AN dasar si payah ini… lagi ngurusin fic yang lain malah bikin ini. Maap… abis kalo idenya malah muncul begini mo gimana lagi… udah gitu, gajelas pula…
Ino's Café
Opening Time!
By Blackpapillon
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
PAGI hari ini begitu cerah seperti kemarin-kemarin. Dan seperti biasa, Yamanaka Ino sudah bangun sedari tadi. Ia berjalan pulang ke tokonya dengan membawa beberapa keranjang penuh bunga segar. Sudah lima tahun ini dia mengurus toko bunganya sendirian sepeninggal orang tuanya. dan sejak tiga bulan yang lalu, ia melengkapi toko itu dengan kafe di bagian luarnya. Ino bersiul-siul sambil mengambil celemek favoritnya dan memakainya, lalu membereskan bunga-bunga itu dan mengganti bunga yang lama dengan bunga yang segar.
Ino melirik kalender. Akhir minggu. Pasti akan banyak yang datang hari ini. Banyak pengunjung yang datang begitu tahu ia membuka kafe. Tak ada yang menyangka seorang Yamanaka Ino cukup pandai membuat kue—makanya, mereka jadi penasaran dan datang. Terutama akhir minggu. Sepertinya kafenya bahkan sudah masuk dalam 25 tempat kencan paling favorit dalam majalah Konohagakure—setidaknya begitulah kata Sakura kemarin.
Ha! Yang penting, sekarang waktunya membuka kafe. Dilihatnya jam, pukul 10 pagi. Ia membuka kerai dan gorden yang menutupi tokonya, lalu membuka pintunya lebar-lebar. Tak lupa ia mengecek kondisi bunga yang akan dijualnya pagi itu dan menggantungkan papan tanda 'Buka' di pintu. Yak, semua dalam kondisi terbaik. Puas rasanya melihat dagangannya hari ini. Hari ini ia beruntung, ia dapat mendapatkan berbagai macam bunga dengan harga yang murah di pasar bunga. Dan setelah mengecek kondisi bunga-bunganya, waktunya untuk mempersiapkan bahan-bahan masakan.
"Selamat pagi, Ino-san! Aku mau pesan roti panggang, ya…"
Oke, pengunjung pertama kita pagi ini… Ino bergegas keluar dari dapur dan tersenyum lebar melihat seorang jounin wanita berambut hitamdengan perut yang membesar. "Waaaah, Kurenai-sensei, tumben sekali anda datang pagi-pagi begini? Malas memasak, ya?" godanya.
Dikatai begitu, Kurenai malah tersenyum. "Begitulah. Rasanya anak ini malah makin membuatku malas memasak… mungkin ini yang namanya bawaan bayi, ya?" ia tertawa menanggapi ucapan Ino.
"Ahahaha… tak apa-apa, tak apa-apa. Kalau makan masakanku, pasti bayi itu akan tetap sehat! Baiklah, satu roti panggang. Minumnya?" tanya Ino.
Kurenai tampak berpikir sebentar. "Nggg, karena kalau kopi pasti tidak boleh… susu saja."
"Ya! Kafein tidak baik untuk bayi!" komentar Ino dengan nada menggurui, "oke, silakan tunggu sebentar!"
Sebelum Ino pergi ke dapur, Ino dihentikan oleh ucapan Kurenai. "Ino, tunggu…"
"Ya? Ada apa?"
"Aku juga minta satu buket bunga bakung."
Ino tersenyum sendu, mendadak teringat pada seseorang yang dulu sangat ia kenal. "Baik. Waktunya pergi ke sana, ya?"
Wanita bermata marun itu mengangguk pelan.
INO bernyanyi-nyanyi dengan riang, sampai suaranya mungkin terdengar sampai ke luar—lalalalalalalalala… sepuluh menit kemudian, ia keluar dengan nampan berisi roti french toast dan segelas susu hangat, dan meletakkan nampan itu ke meja Kurenai-sensei. Ia menoleh ke arah gerbang dan tersenyum melihat dua orang tamu yang sangat familiar. "Ah, selamat datang! Silakan, silakan!" ia tersenyum menyambut mereka.
"Wah, wah. Suaramu benar-benar membuat telingaku sakit. Menurutku lebih baik kita tidak jadi makan di sini saja." Kata orang itu sambil melirik ke arah gadis yang ada di sebelahnya.
Senyum-bisnis Ino menghilang, digantikan dengan kerutan di dahi dan bibirnya yang mengerucut. "Heh, aku juga tidak suruh kau untuk makan di sini, kan? Kalau tidak suka, pergi saja sana, Shikamaru!" semburnya pada rekan satu timnya itu. Gadis yang sedang bersama Shikamaru sepertinya jadi kelihatan serba salah.
"Eh… maaf deh, Ino… kami mau makan di sini, kok. Tapi memang cowok bodoh ini saja yang tidak punya perasaan—" gadis itu mencubit bahu Shikamaru sampai cowok itu berjengit, dan segera membawanya ke kursi yang terdekat. "jangan bilang begitu lagi, bodoh!"
"Ah, tenang saja, Temari. Aku tidak marah padamu, hanya kesal pada Shikamaru saja. Kau mungkin sudah tahu 'kan, dia ini cowok semacam apa! Huh, hebat sekali kau bisa bertahan hidup," komentar Ino sebal.
"Ya, karena itu aku ini wanita yang termasuk kuat, ya?" komentar Temari, dan Ino tertawa mendengarnya. Membuat Shikamaru kembali berpikir mengapa wanita dengan sifat yang begitu berbeda bisa satu pendapat bahkan akrab kalau mengenai masalah pria. Justru hal itulah yang membuat wanita makin merepotkan untuk ditangani. Kadang begini, kadang begitu.
Huh. Merepotkan.
Ino kembali bersiul-siul. Dua tamu itu akhirnya pergi meninggalkan kafe setelah dua jam lebih dengan menghabiskan beberapa pastry, cake, dan empat cangkir kopi. Ino sempat tertawa saat Temari menarik Shikamaru dengan 'semangat' saat sepertinya cowok itu mulai bosan dan hampir-hampir ketiduran. Sedangkan Kurenai-sensei sudah lama berlalu, dengan membawa buket bunganya. Sepertinya dia kan pergi berziarah hari ini, pikir Ino.
Ia melirik jam. Pukul sebelas siang. Refleks, ia pergi keluar pagar dan melambaikan tangan pada seseorang yang seperti perkiraannya, sedang berjalan ke sini. Lambaian tangan itu berbalas dengan segaris senyum tipis.
"Selamat pagi, Sai."
.
LELAKI itu selalu berada di sana, kira-kira sejak dua bulan yang lalu. Ino agak kaget juga saat Sai pertama kali mengunjungi kafenya—bahkan selalu datang setiap akhir minggu di jam yang sama sampai jam tutup kafe. Gadis itu awalnya tidak terlalu memerhatikan apa yang ia lakukan, namun lama-lama ia penasaran juga.
"Ini, kau pasti mau teh apel dan pie apel, seperti biasanya," Ino menyodorkan sepoci teh dan sepiring kue ke atas meja. "Hari ini, apa yang akan kau gambar?"
Sai tersenyum seperti biasanya, dan mulai mempersiapkan buku sketsanya. "Banyak," katanya singkat, "terima kasih atas kuenya."
Ino merengut mendengar jawaban Sai. Singkat, tepat namun sama sekali tak padat. Karena sudah beberapa bulan ini ia sama sekali tak tahu apa yang lelaki itu gambar. Sai tak pernah mau memperlihatkan hasil gambarannya. Tapi, Ino juga tak ingin memaksa. Ya sudah. Gadis itu kembali sibuk di dapur, sesekali keluar melayani pembeli yang membeli bunga di tokonya.
Beberapa tamu datang, seperti Lee dan gurunya yang merayakan Hari Kembalinya Kejayaan Masa Muda atau entahlah namanya itu. Kakashi datang dan ngotot minta sake—padahal jelas-jelas tak ada sake di kafe. Akhirnya dia pulang setelah menghabiskan lima porsi black forest dan lima buah buku seri Icha-Icha Paradise dengan judul yang berbeda. Beberapa tamu lain yang tak dikenal juga datang.
Sudah sore. Tamu sepi kembali. Kecuali satu orang yang masih sibuk di sudut. Namun gadis itu sudah maklum.
Ino lalu mengelap meja-meja itu satu per satu. Tiba-tiba terdengar suara langkah-langkah yang dipercepat; satu setengah berlari, yang satunya tampak kerepotan mengikuti yang berlari. Ino berhenti mengelap meja dan melongok ke pagar.
"Di sini, di sini, Hinata-chan! Tempatnya masih kosong, tuh! Ayo!"
"Na…Naruto-kun. Tempat ini 'kan kafe milik Ino-chan… bu-bukankah biasanya…"
"Justru itu, justru itu! Sesekali kita makan di sini dan bukan Ichiraku, tidak apa-apa!"
Ino berpaling dari pekerjaan dapurnya dan pergi ke arah depan. Ia tersenyum lebar melihat dua orang tamu itu—Naruto dan Hinata. "Hai, Naruto, Hinata-chan," sapanya, "biasanya kencan kalian ke Ichiraku, kan?"
Wajah Hinata memerah dan Naruto nyengir. "Eeeeeh, kami tidak boleh makan di sini, yaaa? Baiklah, baiklah—kami akan ke Ichiraku, seperti biasanya… ayo, Hinata!" lelaki itu menggamit lengan Hinata dan menariknya pergi.
"Eit!" Ino menahan mereka di pintu pagar, "maksudku, silakan masuk, silakan masuk! Dasar kalian ini!" katanya riang sambil tertawa.
Naruto terkekeh geli. "Baiklaaaah. Aku mau rameeeeeeeeeeeeeeeeen!" teriaknya saat duduk di meja dan berikutnya Ino memukul kepala Naruto dengan buku daftar menu.
"Jangan bercanda, Narutooooo. Ini kafe, bukan kios ramen!"
"Oke, oke," kata Naruto sambil memegangi kepalanya yang kesakitan—Hinata tak bicara apa-apa saking kagetnya, "aku mau sesuatu yang rasanya cokelat. Cake cokelat… Ada, kan? "
"Nah, kalau itu ada," kata Ino sambil mencatat sesuatu di nota pesanan, "yang paling enak dari kafe kami adalah Sacher Torté. Nah, untuk minumannya? Oh ya, kau mau pesan apa, Hinata?" ia berpaling ke arah gadis berambut gelap yang masih tampak malu-malu itu.
"A…aku… aku mau choco parfait." Kata Hinata akhirnya setelah sesaat melihat daftar menu.
"Eh, kalau begitu, tambah dua cangkir teh juga, ya!" tambah Naruto.
"Oke!" Ino berdehem dan membacakan pesanan mereka, "Satu potong Sacher Torté, satu choco parfait, dua cangkir teh! Hari ini yang tersedia adalah darjeeling. Silakan menunggu!" Ino menundukkan kepalanya dan berbalik, namun Naruto menghentikan gadis itu.
"Ino. Pssst… ke sini dulu!"
"Hah?" Ino berbalik, "Ada apa lagi, sih?"
Naruto menggerakkan tangannya, meminta Ino mendekatinya. Gadis itu menurut dan Naruto membisikkan sesuatu di telinganya. Psssstt… pssssttt…. Pssst…
"Oh! Oke. Aku mengerti!"
Ino pun kembali ke dapur, diringi tatapan heran Hinata dan cengiran Naruto. Sementara itu, Sai masih asyik dengan buku sketsanya. Sudah dua cangkir teh yang ia habiskan. Ino menyiapkan makanan dan tambahan; ia mengambil beberapa tangkai bunga. Beberapa saat kemudian, gadis berambut pirang itu kembali dengan pesanan pasangan itu.
"Silakan pesanannya." Ino meletakkan kue enak dan segelas es krim serta dua cangkir teh ke atas meja. "Oh ya, Hinata…" ia melirik gadis itu, dan memberikan dua tangkai bunga Daffodil kekuningan ke tangannya. "layanan khusus spesial, dari Naruto. Baiklah, selamat menikmati!"
Hinata dan Naruto saling berpandangan. Berikutnya, wajah Hinata bersemu merah. Tangannya menggenggam erat bunga itu.
"Eh… Hinata, kau tak suka, ya?" tanya Naruto melihat ekspresi gadis itu.
"Dasar bodoh, Naruto… sebaliknya, Hinata, kau pasti senang sekali, iya, 'kan?" goda Ino. Hinata mengangguk dalam diam, wajahnya makin lama makin merah.
Ino tertawa melihatnya. "Nah, makanlah dengan tenang, oke? Hey, Naruto, kau hebat juga, yaaa…" komentar gadis itu sambil menyikut Naruto. Cengiran Naruto makin lebar.
Ternyata seorang Naruto bisa romantis juga!
"TERIMA kasih, ya, Ino! besok-besok kami akan ke sini lagi!" Naruto melambaikan tangannya dari kejauhan. Wajah Hinata masih merah, tangannya menggenggam beberapa tangkai Daffodil yang sekarang terbungkus plastik bening dan terjalin dengan pita kuning. Ino tersenyum senang dan balas melambaikan tangan.
Kepuasan pelanggan adalah kepuasan dia juga, sekarang itu benar-benar dirasakannya. Ia menoleh ke meja pojok yang masih setia diisi oleh lelaki itu—masih sibuk dengan kertas-kertasnya. Ino menghela napas.
"Sudah waktunya tutup, Sai," kata Ino pelan, hati-hati, takut mengganggu lelaki yang masih tekun bekerja itu.
Sai menoleh. "Oh, begitu? Baiklah. Berapa tagihanku?" tanyanya.
Ino memberikan bonnya pada Sai, "Kuberi diskon khusus, kau 'kan pelanggan di sini," kata Ino sambil tersenyum.
"Wah, terima kasih banyak," ia bangkit dan memberikan beberapa keping uang ke tangan Ino, "kebetulan, sekarang ini sudah jadi."
"Eh?"
Sai tersenyum tipis, diberikannya selembar kertas berukuran besar ke tangan gadis itu. "Kau ingin tahu 'kan, yang kukerjakan setiap hari? Ini untukmu."
Ino terperangah. Gadis itu melihat siluet dirinya sendiri yang tergambar di atas kertas, ada di balik mejanya dan sedang merapikan tumpukan bunga-bunga di rak-rak di depannya. Sketsa itu terbuat dari pensil, namun diberi warna dengan watercolor pencil—pensil warna yang akan memberi efek cat air bila dipoles dengan kuas. Gambar yang bagus. Sangat, sangat bagus.
"Kenapa…" gadis itu terbata, sifatnya yang biasanya cerewet menghilang begitu saja.
"Maaf. Aku membuatnya dengan bayanganku sendiri, jadi aku melihat pergerakanmu setiap hari dan menuangkannya dalam gambar sedikit demi sedikit," jelas Sai, "jadi mungkin tidak begitu mirip dengan aslinya. Karena kalau begitu, aku harus memintamu sebagai model dan itu akan merepotkanmu."
Wajah Ino merona mendengarnya, "maksudku bukan itu, bodoh," bisiknya, "…kenapa kau menggambarku?"
Lelaki itu tersenyum lagi—dengan senyum datarnya yang biasa.
"Karena aku suka melihatmu bekerja dengan rajin setiap hari."
Mereka saling berpandangan. "Itu saja?"
"Ya," Sai mengangguk tegas, "itu saja."
Ino tertawa keras. Dasar Sai… memang dia orangnya seperti ini. Itukah sebabnya ia terus berada di sini setiap akhir minggu? Gadis itu melangkah masuk ke dapur, "kalau begitu, kau mau teh lagi?"
"Eh?" kali ini wajah Sai terlihat agak bingung, kejutan bagi gadis yang senantiasa melihat ekspresi-tanpa-ekspresi lelaki itu, "bukankah kafenya sudah tutup?"
"Aku suka minum teh sendiri di sini kalau kafe sudah tutup," jelas Ino singkat.
"Lalu, mengapa aku juga?" tanya Sai, "Aku akan mengganggumu, bukan?"
Ino mengerling ke arah lelaki yang masih tampak agak bingung itu, lalu tersenyum manis. Tangannya terulur dan menggenggam tangan Sai, lalu ia menggandengnya masuk ke dalam. Yah… sebagai tanda terima kasih, tak apa-apa bukan, kalau aku memberinya beberapa potong cake ekstra?
.
"…kurasa, minum teh berdua denganmu lebih baik daripada sendiri."
.
.
End
.
AN Yak, sodara-sodara… alkisah dalam keadaan kacau dan blank saat membuat fic yang lain, muncullah ide songong-nan-ngaco untuk membuat fic ini. Kenapa SaiIno? Karena latar belakangnya kafe milik Ino… dan kenapa kafenya harus milik Ino? karena Ino udah dari sonohnya pemilik toko… jadi ngga apa-apa kan kalo saya modif sedikit jadi kafe? Terus, SaiIno jarang muncul di penpik saya yang lain… nyaris ngga pernah malah… jadi gapapa deh di sini muncul jadi main, meskipun saat ditulisin akhirnya malah jadi ngga keliatan… huhuhuhuuuu…-nangis sambil ngirisin bawang-
Iya, tau… ceritanya abal… wekekekeke… tapi saia pengen nulis sih… jadi yasud… karena fic ini pula saia jadi bisa lanjutin JEJAK loh. Jadi yang nungguin chapter terbaru JEJAK… berterimakasihlah sama penpik ini… dan buat yang ngga tau apa itu JEJAK… masuklah ke profil saya dan klik di story berjudul JEJAK BULAN DI ATAS AIR… jangan lupa me-review per chapter… Padahal ga ada hubungannya, iya ngga? Ah dasar authornya lagi eror ajah… maklum PMS…
Cerita ini bakal jadi multi-shots… istilah ngaco saya buat fic multichapter yang per chapternya tidak saling berhubungan. Yah ada sih, tapi ga terlalu. Ga ada inti cerita seperti fic saia yang lain. Jadi saia ga akan rutin nge-apdetnya, semaunya saia ajah… maksutnya nungguin si Ilham nongol aja… tau ngga, si Ilham masuk ke SMP loh taun ini… -dilempar CPU saya yang baru kena trojan- hahahahahahhh moon maap…
eh, iyaaa. visit my blog, wokeh? waktuminumteh (dot) blogspot (dot) com . anda akan menemukan cuap2 saya di sana... hahaha.
Nah, saya mohon reviewnya, juga kritik dan saran agar dapat saya jadikan perbaikan untuk ke depannya… jangan bosan memberi review yah kawan. Wokeh…
Terima kasih sudah membaca –berakhir dengan disambet rice cooker-jangan ngetik sambil mabok, lo!-.
Blackpapillon
