Pedo ja nai!
Warning : Chibi!Teito, pedo!Frau, Father!Castor, Mother!Labrador, M-Preg! Tidak menggunakan alur animenya asli, jadi disini saya tidak akan membahas distrik 7, maupun gereja tempat mereka tinggal. OOC
Cast : Teito : 4 years old, Frau : 24 years old
Disclamer : Amemiya Yuki & Ichihara Yukino
A/N : Hajimemashitte atashi wa Narin desu! Atashi wa newbie desu yoroshiku minna senpai!
Semboyan saya
Tertarik? Mohon Review :D
Tidak Tertarik? Klik tombol 'back'
Tertarik tapi nggak mau review? Silahkan Fav atau nggak Follow XD *maksa banget*
Tidak Tertarik tapi mau review? Ampun jangan Flame DX
Enjoy Reading :D
Pagi yang tenang dihari minggu. Waktu yang pas untuk tidur sampai siang. Tak ingin bangun meski gempa sekalipun. Ah tidak itu gila namanya. Maksudku pagi hari ini benar-benar tenang sampai orang yang berada digundukan selimut itu tak ingin beranjak dari tempat tidur empuknya. Apapun yang terjadi.
Tok Tok Tok
Alisnya bertaut. Dengan satu tarikan dia mempererat selimutnya.
Tok Tok Tok
Dia mulai menggeram kesal. Orang bodoh macam apa yang menbangunkannya diminggu pagi yang damai ini.
"Cih aku tidak akan membuka pintunya." Pemuda pirang ini tetap keukeuh dengan pendiriannya. Dia tidak akan mau meninggalakan ranjangnya. Titik.
Tok Tok Tok TOK TOK TOK
"Aaaaa! Kuso!" pemuda itu akhirnya menyerah dan dengan setengah hati dia beranjak dari tempat tidurnya yang nyaman.
Tap Tap Tap
Langkah kakinya terdengar menghentak. Bagaimana denganmu jika saat kau enak tidur dan orang diluar sana menggedor-gedor pintumu. Kesal? Pasti!
Ceklek
Dengan kasar dia membuka pintu. Tepat didepan pintunya dua orang yang sangat familiar dengannya tengah tersenyum.
"Ohayou Frau!" sapa seorang pria berkacamata berambut merah marun yang berdiri didepan pintu dengan senyum terkembang. Disampingnya sesosok pria manis berambut violet dengan sebuah gundukan didekapannya. Kalau diperhatikan lebih jelas lagi, gundukkan itu naik turun dengan teratur dan ada sesuatu berwarna coklat yang mencuat.
"Ohayou Frau." Suara yang lebih anggun menyapa Frau.
"Ohayou." Dengan sangat malas Frau membalas ucapan selamat pagi dari pasangan ini."Ada perlu apa kalian." Tanya Frau dengan nada jengah.
"Maa...maa Frau apa sopan tidak mempersilahkan tamumu masuk?" si pria berkaca mata itu berkata dengan nada yang menyebalkan. Itu hanya persepsi Frau yang tengah diselimuti rasa kekesalannya.
"Apa kau sudah merasa sopan menggedor-gedor pintu rumah orang pagi-pagi, megane!" seru Frau kesal. Namun pada akhirnya dia juga mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk.
Dan disinilah mereka, duduk saling berhadapan diruang tamu minimalis itu.
"Ada apa?" tanya Frau to-the-point setelah mempersilahkan tamunya masuk ke dalam apartemennya.
Castor si pria berkacamata berdeham."Ehem jadi begini apa aku bisa menitipkan Teito disini?" dia menunjuk kearah gundukkan yang berada dipelukan Labrador, istrinya.
"Ha?! Aku bukan pengasuh bayi, kalian cari orang lain saja!" seru Frau kesal mereka datang pagi-pagi ke apartemennya hanya untuk menitipkan putra mereka. Memangnya Frau babysitter apa?.
"Kumohon Frau, kami tak tahu harus menitipkan Teito dimana?" Castor berekspresi memelas.
"Firasatku bilang kalian berdua akan cocok." Labrador tersenyum kearah putranya.
"Aku tidak mau mengasuh anak kalian, aku juga punya kehidupan." Ungkap Frau jujur. Hey dia tak mau mengasuh bayi karena dia sendiri masih lajang dan tak tau apa-apa tentang bayi atau sejenisnya.
Tiba-tiba Castor mengangkat putranya yang masih tertidur. Sedetik kemudian bayi berumur kurang dari satu tahun itu membuka matanya. Dibalik kelopaknya tersembunyi dua bola mata berwarna hijau bening yang besar. Pipinya yang tembem menambah kesan imut. Bayi itu menguap, bibir mungilnya terbuka. Manisnya.
Blush
Euforia peristiwa bangunnya Teito membuat Frau merona. Hal itu disadari oleh Castor, pria 24 tahun itu menyeringai. Dalam sekejap Teito sudah berada dipangkuan Frau.
"Nah Teito-kun jadi anak yang baik ya." Dengan tampang tak bersalah Castor menepuk-nepuk puncak kepala putranya.
"Frau kami titip Teito ya." Suara kalem Labrador menyadarkan kekagetan Frau.
"Tu-tung _!"
"Kami akan kembali seminggu lagi!"
BLAM
Pintu berdebam keras, hal itu tentu membuat Teito kaget daaaan.
"Wuuuuaaaa!" tangisan yang amat kencang.
"Ba-bagimana ini? He-hei di-diamlah bayi!" bukannya diam tangis Teito malah semakin kencang saja.
"Ck!" mata Frau teralihkan pada sebuah tas yang besar, dia menidurkan Teito disofa dan segera membongkar muatan tas itu.
"Huuuueee!"
Bingo!
Sebotol susu hangat siap minum ada didalam tas."Kau haus, bocah?" Teito berhenti menangis. Mata hijaunya masih menggenang bekas air matanya. Tangan mungilnya menggapai udara, mungkin maksudnya dia hendak mengambil botol itu.
"Da!" tangan mungil itu masih berusaha menggapai botol susu yang ada ditangan Frau.
Segera saja Frau memberikan botol susu itu. Hanya dalam waktu singkat Teito telah menghabiskan satu botol penuh. Tak berkedip sekalipun Frau memperhatikan Teito lekat-lekat. Mulai dari rambut coklatnya, mata hijaunya, pipi tembemnya. Lucunya!
Frau menggeleng-gelengkan kepalanya. Gila-gila-gila! Dia merutuki pikirannya sendiri.
Dilihatnya lagi Teito menguap kecil, tangan mungil itu mengusap pelan disekitar mata. Kelopak matanya mulai tertutup perlahan dan dia kembali menguap. Imut sekali.
PLAK
Frau menampar pipinya sendiri. Kenapa pikirannya mendadak aneh saat melihat bayi mungkin nan lucu ini. Apa orientasinya berubah? Tidak! Dia bukan pedofil dia masih normal, dia masih menyukai gadis-gadis seksi, iya 'kan?
Akankah Frau bisa menjadi pengasuh yang baik? Atau akankah orientasi Frau berubah? Penasaran tunggu Chapter berikutnya ^^ (jika ada yang tertarik dan mereview tentunya hehehe)
Jaa ne~!
