Author POV

Butiran salju yang turun menutupi setiap jalanan membuat malam hari ini sangat dingin. Suara mengaung dari seekor anjing membuat suasana malam yang sunyi cukup menakutkan.

Seorang gadis berjalan santai dengan kedua telinga yang terdapat headset. Sesekali ia bersenandung pelan. Sebenarnya gadis ini merasa takut pada kesepian ini, tapi ia melampiaskan rasa takutnya dengan mendengar musik dan bersenandung pelan melangkah melewati lorong-lorong kecil.

Entah volume musik yang di dengar terlalu keras hingga membuatnya tak mendengar suara di sekitarnya, atau memang dia pura-pura cuek dengan keadaan sekitar.

Tiba-tiba seseorang menariknya dan membungkamnya pada lorong kecil. Kedua mata sipit itu membulat lebar mendapati seorang namja dengan masker yang menutupi setengah wajahnya dan mengenakan topi hitam.

Tatapannya mematikan dan bisa ia lirik kalau namja ini berpakaian serba hitam. Namja bertubuh tinggi ini mengunci tubuhnya pada dinding tersebut.

"Heumm!" Gadis ini coba untuk memberontak, tapi kekuatannya tidak akan bisa menandingi kekuatan namja bertubuh besar itu.

"Diam atau pisau akan menyayat kulit mulusmu ini!" Bisik namja itu dengan penuh penekanan membuat gadis tersebut mematung ketakutan.

'Oh shit! Harusnya aku tidak keluar malam ini. EOMMA...' batin gadis itu. Terdengar suara langkah kaki dari luar lorong kecil.

Terdapat beberapa polisi yang melewati lorong kecil tersebut. Namja ini keluar dari lorong, menarik sang gadis dengan tangan kiri sedikit mencekik lehernya dan tangan kanannya menodong sebuah pisau tepat di sisi leher itu.

"Biarkan aku lepas dari kalian, atau anak ini korban atas kesalahan kalian sendiri!" Ancam namja ini pada polisi yang menolehnya.

Terdapat seorang satu polisi pria dan satu polisi wanita. Suasana cukup tegang untuk gadis itu. Ia merasa benar-benar sial malam ini.

Dirinya tidak ada rasa salah pada mereka, namun mereka menjadikan dirinya ikut terlibat.

"Lepaskan gadis itu!" Gertak polisi pria dengan name tag Kim Jongdae.

"Jangan melibatkan gadis itu pada masalahmu!" Sambung polisi wanita dengan name tag Kim Minseok.

"Siapapun akan masuk dalam perangkapku. Jadi jangan halangi aku untuk pergi!"

"Je-jebal selamatkan aku..." Polisi itu melihat sang gadis bergetar bahkan sudah menangis karena rasa takutnya.

"Dengar bukan? Kalian harus selamatkan anak ini. Biarkan aku pergi, lalu anak ini akan tetap hidup."

"Baiklah lepaskan dia, dan kau akan lepas dari kami."

"Minggir!" Gertak namja ini melangkah menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat ini.

Tangannya masih belum melepaskan gadis tersebut. Kedua polisi itu tidak bisa berkutik karena sedikit saja mendekatinya, pisau semakin mendekati leher gadis itu.

Namja ini memaksa sang gadis untuk masuk ke dalam mobil miliknya.

"Gadis ini akan ku sandra sampai kalian menyerahkan berkas-berkas itu. Tolong sampaikan kepada petinggi kalian itu!"

Dengan seringai licik, namja ini memasuki mobilnya dan segera menginjak gas cukup cepat.

"Aiisshh pria itu sungguh licik!" Gerutu Minseok.

"Mari laporkan ini kepada atasan kita." Ujar Jongdae.

"Kau yakin ini akan di tanggapi? Bahkan dia menculik gadis yang di pertanyakan seberapa pentingkah gadis itu?" Pikir Minseok.

Jongdae menjitak pelan kening Minseok dengan jemarinya membuat polisi wanita itu sedikit kesakitan.

"Gadis itu manusia yang memiliki nyawa. Nyawa seseorang adalah yang terpenting. Tugas negara adalah melindungi masyarakatnya bukan?" Balas Jongdae.

"Tapi berkas apa yang dia maksud?" Pikir Minseok kembali.

"Otakmu tidak akan cukup untuk memikirkan itu. Sebaiknya kita kembali ke tempat."

Kedua polisi ini pun segera kembali ke kantor polisi dengan mobil patroli yang di kemudi Jongdae.

Namja yang menjadi buronan polisi itu berhasil membawa sang gadis pada sebuah markas persembunyiannya. Dapat di lihat tempat ini cukup kecil dan benar-benar tempat yang jauh dari kalangan masyarakat.

Tubuh gadis itu ia ikat pada sebuah kursi namun dengan mulut yang ia biarkan begitu saja tanpa bungkaman. Topi hitam ia lepaskan dari kepalanya.

"Yak! Kenapa kau membawaku kesini?! Bukankah perjanjiannya kau akan melepaskanku kalau mereka pun melepaskanmu?"

Namja itu menatap tajam manik kecil milik gadis sandraannya. Masker wajahnya ia lepaskan tepat di hadapan gadis tersebut.

"Kau mau aku membungkam mulutmu ini hem?" Bisiknya menatap teduh lalu menyentuh bibir bagian bawah gadis itu.

Dapat di lihat dengan jelas wajah tampan yang di miliki namja penjahat ini. Bahkan gadis itu sekilas terpesona dengan ketampanan sang penjahat.

"Kalian yang memiliki masalah, kenapa aku yang tidak bersalah ikut terlibat?!"

"Dalam dunia kriminal, kau harus licik dalam bermain. Siapapun bisa menjadi bonekanya."

"Heol. Kau salah menyandra orang! Jika kau ingin menyandra, sandralah orang yang lebih penting dariku. Oh my...seberapa penting aku hingga kau jadikan aku umpanmu?"

"Mereka adalah orang yang bertugas membela negara dan masyarakat. Nyawa masyarakat sangat penting bagi mereka. Kau salah satunya."

"Bagaimana jika mereka tidak perdulikan tentang sandraan ini? Kau akan melepaskanku bukan? Dan itu membuatmu menyia-nyiakan waktu."

"Jika dia tidak memperdulikan sandraan ini, aku akan membunuhmu agar mereka tidak memandangku main-main!"

"Pekerjaanku tidak ada yang sia-sia. Sekarang diamlah atau kau mau lidahmu ku sayat?"

'Oh my god! Orang ini benar-benar tidak berprikemanusiaan. Dasar manusia tak punya perasaan!'

Gadis itu terus menggerutu dalam hati dengan tatapan tajam pada si penjahat itu.

"Aku berhasil lepas dari para pecundang itu. Tenanglah seorang mafioso Park Chanyeol tidak akan pernah tertangkap oleh mereka." Kekeh namja itu yang sedang menelpon dengan seseorang.

"Aku berhasil lepas dari mereka karena seorang anak anjing yang menggemaskan."

'Mwo-ya?! Apa dia bilang? Anak anjing?! Aisshh ya kau buldosernya!'

"Sepertinya aku akan merawat anak anjing ini. Ya ku anggap sebagai tanda balas budiku."

'Kurang ajar! Ingin sekali aku menimpuk kepala besarnya itu!!'

"Tenang saja, aku akan kabari info selanjutnya. Ku pastikan mereka menyerahkan berkas itu."

"Bisakah kau transfer uangnya sedikit lebih banyak? Karena aku pun harus memberi anak anjing ku itu makan."

'Terkutuklah manusia itu! Ani dia bukan manusia, tapi monster!!'

"Ok ku tunggu uangnya!"

Sambungan telepon itu pun terputus.

"Yak! Kau memandangku sebagai anak anjing?"

"Bukankah itu terdengar menggemaskan?"

"Aiisshh ingin ku patahkan semua gigimu itu! Tidak perlu memperlihatkan cengiranmu itu."

"Karena kau anak anjing yang berisik, aku akan menamaimu mmmm...nama apa yang tepat untukmu?"

"Tidak perlu! Aku punya nama, Byun Baekhyun! Byun Baekhyun ingat itu!"

"Ok Bubunie!"

"Mwo? Nama macam apa itu? Yak! Aku bukan anak anjing!!"

Tenggorokan Baekhyun rasakan sudah serak karena berteriak terus menerus berbicara dengan Chanyeol.

"Ini sudah malam, aku ingin tidur. Kau pun tidur nde~" Dengan bersikap manis, Chanyeol mengusap puncak rambut gadis itu lalu segera membaringkan tubuhnya pada tempat tidur berukuran kecil.

'Shit! Menjijikan!' Gerutu Baekhyun dalam hati.

Gadis ini tidak bisa tidur begitu saja. Ia berpikir keras cara untuk melarikan diri dari tempat ini. Dengan berusaha keras, tangannya terus bergerak pada balik punggungnya untuk membuka tali ikatan tersebut.

'Ayolah terbuka...'

Baekhyun terus menggoyangkan kursi itu hingga ia terjatuh tertimpah kursi tersebut.

Bugh!

"Aarrgh.." Rintih Baekhyun membuat Chanyeol terbangun.

"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol beranjak dari tidur lalu mendekati Baekhyun yang terjatuh.

"Kau ingin melarikan diri? Itu tidak akan bisa!"

"Ahh baiklah kau pasti tidak nyaman tidur di kursi bukan?"

Namja itu membuka ikatan tali pada kursi namun masih mengikat tangan dan kaki Baekhyun. Lalu ia menggendong tubuh mungil itu dan membaringkannya pada tempat tidur kecil.

Tubuh Baekhyun terhimpit oleh tubuh besar Chanyeol yang juga membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

"Haruskah ku ganti tempat tidur ini? Untunglah badanmu kecil." Pikir Chanyeol.

Namja ini memiringkan posisinya menghadap Baekhyun yang tak bisa bergerak sedikit pun.

"Tenang, besok kita tidak akan tidur seperti ini. Setelah mendapat transfer dari Suho, akan ku belikan sebagian untuk tempat tidur kita."

"Tidak perlu! Aku bisa tidur di bawah. Turunkan aku dari tempat tidur ini."

"Kau akan kabur jika ku biarkan begitu saja."

"Aku tidak bisa tidur jika seperti ini!"

"Pejamkan saja matamu."

"Harus dengan cara apa membuatmu tidur? Seperti ini?" Tanya Chanyeol mengusap-ngusap rambut gadis itu yang mematung menatapnya dengan jelas.

"Singkarkan tanganmu dari rambutku! Aku bisa tidur sendiri."

"Aigoo...Bubunie galak juga nde?"

"Ckck menjijikan!"

'Oh my...apakah dia seorang psikopat?' Batin Baekhyun kesal.

Kedua mata besar milik namja itu mulai terpejam kembali. Karena tidak bisa berbuat apa-apa, Baekhyun menyerah dan ikut tertidur.

TBC~