Gundam Seed/Destiny © Bandai, Sunrise—Matsuo Fukuda and team
Tidak ada keuntungan material yang didapat dari cerita ini
SEMBILAN ©2015 Vereinigte Autoren
Athrun melempar tatapan membunuh pada siapa pun yang berani memperhatikannya. Pemilik rambut biru tua itu mengertakkan giginya dan memalingkan wajah, membiarkan rambutnya yang agak panjang menyembunyikan wajah pucat itu.
Kenapa semua orang terlihat bahagia? Bagaimana bisa mereka dengan santainya berbelanja di cuaca yang secerah ini? Kenapa mereka terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa? Tidakkah mereka berduka? Seseorang yang sangat baik dan begitu peduli pada kehidupan mereka baru saja meninggal. Meninggal! Bagaimana bisa mereka tetap tertawa dan bercanda seperti itu?
Athrun mempercepat langkahnya. Ia benar-benar bodoh. Tentu saja mereka tidak tahu. Lenore Zala bukanlah orang yang suka bergerak di bawah sorotan lampu. Dia akan membaur seperti masyarakat biasa dan ikut berbincang seolah terlibat permasalahan yang sama. Padahal sebenarnya, otaknya yang cerdas sedang berputar memikirkan solusi di balik alisnya yang berkerut penuh simpati. Dia akan menghabiskan malamnya berdiskusi panjang dengan sang suami yang masih seorang pejabat tingkat bawah dalam pemerintahan kota untuk memutuskan tindakan yang paling tepat. Tidak perlu ada kamera, tidak perlu ada pena dan kertas, atau pun alat perekam untuk mencatat jejak perjuanganannya untuk masyarakat. Begitulah Lenore bekerja, sosok seorang pejuang yang Athrun idolakan.
Sosok itu baru saja meninggal dunia dua hari yang lalu.
Athrun terlonjak saat wajah tersenyum berwarna putih dengan corak hijau, kuning, dan biru di bagian tepinya muncul tepat di hadapannya. Ketika pemuda bertopeng dengan topi sherlock itu mengeluarkan sebuah koin dengan telunjuk dan ibu jari tangan kanannya, laki-laki bermata zamrud itu mengerang.
Sang pesulap jalanan bertopeng mengeluarkan sekeping koin lagi tepat di samping koin pertama. Ia mengambil satu langkah mundur dan mengangkat tangannya dengan dramatis, menenggelamkan kedua koin itu dalam kepalan tangannya, mengangkat koin pertama, dan tiba-tiba saja koin kedua sudah berada antara dua jemari di tangan kirinya. Ia melakukan trik itu beberapa kali dengan semakin cepat dan gaya yang berbeda. Para pejalan kaki yang berhenti untuk menyaksikan bertepuk tangan penuh kagum.
Athrun menggerak-gerakkan kakinya tidak sabar. "Trik klasik amatiran." Ia menggerutu.
Entah orang itu mendengar komentar sinis Athrun atau karena hal lain, sang pemuda bertopeng sepantarannya itu langsung mendekatkan wajahnya ke arah Athrun dan menggerak-gerakkan telunjuknya seperti guru yang menegur murid. Orang itu berbalik dan mengambil sebuah buku sketsa besar dari koper penuh properti yang terbuka tidak jauh darinya.
Dia menunjukkan buku sketsa itu ke penonton sebelum berhenti menghadap Athrun. Dibukanya sampul depan dan ia mulai menggambar sebuah lingkaran besar, dua titik hitam dalam lingkaran, dan, untuk sentuhan terakhir, ia menorehkan garis melengkung ke bawah dengan perlahan sembari menggelengkan kepalanya pada sang anak laki-laki dengan masalah kondisi emosi yang turun.
Athrun marah. Ia hampir maju, menyambar buku sketsa di depannya, dan merobek gambar bodoh yang jelas-jelas menyindirnya itu.
Sang pemuda bertopeng langsung berdiri tegak dan mengangkat satu tangannya. Ia membuka halaman baru dan menggambar lingkaran dan titik yang sama, namun kali ini dengan kurva terbuka ke atas—garis dengan kurva terbuka ke atas yang sangat lebar. Ia menutup buku itu, memegang kedua tepinya di depan dada seperti sedang mengeran, dan—
Duk!
Sebuah bola kuning berwajah tersenyum berukuran sedang jatuh begitu saja di antara kedua kakinya. Sang pemuda bertopeng langsung menutup gambar mulut di topengnya seolah berkata, ups, dan mebuka gambar terakhir di buku sketsanya yang sekarang hanya berisi bekas hapusan.
Athrun mengerjap. Ia mengerjap lagi. Entah karena pengaruh tepuk tangan riuh dan tawa yang meledak dari para penonton atau bukan, tawa anak laki-laki itu ikut pecah. Ia tertawa dan tertawa dengan lepas sambil memegangi perutnya. "Apa-apaan itu? Kau seperti buang air besar—yang sangat besar."
Sang pesulap jalanan muda mengangkat topinya dan menunduk memberi salam pada hadirin yang masih bertepuk tangan dan melemparkan koin ke dalam kaleng susu yang disediakan. Pemuda itu memerhatikan Athrun untuk beberapa lama sebelum menepuk-nepuk puncak kepala yang lebih pendek satu-dua senti darinya itu. Ia menyodorkan sebatang permen susu dengan tangan yang terbungkus sarung tangan putih.
Mata zamrud itu sedikit berbinar, bukan karena ia sangat suka permen, namun lebih karena tidak menyangka masih ada saja orang yang akan memberinya permen susu di usianya yang sudah menginjak bangku SMP. Ia tidak peduli apakah orang itu sengaja menghiburnya karena ia tahu ia butuh sesuatu untuk menariknya dari segala aura depresi yang mengurungnya beberapa hari terakhir atau ia hanya melakukan pekerjaannya. Yang mana pun itu, Athrun bersyukur. "Trims," ujarnya tulus. Segaris seringai terkembang di wajah muda itu. "Bukan trik yang hebat, tapi lumayan menghibur. Keren."
Sang pesulap mundur beberapa langkah, meninju bahu Athrun pelan, dan kembali menutup rambut pirangnya yang dikuncir dengan topi abu-abu klasik yang dikenal semua orang.
Chapter 1 - Athrun
How We Met
Hari itu dimulai bukan oleh seorang pemuda yang terbangun ketika burung-burung gereja bernyanyi dan terbelalak begitu melihat angka yang tertera pada jam di atas nakas. Tentu saja tidak, Athrun Zala adalah seorang pemuda yang terbiasa hidup mandiri dan teratur. Hal itu tidak mungkin terjadi.
Ia menekan tombol alarm di dering pertama, menghabiskan sepuluh menit setiap paginya di kamar mandi, dan langsung ke bawah untuk menyiapkan sarapan untuknya dan sang ayah: secangkir kopi, segelas susu, dua potong roti panggang tanpa sirup, dan sebuah apel. Terkadang mereka menyantap panekuk dan jus jeruk di hari Kamis.
Athrun duduk di waktu yang sama dengan dengan kemunculan sang ayah. Patrick Zala juga orang yang teratur. Pria dengan rambut klimis itu muncul pukul tujuh setiap paginya jika sedang tidak bertugas di luar kota dan selalu duduk di kursi terdekat dengan pintu keluar. Athrun bisa melihat kolom yang menampilkan berita tentang orang hilang di surat kabar yang sedang dibentangkan oleh ayahnya, surat kabar yang selalu tersedia setiap pagi di atas meja makan.
Tidak ada sapaan mau pun kontak mata yang ditukar. Bukan karena keduanya sama-sama pendiam, bukan juga karena mood bangun tidur yang masih terbawa. Keheningan itu diselipi ketegangan tipis yang hampir tak terasa saking kronisnya aura berat itu ada. Athrun tidak ambil pusing, toh ia mulai terbiasa.
Athrun adalah orang yang mandiri dan teratur. Karena itu juga di hari kedua tahun pertamanya di bangku SMA, ia tidak perlu berlari dengan panik karena terlambat ke sekolah dan menubruk seorang gadis di tengah jalan sampai harus membantu memungut barang-barang sang gadis yang tercecer dan tak sengaja bersentuhan tangan, lalu keduanya saling bertatapan. Waktu seolah berhenti berjalan.
Tidak.
Ia berhasil menghindar ketika seorang gadis berambut pirang berlari tanpa melihat jalan tepat ke arahnya dari arah berlawanan. Ia memerhatikan punggung sang gadis berambut pendek itu yang menukik tepat beberapa meter di belakangnya dan masuk ke gerbang yang hampir saja ia lewati.
Itu baru namanya semangat, batin Athrun dengan sedikit decak kagum.
Meski pemuda itu menyadari banyak gadis yang memerhatikannya dengan pandangan terpesona dan haus akan perhatian, Athrun tidak terjebak. Ia memilih untuk selalu berjalan bersama teman-temannya: sebagian baru, sebagian teman lama. Athrun sudah belajar dari pengalaman, meladeni gadis-gadis penggemar meski hanya dengan senyum formalitas atas dasar kesopanan hanya akan membawa bencana—bagi dirinya mau pun salah satu dari penggemarnya yang nekat mengambil tindakan.
Masa SMA adalah masa-masa remaja yang sangat menentukan. Masa depannya, mau pun kenangan yang ingin ia ingat di masa tua. Karena itu ia menyingkirkan masalah yang selalu menghantui rumahnya selama bertahun-tahun sejauh mungkin dan tersenyum lebar begitu sahabat sejak kecilnya melambai ke arahnya dan teman-temannya.
Ketika ia secara reflek memegang lengan—setengah memeluk, sebenarnya—seseorang yang baru saja menubruknya untuk menyeimbangkan diri dan mencegah cedera lebih lanjut, ia tidak menyangka akan mendapatkan sebuah pukulan telak di hidung.
Ia terdorong ke belakang sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Sang pelaku—gadis berambut pirang yang sangat mirip dengan sosok yang hampir menubruknya tadi pagi—tersentak dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak kalah terkejut.
Suara derit pintu yang terbuka dari atas membuat gadis itu tersadar dari keterkejutannya. "Minggir!" Ia mendorong tubuh Athrun ke samping dengan satu tangan dan berjalan dengan langkah besar-besar meninggalkannya.
Suara langkah kaki yang menggema terdengar semakin dekat. "Oh, Athrun? Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini," sapa seorang pemuda berambut cokelat yang baru saja menuruni tangga yang ada di belakang Athrun. "Ini," ujarnya sembari menyerahkan sehelai sapu tangan berwarna putih.
"Apa aku baru saja dihajar saudaramu?" Athrun menoleh ke arah Kira—nama sang pemuda—sejenak untuk mengambil sapu tangan itu sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke arah sang gadis tadi pergi. "Seriusan, kalau kalian bertengkar, tolong ajarkan dia untuk mengendalikan emosinya supaya tidak merambat ke orang lain." Suaranya terdengar sengau saat berbicara.
"Maaf soal itu." Kira tertawa miris dan menuruni satu anak tangga lagi. Keduanya mulai berjalan menyusuri lorong menuju toilet. "Ngomong-ngomong, dari mana kau tahu dia saudaraku? Setahuku aku belum pernah mengenalkan kalian berdua."
Athrun mengendikkan bahunya. "Kalau melihat kondisi seragammu yang acak-acakan—bekas cengkraman di kerah, dasi yang terlalu kencang dan tidak simetris—dia pasti marah padamu bukan dengan cara seorang pacar yang sedang marah dengan kekasihnya. Tamparan di pipi mungkin cukup, tapi kau tidak mendapatkannya. Kau juga bukan tipe orang yang akan berpacaran dengan gadis tomboy dan kasar, jadi tidak mungkin 'keberantakanmu' ini disebabkan pertengkaran dengan kekasih—atau sesuatu yang lebih nakal," ia mengedipkan satu matanya ke arah sang teman, "dan lagi kalian cukup mirip. Sejak mengenalmu di bangku SD dan berkali-kali main ke rumahmu, yang kutahu kau anak tunggal. Jadi, sepupu, mungkin?"
Kira tertawa. "Baiklah, Sherlock, kau benar, dia memang saudaraku." Tawanya meredup seiring senyumnya yang menggantikan. "Saudara kembarku, sebenarnya."
Athrun berhenti. "Ap—hah?"
Kira ikut berhenti beberapa langkah di depan Athrun dan menatap teman sejak kecilnya itu dengan seringai lebar. "Dia marah karena aku jarang menghubunginya beberapa tahun belakangan. Kami sama-sama tidak menyangka akan bertemu di sekolah yang sama setelah dia tinggal cukup lama di Orb sebelum pindah ke sini. Dan dia langsung melabrakku habis-habisan."
"Ta-tapi, kau tidak pernah memberitahuku." Otak Athrun masuk ke mode berpikir, backward dan forward. "Lalu rambut pirangnya itu ... apa dia mengecatnya?" Karena setahu Athrun, rambut ibu Kira biru tua dan ayahnya berwarna hitam. Oh, heck, sampai sekarang ia bahkan masih tidak mengerti dari mana Kira mendapat warna cokelat untuk rambutnya.
"Aku tidak pernah cerita?" Mata ungunya sedikit membulat. Ia menggaruk-garuk tengkuknya sejenak. "Um, yah intinya sejak kecil kami hidup terpisah meski masih saling menghubungi satu sama lain. Ceritanya panjang. Oh, dan rambutnya asli."
Athrun paham kapan seseorang tidak ingin membicarakan sesuatu, jadi ia tidak menanyakannya lebih lanjut. Ia mengganti topik. "Hei, kau sudah lihat beritanya di internet? Katanya Sherlock season 4 kemungkinan diundur sampai tahun 2017 karena Benedict mendapat peran sebagai Dr. Strange di MCU. Dua ribu tujuh belas! Bisa kau percaya itu? Itu sangat, sangat lama!"
Kira memutar bola matanya dan kembali mengambil langkah. "Terkadang aku bingung kau itu Sherlock Holmes atau John Watson, Athrun. Reaksimu barusan benar-benar seperti dr. Watson yang mengetahui kalau Sherlock tidak mati." Pemuda itu menggeleng dengan seulas senyum tipis. "Fanatik."
"Hei! Kau juga menontonnya! Dan akui saja, kau juga suka, kan?"
"Tidak separah kau."
Athrun hampir melompat berdiri saat menemukan saudara kembar Kira duduk di sebelahnya dengan kedua kaki terjulur. Ia mengedarkan pandangannya ke lapangan olahraga dengan beberapa murid yang masih sibuk menyelesaikan tugas lari mereka, termasuk Kira. Sial. Sekarang ia merasa canggung. Meski ia tidak punya kewajiban apa pun untuk mengajaknya bicara, ia merasa harus melakukannya karena fakta sederhana kalau gadis berambut pirang di sebelahnya ini adalah saudara sahabatnya. Tidak masuk akal, memang. Oh, ya sudahlah.
Akhirnya, Athrun berdeham dan dengan hati-hati berkata, "Uh, hai," gadis itu menoleh cepat, membuat wajah penuh keringat itu terlihat jelas, "jadi kau ... saudara kembar Kira? Kira Yamato?"
Mata hazel itu melebar. "Dari mana kau tahu?"
Athrun mengendikkan bahunya. "Yah, aku, bisa dibilang, teman baik kakak—"
"Adik."
Pemuda berambut biru itu dibuat terperangah. "Ya?"
Gadis itu berusaha menyentuh jari-jemari kakinya dengan telunjuk. "Dia adikku, bukan kakak." Ia kembali duduk tegap, "Dan kau adalah ...?"
"Ah, kita memang belum kenalan, aku Athrun Zala. Kelas yang sama dengan ka—adikmu, 1C," jawabnya, "dan ... eh ... sebenarnya kemarin kau sudah meninju hidungku."
Satu detik ... dua detik ... gadis itu terbelalak dan langsung menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangan. "Astaga! Kau orang itu! Maafkan aku! Maaf! Aku memang agak cepat marah dan kalau sedang bad mood sering melampiaskannya pada siapa saja. Aku benar-benar menyesal!" Ia menunduk dalam-dalam. "Maaf!"
"Ah, tidak apa-apa. Tenanglah," balas Athrun. Sekarang justru ia yang merasa tidak enak.
"Ukh, tentu saja bukan tidak apa-apa." Gadis itu memalingkan wajahnya dengan sedih. "Aku bahkan kena marah Kira semalam karena itu."
"Apa? Kau memarahi Kira habis-habisan kemarin siang dan Kira gantian memarahimu kemarin malam?"
"Aku tahu. Aneh, ya."
"Tidak. Lebih ke lucu, sebenarnya."
"Sama saja, tahu."
Athrun memutuskan untuk kembali ke jalan yang benar. "Jadi, namamu ...?"
"Ah. Aku Cagalli Yula Athha." Ia tersenyum. "Senang berkenalan denganmu, Zala."
Ah, itu menjelaskan kenapa aku tidak pernah melihatnya selama ini di rumah Kira. Nama keluarga mereka berbeda. Athrun semakin yakin kalau ia harus menghindari topik itu saat mengobrol dengan keduanya.
"Panggil Athrun saja. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah melihatmu di sekolah sebelumnya—di luar waktu kau memukulku dan sekarang, ah, dan waktu kau hampir melewati gerbang sekolah karena terburu-buru."
Wajah tembam itu merona. "Kau melihatnya? Oh, astaga, itu memalukan." Ia menggeleng. Cagalli terlihat berpikir sejenak. "Hm, kau bilang kau sekelas dengan Kira? Mungkin karena kalian di kelas sains. Kelas kita berbeda gedung, ingat?"
Mulut Athrun membentuk huruf 'O'. Tangannya menunjuk ke lapangan. "Jadi kelas yang jadwal olahraganya sama dengan kelasku itu kelas sosial—kelasmu?"
"Yup," Cagalli menjawab dengan penuh percaya diri, "mungkin kau belum tahu, dari kelas D sampai F adalah kelas sosial."
Athrun merengut mendengar hal ini. "Kenapa kaupikir aku tidak tahu? Aku juga baca pengumumannya."
Cagalli menyeringai. "Bagus kalau begitu." Gadis berambut pirang yang diikat satu itu menarik lututnya ke depan dada. "Jadi, Kira sudah cerita padamu soal aku?"
"Ya, baru kemarin sebenarnya—dan dia bahkan tidak memberitahu namamu." Ia melirik ke arah Cagalli lewat ekor matanya. "Hanya soal kau dan Kira yang tidak tinggal serumah sejak kecil."
Mendengar hal itu, dahi Cagalli berkerut. "Hanya itu? Apa dia tidak mau membicarakannya?" Ia menatap Athrun lebih intens. "Kau bilang kalian berteman baik. Kau tidak penasaran?"
Athrun tertawa hambar. "Oh, aku penasaran, sangat. Untuk pertanyaan pertama, entahlah, kurasa begitu."
Cagalli mengulum bibirnya. "Itu aneh." Kedua bahunya terangkat. "Mungkin dia lupa. Dia memang jarang cerita kalau tidak ditanya atau dia merasa masalah itu tidak terlalu penting untuk diungkit." Mata hazelnya kembali bertemu dengan mata zamrud Athrun. "Kalau kau memang penasaran, tanyakan saja. Kira pasti tidak keberatan menceritakannya."
Athrun merasa ragu. "Kau yakin tidak apa-apa? Maksudku ..." Ia sendiri bingung bagaimana menjelaskannya.
Cagalli memukul lengan kokoh pemuda itu. "Santai saja. Kenyataan kami tidak tinggal serumah memang bukan hal yang perlu diketahui banyak orang, tapi juga bukan topik tabu untuk dibicarakan. Lagipula kau sahabatnya. Kalau Kira bisa percaya padamu, begitu juga aku."
Athrun tersenyum.
Gadis itu kembali mengarahkan pandangannya ke lapangan. Ekspresinya berubah. "Ah, coba lihat. Kira benar-benar menyedihkan. Bagaimana bisa seorang laki-laki berlari malas-malasan seperti itu? Sudah sepuluh menit dan dia masih belum menyelesaikan larinya! Dia terlalu banyak berkutat dengan komputer dan bermain game di kamar. Pasti. Aku melihatnya sendiri waktu kemarin berkunjung. Laki-laki itu harusnya lebih banyak bergerak di luar ruangan dan beraktivitas! Iya, kan?"
Pemuda berambut biru tua itu menggeser tubuhnya sedikit, menjauh. "Ah ... ya ... kau benar."
Cagalli mengangguk-angguk puas. Sedetik kemudian, ia melempar teman barunya itu dengan tatapan sinis. "Jangan bilang kau juga ..."
"Apa?" Athrun bertanya balik, terlalu cepat.
Cagalli menggeram dan segera berdiri. "Aku tidak bisa percaya ini! Kalian berdua sama saja!" Gadis itu berjalan dengan kesal menuju lapangan.
"Oi—hei, Cagalli!"
Begitu kedua kelas itu melakukan pertandingan baseball campuran, Athrun memutuskan untuk menunjukkan 'kelaki-lakiannya' dalam olahraga. Ia memukul bola yang dilempar Cagalli sampai bola itu melambung tinggi dan membuat anak-anak kelas 1D mengejar bola dengan sumpah serapah. Athrun berlari tanpa ragu menuju base pertama.
"Tidak adil! Kau melawan perempuan!" sahut Cagalli.
"Aku tidak mengeluarkan seluruh kekuatanku!" Athurn balas menyahut, masih berlari menuju base kedua.
"Apa!? Kau meremehkanku? Kerahkan seluruh kemampuanmu, sialan!"
Athrun tidak bisa menahan tarikan di kedua sudut bibirnya. Ia mengabaikan Kira yang bersiap memukul sambil memberinya isyarat tarikan telunjuk di leher. Athrun terus berlari dengan seluruh kekuatannya.
Kau yang minta.
Athrun baru saja selesai membeli novel thriller yang ia incar sejak seminggu lalu ketika ia menemukan sekumpulan anak muda bergaya punk berbelok memasuki gang kecil.
Ia akan mengabaikannya kalau saja sosok berambut pirang yang awalnya ia kira laki-laki ternyata adalah teman satu sekolahnya. Lebih buruk lagi, adik perempuan sahabatnya.
Atau kakak? Terserah.
Pemuda berkemeja merah kotak-kotak di atas kaos hitam itu dibuat dilema. Berbagai dugaan buruk menyerang otaknya sekaligus. Ia ingin sekali diam soal ini karena hal ini bukan urusannya—dan pastinya mengarah ke sesuatu yang lebih kompleks dari hubungan-sedarah-tidak-tinggal-serumah yang baru ia temukan dari dua saudara itu—tapi hati nuraninya berkata lain.
Apa pun yang Cagalli lakukan dengan orang-orang seperti itu pasti tidak baik. Narkoba? Penyelundupan bebas? Athrun merutuki dirinya sendiri. Terkadang ia sadar terlalu banyak menonton film dan membaca buku misteri tidak baik untuk kondisi psikologisnya. Apa pun itu, di atas semua itu, ia khawatir.
Lagipula bagaimana reaksi Kira kalau tiba-tiba ia datang dan berkata, "Hai, uh, aku melihat adikmu pergi dengan segerombolan anak punk dan dia juga berpenampilan seperti mereka. Aneh, kan? Kau tahu soal itu?"
Lalu Kira hanya akan menatapnya tajam seolah berkata, "Dan kau membiarkannya begitu saja?"
Itu tidak akan terjadi.
Athrun langsung berlari mengejar mereka sebelum ia berubah pikiran. "Cagalli!" Ia memanggil lebih keras. "Cagalli!"
Anak-anak muda dengan pakaian serba hitam itu berhenti dan menoleh dalam waktu bersamaan, mengarahkan berpasang-pasang mata tajam dengan celak hitam itu padanya.
Athrun menelan ludah. Ia memberanikan diri mengambil langkah maju lagi sampai hanya berjarak satu meter dari mereka. Ia merasa lega saat mata bulat berwarna kuning kecokelatan itu mengenalinya dengan kedua alis terangkat. "Athrun? Apa yang kaulakukan di sini?"
Athrun memerhatikan gadis yang mengenakan kaos hitam bergambar tengkorak dengan rompi berkantung banyak itu. Rambutnya diikat satu agak tinggi, memperlihatkan beberapa tindikan di telinga kecilnya. Athrun ingin membalas, seharusnya aku yang bertanya begitu, namun ia lebih memilah kata-katanya. Ia melirik 'teman-teman' Cagalli dengan waspada. "Aku hanya sedang lewat waktu melihatmu dan kupikir tidak ada salahnya menyapa." Athrun berdeham. "Uh, hai?"
"Hai," balas Cagalli singkat, masih terlihat bingung.
Itu saja?
Keheningan canggung mengambil alih. Akhrinya, salah satu teman perempuan Cagalli yang berambut oranye memotong. "Cagalli, kita membuang waktu. Ayo! Kita cuma punya sepuluh menit," bisiknya tidak sabar.
Terbangun dari kebingungannya, Cagalli segera menoleh ke arah sang teman. "Ah, iya." Gadis itu kembali menghadap Athrun. "Maaf, Athrun. Aku harus ..."
"Apa?" desaknya. Jantungnya berdetak lebih cepat mengetahui kesempatannya hampir habis.
Akhirnya seorang teman Cagalli yang lain ikut maju. "Bung, kau bisa masuk lewat pintu depan dan menunggu Cagalli kalau kau memang perlu bicara banyak dengannya. Kalau kau cuma mau menyapanya, kurasa kau sudah selesai," omel laki-laki berambut cokelat muda agak bergelombang itu.
"Tolle!" tegur gadis berambut oranye tadi.
"Apa?" Tolle membalas. Dua teman mereka yang lain hanya diam memerhatikan. "Kalau dia masuk lewat pintu depan dan menonton, akan lebih banyak dana yang bisa didonasikan, kan?"
Donasi? Oke, Athrun semakin bingung.
"Benar, sih ..."
Sebelum perdebatan baru kembali pecah, Cagalli maju. "Seperti yang kau dengar, Athrun, aku tahu kau bingung, tapi kita akan bicara setelah ini selesai, oke? Kau boleh pulang, tapi kalau kau punya waktu luang, kuharap kau bisa datang dan menontonnya—lewat pintu depan."
Athrun mengerjap. "Pintu depan apa?"
Kedua alis Cagalli bertaut seolah ia baru saja mendengar seseorang berbicara bahasa alien. "Pintu depan teater, tentu saja," jawabnya. Merasakan satu tarikan lagi di lengannya, Cagalli cepat-cepat menyudahi. "Sampai nanti! Maaf!"
Gerombolan anak muda punk itu pun menghilang di balik pintu besi tua di dinding bata sebelah kiri.
Athrun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan berputar. "Teater apa tadi?"
Ternyata, tebakan Athrun meleset—dan ia bersyukur tebakannya kali ini meleset.
Ia tersenyum melihat banyak anak-anak bersama orangtua mereka berteriak dan mengomel dengan antusias mengomentari pertunjukkan sederhana yang berlangsung. Pertunjukan itu bercerita tentang seorang gadis pemberani yang berhasil menumpas kejahatan, melawan penjahat, dan mengajak mereka kembali pada kebaikan. Athrun tertawa begitu melihat Cagalli dan teman-teman 'penjahatnya' duduk bersimpuh penuh penyesalan, seperti murid-murid bela diri di dojo yang sedang mendapat kuliah tentang arti hidup dari gurunya.
Gadis setinggi 164 cm itu sempat melambai dan menatapnya penuh terima kasih di akhir pertunjukan begitu keduanya bertemu pandang. Athrun balas tersenyum. Tidak lama setelah semua pengunjung keluar, Cagalli menghampirinya dan membawanya berkeliling ke bagian belakang panggung.
"Aku tidak menyangka kau tertarik dengan seni teater. Kukira kau lebih ke arah bela diri atau olahraga lain," celetuk Athrun. Matanya menjelajah ke karung-karung pasir yang digantung dengan tali tambang dan terhubung dengan katrol yang mengendalikan tirai. Ruangan dengan sedikit bau apak itu diterangi cahaya kekuningan dengan beberapa properti dari kayu, gabus, dan kardus yang dicat dan dibentuk berbagai macam dan disandarkan bertumpuk-tumpuk di dinding. Beberapa orang masih sibuk membereskan properti dan melepaskan kostum mereka.
"Apa? Hanya karena aku sedikit tomboy dan suka olahraga?" balas gadis itu sembari menggantung rompinya di rak kostum. Ia menaruh gelang-gelang bergerigi ke dalam kotak asesoris di atas meja di sebelahnya.
"Kurang lebih." Pemuda berambut biru tua itu mulai mengitari ruangan luas penuh perlengkapan itu dengan ketertarikan. Ia bahkan bisa melihat banyak bekas goresan halus di lantai kayu yang usang.
Cagalli tertawa. "Bukan komentar pertama yang kudapat. Sebenarnya aku tertarik dengan seni sejak pamanku yang nyentrik mengenalkanku waktu SMP. Aku memanggilnya Paman Andrew—penggila kopi sejati. Kalau kau bertemu dengannya, kau tidak akan menyangka ada begitu banyak jenis kopi yang bisa disimpan dalam satu lemari—dan dia akan bilang kalau koleksinya hanya 20% dari seluruh jenis kopi yang ada di dunia." Athrun bisa membayangkan gadis itu memutar bola matanya. "Dia mengenalkanku dengan teman-temannya yang ahli sulap dan mereka mengajariku beberapa trik. Aku pernah ikut tur kecil-kecilan dengan mereka waktu liburan musim panas. Pengalaman yang hebat."
Athrun mengangguk-angguk. "Dan kau memutuskan untuk bergabung ke komunitas teater setelah pindah ke kota ini?" Ia membongkar kardus besar berisi berbagai macam topeng, jubah, dan pedang kayu buatan tangan.
"Tidak juga." Cagalli mengambil jeda sejenak. "Keluarga teman sekelasku ternyata membeli teater tua ini setelah tidak aktif selama beberapa tahun—oh, kau tinggal lebih lama di sini, kau lebih tahu—dan memutuskan untuk membuat semacam projek amal. Hasil penjualan tiket seluruhnya akan didonasikan. Dia mengajakku bergabung setelah mengetahui ketertarikanku pada seni." Cagalli menghela napas berat. "Biasanya dia ikut tampil, tapi hari ini dia sibuk. Namanya Lacus Clyne."
Tubuh Athrun membeku. Ia berbalik cepat dengan mata membelalak. "Lacus Clyne?"
Cagalli sedikit terkejut melihat reaksi Athrun. "Ya. Kau mengenalnya?" Pemuda itu tidak menjawab. Meski terpisah tiga meter dan dengan penerangan yang kurang bagus, gadis itu bisa melihat sedikit rona merah yang mulai merambat dan pipi dan telinga temannya itu. Ia menyeringai jahil. "Apa ini? Kau naksir dia?"
Athrun berdeham dan kembali menyibukkan diri dengan kardus di depannya. "Semacam itu, tapi itu dulu—sudah lama berlalu."
"Heee." Nada menggoda itu tidak luput dari pendengarannya—yang tentu saja ia abaikan.
Perhatian Athrun kembali teralih begitu ia menemukan sebuah topeng berwajah tersenyum dengan corak hijau, kuning, dan biru di bagian tepinya. Ia meraih topeng itu dan mengangkatnya sejajar wajah. Pupilnya melebar. "Cagalli, ini topeng apa?"
"Oh, itu?" Athrun bisa mendengar langkah kaki gadis itu yang berjalan mendekat. Ia mengambil topeng itu dari tangan Athrun dan memutarnya beberapa kali. "Ini topeng yang pernah populer di kalangan seniman jalanan. Kau bisa membelinya di toko seni atau kostum mana pun. Bahkan pernah ada yang melakukan semacam pertunjukan kompilasi dengan kostum seragam dan topeng ini."
Cagalli menarik tali yang terhubung dengan topeng melewati kepalanya dan mengambil satu langkah mundur. "Aaah, sudah lama sekali. Bagaimana penampilanku?" tanyanya dengan suara sedikit teredam.
Athrun bungkam. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, memasukkan kedua tangannya ke kantung celana, dan menegakkan punggungnya.
Terkadang ia memang merutuki cara berpikirnya yang sering kali terlampau curiga dan mengarah ke hal-hal negatif karena terlalu sering membaca atau menonton cerita misteri. Terkadang juga, ia bersyukur karena berkat itu semua, kemampuan analisisnya meningkat. Athrun tidak menyangka ia akan menemukan potongan yang ia kira tidak penting dalam hidupnya, namun di sinilah ia, menemukannya begitu saja di depan matanya, potongan dari masa lalunya yang ia kira tidak penting namun sangat berkesan.
Karena tidak perlu seorang Sherlock Holmes untuk menyatukan kepingan-kepingan informasi yang ia dapat dan menegaskan bahwa sosok yang ia kira laki-laki tiga tahun lalu dan berhasil menariknya dari keterpurukan adalah seorang gadis. Postur tubuh itu, rambut pirang yang diikat itu, dan caranya berdiri, Athrun mengingatnya dengan jelas. Mungkin Cagalli tidak ingat apa yang dia lakukan untuk dirinya, tapi itu tidak penting. Sungguh, itu tidak penting.
"Keren." Athrun tersenyum lembut. "Terima kasih, Cagalli."
Cagalli memiringkan kepalanya dengan bingung.
To be continued ...
Halo! Halo! Ini fik pertama saya di fandom ini lho. Hehehe.
#Lalusayadihajarolehduaoranglainnya.
Bukan, bukan. Ini sebenernya fanfiksi kolaborasi antara tiga author. Penasaran siapa aja? Silakan mampir ke profil kami~
Ngomong-ngomong, trik sulap di atas diambil dari salah satu (atau salah dua?) pertunjukan Chad Chesmark. Dia semacam pesulap komedian gitu. Kalian bisa lihat pertunjukan dia di Youtube. Cukup menghibur kok #inibukanpromo. Ahahahaha.
Ah, kalau readers punya kritik atau saran atau komentar lainnya, kotak review terbuka dengan bebas. Stay tuned on Sembilan, ya! Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca!
