"Besar nanti aku akan jadi dokter, dan tentu saja akan membanggakan Papa dan Mama, nanodayo." -Akashi Shintarou; 9 tahun.

"Kalau sudah besar, biarkan Atsushi yang masak sarapan dan makan malam. Dan, aku akan membuat kue ulang tahun yang sangattt besar untuk Papa dan Mama." -Akashi Atsushi; 8 tahun.

"Taiga memang nakal, tapi sayang Papa dan Mama! Walaupun terkadang Papa seperti Iblis. Lihat saja! Taiga akan menjadi pemain basket nomor 1." -Akashi Taiga; 7 tahun.

"Tingkat ke-awesome-anku dengan Papa itu beda tipis. Tapi, suatu saat nanti aku yang akan mengalahkannya. " -Akashi Daiki; 7 tahun.

"Kalau Lyota sudah besal, Lyota ingin seperti Papa dan Mama. Lyota sayang Papa Mama-ssu." -Akashi Ryota; 4 tahun.

Hijau-Ungu-Merah-Biru-Kuning, mereka bagaikan pelangi di keluarga Seijuurou dan Tetsuya. Anugrah yang paling terindah.

Bagaimana cara Seijuurou dan Tetsuya mengurus anak-anak mereka, yang jelas-jelas kepribadiannya saling bertolak belakang?

Satu masalah selesai, timbul masalah baru. Seijuurou tepuk jidat, Tetsuya hampir pingsan.

"Tetsuya, apakah aku bisa menjadi Papa yang baik untuk mereka?"

.

.

.

.

.

Mentari pagi menyelinap masuk dari sela-sela tirai jendela. Perubahan suhu ruangan yang menurun mendominasi. Rasa lelah yang tergantikan mengembalikan kesadarannya. Mata masih terpejam, sedangkan tangan sibuk bergerak mencari suatu objek di sampingnya.

Tidak ada. Objek yang dicari tidak ada di sampingnya.

Iris beda warna terbuka perlahan. Berkedip pelan demi mengembalikan kesadaran. "Tetsuya?" Pandangannya mengedar ke sekitar. Jam digital di atas nakas samping ranjang menjadi pusat perhatiannya. Telat. Pantas saja istrinya tidak ada, ternyata ia kesiangan. Napas pendek dihembuskan, kecewa akan ekpektasi dimanja istri di pagi hari.

Menjadi pewaris tunggal keluarga Akashi membuatnya selalu kelelahan. Urusan kantor banyak memakan stamina dan mengikis waktu bersama keluarga. Namun, seberusaha mungkin ia mengimbangi semuanya.

Akashi Seijuurou bangkit dari tempat tidur, berjalan mengarah ke kamar mandi. Sejenak ia membersihkan diri sebelum turun ke ruang makan. Yakin bahwa para malaikat kecil dan istri tercintanya sudah menunggu.

Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi-sensei

Author: Kazehaya Hiyori

Warning: BL(Yaoi), Mpreg! cerita abal-abalan, garing, typo(s)

AkaKuro Family

"Mamaaa, sosis Taiga mau lima," tuntut si bocah berambut merah gelap.

"Daiki Nii-chan, huweee, itu susu Lyota!" si bungsu sukses menangis. Yang membuat nangis duduk santai meneguk susu.

"Daiki, itu susu Ryota. Berikan padanya, dan berhenti membuat keributan, nanodayo," tegur si sulung, yang merasa konsentrasi membacanya terganggu.

Posisi duduk mereka saling berhadapan. Taiga-Shintarou, Daiki-Ryota, Atsu-tunggu! Di mana boca titan itu? Biasanya dia yang paling kalem; anteng ngunyah Maibo.

Sudah ditegur kakak pertama, bukannya menurut, Daiki malah meneguk susu itu sampai habis. Tangisan cempreng khas Ryota sukses menggema ke seluruh ruangan, ditambah tangannya yang memukul meja.

Daiki tertawa, lalu berpose ala 'Susu Tetesan Terakhir' di hadapan Ryota.

Pletak!

"Aw!"

Bruk!

Buku setebal enam ratus halaman sukses membentur wajah songong Daiki. Daiki menatap marah pada sang pelaku, sedangkan si pelaku duduk tenang sembari membenarkan kacamatanya.

"SAKIT, kampret!"

"Makanya diam."

Taiga nyengir kuda, Ryota ikutan nyengir, Daiki manyun-sebal.

Seluruh pandangan di ruang makan tertuju pada sesosok titan kecil yang datang dari arah konter dapur sembari membawa piring cukup besar. Wajah malas serta sebuah maibo di bibir menghiasnya. Atsushi ternyata membantu Tetsuya membuat sarapan. Anak baik.

Piring diletakan di atas meja makan. Berisi beberapa sosis bakar. Atsushi mengambil posisi di tempat duduknya. Mengunyah maibo lantas menelannya.

Semenjak kedatangan si titan kecil, suasana menjadi hening sesaat. Semua memilih bungkam tanpa alasan.

Atsushi bingung. "Kok, pada diam, sih?"

Semua menggeleng.

"Yawudah." Atsushi mengambil garpu, bersiap mengambil sosis. Namun, semua mendadak memicingkan mata, dan mengambil ancang-ancang; memegang garpu.

Tanpa aba-aba, mereka saling memperebutkan sosis. Garpu Daiki bergerak lincah, Taiga tak kalah, Shintarou kalem-gengsi, Ryota amuk-amukan naik ke atas meja makan, Atsushi keluarin jurus kecepatan seribu. Mereka saling memperebutkan jumlah sosis dan memasukannya ke dalam piring masing-masing.

"JANGAN SERAKAH, DONG!" protes Daiki pada Taiga–yang menang banyak.

"Kan yang menang banyak aku, kok malah protes," balas Taiga dengan mulut penuh sosis. Wajahnya berkerut.

Shintarou diam memandang piringnya. "Sial," umpatnya, "Hoi, Taiga, bagi-bagi punyamu. Jangan serakah." Kenyataannya, Shintarou hanya mendapat satu sosis.

"Gak mauuu–ohok!" Taiga keselek sosis, karena sangking penuhnya di mulut. Semua tertawa lepas, kecuali Ryota. Daiki tertawa paling puas.

"Makannya engga slow, sih. Rasain," ejek Daiki.

Batuk Taiga tak kunjung berhenti dan semakin keras. Wajah Taiga kesakitan, sesaat semuanya mematung, lalu berganti menjadi histeris.

"Taiga mau mati!" teriak Daiki.

"Taiga-chin jangan mati!" Atushi ikut panik.

"MAMAAAAAAAA," Ryota menangis lagi.

Shintarou bego seketika. Situasi rumit yang semakin rumit membuat koneksi otaknya lemot.

Biasanya, acara sarapan selalu khidmat. Tidak ada yang berani membuat keributan. Karena Akashi Seijuurou--sang kepala rumah tangga--telat bangun, mereka merasa bebas.

Sebuah kepala menyembul dari balik pintu menuju dapur. Wajah datar bak pantat teplon mengedarkan pandangan.

"Mama!" panggil Shintarou.

Sosok yang dipanggil menghampiri ke arah meja makan. Tidak ada aura intimidasi layaknya sang kepala rumah tangga, yang ini kalem-adem.

Melihat salah satu anaknya batuk-batuk kesakitan, Tetsuya berubah menjadi panik–namun tetap datar. "Taiga-kun? Kau kenapa?"

"Taiga-chin mau mati," jawab Atsushi asal.

"Mama, dia keselak sosis," jawab Shintarou.

"Astaga!" Buru-buru Tetsuya menuangkan segelas air. "Minum ini." Menyodorkan gelas itu pada Taiga.

Taiga langsung menyambarnya. Meminum cairan bening dalam sekali tegukan. "Lagi, Ma," pinta Taiga sambil terbatuk.

Tetsuya menuangkan air lagi, dan memberikan pada Taiga.

"Taiga-kun kenapa bisa sampai keselak?" tanya Tetsuya, telapak tangannya bergerak mengusap punggung Taiga.

"Dia itu serakah, Ma," kata Daiki, "Masa sosisnya buat dia semua."

"Idih, enak saja, kan aku yang dapat banyak."

"Mama sudah bilang pada Atsushi, satu orang sosisnya tiga."

"Mama-chin, Atsushi belum ngomong mereka langsung ambil seenaknya."

Tetsuya tepuk jidat. Salahkan pada dirinya yang tidak tega membangunkan suaminya. Karena, Tetsuya tahu akhir-akhir ini Seijuurou sibuk. Tapi, tanpa Seijuurou, keadaannya pasti akan selalu seperti ini.

"Sudah-sudah, Ryota jangan nangis." Telapak tangannya berpindah ke puncak kepala si surai kuning.

"Selamat pagi," sapa Akashi Seijuurou. Berjalan masuk ke dalam ruang makan. Lengkap mengenakan jas kerja. Ketampanan mutlaknya tak pernah luntur.

"Papa!"

"Papa-chin."

"Papa-chii."

Seijuurou menarik bangku dan duduk di hadapan anak-istrinya. Paham akan hal yang terjadi. Pasti ada kekacauan selama dirinya tak ada. Iris beda warna melihat ke arah jam tangan. Aneh, anak-anaknya belum berangkat ke sekolah, padahal sudah telat.

"Kenapa kalian belum berangkat ke sekolah, hm?"

Tetsuya berjalan ke dapur untuk mengambil sarapan Seijuurou.

Shintarou membenarkan letak kacamatanya. "Kita menunggu Papa."

Semua mengangguk.

Seijuurou diam tak berkedip. Antara tersentuh dan bingung. "Menunggu Papa?"

Sekali lagi mereka mengangguk.

Memang, mereka biasa berangkat bersama. Sebelum ke kantor, layaknya Ayah di luar sana, Seijuurou selalu mengantar mereka. Tapi, jika tidak bisa, Tetsuya yang menggantikan atau anak buah Seijuurou.

Tetsuya kembali membawa sebuah piring dan segelas susu di atas nampan. Menaruhnya di atas meja makan untuk Seijuurou. Tetsuya melempar seulas senyum penuh arti.

"Kenapa tidak dengan Mama saja?" Seijuurou melirik Tetsuya.

"Biasanya kan sama Papa, gimana, sih," jawab Daiki seenaknya. Minta ditampol memang.

Tetsuya duduk. "Sei-kun, mereka inginnya denganmu."

Seijuurou bersiap dengan garpunya. "Baiklah."

Selesai sarapan, bocah warna-warni langsung bersiap memakai sepatu. Seijuurou menahan Tetsuya di ruang makan.

"Aku belum dapat jatah morning kiss dari Tetsuya," bisik Seijuurou dalam posisi memojokkan.

Setiap pagi, mereka terikat perjanjian. Tetsuya harus memberinya morning kiss. Tidak bisa dibantah. Hitung-hitung asupan semangat untuk Seijuurou.

"Tapi, Sei-kun, ini sudah telat."

"Yang tidak membangunkanku siapa, hm?"

"Maaf... Aku tahu Sei-kun kelelahan, jadi sengaja tidak kubangunkan lebih awal."

"Seperti biasa, Tetsuya sangat perhatian, ya."

Jarak dipersempit. Wajah saling berhadapan. Punggung Tetsuya mencium tembok. Seijuurou semakin mendekatkan wajahnya.

Posisinya ala ABG labil, sejenak lupa anak sudah lima. Tak apa, keromantisan harus terpelihara, batin Tetsuya.

Satu centimeter lagi, maka bibir mereka akan bertemu. Tetsuya memejamkan mata. Menanti dan siap menyambut.

"Papaaa!" panggil serentak dari luar. Suaranya terdengar hingga ke ruang makan. Untungnya tidak ada yang melihat.

Tetsuya membelalakan mata. Keduanya terkejut. Suasana seketika menjadi awkward.

"Papa cepetan, sudah telat ini," teriak Taiga.

Seijuurou menunduk menghela napas. Momen indah dihancurkan begitu saja. Sudah telat, tidak dapat morning kiss juga.

Tetsuya menyunggingkan senyum. "Tuh, Sei-kun sudah ditunggu."

"Nanti malam jatahnya jadi double."

Tetsuya mengangguk.

"Papaaa!"

"Iya, iya. Papa kesana." Buru-buru Seijuurou melangkah pergi membawa tas kerjanya. Diikuti Tetsuya di belakang.

Semua bocah warna-warni, kecuali si kuning, masuk ke dalam mobil. Kaca jendela mobil dibuka lebar. Mereka menatap Mama dan si bungsu yang berdiri di depan pintu masuk.

Tetsuya dan Ryota saling bergenggaman menatap mobil hitam di hadapan mereka. Tradisi setiap pagi yang tidak boleh dihilangkan. Tetsuya merasa, betapa bersyukurnya dia memiliki keluarga seperti ini. Semua orang pasti merasa iri.

Mesin mobil menyala, klakson dibunyikan. Perlahan mobil melaju menuju gerbang rumah.

"Dadahhh, Ryota!" teriak bocah warna-warni serempak.

"Dadahhh!" Ryota balas melambai dengan senyuman lima jari. Ingin rasanya Ryota bergabung, namun sekolah saja belum.

... TBC?

--Engga tau ini bikin apaan :( Mau lanjut atau tidak? x'DaSalam hangat,Kazehaya Hiyori