Title: Sadless ending
Author : ESH1608
Genre : Family, Hurt/Comfort, Drama
Main Cast : Cho Kyuhyun , Park Jungsoo, Lee Donghae, Kim Kibum
(Semua main cast marganya berubah menjadi Park)
Other Cast : Super Junior Member, yang lain mengikuti cerita
Rating : T
Warning : OOC, Typo(s), DON'T LIKE IT DON'T READ IT
Summary : FF Brothership, With Jungsoo dan tiga adik kembarnya Donghae, Kibum, Kyuhyun. (Maaf lagi gak ada ide untuk buat summary)
.
.
Sadless Ending Chapter 1
Prolog
.
.
Semua yang di awali dengan kebohongan maka akan berakhir dengan menyakitkan.
Malam itu yang dingin, kesenyapan tidak ikut bersamanya. Kali ini tak sekedar perpecahan suara tapi juga di iringi dengan bunyi yang memekakkan telinga. Seorang remaja 19 tahun yang memakai piyama putih bersembunyi dibalik pintu kayu berukir, membiarkan sedikit celah terbuka agar lampu terang ruang tengah memberikan setitik cahaya pada kamarnya yang gelap.
Dia terdiam tak bersuara dan tak mampu berbuat apa-apa. Ketidakmampuan itu lama kelamaan membuatnya membenci dirinya sendiri, karena sebagai anak tertua di keluarga ini dia merasa tak bisa diandalkan. Dia bersalah atas setiap tindakannya.
Tindakan diam-diamnya ternyata membangunkan seorang anak remaja laki-laki lain yang usianya tak terpaut jauh dengan dirinya. Anak itu perlahan turun dari tempat tidurnya dan berjalan pelan dalam kegelapan. Memastikan dua orang anak remaja laki-laki lain yang masih tertidur tidak terbangun karena ulahnya atau suara ribut-ribut diluar. Setelahnya, dia menghampiri kakak tertuanya yang sedang menyaksikan kedua orang tua mereka beradu mulut di ruang tengah di balik celah pintu.
"Mereka bertengkar lagi?" Bisik remaja yang kini berusia 17 tahun itu membuat kakak tertuanya terkejut, "Ah kau kibum. (menghela nafas kasar) Ya, kali ini aku bahkan tidak mengerti alasan apa yang membuat mereka bertengkar."
"Mereka tidak harus memiliki alasan untuk tetap melakukannya. Bahkan di setiap moment." Pernyataan retoris Kibum membuat kakaknya tersenyum miris.
"Kyuhyun dan Donghae?" Jungsoo melongokan kepalanya ke arah tempat tidur mereka, memastikan bahwa kedua adiknya yang lain tidak terbangun dari tidur lelap mereka.
"Aku sudah memasangkan earphone pada mereka berdua, Donghae sempat bangun tapi dia sudah tertidur kembali."
"Oke. Ayo tidur." Dengan pelan, Jungsoo menutup pintu kamarnya. Menggandeng Kibum menuju ranjang mereka masing-masing untuk kembali tidur dan membiarkan suara keras di luar sana tetap bergema. Mereka berdua mencoba untuk terlelap tapi justru air mata yang menggenang dan mengalir. Menahannya hingga terasa sesak.
Keluarga Park ternyata tidak seperti yang banyak orang bayangkan di luar sana. Didalam mansion mewah berlantai marmer eropa itu ternyata sangat dingin menusuk. Sebagai kepala keluarga, Park Si Kyung tidak bisa membawa keharmonisan keluarganya hingga akhir, begitu pula dengan Jung Hana, dia gagal menjadi seorang ibu dan istri yang baik bagi keluarganya. Semuanya berawal dari kebohongan. Bahkan rasa cinta tak bisa menghilangkan perasaan kecewa itu.
Hidup dan mati aura kekeluargaan hanya berada di tangan mereka berempat. Mereka adalah Park Jungsoo, anak laki-laki tertua yang secara langsung, berdasarkan kemauan atau penolakannya, dia akan tetap menjadi penerus utama keluarga. Memegang tanggung jawab berat pada pundaknya seorang diri, dia harus kuat dan bertanggung jawab.
Dia juga harus mampu menjaga dan melindungi ketiga adiknya yang terlahir hanya berselang berapa menit, kelahiran kembar tiga yang ternyata membawa malapetaka. Kebahagian akan datangnya mereka bertiga ke dunia, ternyata sama sekali tidak dapat menyentuh hati nurani dua keluarga besar Park dan Jung.
Anak laki-laki kembar tiga yang terlahir pertama kali kedunia adalah Park Donghae. Periang dan mood maker, dia adalah cahaya bagi kegelapan hubungan kekeluargaan mereka, tapi selain itu dia juga pembuat masalah. Park Kibum yang terlahir tepat 5 menit setelah kakak kembarnya. Sangat bertolak belakang dengan Donghae, dingin, irit bicara, pintar dan dapat diandalkan.
Lalu yang terakhir, adik bungsunya, Park Kyuhyun, pelengkap keduanya, dia mewarisi sifat kedua kakak kembarnya. Mempunyai semangat jiwa yang bebas tapi sayangnya terkungkung bak rapunzel dalam mansion ini. Secara sah merupakan anak dari kedua orang tuanya, tapi mirisnya dia tidak bisa terdaftar dalam daftar keluarga sebagai bagian dari keturunan Park dan Jung.
.
.
Pagi hari yang cerah, mereka berempat terbangun dengan harapan bahwa hari ini akan berakhir baik-baik saja. Seorang kepala maid yang juga merangkap sebagai sekretaris pribadi Jungsoo membuka tirai kamar mereka dan membiarkan cahaya matahari masuk kedalam kamar yang sangat luas ini dengan 4 ranjang berdampingan.
"Tuan muda Jungsoo, sarapan dan pakaian sudah saya siapkan." Jelasnya dengan hormat. Rutinitasnya di setiap pagi.
"Terima kasih sekretaris Lee." Senyum palsu itu mengembang. "Eomonim dan abeoji pasti sudah pergi?" tanyanya lanjut, sambil mencoba men-streching-kan tubuhnya ke kanan dan kekiri.
"Tuan sudah berangkat ke Inggris pukul 2 tadi, sedangkan nyonya baru saja berangkat ke Jepang 1 jam yang lalu."
Jungsoo mengangguk, "Tolong siapkan mobil Kibum, Donghae akan berangkat bersamanya hari ini. Mobilnya aku sita. Juga tidak usah bangunkan mereka, biar aku yang melakukannya."
"Ya tuan muda."
Pria yang kini sudah memasuki usia 35-an itu membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan kamar mereka.
"Kibum bangun, kau harus sekolah." Jungsoo mengguncang bahu kibum membuatnya anak itu terbangun dari tidur tak nyenyaknya.
"Bangunkan Donghae! Hyung akan menunggumu di meja makan."
Kibum mengangguk. Dia menarik selimut Donghae membuat anak itu mengkerut sebal, Hah.. dia masih tidak bisa percaya bahwa Donghae adalah kakaknya. Well, walaupun cuma lebih dulu 5 menit dari dirinya.
"Hae, Bangun! Atau aku akan berangkat duluan."
"Berangkat saja duluan, aku juga punya mobil." Gumamnya masih dengan mata terpejam, dia menarik selimutnya lagi.
"Kau lupa mobil mu di sita Jungsoo hyung?" Kibum kembali menarik selimut Donghae, kali ini menggulung dan menggenggamnya erat.
"Aish, dengan aegyo dia pasti luluh." Donghae meraba sekitarnya mencoba menemukan selimutnya lagi, tapi tak di temukannya. Dengan terpaksa, dia membuka mata dan mengerling sebal ke arah Kibum.
"Selimut ku?!" Terima kasih kesabaran Kibum telah habis, dia melempar selimut Donghae kasar. Membangunkan Donghae selalu menjadi pilihan yang salah untuknya.
"Terserahmu, jangan salahkan aku kalau Jungsoo hyung berubah menjadi devil oke. Aku sudah memperingatkanmu!"
Dia melenggang ke arah kamar mandi, meninggalkan Donghae yang diam tak berkutik. Sepertinya amarah Jungsoo hyung karena kejadian kemarin masih belum reda. Donghae mengacak rambutnya asal, satu-satunya yang bisa jadi tameng perlindungannya adalah si maknae. Tapi dia masih terlelap dan Donghae tidak tega membangunkannya. "Ish, kenapa ini semua terjadi padaku. Sesanghae (Ya tuhan)."
Kibum duduk di bangku sebelah kanan meja makannya dengan seragam lengkap, mereka tidak akan mulai makan jika Donghae belum muncul. Kebiasaan mereka di pagi hari, jika ada masalah di hari sebelumya maka mereka harus menyelesaikannya. Yang berarti, tamat riwayatmu Donghae.
Benar saja remaja itu menuruni tangga dengan gugup, ia memakai seragam yang sama dengan Kibum. Dengan takut, Donghae menarik kursi meja makan dan memposisikan dirinya bersebrangan dengan Kibum. Lalu mengambil sehelai roti dan memotong bacon di piringnya.
"Masih tidak mau mengaku bersalah, Hae?"
Donghae yang baru saja menyuapkan bacon dan roti kedalam mulutnya mendadak tersedak, "Ya ampun hyung, aku kan sudah minta maaf."
Kibum memasang earphonenya, dia sudah bisa menebak apa yang akan di katakan oleh Hyung tertuanya itu pada Donghae. Tapi...
"Kibum, lepaskan earphonenya!" ups, kakaknya sedang dalam mood buruk. Hah, dia baru berusia 19 tahun. Tapi tingkahnya seperti orang tua, keluh Kibum dalam hati sambil melepas earphonenya terpaksa.
"Hae, apasih hobbymu yang sebenarnya? Dancer atau tukang balap mobil? Ya tuhan, itu mobil ke-8 yang kau rusakkan."
"Mianhae, aku hanya terpaksa. Zhoumi menantangku. Akukan sudah menjelaskannya kemarin. Ne? Ne?"
"Mobilmu tetap ku sita. Mobil kemarin yang kau rusakkan tidak akan hyung benarkan. Kau sendiri yang cari cara bagaimana membetulkannya. Tanpa pakai uang keluarga!"
"Aaa, Hyung! Hyung tega padaku?" Donghae menatap Jungsoo dengan mata berbinar, meluncurkan semua jurus aegyonya sambil beberapa kali menendang kaki Kibum di bawah meja meminta pertolongan. Tapi adiknya yang sedingin es itu tak bergeming, Cool City Guy, memakan sarapannya tanpa sedikitpun terganggu.
"Yes!" Tegas Jungsoo tidak tergoda akan setiap jurus aegyo yang dilancarkan padanya.
"Hyung, bagaimana jika kita membuat kesepakatan? Win-Win Solution? Mobil Bugatti Veyron itu adalah mobil favoritku. Aku berjanji tidak akan balap mobil lagi jika hyung mau membetulkannya. Cost (Harga) nya terlalu mahal jika aku membetulkannya sendiri."
"Untungnya bagiku?"
"Aku berjanji tidak akan balap mobil lagi, itu untungnya bagimu."
"Hah? Kau pikir aku bodoh? Bagaimana caranya aku membuktikan kau tidak akan balap mobil lagi?" Jungsoo tersenyum mengejek, Win-Win Solution apanya, sudah jelas itu Win-Lose.
"Tapi Hyung..."
"Tapi apa? Yang jelas NO, Donghae!"
"Tapi Hyung, aku sudah menghubungi bengkel langganan tadi malam, dia akan mengambil mobilnya hari ini. Uang muka sudah ku transfer melalui kartu kredit hyung."
Donghae mengambil tas yang tergolek pada kursi meja makan tepat di sampingnya, mengambil ancang-ancang sebelum amarah Hyungnya menyembur kemana-mana.
"Mw..-Mwo?"
"Hyung, Jinjja Mian.. Hyung, Kan ta (Aku pergi). Hyukjae sudah menungguku di luar." Dia mengecup pipi Jungsoo secepat kilat, lalu menghambur keluar dengan rusuh.
"Yak! Park Donghae! Kau mati hari ini!"
Kibum hanya bisa terkekeh pelan.
"Kenapa tersenyum-senyum tak jelas?"
Kibum masih mencoba menahan tawanya sekuat tenaga dan berakhir gagal, "Aku hanya tak habis pikir mengapa hyung selalu kalah oleh anak itu?"
Jungsoo menggetok Kibum dengan garpunya pelan, "Hyung, dia adalah kakakmu!"
"Kakak ku apanya? Dengan tingkah seperti itu?" Kibum hanya geleng-geleng kepala, dia membereskan sarapannya lalu mengambil kunci mobil di atas kulkas, "Aku berangkat."
"hem, jangan mengebut!"
"Ne, Hyung."
Perlahan langkahnya semakin jauh, tanpa sadar Jungsoo tersenyum. Donghae selalu berhasil membuat paginya tenang. Dia juga selalu berhasil membuat Kibum dengan hati es itu tertawa. Rasanya kurang lengkap jika adik bungsunya tidak bergabung dengan mereka. Jadi setelah selesai sarapan dia akan mencoba membangunkan Kyuhyun. Hal terberat bagi Jungsoo adalah menerima kenyataan bahwa adiknya tidak bisa seperti kedua kakak kembarnya yang bersekolah dan bermain secara bebas. Dia bahkan membutuhkan seribu nama dan penyamaran untuk sekedar melangkahkan beberapa langkah kakinya keluar dari mansion ini.
Jungsoo membuka pintu kamar mereka, ini adalah terakhir kalinya dia akan tinggal di kamar tersebut. Karena mulai besok, dia akan pindah ke kamarnya sendiri. Setelah sarapan tadi sekretaris Lee mencoba menjelaskan situasi itu kepadanya.
Dia tidak langsung membangunkan Kyuhyun, malah mengamati adiknya itu dengan lekat. Semakin lama dia amati, semakin dia sadar bahwa mungkin saja adiknya sedang bermimpi sangat buruk. Hingga bulir keringat itu mengalir di dahinya, padahal AC di ruangan itu jelas masih tetap hidup dan terasa dingin. Dia menepuk pipi kyuhyun pelan mencoba membangunkannya.
"Aku yang bersalah, eomma." Donghae, anak laki-laki berumur 10 tahun itu bersujud di depan ibunya yang tampak sangat kesal.
"Kau tahu donghae, jika kau yang bersalah maka dialah yang harus dihukum." Wanita berparas anggung tersebut membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah tangga.
Kibum berlari mencegat ibunya yang mulai menaiki anak tangga itu satu persatu.
"Eomma, Andwae (tidak)!" Kibum menggeleng sambil memegang tangan ibunya kuat.
"Berlaku juga untukmu Kibum!" Ibunya yang harusnya berperangai lembut itu melepas tangan kibum kasar.
Dia membuka kasar setengah membanting pintu kamar mereka, menyeret Kyuhyun yang sedang memainkan PSP-nya.
"Eo..eomma?" Ucapnya gugup.
"Lihat ini Donghae, Dia yang akan menanggung kesalahanmu." Wanita itu menarik Kyuhyun kedalam kamar mandi, tidak memperdulikan rintihan dari Kyuhyun.
Kibum mencoba melepaskan pegangan erat ibunya pada kerah baju Kyuhyun. Tapi pegangan tangan ibunya terlalu erat. Dorongan keras dilayangkan pada tubuh kecil Kibum tepat didepan kamar mandi. Donghae menangis kencang langsung menghambur ke arah Kibum yang masih jatuh terduduk.
"Kibum!" Serunya keras sambil memeluk tubuh Kibum.
"Kibum, Donghae, eomma sudah memperingatkan kalian untuk jangan macam-macam."
Pintu kamar mandi tertutup, terakhir yang terlihat oleh mata mereka adalah Kyuhyun yang menangis dan lampu kamar mandi yang padam.
"Eomma! Aku yang bersalah, Jalmothaeso.. Eomma.." Donghae berlutut didepan pintu kamar mandi sambil berteriak-teriak.
Begitu pula dengan Kibum, "Eomma, bb-buka pintunya."
"Eomma, hukum aku. Aku yang salah eomma. Jweisonghamnida (maafkan aku) Eomma! Jaebal, Kyuhyun tidak tahu apa-apa."
Mereka berdua menggedor pintu kamar mandi berulang kali sampai telapak tangan itu memerah, tapi tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Hanya teriakan dari Kyuhyun yang terdengar.
Jungsoo yang baru saja pulang sekolah langsung menuju kamar mereka ketika suara ribut terdengar, dia melihat adiknya memukul pintu dengan kasar, Kibum beberapa kali mencoba mendobrak dengan tubuh kecilnya.
"Hy..ung.. Kyu..hyun!" Donghae berucap lemas, tangisnya semakin pecah ketika Jungsoo menghampiri mereka.
"Kyuhyun?" Dia bertanya ragu bercampur takut akan apa yang dia bayangkan.
"Eomma, Kibum berjanji tidak akan melakukannya lagi. Ampun eomma, jangan hukum Kyuhyun. " Kibum jatuh berlutut, Jungsoo yang sadar bahwa yang dibayangkannya benar terjadi langsung menggedor pintu kamar mandi dan memutar knopnya beberapa kali,
"Eomonim, ini Jungsoo."
Tak ada jawaban, Tak ada suara dari dalam.
"Eomonim, Kyuhyun tidak bersalah!"
Jungsoo tidak menyerah, dia beberapa kali mencoba mendobrak pintu kamar mandi itu. sampai pada akhirnya ibunya keluar dengan penampilan kusut dan pakaiannya telah basah. Dia tidak bisa membayangkan kejadian apa saja yang telah terjadi di dalam kamar mandi tersebut. Kibum dan Donghae juga masih terus menangis, mengerut takut ketika mata mereka bertemu pandang dengan mata ibunya.
Jungsoo langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi, dia melihat samar-samar dalam kegelapan, Kyuhyun yang basah kuyup. Tanpa berpikir lagi, Dia memeluk Kyuhyun erat, "Ky..-kyuhyun."
"Jweisonghamnida eomma, mianhaeyo." Lirih anak itu,
"Kyuhyun ini jungsoo hyung."
Adiknya masih bergumam dengan tubuh yang bergetar. "Eomma, mianhaeyo!"
"Kyuhyun, ayo kita keluar." Jungsoo mencoba mengangkat tubuh Kyuhyun, tapi anak itu menolak.
"Ampun eomma, mianhaeyo!"
"Kyuhyun ini Hyung!" mencoba menyadarkannya.
"Jangan! Sakit! Ampun eomma." Kyuhyun dengan tubuh bergetar tetap tidak bergeming untuk keluar dari kamar mandi sekuat apapun Jungsoo mencoba menggendongnya, dia akan menolak.
Membiarkannya tetap dalam kegelapan, kelembaban dan dinginnya malam yang menusuk tulang itu. Sampai pada akhirnya, Jungsoo menyerah, dia hanya akan memeluk tubuh Kyuhyun yang bergetar hingga dia tenang. Membiarkan hanya seberkas cahaya dari ruang kamarnya menyinari kamar mandi yang gelap itu.
"Kyu.. Ireona." Guncangan yang semakin kuat itu berhasil membangunkan kyuhyun dari mimpi buruknya... atau mungkin kenangan masa kecilnya?
"Hyung." Bola mata milik hyungnya yang selalu menenangkan itu memendam rasa khawatir, tertekan dan rasa sayang begitu dalam.
"Kau bermimpi buruk?"
Kyuhyun mengangguk, tak pernah mampu untuk bisa berbohong pada kakak yang sudah menjadi ayah dan ibu untuknya. "Tidak apa-apa, hanya bunga tidur." Ucapnya tenang. Dia melihat sekitar, ranjang kedua kakak kembarnya telah rapi.
"Donghae dan Kibum sudah berangkat sekolah?"
"Panggil mereka hyung kyunnie. Mereka sudah berangkat-umm-sekitar 15 menit yang lalu. Bagaimana kalau hyung menemani mu sarapan sebelum hyung berangkat hyung kuliah? Sepulang dari kampus, kita belanja, Call?
Kyuhyun berseru senang, "Tentu saja, Call!" Kyuhyun langsung berlari menuju kamar mandi, meninggalkan Jungsoo yang tersenyum miris. Adiknya masih saja belum bisa mengubur kenangan buruk tersebut.
.
.
To Be Continue...
.
.
Maafkan saya membuat idola saya sendiri tersiksa, poor kyunnie... tapi mau bagaimana lagi, tangan dan otak saya malah mengetik sejauh ini. pendek? Tenang ini masih prolog.
Ini mungkin menjadi ff kedua saya tentang kyuhyun yang di posting di ffn, karena the unity of ability akan segera rampung. Saya pikir saya harus punya pengganti ff baru dengan Main cast Kyuhyun.
Terima kasih untuk yang sudah mau mampir baca, please jangan marahin saya karena saya menyiksa uri kyu ya, #smirkevil
Big Hug
ESH1608
