Tales of Zestiria (c) Bandai Namco
.
.
Rambut Mikleo terlalu panjang.
Suatu hari Sorey mengomentari penampilan sahabatnya. Keduanya terpisah cukup lama setelah pertarungan melawan musuh terakhir. Tak ada yang tahu ke mana Sorey pergi, ada yang bilang pemuda itu sudah mati karena mengorbankan diri, ada yang bilang ia berada di suatu tempat yang jauh dari jangkauan manusia. Penantian panjang Mikelo terjawab ketika sebuah suara tak asing bergema di dalam kepala.
Sorey masih hidup.
Tanpa rasa malu, Mikleo menerjang pemuda berambut cokelat yang tersenyum lebar ke arahnya. Sorey yang sangat ia kenal masih berdiri dan bernapas di hadapannya. Tidak kurang suatu apa pun. Sorey tidak berubah. Justru penampilan Mikleo yang membuat Sorey tersenyum tipis.
"Baru kutinggal sebentar, rambutmu sudah tumbuh sepanjang ini. Kau tampak seperti tuan putri." Sorey tertawa pelan, jemarinya yang panjang menelusuri helaian putih, terasa lembut ketika bergesekan dengan telapak tangan Sorey yang kasar. Sejak dulu Mikleo terlihat seperti anak perempuan, dengan kulit halus dan sedikit pucat dan sepasang mata lebar menggemaskan.
"Diam. Aku tak kepikiran untuk potong rambut ketika isi kepalaku dipenuhi kekhawatiran tentang dirimu." Mikleo berbaring di atas rerumputan hijau, embusan angin menciptakan suara khas suasana padang rumput dengan bebungaan yang meliuk. Sorey berbaring di sampingnya.
"Apa kau memikirkanku setiap hari?" tanya Sorey, pemuda itu iseng memetik setangkai lavender yang bunganya berayun-ayun. Warnanya mengingatkan Sorey pada warna iris seraph yang saat ini tengah terpejam.
"Setiap saat, bodoh."
Sorey meringis. "Maaf."
"Kupikir aku tak akan bertemu denganmu lagi. Setiap hari adalah kesunyian, begitu membosankan ketika kau tak ada. Rasanya begitu kosong."
"Tentu saja, kita berdua sudah bersama sejak masih bayi."
Mikleo menoleh. Sejujurnya ia tak sanggup membayangkan hidup tanpa pemuda berambut cokelat di sampingnya. Ia ingin terus bersama, menjelajahi setiap sudut reruntuhan di belahan dunia. Berpetualang hingga mereka lelah dan tak sanggup melanjutkan. Impian Mikleo sesederhana itu. Asalkan bersama Sorey.
"Mikleo," panggil Sorey membuyarkan lamunan pemuda beriris violet.
"Apa?"
"Kau cantik dengan rambut panjang, haha."
Mikleo merengut. Namun ia menyunggingkan sebuah senyum paling menawan yang pernah Sorey saksikan.
"Ayo terus bersama sampai hari esok dan seterusnya, Sorey."
"Tentu saja." Cengiran khas Sorey membuat hati sang seraph melembut.
Sorey menggenggam tangan Mikleo erat. Tak akan pernah ia lepaskan.
