A vocaloid fanfiction.
Disclaimer: Vocaloid © Yamaha.
Warning: Yuri & lebay-ness.
Enjoy!
DJ-san presents…
Last Lullaby, Last Requiem
Miku's POV
27 Juni 2011
Malam ini terasa amat dingin. Hujan deras terus turun tanpa henti. Butiran-butiran air hujan terus menghantam kaca jendela. Hujan seakan mengerti keadaan hatiku yang sedang pilu saat ini. Aku sungguh tidak bisa memendam rasa dukacita yang mendalam ini. Tetesan demi tetesan air mataku terus jatuh ke lantai. Hari itu, semua kebahagiaanku telah terenggut oleh maut. Satu-satunya kebahagiaan yang merupakan tujuanku untuk hidup di dunia ini.
Melody~ Melody~ Tonight let you sleep away.
Let a dream take you to paradise.
Dari kepalaku, munculah sebuah nada lagu yang biasa dimainkannya dengan piano. Lagu itu… terus mengiang di kepalaku. Aku memang benar-benar tidak bisa melupakannya. Tapi… mengapa suara dentingan piano ini begitu nyata? Aku tidak yakin kalau ini hanya perasaanku saja.
Sebuah rasa penasaran mendorongku untuk menuju ruang musik yang berada di belakang balkon.
Fluttering to the starry sky.
Make a wish for a new romance dawn.
Lagi-lagi lagu itu. Lagu yang sering dimainkannya dengan piano sebelum aku tidur. Karena rasa penasaranku sudah melewati batasnya, segera kubuka pintu ruangan itu, dan ternyata…
"Luka?"
-Flashback-
12 Maret 2009
Normal POV
Malam itu, seperti biasa Luka harus menidurkan Miku yang terkena insomnia.
"Dasar Miku… sudah besar begini kok masih harus dibacakan dongeng sebelum tidur? Hahaha…," ejek Luka.
"Uuh… Luka, aku serius! Insomniaku kambuh lagi!" ujar Miku yang mulai ngambek.
"Bukankah setiap malam kau memang terkena insomnia? Hahaha… Baik, baik. Aku akan memainkan lagu Lullaby khusus untukmu."
Luka segera mengajak Miku ke ruang musik. Ia duduk di bangku piano dan Miku duduk disebelahnya. Kemudian dengan lihainya, jari Luka menari-nari diatas tuts piano. Ia memainkan lagu itu dengan sangat dinamis dan melodis. Lagu jazz yang ia ciptakan sendiri untuk mengantarkan kekasihnya ke alam tidur yang nyenyak. Lagu itu selalu berhasil membuat sang kekasih, Hatsune Miku, terlelap dengan kepala tersandar di pundaknya. Luka pun tersenyum melihat tuan putrinya sudah terlelap, lagu indahnya membawa sang putri kembali ke alam mimpi nan indah bak istana Cinderella.
"Oyasumi, Miku-chan…" bisiknya sambil mengecup dahi Miku lembut. Kemudian ia menggendong Miku ke kamarnya, membaringkannya di tempat tidur perlahan agar sang putri tidak terbangun. Stelah itu, ia baru meninggalkan kamar sang putri.
-End of flashback -
"Lu-Luka? Benarkah itu kau? Kau masih hidup?" ujar Miku yang terkejut melihat sosok Luka masih di hadapannya. Namun ironis, sosok Luka yang juga terkejut segera menghilang dari hadapannya seperti abu yang tertiup angin.
"Luka! Luka, tunggu!"
-Second flashback-
21 Mei 2010
Malam itu Miku terjaga karena mendengar suara batuk Luka yang begitu hebat dari dalam kamarnya. Dengan penuh rasa khawatir, ia segera menghampiri kamar Luka.
"Luka, kau sakit?" tanya Miku khawatir.
"Nggak, nggak apa kok Miku. Aku cuma kena flu biasa. Sniff… Ahaha…" sahut Luka berbohong.
"Tapi tadi suara batukmu nggak kayak biasa lho. Aku khawatir kamu kenapa-napa," ujar Miku dengan air muka tidak percaya.
"Sungguh, aku nggak apa-apa. Err… Miku, maaf sudah membuatmu terjaga," balas Luka, berusaha membelokkan topik pembicaraan.
"O-oh, nggak. Luka nggak salah kok. Aku saja yang terlalu khawatir sama keadaan Luka yang makin hari kondisinya semakin buruk. Ng… Luka, hari ini aku tidur di kamar Luka ya? Sudah lama aku ingin tidur bersama Luka."
"Boleh. Tentu saja Miku boleh," ujar Luka sambil tersenyum lemah.
"Makasih Luka," balas Miku sambil naik ke tempat tidur Luka dan tidur di sebelahnya. "Oyasumi, Luka…"
"Oyasumi, Miku-hime-sama…"
Malam itu, Luka sengaja menahan batuknya.
'Semoga ia tidak tahu…' benaknya.
-End of second flashback-
Miku's POV
"Luka! Aku tahu kau masih disini! Luka, kumohon datanglah sekali lagi ke hadapanku!" seruku tak tentu arah. Berharap sosok yang tadi kulihat adalah benar-benar Luka. Hanya itulah yang kuharapkan saat ini. Aku segera melangkahkan kakiku ke belakang piano.
"Luka, aku nggak bisa tidur. Mainkan lagi lagu itu untukku sekali lagi. Onegai, Luka!"
- Third flashback -
23 Juni 2011
Normal POV
Malam itu, Luka kembali memainkan lagu Jazz Lullaby untuk Miku. Jari-jarinya masih sama gemulai, dentingan pianonya pun masih sama dinamis dan melodis. Semuanya nampak seperti biasa.
This isn't the last Lullaby.
Go sleep and I'll sing for you forever.
Sleep away, sleep away.
Melody~
Miku sudah hampir terlelap dibuatnya, namun tiba-tiba tubuh Luka, kekasihnya, ambruk dari bangku piano. Tubuhnya terkapar lemah di lantai yang dingin.
"Luka! Luka, bertahanlah!"
Tapi sekeras apapun usaha Miku, ia tetap tidak bisa membangunkan Luka. Ia menelpon ambulans. Tak lama kemudian, ambulans datang mengantarkan tubuh Luka ke rumah sakit. Tapi dokter berkata, "Sudah terlambat. Penyakit Bronchitis akut yang diderita nona Megurine sudah mencapai stadium akhir. Kami turut berduka cita yang sebesar-besarnya atas kejadian ini."
Sang kekasih telah tertidur lelap untuk selama-lamanya. Lagu Lullaby terakhir yang ia mainkan seakan berubah menjadi lagu Requiem.
Hari itu, semua kebahagiaan Miku ikut terenggut bersama lagu Lullaby yang membawa maut bagi kekasihnya tercinta. Jasad Luka yang disemayamkan dalam peti mati, terkubur di dalam tanah yang kini lembab akibat terkena hujan deras.
"Luka, kenapa dulu kau membohongiku tentang penyakit akutmu itu? Mengapa kau begitu tega terhadapku, Luka?"
Semua pertanyaan semu yang dilontarkan oleh Miku tidak mungkin lagi dapat dijawab oleh sang kekasih.
-End of third flashback-
Miku's POV
Apa yang kupikirkan? Dia sudah tiada. Dia tidak mungkin berada disini, memainkan lagu memorial itu untuk mengantarku tidur lagi.
'Egois, kau benar-benar egois Miku!' benakku menyalahkan diri.
This isn't the last Lullaby.
Go sleep and I'll sing for you forever.
'Sudahlah Miku! Jangan membayangkan lagu itu terus, bodoh!'
Kata hatiku memaksaku untuk menoleh ke belakang dan ternyata, Luka, kekasihku yang telah pergi, masih disini memainkan lagu itu sekali lagi untukku!
Aku segera berlari menghampirinya.
"Luka!" seruku sambil hendak memeluk erat Luka.
Sleep away, sleep away.
Melody~
POOF!
Mengapa? Mengapa aku tidak bisa menyentuh Luka? Padahal, ia berada di hadapanku saat ini…
Aku menengadah keatas. Bisa kulihat sekilas paras Luka yang jelita, namun… tembus pandang. Aku hampir tidak mempercayai pengelihatanku.
Dia tersenyum padaku sekilas sebelum akhirnya ia berkata,
"Oyasumi, Miku-chan."
Lalu, ia pun menghilang lagi.
"Oyasumi, Luka-san."
Walaupun Luka sudah berada di alam lain, tapi aku yakin ia akan selalu berada di dalam hatiku. Bagaikan Lullaby yang selalu berhasil mengantarkanku ke alam mimpi nan indah.
~~~ Fin ~~~
Notes:
1. Cerita ini hanya fiksi belaka. Tidak didasarkan pada kisah nyata. Dibuat dengan sepenuh hati dan tanpa paksaan.
2. Miku dan Luka tinggal seatap.
3. Dalam cerita, umur Luka dan Miku sesama 20th.
4. Luka menderita penyakit bronchitis sejak masuk universitas bersama Miku, namun ia terlalu sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya sehingga tidak mengetahui bahwa penyakit itu telah menggerogoti tubuhnya hingga meng-akut dan sudah sulit disembuhkan.
5. Lirik lagu tersebut adalah lirik lagu karangan author sendiri.
Review please! :)
