Tatapan mata bulannya lembut bagaikan purnama sempurna di malam hari, tutur katanya manis dan selalu menyunggingkan senyuman, gerakannya gemulai layaknya dandelion yang bergerak mengikuti hembusan angin.

Sopan, elegan, bertalenta. . .

Gerakan jemari saat memetikkan sebuah alat musik petik bernama Shamisen, mampu membuat pengunjung kedai Ocha terhipnotis karenanya. Terlebih saat bibir mungil berwarna merah itu mengalunkan nada-nada penuh sajak ketenangan.

Memejamkan mata untuk menikmati alunan surgawi dengan aroma terapi dari Ocha. Semua pengunjung terdiam memperhatikan Geisha muda itu, terlebih para saudagar kaya dan para mentri yang tengah menimang-nimang harga sang Geisha hanya untuk menemani mereka untuk menyajikan Ocha.

Sang mata bulan membuka matanya setelah menyelesaikan alunan musik yang ia bawakan. Ia menunduk memberi hormat pada pelanggan pertama setelah ia diangkat menjadi seorang Geisha.

Shiroi Lavender , itulah julukan untuk Geisha baru itu. Lavender yang terus berdiri meski terkena angin topan sekaligus. Berdiri mempertahankan perannya sebagai seorang Geisha.

. . . .

Sementara sang mata pedang menatap dengan tajam, memantulkan kilau pada sang lawan, menawarkan rasa sakit dan penderitaan pada akhir kehidupan.

Bergerak dengan lincah menembus hutan bambu, mematahkan tulang musuh yang bermandikan darah, tatapan kosong terpatri jelas dari wajah sang pemuda yang tengah kerasukan karena jiwa iblisnya menguasai hati dan perasaan.

Tangan penuh peluh dan darah menggenggam erat katana yang tengah mengacung pada seorang pria paruh baya yang berperawakan bagaikan saudagar kaya, tanpa ampun katana itu menghujat menembus jantung sang korban.

Dentingan katana saat disabitkan bagaikan musik indah di telinga sang pemuda yang dijuluki Kuroi Batosai.

...


Ken to Hana no Buyou

Disclaimer© Masashi Kishimoto

Author: Vinara 28

Pair: Naruto U. & Hinata H.

Genre: Angsh/Romace

Rate: M


Jepang, era kekaisaran Meiji.

Musim semi di Kyoto sering kali menyajikan berbagai Festival salah satunya adalah Miyako Odori. Tarian bunga Sakura yang dilakukan oleh para Geisha dan Maiko.

Mata bulan itu tak berkedip menatap tarian Kabuke, meski ia hanya melihat dari sela pagar kayu pembatas sekalipun.

"Dor.."

Mata bulan itu tersentak kaget setelah seorang anak kecil mengagetinya. "Naru-kun, kau mengagetkanku saja." Grutu Hinata —Sang mata bulan—, setelah mendapati seorang bocah berambut Blonde dengan Hakama hitam abu-abu yang sudah ia kenakan dengan rapi.

"Hina-chan kenapa hanya mengintip?" Tanya Naruto penasaran, Naruto juga ikut melihat festival bunga sakura tersebut dari lubang salah satu pagar kayu.

"Habisnya di sana ramai, Hina-chan takut ada orang jahat." Keluh Hinata dengan wajah yang memerah, apa lagi ditambah pipi tembem seperti bakpau mengembang semakin terllihat lucu dan imut.

"Hina-chan tidak perlu takut, kan ada Naru yang melindungi Hina-chan. Naru kan calon Samurai hebat." Ujar Naruto sambil membusungkan dada dan menunjuk dirinya sendiri. Hinata terkikik dan akhirnya mengangguk.

Dua bocah kecil berumur Sepuluh dan Delapan tahun itu berjalan bersama menembus himpitan pengunjung yang ikut menikmati festival.

"Huaa.." teriak Hinata mengagumi pertunjukan tari dari para Geisha. "Naru-kun, Hina-chan mau seperti mereka." Ujar Hinata menunjuk-nujuk Geisha.

"Naru rasa Hina-chan tidak akan bisa, liahtlah kaki Hina-chan yang pendek itu sangat berbeda dengan Kakak-kakak itu. " Ledek Naruto.

Hinata menggembungkan pipinya. "Hina-chan akan makan banyak dan tumbuh tinggi dan berubah jadi gadis cantik seperti mereka, awas kalau Naru-kun jatuh cinta dengan Hina-chan nanti." Ucap Hinata marah.

Naruto tertawa lepas lalu mencubit pipi gembul Hinata. "Gadis jelek sepertimu tidak akan ada yang suka, jadi apa boleh buat, Naru sebagai teman Hina-chan harus bertanggung jawab menikahimu kelak, itulah tugas sebagai seorang teman." Balas Naruto polos. Bahkan sangat polos untuk anak seusia mereka.

Para pengunjung mulai ramai hingga mereka berhimpitan. Naruto memeluk Hinata agar Hinata tidak terjatuh. "Naru-kun jahat, Hina-chan akan jadi gadis yang cantik. Hina-chan akan membuat semua laki-laki di Jepang suka dengan Hina." Hinata mendorong tubuh Naruto dan meninggalkannya sendiri. Hinata sudah telanjur ngambek karena dikatai Jelek.

"Hina-chan.. tunggu Naru."

~oOo~

"Hina-chan tidak marah lagi kan?" tanya Naruto setelah meminta maaf pada Hinata saat perjalanan pulang mereka.

"Uhm," Hinata mengagguk malu-malu.

Naruto mengusap dada tanda bersyukur.

"Ne, Hina-chan biar Naru saja yang membawa lampion itu." Pinta Naruto meraih lampion yang dibawa Hinata sebagai alat penerang.

Naruto dan Hinata adalah sahabat sejak mereka masih sangat kecil, karena mereka tinggal bersebelahan, terlebih orang tua mereka adalah mentri negara yang bekerja pada satu divisi yang sama.

Pluk..

Naruto menjatuhkan Lenteranya saat didapati tempat tinggal mereka sudah porak-poranda dan hancur. Hinata mendekat kearah Naruto dan bersembunyi di belakangnya.

"Naru-kun, aku takut," tutur Hinata ketakutan.

Naruto juga ketakutan, bahkan tubuhnya mulai bergetar tapi Naruto berusaha tenang. "Hina-chan tidak perlu takut, mungkin tadi ada preman yang mengamuk. Orang tua kita pasti sedang mengungsi di balai kepala desa." Naruto merangkul lengan Hinata, menuntunnya untuk menuju rumah kepala desa.

Tapi mata Hinata menangkap sosok yang sangat ia kenal. "TOU-SAN..!" jerit Hinata berlari menuju jasad yang tergeletak di depan rumah. "Tou-san, buka matamu Tou-san." Rengek Hinata menepuk-nepuk pipi Hiashi.

Naruto yang berdiri di sebelah Hinata hanya bisa menahan tangis, bahkan dia sendiri tidak berani menoleh ke arah rumahnya, Naruto tidak mau melihat hal yang sama di rumahnya.

Hinata tidak mendapati tanda-tanda bahwa Hiashi masih hidup, ia segera menghambur ke dalam rumah mengecek Kaa-san dan Oni-chan. "Kaa-san.. kaa-san tidak apa-apa?" tanya Hinata memeluk wanita paruh baya yang tengah merayap menuju pintu. "Hi..nah-ta.. Per-gi." Ucap wanita itu terpatah-patah. Hinata menggeleng "Tidak Oka-san, Hinata tidak akan pergi."

Dengan tenaga yang tersisa ibu Hinata mendorong Hinata hingga Hinata terjungkal jatuh di bawah kolong teras depan rumah. Naruto masih terdiam menatap Ibu Hinata yang penuh darah.

"Kalian semua tidak akan selamat." Mata Shafir Naruto membulat saat melihat seorang samurai menusuk Ibu Hinata dengan katana. Naruto segera menghampiri Hinata dan mendekap mulutnya. "Suutt.."

"Meski hanya dua bocah sekalipun," kata samurai tersebut setelah membunuh Ibu Hinata. Naruto menarik Hinata untuk segera pergi dari sana.

"Naru-kun.. hiks.. aku tidak mau pergi, aku mau bersama Tou-san dan Kaa-san.." Rengek Hinata sesenggrukan.

"Hiks.. Hina-chan baka.. Oba-san tadi menyuruhmu pergi, hiks.." Naruto tak mampu menahan tangisnya. Bahkan dia sendiri belum sempat memastikan keadaan orang tuanya, apakah masih hidup apa sudah mati dibunuh samurai sang batosai tersebut.

"Kita semua tidak akan selamat Hinata.. hiks.." mereka berlari ke arah hutan, bersembunyi dari samurai yang mengejar mereka. 'Apa kita akan selamat? Apa bocah sepertiku bisa menjamin keselamatan kita?' jerit Naruto dalam hati.

~oOo~

Fajar mulai menyingsing menyisakan tetes air mata yang mulai menguap bersamaan dengan embun. Kedua bocah tersebut tertidur dengan wajah letih di dalam gua pinggir hutan.

Naruto berdiri menatap langit-langit gua yang gelap. Kejadian semalam menyisakan luka pedih di hatinya. 'Tou-san, Kaa-san. Apa kalian masih hidup?' tanya Naruto dalam hati. Naruto melirik sejenak ke arah Hinata. Dia masih tertidur nyenyak, mungkin karena semalam Hinata menangis sejadi-jadinya sampai hampir subuh.

Naruto membelai lembut surai indigo Hinata sebelum akhirnya Naruto bertekat kembali kerumah mereka, hanya untuk memastikan apa masih ada yang hidup. 'Tunggu aku sebentar disini, aku akan segera kembali.' Ucap Naruto.

Naruto menyusup melewati himpitan warga yang mengerumuni rumah mereka, dengan hati yang kuat Naruto menatap satu-satu jasad yang sudah digotong dengan tandu yang terbuat dari kayu dan jerami. Naruto membungkam mulutnya dengan tangan saat ia melihat jasad pria paruh baya berambut blonde dan wanita paruh baya berambut merah. 'Tou-san.. Kaa-san..'

Tak jauh dari sana ada seorang pria yang tengah memperhatikan Naruto dengan intens. Seketika Naruto langsung terjatuh saat mendapati tatapan itu. 'Dia, dia orang yang membunuh Oba-san semalam.' Tubuh Naruto gemetaran ia segera berlari kembali kehutan.

Tanah terjal dengan akar besar membuat langkah Naruto tertatih dan terjatuh beberapa kali, tatapan horornya tak henti-henti menatap kebelakang, barang kali orang itu mengikutinya. Tapi sampai sekarang tidak ada seorangpun mengikuti Naruto.

"Hina-chan.. hoshh... Hina-chan.." Naruto berteriak kencang dari bibir Goa. Tapi tidak ada sautan dari dalam, Hinata sudah pergi, tidak lagi ada di dalam.

"HINATA..!" teriak Naruto histeris saat sahabatnya tersebut tidak ada.

Samar-samar Naruto mendengar suara isakan kencil dari hilir sungai, tak dapat dipungkiri lagi itu adalah suara Hinata. Naruto berlari menghampiri asal suara itu, alangkah terkejutnya saat ia mendapati Hinata tengah ditarik oleh seorang pria dewasa yang tak lain adalah samurai.

"Lepaskan Hinata." Triak Naruto, meski sedikit gemetaran Naruto mencoba terlihat berani. Hanya Hinatalah satu-satunya orang yang ia miliki sekarang, dan dia tidak mau kehilangan Hinata. "Aku mohon, lepaskan dia tuan." Pinta Naruto kali ini dengan nada memohon.

Pria tersebut menatap tajam ke arah Naruto, rambutnya yang keperakan panjang melambai terkena angin. "Jangan buat aku tertawa bocah." Ujarnya dingin, pria bernama Kabuto itu melempar Hinata dengan kasar. Lalu Kabuto mencabut katananya. "Putra Minato ternyata berani juga, hm.. tapi sayang, kau harus mati di tanganku."

Iris shafir itu membulat saat kilat dari katana Kabuto tersebut membias sinar matahari dan mengenai matanya. Naruto menunduk dengan cepat menghindari tebasan dari Kabuto. Beruntunglah Naruto karena sempat diajarkan dasar-dasar bela diri dari ayahnya. Tapi bagaimana pun juga dia hanya anak kecil yang akan menangis jika dia terluka.

Naruto menyambar sebuah kayu dengan panjang satu meter. Ia mengeratkan genggamannya layaknya menggenggam katana "Hiiaaa.." Naruto berlari menerjang Kabuto.

Crass..

Pluk..

Kayu yang dipegang Naruto terpotong jadi dua. Naruto merasakan rasa perih menjalar di pipinya.

"Naru-kun.." Hinata berlari mendekati Naruto dengan beruraia air mata, "Ayo kita lari." Rengek Hinata menarik lengan Naruto.

Naruto dan Hinata berlari menghindari Kabuto mereka mencoba kabur sebisa mungkin.

Sring..

Lagi, pipi Naruto terkena tebasan di sisi yang sama hingga membentuk dua garis di pipi sebelah kanannya. "Itaii.." Naruto masih berlari bersama Hinata, keselamatan Hinata adalah nomor satu bahkan meski harus mengorbankan nyawanya.

Kabuto memutar mata bosan, bosan karena harus melawan anak kecil seperti mereka. Tapi apa boleh buat dia sudah ditugaskan untuk membunuh seluruh keluarga Hyuuga dan Namikaze.

Kabuto mencoba bermain-main sejenak dengan kedua bocah tersebut hingga kedua pipi Naruto terluka parah membentuk tiga sayatan di masing-masing pipi. Kabuto yang mulai bosan akhirnya menebas punggung Naruto hingga Naruto tergeletak tak berdaya.

"Naru-kun." Hinata memeluk tubuh Naruto yang ambruk menimpa dirinya.

Tangan Naruto merayap naik membelai pipi Hinata. "Pergi, selamatkan dirimu. Maaf, aku tidak bisa melindungimu," ucap Naruto lirih sebelum akhirnya tangan Naruto terkulai lemas.

"Naru-kun.. hiks.. NARUTO-KUN...!" Jerit Hinata ketika disadari tubuh Naruto sudah tak bergerak lagi. Kristal bening bercucuran dari iris lavender tersebut, menetes hingga ke wajah Naruto.

Semua sia-sia, hingga saat Naruto berdiri di hadapannya dia masih mempunyai alasan untuk hidup. Tapi saat ini? Siapa alasan untuk bocah ini melanjutkan hidup? Keluarga, krabat, sahabat. Semuanya telah pergi. Tinggal dia sendiri terduduk memeluk tubuh sahabatnya yang tak bergerak menunggu sabitan katana dari seorang pria yang bediri dengan angkuh memandangi keadaan tragis tersebut.

Hinata berdiri mendekati Kabuto, ia meraih ujung besi katana tersebut lalu ia tempelkan pada pangkal lehernya. "Bunuh aku tuan, semakin cepat kau membunuhku maka semakin cepat pula aku tidak akan merasakan rasa perih ini." Hinata memejamkan matanya.

Kabuto membuang muka, ia sarungkan kembali katana miliknya membuat Hinata tersentak kaget. "Tidak ada untungnya juga kalau aku membunuhmu. Kau akan kujual di Rumah hiburan, sepertinya wajahmu lumayan untuk kutukarkan dengan uang."

~oOo~

Seorang wanita berparas cantik dengan tantanan rambut disanggul sedemikian rupa hingga membentuk seperti buah persik yang dibelah dua –tantanan Momoware—. Tak lupa Hanakanzami berbentuk bunga sakura menghias sanggul wanita paruh baya tersebut.

Pembawaannya tenang dengan penuh sopan santun, tapi juga tegas dan terlihat wibawah.

"Lima juta jika kau mau," ujar sang wanita datar. Kabuto sedikit menggerutu saat wanita cantik di hadapannya menawar 'Barang' yang ia jual dengan harga yang sangat sedikit.

"Lima belas juta," tegas Kabuto tak mau kalah. "Lihatlah dia sangat cantik, wajahnya berkharisma dia pasti bisa menggait saudagar-saudagar kaya nantinya, bisnismu juga pasti akan makin maju." Rayu Kabuto membujuk wanita tersebut. "Tsunade-sama, apa kau tidak melihat kecantikannya? Bukankah kau sangat peka melihat kecantikan anak?" tanya Kabuto menanti jawaban dari Tsunade.

Tsunade memejamkan matanya, ia tengah berpikir matang-matang. Jumlah uang yang ia sebutkan sudah masuk tarif standar untuk membeli anak yang akan ia didik menjadi Geisha.

Tubuh Hinata meringkuk dengan mulut disekap, ia hanya menggeliat mencoba untuk melarikan diri, keringat dingin mengucur saat ia menatap mata Tsunade yang tengah menilainya.

Tsunade mendekati tubuh mungil kumuh dan penuh luka tersebut. Ia menimbang apakah gadis kecil di hadapannya ini bisa menjadi Geisha terkenal nantinya?

Mata yang bulat dan jernih, iris berwarna senada dengan bulan mencerminkan keanggunan dan kelembutan. Kulit mulus dan putih meski banyak luka dan lebam, tapi dengan perawatan tubuh bocah tersebut bisa kembali mulus. Rambut panjang lebat berwarna biru gelap sangat kontras dengan irisnya. Bagaikan keindahan malam yang menenangkan.

"Sepuluh juta, jika tidak mau kau jual di tempat lain." Tawar terakhir Tsunade.

Kabuto menghela napas pasrah. "Baiklah, Sepuluh juta." Dia mengakui kalau Tsunade benar-benar pintar dalam menawar. Tsunade tersenyum tipis sebelum akhirnya dia memanggil seorang pelayan berambut gelap yang datang dengan membawa koper berisi nominal Yen yang sudah menjadi kesepakatan.

Kabuto keluar dari rumah para Geisha —Okiya— setelah mendapatkan apa yang ia mau, ia memandangi rumah tersebut dengan seringai kecil. "Dengan begini aku mendapat bayaran dua kali lipat," ujar Kabuto licik.

Sementara itu di dalam Okiya.

Hinata berjalan sedikit terseok-seok karena tubuhnya yang sudah lemas, ia belum mendapat pasokan makanan selama dua hari. Seorang wanita dewasa berjalan membimbingnya untuk memasuki salah satu kamar yang akan Hinata tempati.

"Mandilah dan ganti bajumu, kita di sini tidak menerima sampah yang berbau busuk, jadi jika kau mau mendapatkan makanan, besihkan tubuhmu segera," ujar Wanita tersebut ketus sembari melempar tubuh Hinata ke lantai kayu.

Hinata mengangguk ketakutan. Ia segera berlari memasuki kamar mandi dan berendam di sana. Hinata menutup matanya menikmati air hangat yang menyerap kekulitnya. Gadis kecil itu terlalu takut dengan apa yang akan terjadi ke depan.

Seorang diri di tempat yang asing, siapa pun akan merasa takut, terlebih lagi dia mendapatkan perlakuan buruk. Tentu sangat wajar jika Hinata kecil merasa ketakutan.

Terbesit pemikiran nekat untuk mengakhiri hidup. Hinata menenggelamkan kepalanya ke dalam bak kayu besar. Kedua kelopak matanya terbuka menatap tangan mungilnya yang dulu digenggam oleh kedua orang tuanya dan juga Naruto.

'Hinata, selamatkan dirimu'

Hinata segera muncul ke permukaan saat ia mendengar suara Naruto yang lembut tanpa tenaga menyuruhnya untuk menyelamatkan diri. Iris mata Hinata mulai mengucurkan air mata saat ia mengingat bagaimana kehidupannya dulu. Dan kini semuanya sudah hancur dalam semalam.

~oOo~

Di sinilah sekarang, gadis kecil berkimono abu-abu dengan motif garis patah-patah berwarna hitam. Ia berdiri di sebelah seorang kakak yang terlihat lebih lembut dari sebelumnya. Ekor mata bulan itu terus menyusuri setiap sudut ruangan yang begitu luas dengan beberapa meja bulat berukuran diameter satu meter. Di sana sudah ada beberapa anak seusia dengan Hinata yang duduk melingkar pada meja yang dipenuhi dengan makanan.

Hinata meneguk ludah saat melihat macam-macam makanan yang tersanding di atas meja yang tingginya hanya sekitar 30cm. Tanpa ia sadari semua mata tengah tertuju padanya.

"Minna, perkenalkan dia Shikomi baru di sini, namanya adalah Hinata. Aku harap kalian bisa berteman baik dengan Hinata," ucap sang Kakak mengenalkan Hinata.

Hinata membungkuk sejenak memberi Hormat.

Semuanya membalas dengan menunduk. "Selamat datang di Okiya Konoha," ucap salah satu gadis kecil bersurai Merah muda yang digerai memberi sambutan selamat datang.

"Okiya Konoha?" tanya Hinata, ia masih tidak tahu berada di mana dan akan menjadi apa.

"Iya, Okiya Konoha nama rumah untuk para Geisha yang ada di distrik Kiyoto. " jawab sang kakak pembimbing yang sedari tadi berdiri di muka ruangan.

Mata Hinata membulat sempurna. "Ge-Geisha?"

~oOo~

Sementara itu di dalam hutan, tepatnya di lokasi dimana Naruto terkapar tak berdaya. Terlihat seorang pria berdiri di hadapan bocah laki-laki yang sudah tak bergerak.

Pria tersebut berjongkok menyentuh pergelangan tangan Naruto yang masih berdenyut meski sangat lemah.

"Kau bisa menjadi alat pembunuh yang kuat jika kau dilatih dengan keras. Hmm.. sepertinya kau punya bakat beladiri." Ucap pria tersebut. Bibirnya membentuk satu lengkungan ia yakin bisa merubah bocah yang tak berdaya saat ini menjadi seorang Samurai atau lebih tepatnya Batosai.

.

TBC

.

.

Disini ada istilah-istilah yang mungkin masih banyak orang yang belum mengetahuinya:

Geisha: Wanita seni yang menghibur dengan tarian, nyanyian dan alat musik (Pekerja seni)

Meiko: Murid Geisha. Bisa diartikan dengan Gadis penari.

Shikomi: Tingkat dasar untuk menjadi Geisha. Biasanya mereka akan menjadi pelayan Geisha yang melayani para Geisha dari bangun sampai tidur.

Okamisan: Ibu para Geisha, atau lebih mudah disebut seperti kepala rumah/pemimpin rumah, tempat Geisha tinggal.

Okiya: Istilah rumah yang ditempati Geisha.

Shamisen: Alat musik petik seperi kecapi (Alat musik tradisional jepang).

Hanakazami: Tusuk rambut/ Hiasan rambut yang berbentuk seperti bunga merambat yang ditusukan pada konde Geisha.

Momoware: Istilah tatanan rambut Geisha.

.

Gomen, kalau artinya kurang pas. Atau penggambaran latarnya yang tidak tepat.

Sebenernya Vinara sudah lama pengen nulis cerita tentang Geisha, tapi Vinara masih belum yakin, dan entah dapet ilham dari mana, akhirnya Vinara memutuskan untuk mempelajari dan mencari tahu apa itu Geisha? meski sampai sekarang Vinara belum paham betul bagaimana kehidupan Geisha dan belum tahu betul apa itu Geisha.