Surat Cinta 2

.

.

.

.

.


Disclaimer : All characters belongs to Masashi Kishimoto. I own nothing except the plot.

Warning : AU. OOC. Plotless maybe. Mainstream dan masih banyak kekurangan di sana-sini yang gak bisa disebutin satu-persatu. Sudah disebutkan di summary tentang Islamic content yaa. Enjoy reading aja minna-san :)


.

.

.

Bismillahirrahmanirrahiim.

.

.

.

"Kenapa kau masih ada di sini?!"

Naruto bergegas menghampiri Sasuke yang masih tak beranjak dari tempatnya sejak ia meninggalkan pemuda itu sekitar dua puluh menit yang lalu.

Pandangan Sasuke tak beralih dari layar datar monitor di hadapannya, sementara kesepuluh jari menari lincah di papan keyboard.

"Hnn." Sasuke bergumam pelan, tak mau repot-repot menanggapi temannya yang berambut keemasan –yang kini sudah berdiri di sebelahnya sambil berkacak pinggang.

"Adzan sudah berkumandang, Sasuke! Kenapa kau masih belum siap-siap juga?!"

"Hnn…"

"Oi, Sasuke!" Naruto memegang bahu pemuda itu. "Kau dengar aku gak sih?!" Dan sengaja meninggikan suara karena Sasuke belum juga menghiraukannya.

"Tsk! Lepaskan tanganmu!" Sasuke menepis tangan Naruto dari bahunya dengan kasar, lalu ia mengalihkan matanya dari monitor, dan tanpa disangka-sangka oleh pemuda Uzumaki tersebut, "jangan ganggu aku, Naruto! Kau pergi saja sendiri!" Sasuke menghardiknya cukup keras.

"Ka-kau? Apa maksudmu, heh? Shalat Jum'at sebentar lagi mulai!"

Tak mau kalah begitu saja, Naruto pun balik membentak pemuda Uchiha itu seraya menarik kerah bajunya. Mukanya merah padam akibat menahan amarah yang kian memuncak.

Kesabaran Naruto mulai menipis karena sikap mendahulukan dunia dan melalaikan ibadah yang sering dilakukan Sasuke akhir-akhir ini. Sudah beberapa kali ia menasihati Sasuke, namun sepertinya pemuda itu tak menggubris peringatannya.

"Biarkan saja dia, Naruto." Sebuah suara dari arah pintu menginterupsi percekcokan antara dua sahabat karib itu.

Naruto dan Sasuke serentak menoleh ke arah seorang pemuda berkulit pucat yang tengah bersandar di salah satu daun pintu ruang OSIS yang terbuka mengarah ke koridor.

"Jangan sampai kau ikut berdosa karena ulahnya," ujaran bernada ketus terlontar dari mulut Sai yang sempat menyunggingkan senyum sebelum mengatakannya.

"Ayo!" Sai lantas memberi isyarat kepada Naruto agar segera bertolak ke masjid untuk menunaikan shalat Jum'at.

"Argh! Terserah kau sajalah, Sasuke!" Bukan kebiasaannya membiarkan Sasuke begitu saja. Namun Sai benar.

Sembahyang Jum'at akan dimulai beberapa saat lagi dan akan butuh waktu lama untuk membujuk Sasuke agar dia meninggalkan segala urusan dunia yang menurutnya lebih penting daripada dua raka'at shalat fardhu yang hanya dilaksanakan setiap Jum'at siang.

Naruto pun tak ingin mengambil resiko ibadah wajib mingguannya terlewat dan pahala wudhunya menguap lantaran ia meluapkan amarahnya pada Sasuke.

"Astaghfirullahaladziim," Naruto beristighfar seraya mengelus dada agar amarahnya mereda. Setelah itu, ia pun cepat-cepat menyusul Sai yang sudah lebih dulu meninggalkan ruang OSIS.

"Ck!" Sasuke berdecak sebal. "Dasar Naruto! Selalu saja ikut campur urusanku!" Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Pemuda itu mengabaikan shalat Jum'at tanpa merasa bersalah sedikit pun, tak memedulikan konsekuensi karena meninggalkan ibadah wajib bagi laki-laki Muslim yang sudah akil baligh.

.

.

.

"Akhirnya kelar juga." Sasuke menghela napas penuh kelegaan, kemudian bersandar di kursinya sambil meregangkan otot-otot leher dan pinggang yang mulai kaku akibat duduk terlalu lama.

Tangannya meraih botol air mineral yang berada di dekat laptopnya, lalu menenggak habis isinya yang tadi tinggal tersisa seperempat botol dan nyaris tersedak ketika mencuri pandang ke arah jam dinding dari balik botol minumannya yang menunjukkan pukul satu siang.

"Astaga! Sudah jam segini dan aku belum shalat Dzuhur!" Sasuke hampir terlonjak dari kursinya, lalu menatap malas ke arah tumpukan dokumen yang masih berserakan di mejanya. "Tanggung deh… Beres-beres dulu, biar nanti sekalian pulang."

Dia pun mematikan laptop dan membereskan meja tanpa terburu-buru, malah terkesan enggan karena pikirannya sudah suntuk dengan seabrek tugas sekolah, ditambah berlembar-lembar makalah dan proposal kegiatan sekolah yang harus ia periksa dengan teliti.

Rutinitasnya begitu padat dengan segudang kesibukan sebagai pelajar SMU –yang juga aktif dalam organisasi sekolah dan kegiatan klub, yang tak bisa ia abaikan begitu saja, mengingat posisinya sebagai ketua OSIS. Sasuke pun bertekad menjadi pemimpin yang tegas dan bertanggung jawab, makanya ia selalu berusaha mengerjakan semua tugasnya dengan baik.

"Tapi Naruto tak memahami semua itu! Anak itu payah! Mudah saja ia mengatakan harus ini dan itu, perkara dunia dan akhirat harus seimbang, yang wajib disegerakan, yang sunnah diperbanyak. Harus begini, harus begitu! Arggh! Aku kan berbeda dengannya! Tugasku gak hanya belajar!"

'Brakkk!' Sasuke membanting beberapa jilid buku ke meja, berharap kekesalannya pada Naruto sedikit berkurang.

"Sial!" Bukan rasa lega yang didapatkan, Sasuke malah semakin jengkel karena harus merapikan kembali beberapa lembar dokumen yang melayang dari dalam buku.

Alisnya terangkat ketika mendapati sepucuk amplop hijau polos berukuran setengah kertas A4 yang terjatuh dari salah satu buku. Ia pun memungutnya.

'Untuk : Uchiha Sasuke.' Tertera namanya di bagian depan amplop, serta selembar perangko bergambar bulan sabit dan bintang di sudut kiri atas. Tak ada nama pengirim ketika dia membalik amplop tersebut.

"Siapa yang mengirim surat ini?" Sasuke menerka-nerka dalam hati. Agak menyangsikan kalau si pengirim adalah salah satu 'penggemar'nya, sebab biasanya mereka –yang sembilan puluh sembilan persennya adalah wanita, menggunakan amplop berwarna pink dan penuh hiasan.

"Ah! Jangan-jangan…" Sasuke langsung menyobek pinggiran amplop, teringat kejadian beberapa tahun lalu, saat dia menemukan amplop hijau tanpa nama pengirim di lokernya. "Mungkinkah pengirimnya adalah orang yang sama?"

Tak ingin menduga-duga lebih jauh, Sasuke pun mengecek isi amplop tersebut –selembar kartu pos bergambar pemandangan lembah hijau pegunungan nan indah, serta secarik kertas putih beraroma harum yang dilipat dengan rapi.

"Saudaraku… Carilah hatimu di tiga tempat. Temui hatimu sewaktu bangun membaca Al-Qur'an. Tetapi jika tidak kau temui, maka carilah hatimu saat mengerjakan shalat. Jika tidak kau temui juga, carilah hatimu ketika duduk tafakkur mengingat mati. Seandainya kau tidak juga menemukannya, maka berdoalah kepada Allah Subhaanahu wa ta'alaa, pinta hati yang baru, sebab hakikatnya ketika itu kau tidak memiliki hati. [Imam Al-Ghazali]."

Sasuke tertegun ketika membaca untaian nasihat dari salah satu ulama besar yang sangat terkenal dan dihormati dalam dunia Islam, ditulis tangan dengan sangat rapi di belakang kartu pos. Ada beberapa kalimat lain di bawahnya yang tak dimengerti oleh Sasuke, karena menggunakan huruf Arab tanpa tanda baca.

Petuah singkat sang imam –yang ditulis dengan huruf kanji dan hiragana, bagai anak panah yang melesat secepat kilat, menancap tepat di jantungnya, menohok setiap relung jiwa yang telah lama dibiarkannya kering kerontang.

Sekejap saja, dadanya terasa sesak kala ia membaca tulisan yang tertera di atas kertas putih beraroma seperti dupa terbakar.

"Astaghfirullah…" Hanya permohonan ampun yang mampu diucapkan si bungsu Uchiha ketika sanubarinya menghayati kata demi kata yang tersusun sedemikian rupa, menjadi rangkaian kalimat yang sarat akan nilai-nilai spiritual dan kian sempurna ketika firman-firman Tuhan yang suci nan agung, ikut termaktub di dalamnya.

"Sahabatku… Lupa dan tersesat akibat tipuan dunia ini bukanlah tanda-tanda kebahagiaan.

Tidakkah kau mendengar dengan telinga hatimu, suara yang menyeru : apakah kau puas dengan kehidupan dunia ini daripada kehidupan akhirat?

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu : Berangkatlah (berperang) di jalan Allah, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. [QS. At-Taubah ayat 38].

Tidakkah kau merasa takut terhadap peringatan bahwa siapa pun yang buta di dunia ini akan dibutakan di akhirat dan lebih sesat dari jalan yang benar?

Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh (dari jalan yang benar). [QS. Al-Isra ayat 72].

Tidakkah kau merenungkan ancaman bahwa telah dekat hari perhitungan atas manusia, sedangkan pada saat itu mereka lalai lagi berpaling?

Telah semakin dekat kepada manusia, perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat). [QS. Al-Anbiya ayat 1].

Tidakkah kau mengingat teguran keras bahwa barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian keuntungan dunia dan tidak ada baginya sedikit pun bagian di akhirat?

Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya keuntungan dunia, tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat. [QS. Asy-Syura ayat 20].

Tidakkah kau memperhatikan peringatan bahwa orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, nerakalah tempatnya?

Maka adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh nerakalah tempat tinggalnya. [QS. An-Naziat ayat 37-39].

Sampai kapan kau akan terus dilenakan dan tersesat dalam kelalaian dan diikat belenggu nafsu? Kegagalanmu untuk mendengar, takut, merenungkan,mengingat dan memperhatikan apa yang Allah singkapkan, merupakan tanda bahwa kau berada dalam keadaan lalai dan lupa. Kau tidak dapat melepaskan diri darinya, sementara dirimu dibelenggu dan dikuasai nafsu.

Saudaraku… Segeralah masuki ruang pertobatan kepada Tuhan. Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murininya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata : Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami, dan ampunilah kami, sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. At-Tahrim ayat 8].

Lalu dalam keadaan tobat, hadapkan wajahmu ke arah kiblat dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu.

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong. [QS. Az-Zumar ayat 54].

Lalu katakan dengan lisan yang jujur dan tulus : Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi, sebagai seorang yang bertauhid, dan aku bukanlah orang yang musyrik.

Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. [QS. Al-An'am ayat 79].

Dengan begitu, Dia akan menyingkapkan kepadamu rahasia-rahasia agung, termasuk rahasia bagaimana Dia menerima tobat hamba-hambaNya dan mengampuni kesalahan.

Dan Dia lah yang menerima tobat dari hamba-hambaNya, dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Asy-Syura ayat 25].

Dan kau akan mengetahui sepenuhnya kelembutan segala tindakanNya karena Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya) bukan karena menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [QS. Al-Baqarah ayat 173].

Lalu suara yang sangat lembut menyerumu dan mengatakan : Allah mencintai mereka yang bertobat dan Dia mencintai mereka yang menyucikan diri.

Sungguh Allah menyukai orang yang tobat dan menyucikan diri[1]. [QS. Al-Baqarah ayat 222].

Lalu ia menyampaikan kabar gembira kepadamu, bahwa kau akan menaiki anak-anak tangga pendakian, sesuai dengan kehendakNya. Nyatalah, Engkau akan memuliakan siapa yang Engkau kehendaki.

Katakanlah (Muhammad) : Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan pada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau lah segala kebajikan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Ali Imran ayat 26].

Ia akan menyapamu dengan suara ruhani yang sangat lirih : Sesungguhnya orang yang mengatakan ; 'Tuhan kami ialah Allah', kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada kekhawatiran atas mereka dan mereka pun tidak berduka cita.

Sesungguhnya orang-orang yang berkata ; 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian mereka tetap teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal saleh (istiqomah), tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati. [QS. Al-Ahqaf ayat 13].

Kemudian kau akan mengetahui apa yang dimaksud dengan 'Allah memuliakan seseorang', yakni Dia membuatmu naik mencapai tingkatan keselamatan yang di dalamnya kau tidak merasa takut atau pun berduka[*]."

"Pasrahkan dirimu kepada Tuhan Yang Maha Suci dan terimalah dengan ridha semua pengaturanNya atas segala urusanmu. Jatuhkan keinginanmu dan terimalah takdirmu yang telah ditentukan Tuhanmu. Terimalah semua yang dibawa takdirmu. Sungguh Tuhanmu lebih mengenalmu dibanding dirimu sendiri. Terimalah firmanNya dengan sepenuh keyakinan. Terimalah perintahNya dan laranganNya dengan penerimaan sempurna. Terimalah agamaNya dengan seluruh hatimu, dan jadikan ia sebagai penutup batiniah dan lahiriahmu.[**].

Derai air mata membasahi wajah Sasuke, isak tangisnya memecah kesunyian, tubuhnya ambruk karena kedua kaki tak kuasa menahan dosa dan kesalahan yang tak terhitung lagi banyaknya, semakin hari semakin menggunung, dan semakin menjauhkan dirinya dari Sang Pencipta.

"Ya Allah… Ampunilah hamba… Ampunilah hamba…"

Sasuke segera menuju ke masjid SMU Konoha, tak mengindahkan tumpukan tugas yang masih berserakan di meja dan meninggalkan ruang OSIS dalam keadaan terbuka.

Semua itu tak lagi dihiraukan oleh Sasuke. Baginya, yang terpenting sekarang adalah menuju Tuhannya, menunaikan hak Tuhannya, bersujud memohon ampunanNya dan berserah diri kepadaNya.

.

.

.

TBC


[1]. Atas dasar rating, saya sengaja gak menuliskan ayat ini secara lengkap. Silakan cek di Al-Qur'an masing-masing untuk mengetahui ayat tersebut secara lengkap :)

[*]. Surat keempat : Menyingkirkan kebodohan dan bertobat dari ketidaktaatan yang dinukil dari Khamsa 'Asyar Maktuban li al-Jaylani (Fifteen Letters) yang ditulis Syekh Abdul Qadir al-Jailani (Surat-surat cinta kekasih Allah/Penerbit Zaman).

[**]. Dinukil dari Purification of The Mind (Jila' al-khathir) karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan kepada beliau dan kita semua. Aamiin yaa Rabbal alaamiin.

Terima kasih sudah membaca fic ini. Feel free to critic and review :)