"Aku tidak peduli, apapun yang Ayah katakan."

Untuk yang kesekian kalinya, kalimat tersebut terlantun dari bibir tipis Sakura. Berbagai alasan yang diajukan Ayahnya sama sekali tidak digubrisnya. Tidak peduli, begitu bukan katanya.

"Lagipula aku ini bukan anak-anak lagi, Ayah," wajah cantiknya terlihat kesal, "dan aku bisa mencari sendiri siapa orang yang pantas untuk mendampingi hidupku. Kurasa Ayah tidak perlu menjodohkanku dengan anak dari salah satu rekan bisnis Ayah."

Minato—Ayah dari Sakura—hanya bisa menghela nafasnya tatkala mendapati sifat keras kepala Sakura yang memang diturunkan dari Istrinya. Pria yang masih terlihat tampan tersebut kembali berusaha membujuk Sakura, "Kalau kau tidak suka padanya, kau bisa bilang pada Ayah. Setidaknya cobalah terlebih dulu, Sakura. Ayah tidak akan memaksamu, Sayang."

"Lalu, apa yang sedang Ayah lakukan kini? Bukankah Ayah sedang memaksaku?" tanyanya retoris.

Minato terdiam.

"Maaf, Ayah. Hari ini aku lelah sekali, aku mau istirahat," ucap Sakura sebelum ia melenggang pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Minato yang masih terdiam sembari memandanginya.

#

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Aku, Kamu dan Cinta by Clarette Yurisa

[ikatan tulus yang Tuhan persiapkan untuk kita semua]

OOC, Bahasa Kaku, Alur Berantakan

.

.

#

Sakura masih saja menggerutu mengingat percakapan—atau lebih pantas disebut dengan perdebatan—nya dengan ayahnya. Sakura tahu walaupun ia tidak secantik Ino; sahabatnya ataupun selembut Hinata; istri dari kakaknya, tapi tetap saja ia tidak terlalu buruk. Apakah Ayahnya sebegitu takutnya kalau Sakura tidak akan pernah mendapat jodoh?

Ayolah, Sakura memang terlihat sederhana. Namun hal itu tentu tidak menutup kemungkinan dari para lelaki yang berniat mendekatinya, bukan? Kalau boleh bicara jujur, ada banyak dokter senior di tempat ia bekerja kini yang tengah gencar mendekati dirinya. Hanya saja, memang belum ada satupun yang Sakura anggap cocok dengannya.

Sedikit banyak Sakura kecewa dengan tindakan Ayahnya. Maka dari itu, di sinilah ia berada. Sebelum fajar menyingsing, Sakura sudah berada jauh ribuan kilometer dari rumahnya berada. Benar sekali, gadis itu memutuskan untuk pergi sementara waktu dari rumahnya. Ia telah meninggalkan sepucuk surat di atas meja kamarnya mengenai kepergiannya untuk sementara waktu. Begitu pula dengan Rumah Sakit tempat ia bekerja, ia telah memberi kabar untuk mengambil libur beberapa hari.

Namun keraguan merayap pada benaknya, benarkah keputusannya untuk pergi tanpa mengabari kemana tujuannya?

Sakura melangkahkan kakinya semakin jauh ketika dilihatnya matahari semakin menuju ke arah barat—pertanda hari mulai senja. Tujuannya kali ini, ia putuskan untuk menginap di rumah Bibinya. Selain telah lama tidak bertemu, Sakura juga ingin bercerita banyak dengan Bibinya tersebut.

"Permisi," ucap gadis itu saat ia berada di depan sebuah rumah yang terlihat sederhana.

Tsunade—nama Bibi Sakura—tentu saja terperangah mendapati keponakannya mucul secara mendadak di hadapannya. Tanpa perlu waktu, mereka berdua segera saja berpelukan demi melepas rindu. Maklum, sudah hampir lima tahun mereka tidak berjumpa.

"Kamu apa kabar?" Tsunade bertanya dengan senyum sumringah di wajahnya yang masih terlihat cantik.

"Aku baik-baik saja. Oba-chan sendiri, bagaimana?"

"Tentu aku baik-baik saja. Ayo, kita masuk. Ba-chan yakin kamu pasti lelah sekali selama diperjalanan," ucap Tsunade. Dan selanjutnya, yang Sakura ketahui adalah; ia tidak menyesal memutuskan untuk berlibur beberapa hari di Konoha.

.

Sinar matahari yang menelusup melalui jendela kamar, dengan suksesnya membuat tidur Sakura terganggu. Wajahnya terlihat masih mengantuk, bahkan ia mulai menguap. Gadis itu terdiam sesaat sebelum menyadari bahwa kini ia tidak sedang berada di rumahnya. Digaruknya kepalanya yang tidak gatal itu sebelum ia memutuskan untuk bangun dari tidurnya.

"Ohayou, Sakura-chan," Tsunade menyapa Sakura yang barusaja memasuki ruang makan.

Aroma masakan yang sedang dihidangkan membuat mata Sakura terbuka sepenuhnya. Gadis itu dengan segera menarik kursi untuk mendudukinya. Bahkan sapaan Tsunade tidak dijawabnya. Rupanya ia kelaparan, mengingat kemarin malam ia tidak makan apapun. Rasa lelah membuatnya jatuh tertidur begitu ia merebahkan dirinya di atas futon.

"Ne, Sakura, bersihkan dulu dirimu sebelum makan. Kau ini benar-benar ya," tegur Tsunade. Wanita itu masih tampak sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan pagi mereka.

Sakura terkekeh. Sebelum mendengar ocehan Ba-channya lagi, ia sudah melenggang menuju kamar mandi. Tidak butuh waktu lama hingga gadis berambut merah muda itu kembali muncul. Wajahnya sudah tampak segar dibanding sebelumnya.

"Setelah ini kau memutuskan mau kemana, Sakura?" tanya Tsunade setelah mereka berdua sama-sama tengah menikmati hidangan.

Sakura menggeleng pelan. Ditelannya makanannya sebelum ia bicara, "entahlah, mungkin aku akan mengelilingi desa. Sudah lama sekali aku tidak ke sini. Mungkin sudah banyak yang berubah."

Tsunade mengangguk pelan sebelum kembali bertanya. "Kau sedang ada masalah? Tidak biasanya kau mengunjungiku sendiri."

Sakura hanya menggumam tidak jelas demi menyahuti perkataan Bibinya. Tsunade hanya bisa mengernyitkan keningnya melihat tingkah Sakura. Gadis ini memang selalu mudah ditebak perasaannya, batin Tsunade.

"Kalau tidak keberatan, kau bisa menceritakannya pada Ba-chan."

Sakura menghentikan acara makannya. Dipandanginya wajah Tsunade sebelum ia meletakkan sumpitnya. "Ayah memaksaku untuk menjodohkanku dengan anak dari salah satu rekan bisnisnya. Aku kesal, lalu aku pergi meninggalkan rumah."

Tsunade terperangah. "Kau… kabur?"

Sakura mengangguk dengan ragu. "Yah, aku hanya sedang tidak ingin bertemu dengan Ayah. Aku masih kesal dengan sikapnya beberapa hari lalu."

"Nanti kalau Ayahmu cemas, bagaimana? Aduh, kau ini selalu saja bertindak gegabah. Selalu saja melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Kau ini bukan anak-anak lagi, ne, Sakura."

Gadis itu menghela nafasnya. "Aku tahu, Ba-chan. Hanya saja, aku yakin Ayah akan terus memaksaku selama aku masih ada di rumah. Sedangkan aku? Aku juga tidak ingin menambah dosa dengan melawan Ayah. Lebih baik aku pergi sementara waktu saja."

Tsunade diam mendengar ucapan keponakan tersayangnya itu.

"Lagipula aku tidak menginginkan pendamping hidup yang sembarangan. Setidaknya, untuk hal yang paling dasar; kami sama-sama saling mencintai. Kalau awalannya saja sudah dengan paksaan, apa jadinya hidupku nanti?" Sakura menatap manik mata Tsunade, "bukankah nantinya akan berakhir dengan sesuatu yang tidak kuinginkan?"

"Terserah kau sajalah," pasrah wanita tersebut.

Gadis itu kembali terkekeh. "Aku yakin, Ba-chan pasti mendukungku."

"Aku tidak mendukungmu," Tsunade berkilah sambil menyelipkan anak rambut di kupingnya, "namun aku setuju dengan kata-katamu. Itu merupakan dua hal yang berbeda, bukan?"

Sakura tertawa. "Ba-chan memang selalu pandai mengelak."

Tsunade bangun dari duduknya dan merapikan meja makan dengan diikuti Sakura. Setelah semuanya selesai, wanita tersebut mengerling pada Sakura. "Hei, mau membantu Ba-chan berkebun?"

Dan Sakura menganggukkan kepalanya dengan antusias.

.

"Ternyata berkebun itu tidak semudah namanya, ya."

Tsunade tersenyum kecil mendengar komentar Sakura. "Berarti lebih mudah mengobati orang yang sakit, begitu menurutmu?"

"Tentu saja tidak," Sakura membantah dengan cepat, "siapa bilang itu hal mudah. Salah diagnosa sedikit saja, habislah riwayatku."

Wanita itu tidak menanggapi ucapan Sakura. Ia lebih memilih menekuni kegiatannya menanam bibit wortel yang didapatkannya kemarin. Sakura menatap kegiatan yang dilakukan Bibinya. Gadis itu memutuskan berhenti dari kegiatannya ketika ia merasa bajunya sudah basah serta rambutnya yang kini terasa lepek. Keringat bahkan mulai bercucuran dari dahinya.

"Kau jadi mengambil spesialis?"

Sakura mengelap keningnya dengan punggung tangannya. Ia tidak menyadari bahwa tanah tersebut mengotori dahinya. "Aku sih maunya begitu. Kalau bisa tahun depan aku sudah bisa melanjutkan ke spesialis."

"Mau mengambil yang mana?"

Sakura memutuskan untuk duduk di sana. Tidak dipedulikan celananya yang kotor akibat tanah-tanah yang mulai menempel di sana. "Aku mau mengambil spesialis anak, Ba-chan. Doakan saja, ya."

Tsunade tersenyum. "Tentu saja akan kudoakan."

"Tapi…" Sakura menghentikan ucapannya. Sejenak, gadis itu terlihat ragu.

"Tapi, kenapa?"

"Ah, tidak. Tidak apa-apa kok," sahut Sakura sambil menampilkan cengiran lebar di wajahnya. Gadis itu terdiam beberapa saat sebelum kembali bicara, "Ne, Ba-chan, boleh aku pergi ke air terjun dekat perbatasan? Sudah lama aku tidak ke sana."

Tsunade menganggukkan kepalanya. "Hati-hati, Sakura," tegur wanita tersebut saat melihat keponakannya mulai berlari meninggalkannya.

Setelah keluar dari rumah Bibinya, Sakura berjalan perlahan menelusuri jalan setapak berbatu yang dulu seringkali dilewatinya. Pikiran gadis tersebut kembali melayang pada masa kecilnya. Dulu, dulu sekali, ia selalu menelusuri jalan ini bersama dengan Kakaknya—Naruto. Seringnya, mereka selalu berkejar-kejaran atau terkadang mereka berlomba untuk menentukan siapa yang paling lebih dulu sampai. Sakura atau Naruto.

Gadis berambut merah muda tersebut menghela nafasnya. Jikalau mengingat masa kecilnya, ia pasti akan merasa seperti ini. Kesepian. Entah sudah berapa lama hubungannya dengan Naruto mulai merenggang. Tidak, mereka sama sekali tidak bertengkar. Hanya saja, mungkin proses pubertas pada diri masing-masing membuat mereka berdua sedikit menutup diri satu sama lain. Terlebih lagi, setelah Kakaknya tersebut mulai mengurus cabang perusahaan Ayah mereka. Hal yang semakin membuat intensitas kedekatan mereka berkurang.

Dalam hati Sakura menggerutu kesal. Kenangan masa kecilnya tidak boleh hanya menjadi sebuah kenangan semu. Sakura menginginkan kasih sayang yang dulu sering diberikan Naruto untuknya. Ia merindukan Kakaknya. Tanpa perlu pikir panjang, gadis itu memutuskan; kalau nanti ia pulang, ia tidak akan lupa untuk menelpon Naruto. Kalau perlu, kegiatan itu harus menjadi rutinitas setiap akhir pekannya nanti.

Langkah kaki Sakura semakin cepat saat memori otaknya mengatakan bahwa tempat tujuannya sudah tidak jauh lagi. Memang benar, beberapa menit kemudian gadis itu berhenti dengan wajah terpesona. Ia nyaris tidak mengenali tempat ini. Semuanya memang masih serupa, hanya saja beberapa bunga tumbuh bermekaran sepanjang matanya memandang.

Gadis itu menjejakkan kakinya, berusaha mendekati sisian tepi air terjun. Setelah itu ia berdecak, mengagumi keindahan alam yang tersuguh di depan matanya. Dihirupnya nafasnya dalam-dalam hingga paru-parunya terasa segar. Ia berujar, "udaranya terasa lebih segar daripada di kota."

"Jangan dibandingkan," sebuah suara menelusup dalam telinga Sakura, "tentu saja udara di perkotaan kalah jauh dengan di sini."

Mata emerald Sakura menangkap sesosok pemuda yang tengah tertidur di rerumputan, tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menumpukan kepalanya pada lengan yang menjadi bantalannya, sementara matanya masih terpejam walau semula ia mengeluarkan suara. Gadis itu beringsut dari tempatnya, menghampiri sesosok manusia yang tengah mengusik kesendiriannya.

"Darimana kau tahu tempat ini?"

Masih dengan mata terpejam ia menjawab, "tidak hanya kau yang mengetahui tempat ini. Kau bisa tanyakan kepada semua penduduk Konoha dan mereka pasti akan menjawab hal yang sama denganku."

Menyebalkan, Sakura mengutuk dalam hati. Namun gadis itu tidak ambil pusing, ia justru mendudukkan dirinya tepat di samping pemuda yang tengah berbaring tersebut. Tangannya ia tumpukan pada rumput sementara kakinya diluruskan.

Lagi-lagi pikirannya melayang. Gadis itu kembali teringat saat ia seringkali memutuskan untuk bermain bersama Naruto di bawah air terjun sana. Rasanya ia ingin sekali mengulang waktu seperti dahulu.

Suasana terasa hening, bahkan hanya terdengar beberapa burung yang saling berkicau bersahut-sahutan serta angin yang bertiup lembut. Sakura membiarkan angin yang menerpa wajahnya membuatnya terkantuk-kantuk. Diikutinya posisi pemuda yang masih terbaring di sebelahnya tersebut hingga terdengar suara rumput yang bergesakan. Setelah itu, semua gelap.

Sakura sudah jatuh terlelap di sana, bersama seorang pemuda yang bahkan tak dikenalnya.

.

"Sudah bangun?"

Pertanyaan itu membuat Sakura terkejut. Pasalnya ia memang tidak mengenali siapa pemilik pita suara tersebut. Kembali gadis itu mengerjapkan kedua matanya sampai otaknya mengirim reaksi bahwa pemuda itu adalah orang yang tadi ditemuinya.

Sakura mendengus pelan. Kalau sudah tahu ia bangun, untuk apa bertanya lagi. Hal itu membuatnya mengacuhkan pertanyaan pemuda tersebut. Ia lebih memilih bangkit dan duduk sambil mencelupkan kakinya masuk ke dalam air. Tidak dipedulikannya pemuda berambut merah yang kini sedang menatapnya.

"Aku tidak pernah melihatmu di sini sebelumnya."

Mau tak mau Sakura menolehkan kepalanya pada pemuda yang juga duduk tak jauh darinya. "Aku baru datang kemarin," sahutnya singkat.

Gadis itu memainkan kakinya berayun-ayun dalam air, menimbulkan kecipak pelan di antara suasana hening yang melingkupi keadaan mereka. Gadis berambut merah jambu tersebut kembali menghela nafasnya kesal. Berada di tempat ini bersama orang asing memang tidak menyenangkan. Terlebih lagi dengan suasana yang begini sunyi.

"Kau sendiri, bagaimana?" Sakura mencoba membuka pembicaraan, tampaknya gadis itu mulai merasakan kebosanan. "Aku memang sudah lama tidak kemari. Hanya saja, saat kecil dulu tidak ada bocah berambut merah sepertimu di desa ini."

"Aku memang tidak dibesarkan di sini," ia menjawab sambil menampilkan senyum kecil di wajahnya, "hanya Nenekku yang tinggal di sini. Kebetulan aku sedang senggang, jadi aku putuskan untuk berlibur di sini."

Sakura ikut tersenyum. "Aku juga sedang berlibur di sini. Yah, kurasa kau tahu sendiri, suasana kota terkadang membuat otak terasa penat."

"Sasori."

"Hah? Apa?" Sakura mengernyit bingung.

"Namaku Sasori," ia kembali mengulang ucapannya.

Sakura kembali menampilkan senyum tipis di wajah cantiknya. "Aku Sakura. Salam kenal, ne, Sasori-kun."

Sasori membalas kalimat Sakura dengan kembali tersenyum. Ia sudah hendak kembali bicara andai saja Sakura tidak memotong kalimatnya. "Sekarang ini jam berapa ya, Sasori-kun? Aku lupa membawa jam tanganku."

Sasori melirik jam di tangannya sebelum menjawab, "jam 5 sore. Kau sudah mau kembali?"

Sakura menggeleng pelan. "Kurasa aku masih ingin di sini. Aku mau melihat matahari terbenam."

"Kau ini aneh," sahut Sasori sambil mendengus pelan. Kemudian ia tersenyum tipis—namun terlihat seperti sedang mengejek, "mana bisa melihat matahari terbenam di sini. Kalau mau melihat dengan jelas, kau harus ke pantai yang ada di sebelah barat, Sakura."

Sakura menggerutu. "Biar saja, toh aku yang ingin melihatnya."

Pemuda itu terkekeh. Dipandanginya wajah Sakura yang masih menggerutu sebelum ia kembali berbicara, "Mau kutemani ke pantai?"

Setelahnya, wajah cemberut tersebut kembali terlihat cerah.

.

"Kirei na," ungkap gadis tersebut sambil berdecak penuh kekaguman. Mata emeraldnya terlihat berbinar-binar saat mendapati pemandangan langka yang jarang sekali untuk ditemui di Kota.

Sasori tersenyum lembut. "Kupikir kita akan terlambat sampai. Untung saja tepat waktu," tutur pemuda berambut merah tersebut.

"Cantik sekali, ya, Sasori-kun," kembali gadis itu bersuara. Kalimatnya hanya ditanggapi dengan anggukan kepala oleh orang yang bersangkutan. Tampaknya, mereka berdua sama-sama tengah menikmati pemandangan tersebut.

Seakan tersadar, Sasori tergesa-gesa mengeluarkan kameranya dan dengan segera memotret keindahan alam tersebut. Sama seperti pemandangan aslinya, bahkan hasil potretannya pun terlihat menawan.

"Kau seorang fotografer?" Sakura bertanya dengan nada penasaran saat melihat tindakan yang Sasori lakukan.

Sasori tidak menjawab. Lagi-lagi ia hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat Sakura. Gadis berambut merah jambu tersebut mengartikan senyumannya sebagai jawaban ya. Setelah itu, ia justru tersenyum lebar.

"Ne, Sasori-kun, boleh aku memintamu untuk memotretku dengan latar matahari terbenam?" pinta gadis itu sambil tersenyum manis.

"Tentu," Sasori menyahut dengan singkat.

Dibidiknya Sakura sebagai objek dengan latar indah dibelakangnya. Pemuda itu tertegun sejenak sebelum ia menangkap hasil dari lensa kameranya. Setelah itu, seakan tersihir Sasori berjalan pelan mendekati Sakura yang masih menatapnya dengan wajah penuh senyuman. Saat jarak mereka hanya beberapa senti, pemuda itu mengulurkan tangannya dan membelai lembut rambut pink sang gadis.

Sakura hanya bisa termangu. Sejujurnya, ini pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan seorang pemuda asing yang barusaja dikenalnya. Wajah gadis itu terasa memanas saat Sasori merapikan anak rambutnya yang beterbangan dengan nakal tatkala tertiup angin.

"Cantik," Sasori menggumam lirih. Hanya saja, dengan jarak sedekat ini Sakura tentu mendengar kalimat Sasori. Ia mulai merasa wajahnya semakin panas, dan kalau ada cermin, gadis ini yakin kalau sekarang warna pada wajahnya sudah bertransformasi seperti warna rambutnya. Atau mungkin, bahkan sudah seperti warna rambut pemuda di hadapannya kini.

Pemuda itu mulai menundukkan kepalanya. Wajahnya dengan Sakura sudah terlihat sangat dekat sekali. Mati-matian Sakura mempertahankan dirinya untuk tidak jatuh pingsan di hadapan Sasori. Terlebih lagi, saat jarak antara kedua bibir mereka semakin tipis. Sayangnya, kegiatan mereka harus terusik dengan suara dering ponsel Sasori yang tiba-tiba berbunyi.

Dilihatnya pemuda yang berjalan sedikit menjauhinya tersebut tersenyum tipis sambil terus mengoceh, "aku sudah bertemu dengannya. Ya… baiklah, untuk kali ini aku akan menuruti ucapanmu. Apa? Entahlah, jawab saja sesukamu. Sudah, jangan membuatku kesal dan jangan hubungi aku dulu."

Sakura mengerutkan keningnya. Dalam hati, gadis itu bertanya-tanya, siapa ya yang sedang bicara dengan Sasori-kun?

.