Prewarning: contained some mature scene, curse, and an unnecesarilly-explained-ever imagination.
.
.
MJ PROJECT
"LUCIDSCAPE"
Starring: MarkJin.
-Chapter 1-
.
.
"You see me in hindsight
Tangled up with you all night, burn it down
Someday when you leave me
I'll bet these memories follow you around"
.
.
PIIIPP!
PIIIPP!
"Jin, alarm-mu"
"Oh sial!"
"Kau terlambat?"
"Tidak, Err sebentar"
Lelaki itu berlari kecil ke arah toilet dan menutup pintunya rapat. Menari nafas sebentar lalu melihat ke arah selangkangannya.
Basah.
"Sial! Aku tidak berencana mendapatkan ini sekarang"
"Jin? Kau baik-baik saja?"
Jin mendengar suara JaeBum dari luar toilet. Temannya pasti bertanya-tanya. Sambil menggaruk kepala yang tidak gatal, Jin melirik lagi ke bawah.
"Tidak. Um, maksudku 'ya' Jae"
"Kau akan terlambat jika kau terus berada di sana" kata JaeBum lagi.
"Beri aku waktu 10 menit"
"Baiklah, aku tunggu di bawah"
.
.
"Mimpi basah, huh?"
Mengapa Jae bisa menebak dengan begitu tepat? Jin bahkan belum berkata apapun soal mimpinya. Selepas dia keluar dari kamar mandi JaeBum selalu tersenyum memperhatikannya. Sarapan pagi ini rasanya sangat aneh. Meski dia berada di satu sekolah yang sudah memfasilitasi semuanya dengan begitu baik. Tidak biasanya semua makanan terasa hambar.
"Ya dan sangat aneh" jawab Jin asal.
"Bukankah kau dan SuJi sudah berpacaran sekarang? mengapa kau gelisah hanya karna dia ada di mimpimu dan membuatmu basah?"
Gila. dia benar. aku sudah mempunyai SuJi, jadi mana mungkin semua ini terjadi?
"Bisakah kita melupakan keanehan ini, please?" ucap JinYoung dengan malas. JaeBum lagi-lagi tertawa.
"Ini bukan keanehan Jin. Semua ini wajar"
"Baiklah, anggap saja aku tidak bercerita padamu" tukas Jin dengan cepat kemudian dia bangkit dan mengambil beberapa bukunya.
"Hei, kau mau kemana?"
"Kelas kalkulus, sampai jumpa nanti malam"
Aneh.
Tentu saja.
Jin sudah memiliki kekasih. SuJi. Gadis yang sangat manis dan Jin sudah berhasil mendapatkannya setelah bersaing dengan beberapa lelaki lain. banyak orang lain bilang mereka berdua sangat serasi dan tentu saja Jin akan mengiyakan dengan antusias. SuJi adalah salah satu mimpinya yang menjadi nyata. setidaknya sebelum beberapa hari yang lalu.
Beberapa hari yang lalu saat satu orang asing datang ke mimpinya. Seorang lelaki yang entah siapa namun hari ini telah membuatnya basah.
Oh tidak, dia harus melupakan soal ini.
.
.
Dia terlihat seperti seseorang yang sangat nakal, caranya menatap Jin sangat aneh. Seperti bajingan yang sungguh memainkan perannya dengan baik. Dia tampan. Well, jika seorang lelaki bisa mengatakan hal sedengki itu bukankah memang artinya bajingan yang datang ke mimpinya memang tampan? Sekali lagi, dia benar-benar memainkan perannya dengan baik.
Awalnya dia hanya tersenyum dan menatap ke arah Jin dengan intens sementara Jin sedang membaca buku di dunia mimpinya. Lelaki itu mendekat dan duduk di sampingnya. Tentu Jin refleks menyadari kedatangan lelaki itu. Dia menoleh namun Jin tidak bisa mengatakan sesuatu. Bahkan dia tidak bisa bertanya mengapa lelaki itu mengusap kepalanya. Dia tidak mampu menolak.
Jin mengingatnya. Lelaki itu tersenyum lagi dan lagi. mereka tidak berbicara, hanya tetap duduk bersebelahan hingga alarm paginya berbunyi.
Di malam selanjutnya, Jin menemukan dirinya sedang terbaring di sebuah padang rumput yang luas. Langit biru dan awan cerah. musim panas. Dia mengingatnya, rumput sangat hijau dengan beberapa kupu-kupu berterbangan di sekitarnya. Jin tersenyum, melihat satu kupu-kupu terbang ke arahnya. Saat kupu-kupu itu berbalik arah, Jin menoleh. Matanya mengikuti arah kupu-kupu itu terbang dan dia menemukannya. Lelaki yang sama. masih dengan senyum yang sama lelaki itu mengusap kepalanya lembut dan lagi-lagi dia tidak bisa membalas atau mengatakan sesuatu.
Jin ingin bertanya siapa lelaki ini. Jin ingin menamparnya saat itu juga karena dengan lancangnya lelaki itu sudah mengusap kepalanya.
Apa semua itu tidak aneh? Keduanya kini berbaring di padang rumput yang hijau tanpa berkata apapun.
Mereka hanya saling menatap hingga alarm paginya berbunyi.
Jin memang bukan tipikal orang yang mempersoalkan sesuatu terlalu rumit. Bahkan lelaki yang dianggapnya seorang psycho itu tidak begitu menyita perhatiannya. Jin percaya, mimpi adalah bunga tidur. Hanya bunga tidur. Mungkin lelaki psycho itu hanya sebuah ilusi, bagian lain dari dirinya yang ingin berkomunikasi, sekalipun lelaki psycho itu tidak mirip sama sekali dengan dirinya. Well, Jin tidak ingin membahasnya di kehidupan nyata. semua itu tidak nyata dan hanya mimpi.
Sampai di malam tadi. Jin kembali terperangkap dalam satu scene dengan lelaki itu. Baru kali ini Jin melihat kunang-kunang. Dia ingat betul, dia tengah duduk di pinggir danau dengan banyak kunang-kunang berterbangan di sebelahnya dan seperti biasa saat dia menoleh, Jin melihat lelaki itu tersenyum ke arahnya dan mengusap kepalanya seperti biasa namun, kali ini lelaki itu tidak berhenti di sana. Kali ini juga lelaki itu tidak menatapnya hingga alarm pagi berbunyi, perlahan dia menghapus jarak dan menutup bibir Jin dengan lembut, menghisapnya pelan tapi pasti ciuman itu berubah seolah menjadi satu kebutuhan yang sangat mendesak dan tentu saja Jin tidak bisa bergerak. Dia menelan semua yang ada di dalam mulutnya sewaktu lelaki itu terus bermain dengan lidahnya.
Jin ingin berteriak, ingin mendorong lelaki itu atau sedikitnya Jin berhak untuk menampar lelaki itu bukan? tapi dia tidak bisa, terlebih saat Jin merasa ada sesuatu yang bergerak di dalam celananya. Ya, tangan lelaki itu bekerja dengan cepat di bawah sana hingga dia sampai.
Alarm berbunyi.
.
.
.
JinYoung tidak bisa tidur. Bagaimana mungkin dia tidur dengan perasaan takut. Ya, dia takut lelaki itu kembali datang dan melakukan hal yang aneh lagi dengan tubuhnya. JinYoung menarik nafas berat. Sejak tadi tanpa dia sadar JaeBum sedang memperhatikannya.
"Hari ini kau seperti bukan seorang Jinyoung. Bertengkar dengan SuJi?" tanya JaeBum sambil mendekat ke arah JinYoung.
"Tidak. SuJi sedang libur hari ini. aku sudah menghubunginya" jawab JinYoung singkat.
"Kau tahu, kurasa SuJi juga menunggu malam spesial kalian. mengapa tidak.."
See? JaeBum pasti masih memikirkan mimpi basahku. Demi apapun, dia salah paham.
"Aku.. entahlah.." potong JinYoung
JaeBum tertawa renyah. "Kukira kau gelisah karna kau ingin mimpi basahmu menjadi nyata"
Apa kau gila Jae?
Mimpi basahku bersama lelaki. Itu tidak masuk akal.
Aku straight
"Well, karna kau tidak ingin membahas soal ini lagi kalau begitu selamat malam" kata JaeBum akhirnya. Lelaki itu pergi ke arah ranjangnya dan merebahkan tubuhnya di sana. sedangkan JinYoung, sekali lagi dia menarik nafas.
"Selamat malam Jae"
Selepas Jaebum meninggalkannya tidur, Jin dengan cepat membuka laptopnya. Mengetik sesuatu di sana.
How to control your dream
How to manage your dream
Is there any method to enter someone else dream
Yap.
It's called Lucid Dream. Where people usually learn how to control their dream.
Have you ever seen a movie titled Inception?
Right. Lucid Dream have a near meaning from that movie.
If you wanna know how to learn Lucid Dream please click this page.
Dengan sekali gerakan, Jin mengklik halaman itu. membaca lebih banyak hingga dia menemukan beberapa tips.
Jin meraih buku catatannya. Mencatat semua informasi yang dia temukan di mesin pencari. Malam ini dia tidak tidur, menarik nafas panjang dan membaca ulang catatannya terus menerus.
.
.
"Kurasa aku akan gagal jika aku mencobanya sendirian"
JinYoung menggumam sendirian. Kelas Kimia Terapannya baru saja selesai. Jin duduk di sebuah kursi taman yang ada di dekat perpustakaan, entah pikirannya melayang kemana.
"Oppa!"
"SuJi.. Oh! Hai sayang" sapa Jin lembut.
SuJi. Wanita cantik itu refleks duduk di samping JinYoung dan melingkarkan tangannya di lengan JinYoung. "Kau tidak masuk jam kalkulus?"
"Em, tidak. aku sedang melakukan sesuatu"
"Apa itu?"
"Sayang, apa kau percaya kalau kita bisa mengendalikan mimpi kita?"
"Lucid Dream? Ya, aku pernah mendengar soal itu" jawab SuJi singkat.
"Aku ingin mencobanya. Aku ingin mempelajarinya"
"Kau serius? Untuk apa Oppa?" tanya SuJi lagi. Jin tidak mungkin menceritakan soal mimpinya yang aneh bukan? lelaki itu hanya tersenyum simpul.
"Well, aku hanya tertarik"
"Oppa, saat tidur adalah saat yang paling menyenangkan karna kau tidak perlu berfikir tentang apapun yang terjadi di dunia nyata. jika kau mencoba lucid dream, tidurmu tidak akan nyenyak karena kau akan menggunakan otakmu untuk berfikir"
"Kau banyak tahu juga soal ini" gumam Jin lagi tanpa sadar. SuJi mengangguk.
"Well, temanku pernah mencobanya dan aku sempat iri karena semua langkah-langkahnya cukup sulit"
"Lalu mengapa dia bisa?"
"Itulah, demi hal konyol itu dia rela membayar kursus"
.
.
.
"Namaku Jin, JinYoung"
"Aku Jackson, suit yourself please"
Jackson adalah salah satu nama dari sederet daftar contact person yang didapatnya dari sebuah komunitas lucid dream. Jackson menyambutnya dengna hangat. Sebelumnya, Jin sempat menghubungi Jackson dan sedikit meminta waktu darinya untuk membahas apa yang sedang dialami Jinyoung beberapa hari belakangan ini. mereka bertemu di sebuah kafe, tanpa Jin ketahui, Jackson sudah berada di sana dengan satu agenda juga tablet di depannya. Untuk ukuran orang yang menekuni dunia yang sangat aneh seperti lucid dream, JinYoung merasa Jackson bukan orang yang buruk jika dilihat dari penampilannya. Jin mengira orang yang akan dihadapinya adalah sejenis cenayang yang sering meramal dengan kata-kata aneh.
"Jadi begini, aku sedang mencari komunitas lucid dream yang terdekat dari tempatku tinggal"
"Ya, dan.."
"Sebelumnya aku ingin sedikit penjelasan darimu tentang Lucid Dream"
Jackson meneguk tehnya sebentar sebelum mulai berbicara "Well, Lucid Dream sebenarnya hanya bentuk nyata dari imajinasi yang terjadi di dalam mimpimu. Beberapa orang mengeluh tidak menikmati tidurnya karena mimpi buruk juga faktor lain dan voila sebuah eksperimen menemukan sebuah cara menikmati tidurmu agar menjadi lebih hidup. Seperti melawan mimpi buruk, seperti benar-benar mengalami mimpi indah dan di dalam mimpimu kau bisa menjadi apapun yang kau mau, melakukan yang kau inginkan di dunia nyata dan merubah plot mimpimu seperti kau seakan sedang hidup di sana"
"Jika mendengar darimu rasanya seperti mudah" tukas JinYoung apa adanya, setelah itu dia melihat Jackson tersenyum lebar.
"Memang mudah, hanya saja semua itu tidak bisa terjadi secara instan. Kau butuh semacam pelatihan dan sebelumnya aku ingin bertanya tentang hal ini denganmu, apa yang membuatmu tertarik soal Lucid Dream?"
"Jadi begini Jackson, beberapa hari ini aku mengalami mimpi yang sangat aneh. Awalnya kukira memang semua itu hanya sebatas mimpi, aku tidak ingin memikirkannya namun semakin hari mimpi itu semakin aneh"
"Bisa kau perjelas, mimpi apa itu?"
"Seseorang datang ke mimpiku dan mengambil alih semua fungsi tubuhku. Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa bicara, hanya bisa memperhatikannya"
"Apa dia melakukan hal yang buruk?" tanya Jackson lagi dengan ekspresi penasaran. JinYoung menarik nafas sebentar.
"Ya dan tidak. well, ini sedikit memalukan"
"Bukan masalah. Setelah kau jelaskan justru aku akan tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu"
JinYoung memejamkan matanya sejenak, wajah itu kembali datang begitu juga ingatannya akan mimpi beberapa hari yang lalu "Dia mengelus kepalaku pada malam pertama, pada malam kedua dia tersenyum sambil mengusap kepalaku dan di malam ketiga.. dia menyentuh tubuhku"
Jackson tampak berikir keras, Jin bisa melihat dari alisnya yang terangkat.
Lihat? Semua ini aneh bukan?
"Dia? Seorang lelaki?"
"Apa maksud semua itu?" JinYoung tidak mengiyakan secara langsung tapi menjawab dengan bertanya hal lain.
"Well, aku pernah mendengar soal dream sharing tapi baru kali ini aku mendengar bentuk lain dari lucid dream" jawab Jackson mencoba menelaah.
"Bisa kau persingkat penjelasanmu dengan bahasa yang lebih dimengerti?"
"Orang itu pasti sudah mendalamiteknik lucid dream karena dia bukan hanya bisa mengontrol mimpinya tapi dia juga mengontrol mimpi orang lain, yaitu kau. hal ini terjadi sebagai hasil dari teknik berbagi-mimpi. Kau berada di satu mimpi yang sama dengannya, itu disebut dengan dream sharing dan di dalam mimpi kalian, dia menggunakan kemampuan lucid dream tingkat tinggi untuk mengontrol mimpimu"
"Demi Tuhan" JinYoung menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Apa kau mengingat wajahnya?"
"Tidak begitu ingat tapi jika aku bertemu dengannya, aku akan mengenalinya. Apa dia juga berkemungkinan merubah bentuk wajahnya?"
"Kurasa hal itu tidak akan terjadi" lanjut Jackson.
"Aku ingin sekali menampar lelaki itu" gumam JinYoung namun dia tahu Jackson bisa mendengarnya. Lelaki itu tertawa renyah.
"Well, tenang Jin. Kalau memang orang itu mempunyai suatu tujuan untukmu kupastikan kemungkinan dia dekat denganmu"
"Aku belum pernah bertemu dengannya. Sangat asing" sungut JinYoung dengan nada sedikit kesal, diteguknya secangkir teh hangat dengan sekali gerakan.
"Mungkin kau hanya tidak menyadari kalau ada seseorang yang.."
"Maksudmu, ada seorang lelaki pyscho yang selama ini menguntitku?" potong JinYoung.
"Sudah kubilang, tidak mungkin dia mengendalikan mimpi seseorang secara random karena saat kau akan tidur kau harus berlatih mengingat wajahnya"
JinYoung terdiam sebentar. Di dalam pikirannya seakan semua solusi alternatif sedang beradu mendapatkan perhatian darinya. "Well, pada intinya.. apakah aku bisa mengatasi masalah ini? kau tahu semua ini membuatku sulit tidur"
Jackson mengangguk pelan. "Kurasa kau perlu berlatih mengendalikan mimpimu. Untuk sementara, aku akan membantu mengendalikan mimpimu sampai kau bisa mengendalikan mimpimu sendiri"
"Kau bisa melakukan apa yang orang itu lakukan padaku?"
"Aku adalah keturunan pengendali mimpi. Nenek moyangku dulu adalah suku asing bangsa mongol yang bisa mengendalikan mimpi anak-anaknya. Jadi saat perang kita sudah dibekali mimpi indah, kami juga bisa tidur tanpa merasakan mimpi buruk karena jaman dulu hidup begitu berpindah tempat di gurun sangat menyulitkan"
JinYoung sadar sekali mungkin sekarang mulutnya sedang terbuka lebar setelah mendengar penjelasan Jackson. Semua itu sangat tidak masuk akal namun bila ditelaah lagi bukankah memang hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukan keanehan itu?
"Tapi bagaimana caranya? Orang tuamu menurunkan bakatnya begitu saja?" tanya JinYoung penasaran.
"Kau percaya dengan ceritaku barusan?"
"Jackson, aku sedang serius"
Jackson tertawa lagi, kali ini sambil berusaha menutup mulutnya agar tidak terdengar begitu keras. "Sudah kubilang semuanya perlu berlatih. sampai kau bisa melihat dirimu sedang tidur"
"Aku benar-benar merasa itu tidak mungkin Jack"
"Kau pasti bisa" kata Jackson menyakinkan.
.
.
.
Yang kau butuhkan sebagai pemula adalah jurnal. Aku tidak akan melindungi mimpimu dan biarkanlah lelaki itu datang ke mimpimu dan saat kau terbangun jangan lupa untuk mencatat semua yang telah dia lakukan dimimpimu. Kau harus mengingat wajahnya, kalau perlu kau coba untuk menggambarnya. Ah, untuk sementara kau cobalah untuk pindah ke rumahmu, jangan lagi tidur di dalam asrama. Dengan itu, ada kemungkinan dia tidak bisa mengetahui dimana letak pintu mimpimu.
Jika kau sudah biasa mencatat mimpimu, kau akan terbiasa mengingat kejadian aneh yang sudah terjadi.
Setelah kau membuat jurnal, kau harus tidur dalam keadaan rileks tapi kau juga harus fokus. Dalam keseharianmu cobalah untuk bertanya, apa ini mimpi? Apa ini sungguhan? Jadi saat kau tidur, kau juga harus sering bertanya apa ini mimpi? Apa ini sungguhan? Jika kau bisa membedakannya, maka kau akan bisa memulai masuk tahap lucid dream.
Semua ini seperti metode hipnotis, jika kau sudah menghapal semua mimpi-mimpi yang ada di dalam tidurmu maka kau akan menyadari semua itu adalah mimpi, saat kau sadar semua itu hanya mimpi, cobalah untuk melihat ke arah tanganmu dan tulislah huruf A pada telapak tanganmu yang berarti awake.
Pada tahapan selanjutnya,saat kau sudah berlatih untuk sadar di dalam mimpimu, di awal tidur kau akan merasa seperti ada sesuatu yang berat menindihmu, jangan terbangun atau kau akan gagal. Ingatlah kalau kau sedang bermimpi dan semua itu bagian dari lucid dream. Setelah itu kau juga akan melewati fase black out. Seperti kau sedang melalui satu lorong hitam yang panjang, jangan terbangun sampai kau benar-benar melewati semua itu
Satu bulan. Jinyoung merelakan dirinya hidup seperti orang gila, kemana saja membawa buku catatan, mengulang membaca apa yang dia lihat setiap malam di dalam mimpinya. Dia juga harus rela untuk tidur di rumah orang tuanya hanya demi bisa mengendalikan mimpinya. Awalnya semua itu terlihat mustahil, sebelum Jackson selalu menguatkannya. Awalnya, Jin merasa semua jurnalnya hanya bentuk konyol dari bagian dirinya yang kekanakan. Namun, rasa ingin mengetahui siapa lelaki yang sudah menodai mimpinya begitu besar hingga dia merasa hal ini harus benar-benar sukses.
Jaebum, teman satu kamarnya juga merasakan keanehan JinYoung. Bukan hanya SuJi yang menemukan kekasihnya bertingkah aneh, JaeBum juga demikian. Jin tidak menceritakan semua ini pada siapapun selain Jackson dan dia tidak peduli apa yang ada di pikiran JaeBum. Dia hanya ingin bertemu dengan lelaki itu.
.
.
Hamparan padang rumput dan JinYoung tidak merasa asing lagi dengan tempat ini. tempat dimana dia pernah berbaring dan tentu saja akan ada seseorang yang juga berbaring di sampingnya.
"Siapa kau?" tanya JinYoung mencoba rileks. Ini berhasil, dia berhasil mengendalikan mimpinya. Dia bisa berbicara dan lelaki yang ada di depannya sedikit terkejut namun dia tersenyum lagi. "Kau tidak ingin menjawab?" tanya Jin lagi.
"Mengapa kau ingin tahu tentang diriku?" jawab lelaki itu dengan lembut.
JinYoung seketika bangkit dari posisinya, dia duduk dan mengacak-acak rambutnya kesal. "Demi Tuhan, aku ingin mengumpat sekarang. apa kau tidak bisa melihat kalau aku sedang marah?"
Lelaki itu tersenyum dan mengikuti JinYoung, duduk lalu memiringkan kepalanya. Menatap JinYoung dengan heran "Kau marah padaku? kenapa?"
"Karena kau seenaknya mengontrol mimpiku dan menggunakan tubuhku untuk kesenanganmu"
"Aku tidak melakukan itu seenaknya. Kau yang membuka pintu mimpimu"ucapnya santai dan JinYoung bersumpah saat itu juga dia ingin menendang lelaki yang ada di depannya
"Dan sebagai manusia kau tentu tahu apa yang disebut kebajikan bukan?"
"Tidak ada yang salah di dunia mimpi Jin"
Tunggu. Jin? Lelaki itu baru saja memanggil namanya.
"Kau mengenalku?" tanya JinYoung curiga.
"Mengapa tidak?"
"Ehm, Aku sudah memiliki kekasih dan straight. Pergilah" jawab JinYoung sedikit berdeham.
Lelaki itu tertawa renyah. "Begitu saja? setelah kau membuang semua tenagamu demi lucid dream? Bukankah ini menyenangkan?"
"Aish! Kau—"
Jin berteriak keras karena lelaki itu menarik tangannya, membuat mereka terjatuh ke dalam danau. Jin tidak bisa berenang, namun dia bisa bernafas. Ada banyak ikan di sana. Hei, ada lumba-lumba juga. Jin menoleh ke sampingnya tepat ke arah lelaki yang kini tersenyum ke arahnya.
"Sudah kuduga kau akan menyukainya"
Jin tidak menjawab, segera dia berenang ke arah permukaan dan menemukan dirinya berada di sebuah lautan luas.
"Apa maumu berengsek?" tanya Jin kesal sambil mencengkram kerah baju yang dipakai pemuda itu. mereka ada di tengah lautan luas entah dimana. Jin tidak lagi mengerti apa maksud ini semua.
"Mengapa kau tidak menikmatinya saja?"
"Pergilah dari mimpiku" teriak Jin dengan sebal. Dia mencoba berenang lagi sekuat tenaga.
"Tidak bisa karena aku sudah terkunci di sini"
"Kau gila! kau membuatku tidak bisa bergerak dan kau menyentuhku begitu saja"
"Hanya itu yang bisa kulakukan agar kau mau belajar soal ini"
"Oh lihat! Kau membuat seakan kau sudah menolongku"sungut Jin, kali ini dia kembali mencoba berenang di arah yang berlawanan dengan lelaki itu.
"I did dan lihatlah sekarang? kau tidak merasa kau telah meraih banyak kemajuan?"
"Kalaupun iya, aku tidak menikmatinya selama kau masih ada di ruang mimpiku"
"Aku belum ingin keluar"
"Kau—apa?"
Lelaki itu tidak menjawab, dia menunjuk ke arah yang ada di belakang JinYoung "Ada hiu yang akan datang memakanmu. Raih tanganku sekarang"
"Tidak" jin terus mencoba berenang dan dia sudah menemukan sebuah pulau di sana, sebelum dia melihat ada bayangan hitam besar di depannya.
"Jin!"
"Oh sial!"
.
.
"Sial!"
Sudah berapa kali dia mengumpat hari ini? Jin tidak menghitungnya. Lebih dari itu dia sedang mencoba dengan keras menenangkan dirinya karena di depannya kini sudah ada Jackson. Segera setelah dia bangun dari tidurnya, Jin menghubungi Jackson dan mengatur pertemuan setelah jam makan siang.
"Jadi dia bilang, dia belum ingin keluar? apa dia kembali melakukan sesuatu yang aneh?" tanya Jackson setelah mendengarkan semua cerita panjang JinYoung.
"Tidak, tapi dia hampir membuatku diterkam hiu ganas" jawab JinYoung sebal.
"Itu semua imajinasimu Jin. Kau ingat? Dia yang sedang berada di dalam mimpimu bukan kau yang berada di dalam mimpinya" kata Jackson mencoba menenangkan JinYoung.
"Jadi kau ingin bilang kalau dia yang telah menyelamatkan aku?"
Kali ini Jackson tertawa lebar. "Hey, bisakah kita rileks sebentar?"
"Aku harus menemukan lelaki ini" tambah JinYoung dengan yakin.
"Okay, cobalah untuk berbicara dengannya baik-baik. Mungkin dengan begitu dia akan mendengarkanmu. Well, aku harus pergi Jin."
"Kemana?"
"Kami mempunyai sebuah perkumpulan dan kebetulan hari ini mereka sedang berlatih. kau mau ikut?"
"Lucid dream lagi?"
"Dream Sharing"
Mereka berlatih di sebuah gedung yang besar. Jackson berkata, tempat ini sudah lama mereka sewa untuk berlatih. anggota dari perkumpulan mereka sudah lebih dari lima puluh orang dan semuanya ada di berbagai tahap. Ada yang pemula, ada juga yang sudah masuk ke tahap dream sharing.
"Sepertinya aku sedikit terlambat" kata Jackson sambil memperhatikan lingkungan sekitar tempat parkir. Beberapa orang terlihat baru saja meninggalkan gedung.
"Kau salah satu dari anggota?" tanya JinYoung sambil melirik ke arah gedung yang menjadi tempat mereka berlatih.
"Well, sebenarnya aku salah satu dari founder"
"Ah ya, aku lupa kalau kau sudah bisa mengendalikan mimpiku"
"Kau ingin ikut masuk?"
Jin berfikir sebentar sebelum dia mengikuti Jackson keluar dari mobil. Jin menebak beberapa orang yang berada di parkiran baru saja selesai berlatih. Jin melihat ke sekelilingnya sekali lagi. intuisinya mengatakan kalau setidaknya dia harus ikut berlatih tentang dream sharing. Itu akan membuat semuanya menjadi semakin jelas bukan?
Apa kau ada di sini?
Aku harus menemukanmu
"Oh Sial!" umpat Jin seketika. Jackson menoleh ke arahnya.
"Ada apa Jin?"
"Dia ada di sini. Di mobil merah itu Jackson"
.
.
.
"Siapa kau sebenarnya dan apa tujuanmu? Setidaknya kau harus menjawab pertanyaanku"
"Apa dengan sikapku yang baik bisa sedikitnya mengurangi kecurigaanmu?"
"Bagian mana dari dengan-lancangnya-masuk-ke-dalam-mimpi-orang-lain yang kau sebut sikap baik?"
"Aku sedang bersembunyi"
"Dari siapa?"
"Dari mimpi buruk"
"Lelucon apa itu"
"Aku akan membuktikan itu bukan lelucon jika kau mengizinkan aku tetap di sini"
"Apa kau tidak bisa pergi ke mimpi orang lain?"
"Hanya pintumu yang terbuka waktu itu"
"Berhenti meracau. Aku bahkan tidak mengenalmu, mengapa aku harus membuka pintu untukmu?"
"Pintumu terbuka dan kau tidak akan menyadarinya."
"Dan kau masuk begitu saja?"
"Dengan itu kau sudah menolongku"
.
.
.
Unfinished
.
.
I did some research for lucid dream and dream sharing. It was a common sense to know that anybody could make it. So, i was being challenged to make this fic based on my research. If you find out some mistakes about my explanation just correct it through the review box then i'll be glad to fix it.
My first MarkJin story. How was it? By anyway, if it will be going smoothly and according to what i've planned, this fic will be contained 3-4 chapters. It wont be a long-chaptered tho kkkk~
And thankyou for reading.
See ya next part!
-MJ
