Disclaimer: Kuroko no Basuke was created by Tadatoshi Fujimaki x Sailor Moon was created by Naoko Takeuchi

Pair: Kagami x Rei

Warning: OOC, Typo dsb

Summary: Fanfic ini bercerita tentang kisah cinta Taiga Kagami-kun dan Rei Hino-chan. Di chapter ini, mengisahkan awal pertemuan mereka hingga waktu memisahkan mereka di masa kecil. Sedih banget, ya... *menangis* T^T

Chapter 1: Aku Akan Segera Kembali Reiko-chan

Seorang gadis kecil berusia 7 tahun menangis di bawah pohon besar. Di hatinya tersimpan kesedihan yang cukup mendalam. Dia kesepian karena tak ada teman yang menghiburnya.

"Hei..." suara seseorang menyapanya.

Gadis kecil itu berhenti menangis. Dia lalu mengangkat wajahnya. Dilihatnya, seorang anak laki-laki berdiri di hadapannya.

"Kenapa kamu menangis di tempat seperti ini?" tanyanya.

"Aku... Aku... Kesepian... Aku tak punya teman yang menemaniku dan menghiburku... Ibuku sudah meninggal dan ayahku pergi meninggalkanku karena urusan pekerjaannya..." jawab gadis kecil itu sambil terisak.

"Apa tak ada orang lain yang menghiburmu?"

"Aku hanya tinggal dengan Kakekku. Tapi, aku butuh seorang teman yang mungkin bisa mengajakku bermain bersama... Tapi... Tak ada seorang pun yang ingin bermain denganku..." Lalu, dia menangis lagi.

Anak laki-laki itu hanya memperhatikan gadis kecil itu yang sedang menangis. Kemudian, dia berkata, "Kalau begitu, maukah kamu berteman denganku?"

Kata-kata itu membuat gadis kecil itu berhenti menangis, lalu dia menatap anak laki-laki itu yang sebaya dengannya.

"Su, sungguh?" tanya gadis kecil itu, meyakinkan dirinya.

"Iya, sungguh. Aku akan selalu mengajakmu bermain bersama denganku. Aku janji..." katanya sambil tersenyum meyakinkan.

Mendengar itu, raut wajahnya berubah ceria. "Arigato... Mulai sekarang, kita akan menjadi teman. Oh, iya. Siapa namamu?" Gadis kecil itu menanyakan nama.

"Taiga Kagami. Yoroshiku... Namamu?"

"Rei Hino. Yoroshiku mo..." balas gadis kecil yang bernama Rei itu.

"Rei? Hmm..." Anak laki-laki yang bernama Taiga itu berpikir. "Apa aku boleh memanggilmu Reiko?" tanyanya polos.

"Reiko?" Rei keheranan mendengarnya.

"Iya, Reiko. Biar terdengar feminin," cetus Taiga nyengir.

Rei cemberut. Dia memanyunkan bibirnya. "Berarti namaku gak feminin, begitu?"

Taiga tak menjawab, malah tertawa kecil. Lalu, dia berlari menjauhi Rei. "Kenapa? Kamu gak suka, ya?" tanyanya menggoda.

"Ih, kamu ini..." Rei berlari mengejar Taiga. Akhirnya, mereka jadi main kejar-kejaran. Itulah awalnya mereka pertama kali bertemu. Taiga dan Rei menjadi teman sepermainan.

Sesuai dengan janjinya, setiap hari Taiga mengajak Rei bermain bersama. Mulai dari petak umpet sampai main ayunan. Rei sangat senang karena punya teman yang menyenangkan seperti Taiga. Rei merasa dialah yang menemukan keceriaan hidupnya.

Seiring berjalannya waktu, lama kelamaan hubungan mereka semakin dekat. Mungkin lebih dari teman sepermainan. Rei perlahan-lahan menaruh hati pada Taiga. Begitu juga sebaliknya. Tapi, mereka adalah anak kecil yang masih belum bisa memahami artinya cinta. Mereka masih tetap berteman meskipun bibit cinta tertanam di hati mereka.

Namun, siapa sangka ini adalah hari terakhir mereka bersama. Setahun kemudian, ketika mereka duduk di pinggir sungai sehabis bermain, Taiga berkata, "Reiko-chan, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu..."

"Iya, apa itu, Taiga-chan?"

"Begini... Um... Ini serius, Reiko-chan. Mungkin hari esok kita nggak akan bisa bertemu dan bermain bersama lagi," jawabnya dengan suara merendah.

"Apa maksudmu?" tanya Rei tak mengerti. Taiga terdiam sesaat.

"Aku akan pindah ke Amerika dan sekolah di sana," jawab Taiga pelan.

"Apa?!" Betapa terkejutnya Rei mendengar berita itu. Suara Taiga cukup pelan, tapi itu bisa membuat Rei kecil seakan disambar geledek. Hatinya begitu perih. Takut akan kehilangan teman baiknya itu.

Taiga menoleh ke arah Rei. "Maafkan aku, Reiko-chan. Aku..."

"Kenapa kamu baru bilang sekarang?" potong gadis itu spontan setengah berteriak, berusaha menahan air matanya. "Kamu adalah teman terbaikku. Yang mengisi hari-hariku. Aku sayang sama kamu. Aku tak mau kehilanganmu..." Kemudian, bibir gadis itu bergerak-gerak, mau menangis.

Taiga termenung. Dia sepertinya merasakan apa yang dirasakan Rei. Dia juga sedih dan takut.

"Aku juga sayang kamu, Reiko-chan hingga aku tak mau meninggalkanmu. Aku bisa saja menolak Ayah pindah ke Amerika. Tapi, aku akan tinggal dengan siapa?"sahutnya, lehernya seakan mau dicekik.

Rei terdiam. "Taiga-chan..."

"Ini bukan salahku, Reiko-chan. Pekerjaan Ayah-lah yang menjadi masalahnya... Aku... Aku pun juga nggak nyangka aku harus meninggalkanmu," katanya serak.

"Jangan bilang kita harus berpisah," cetus Rei sedih. Air matanya tak dapat dibendung lagi. Air mata itu turun membasahi pipinya.

Taiga menunduk, tak mengucapkan sepatah kata pun. Dia rasanya ingin menangis, tapi dia sadar kalau dirinya laki-laki. Harus kuat menghadapi ini.

"Reiko-chan," ucap Taiga akhirnya.

"Ya?"

"Aku nggak ingin berpisah denganmu. Karena itulah, aku memberimu ini..." Lalu, dia mengeluarkan sebuah kalung perak bertuliskan "Reiko" dari kantong celananya.

"Kalung?"

Taiga mengangguk. "Ya, kalung ini akan kuberikan padamu. Supaya kamu bisa mengingatku saat aku ada di Amerika."

Rei mengambil kalung itu yang diberikan Taiga kecil. "Indahnya..." gumamnya takjub.

Taiga tersenyum manis.

"Ano... Bisakah kamu memakaikannya untukku?" pinta Rei.

"Tentu saja." Kemudian, dia mengambil kalung itu dan melingkarkannya di leher Rei. Rei menyingkirkan rambutnya agar Taiga tidak kesulitan memakaikannya.

Rei tersenyum melihat kalung yang melingkari lehernya. Kalung itu begitu indah.

"Arigato, Taiga-chan. Dengan kalung ini, aku akan selalu mengingatmu..." ucapnya penuh semangat.

Mendengar jawaban Rei, Taiga mengecup kening Rei. Rei tersentak kaget. Perlahan wajahnya memerah.

"Aku senang mendengarnya, Reiko-chan. Kalau begini, aku bisa tenang," ujar Taiga setelah melepaskan ciumannya. Lalu, dia berlari menjauhi Rei.

Tak lama, dia berhenti berlari dan menoleh Rei yang masih berdiri di sana. "Reiko-chan! Aku janji. Aku akan selalu mengingatmu di Amerika. Aku akan segera kembali, Reiko-chan...!" teriak Taiga sekeras-kerasnya agar Rei bisa mendengarnya.

Rei balas berteriak. "Iya, Taiga-chan! Aku percaya padamu. Janji, ya!"

Anak laki-laki itu tersenyum, lalu nyengir. Kemudian, dia melanjutkan larinya sampai sosoknya menghilang.

Taiga-chan, aku percaya kamu akan segera kembali. Aku berharap di waktu lain, kita bisa bertemu dan bermain bersama lagi, kata Rei di hati kecilnya. Dia memegang kalung di lehernya dengan harapan dia bisa bertemu lagi dengan teman baiknya, Taiga.

~to be continued~

Gimana kisahku, minna-san? Baguskah? Kalau bagus, kulanjutkan...

Aku terinspirasi membuat fanfic ini karena Taiga-kun dan Rei-chan sangat cocok jadi couple meskipun dari Anime berbeda. Nama belakang mereka sama-sama mengandung makna membakar... #ciyeee_lebay

Aku harap kalian mau menunggu kelanjutannya. Jangan lupa beri komentar agar aku sebagai penulis FF ini semangat menyelesaikannya.

Arigato gozaimasu...! \ ^o^ /