"Naruto" punya mbah "Masashi Kishimoto"

Tp fic ini punya "Yas-chan" dong~

NaruFemSasu

Hurt/comfort

WARNING : Abal, gaje, AU, Typo, gender bender, (agak) OOC, dll

#

#

Hari ini masih tetap sama, pagi datang, siang, sore, dan malam juga hadir. Tapi yang membuat malam hari ini berbeda adalah pemeran utama pria di fic ini, dia adalah Uzumaki Naruto. Pemuda pirang hiperaktif yang beriris mata biru bak langit tanpa awan, sedang diam, duduk di samping seorang gadis manis nan cantik, Uchiha Sasuke. Seorang gadis bersurai hitam panjang, dan mata oniks yang mempesona juga kulit putih bak porselen yang membalut tubuhnya.

Acara diam-diaman sepasang kekasih ini terusik oleh Naruto.

"A-aku tidak tau harus bicara apa. Meminta penjelasan akan keputusanmu, atau langsung memohon padamu untuk tidak meninggalkanku. Aku sungguh tak tau."Naruto menegakkan kepalanya dan pandangannya ia arahkan pada Sasuke. "Jadi, lebih baik aku menyerah bukan? Menyetujuimu yang ingin mengakhiri hubungan ini dan kau akan dengan leluasa berduaan dengan anak Hyuuga itu."Sasuke langsung menatap Naruto. Mata oniksnya sukses membulat dengan kesimpulan sepihak dari Naruto. Tapi Sasuke hanya bisa diam dengan seribu pembantahan yang ingin ia keluarkan.

"Baiklah. Aku rasa masalah kita sudah selesai. Semoga kau bahagia, Sasuke."dan Naruto berlalu, dengan sebelumnya memberikan senyum hangat tapi menyayat hati yang melihat.

Sasuke sungguh tak tau apa yang terjadi pada dirinya. Seharusnya Sasuke akan merasa lega saat ini, karna akhirnya ia bisa juga terlepas dari belenggu sang Uzumaki selama dua tahun menjalin kasih dengannya. Seharusnya juga ia senang karna kesempatannya menjalin kasih dengan pemuda yang –menurutnya– ia cintai sekarang sudah terbuka. Tapi kenapa saat ini ia malah menangis sendirian di bangku taman? Apakah ia menyesal telah mengambil keputusan ini? Apa ia merasa bersalah telah menyakiti hati sang Uzumaki? Sehingga hanya sesak di dada yang kini ia rasakan? Entahlah, tapi sekarang ia merasa menjadi gadis yang paling jahat.

Walau Sasuke ingin membantah kesimpulan Naruto tadi, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia meng-iyakan. Sasuke memang diam-diam berkencan dengan pewaris tunggal Hyuuga corp itu. Salahkan Hinata yang mengenalkan ia pada kakak sepupunya itu, dan salahkan juga hatinya yang –menututnya– bisa langsung jatuh cinta pada tutur manis dan sikap lembut yang di tunjukkan sang senpai.

Sasuke harus mengakuinya, bahwa ia bosan, ia jenuh dengan hubungannya dan Naruto. Ia adalah seorang gadis remaja yang masih senang bergaul, bermain, dan mencari pacar yang sesuai kriterianya, dan dengan menjalin hubungan dengan Naruto selama dua tahun dari sejak mereka berada di bangku kelas tiga SMP , ia sudah mencapai titik bertahannya. Di tambah sekarang ada seorang senpai yang ia sukai yang juga terang-terangan menaruh hati padanya, bisakah ia menolak?

Tidak.

Egonya terlalu besar sehingga ia lebih memilih menggapai apa yang ia sebut kebahagiaan dengan mengorbankan Naruto. Mengorbankan perasaan pemuda itu.

"Hiks…kenapa ak-aku malah menangis?"tanya Sasuke pada keheningan malam dan dinginnya udara. Sasuke lantas berdiri, menghapus jejak airmata di pipinya dan mulai melangkah pulang.

...

Tanpa di sadari Sasuke, ternyata Naruto masih ada di sana. Bersembunyi di balik pohoh yang cukup besar tidak jauh dari bangku taman yang di duduki Sasuke seorang diri.

Mana tega Naruto membiarkan keka –ralat– mantan kekasih yang masih sangat ia cintai itu pulang sendirian malam-malam begini. Naruto lebih baik mati bila harus mendapat kabar bahwa Sasuke di jahili oleh preman-preman saat ia meninggalkannya.

Setelah memastikan Sasuke sudah selamat sampai di rumahnya, Naruto langsung memacu langkahnya menuju rumah guru yang sangat ia sayangi, yang sudah ia anggap ayahnya sendiri, yang mulai besok akan di pindah tugaskan mengajar di kota Suna.

Sebenarnya hari ini ia benar-benar lelah. Kerja part time dari pulang sekolah dan baru saja ia akan pulang ke rumah dan istirahat, Sasuke menelpon mengajaknya untuk bertemu. Mau tak mau, karna memang ia sangat mencintai Sasuke, Naruto akhirnya datang juga ke taman. Dan kejutan yang Sasuke berikan padanya saat sudah bertatap muka adalah kejutan yang bahkan mampu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Hanya satu kalimat, 'Aku ingin kita putus.'.

Ya, putus. Sasuke dan Naruto memang menjalin hubungan sejak kelas tiga SMP, dan mungkin kalau di hitung sampai sekarang sudah hampir dua tahun mereka pacaran, dan sekarang akan kandas di sini.

Miris memang. Tapi apa daya, Naruto sudah merasakan ke bosanan dan ke jengahan Sasuke akan dirinya dan hubungan mereka, jadi seandainya kata putus itu terucap dari mulut Sasuke, ia kan menerimanya. Apapun, selama itu membuat gadis yang di cintainya bahagia.

'Sensei..'Naruto membatin membayangkan pembicaraan satu minggu lalu bersama Iruka-sensei. Pembicaraan yang bahkan ia tolak mentah-mentah akhirnya.

...

_fleshback_

"Sensei~"terlihat Naruto sedang bergelayut manja pada guru tercintanya. Iruka-sensei. (yas males ngasih penjelasan ciri-cirinya. Udah pada tau ini kan? Yg belom tau, kasian deh~#plakk)

"Mau bagaimana lagi Naru, aku tidak bisa menolak. Ini sudah pekerjaan dan kewajibanku."jawab iruka bijak.

"Tapi-"Naruto sudah akan protes lagi tapi keburu di potong Iruka.

"Aku sudah memikirkannya, bagaimana kalau kau ikut denganku? Aku tak ingin kau tinggal sendiri di kota besar ini. Apa lagi kakekmu dulu sudah menitipkanmu padaku. Jadi, kau mau ikut-"

"Tidak."jawab Naruto cepat dan langsung melepas gelayutannya dari tangan Iruka.

"Hah?"Iruka kaget juga bingung dengan jawaban Naruto yang cepat dan terkesan seperti orang membentak.

"Aku tidak bisa ikut. Karna...Sasuke."sambil mengatakan itu semburan merah dengan senang hati memenuhi wajah tan Naruto.

"Y-ya~kau dan cintamu. Terserahlah."balas iruka agak malu juga dengan cinta anak muda jaman sekarang.

"Hehehe~"dan yang bisa Naruto lakukan hanya menunjukkan cengiran gajenya.

_fleshback end_

...

"Hhaaah~sekarang tidak ada lagi alasan untukku tetap tinggal di Konoha."gumam Naruto dengan raut wajah sedih serta terluka.

'Kaa-san, Tou-san, aku akan ikut Iruka-sensei. Aku menurutimu, Kakek.'batin Naruto sambil menitikan airmatanya yang pertama sejak beberapa menit yang lalu hatinya terluka.

...

...

Pagi-pagi sekali Sasuke sudah berada di kelasnya yang sepi. Maklum, sebenarnya sekarang masih jam 7 pagi. Dan Sasuke sengaja datang sepagi ini karna malas berada di rumah. Hei, siapa yang tak jengkel diam di rumah yang kelewat megah sendirian?

Ya, rumahnya hari ini kembali kosong. Ayah ibunya pergi untuk mengurusi bisnis mereka masing-masing, dan kakak laki-lakinya, mungkin ia sedang menginap di hotel dengan seorang perempuan setelah semalaman berjoget ria di ruangan remang-remang. Hhaaah~inilah keluarga Uchiha yang terpandang.

Sebenarnya setiap malam kalau Sasuke merasa kesepian dan ketakutan sendirian di rumah, Naruto akan selalu menemaninya sampai ia tidur, dan bila ia sudah tertidur lelap Naruto akan langsung pulang ke kos-kosan kecilnya.

Dan semalam, apa yang Sasuke harapkan? Naruto datang ke rumahnya dan menemaninya semalaman samapai ia tidur lagi? Jangan harap. Jangankan untuk menemani Sasuke, melihat wajahnya saja Naruto pasti merasa sakit teramat sangat di hatinya. Dan Sasuke menyadari itu.

Dan sekarang ia merasa takut bila harus bertemu dengan Naruto. Apa lagi mereka satu kelas, satu meja. Takut, malu, dan perasaan bersalah itu terus menggerayanginya sepanjang malam tadi sampai sekarang.

"Hhaaah~aku bisa gila."dan setelah mengatakan itu Sasuke langsung keluar kelas, berjalan menuju taman belakang KHS untuk sejenak menghirup udara pagi yang sehat dan menjernihkan matanya dengan menatap taman bunga di sana.

Sasuke terus berjalan, dan saat tinggal beberapa langkah lagi ia bisa belihat taman belakang KHS dari balik tembok gedung KHS, Sasuke mendengar suara yang begitu tak asing di telinganya.

'Neji kah?'tanya Sasuke dalam hati.

"Kau menikmatinya, sayang?"

"Eenhh…iiya-ahh~Ne-neji~kkhuuuhnh~"

DEG

Oniks Sasuke sukses membulat tak kala matanya melihat apa yang tengah di lakukan Neji, sang senpai yang ia sukai, yang juga –katanya– menyukainya tengah bercumbu dengan siswi berambut coklat panjang yang kini sudah acak-acakan.

Di depannya terlihat Neji yang tengah mencium penuh nafsu pada sang gadis berambut coklah, tangan kanan Neji bermain di dada kiri sang gadis dan tangan satunya lagi menyusup ke dalam rok yang sudah tersingkap ke atas. Sungguh, demi apapun Sasuke sangat sakit melihatnya.

Airmata sudah tak bisa Sasuke bendung, mengalir sudah tanpa isakan. Inikah senpai yang ia kata baik hati? Inikah kakak dari gadis lugu nan polos Hyuuga Hinata? Inikah pemuda yang membuatnya mencampakkan Naruto?

Sasuke benar-benar menyesal sekarang. Tak seharusnya ia mencampakkan Naruto hanya untuk orang seperti Neji. Tak seharusnya ia percaya dengan sikap baik yang Neji tunjukkan padanya, atau-

'Oh shitt, inikah yang ia inginkan dariku?'batin Sasuke bertanya. Mungkin ini yang Neji inginkan. Berbuat baik pada Sasuke, bersikap manis, lembut, dewasa, dan bila Sasuke sudah jatuh pada pelukannya, ia pun sudah pasti akan di lecehkan seperti itu.

Sasuke menghapus kasar bekas airmata di pipinya. Dan ia langsung berlari sekuat tenaga menuju kelasnya, berharap Naruto sudah ada di kelas dan ia akan meminta maaf atas kejadian semalam. Persetan dengan harga diri Uchiha-nya, ia tak peduli. Yang ia pedulikan sekarang adalah mendapatkan maaf dari Naruto, kekasih yang sudah ia sakiti.

...

Brakk

Pintu kelas XI-1 sukses terbanting oleh Sasuke yang membukanya dengan kasar. Dan dua orang yang berada di kelas itu hanya bisa mengusap dada mereka masing-masing karna kaget.

Kiba dan Shikamaru hanya diam saja di kursi mereka saat Sasuke melangkah mendekati keduanya.

"Dia-hah..hah..be-belum datang?"tanya Sasuke dengan nafas yang terengah-engah karna habis berlari lumayan jauh dan cepat.

"Err…mungkin kau bisa tau dimana Naruto setelah membaca ini."Kiba memberikan sepucuk surat dengan amplop berwarna biru dongker kepada Sasuke. Dan Sasuke menerimanya, membukanya, dan mulai membaca isinya.

...

...

Dear Sasuke..

Sebelumnya aku ingin minta maaf bila tak memberi tahumu kalau aku ikut Iruka-sensei yang di pindah tugaskah mengajar di Suna. Sebenarnya aku tak ingin ikut waktu Sensei mengajakku karna…karna Kau. Tapi setelah tadi malam kau utarakan keinginanmu, aku sadar, bahwa tidak ada lagi yang bisa aku lakukan di kota ini bila kau tak di sisiku.

Ayak, Ibu, mereka sudah pergi, dan kakekku juga beberapa bulan lalu. Jadi, untuk apa aku tetap di sini, bukan?

Sasuke, aku mencintaimu. Aku mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku. Tapi aku tak peka akan perasaanmu. Aku terlambat menyadari kau yang jenuh akan diriku. Aku terlambat menyadari hatimu yang tak lagi untukku. Maaf,,maaf telah mengikatmu selama ini.

Sasuke, aku menyayangimu. Aku menyayangimu sampai-sampai aku tak ingin kau di miliki oleh yang lain. Maka aku berusaha selalu ada untukmu, aku tak ingin saat kau membutuhkan seseorang ada orang lain yang bersamamu. Aku tak ingin itu. Tapi sekarang aku sadar, kau sudah tak membutuhkanku. Kau membuituhkan hati yang baru, cinta yang baru, dari Neji-senpai.

Maaf Sasuke, maaf.

Maaf telah membuatmu bertahan terlalu lama di sampingku.

Maaf telah buatmu tertekan bersamaku.

Maaf telah buatmu memaksakan rasamu untukku.

Bahagiaku adalah bila melihatmu bahagia. Sekali pun perpisahan kita yang buatmu bahagia, aku akan berikan. Karna aku mencintaimu.

_Naru-dobe_

...

Sasuke terduduk di lantai kelas. Tangannya mendekap surat dari Naruto di dada dan airmatanya membanjiri wajah. Tangisnya pecah. Kasih yang ia lepaskan kini benar-benar menghilang.

"NARUTO…"

#

_END_

#

#

Fic ini Yas buat untuk sahabat Yas 'Kha-muth'.

Minta doa'y ya readers~..Tou-san sahabat Yas lagi sakit parah. Semoga cepat sembuh…amin!

Yosh~ini fic NaruFemSasu pertama Yas. Akhirnya gantung? Emang. Ada sih niat bikin sequel, tapi yah~lihat entar aja.

Akhir kata

Review please~