"Cepat, Pads!" teriak James dari bawah. "Jangan bilang kita akan kehilangan waktu untuk mengebut! Itu kesia-siaan yang tolol!"

Sirius, yang masih berada dalam kamarnya di lantai dua, balas berteriak, "Iya, iya! Sebentar, aku akan sisir rambutku dulu sebelum turun!"

"Untuk apa disisir?" tanya Remus tidak mengerti, juga dari bawah. "Toh saat kita berkebut-kebutan ria, rambutmu jadi berantakan juga. Percuma saja. Hari ini juga panas, keringat akan melepekkan rambutmu."

"Cepatlah, Pads," ujar James. "Lagipula kalau kita tidak cepat-cepat, Ibu kost-mu bisa datang kapan saja. Kau nunggak empat bulan, kan? Haha."

Peter, yang sedang memamerkan tato baru di lengannya pada James, ikut menimpali percakapan, "Sejak kapan kau jadi cewek, Siri? Jangan bilang sejak kau minum minuman keras tadi malam. Karena sebenarnya—"

Sirius mendengus pelan dan kemudian turun menemui teman-temannya di lantai bawah seraya—dengan nekat—menyisir rambutnya. Pakaiannya sudah lengkap. Jaket kulit, kacamata hitam, dan jeans yang bolong di sana-sini. "Sebenarnya apa, Pete?"

"Sebenarnya—"

"Sebenarnya Wormtail memasukkan air kobokan seorang bapak ke dalam minumanmu itu," lanjut Remus santai sambil memakai jaket kulitnya dan beranjak dari sofa. "Ayo berangkat."

"Remmy!" seru Peter. Matanya membulat. "Aku tidak percaya kau tega memberita—"

Belum sempat Peter menyelesaikan kata-katanya, Sirius sudah menutup mulut Peter. Keduanya lalu bergulat di lantai, sampai berguling-guling.

"Awas kau! Berani-beraninya kau memasukkan air kobokan ke minumanku!"

"Aku hanya bercanda, Pads!"

"Aku sakit perut tadi malam, Bego!"

"Hei, siapa suruh kau teler berat sehingga tidak sadar tanganku sedang memasukkan sesuatu di minumanmu?!"

"Dan sesuatu itu adalah air kobokan seorang bapak di sebelahmu? Yang kurapan itu? Kuhajar kau!"

"Oh! Mama, aku takut!"

Remus memutar bola matanya, dan James segera bertindak bagai pahlawan kesiangan dengan memisahkan keduanya.

"Stop!" seru James sambil melerai Sirius dan Peter. "Kita sudah kehilangan tiga puluh menit untuk meledakkan jalanan, Guys!"

Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi James untuk memberhentikan adegan smack down antara Sirius dengan Peter.

"Tumben," komentar Remus sambil mengangguk-angguk, mengapresiasi apa yang James lakukan. "Tumben kau melerai keduanya, Prongs. Biasanya kan kau ikut berkelahi atau sekedar menyemangati salah satu dari mereka dengan heboh."

"Kau sakit ya, Prongs?" tanya Peter.

"Tidak," jawab James singkat. "Ayo berangkat."

Keempat sekawan ini pun berjalan keluar dari rumah kost Sirius, lalu mengambil motor masing-masing. Motor yang besar, gagah, hitam mengkilat, dan ribut. Benar-benar pilihan yang pas untuk membangunkan seisi kota hanya dengan satu kali tarik gas.

Mengapa mereka berdandan ala preman pasar dan menaiki motor besar?

Karena mereka berempat hendak berkebut-kebutan ria saat ini.

"Ayo, ambil posisi," perintah Remus.

Setelah semuanya siap di posisi beserta motor mereka masing-masing, James memberi komando, "Satu... dua... tiga!"

Dan keempat motor pun melesat di tengah terik matahari, meninggalkan debu yang beterbangan di udara.

Peter memimpin—motornya memang paling baru—tapi Sirius tidak mau kalah—Sirius melambung Peter dengan hebohnya—mereka berbelok karena jalanan mengharuskan mereka berbelok ke kanan—anak-anak kecil yang menonton mulai bertepuk tangan riuh—pembantu-pembantu yang mengawasi anak-anak kecil bermain mengutuk mereka berempat—angin tiba-tiba bertiup—Remus tertinggal—ia kesusahan melawan angin yang membuatnya kedinginan bahkan saat ia sudah memakai jaket kulit dan matahari sedang bersinar terik—Sirius dan Peter mulai berlomba menjadi juara satu—James yang marah karena kalah dan ada di posisi ketiga, mulai mengejar Sirius dan Peter—mereka bertiga saling mendempet lawan.

Terus begitu.

"Sial," kata Sirius kesal. "Mengalah saja kalian semua!"

"Terima saja kenyataan kalau kau akan kalah, Siri," ujar Peter sambil menyeringai, meremehkan Sirius. Dua orang ini memang selalu saja bertengkar. Macam-macam penyebabnya. Karena minuman keras lah, karena kebut-kebutan motor lah, bahkan sampai hanya karena sepatu yang mereka kenakan sama merknya—bukan jenis dan warnanya.

Sirius mendelik. "Tentu tidak! Aku tidak akan kalah, Bodoh!"

"Mari kita buktikan, Sweetheart." Peter menggoda Sirius yang mulai naik darah.

Sirius dan Peter pun menambah laju kecepatan motor mereka, meninggalkan James yang menggerutu jengkel.

Mereka berempat terus melesat. Berusaha mencapai garis finish yang sudah ditentukan secepat mungkin. Bahkan ketika sampai di perempatan yang ramai dan lampu merah sedang menyala, Sirius dan Peter nekat terus mengebut. Tidak melambatkan laju motornya sama sekali.

Diikuti oleh gerutuan dan makian para pengendara kendaraan lainnya, tentu.

James—yang tertinggal di belakang setelah Sirius dan Peter serta tidak mau kalah juga—mengikuti jejak kedua sahabatnya itu. Dia dengan cuek tetap melanggar lampu merah yang masih menyala.

Brum!

...

Tapi...

...

Brakk...

...

Dia terlempar ke jalanan, mobil yang menabraknya penyok, motornya terbanting, dan...

"James!" teriak Remus kaget.

Mendengar teriakan Remus yang sangat keras, Sirius dan Peter segera menghentikan motornya.

Dan ketika mereka berbalik, James sudah terbaring di jalanan. Dengan darah merah segar yang mengucur dari kepala, sela-sela rambut, hidung, mulut, dan telinga. Darah itu terus membanjir dan seolah tak bisa berhenti saking banyaknya.

"James!"

"Oh, tidak!"

"Betapa mengerikannya... kenapa ia tidak memakai helm?"

"Jangan diam saja! Cepat telepon ambulans!"

.

.

James

Oleh anizranzracz

Harry Potter oleh JKR

a/n: Fic multichap ini dibuat untuk my best friend forever :') and AU, maybe?

.

.

Prolog

James sudah pergi.

"James..." ratap Remus memanggil James. Matanya bengkak, wajahnya pias, air matanya tidak bisa keluar lagi karena sudah sejak pemakaman tadi pagi ia menangis.

Pemakaman James berlangsung di pagi hari tadi, dan Remus, Sirius, serta Peter masih berada di makam James hingga sekarang. Jam sementara menunjukkan pukul sebelas malam dan mereka belum sama sekali keluar dari area perkuburan itu sedari tadi.

Sirius menangis. Air matanya tidak bisa dibendung lagi.

Sementara itu Peter hanya menghela napas berkali-kali, berusaha menenangkan dirinya sambil duduk di sebuah makam dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Entah kenapa dia tidak ingin melihat makam James yang berada tepat di depannya.

"Sahabat macam apa kita ini?" jerit Sirius sambil menendang sebuah kerikil hingga jauh terlempar. "Katanya kita selalu bersatu? Tapi James?"

Remus mulai menitikkan air matanya lagi ketika mendengar ucapan Sirius. Padahal ia kira ia sudah tidak bisa menangis.

"Karena ulah kita, James ada di sana!" teriak Sirius sambil menunjuk makam James. Linangan air matanya jatuh ke tanah perkuburan yang gembur. "Membusuk di bawah tanah! Dimakan ulat! Sahabat kita itu! Yang selalu menemani kita! Dan ini semua karena kita! Inikah The Marauders yang katanya selalu bersahabat dan menjaga sahabatnya?"

Remus mulai meratap lagi sambil menangis, "James... James... James..."

"Sudahlah, Siri," ujar Peter berusaha menenangkan Sirius.

"Kita memang bodoh! Orang tidak berguna!" seru Sirius marah. "Menyelamatkan nyawa James saja kita tidak bisa!"

Sirius sudah mulai mengamuk lagi, ketika Peter beranjak dari makam yang ia duduki dan menepuk-nepuk pundak Sirius. Air mata Peter sendiri mulai turun.

"Sudahlah, Siri," kata Peter. "Bersabarlah... mungkin Tuhan memang memanggil James sekarang."

Sirius memiting tangan Peter yang menepuk-nepuk pundaknya. "Berpikirlah, Wormtail! Seandainya aku tidak mengusulkan acara balap-balapan dan kita semua tidak menyetujui usulku, James tidak akan pergi! Dia masih ada di sini! Dia masih akan menemani kita!"

"Iya," ujar Peter sambil menghapus air matanya. "Tapi kita tidak bisa begini. Kau salah kalau kau menyalahkan dirimu sendiri..."

Sirius terbawa emosi.

"Siapa yang salah?!"

"Tidak ada yang salah," ujar Peter. "karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang! Kita tak pernah menyangka kalau ternyata ide gila kita itu mengantarkan James ke tempat peristirahatan terakhirnya! Kita tidak tahu!"

"Kita salah!"

"Kita tidak salah!" seru Peter. "Kau salah kalau kau menyalahkan dirimu sendiri dan aku serta Remus!"

Sirius mengguncang-guncangkan bahu Peter sambil menangis. "Dia itu siapa, Peter? Yang dikuburkan tadi pagi itu siapa?!"

Peter tidak mampu menjawab. Ia tersedu pelan.

"Dia sahabat kita!" seru Sirius sambil mendorong bahu Peter.

Remus hanya bisa menatap kedua sahabatnya yang bertengkar itu dengan tatapan kosong. Hampa. Perasaan sedihnya saat ini benar-benar menyedot seluruh energi di tubuhnya sehingga ia tidak bisa berbuat apa pun. Bahkan untuk menegur kedua sahabatnya itu dengan satu kata.

"Iya, dia sahabat kita, Pads," ujar Peter bergetar. Air matanya terus-menerus menitik.

"Kalau kau tidak menyalahkan dirimu sendiri," kata Sirius. "Dia bukan sahabatmu!"

"Dia sahabatku... James, dia sahabatku..."

"Tidak!"

Peter menghapus air matanya. "Dia sahabatku…."

"Tidak!"

Peter menjerit, "Dia sahabatku, Siri!"

"Tidak!" seru Sirius keras. "Karena kau membiarkannya pergi!"

Peter mendorong bahu Sirius. "Kaupikir dia akan senang kalau kita menyalahkan diri kita sendiri karena kepergiannya? Tidak, Siri! Tidak! James orang yang baik! Dia tidak akan membiarkan orang-orang terdekatnya sedih hanya karena kepergiannya!"

"Dia pergi karena salah kita!" balas Sirius. Suara bariton-nya menggetarkan seisi pemakaman.

"Bukan!" balas Peter. "Ini semua memang sudah ditakdirkan!"

"Kalau begitu, dia bukan sahabatmu!" seru Sirius emosi. "Karena kau tidak mau mengakui bahwa kau-lah penyebab dia pergi!"

"Kau itu yang bukan sahabatnya!" teriak Peter. Ia ikut terbawa emosi.

Sirius membelalak. "Apa kaubilang?"

"Kau itu yang bukan sahabatnya!" ulang Peter. "Belum jelas? Perlu kuteriakkan satu kali lagi?"

Sirius mengepalkan tinjunya.

Peter, yang tidak ingin menambah-nambah masalah, langsung berlari keluar dari pemakaman.

"Dasar pengecut!" teriak Sirius. Suaranya bergema di seantero kuburan. "Harusnya aku, Remus, dan James, tidak pernah bertemu denganmu di SD dulu! Kau tidak berguna! Kau tidak pantas hidup di dunia ini, Pettigrew!"

Setelah itu hening. Hanya suara jangkrik dan angin malam yang mengisi kesunyian itu.

Lalu air mata Sirius turun lebih deras. Anak laki-laki sulung keluarga Black ini tersedu. Setelah itu ia berjalan lunglai—setengah menyeret kaki—keluar dari pemakaman.

Kini tinggal Remus sendiri. Terduduk lemas di tepi makam James.

Dan suatu sosok transparan putih melayang-layang di atas pohon beringin tua yang berlumut. Sosok itu terbang berputar-putar, sempat singgah di sebelah Remus—tetapi tidak Remus sadari—lalu melayang pergi. Entah ke mana.

Sosok putih transparan itu adalah James.

Dan dia menggerutu karena sahabat-sahabatnya malah—dengan bodohnya—berpisah hanya karena kepergiannya.

"Dasar Padfoot, Moony, Wormtail... mereka sudah dewasa belum, sih?"

.

.

TBC

Author's note:

*nangis* Pendek banget! T_T udah gitu gak jelas lagi! Sori banget kalau gak ngena, nyebelin, jelek, banyak typo ataupun miss-typo *sebenernya gak ngerti bedanya apa*. Dan karena itu... kalau kalian mau, kasih tau saya dong apa kekurangannya fic ini... supaya saya bisa perbaikin di chapter depan.

Iya, iya -_- saya ngerti kalau semua fic multichap yang saya kerjain itu gak ada yang Finish! T_T *huaa* dan saya dengan nekatnya nulis yang baru. Haaaa... yah, lumayanlah buat ngusir nyamuk -_-" Terima aja ya?

Thanks for reading :D

Dan kalau ngereview... double thanks for reviewing! See you semuaaaa~ *lambaikan tangan*