-Exotic-
*Ch 1*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Genre: Mystery, Spiritual, Hurt/Comfort.
Warning: Cerita gaje, alur lambat/ngebut, typo merambat dimana-mana, dan cerita ini dapat mengakibatkan berbagai macam reaksi terhadap para pembacanya (Menangis terharu, tertawa ngakak, kesel-kesel sendiri karena pairing lainnya tidak sesuai harapan, dll). All in Rin's Pov.
Summary: Awalnya aku hanyalah seorang gadis lemah tanpa keunggulan. Aku tidak cantik, pintar, menarik, ataupun terkenal. Namun semuanya berubah, berubah sejak hari itu tiba. Aku bahagia, merasa dapat menjadi seseorang yang berguna. Namun ternyata kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama.
"Tadaima…," ucapku dengan suara lirih. Suaraku menggema di ruang tamu yang sunyi. Aku pun mendesah lalu melemparkan tasku ke sofa di ruang tamu. Tanpa menunggu jawaban Kaa-san ataupun Tou-san, aku langsung saja naik ke lantai dua, tempat kamarku berada.
Aku berlari, hingga sampai di depan sebuah kamar berpintu putih dengan sebuah gantungan bertulisan 'Rin's Room.' Aku pun membuka pintu lalu menghempaskan diriku ke kasur. Entah mengapa aku sangat lelah hari ini.
Ah, maaf. Aku bahkan belum memperkenalkan diriku sendiri. Namaku Hiyama Rin. Seorang gadis biasa yang bersekolah di Vocaloid Academy. Aku kelas tujuh, atau lebih tepatnya kelasku berada di VII-B.
Orangtuaku bernama Hiyama Kiyoteru dan Hiyama Kokone. Mereka adalah orangtua yang baik dan juga disiplin menurutku. Mereka juga sangat menyayangiku. Aku juga sangat menyanyangi mereka, walaupun terkadang mereka terlalu overprotective padaku…
Rambutku berwarna honeyblonde sebahu. Aku mengenakan kacamata berlensa cukup tebal, walaupun begitu, aku masih dapat melihat cukup jelas tanpa kacamata. Aku juga selalu mengenakan sebuah bando berwarna putih berbentuk pita di atas kepalaku.
Aku tidak memiliki teman baik. Mungkin jika hanya sekedar 'teman' aku punya, banyak malah. Namun tidak pernah ada seorang pun yang pernah menganggapku benar-benar 'teman'-nya. Aku juga tidak pernah menganggap mereka seperti itu.
Bahkan belum pernah ada seorang pun yang menjejakkan kakinya ke dalam rumahku. Aku juga tidak pernah mempermasalahkannya, toh mereka juga bukan sahabat 'baik'-ku. Terkadang aku merasa kesepian… Namun tak apa…
Ah! Ada dua orang tetangga yang 'cukup' akrab denganku. Kubilang 'cukup'! bukan 'sangat' ataupun 'benar-benar'! Mereka sangat baik dan perhatian padaku. Namanya Suzune Ring dan Hibiki Lui.
Walaupun mereka baik, aku selalu saja menanggapi mereka dengan ketus jika mereka mengajakku bermain… Walaupun ujung-ujungnya ikut sih. Hah… Aku benci diriku sendiri…
Dan lagi, aku ini tertutup. Aku juga tidak mudah bergaul dengan orang lain. Selain itu, aku juga tidak pintar ataupun unggul dalam pelajaran apapun…
Yang kubisa hanyalah kerajinan tangan dan seni. Seperti menyulam, menjahit, bermain piano dan biola, menggambar, dan sebagainya. Aku juga tidak pernah menunjukkan kalau aku unggul dalam bidang tersebut. Buat apa? Toh di sekolah juga tidak ada pelajaran kerajinan tangan dan kesenian.
Aku pun membalikkan badanku dan menatap langit-langit kamarku dengan pandangan bosan. Kulepas kacamataku, menampakkan iris biru safir yang selalu kusembunyikan dan tidak pernah tampak di sekolah.
"Menyebalkan…," gumamku lalu memejamkan mata, berusaha untuk tidur hingga makan malam tiba. Jika makan malam tiba, pasti Kaa-san akan membangunkanku, jadi aku tidak perlu terlalu khawatir.
.
.
.
Aku mengetuk-ngetukkan pensilku ke meja. Membuat suara ketukan kecil yang hanya terdengar olehku. Lalu kupandang jendela luar. Ah, aku belum bilang kalau sekarang aku berada di kelasku dan tempat dudukku tepat disebelah jendela ya?
Meiko-sensei terus saja menjelaskan tanpa memperhatikan murid-muridnya sedang melakukan apa. Aku toh tidak mau merepotkannya, jadi aku tidak ikut-ikutan melempari ataupun menerbangkan pesawat-pesawat mainan dari kertas ke seluruh penjuru ruangan tanpa sepengetahuannya.
Aku harap kelas ini cepat berakhir… Dengan begitu aku akan dapat pergi ke ruang musik. Ah… Ring dan Lui tidak satu sekolah denganku, karena itulah aku selalu sendiri di sekolah. Dan satu-satunya yang kuanggap teman hanyalah objek kesayanganku…
Biola.
Karena hanya dengan bermain bialo, aku merasa kesepianku langsung hanyut terbawa angin dan tak terasa lagi. Aku mendengus kesal, melihat kelas yang begitu berisik dan lebih parahnya lagi Meiko-sensei tidak menyadarinya.
KRRIIINNGG!
Syukurlah istirahat telah tiba. Aku cepat-cepat mengambil kotak makan di dalam tas backpack-ku yang berwarna cokelat tua lalu pergi keluar kelas. Memangnya akan ada teman yang mengajakku makan? Tentu tidak, karena itulah lebih baik cepat-cepat pergi bukan?
Derap langkahku menggema di setiap koridor sepi yang kulewati. Aku tidak peduli jika aku sendiri, toh aku sudah terbiasa sendirian di rumah. Kaa-san dan Tou-san memang memiliki pekerjaan yang –sepertinya- cukup merepotkan, membuat mereka hanya bisa pulang satu jam tepat sebelum makan malam tiba.
"Ah, akhirnya sampai juga!" Sahutku gembira ketika melihat ruang musik sudah berada tepat di depan mataku. Aku mengedip-ngedipkan kedua mataku. Sepertinya hari ini ada sesuatu yang aneh di ruang musik ini… Walaupun aku tidak tahu apa itu…
Iris biru safir dibalik lensa kacamataku menelusuri setiap sudut di ruangan tersebut. Hingga aku menemukan sesuatu yang terlihat asing. Sebuah kotak kecil di tempat duduk piano yang terkadang kumainkan.
"Ada yang meninggalkannya disini ya?" Batinku kebinggungan lalu berjalan mendekati kotak itu lalu mengambilnya dan mencari nama sang pemilik. Aku tidak menemukan nama sang pemilik disana, tapi aku menemukan sebuah kartu.
Hm… Jadi ada yang berencana memberikan seseorang kotak ini untuknya? Tapi untuk siapa ya? Aku pun membuka kartu tersebut lalu membaca tulisan yang tertera disana.
Untuk Hiyama Rin… Dari seseorang yang akan kau lihat setelah memakan ini.
T-Tunggu… Jadi kotak ini untukku? Dan dia bilang ini makanan? Sepertinya lebih baik dari pertama aku tidak usah membawa bekal makananku… Dan apa maksudnya 'seseorang yang kau lihat setelah memakan ini'?
Ah sudahlah… Aku pun duduk di kursi piano tersebut sambil mulai membuka kotak itu. Ternyata, terdapat sekitar lima cookies di dalam kotak tersebut. Kuambil satu lalu menggigitnya.
Renyah… Juga nikmat. Sekali dimakan rasanya langsung menyebar.
Aku pun mengambil dua cookies lagi sekaligus lalu melahap kedua cookies itu dengan cepat. Sepertinya semuanya memiliki rasa yang sama: rumput laut. Aku mengambil dua lagi. Lalu pada saat aku mau mengambil lagi…
"Eh? Sudah habis?" Pekikku kaget ketika melihat ternyata cookies-nya sudah habis. Aku pun mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Masih sama… Ada piano, biola, harpa dan seorang anak pere-
T-T-TUNGGU! SEJAK KAPAN DISINI ADA SEORANG ANAK PEREMPUAN?!
D-D-Dia mendekat… Refleks, aku pun membatu di tempat, ingin pergi dari sini tapi entah mengapa… Tubuhku tidak dapat digerakkan! G-Gawat! Aku panik!
Gadis itu mendekat. Ia memiliki rambut berwarna honeyblonde sepertiku, namun ia jauh lebih panjang –tepatnya sepunggung. Matanya berwarna biru safir… Sama sepertiku… Dan wajahnya tersenyum. Ohya, ia mengenakan seragam sekolah sama sepertiku. Dan jangan lupa kakinya yang melayang tiga centi di atas ta-
MELAYANG TIGA CENTI DI ATAS TANAH?!
"K-K-Kau! Kau siapa?" Tanyaku tergagap. Gadis itu berhenti mendekat saat ia sudah berada tepat di depanku. Ia terlihat terkejut lalu duduk di udara untuk menyamai tinggi badanku -karena aku sedang duduk.
Entah mengapa… Dari wajahnya, ia sepertinya bukan orang jahat…
"A-Aku Negami Lenka… A-Aku yang memberikanmu cookies itu…," ucap anak perempuan itu sambil tersenyum ramah. Sepertinya ia memang bukan orang jahat.
"O-Oh… Te-Terima kasih…," jawabku pelan sebelum menyadari sesuatu…, "T-Tunggu… K-KAU ITU APA?! B-BAGAIMANA BISA MELAYANG DAN DUDUK DI UDARA?!"
Aku pun menjerit kencang dengan nada 'agak' panik, membuat Lenka mau tidak mau terpaksa menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangannya.
"Dengar Rin-chan… Aku ini hantu, karena itu aku bisa melayang," jawab Lenka dengan wajah serius. Aku hanya mengangguk-angguk dengan wajah mengerti walaupun hatiku kini masih takut.
"T-Tapi ha-hantu? K-Kenapa kau bisa ada disini?" Tanyaku berusaha lancar walau nyatanya agak tergagap karena takut.
"Aku?" Tiba-tiba saja sorotan matanya berubah menjadi sedih. Aku jadi merasa bersalah karena telah menanyakan pertanyaan itu padanya.
"Aku masih harus melakukan sesuatu… Tepatnya, ada sesuatu yang harus kuselesaikan," ucap Lenka dengan pandangan sendu. Aku jadi merasa bersalah…
"T-Tokorode… Cookies yang kau berikan kepadaku itu apa? Dan… Bagaimana bisa cookies itu membuatku melihatmu? Ohya… Bagaimana kau tahu namaku?" Tanyaku kebinggungan, tepatnya mengalihkan topik pembicaraan yang kedengarannya canggung itu.
"Itu kan karena aku selalu berada disini sejak beberapa tahun yang lalu… Kau saja yang tidak menyadarinya, jadi aku terus saja memata-mataimu. Mengenai cookies, cookies itu memiliki kekuatan sihir di dalamnya dan dapat membuatmu menjadi seorang indigo," ucap Lenka dengan pose berpikir.
J-Jadi dia itu s-stalker? Akhirnya, aku pun hanya mengangguk, walaupun masih terselip rasa ragu di hatiku.
"S-Sampai kapan efeknya berlangsung?" Tanyaku lagi.
"Selamanya."
.
.
.
.
.
"SELAMANYA?!" Jeritku tiba-tiba karena terkejut. Lenka hanya mengangguk dengan wajah polos tanpa dosa.
"Iya… Selamanya," ulangnya.
"B-Benda seperti ini kau berikan kepadaku? Bu-Bukankah ini benda yang penting?" Tanyaku dengan agak takut-takut. Oh Tuhan… Apa aku memang harus terjebak menjadi seorang indigo untuk selamanya?
Lenka menggeleng sambil tersenyum manis, "Itu memang benda yang penting… Tapi aku percaya kau dapat menggunakan kekuatan itu dengan baik."
Entah mengapa, aku merasa senang dengan ucapannya.
"Terima kasih… Tapi… Aku tidak tahu…," ucapku dengan ketus sambil menaruh kedua tanganku kebelakang dan mengalihkan pandanganku darinya.
"Aku percaya kau bisa menggunakannya! Kau juga harus percaya padaku!" Jerit Lenka sambil mengangkat kedua tanganku dan menggengamnya erat-erat. Entah bagaimana ia bisa tiba-tiba berada di depanku.
Hantu memang susah untuk diprediksi.
Dan… Aku merasa terharu dengan ucapannya… Belum pernah ada seorang pun yang mengatakan padaku hal seperti itu…
"Te-Terima kasih," jawabku akhirnya sambil tersenyum, "Aku akan berusaha."
Lenka terlihat terkejut, namun kemudian wajahnya terlihat sangat senang.
"Arigatou! D-Dan… K-Kini aku butuh bantuan darimu."
.
Alicia: Avjksl… Alice buat baru lagi! #disikat … Tapi yang lain tetep dilanjutin kok! Yang krisis diskon ada satu sih… (Lost)… TWT … Tapi Alice tetep berusaha biar ngak didiskon. Didiskon itupun kalau sudah mentok idenya dan cari sana sini ngak ketemu dan ripiew tidak memadai.
Ah… Alice pikir jika kalian lihat chara tags dan sebagainya, mungkin kalian akan pikir ngak ada RinLen-nya… TAPI ADA RINXLEN! Di sequel, jadi tolong tahan baca yang ini dulu jika mau biar nyambung sama di sequelnya nanti ya~ XD #plak
Terakhir… Review please?
.
Lanjut atau delete?
