Banyak sekali typos.
Do Kyungsoo meremas lembut kertas hasil ujian akhir semester miliknya, dalam hatinya Kyungsoo berteriak gelisah memikirkan apa kata orangtua nya di rumah nanti.
Kaki mungilnya melangkah pasti kea rah kediaman rumah Do.
Sebuah rumah mewah dengan furniture mewah di dalamnya dengan keamanan yang terjaga dan terjamin.
Rumah 5 lantai itu begitu besar jika dibandingkan dengan tubuh mungil Kyungsoo. kyungsoo melangkahkan kaki nya kearah ruang tamu dengan gugup. Mata bulatnya menangkap sosok saudara kandung nya sedang duduk di pangkuan ibu mereka. Bisa Kyungsoo pastikan ada beberapa bagian drama yang ia lewati.
"Aku pulang" Kyungsoo bersuara lirih namun tidak satupun diantara saudara, ayah dan ibu nya menyadari keberadaannya. Kyungsoo mematung beberapa saat, menimbang harus kah ia pergi ke kamar pribadinya atau tetap disini menanti keluarganya menyadari keberadaannya.
Do Kyungsae. Saudara kembar Kyungsoo. Lahir 3 menit lebih akhir dari Kyungsoo.
Kyungsae menatap Kyungsoo sekilas dan kembali membenamkan tubuh nya dalam pelukan Nyonya Do.
"Eomma, Kyungsoo sudah pulang berdiri di pintu keluarga seperti patung."
Nyonya Do dan tuan Do memusatkan perhatian mereka pada pintu masuk ruang keluarga. Kyungsoo berdiri kikuk kala semua perhatian tertuju padanya.
"Ah, kau sudah pulang? Kau seharusnya pulang tepat waktu seperti Kyungsae" Cecar nyonya Do.
"Benar eomma. Kyungsoo eonni tidak pernah mau berangkat dengan ku bersama supir Kang. Kyungsoo lebih suka naik kendaraan umum." Jawab Kyungsae
Kyungsoo mencemooh dalam hati 'kau sendiri yang tidak mau berangkat denganku'
"Baiklah. Bukankah hari ini pembagian hasil ulangan akhir semester kalian?" Tanya tuan Do
Tubuh Kyungsoo menegang pasrah. Keluarganya mencintai kesempurnaan. Bagi keluarga Do ketidaksempurnaan bukan tabiat keluarga Do sejak awal.
Kyungsoo membuka resleting kantong sekolahnya dengan pasrah, mungkin dalam 2 minggu ke depan ia tidak di izinkan untuk makan di ruang makan keluarga Do? Penurunan uang jajan? Tidak tentu saja, keluarga mereka kaya raya. Atau barangkali ibunya akan semakin memandangnya sinis?
Kyungsoo memberikan lembaran demi lembaran hasil ujian akhir semester nya. Ini sudah menjadi tradisi, bahwa yang lebih tua akan mendapatkan evaluasian akademik lebih awal. Kyungsae menatapnya dengan antusias dengan tatapan ingin tahu.
Tuan Do membaca hasil ujian akhir Kyungsoo dengan lantang,
Do Kyungsoo
Bahasa Jepang A
Kimia A
Fisika A-
Bahasa Korea A
Bahasa Inggris A
Biologi A
Praktikum A
Tuan dan nyonya Do berpandangan penuh arti. Kyungsoo menundukan kepala nya dalam. Tubuhnya sedikit bergetar takut.
"Kau yakin belajar dengan baik?" tanya tuan Do
"…." Tidak ada jawaban dari Kyungsoo
"Bukan kah, kami sudah menyediakan jasa private tutor terbaik di negeri ini dank au tidak bisa mendapatkan nilai sempurna? Yang benar saja, kau ini bodoh atau tolol atau keduanya?" Sarkas nyonya Do
"Maafkan aku, aku akan belajar lebih –"
Plak
Nyonya Do menampar keras pipi gemuk Kyungsoo.
"Dimana etika mu?! Apa ini ajaran keluarga Do? Apa kau diperkenankan bicara jika orangtua mu sedang bicara?"
Kyungsoo menundukan kepalanya dalam. Kyungsoo terisak dalam diam. Luka pipinya mungkin tidak seberapa, berbeda dengan luka hatinya.
"Hentikan tangisan mu anak sial" cecar nyonya Do.
Tuan Do mendesis sebal, muka nya memerah menahan amarah. Dengan cekatan tuan Do melepaskan ikat pinggang Gucco miliknya. Seakan mengerti, Kyungsoo melepaskan tas punggung miliknya dan membalikan badannya hingga tuan Do menghadap punggung Kyungsoo.
Tuan Do melayangkan satu kali cambukan ikat pinggang pada punggung Kyungsoo.
Kyungsoo berteriak dalam diam.
"Seperti biasa, satu kali kegagalan sama dengan satu kali cambukan. Kau sudah berusia 15 tahun dan kau harus mengerti itu" balas tuan Do.
Kyungsoo menganggukan kepala nya mengerti.
Selanjutnya, Kyungsae memberikan hasil ujian akhirnya dengan mata berkaca – kaca, tuan Do menerima lembaran milik Kyungsae dan membacanya dengan lantang
Do Kyungsae
Bahasa Jepang B-
Kimia D
Fisika C-
Bahasa Korea A-
Bahasa Inggris B
Biologi B-
Praktikum C
"Maafkan aku appa. Aku sudah berusaha semampuku, aku… aku mengecewakan appa dan umma lagi. Aku benar – benar payah. Aku –"
Nyonya Do membawa Kyungsae dalam pelukannya mengelus lembut punggung halus Kyungsae dengan bisikan kata – kata cinta
"Tidak apa – apa Kyungsae, kau telah melakukan yang terbaik. Lihat bahkan nilai Bahasa Korea mu nyaris sempurna bukan? Kau benar – benar turunan keluarga Do." Jawab nyonya Do lembut
Tuan Do ikut berjongkok di hadapan Kyungsae dan membelai pucuk rambutnya dengan halus "Ya benar. Kau telah bekerja keras dengan baik. Selamat"
"Tapi nilai ku tidak sebagus Kyungsoo eonni appa. Bagaimana jika keluarga lain mengetahui ini, aku hanya akan mempermalukan umma dan appa saja" tangis Kyungsae semakin keras
"Tidak apa. Nanti appa dan umma akan berbicara dengan kepala sekolah untuk menaikan nilai – nilai mu"
Kyungsoo menangis dalam diam, tubuhnya bergetar menahan tangis. Kyungsoo enggan membalikan tubuhnya untuk melihat drama apa lagi yang keluarganya buat, tubuhnya sakit, dan hati nya pun ikut sakit.
Kyungsoo berjalan dengan perlahan di koridor, setelah semalaman menangis dan mengurung diri di kamar nya nampaknya cukup berimbas besar pada penampilannya di esok hari.
Mata sembab nya tidak bisa hilang dengan 2 jam kompresan es batu. Punggung nya masih sangat sakit jika ditegakan, tulang pipinya masih sedikit perih akibat tamparan ibunya kemarin kemarin. Kyungsoo sedikit meringis, orangtua nya bahkan tidak menyuruhnya untuk makan malam jika bukan bibi Nam yang mengantarkan makanan ke kamarnya. Kyungsoo cukup tahu diri untuk malam satu meja dengan anggota keluarga Do lainnya. Barangkali appa dan umma nya akan lebih murka lagi, Kyungsoo tidak ingin ambil resiko.
Ya hal seperti ini sudah biasa terjadi di kediaman rumah Do.
Kyungsoo sendiri tidak tahu dimana letak kesalahannya, hingga semua anggota keluarga inti nya membenci dirinya. Kyungsoo bukan anak penuntut, Kyungsoo anak yang penurut. Ini sudah terjadi selama 15 tahun Kyungsoo hidup. Adiknya kerap kali mendapatkan perlakuan istimewa.
Jika saja wajahnya tidak ada kemiripan dengan anggota keluarganya, Kyungsoo akan berpikir jika ia adalah anak pungut. Nyatanya kemiripan nya dengan ibunya bahkan nyaris 80%
Kemiripannya dengan Kyungsae bahkan hampir 90%
Kyungsoo mendapatkan bibir berbentuk hati dari ayahnya. Kyungsae mendapatkan bibir tipis dari ibunya.
Tidak ada alasan khusus bagi Kyungsoo untuk ikut menikmati pentas seni di akhir semester yang diadakan sekolahnya. Alasan pertama, itu brisik. Alasan kedua, Kyungsoo tidak menyukai keramaian, alasan ketiga, adik kembarnya pasti akan menginvansi setiap acara di sekolah ini dengan eksistensi dan uang keluarganya. Kyungsoo tidak mau terlibat.
Kyungsoo memutuskan untuk menyendiri di atap sekolahnya, dengan bekal yang bibi Nam buat juga alunan music yang mengalun indah dari ponselnya.
Kyungsoo menikmati makan siangnya dengan ditemani lagu Goodbye Road milik iKno salah satu boyband yang terkenal akhir – akhri ini. Bibir hatinya nya sesekali bernyanyi lirih di sela – sela kunyahan makan siang nya.
Kyungsoo suka lagu ini.
Lagunya cukup tragis. Sama seperti hidupnya. Bagi nya tidak ada kisah yang akan berakhir bahagia dalam hidup Kyungsoo. Kyungsoo menyukai bagaimana alunan suara biola terkesan indah sekaligus tragis.
"Kau berisik sekali."
Suara bass menginterupsi lamunan Kyungsoo, Kyungsoo mendongkakan kepala nya dengan cepat. Penglihatan Kyungsoo tidak beigtu baik, kabar buruk nya ia melupakan kacamata nya di dalam kelas.
"Bisakah kau lebih tenang? Lagu patah hati itu saja sudah membuat tidur siang ku terganggu. Sejujurnya aku bosan mendnegarkan lagu itu dimana – mana."
Kyungsoo menyipitkan mata nya untuk mempertajam penglihatannya. Samar – samar Kyungsoo melihat sosok pria yang dengan kulit kecoklatan menatap nya tajam.
Kyungsoo membelalak terkejut.
Kalau Kyungsoo tidak salah mengingat, pria ini bernama Kim Jongin. 5 bulan lalu ia mendapatkan skors dari sekolah nya akibat dari pembunuhan yang ia lakukan.
Jongin melangkahkan kakinya perlahan dengan seringai penuh di wajahnya "Kau takut padaku, eh?"
Benar. Ini Kim Jongin yang itu. Psikopat cilik yang membunuh mantan kekasihnya. Tidak menjadi tahanan negara karena penyakit mental yang dialaminya. Jongin di skors oleh sekolah untuk mendapatkan perawatan kejiwaan terbaik di negeri ini.
"Kau kenal aku? Kau tuli huh?"
"Ma-maafkan aku." Kyungsoo tidak berbohong jika ia takut. Meski kerap kali berdoa untuk cepat mati, nyatanya Kyungsoo takut mati.
"Kau sudah dengar rumor 5 bulan yang lalu ya? Wah aku tersanjung sekali aku bisa seterkenal ini. Aku merasa seperti anggota idol boygroup" Balas Jongin santai.
TBC
