Fugaku."

Naruto hanya membungkukan badannya. Tak ada sepatah kata pun yang terucap. Wajahnya memancarkan ekspresi kecewa. Ya, harusnya saat ini Minato mengajaknya makan. Tapi karena Minato bertemu dengan teman lamanya, Naruto tahu pasti, mereka akan ngobrol lama seperti yang terjadi pada saat pendaftaran tadi. Minato bertemu Chouza, inoichi dan Sikaku yang mengakibatkan obrolan yang cukup lama.

"Hemm, dia sangat mirip denganmu Minato. Terutama rambut kuningnya ini." Fugaku mengacak rambut Naruto.

"Hehehe, tentu saja Temee! Dia itu akan menjadi anak yang hebat sepertiku. Hihihi... Oya? Di mana anakmu?" Minato clingak-clinguk baru menyadari kalau Fugaku belum mengenalkan anaknya.

"Hahahaha... Percaya diri sekali kau Dobe! Anakku, sudah pulang duluan tadi." Ujar Fugaku menggosok hidungnya.

"Hahaha... Laki-laki? Atau perempuan?"

"Laki-laki! dia pasti akan menjadi anak yang berbakat sepertiku. Hehe" Kali ini Fugaku membanggakan anaknya.

"Hahaha, apa benar? Semoga saja, anak kita dapat berteman baik ya.. Tidak seperti kita waktu dulu." Ujar Minato membayangkan masa mudanya bersama Fugaku.

"Haha.. Benar. Apa kau ingat saat dulu kita pertama bertemu? Gayamu seperti kera yang berbaris. Kau membawa pasukan yang berjejer dan mengajakku masuk ke gengmu. Haha.."

"Hahaha... Benar benar... Waktu itu aku masih terlalu polos.. Haha" Minato tertawa lepas mengingat masa lalunya. Dia nampak senang bertemu kembali dengan teman lamanya.

Fugaku dan Minato? Dulunya mereka seperti anjing dan kucing karena tak bisa akur. Tapi pada akhirnya mereka menjadi teman baik. Naruto yang tak ingin mengganggu reuni mereka, meminta izin pada ayahnya untuk pergi makan. Dia hanya diberi beberapa lembar uang saja.

.oOo.

"Minato? Fugaku? Kaukah itu?" Naruto mencoba menirukan percakapan Ayahnya tadi.

"Huwaaa.. Apa-apaan dia. Seenaknya membuat janji! Tapi apa nyatanya! Bohong!" Celoteh Naruto. Dia masih frustasi dengan ayahnya. Minato sudah berjanji saat pendaftaran tadi. Kalau Naruto bersabar sebentar menunggu Minato mengobrol, Minato akan mengajaknya makan di Restoran. Tapi berhubung Minato bertemu teman lamanya kembali, semuanya jadi batal.

KRUYUKK...

Suara perut Naruto terdengar meronta. Bocah berambut kuning itu memegang perutnya. "Aku lapaar... Huh... Seandainya tadi pagi aku makan, mungkin takan selapar ini..."

Muka Naruto terlihat kusut. Dia masih berjalan menyusuri lorong sekolah. "Kantin... Kantin... Kantin... Di mana kantin..."

Sementara Naruto masih mencari kantin. Di sebuah ruangan yang terlihat sepi tak jauh dari tempat Naruto berada, tampak segerombolan orang sedang mencoba melakukan bully.

"Hei, Iruka! Minggu kemarin kau tidak memberi jatah! Minggu ini kau juga menolaknya? Apa kau ingin aku melakukan sesuatu hah?!" Kata Laki-laki memakai bandana dengan rambut panjang berwarna putih.

Dia adalah Muzuki! salah satu anak bandel yang bersekolah di SMU Konoha. Kebiasaannya yang selalu meminta jatah uang kepada semua anak lemah seperti Iruka itu, terkadang membuat resah. Dia juga tak segan melakukan tindak kekerasan pada orang yang tak mau memberinya uang.

"Aku lupa membawa uang Muzuki-san. Satu-satunya uang yang kubawa adalah uang untuk membayar biaya daftar ulang kenaikan kelas." Kata orang yang memiliki luka horisontal di batang hidungnya dengan rambut dipocong menundukan kepala. Rupanya dia tak pandai berdusta.

Mizuki yang tahu bahwa Iruka berbohong, menggodanya. "Oh, kenapa kau tidak pakai saja uang itu? Kau tinggal menggantinya saat tiba di rumah nanti."

"tidak bisa begitu..."

"kyahahaha, jadi kau lebih memilih ada yang terluka daripada memberi uangmu begitu?"

"Bukan.. Bukan begitu.. Tap-..."

Sebelum Iruka melanjutkan kalimatnya Mizuki keburu mencegatnya. "sssseetttt... Cukup! Anak-anak lakukan!"

"AAaa..." Teriak Iruka melihat anak-anak suruhan Mizuki tampak merencanakan sesuatu. Mereka segera melingkis seragam, dengan tangan dikepalkan bersiap menyerang Iruka.

"Hehehe, ayo selesaikan..."

"Berhenti!" tampak orang berambut kuning berdiri di depan pintu. Seketika aktifitas anak-anak tadi jadi terhenti.

Ternyata itu Naruto! Dia yang sekilas menyaksikan kejadian itu dari tempatnya berdiri tadi. tidak bisa membiarkan bully terjadi di depan matanya. Lalu beberapa orang berseragam SMU Konoha, terlihat mendekati Naruto. "Hei, kau sepertinya murid baru? Apa yang kau cari di sini?"

"Hmm, siapa kalian?" Tanya Naruto enteng.

"Kami adalah siswa senior di sini, kau sedang cari apa? Mungkin kami bisa membantu?" Mereka tampak akan berbuat sesuatu pada Naruto. Bisa dilihat dari ekspresi para senior itu, yang terlihat kurang bersahabat.

"Oh, kebetulan sekali... Em, kantin di mana ya? Aku lapar ingin makan?" Tanya Naruto polos mendengar penawaran dari anak-anak itu. Kepala bocah berambut kuning itu manggut-manggut. Dia sesaat melupakan tujuannya datang ke situ.

"Owh.. Ternyata kau ingin mencari kantin ya? Aku tahu tempatnya... Tapi sebelum itu, kau harus bayar dulu pada kami. Sebagai ongkos memberikan informasi, bagaimana?"

"Hmm.. Begitu ya.. Yasudah, aku tidak jadi bertanya. Permisi... Bolehkah aku masuk? Aku ingin melihat apa yang terjadi di dalam." Kata Naruto sambil bergerak menerobos gerombolan orang-orang tadi.

"Hei, permisi? Ada yang tahu di mana letak kantin? Tadi aku bertanya pada mereka tapi aku harus bayar dulu. Maukah kau memberitahuku tanpa aku bayar?" Naruto menunjuk kearah orang yang menghampirinya tadi.

Semua orang yang ada di ruangan itu hanya diam melihat tingkah Naruto. "Bos? Bocah ini sepertinya punya banyak uang. Bagaimana kalau kita palak saja." Bisik seseorang.

"Hehehe.. Ide bagus!"

Naruto yang samar-samar mendengar percakapan mereka, melengos santai pura-pura tak dengar. Dia mengamankan uang yang dibawanya dengan menaruh di saku celana. Tangannya dimasukan ke kedua saku celannya.

Lalu, salah satu dari anak senior itu tiba-tiba berlari cepat, mencoba memeluk Naruto dari belakang. Naruto pun secara reflek hanya menghindar lemas dengan bergeser ke samping.

BRUUAAKKKK...

"Heh! Kurang ajar! Rupanya kau menyadarinya."

"Dasar bodoh! Dari awal aku sudah tahu! Kalau kalian ada niat jahat! apa yang mau kalian lakukan pada kakak ini?" Kata Naruto spontan sambil menunjuk Iruka. Naruto kini lebih serius, tidak pura-pura lagi menjadi bodoh. Iruka yang merasa ditunjuk hanya diam.

"Hmm.. SMP Akademi yaa. Rupanya kau bersekolah di SMP yang terkenal juga... Di SMP itu kudengar tempatnya anak-anak brutal apa kau salah satu dari mereka?" Tanya orang berambut putih panjang melihat identitas Naruto dari bet yang terjahit di baju Naruto.

"Bukan urusanmu untuk tahu tentangku."

"kakak? Apa kau tahu letak kantin di SMU ini?" tanya Naruto melihat ke arah Iruka.

"Ya, aku tahu di mana letak kantin itu."

"Hahaha.. Syukurlah. Kau mau memberitahukanku tanpa aku harus membayar kan?" Jawab Naruto enteng menggosok hidungnya.

"tentu."

"shishishishi.. Baguslah! ayo kita pergi." Naruto membalikan badan tanpa ragu mencoba keluar ruangan meninggalkan Mizuki dan anak buahnya sambil menarik Iruka.

"Berani sekali anak bau kencur itu berbicara seperti itu di depanku. Dia mengabaikanku! Aku berubah pikiran. Ayo, beri dia pelajaran baru di sekolah kita."

"Hahaha.. Aku tahu bos."

Lalu gerombolan orang itu, segera mengambil senjata yang terselip di punggung dan tas mereka seperti kayu, tongkat bisbol, gear sepeda, dan lain-lain. Sebenarnya alat-alat itu dilarang untuk dibawa ke sekolah. Namun, karena hari ini masih hari libur di mana mereka masuk sekolah hanya untuk daftar ulang kenaikan kelas. Peraturan itu jadi tidak berlaku untuk saat ini.

Naruto yang menyadari itu hanya bersikap biasa. Mungkin karena perutnya yang terlalu lapar, jadi dia tidak menghiraukan mereka.

"Hei, bocah. Mereka sepertinya akan bertindak. Ayo kita lari." Iruka tampak ketakutan.

"Tenang saja. Nggak perlu lari. Ada aku di sini. Hehehe" Jawab Naruto enteng mengedipkan matanya.

Iruka hanya menurut saja pada Naruto. Meskipun dia agak khawatir dengan jawaban Naruto yang menolaknya untuk lari.

Tak lama kemudian merekapun melancarkan serangan pada Naruto. Salah satu dari mereka menghampiri Naruto, mencoba memukul Naruto menggunakan tongkat bisbol.

WUSH!

Naruto hanya memundurkan badannya, sesaat sebelum tongkat bisbol mengenai pundaknya. Akibatnya serangan itu hanya mengenai angin.

"Apa?!"

"Heee... BODOH!"

BRUKK! JDUG!

Naruto menginjak kaki orang itu dan menyikut lehernya. Orang itu pun terjatuh menggeliat memegang leher karena pukulan Naruto menghujam keras. Sakin sakitnya, dia nampak tak bisa berkata apa-apa selain berteriak.

"Aaaaaa.."

"Upss..."

Lalu tak sampai di situ, lima orang sekaligus langsung mengepung Naruto. Mizuki tampak hanya menonton dari jauh. Iruka yang melihat itu segera menjauh karena takut terkena imbasnya.

"Heee.. Dasar pengecut. Beraninya main kroyokan!" Naruto melirik satu per satu musuhnya.

"Mau pengecut atau tidak! bukan masalah. Yang penting kami puas! Kau sudah melukai salah satu teman kami. Jadi kau harus membayarnya."

"Hyaa..." Seseorang dengan Tongkat bisbol besi melancarkan pukulannya pada Naruto.

Namun Naruto berhasil menghindar kembali dengan bergerak ke samping. Sesegera mungkin Naruto menendang orang itu dengan keras. Akibatnya orang itu menabrak salah satu temannya dan jatuh bersama.

Lalu orang dengan gear sepeda ikut menyerangnya juga. Naruto segera membungkukan badannya menghindari serangan. Tapi di saat itu juga orang dengan Kayu balok besar melancarkan serangan. Akibatnya serangan itu mengenai telak tengkuk Naruto.

BUGH!

"Adawww.." Naruto segera berguling ke depan untuk menjauh.

"Hei, bocah! Hati-hati... Maaf aku tidak bisa membantumu! Aku tidak bisa berkelahi..."

"hehehe... Tenang saja kakak, aku akan mengalahkan mereka..." Teriak bocah rambut kuning itu melambaikan tangan. Naruto tampak biasa saja, padahal dia terkena serangan telak di tengkuknya.

"Hei! Jangan urusi yang di sana. Lawanmu di sini. Sombong sekali kau."

"Hm, bersiaplah. Kalian akan segera kukalahkan. Akan kutunjukan hasil latihanku di gunung myobouku selama liburan kemarin. Shishishishi..." Naruto meletakan tasnya dan melakukan pemanasan.

Tak berapa lama lima orang tadi langsung berlari ke arah Naruto. Lalu Naruto pun ikut berlari ke arah mereka.

"Hiyyaaaa..."

DUUGGGHHHH! SREKKK!

Naruto langsung melompat menendang dada dua orang sekaligus dengan keras. Lalu dia bergerak kembali menendang bagian kaki orang setelahnya, yang seketika itu juga, orang itu terjatuh kesakitan.

"Aaa..."

Serangan pun juga dilancarkan dari pihak musuh. Salah satu dari mereka mencoba memukul Naruto. Tapi dengan sigap Naruto menahan dengan tangannya. Dia langsung melompat menggepit tangan penyerang dengan kedua kaki dan menguncinya. Tangan orang itu, lalu dipuntir sehingga senjatanya lepas dan menimbulkan suara seperti tulang patah.

KREEETEEE'KKKK...

"AaaRG..."

Naruto telah berhasil mengalahkan 4 orang lawannya. Sekarang tinggal satu orang memegang sebuah belati.

"Shishishi... Sekarang giliranmu? Hmm, kenapa kau? celanamu basah begitu?" Naruto memperhatikan orang itu.

Orang itu hanya diam, ternyata dia kencing di celana. Tubuhnya bergetar karena ketakutan melihat teman mereka dikalahkan dengan mudahnya.

Naruto yang melihat itu tidak menyianyiakan kesempatan untuk melancarkan serangan. Lalu ditendangnya telapak tangan yang memegang pisau belati. Seketika itu pisaunya terlepas dari tangan. Lalu Naruto segera melompat dan menyalto lampu bohlam yang berada tepat di atas mereka hingga pecah.

PYAARR...

"AaaaaRG... Boss... Dia terlalu kuat." Dia langsung pingsan dengan mulut berbusa.

Semua lawan kini telah kalah. Mereka yang masih tersadar, segera menyingkir dan mendekat ke Mizuki sambil memapah dan menggendong teman yang terluka. sorot mata tajam di tujukan pada bocah beriris biru itu. Sedangkan si bocah hanya memberi tatapan malas-malasan.

Tiba-tiba, terlihat segerombolan orang dengan tampang berandalan berjalan dari arah belakang Mizuki. "Hei, lawan seperti apa yang kau hadapi? Sampai-sampai memanggil kami untuk datang kemari?"

Mizuki dan yang lainnya menoleh ke sumber suara. "Ah, kalian sudah datang? Cepat sekali? Ma-maaf sebelumnya, aku menelpon kalian dengan mendadak begini. Hmm, lawannya itu?" Mizuki menunjuk ke arah Naruto.

Saat Naruto bertarung, ternyata Mizuki sudah menghubungi segerombolan orang dengan tampang menyeramkan itu. Lalu si bocah beriris biru hanya menyipitkan matanya. Dia tampak tak asing lagi dengan segerombolan orang di belakang Mizuki.

"Hmm, Rupanya hanya seorang bocah SMP? Kau terlalu lemah Mizuki! Seharusnya kau bisa mengurusnya sendiri."

"Ma-maaf Senpai. Dia terlalu kuat. Aku pasti akan membayar kalian dua kali lipat, jika kalian memberi pelajaran padanya."

"Akan aku pegang omonganmu itu. Sekarang pergilah.."

"Ba-baikk Senpai... Awas kau! Akan kuingat wajahmu... Ayo kita pergi..." Mizuki tampak memberi tatapan dingin pada Naruto.

"Yaa.. Sampai jumpa... Semoga kita bertemu lagi yaa... Daahh?" Kata Naruto polos melambaikan tangan. Mizuki dan lainnya segera pergi meninggalkan Naruto.

Sekarang tinggal sembilan orang berpenampilan mengerikan dan Naruto yang berseragam SMP. Naruto segera mengambil tas ranselnya. Dia pun berdiri santai menghadap kesembilan orang itu. Kedua tangannya dimasukan ke kedua saku celananya.

"Sepertinya kalian bukan murid sini? Kalian dari sekolah mana?" Kata Naruto membuka pembicaraan. Tak ada tanda-tanda kegugupan di wajah Naruto.

"Hemm, kau tak perlu tahu tentang kami. Lagi pula daripada kau bertanya seperti itu, kenapa kau tidak mencari cara saja supaya bisa lolos dari kami?" Tanya seseorang dengan enam buah tindik di batang hidungnya. Sepertinya dia yang menjadi bos di gerombolan itu.

"Aku takan lari..." Tegas Naruto mantap.

Sedangkan Iruka terlihat menelan ludahnya sendiri. Jidat dan pelipisnya mulai berkeringat.

"Apa kita perlu turun tangan juga Pein?" Tanya seseorang lagi dengan rambut kuning menutupi sebelah matanya.

"Tak usah, kurasa Hidan saja sudah cukup. Hn.. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Hidan?"

"Tentu Pein! Serahkan padaku." Lalu orang berambut klimis dengan jubah yang tidak terpakai sempurna itu maju. Sekarang posisinya bertambah dekat dengan Naruto.

"apa kau sudah siap bocah? Aku bisa merasakan bau darah segar dari tubuhmu. Kyahahaha..." Tanya Hidan yang memegang senjata besar dengan 3 gerigi disandarkan pada pundaknya. Dia menjulurkan lidah dan melumat bibirnya sendiri.

"Jadi? Kau mengajakku bertarung?" Naruto mengorek lubang hidungnya menggunakan jari kelingking. Ekspresinya begitu datar. Dia tak menunjukan rasa takutnya sedikit pun. Sedangkan Iruka tampak khawatir, bukan! tapi sangat sangat khawatir. Sepertinya Iruka sudah mengenal segerombolan orang dengan jubah hitam bercorak awan merah itu. Lalu dia pun tak tinggal diam.

Iruka berlari mendekati Naruto. Sekarang posisinya tepat di depan Naruto. "Senpai-senpai... Maafkan kami yaa.. Izinkan kami pergi dari sini.." Kata Iruka sembari memohon Lalu bersujud.

Naruto diam melihat aksi Iruka yang pasrah begitu. Bagi naruto, hal itu sangatlah memalukan. Itu sama sekali bukan prinsipnya. Ya, bocah itu selalu memegang prinsip tak ada kata 'menyerah' sebelum bertarung.

"Apa yang akan kami dapat jika kalian kubiarkan pergi?" Tanya orang bertindik tadi merespon Iruka. Sedangkan Hidan hanya menolehkan kepalanya ke belakang melihat Pein.

"Saat ini aku memang tidak punya apa-apa untuk kalian. Tapi lain kali aku pasti akan memberikan uang pada kalian."

"Lain kali ya? Sepertinya terdengar tak mengenakan di telingaku? Apa bisa kupegang omonganmu?"

"Iya, lain kali. Aku takan bohong. Percayalah.."

"Apa yang membuat aku akan percaya padamu?"

Iruka tampak berpikir, dia lalu berdiri sambil menundukan kepalanya. "Kau bisa am-"

"Haaa... Terlalu lama! Sudah cukup basa-basinya! Sekarang waktunya bersenang-senang! Hyaa..." Hidan memotong pembicaraan Iruka dan Pein. Dia berlari ke arah Naruto bersiap menyerang. Sedangkan Iruka yang melihat itu jadi diam seperti batu. Dia terlalu takut sehingga badannya tak bisa digerakan.

"Hei, kakak! kau menghalangiku? Minggirlah.. Aku akan melawan mereka semua..." Bocah berambut kuning itu lekas berlari menenggor badan Iruka. Seketika itu juga Iruka tersingkir dari pandangan Naruto.

Lalu Hidan segera mengayunkan pedangnya pada Naruto. Bocah berambut kuning itu bersalto ke belakang untuk menghindarinya.

WUSHH... Serangan itu hanya menebas angin.

"Gerakan bagus! Bagaimana dengan ini!"

Hidan melempar senjatanya ke arah Naruto. Naruto pun kembali menghindar. Tapi sayang, karena sebuah tali yang terpasang pada senjata itu, Hidan dengan mudah mengendalikan arah serangannya. Senjata itu bergerak mengikuti arah hindaran Naruto. Naruto yang menyadari senjata itu mendekat padanya, segera menggerakan kedua kakinya untuk menendang senjata itu agar tak melukai badannya. Akhirnya serangan itu dapat di belokan. Senjata itu mengenai tembok, yang seketika itu senjatanya jadi menancap pada tembok tersebut.

TRIINKKK... BRUKK..

"Lumayan juga.. Kau bisa menangkis senjataku."

"(Sial! Hampir saja aku mati! Kalau senjata itu sampai mengenaiku! badanku bisa hancur! Senjatanya sangan berat. Aku jadi terpental karena mehanannya)." Batin Naruto. Iruka hanya berkeringat dingin melihat serangan berbahaya itu.

Naruto segera bangkit. Dia kali ini menaruh tasnya. Tatapannya jadi tajam. Terpancar aura pembunuh yang dasyat dari bocah berambut kuning itu.

"Aura siapa ini? Apakah mungkin dari bocah itu?"

"Hidan! Berhati-hatilah!" Ucap Pein menasehati Hidan. Sekilas dia merasakan aura pembunuh dari arah Naruto.

"Kau tidak perlu khawatir! Ini hanyalah anak SMP!" Kata Hidan meremehkan Naruto.

Tiba-tiba, Naruto hilang dari pandangan Hidan. "Apa! Cepat sekali! Di mana dia." Hidan hanya terkesiap melihat kecepatan Naruto. Semua yang menonton itu juga kaget melihatnya.

"Di belakangmu!" Kata orang dengan topeng spiral.

Lalu secara reflek Hidan menganyunkan senjatanya ke samping, berputar ke belakang. Naruto merendahkan badannya, posisinya jadi berjongkok. Dia lalu menyerang bagian kaki Hidan dengan memutar salah satu kakinya dari samping. Secara reflek juga, Hidan melompat menghindar bersalto ke depan melewati tubuh Naruto yang berjongkok.

Saat di udara, Naruto tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyerang. Dia segera mengangkat kedua kakinya dengan tangan sebagai tumpuan untuk menendang sekaligus berdiri. Hidan yang menyadari itu langsung membuat tameng dengan senjatanya.

BRUUKKK...

Hidan terpental beberapa meter. Tapi dia langsung bangkit dan berdiri kembali. "Sepertinya aku terlalu meremehkanmu! Kali ini aku akan lebih serius." Hidan tersenyum puas. Mungkin karena dia bertarung dengan lawan yang lumayan tangguh.

"Jangan menilai orang hanya dari penampilannya saja. Kali ini aku pasti mengenaimu." Naruto juga tersenyum sambil menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jarinya.

Hidan segera berlari ke arah Naruto. Dengan kecepatan luar biasa, Naruto juga berlari ke arah Hidan. Tanpa di sadari siapapun, Naruto sudah berada di depan Hidan.

"Halo..." Naruto menyeringai menunjukan giginya yang putih.

"Apa!"

BUAGHTTTT...

Sebelum Hidan menghindar, Naruto sukses melancarkan serangannya. Tubuh Hidan jadi terangkat ke udara karena Naruto menendang janggut Hidan dengan ujung sepatunya. Secepat kilat Naruto melompat dan bersalto menendang kepala Hidan dengan tumitnya.

DUGHT...!

Hidan terkena serangan telak dari Naruto. Dia terjatuh, wajahnya menghantam lantai dengan keras. sedangkan senjatanya yang berat dan besar, terlepas dan jatuh ke samping tergelincir mengenai tembok.

BRUUKK... TRINGGG TRINGG TRINGG.. BREEK...

Tubuh Hidan tampak terkulai. Naruto segera bergerak mundur menjauh dari Hidan. Gerombolan orang tadi segera mendekat ke arah Hidan, mereka membantu Hidan berdiri. Sedangkan dua orang lagi mengambil senjata Hidan mengangkat bersama. Hidan pingsan, dari mulutnya mengeluarkan darah. Sangat jelas karena bekas darah mengotori lantai yang putih itu.

"Pein! Sepertinya rahang Hidan retak! Kita harus segera mengobatinya" kata orang dengan rambut menutup sebelah matanya sambil memeriksa keadaan Hidan.

Pein hanya mengangkat tangannya. Hal itu menandakan agar orang yang mengajaknya bicara diam. Lalu Pein berjalan mendekat ke arah Naruto. Naruto pun hanya diam melihat Pein mendekat. Sorot mata Pein begitu tajam. Sekarang dia sudah berada di depan Naruto. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mereka. Semua orang yang melihat itu hanya terbengong.

"Siapa Namamu?" Tanya Pein memecah keheningan.

"Uzumaki Naruto." Jawab Naruto mantap.

"Kuharap kita akan bertemu lagi!" Lalu Pein pun berbalik. Dia bergerak meninggalkan Naruto.

"Ayo pergi! Kita harus mengobati Hidan. Dia terluka parah." Lalu segerombolan orang tadi segera mengikuti Pein yang berjalan meninggalkan Naruto.

.oOo.

"Waaahhh... Kau hebat sekali... Tadi gerakan itu sangat mengagumkan? Aku tidak menyangka kalau kau bisa mengalahkan salah satu orang berbahaya itu! Siapa Namamu?" Iruka tiba-tiba sudah berada di samping Naruto sambil memperhatikan tubuh Naruto dengan detail.

"hehehe... Terima kasih. Namaku, Uzumaki Naruto. Kau sendiri?" kata Naruto sambil berjalan dan mengambil tasnya. Iruka pun langsung mengikuti Naruto.

"Aku Iruka Umino dari kelas 11-2. Apakah kita bisa menjadi teman? Kau anak baru kan?"

Naruto berhenti lalu menghadap Iruka. "Haa.. Apa aku tidak salah dengar? Kau mau berteman denganku?.. Tentu saja bisa Iruka-Senpai. Hehehe. Aku anak baru di sini."

"Hahaha.. Sepertinya kau sangat senang. Dari mana kau belajar teknik bertarung seperti itu?" Tanya Iruka antusias. Dia tampak kagum dengan Naruto.

"Hehehe... Latihan, oh ya, apa kau kenal dengan mereka? Aku rasa mereka bukan murid sini." Naruto menoleh ke arah Iruka. Dia tampak mengerutkan keningnya.

"Tentu saja! Kau tidak tahu ya?" Iruka penasaran.

"Hmm.." Naruto menggelengkan kepalanya. Dia sebenarnya pernah melihat segerombolan orang dengan jubah bercorak awan merah itu. Tapi, dia lupa di mana dia melihatnya.

"Baiklah akan kujelaskan. Jadi, mereka itu adalah siswa dari SMU Akatsuki. Mereka dikenal sebagai anak berandalan yang biasa disewa untuk melakukan tindakan tidak baik. Seharusnya sih, mereka gak boleh berurusan dengan siswa SMU Konoha. Karena bisa merusak perjanjian. Tapi karena statusmu baru calon, Mungkin saja peraturan itu tidak berlaku." Jelas Iruka.

Setelah mendengar sedikit penjelasan dari Iruka, Naruto jadi ingat. Dia pernah melihat segerombolan orang dengan jubah seperti itu, di album foto kenangan SMU milik ayahnya, Minato Namikaze. Di foto itu tampak ayah Naruto sedang berjabat tangan dengan salah satu dari orang yang berjubah seperti itu.

"Memang apa perjanjiannya?" Tanya Naruto kembali.

"Aku tidak tahu pasti. Tapi denger-denger sih perjanjian damai gitu. Karena dulunya SMU Konoha dan SMU Akatsuki pernah berperang. Tapi setelah polisi bertindak. Dan pemegang SMU Konoha saat itu setuju untuk berdamai. Akhirnya terbentuklah perjanjian itu." Kata Iruka lagi.

"Oh... Memang siapa pemegang SMU Konoha saat itu?"

Iruka berpikir, "Hmm, siapa ya? Kukira namanya... Mit... Emm. Minkas.. Ah, iya! Namanya Minto Kaze." Kata Iruka menunjukan jari telunjuknya.

"Minto Kaze ya.. Dia pasti orang yang hebat. Aku jadi ingin bertemu dengannya..." Kata Naruto membayangkan orang yang disebutkan Iruka. Naruto tidak tahu, bahwa sebenarnya orang yang dimaksud Iruka adalah ayahnya sendiri. Ya, Minato Namikaze.

"Mungkin suatu saat kau akan bertemu dengannya. Masih berminat untuk pergi ke kantin? Kalau iya, aku akan mentraktirmu makan ramen." Iruka berjalan lebih cepat.

Naruto yang mendengar tawaran itu langsung tergiur. "Haaaa... Benarkah? Tentu... Aku sangat lapar... Kau baik sekali Iruka-Senpai. Padahal kita baru kenal." Naruto mengeluarkan mata blingnya sambil berjalan mengikuti Iruka.

"Hehehe... Tak apa, itu sebagai tanda pertemanan kita. Baiklah, kalau begitu ayo cepat ikuti aku... Di sana biasanya ramai. Nanti kita bisa kehabisan." Iruka lalu berlari.

Naruto hanya mengangguk pelan meresponnya. Dia ikut berlari juga mengikuti Iruka, seniornya.

Di kantin, tepatnya Kedai Ramen Ichiraku, mereka makan bersama, yang tentunya diwarnai canda tawa di antara mereka. Di samping itu, mereka juga menceritakan kepribadian mereka masing-masing termasuk cerita masa SMP Naruto. Iruka tak menyangka ada seseorang yang memiliki masa lalu sama dengan dirinya. Ya, hidup sendirian tanpa teman di waktu SMP. Walaupun Naruto bersekolah di SMU Akademi yang terkenal akan siswanya yang brutal. Tapi Naruto begitu baik dan polos. Berbeda sekali dengan berita yang beredar.

-Prologue End!-

Bersambung... .


Awalnya aku rada bingung dalam pembuatan prolognya. Tapi karena ide mengalir sedemikian derasnya, aku tulis aja semua yang ada dipikiranku. Shishishi...

Selanjutnya aku berencana menampilkan NaruHina Moment!

kelanjutan cerita, tergantung dari penilaian pembaca semua. Aku lanjut kalau menurut kalian bagus or Delete kalau gak bagus?!

Jadi, please Review!

Thanks For Reading! ;-)