Blood and Tears

.

.

[ kim taehyung x jeon Jungkook ]

.

.

niexra

.

.


"Kookie sayang, bangun."

Pipinya yang ditepuk halus cukup membuat Jungkook membuka mata. Bocah berusia sembilan tahun itu menatap wajah ibunya yang tersenyum lembut. Dua kaki mungilnya tidak menapak, dan badannya tidak terbaring di kasur. Dua lengan memeluk erat tubuhnya, dan Jungkook sadar bahwa ia tengah berada dalam gendongan ibunya. Ibunya berlari membawa Jungkook menuju ruang penyimpanan pakaian tapi Jungkook terlalu mengantuk untuk peduli. Saat sang ibu melesakkan tubuhnya dibalik gaun-gaun panjang, Jungkook mulai merasa bahwa ada yang aneh.

"Diam disini, oke? Jangan keluar walaupun kau mendengar suara seseorang memanggilmu."

Jungkook tahu situasi ini. Menjadi anak tunggal dari keluarga kaya di Korea membuatnya cukup sering terlibat dalam urusan culik-menculik sejak usia dini. Tapi ini berbeda. Biasanya rumah selalu aman dari serangan siapapun, tapi sekarang kenapa bisa terjadi hal seperti ini?

"Mom, apa yang terjadi? Dad dimana?"

Ibunya tak menjawab, hanya tersenyum. Beliau menatapnya lekat sebelum mendaratkan ciuman di dahinya.

"Tidak ada yang terjadi. Diam disini, oke? Seokjin nanti akan menghampirimu disini."

Pertanyaan tentang ayahnya tidak dijawab. Hal itu membuat Jungkook takut. Bocah itu yakin ada yang tidak beres. Sembari menatap ibunya lekat, dia tersenyum dan mengangguk. Ibunya sekali lagi mencium keningnya lalu keluar dari sana.

Dan tak lama kemudian yang terdengar adalah suara teriakan. Teriakan ibunya. Ada teriakan yang lain, Jungkook tak tahu siapa. Suara barang-barang pecah dan terjatuh saling bersahutan.

Jungkook sadar tubuhnya bergetar karena ketakutan. Pipinya sudah basah karena air mata. Dia ingin ibunya. Ayahnya. Dan Seokjin. Tapi ia tak tahu dimana mereka. Jungkook tak bisa keluar mengingat bahwa ia sudah janji pada ibunya.

Ada suara teriakan lagi.

Setelah itu, terdengar suara pintu terbuka. Mata Jungkook membulat horor. Bocah itu membawa tubuhnya merapat pada dinding dengan tangan memeluk tubuh. Gelap sekali, Jungkook tak bisa melihat apapun kecuali beberapa kerlap-kerlip manik-manik pada salah satu gaun ibunya. Jungkook menghela nafas dengan perlahan, mencoba menetralkan rasa takutnya dan membiarkan telinganya fokus mendengar.

Sret..

Ada suara langkah kaki. Dua orang. Satu melangkah jauh dari tempatnya bersembunyi, dan satunya lagi… berhenti tepat didepannya.

Srek!

Dalam keheningan, suara gaun-gaun yang disibakkan terdengar begitu jelas, dan Jungkook hanya bisa melihat sosok didepannya dengan mata membulat takut. Sosok didepannya menatapnya dalam diam. Wajah sosok itu ditutupi masker, dan rambut hitamnya yang panjang membuat wajahnya semakin tertutup.

"Suga, kau menemukan sesuatu?"

Jungkook bisa mendengar detak jantungnya yang berdetak begitu cepat. Dia akan mati sekarang. Dia akan mati. Dia akan mati. Dia akan ma-

"Hanya kotak perhiasan." jawaban yang keluar dari mulut sosok didepannya ini sungguh tenang dan diluar perkiraan Jungkook. Sosok itu menggerakkan tangannya menuju Jungkook, membuat bocah itu memejamkan mata ketakutan. Bukannya merasakan tangan mencelakai dirinya, Jungkook menemukan sosok itu mengambil sebuah kotak yang ternyata berada tepat disamping kepalanya.

"Kita ambil atau tidak?" sosok itu bertanya, berbalik menatap pria lain yang berada di ruangan tersebut. Dari celah antara tangan si pria dan gaun, Jungkook bisa melihat pria lain berada di sisi ruangan. Badannya kurus namun berotot, dan memiliki dua bekas luka memanjang yang aneh dipunggungnya.

"Terserah kau saja. Aku tidak tertarik."

"Oke." si rambut panjang mengambil sebuah kalung secara asal dan meletakkan kotak tersebut ditempat semula. Seakan Jungkook tidak ada disana. Tangan sosok itu ditarik oleh empunya, membuat gaun-gaun kembali menghalangi penglihatan Jungkook.

"Ayo kembali. Benda itu tidak ada disini.."

Di dalam kegelapan Jungkook kembali memikirkan kenapa sosok itu tidak membunuhnya, menculiknya, atau memberitahu keberadaannya pada rekannya.

Setelah yakin bahwa keadaan aman, Jungkook dengan hati-hati keluar dari tempat persembunyian, dan menemukan seluruh rumah terhiasi cipratan darah. Mayat ibunya terdapat didepan ruang penyimpanan, sedangkan mayat ayahnya ada di kamar kedua orang tuanya.

"Victor, minyaknya tidak cukup. Cepat ke gudang di rumah ini, mungkin saja mereka memiliki minyak disana."

Ternyata orang-orang itu masih ada. Jungkook keluar dari kamar orangtuanya. Saat melewati ruang laboratorium ayahnya, tangan seseorang menahannya. Tangan itu membekap mulutnya erat dan menahan tubuhnya agar tidak memberontak.

"Tenang, tuan muda. Aku Seokjin. Tenang saja, kita akan selamat." suara Seokjin yang sangat akrab ditelinganya membuat tubuh Jungkook rileks. Setidaknya Seokjin selamat…

Keduanya masuk kedalam ruang laboratorium ayahnya dengan selamat. Berbeda dengan ruangan lain yang gelap gulita, ruang kerja ayahnya ini lebih terang. Beberapa lampu dibiarkan menyala, membuat Jungkook dapat dengan jelas melihat bahwa ruangan itu tidak berantakan, membuatnya yakin bahwa orang-orang jahat itu belum masuk kesana. Laboratorium ayahnya hanya bisa dibuka dengan sidik jari dan kode-kode tertentu. Hanya ibu, ayah, dan Seokjin yang bisa membukanya.

"Tuan muda, kita akan aman disini. Mereka tak akan bisa masuk ke sini." Jungkook berbalik untuk menatap Seokjin yang diam dibelakangnya, dan mata Jungkook membesar.

Seokjin tidak selamat. Tapi dia sekarat.

Ada luka tembak di dekat dadanya.

Tadi Jungkook tidak sadar dengan keadaan Seokjin akibat keadaan yang gelap, tapi sekarang mereka ada ditempat yang diterangi lampu sehingga ia dapat melihat dengan jelas keadaan Seokjin saat ini. Wajahnya lebam, darah menghiasi kemejanya yang berwarna putih. Satu kakinya pincang.

"Paman Seokjin, kau terluka!" kaki-kaki pendek Jungkook membawa tubuhnya berlari menghampiri Seokjin yang berdiri didekat pintu.

"Tidak, aku tidak apa-apa." pria berumur tiga puluhan itu tersenyum menenangkan. Hatinya terasa sakit saat melihat Tuan Muda yang sudah ia anggap seperti anaknya itu kini kembali menangis.

"Paman tidak baik-baik saja." balas Jungkook dengan suara kecil. Dengan hati-hati bocah itu menyentuh sisi luka Seokjin. Sambil meringis menahan sakit, Seokjin menjauhkan tangan itu.

"Anda akan selamat disini."

"Tapi mereka akan membakar rumah kita…" ucap Jungkook dengan suara bergetar, mengingat perkataan perampok tadi tentang minyak.

Seokjin menangkup pipi Jungkook, mengarahkan bocah itu untuk menatapnya. "Dengar, Tuan Muda. Jika misalnya nanti mereka dapat masuk kemari, anda harus menekan sebuah tombol di rak kayu berwarna merah itu." sembari mengatakan itu, jari telunjuk Seokjin menunjuk sebuah rak yang berada diseberang ruangan. Jungkook mengikuti pergerakannya. "Dibalik itu ada ruang rahasia tempat Tuan Besar melakukan semua penelitiannya. Ruangan itu didesain kedap suara dan dapat menahan serangan apapun, baik itu dari luar maupun dari dalam. Kalau tidak salah—" ucapan Seokjin terputus, membuat Jungkook khawatir. Apalagi saat melihat raut wajah Seokjin yang menahan rasa sakit.

"Paman, kau tidak apa-apa?!"

Seokjin mengabaikan pertanyaan itu. "Kalau tidak salah disana juga ada persediaan makanan. Anda harus selamat, Tuan Muda. Nyonya Besar, Tuan Besar, dan aku akan sangat bangga padamu kalau kau masih dapat melanjutkan hidup hingga tua nanti."

Jungkook menggelengkan kepala. Matanya basah. Tangannya mencengkram erat tangan Seokjin yang masih menangkup pipinya. "Tidak bisa! Aku tidak bisa hidup tanpa kalian. Kalian keluargaku, kalian…"

"Aku yakin anda bisa." potong Seokjin. "Anda anak yang kuat. Anda pasti bisa melewati semua ini tanpa kami."

"Tunggu! Apa maksudmu dengan kata kami?!" kali ini Jungkook benar-benar panik. "Paman tidak akan meninggalkanku seperti ayah dan ibu, kan?! Paman tidak akan melakukan itu!"

Lalu ia menangis saat tangan Seokjin tidak lagi menempel di pipinya. Saat tubuh Seokjin merosot jatuh ke lantai. Saat ia meletakkan jari diatas pergelangan tangan kiri Seokjin, dan tidak merasakan adanya denyut nadi.

Semuanya hancur. Keluarganya hancur.

Semuanya akibat mereka. Si pria yang menemukannya, pria dengan luka di punggung, dan rekan-rekan mereka.

Binar di matanya hilang. Wajahnya basah, akibat airmata, akibat darah Seokjin yang menempel karena ia memeluk pria itu erat saat sadar bahwa ia telah pergi. Kepala Jungkook pening, semua peristiwa ini terlalu berat bagi hati dan otak kecilnya. Dengan kaki bergetar Jungkook berusaha untuk berdiri. Tubuhnya yang kecil bersusah payah menyeret tubuh Seokjin untuk dibawa menuju 'ruang rahasia' yang diceritakan Seokjin, sebelum api melahap laboratorium ayahnya.

Jeon Jungkook terbangun dari tidur dengan jantung berdegup kencang. Badannya bergetar. Keringat dingin menghiasi tubuhnya. Pemuda itu membawa tangannya ke kepala, memijitnya untuk menghilangkan pusing. Nafas ia hirup dalam-dalam, lalu ia keluarkan perlahan. Terus seperti itu hingga ia merasa lebih tenang. Terdengar suara benturan yang cukup keras saat Jungkook menjatuhkan diri diatas kasur. Dia menutup matanya dengan lengan kanan.

Mimpi itu lagi, pikirnya.

Dengan tangan kiri Jungkook mencari ponselnya di samping bantal. Menemukan apa yang ia cari, dia membawa benda pipih tersebut ke depan wajah untuk melihat jam.

"Jam delapan." ucapnya lelah saat melihat layar ponselnya dihiasi angka tersebut. Jungkook mengerang kesal, lalu membalikkan tubuh kekiri dan memeluk gulingnya. Pantas matanya masih terasa berat. Jungkook baru bisa tertidur jam tujuh karena menyelesaikan model prosthetic leg yang akan diluncurkan perusahaannya. Yoongi meminta blue print dan model benda itu harus siap hari ini, untuk digunakan dalam rapat mereka.

Dan sekarang dia tidak bisa tidur kembali, karena saat matanya tertutup, suara almarhum ibundanya yang berteriak terngiang di telinganya, dan hidungnya mencium aroma bensin dan darah Seokjin. Lalu badannya akan bergetar hebat. Semua diakhiri dengan dia bangun secara tiba-tiba, terkadang ditemani wajah yang basah karena air mata dan keringat dingin.

"Tuan Muda, kau tidak apa-apa?"

Suara Seokjin terdengar dari speaker yang terpasang di ujung kamar Jungkook. Jungkook menggeleng sambil turun dari tempat tidurnya.

"Aku baik-baik saja, Seokjin." suaranya saat berbicara serak sekali. Jungkook yakin saat tidur tadi dia berteriak keras. "Apa Yoongi sudah berangkat ke kantor?"

"Yoongi berangkat lima menit yang lalu. Lebih baik kau istirahat hari ini Tuan Muda. Aku sudah memberitahu Yoongi tentang kondisimu." balas Seokjin dengan suara khawatir.

"Tidak bisa tidur lagi." balas Jungkook singkat. Sembari melangkahkan kaki menuju kamar mandi Jungkook berkata, "Jangan buatkan aku sarapan, Seokjin. Aku ingin sarapan diluar."

Suasana Seoul pagi ini bagus. Langit biru bersih dari awan. Banyak orang dengan pakaian formal berlalu-lalang, beberapa wanita karir, pria kantoran, atau siswa-siswi sekolah yang asik bercengkrama dengan teman sebaya mereka.

Jungkook memelankan laju motornya saat melihat pemandangan tiga orang pemuda dengan seragam sekolah terlihat asik berbincang. Yang ditengah dan di kanan sibuk bercerita, sesekali tertawa lebar. Sedangkan yang di kiri menatap kelakuan dua temannya sambil mendengus, tapi tak menyembunyikan senyum kecil yang muncul diwajahnya.

Saat matanya tidak bisa menangkap tiga siswa itu lagi, Jungkook mempercepat laju motornya. Jungkook memilih mengendarai motor karena jika ia menggunakan mobil, bisa dipastikan dia melewati jam sarapan karena terjebak macet di jalanan Seoul yang ramai ini.

Tak butuh waktu lama bagi Jungkook untuk sampai di tempat yang ia tuju. Setelah memarkirkan motor, Jungkook berjalan masuk ke dalam café yang sudah menjadi langganannya.

"Kau datang untuk sarapan di sini, Kookie?" pria bersurai coklat yang berdiri di belakang meja kasir menyambut Jungkook dengan senyuman lebarnya.

"Iya. Yoongi sudah berangkat dan aku malas sarapan sendirian." balas Jungkook sambil menunduk sopan pada pria didepannya.

"Pesan yang biasa? Waffle dengan sirup maple dan cappuccino?"

"Iya, Mr. Jung." Jawab Jungkook sambil tersenyum.

Pria yang dipanggil Mr. Jung mendelik padanya. "Aku lebih suka panggilan Jung songsaenim, kalau kau mau tahu. Juga, kita tidak sedang belajar jadi panggil saja aku Hoseok hyung."

"Tahu, kok." ucap Jungkook sambil nyengir lebar. "Aku sengaja memanggilmu seperti itu agar kau kesal."

"Kau ini. Duduk sana, kau membuat pelangganku yang lain menunggu." ucapan Hoseok membuat Jungkook menoleh kebelakang. Ada seorang pria yang mengantri.

"Ah, maafkan saya." setelah mengatakan itu, Jungkook melangkahkan kaki menuju salah satu meja kosong yang terletak disamping jendela café.

Sembari menunggu pesanannya, Jungkook membaca beberapa e-mail yang masuk ke akunnya. Dari Yoongi, dan beberapa kolega dan bawahan perusahaan. Saat membalas e-mail – e-mail tersebut, suara kursi yang ditarik dari hadapannya membuat Jungkook mengalihkan perhatian dari ponsel. Pria yang tadi mengantri dibelakang Jungkook, berdiri di mejanya.

"Apa boleh aku duduk disini?" tanya pria itu. Jungkook mengedarkan pandangan ke seluruh area café, lalu ke pria tersebut. Padahal masih banyak meja yang kosong.

"Silahkan." jawab Jungkook dengan senyum manis. Peringatan Yoongi dan Seokjin tentang jangan-berbicara-dengan-orang-asing dibuangnya jauh ke pojok ingatan.

Meja mereka diisi keheningan, dan Jungkook tak keberatan dengan hal itu. Pria itu juga terlihat sibuk dengan ponselnya. Diam-diam Jungkook membuka aplikasi kamera, dengan kamera belakang ia memperhatikan pria tersebut. Iseng dia merekam kegiatan pria itu. Kalau ada yang mencurigakan darinya, tinggal suruh Seokjin untuk menyelidikinya. Jungkook akui pria tersebut tampan. Dengan rahang tegas, mata tajam, dan leher jenjang pria tersebut bisa menarik perhatian kaum hawa dengan mudah.

"Pesananmu, Kook."

Jungkook berhenti merekam pria itu, lalu dengan gerak kasual menoleh pada Hoseok dan tersenyum, seakan kegiatannya tadi tidak pernah ada. Hoseok yang sebenarnya melihat anak didiknya merekam seseorang tak dikenal hanya diam saja. Pria itu meletakkan pesanan Jungkook ke atas meja, lalu meninggalkan Jungkook dan si pria asing. Jungkook memasukkan ponselnya ke saku jaket. Sedangkan pria itu masih sibuk dengan ponselnya.

Tak lama kemudian, Hoseok kembali menghampiri meja mereka, kali ini dengan nampan berisi pesanan yang berbeda. Jungkook tebak itu milik si pria asing.

"Pesananmu, Tuan." Pria itu meletakkan ponselnya di atas meja dengan layar menghadap ke bawah, menoleh pada Hoseok dan membantu Hoseok menyajikan pesanannya.

"Terimakasih."

Jungkook memakan wafflenya dalam diam. Mata bulatnya selalu menatap keluar jendela, memperhatikan jalanan yang masih penuh dengan keramaian. Ada dua siswi berhenti berjalan didepan jendela. Satu yang berambut pendek menghadap ke arahnya datang tadi sambil melambaikan tangan. Lalu tiga orang siswa datang menghampiri mereka. Siswi berambut pendek itu langsung memukul bahu salah satu dari mereka, sedangkan siswa yang dipukul tertawa.

"Seungcheol, mana buku catatanku, hah? Cepat kembalikan!"

Sayup-sayup Jungkook mendengar teriakan siswi itu. Siswa yang dipukul, Seungcehol, tertawa makin lebar.

"Aduh, maaf, Hoon, bukumu dipinjam oleh Hansol."

"Kenapa kau membiarkan bukuku dipinjam? Kau tahu kan sekarang Mr. Joshua akan memeriksa catatan kita!"

"Tenang, nanti aku ambil bukumu dari Hansol!"

"Tenang bagaimana, hah? Kelas Hansol hari ini tidak ada pelajaran bahasa inggris! Kau lupa, ya? Mana mungkin dia membawa bukuku!"

Siswi berambut pendek itu kali ini menendang kaki Seungcheol. Ketiga teman mereka hanya tertawa. Lalu siswi lainnya, yang berambut panjang mulai menenangkan mereka.

"Terlihat menyenangkan, ya?" suara lain yang tak ia kenal terdengar. Jungkook mengalihkan tatapannya dari jendela menuju si pria asing yang baru saja membuka suara.

"Iya. Mungkin itulah yang membuat masa muda bahagia. Ada banyak teman untuk diajak melakukan hal-hal seru." Jungkook menjawab.

Si pria asing tersenyum. "Memiliki banyak teman juga tidak bagus. Kita tidak tahu apakah mereka berteman dengan kita dengan tulus—"

"—atau hanya memanfaatkan kita." sambung Jungkook. Tentu saja dia tahu itu. Setelah kejadian tragis yang menimpa keluarganya, orang-orang di hidup Jungkook hanya menggunakan Jungkook menjadi tempat pelabuhan sementara. Dulu, Jungkook kecil yang naif dan haus akan kasih sayang tentunya tidak sadar akan hal itu. Bahkan dia pernah hampir memberikan segala yang ia punya pada teman almarhum ayahnya yang sering berkunjung. Paman itu selalu memperlakukan Jungkook seperti anaknya. Kalau saja saat itu Yoongi tidak datang ke hidupnya, Jungkook yakin saat ini dia akan menderita.

"Tidak berniat mencari teman, Mr. Jeon?"

Jungkook tidak terkejut saat pria itu menyebut marganya. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui nama pemilik perusahaan di negara mereka. Mereka lebih suka mengetahui nama artis dan idol papan atas daripada pengusaha sukses dan politikus. Oh, kecuali Jungkook tentunya. Banyak yang mengenalnya. Wajah Jungkook sering muncul di televisi dan majalah untuk mengiklankan produk perusahannya. Dengan wajah yang termasuk flower boy dan badan ideal, popularitas Jungkook hampir sama dengan member boygrup negaranya.

"Temanku cukup hanya tiga saja." jawab Jungkook sambil tersenyum manis. "Aku lebih suka mencari kenalan."

Makanan mereka berdua sama-sama telah habis. Si pria asing mengulurkan tangannya. "Kalau begitu perkenalkan. Aku Kim Taehyung."

Jungkook menerima uluran tangan Taehyung. Dan kaget saat tangannya terbungkus sempurna dalam genggaman pria itu. Tapi tentu saja, Jungkook tak memperlihatkannya. Alih-alih, dia menunjukkan senyum manis.

"Kau tahu siapa aku, Mr. Kim."

Mata Kim Taehyung menatapnya lekat, dan menurut Jungkook itu agak mencurigakan. Jungkook balas menatap pria bersurai coklat didepannya dengan tatapan polos andalannya. Hanya sebentar, karena Jungkook langsung melepaskan tangannya dari tangan Taehyung saat merasakan sakunya bergetar. Dia membuka kunci ponselnya dan menemukan suara Seokjin langsung terdengar.

"Tuan Muda, Yoongi mencarimu. Dia bilang Kalau kau akan mati hari ini jika tidak mengantarkan prosthetic leg itu padanya."

Jungkook mengerang kesal. Padahal dia sudah berencana untuk menghabiskan waktunya dengan menculik Hoseok dari cafe dan membawa gurunya itu ke pantai untuk menceritakan segala keluh kesahnya pada sang guru. "Kenapa tidak kau saja yang mengantarnya, Seokjin? Aku tidak mempekerjakanmu dirumah kalau mengantar barang saja tidak bisa. Lagipula tadi aku bilang aku libur hari ini."

"Yoongi bilang kalau kau libur, kau harus berada dirumah. Kalau kau berjalan-jalan keluar berarti kau berbohong tentang keadaanmu."

Jungkook memutar bola matanya. Bukankah Seokjin sendiri yang bilang dia sakit tadi? "Memangnya yang berkata aku sakit itu siapa? Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja. Dan darimana Yoongi tahu aku tidak dirumah, Seokjin? Kau pasti melapor padanya, kan?!"

"Dari pengalamanku, aku tahu bahwa melapor pada Yoongi saat kau tiba-tiba pergi tanpa alasan yang jelas adalah hal yang tepat."

"Yah, memangnya atasanmu itu aku atau Yoongi?" seru Jungkook kesal, "Dasar pengkhianat!"

"Jungkook, jangan selalu salahkan Seokjin! Dan cepatlah kemari, kau membuat kami semua menunggu!" dan tiba-tiba saja suara Yoongi yang membalas ucapannya.

"Iya, iya. Dasar cerewet." kalau sudah Yoongi yang turun tangan, Jungkook bisa apa.

"Hei—"

Panggilan diputuskan.

Masih dengan gerutuan meluncur dari bibirnya, Jungkook memasukkan ponsel ke saku jaket.

"Maafkan aku, Kim Taehyung-ssi. Tapi aku harus pergi sekarang. Ada tuan putri yang sedang membutuhkan pangerannya." ucap Jungkook sambil berdiri.

Setelah mendapatkan respon 'tidak apa-apa.' dari Taehyung yang dibonusi sebuah senyum yang memikat, Jungkook pergi meninggalkan café. Bibirnya tak henti-hentinya menyumpahi nama Yoongi dan menyebut Seokjin dengan sebutan pengkhianat. Tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata masih menatapnya lekat.

.

.

.

tbc


jadi, hai!

saya gak tau apapun tentang perusahaan dan tetek bengeknya, jadi maafkan saya kalau perusahaannya jungkook ngawur sekali. ceritanya itu jungkook punya perusahaan yang diwarisin dari orangtuanya, Jeon Industries (iya namanya gak kreatif banget, maafkan saya). jadi buat siapa yang mau mengoreksi tentang hal-hal ambigu di cerita ini, saya dengan senang hati bakal menerimanya.

maaf juga kalau plot ceritanya masih gak terlalu jelas, soalnya kalau langsung masuk ke konflik kan ga seru :)

oh iya, disini juga posisinya kuki di perusahaannya itu sama kaya posisinya tony stark di perusahannya :) yang suka nonton film marvel pasti tau dong tony stark itu siapa :)

silahkan review, kritik dan saran amat sangat diterima :)

-love, niexra