Beauty Journal by Byun Baekhyun

Chanbaek Forevah!

[Boys love. Mature. Mpreg. Oneshot]

[Bahasa Seperempat Kasual]

.

.

.

.

.

Bagiku, untuk menjadi seseorang yang benar-benar cantik dan sempurna harus melakukan lima hal;

Melayani Suami

Baekhyun baru kembali dari kamar mandi sehabis mencuci muka dan menyikat gigi. Tahu-tahu sang suami sudah mengambil posisi di sisi tempat tidur sambil memeriksa pekerjaan melalui ponsel. Satu yang membuat Baekhyun selalu kesal, suaminya tidak pernah mau menurut dan berdalih lupa setiap kali ia mengingatkan untuk tidak menaikkan brightness ponsel di atas angka lima puluh. Seolah tak jera diberi ganjaran mata yang sudah minus dua. Chanyeol harus menggunakan kacamata setiap kali beraktivitas.

Meskipun Baekhyun tidak menyesal karena suaminya jauh lebih tampan seperti tokoh-tokoh guru dalam komik, tapi tetap saja Chanyeol harus menyayangi dirinya sendiri.

"Sepertinya anak-anak lebih patuh padamu, ya." Kata si mungil yang sedang melakukan rutinitas malam sebelum tidur, menyemprot serum ke wajahnya di depan cermin.

"Begitu? Aku hanya menggunakan cara ayah, menyogok mereka dengan permintaan apapun asalkan tidur."

"Apa yang mereka minta?"

"Seputar mainan dan makanan manis." Chanyeol meneleng ke kanan untuk melihat tubuh kecil istrinya yang tertelan oleh piyama panda, "Tapi permintaan Zooya sedikit aneh. Darimana dia tahu tentang cat kuku?"

Baekhyun meninggalkan meja kebesarannya menuju saklar lampu, mematikan penerangan utama sebelum menaiki tempat tidur dan melepas hair pin yang menjepit poninya. Tadinya ia tak acuh dengan pertanyaan terakhir Chanyeol tapi ketika mereka bertemu pandang, Baekhyun terkekeh melihat wajah menuntut jawaban dari sang suami.

"Beberapa hari yang lalu kak Yoora datang ke rumah. Membawa sekitar sepuluh cat kuku dan dia mengajak Zooya bereksperimen di ruang tengah, kurasa anak perempuanmu mulai kecanduan." Si mungil merebahkan tubuhnya, sengaja menempelkan diri dengan Chanyeol dan menarik selimut sampai pundak tertutup.

"Benar-benar, wanita gila itu bukannya menikah malah mengajari anak dua tahun yang tidak-tidak."

"Biarkan saja. Malah menurutku bagus karena Zooya akan mengerti dengan hal-hal feminin. Kak Yoora tahu banyak soal perempuan."

Hembusan napas hangat Baekhyun perlahan-lahan menembus serat kain t-shirt Chanyeol, semakin lama semakin panas membuat si tinggi langsung menyimpan ponsel ke atas nakas lalu disusul kacamata. Bukankah bersetubuh sangat dianjurkan saat Kamis malam?

"Baekhyun, jangan tidur. Bercinta dulu, yuk?"

"Tiba-tiba?"

Chanyeol menyurukkan wajahnya ke garis leher sang istri paling seksi setelah menarik turun kerah piyama agar menampakkan pundak mulus yang siap dikotori. Baekhyun mendesah dalam untuk satu ruam kemerahan yang sudah menapak di bawah jakun bohongannya.

"Biasanya kau akan memberitahuku lebih awal. Jadi aku bisa mempersiapkan diri."

"Ck, memangnya pengantin baru yang harus melakukan persiapan ini-itu?" Si tinggi beranjak mengungkung Baekhyun yang sedang terkekeh genit, "Nafsuku suka muncul mendadak, seperti sekarang, hanya karena napas hangatmu saja membuat penisku gelisah."

"Eungh, padahal aku membeli beberapa celana dalam baru berbahan sangaaaaat tipis." Baekhyun menggantungkan kedua lengan di bahu Chanyeol yang bertambah lebar sejak olah raga rutin, ia tersenyum penuh maksud sebelum mengangkat kepala untuk mengecup bibir suaminya, "Kau ingin aku mengganti pakaian dalam dulu?"

"Tidak usah. Bisa kau pakai besok malam."

"Wah, apa kau sedang membicarakan soal anak keempat? Sepertinya kita akan sering bercinta."

"Kau tidak keberatan, 'kan?"

"Kino pasti bahagia sekali mendapat adik baru secantik Zooya."

Chanyeol bukan tipikal pria kasar saat bercinta, bukan juga pria yang akan bermain lembut sampai membuat pasangannya frustrasi karena percintaan mereka terkesan sangat lambat dan menyiksa. Walaupun Baekhyun pernah mengaku ingin merasakan bagaimana menjadi seorang masokis yang merasa baik-baik saja ketika dikasari. Mana mungkin permintaan tolol Baekhyun dituruti dengan mudah, Chanyeol bukan pria sakit mental yang senang istrinya kesakitan.

"Sshh-ohh, Chanhh."

Mulai malam itu, karena ulah temannya yang merekomendasikan toko pakaian dalam ternama pada Baekhyun sampai ia memborong, Chanyeol terus menagih jatah jika tidak merasa lelah. Mau tak mau Baekhyun harus melayani, karena menolak hasrat suami bukanlah istri yang baik.

...

Menjadi anak yang berbakti terhadap orang tua/mertua.

Kalau bukan karena Jihoon yang merengek setiap lima menit sekali, mereka pasti tidak akan pergi membeli kue dan buket bunga untuk kakek dan nenek di kampung. Setiap Jumat pagi Baekhyun selalu mengajak ketiga anaknya untuk pulang ke Bucheon minus sang suami. Tidak apa-apa, lagipula selama si mungil menyetir ponselnya akan diinvasi oleh Kino dan Jihoon. Mereka melakukan panggilan video dengan Chanyeol. Dasar anak-anak manja yang tidak bisa jauh barang semenit dari Daddy.

Hari ini pun Zooya sangat kalem, duduk di bangku sebelah kemudi dengan kaki menjulur lurus. Manik bulat berbulu mata lentiknya mengerjap-ngerjap penasaran setiap gedung-gedung terlintas, mulutnya akan membentuk bulatan saat sesuatu menarik perhatian. Beberapa kali juga ia akan bertanya pada Baekhyun mengapa lampu merah harus berhenti dan lampu hijau boleh jalan? Bagi Zooya itu sangat aneh.

"Pa, Daddy titip salam untuk nenek." Jihoon memberitahu pesan Chanyeol sebelum panggilan video mereka selesai.

"Kata Daddy juga jangan lupa membawa pulang kimchi dan buah kesemek." Kino menyahut dan mempreteli ponsel Baekhyun, lebih benarnya membuka sebuah permainan anak ayam, "Ji, sini main bergantian." Merasa di ajak si gembul pun langsung merapat.

Suatu keajaiban Kino mau berbagi dengan adik laki-lakinya. Seharusnya tidak sulit karena mereka hanya berbeda sepuluh bulan, tapi terkadang si sulung ingin menang sendiri. Memang dasar sifat anak pertama yang tak mau di sentuh.

Mereka sampai tujuan setelah tiga jam perjalanan.

Zooya merengek minta gendong karena lelah kelamaan duduk. Berbeda sekali dengan kedua kakak laki-lakinya yang langsung turun dari mobil sebelum Baekhyun dan memeluk kaki-kaki nenek yang sudah menunggu di depan rumah bersama kakek.

"Selamat pagi, bu." Si mungil menyapa Jihyun begitu juga dengan Dongwoon, "Selamat pagi, yah."

"Pagi, sayang. Ada apa dengan Zooya?"

"Sepertinya mabuk. Padahal sudah minum antimo."

Dongwoon segera mengambil cucu perempuannya dari gendongan Baekhyun kemudian masuk ke dalam rumah. Sedangkan Kino dan Jihoon menyeret Jihyun ke kebun samping untuk mengecek keadaan pohon stroberi yang mereka tanam dengan tangan sendiri. Betapa bahagianya mereka melihat bunga-bunga mulai tumbuh.

.

.

Selama di kampung halaman, Baekhyun mengambil alih semua tugas rumah yang biasa dilakukan ibunya. Mencuci piring, menyapu sekaligus mengepel dan menjemur beberapa potong selimut setelah mencucinya secara manual. Menggunakan tangan dan kaki. Jangan tanya kemana anak-anak, mereka seolah lupa siapa itu papa dan Daddy kalau sudah asik bercengkerama dengan nenek di teras belakang. Jihyun mengipasi cucu-cucunya yang tiduran di atas tikar anyaman sambil memerhatikan gambar abstrak mereka di lembar kertas masing-masing.

Biasa, kalau matahari sudah meninggi hari bisa sangat panas di Bucheon. Sampai-sampai Kino dan Jihoon hanya memakai celana dalam dan singlet saja.

Baekhyun ikut bergabung setelah pekerjaannya selesai, turut membawa nampan berisi gelas teh plum dingin dan camilan kukis yang ia beli saat di Hadong.

"Bagaimana? Apa semuanya berjalan baik?" Dongwoon bertanya pada si tunggal yang sudah berumah tangga, "Maksud ayah, kau dan Chanyeol."

"Syukurlah, baik. Doakan saja akan terus baik sampai anak-anak besar nanti."

"Tentu saja. Chanyeol harus menikahkan Zooya dengan seorang pria suatu saat nanti, seperti ayah yang mempercayakanmu padanya." Jeda, "Mau tips agar rumah tangga awet? Ya intinya, suami itu harus merasa puas untuk setiap hal yang bersangkutan denganmu."

"Hus, kau ini bicara apa di depan anak kecil?" Jihyun memukul pundak suaminya saat obrolan mereka mulai merembas.

"Kalau soal ranjang, anakmu ini sudah ahli, yah." Baekhyun menarik turunkan alisnya membuat Jihyun pusing, berharap Kino tidak penasaran tentang ranjang nanti.

"Ckh, benar juga. Anakmu sudah tiga, omong-omong."

"Aku dan Chanyeol berencana tambah. Belum tahu pasti, kami akan konsultasi ke Dokter secepatnya."

"Serius? Saat Zooya masih dua tahun?"

"Bahkan Kino mendapatkan Jihoon saat usianya sebelas bulan."

Jihyun tersenyum lalu mengangguk paham. Menambah momongan bukan masalah jika berjalan seiringan saran Dokter.

"Kau tidak mau Kino kesepian sepertimu, ya?"

"Walaupun aku tunggal aku tidak pernah kesepian, bu. Kata itu terdengar sangat menyedihkan." Baekhyun mencibir, "Menurutku seru punya banyak anak, rumah tidak akan sepi ketika mereka beradu mulut dari matahari terbit sampai terbenam lagi."

"Asal kau bisa menjaga dan menyayangi mereka dengan baik, Baekhyun."

"Sudah pasti, bu."

...

Mengurus anak-anak tanpa mengeluh.

"Papa, Kino mau mandi!"

Si kakak sulung menghampiri Baekhyun yang sedang menggoreng ayam tepung untuk Zooya yang mengancam akan mogok makan, katanya ayam goreng itu sebuah kehidupan. Bingung juga darimana anak dua tahun belajar kata-kata seperti itu kalau bukan dari Chanyeol?

Saat si mungil menoleh, rasanya asap-asap kemarahan menumpuk di ubun-ubun tapi ia tidak bisa mengomeli Kino. Anak-anak memang harus tahu kotor, supaya tidak manja seperti anak tetangga. Dan sekarang kaos putih dan celana selutut yang Kino pakai penuh dengan tanah dan keringat, pasti ini habis kejar-kejaran dengan kucing liar yang suka masuk ke halaman belakang rumah mereka.

"Mandi sendiri saja, ya?"

"Hih, Kino mau papa mandikan!"

"Tapi papa sedang menggoreng ayam untuk Zooya, adikmu belum makan dari tadi pagi. Katanya tidak mau lobster." Baekhyun melirik si gadis cilik yang tengah cemberut di kursi makan.

"Yasudah, Kino mandi sendiri tapi harus dapat ayam goreng juga, okay?"

"Okay, Prince."

Setelah Kino pergi ke kamar, seorang perusuh yang lain datang, kali ini asap-asap kemarahan tak hanya menumpuk di ubun-ubun tapi keluar dari telinganya. Bagaimana tidak? Jihoon berjalan santai dari pintu masuk sampai konter dapur dengan kaki penuh lumpur dan meninggalkan jejak-jejak kotor di lantai putih mengilat. Baekhyun rutin mengepel karena Zooya suka berguling-guling di lantai, tapi lihat, hari ini ia harus mengulang pekerjaan karena Jihoon.

Untung saja anak kandung.

"Ji! Ya ampun, darimana? Seperti tentara habis perang saja, kotor sekali." Ibu tiga anak itu berkecak pinggang. Kalau kenakalannya seperti Jihoon, boleh saja di omeli.

"Hehe, tadi Ji main air di rumah Baejin sampai halamannya becek. Terus saat mau pulang, Ji tidak sengaja terpeleset dan nyebur di got, hehe." Pipi gembul Jihoon tertarik saat ia terkekeh-kekeh, antara memang lucu dengan dirinya sendiri dan takut di marahi.

Tapi papa tidak membolehkan anak-anaknya berbohong, jadi Jihoon berusaha jujur.

"Kualat 'kan. Makanya kalau mau main minta izin dulu pada papa, jadi mainnya berkah." Baekhyun memindahkan enam paha ayam goreng ke piring setelah mematikan kompor, lalu menatap Jihoon yang menunduk, "Kak Kino juga sedang mandi, tuh, nyusul saja sana."

"Papa tidak marah? Ung, tadi Ji sudah minta izin main pada Daddy. Apa Daddy tidak bilang?"

Chanyeol, ya? Pria itu selalu mengiyakan semua yang dikatakan anak-anaknya. Kalau Jihoon bilang ingin main ke ujung komplek pun dengan senang hati Chanyeol mengantarnya. Saat Baekhyun protes, si tinggi akan menjawab, 'Anak laki-laki harus bebas, agar tahu setiap jengkal dunia.'

"Sepertinya Daddy lupa. Nah, sebaiknya Ji segera mandi sebelum kak Kino selesai. Biar ada yang bantu menggosok punggung."

"Sip! Sisakan Ji ayam gorengnya, ya?"

"Beres, Prince."

Ketika Jihoon berbalik dan melangkah menuju kamar, Baekhyun baru sadar kalau kaki si gembul masih berlumpur dan kembali menjejak tapak-tapak pra-sejarah di sepanjang lantai. Nasib seseorang yang tidak memiliki asisten rumah tangga, apa-apa di kerjakan sendiri.

"Zoo, papa harus mengepel lantai sebelum Daddy keluar dari ruang kerjanya. Makan sendiri, tidak apa-apa 'kan?"

"Ung, ukay."

Memang hanya anak perempuan yang bisa diandalkan. Sepertinya persentase kepribadian Zooya lebih cenderung mirip papa, karena saat proses Baekhyun lah yang mendominasi. Bisa disimpulkan begitu.

Saat si mungil mulai mengepel dari ujung pintu utama dan mundur-mundur sampai ruang tengah, tak sengaja Zooya hilang fokus dan menjatuhkan ayam gorengnya ke lantai, sedikit lagi hampir mengenai jejak lumpur Jihoon. Diam-diam, si gadis turun dari kursi, perlahan menjulurkan tangan untuk meraih sisa ayam goreng sebelum aksinya dipergok oleh dehaman Baekhyun.

"Eits," Pergelangan kecilnya ditahan, "Jangan ambil makanan yang sudah jatuh, Zoo. Bukankah papa sudah bilang berkali-kali?"

"Tapi.. kasihan ayam gorengnya terbuang."

"Tidak akan terbuang, nanti papa berikan untuk Meow."

Bibir tipis yang tadi melengkung ke bawah kini langsung tertarik cerah. Zooya berjinjit untuk meraih piring ayam goreng di atas meja makan kemudian menyerahkannya pada Baekhyun.

"Kalau begitu berikan semuanya untuk Meow!"

Yang Baekhyun lakukan hanya mengelus-ngelus dada sabar. Banyak sabar banyak kemudahan. Tapi.. argh..

"CHANYEOL! LANTAINYA BELUM KERING!"

...

Memanjakan diri berkumpul dengan teman-teman.

Baekhyun mengecek riasan tipisnya sekali lagi melalui kamera ponsel sebelum meraih pouch Balenciaga di dashboard. Ia melongok ke jok belakang, dimana dua anak laki-lakinya sedang asik membaca buku cerita bergambar. Sial sekali bukunya terbalik, lagi-lagi Baekhyun mengelus dada sabar.

"Yakin kakak dan Ji tidak mau ikut papa?"

"Hm hm, kami akan pergi bersama Daddy!" Jihoon menjawab semangat, sambil menyombongkan diri pada Zooya.

"Yasudah kalau begitu."

Chanyeol yang baru selesai menenggak air dalam botol mineral lalu memberikan atensinya pada Baekhyun yang bersiap-siap turun dari mobil setelah melepas safetybelt.

"Kujemput jam berapa?"

"Belum tahu, nanti kukabari kalau sudah selesai."

"Hati-hati, ya. Jangan minum kopi terlalu banyak, pesan jus atau yogurt saja." Chanyeol mengingatkan istrinya.

Dokter Jeong bilang kehamilan Baekhyun yang keempat ini agak lemah dan mudah kenapa-kenapa. Bulan lalu si mungil hampir saja keguguran saat Kino tak sengaja menduduki perut Baekhyun, mereka sedang bercanda tapi malah berujung petaka. Karena kejadian itu, untuk pertama kalinya Chanyeol tidak membolehkan Kino bermain di luar selama lima hari sebagai hukuman. Yang manisnya adalah Jihoon juga tidak pergi ke rumah Baejin karena ingin menemani si kakak.

"Aku pergi dulu." Pamit Baekhyun setelah mengecup bibir Chanyeol sebagai ritual saat mereka akan berpisah.

Zooya memilih ikut dengan papanya karena ingin makan macaron berbentuk bunga. Gadis cantik Baekhyun itu memakai rok mini berwarna putih dan atasan pastel yang manis, rambut hitam lurusnya tergerai dihiasi bucket hat berwarna putih pula. Sambutan hangat menyapa Baekhyun ketika ia masuk ke kafe dan mendekati meja yang sudah dibooking oleh Luhan.

"Maaf terlambat. Kelamaan melerai Kino dan Jihoon saat di rumah." Kata si mungil setelah mendudukkan Zooya di kursi sebelahnya.

"Berkelahi?"

"Biasa, anak laki-laki."

"Uwah, hari ini putri cantik Park ikut papanya, hm?" Hongseok menopang dagu melihat buntalan gendut Zooya yang langsung mergelayut di lengan Baekhyun.

Si bungsu emang agak pemalu.

"Ayo, sapa paman-pamannya dulu."

Zooya menggeleng pelan dan menyembunyikan wajahnya di perut Baekhyun. Membuat keempat lelaki lain serentak memekik gemas.

"Jadi ingin punya anak perempuan juga." Seongwoo merengek dengan nada cemburu.

"Lho, tapi nanti malam suamimu balik dari Jepang? Bisa lah itu, sekaligus lampiaskan rindu." Luhan tersenyum penuh maksud ke arah si lelaki yang memiliki julukan sealong.

"Lampiaskan apa? Aku tidak mengerti, anakku baru satu."

"Iya satu, sebentar lagi akan ada yang menyusul Baekhyun. Kejar-kejaran kalian." Kyungsoo menimpali.

"Jangan ngomong soal begituan, kasihan Hongseok jadohnya masih belum lahir." Yang disindir memandang sebal Baekhyun.

"Wah, pamil ngajak ribut." Hongseok menepuk pundak Kyungsoo, "Kak, coba beritahu kakak Byun kita yang tersayang ini."

"Beritahu apa?"

"Itu, pria yang kakak lihat kemarin di mall."

Kyungsoo memutar otak, seingatnya kapan ia ke mall dan melihat Hongseok bersama seorang pria? Teman sekaligus mantan adik kelasnya ini termasuk lelaki karatan, kata lain sudah sangat lama sendirian.

"Oh, supir uber maksudmu?"

Soal gag, memang istri dari Kim Jongin panutan semua orang. Dengan wajah datar dan omongan yang suka asal bisa membuat orang tertawa. Bahkan Zooya yang tidak mengerti ikut-ikutan terkekeh.

"Supir uber apaan? Untuk apa supir kelayapan di mall?"

"Mungkin saja kau merasa sangat kesepian sampai meminta supir uber menemanimu jalan-jalan." Seongwoo turut membuli magnae mereka.

"Bukannya kakak yang kesepian? Selalu ditinggal suami keluar negeri."

"Pffftt. Lihat-lihat situasi dulu, deh, Woo kalau mau meledek Hongseok." Luhan tertawa sadis.

Seongwoo langsung menutup mulut dengan wajah dibuat-buat sedih, "Yasudah, aku diam."

Mereka bungkam sejenak saat menikmati pesanan makanan masing-masing, termasuk Baekhyun yang memerhatikan Zooya agar krim macaron tidak mengotori pakaiannya. Sealong yang pertama kali memberikan komentar bahwa makanan di Monsant terlalu enak, sampai membuatnya ingin menangis. Soal berlebihan, memang Seongwoo ahlinya.

"Baek, setelah anak keempat ini akan ada yang kelima, tidak?" Luhan penasaran.

"Hm, sulit. Belum juga bayiku genap tiga bulan sudah ditanya adik lagi."

"Mana tahu saja 'kan, Chanyeol ingin membuat taman bermain." Celetuk Kyungsoo.

"Idemu bagus juga, Soo. Aku punya rencana membangun daycare di daerah Mapo, nanti kalau anak-anak sudah lebih besar." Baekhyun menatap Hongseok yang sedang mengaduk-ngaduk latte, "Kau mau menjadi pengasuhnya? Hitung-hitung mengisi kegiatan positif ditengah kesepian."

"Bisa mati muda aku menjaga anak kecil." Lelaki itu menggeleng, "Merepotkan, kak. Aku tidak sanggup."

"Pantas saja tidak ada yang betah denganmu. Saat di ajak serius pasti kau menolakkan?" Tuding Seongwoo dengan sedotan jusnya.

"Ckh, dalam kamus harianku tidak ada kata serius. Semua pria sama saja, playboy."

"Suamiku tidak, kok."

"Sehun itu anti selingkuh."

"Benar, suamiku orang yang setia."

"Meskipun Daniel jarang di rumah. Cintanya tulus untukku seorang. Siapa yang kau bilang semua pria sama?"

Hongseok menangis di pojokan.

Kyungsoo tak sengaja mengintip ke layar ponsel Seongwoo saat menampilkan pop up pesan dari Daniel. Ia tersenyum setan kemudian.

"Woo, suamimu nge-line, tuh. Katanya harus cantik malam ini."

"Waduh, pasti ada yang berisik-berisik nanti malam." Baekhyun mengompori.

"Titip saja Hyunwoo padaku, kasihan tidurnya terganggu." Hongseok menawarkan diri.

"Tidak usah pakai karet, Woo. Jarang-jarang bisa kualitas waktu bareng Daniel, nanti malam mainnya harus terasa, harus mantap." Luhan mensensor ucapannya karena tak mau mengotori otak polos Zooya.

Seongwoo berdecak malas, berusaha menyembunyikan malu karena di goda hal dewasa oleh sohib-sohibnya.

"Palingan nanti malam cuma jalan-jalan keluar, tidak ada sesi ranjang."

"Ke motel maksudnya?"

"Iya, ke motel. Bersih-bersih disana." Seongwoo merotasikan bola mata. Selalu saat mereka punya waktu berkumpul, yang dibicarakan pasti ranjang dan kehebatan suami.

"Duh, bilangnya bersih-bersih." Baekhyun menatap Luhan, meminta agar lelaki itu melanjutkan ucapannya, "Tahu-tahu malah keasikan uh ah."

Ketiga lelaki berpikiran kotor itu tertawa, meninggalkan Hongseok yang kembali menangis pojokan. Merasa hina dirinya tidak bisa ikut nimbrung dalam obrolan dewasa, pacar saja tidak punya.

...

Menikmati waktu berdua dengan suami.

Sore tadi, ayah mertua dan adik iparnya datang ke rumah dengan dalih ingin menjemput Kino dan Jihoon. Kenapa hanya mereka? Karena Zooya tidak pernah mau ikut menginap di rumah kakek tanpa Baekhyun, tapi sepertinya hari ini berubah pikiran. Zooya langsung menangis saat tahu dirinya akan di tinggal oleh Yonghwa.

Jadi saat malam, rumah terasa sangat sepi tanpa anak-anak. Baekhyun menghela napas sambil mengelus perut, yah setidaknya masih ada teman ngobrol.

"Sedang apa?" Chanyeol bertanya heran, tumben-tumbenan sang istri berdiam diri di konter dapur.

"Merindukan mereka."

"Aku tanya sedang apa, bukan bagaimana perasaanmu." Si tinggi menenggak air dingin dalam kulkas lalu duduk di samping Baekhyun, "Merindukanku saja bagaimana?"

"Tidak mau. Merindukanmu itu lelah."

"Kok bisa?"

"Iya, aku harus mengangkang dan mendesah keras-keras sampai serak."

Ah, maksud Chanyeol bukan rindu yang seperti itu. Tapi kalau Baekhyun sudah terlanjur berpikiran kesana, lanjutkan saja.

"Aku lebih lelah, menggenjotmu terus-terusan. Belum lagi saat kau meminta tak sabaran."

"Tapi enak, 'kan?" Sindir si mungil.

"Kalau tidak enak mana mungkin kutagih setiap malam, hehe." Telapak tangan besar Chanyeol sudah menapak di paha telanjang istrinya, membuat gerakan mengelus sensual. "Ke kamar, yuk? Selagi anak-anak tidak ada."

"Disini saja. Main sambil duduk."

"Besok jangan ngeluh sakit pinggang padaku, kau yang minta."

Baekhyun sudah berpindah ke pangkuan Chanyeol, mengangkangi paha dan menggesek pantat bulatnya ke selangkangan si tinggi sampai sesuatu mulai bangun. Menyeruduk lubang tertutup Baekhyun yang malam ini memakai celana dalam setipis tubuh Seongwoo. Sudah bisa menebak kalau Chanyeol ingin bersetubuh.

Maaf, bukannya menghina. Tapi tubuh Seongwoo memang mirip-mirip dengan jarum. Hingga sulit membedakan mereka.

Dalam hati, Baekhyun memantapkan diri untuk mengendalikan Chanyeol dan mendominasi. Agar anak keempat mereka memiliki sifat anggun sepertinya, bukan mesum seperti Daddy. Ia melumat bibir suaminya seberantakan mungkin agar terlihat keren, liur mulai kemana-mana. Chanyeol suka kalau Baekhyun sudah agresif seperti piranha.

"Blow job?"

"Boleh, sayangku."

Si mungil mengangkat kaos Chanyeol sampai bahu, ingin bermain di kulit dada kencang sekaligus menjilat puting suaminya yang selalu membuat tegang. Seukuran puting saja bisa begitu gagah, sudah jelas dengan penisnya. Perlahan, Baekhyun merosotkan diri ke bawah, mengambil posisi di antara paha Chanyeol dan membuka resleting jins pendeknya buru-buru. Bernar 'kan? Ibu nyaris empat anak itu selalu tidak sabar jika berurusan dengan kejantanan.

Untuk kegiatan utama, Baekhyun malah di rebahkan atas meja makan dan Chanyeol bergerak gusar di atasnya. Bercinta di dapur memang masuk dalam daftar tempat ternikmat setelah sofa.

.

Mudah sekali, aku merasa menjadi lelaki paling cantik saat mampu memenuhi hasrat suami dan berguna bagi orang lain. Terlebih untuk putri cantikku dan kedua jagoan yang mirip sekali dengan Daddy-nya. Ah iya, satu calon bungsu menyusul beberapa bulan lagi! Sangat tidak sabar!

.

.

.

.

.

[Wasalam]