LE19 bawa Fanfict baru!

Untuk FF Mystery of The Twins, aku usahakan update secepatnya. *Wink-wink* :D

Tittle : The Frozen Heart

Author : Little Evil
Genre : Brothership, Family
Main Cast :

Cho Kyuhyun (SJ)

Cho Jungsoo (SJ)

Cho Ji Soo as Father

Other Cast :

Cho Han Na as Mother

Rated : T
Facebook : Iffah Pevensie

Blog : iffahgames . wordpress . com

Disclaimer :

This is brothership. No romance here.

Enjoy~~~

====*{]*Frozen Heart*[}*====

Chapter 1

Lelaki itu kembali menghela nafas dalam-dalam. Iris matanya masih statis memandang kosong kearah kristal-kristal putih yang mulai berjatuhan dari langit, salju musim dingin berlomba turun. Bayangan hari-hari indah nan ceria dengan bermain di tengah hamparan salju yang putih dan lembut itu kini telah sirna.

Kedua iris coklat madu yang biasanya memancarkan binar keceriaan, kini hanya menyisakan pandangan sendu yang sarat akan kehampaan. Hanya kelam yang terpatri dalam pandangan sosok remaja itu. Hey, bukankah seharusnya ia tengah bergembira bersama teman-teman sebayanya saat ini? Bermain salju misalnya. Atau bercengkerama dengan keluarga menikmati kehangatan di depan tungku perapian.

Semua itu kini hanyalah seonggok kenangan manis baginya. Sejak peristiwa itu. Ya, setelah kematian ibunya tiga bulan lalu, sosok yang kini menginjak remaja itu bertransformasi menjadi sosok yang dingin, tertutup dan selalu menyendiri. Kematian ibunya membawa dampak yang sangat dahsyat untuknya. Tak ada lagi sosok yang selalu menyemangatinya saat ia terpuruk. Tak ada lagi belaian kasih tulus sang ibu yang menemaninya menjelang tidur, untuk mengantarkan pangeran kecilnya menuju mimpi indah. Tak ada lagi sosok yang dengan sabarnya menghadapi segala tingkah kekanakannya. Menemaninya berkutat berjam-jam dengan segala hal yang berhubungan dengan game, sang ibu yang dengan sabar tak lelah menemaninya sembari memberikan belaian hangat pada putra bungsu keluarga Cho itu.

"Eomma, Kyu merindukanmu" bisikan lirih itu terdengar sejalan dengan kristal bening yang dengan bebasnya meluncur dari kedua hazel bening itu. Seluruh kenangan manis selama lima belas tahun dengan sang ibu kembali menyeruak di benak lelaki tampan itu. Senyuman miris tercetak di bibirnya kala mengenang sosok sang ibu yang sangat disayanginya. Sosok yang selama ini menemani kehidupannya. Lalu bagaimana dengan sosok sang ayah?

Tuan Cho -begitulah orang memanggilnya- adalah sosok yang sangat berwibawa dan disegani oleh semua yang mengenalinya. Pembawaannya yang tenang dan bijaksana membuatnya menjadi salah satu tokoh yang cukup berpengaruh di negaranya. Disamping bisnis software dan hardware -Cho Inc. yang merupakan salah satu kerajaan bisnis terbesar di Asia, sifatnya yang rendah hati juga banyak dijadikan panutan bagi seluruh karyawannya. Tak ada yang tak menghormatinya. Tak ada yang tak mengaguminya. Tak terkecuali kedua putra tampannya, Cho Jungsoo sang putra sulung dan Cho Kyuhyun, si putra bungsu.

Tetapi semua itupun telah berubah semenjak tiga bulan lalu. Ya,kematian sang istri tercintanya. Peristiwa yang telah membawa dampak besar pada hubungan ayah dan putranya. Oh, lebih tepatnya putra bungsunya. Entahlah, seolah logikanya terpendam jauh didasar benaknya. Pria paruh baya yang kini telah berusia setengah abad namun tetap terihat gagah itu, belum bisa menerima kepergian sang istri yang telah menemani separuh hidupnya, berbagi suka duka dan cinta bersama hingga hadirlah dua sosok tampan yang menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga itu.

Namun sekali lagi, semua hal manis nan indah itu kini telah bertransformasi menjadi hal yang kelam. Keluarga kecil yang dulunya diliputi kebahagiaan, kini yang tersisa hanyalah sebuah keluarga yang tampak harmonis di mata khalayak awam, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah mewah bak istana itu.

"Haahh..", helaan nafas yang sarat akan kepedihan dan duka mendalam kembali tedengar dari sosok yang masih berdiri tegap memandang kosong keluar jendela kamarnya yang tampak lengang. Sampai sebuah tangan mengusap bahu kanannya, membuat sang empunya sedikit tersentak dari lamunannya. Ia menoleh dan menangkap sosok pria yang tengah tersenyum lembut kearahnya, menampakkan lesung kecil di dekat bibirnya. Kyuhyun menatap intens sosok dihadapannya. Melihat senyuman itu, senyuman yang sangat disukainya. Sebuah senyuman yang sama dengan milik sang ibu. Senyuman milik sang kakak, Cho Jungsoo. Kyuhyun masih memandang Jungsoo tanpa ekspresi, salah satu kebiasaannya semenjak tiga bulan terkahir.

"Kau bisa sakit jika membiarkan jendela terbuka saat cuaca dingin seperti ini", ujar Jungsoo lembut seraya menutup jendela kamar sang adik yang terbuka lebar sebelumnya.

Jungsoo tersenyum miris saat melihat sang adik yang disayanginya tak memberikan respon yang berarti. Ia sangat merindukan sosok Kyuhyun yang dulu, saat segala kekelaman ini belum terjadi. Ia merindukan sosok ceria dan manja seorang Cho Kyuhyun. Sosok adik yang selalu bisa menghiburnya dengan segala tingkah abnormalnya yang bisa dikatakan menyebalkan dan yah~ 'sedikit' kurang ajar. Tapi sungguh, demi luasnya Samudera Pasifik, ia jauh lebih senang melihat sang adik yang mengomel dan merajuk padanya saat kemauannya dibantah daripada melihat sosok dingin dihadapannya kini. Namun ia bersyukur karena adiknya itu mau sedikit bicara padanya, karena sosok Kyuhyun yang sekarang hampir tak pernah membuka dirinya. Hanya dirinya yang selalu disamping Kyuhyun, memberikan gurat ketenangan bagi Kyuhyun saat dunia seolah memusuhinya.

"Appa sudah menunggu dibawah. Sudah waktunya makan malam, Kyu. Bergegaslah. Hyung tunggu dibawah, ne?", kembali Jungsoo berujar sembari membelai lembut surai cokelat gelap Kyuhyun yang diwarisinya dari sang ibu.

"Ne", hanya frasa itu yang Kyuhyun gumamkan untuk membalas ucapan sang kakak. Jungsoo tersenyum, beranjak keluar dari kamar Kyuhyun dan segera menuju ruang makan dimana sosok sang ayah tengah berbicara serius pada sosok diseberang telepon.'Pasti rekan bisnis', pikir Jungsoo.

"Ne, kau selesaikan permasalahan ini dengan Jongwoon. Aku percaya kalian bisa mengatasinya"

PIP

Tuan Cho mematikan saluran teleponnya sesaat setelah selesai dengan lawan bicaranya. Dia lantas menatap putra sulungnya yang tengah menarik kursi dan duduk disisi kanan meja, sedangkan dirinya memilih untuk duduk di kursi utama.

"Ada sesuatu yang terjadi dengan perusahaan, Appa?" tanya Jungsoo. Saat ini ia memang menyandang gelar CEO muda di salah satu cabang kerajaan bisnis keluarga Cho di Seoul.

"Hanya masalah kecil dengan cabang perusahaan di New York. Kau tak perlu khawatir, orang kepercayaanku akan segera menanganinya" balas sang ayah tenang. Jungsoo mengangguk mengerti.

"Ne, syukurlah".

"Kajja, makanlah yang banyak selagi masih hangat", ujar sang ayah lembut. Oh, sungguh sosok ayah yang sangat patut diteladani, bukan?

"Apa tidak lebih baik kita menunggunya, Appa? Sebentar lagi dia akan turun", Jungsoo berucap dengan hati-hati.

Senyuman di wajah Tuan Cho lenyap seketika seolah terhapus sapuan ombak, tak tersisa. Raut wajahnya mengeras mendengar kata 'dia' yang beberapa detik lalu baru saja terlontar dari putra sulungnya. Ia paham betul maksud dari kata'dia', sosok yang baginya kini tampak seolah sebuah bencana, kesialan, kesalahan ataupun semacamnya yang bisa menggambarkannya. Sosok yang sangat ia sayangi dahulu, namun sekarang hanyalah rasa benci yang tersisa darinya. Sosok yang tak pernah ia anggap ada semenjak peristiwa itu. Benar. Tiga bulan lalu.

Jungsoo bukannya tidak menyadari perubahan raut wajah sang ayah yang kontras itu. Ia hanya berusaha untuk menyadarkan sosok di hadapannya bahwa Tuhanlah yang menentukan jalan hidup seseorang.

'Kyuhyun membutuhkanmu, Appa'.

Bukankah sudah menjadi tugas seorang ayah untuk memberi semangat pada putranya yang tengah terpuruk, memberikan untaian-untaian kata penyemangat, belaian kasih sayang dan senyuman lembut. Itulah yang dibutuhkan Kyuhyun yang terpukul akibat kematian ibunya. Namun apa? Yang ia dapatkan justru perilaku sang ayah yang membuatnya kian tenggelam dalam keterpurukan, merubahnya menjadi sosok 'Kyuhyun yang lain'.

"Tak ada gunanya menunggu bocah sial itu!", suara tinggi Tuan Cho menarik Jungsoo dari lamunannya.

Jungsoo menghela nafas pasrah. Berulangkali ia mencoba memberi pengertian pada sang ayah bahwa segala yang terjadi adalah sebuah takdir yang telah Tuhan gariskan pada keluarganya. Berulangkali ia memberi pengertian, bahwa adik bungsunya -Kyuhyun- pun tak menginginkan semua ini. Ego. Ya, egolah yang selama ini masih kokoh berada dalam hati sang ayah. Egonya lah yang menyebabkan logika dan hatinya seolah mati, meruntuhkan segala perasaan kasih sayang yang selama ini tak sedikitpun ia lewatkan untuk tercurah pada kedua putra kebanggaannya.

Setelah mendengar kalimat dingin namun penuh guratan kebencian dari sang ayah, Jungsoo memilih untuk menikmati hidangan di hadapannya yang terlihat menggoda untuk segera dilahap habis. Namun tak ada sedikitpun nafsu makan yang menghampirinya. Mereka menikmati makan malam dalam diam sampai suara derap langkah kaki terdengar menuruni tangga, memunculkan sosok jangkung nan tampan tengah melangkah pelan menghampiri meja makan dan memilih duduk di sisi kiri meja, berhadapan dengan sang kakak.

"Selamat malam, Appa. Whoa~ sepertinya ahjumma memasak enak malam ini", suara ceria namun tersirat nada kehampaan di dalamnya terlontar dari bibir itu.

Sosok dingin Kyuhyun akan runtuh jika di hadapan sang ayah. Ia selalu berusaha untuk menghadirkan sosok hangat yang mungkin dapat meluluhkan hati ayah tercintanya.

Kyuhyun berucap dengan senyuman lebar terpatri di wajahnya, sangat kontras dengan tatapan matanya. Wajahnya tersenyum namun matanya tak bisa berdusta. Iris coklat madu itu mengguratkan kepedihan yang mendalam.

TRAK!

"Appa sudah selesai. Entah mengapa tiba-tiba nafsu makanku hilang. Hhh~ Makan yang baik, Jungsoo~ya. Setelah itu tidurlah. Jangan terlambat datang ke kantor besok. Arasseo?", Tuan Cho berujar lembut sembari menepuk pelan pucuk kepala sang putra sulung kebanggaannya, tak mempedulikan sosok lain di sampingnya yang kini memandang nanar moment manis antara ayah dan putra yang terpampang jelas di hadapannya.

Kyuhyun menatap sang ayah, masih berharap ia akan mendapatkan sosok ayahnya yang ia kenal dahulu. Namun sepertinya Kyuhyun memang terlalu banyak berharap. Bukan kata-kata lembut dan belaian hangat dari sang ayah yang ia dapatkan, melainkan tatapan tajam dan menusuk serta penuh kebencian yang tersorot dari iris hitam kelam itu. Tuan Cho beranjak dari meja makan setelah memberikan 'tatapan sayangnya' pada sang putra bungsu yang bahkan ia kini enggan untuk sekedar memanggil namanya. Mungkin mengakuinya sebagai putra pun kini ia enggan. Karena semenjak tiga bulan lalu, ia hanya memiliki satu orang putra, Cho Jungsoo. Itulah yang tertanam dalam benaknya saat ini.

Setelah Tuan Cho beranjak, Jungsoo memandang lirih sosok di hadapannya yang tengah memandang sendu punggung sang ayah yang menghilang di balik tangga. Sosok ayahnya telah tak terjangkau lagi dalam pandangan Kyuhyun saat ini, lahir maupun batin. Kini ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap kosong lantai marmer seolah menjadi kegiatan rutin yang ia lakukan saat ini maupun malam-malam sebelumnya. Pelupuk matanya tengah berjuang keras untuk tidak menumpahkan bulir-bulir bening yang akhir-akhir ini terlihat lebih sering meluncur dalam diam.

Hati Jungsoo berdenyut nyeri melihat sosok rapuh sang adik. Dengan langkah pelan ia beranjak dan merengkuh tubuh Kyuhyun kedalam dekapannya. Memeluknya erat, mencoba memberi kehangatan pada tubuh sang adik yang tampak mulai bergetar. Tak ada isakan yang terdengar, namun kemeja bagian pundaknya yang basah menandakan bahwa untuk kesekian kalinya, adik kecilnya itu menangis dalam diam.

"H-Hyung...", lirih Kyuhyun seraya memejamkan matanya, mencoba meredam rasa sakit akibat luka di lubuk hatinya yang kian hari serasa kian melebar.

"Ssstt.. Jangan menangis Kyuhyunnie. Hyung disini. Tenangkan dirimu", Kyuhyun bergeming.

"Hyung berjanji akan selalu di sampingmu, Kyuhyunnie. Hyung berjanji." Jungsoo terus membisikkan untaian kata lembut untuk Kyuhyun sembari mengusap punggung sang adik dengan penuh kasih sayang.

"Jungsoo hyung, aku tahu, ini semua memang salahku. Akulah yang menyebabkan Eomma pergi untuk selamanya. Akulah yang menyebabkan keadaan menjadi seperti ini. Apa ini hukuman yang Tuhan berikan padaku karena sikap egoisku, hyung? Apa tidak cukup hukuman Tuhan untuk membuatku merasakan betapa sakitnya kehilangan Eomma? Aku~ aku tak sanggup jika harus kehilangan Appa juga, hyung~"

Jungsoo semakin mengeratkan dekapannya. Tangan kanannya mengusap punggung Kyuhyun sementara tangan yang lain ia gunakan untuk membelai rambutnya. Adiknya kini terlihat sangat rapuh dan butuh sandaran.

Ketahuilah, Jungsoo pun ikut merasakan penderitaan mendalam yang di alami sang adik. Kyuhyun. Ia telah kehilangan sosok ibu yang sangat dicintainya, sama sepertinya. Namun Jungsoo masih sedikit lebih beruntung, karena ia tak kehilangan sosok sang ayah. Berbeda dengan Kyuhyun. Disamping kepedihan yang mendalam karena kehilangan sosok sang ibu, ia juga harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ayahnya kini seolah ikut pergi meninggalkannya. Meski matanya masih mampu menjangkau kehadiran sosok ayah, namun hatinya seolah ikut pergi jauh bersama sang ibu.

"Semua ini akan segera berakhir, Kyu. Percayalah. Appa hanya butuh waktu untuk bisa menerima takdir yang telah Tuhan gariskan. Hyung percaya, kau adalah anak yang kuat dan tegar."

Kyuhyun terdiam mendengar penuturan Jungsoo. Ya, kakaknya benar. Mungkin ayahnya 'hanya' butuh waktu. Dan ia 'hanya' perlu bersabar dan terus berusaha. Tapi, sampai kapan?

Jungsoo melepaskan dekapannya dan tersenyum manis, menatap wajah Kyuhyun yang putih pucat dengan aliran air mata dari kedua sudut matanya. Jemari Jungsoo bergerak menghapus pelan air mata itu.

"Tersenyumlah. Kau tak ingin Eomma bersedih disana, bukan?"

Kyuhyun menggelengkan kepalaya cepat, membuat Jungsoo tersenyum geli. Adiknya itu justru tampak menggemaskan bagai anak kecil yang polos saat ini. Jungsoo memang selalu menganggap Kyuhyun tetaplah adik kecilnya. Selisih usia yang cukup jauh membuatnya selalu ingin melindungi sosok rapuh di hadapannya ini.

'Maafkan hamba, Tuhan. Mengapa aku justru ingin tertawa melihat wajah menggemaskan Kyuhyun saat ini?' Jungsoo menggelengkan kepalanya menepis pemikiran aneh yang muncul dalam benaknya.

"Nah, kalau kau tak ingin Eomma bersedih karena melihat wajah jelek putranya yang manja ini menangis, tersenyumlah~"

Jungsoo kembali menahan untuk tidak tertawa saat melihat Kyuhyun melemparkan tatapan kesal padanya saat mendengar kata 'jelek' yang ia lontarkan. 'Dasar narsis!', gerutu Jungsoo, dalam hati tentunya.

"Asal kau tahu, hyung. Wajahku yang sedang menangis bahkan masih jauh terlihat tampan di bandingkan denganmu. Eomma sendiri yang mengatakannya!" Kyuhyun bersungut melontarkan kalimat pembelaan yang justru mengundang tawa Jungsoo. Ia memicingkan matanya menatap adiknya yang kini masih memandangnya kesal.

"Benarkah? Dan kau percaya begitu saja saat Eomma mengatakannya?"

"Tentu saja!" balas Kyuhyun penuh percaya diri.

Jungsoo tersenyum tipis. Usahanya untuk mengalihkan pembicaraan dan membuat Kyuhyun melupakan sejenak kesedihannya nampaknya mulai membuahkan hasil.

"Kau tahu, Kyuhyunnie? Eomma mengatakan itu hanya untuk menghiburmu. Eomma sadar, kau itu terlihat sangat jelek saat menangis. Maka dari itu, Eomma mengatakan hal itu agar kau segera berhenti menangis. Kenapa? Tentu saja karena Eomma tidak tahan melihat wajah jelekmu itu!" Jungsoo berujar dengan wajah setengah mengejek pada Kyuhyun.

Kyuhyun yang mendengar itu sontak membulatkan matanya. Sebagai penyandang gelar lelaki tertampan disekolahnya -setidaknya itu pendapatnya- tentu saja tidak terima atas ejekan yang dilontarkan kakak tercintanya.

"Eomma itu tidak pernah berbohong. Bilang saja kau iri dengan ketampananku ini. Iya kan?" Kyuhyun membalas dengan raut wajah yang sama dengan Jungsoo.

Sedangkan Jungsoo, ia tengah mendengus kesal saat ini. Demi ketampanan Magnae Super Junior, penyakit narsis yang diderita adik kecilnya itu tidak berkurang sedikitpun meski dalam suasana melankolis seperti saat ini.

"Hahhh~ Mana mungkin aku iri pada seorang bocah yang bahkan tidak lebih tampan dariku? Ckck are you kidding me, kid?"

"Yak! Apa aku perlu melakukan survey untuk membuktikan siapa yang lebih tampan? Nenek-nenek rabun pun pasti tahu akulah yang jauh lebih tampan. Kau itu manis, hyung~ Tidak tampan dan keren sepertiku!" sungut Kyuhyun seakan melupakan kesedihannya beberapa menit lalu. Congrats, Cho Jungsoo. Kau telah berhasil. Berhasil. Oh,mungkin kau perlu merayakannya dengan Dora dan Boots nanti.

"Heh? Apa aku tak salah dengar? Kau baru saja memujiku 'manis', adikku sayang?" Jungsoo kembali menggoda Kyuhyun yang kini tampak merutuki perkataannya sendiri.

"A-Apa?! Kau yang salah dengar!" Kyuhyun berusaha mengelak ternyata.

"Ckck adikku ini, hyung sangat tersentuh. Akhirnya kau itu bisa mengucapkan kata-kata pujian juga ya, adikku yang tampan?" Jungsoo kembali melihat Kyuhyun yang tampak salah tingkah di hadapannya. Astaga, manis sekali.

"Issh! Kau itu sangat menyebalkan, Jungsoo!"

"Apa kau bilang? Adik kurang ajar. Panggil aku 'hyung'!" Oh~ kali ini Jungsoo tengah berpura-pura marah.

"Hah~ aku tidak sudi..!" ucap Kyuhyun sembari membuang muka dan menyilangkan kedua tangan di depan dada, masih dalam posisi duduk di kursi meja makan. Ia kesal sekarang.

"Hei, lihat~ Justru kaulah yang tampak manis dan lucu saat marah seperti ini, kau tahu?" Jungsoo mencubit kedua pipi Kyuhyun gemas.

"Haish! Aku ini tampan, hyung! Tampan~ ! Ah! Aku mau tidur saja!" ucap Kyuhyun kesal sembari beranjak dari duduknya sampai tiba-tiba sebuah tangan menggelitik bagian sensitifnya.

"Hahaa~~yak! Aduh~~ haa~ ahahaha! Stop it please~ hyuung! Ahaha~~ Hah! Hah!" Kyuhyun beringsut di kursi saat Jungsoo dengan brutal menggelitiki perutnya.

"Hah~~ ampuun! Hahaahaa hyuuung, ahahaa~ hahhahhahh!" jeritan ampun yang terlontar dari mulut sang adik justru membuat Jungsoo makin semangat untuk melancarkan aksi 'Mari Menyiksa Cho Kyuhyun'nya.

"Katakan 'Jungsoo hyung lebih tampan dariku', baru aku akan berhenti menggelitikimu!" Jungsoo mencoba mengancam Kyuhyun yang masih kewalahan berusaha menghalau serangan darinya.

"Haha~ ha~ aishh! Hahaa~ ti- dak~ haha! Aku tidak mauu! Ahahahahaa~"

"Baiklah jika itu maumu, adikku sayang~"

A few minutes later

"Kau belum mau menyerah rupanya?"

"Ahahahh~ ba-baiklah. Tapi lepaskan aku dulu, hyuuung~ hahh~ Haha!" Kyuhyun berujar dengan nafas tersengal akibat terlalu lelah tertawa. Jungsoo menyeringai senang melihat sang adik yang mulai mengibarkan bendera putihnya.

"Cepat katakan!"

"Hahhh~ hhhh. Mmmm, tentu saja~ Jungsoo hyung itu~ umm le-lebih tampan dariku!" ujar Kyuhyun yang sarat akan keraguan dan ketidakrelaan dalam kalimatnya. Dan Jungsoo tertawa nista mendengarnya.

"Karena~"

Kini Jungsoo mengernyit karena adiknya itu ternyata belum menuntaskan statement-nya. Ia memandang Kyuhyun dengan heran.

"Karena aku sedang berbohong saat ini!" ujar Kyuhyun cepat dengan ditambahkan aksi menjulurkan lidah sebagai pemanis.

"Yak! Kau mau aku menggelitikimu sampai kau pingsan, hmm?" desis Jungsoo seraya menyipitkan matanya.

O~ow! Kyuhyun yang mendengar ancaman berbahaya itu mulai pucat pasi. Wajahnya yang masih tampak lelah akibat tertawa tiada henti kini mulai mengguratkan raut kepanikan.

"Mmmppt~ Ahahahhah! Kau ini, issh!" Jungsoo kembali tertawa nista sembari mengacak-acak rambut Kyuhyun, gemas dengan tingkah adiknya yang memang hanya satu itu.

Baru saja Kyuhyun akan melontarkan seuntai kalimat protes saat Jungsoo dengan isyarat mata menyuruhnya untuk diam.

"Sudahlah. Jam makan malam sudah terlambat. Kajja, kita lanjutkan makan malamnya" Jungsoo beranjak kembali ke kursinya dan mulai memakan hidangan di hadapannya. Namun ia bisa merasakan sepasang mata tengah menyorot tajam kearahnya.

"Kenapa? Mau aku suapi, hum?" Jungsoo sempat melihat kedua mata Kyuhyun berbinar sejenak sebelum kembali menatapnya tajam. Issh!

"Sebenarnya nafsu makanku sudah lenyap sejak kau menggelitiku. Tapi karena kau memaksa untuk menyuapiku yah~ mau bagaimana lagi? Sebagai adik yang baik, mana mungkin aku tega membiarkanmu merengek untuk menyuruhku makan malam. Cha~ suapi aku kalau begitu" ujar Kyuhyun dengan raut wajah dibuat-buat seraya menyodorkan piring makannya pada Jungsoo yang tengah merutuk dalam hati.

'Dasar! Bilang saja minta disuapi .Kapan aku memaksanya untuk mau disuapi? Aku bahkan baru menawarinya. Dasar kau setan kecil manja!' rutuk Jungsoo dalam hati. Tetapi ada secercah rasa bahagia dalam hatinya melihat perubahan Kyuhyun yang mulai terbuka saat bersamanya. Sungguh, ia merindukan sosok Kyuhyunnya yang dulu. Dan malam ini, Kyuhyun mulai menunjukkan sikapnya semula. Narsis, berkata semaunya dan yah~ sedikit manja dan kurang ajar.

Ini merupakan kemajuan yang bisa dikatakan cukup signifikan mengingat tiga bulan belakangan ini, ia hanya menemukan sosok Kyuhyun yang dingin dan tertutup, tanpa ada sedikitpun senyuman yang menghiasi wajah tampannya.

Dan tanpa mereka berdua sadari, seseorang diujung tangga sana memperhatikan segala rangkaian yang terjadi.

'Hyung akan selalu menjaga senyuman dan tawamu dengan segenap kekuatan yang kumiliki, Kyuhyunnie... Hyung berjanji'

'Sudah cukup aku membuat kalian sedih. Hyung, Eomma~ Aku akan berusaha menjadi sosok yang kuat dan tegar. Akan kubuktikan pada Appa, aku bukanlah Kyuhyun yang lemah. Meski hati ini akan merasa lelah, aku akan tetap berusaha memberikan senyum terbaikku, demi kalian~'

Tersenyumlah, maka dunia akan ikut tersenyum bersamamu~

To Be Continued

What's on your mind? Just say it on the review box. Thank you, everyone!

With Love, Little Evil :]