-ooo-

Naruto © Masashi Kisimoto

Could It Be Love? © Yuki Kanashii

Genre: Romance & Drama

Rated: T+

Warning: OOC, AU, abal, gaje, typo(s), alur kecepetan/gajelas, d.l.l.

-ooo-

Cahaya mentari pagi mengintip malu-malu melalui jendela kamar. Seorang gadis berambut cokelat panjang tergerai terlihat masih meringkuk di atas kasur besarnya yang empuk. Padahal di sampingnya jam beker sudah berbunyi sangat keras sedari tadi, namun tidak dihiraukan olehnya.

BRAK! Pintu didobrak sangat keras oleh ibu dari Sang Putri Tidur.

"Tenten! Bangun, sudah pukul setengah delapan!" sang ibu langsung mengguncang keras gadis bernama Tenten itu. "Kami-sama! Kau ini ratu tidur, ya?!"

"Ugh, Kaa-san lima menit lagi." Tenten merapatkan kembali selimutnya yang turun dengan mata terpejam.

"TENTEN! INI SUDAH JAM SETENGAH DELAPAN!" Kemarahan ibunya sudah memuncak, dan ibunya berteriak dahsyat.

"Ah Kaa-san, kan baru jam setengah delapan. Sekolah dimulai setengah jam lagi." Ucap Tenten malas. Matanya masih enggan ia buka. Namun teringat kata-kata terakhirnya barusan, kelopak matanya langsung membuka dan ia melotot.

"KAMI-SAMA!" Tenten langsung berlari masuk ke dalam kamar mandinya tanpa peduli dengan cara berlarinya yang sempoyongan.

-ooo-

"Hosh hosh." Tenten mengatur napasnya yang masih memburu akibat berlari sejauh kurang lebih 500 meter dari rumahnya menuju sekolah. Ya, ia hampir terlambat di hari pertamanya masuk SMA Konoha. Untung saja ia datang tepat 20 menit sebelum bel berbunyi.

Duak! Tiba-tiba tubuh Tenten dihantam sesuatu dari belakang dan membuat tubuhnya terhuyung ke depan.

"Kyaa..!" Tanpa bisa dicegah, Tenten ambruk ke tanah. Untung saja ia tidak jatuh tengkurap, tetapi terduduk.

"Cih, kalau jalan itu lihat-lihat pakai mata!" Suara dingin datang dari belakang Tenten, dan mendengar kalimat barusan membuat perempatan siku-siku muncul di dahinya. Ia langsung berbalik badan dan marah-marah pada orang yang telah menabraknya itu.

"Apa?! Seharusnya kau yang lihat-lihat, baka! Justru kau yang menabrakku!" Setelah berkata seperti itu, mata hazel Tenten melebar kala melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini. Aa Kami-sama, aku harap kau membuatku hilang ditelan bumi detik ini juga. Batin Tenten kala melihat seringai di wajah —err..— tampan orang yang ada di depannya itu.

"Konnichiwa, Tenten Hime. Akhirnya kita bertemu lagi." Kata Pemuda itu sambil menyeringai lebar.

-ooo-

"Ohayou, minna-san!" Seorang guru dengan rambut hitam mangkok memasuki kelas dengan penuh semangat. "Kenapa wajah kalian tidak bersemangat begitu? Ayolah, pancarkan semangat jiwa muda kalian seperti saya ini!" Oh tidak, sepertinya Tenten akan memiliki wali kelas aneh yang nyentrik. "Omong-omong, kalian bisa memanggilku Guy. Nah, saya ingin kalian dengan semangat muda memperkenalkan diri. Tidak perlu maju kedepan, cukup berdiri di tempat kalian saja. Dimulai dari pojok kanan depan."

Seorang anak laki-laki berambut jabrik kuning segera berdiri. "Namaku Naruto Uzumaki ttebayo!" Dilanjutkan seorang anak laki-laki berambut raven. "Namaku Sasuke Uchiha." Dan kini giliran Tenten. "Namaku Tenten."

"Apa namamu hanya Tenten saja? Tidak ada marga?" Tanya Guy.

"Iy—"

"Sebentar lagi marganya menjadi Hyuga, Guy-sensei. Dia calon istriku." Celetuk seorang pemuda berambut cokelat gelap panjang. Pemuda itu duduk dengan Tenten.

"AP—" Lagi-lagi omongan Tenten dipotong.

"Wah! Kalian ingin cepat-cepat menikah ya? Kalau akan menikah nanti beri saya undangannya ya hahaha. Baiklah, selanjutnya langsung saja perkenalkan dirimu." Tanpa membiarkan Tenten berbicara lagi Guy langsung menatap pemuda di sebelah Tenten itu. Terdengar bisik-bisik dari seluruh siswa di kelas. Pasti mereka membicarakan kalimat calon istri pemuda tadi. Sepertinya image Tenten menjadi jelek di hari pertamanya ini. Ingin sekali ia meninju wajah tampan pemuda itu.

"Namaku Neji Hyuga." Pemuda itu tersenyum kecil saat memperkenalkan dirinya.

-ooo-

"Tenten-chan, kau tidak terlihat begitu menggoda hari ini." Neji membisikkan kata-kata itu ditengah pelajaran, membuat Tenten gatal sekali ingin memberi pelajaran pada salah satu keturunan keluarga kaya Hyuga ini.

"Apa maksudmu, hah?! Kau sangat menyebalkan!" Tenten melotot ke arah Neji.

"Biarpun menyebalkan, tapi kau menyukaiku, kan? Jika tidak, dulu pasti kau tidak akan bilang kalau kau mau menjadi istriku." Neji tersenyum meremehkan. Aa, kuso. Rupanya benar Neji masih mengingat hal itu.

Kejadian itu adalah kejadian saat mereka kecil dulu. Yah, sebenarnya mereka adalah teman sedari kecil karena ayah Neji adalah atasan ayah Tenten. Namun Neji selalu menjahili Tenten, sehinggga membuat Tenten sering marah-marah dan terkadang menangis. Biarpun begitu, Neji selalu melindungi Tenten dari gangguan apapun, termasuk gangguan anak laki-laki lain di dekat rumah mereka. Ya, rumah mereka juga berdekatan. Hingga suatu saat Tenten kelepasan berkata bahwa ia ingin menjadi istri Neji supaya tetap bisa Neji lindungi. Tentu saja sehabis itu Neji menjahili Tenten lagi dan membuatnya kesal lagi, sehingga Tenten melupakan kata-katanya itu. Tetapi setelah tamat sekolah dasar, Neji dan keluarganya pindah ke luar kota karena pekerjaan ayahnya. Neji dan Tenten pun terpisah, dan Tenten mensyukuri hal itu sehingga ia bisa lepas dari kejahilan temannya itu. Namun hari ini, Tenten kembali dipertemukan Pangeran Hyuga itu. Dan nampaknya, Neji masih mengingat dengan baik kejadian calon istri itu hingga sekarang.

Gyuut

Tiba-tiba pundak kiri Tenten terasa berat. Rupanya, Neji menyandarkan kepalanya di pundak Tenten. Tenten melirik kepala Neji.

"Sekarang kau mau apa lagi, hah?" Desis Tenten kesal. "Menyingkirlah." Tenten hendak mendorong kepala Neji dengan tangannya, namun pemuda dengan mata amethyst itu malah menahan siku Tenten dengan tangannya.

"Neji Hyuga. Tenten." Suara guru bermasker bernama Kakashi Hatake membuat tubuh Tenten menjadi kaku. Terdengar nada bahaya dalam ucapannya. "Apa yang sedang kalian lakukan di saat pelajaran seperti ini, huh?"

Belum sempat Tenten menjawab, Neji berkata dengan dingin. "Tenten memaksaku bersandar di pundaknya."

"APA?!" Suara Tenten langsung meninggi. "It-itu tidak benar, Sensei." Darah Tenten sudah mendidih, mencapai ubun-ubunnya. Ia benar-benar ingin meledak mendengar kalimat Neji. Aa, bukan, bukan. Ia benar-benar ingin menghajar wajah Neji saat ini juga.

"Sepertinya penjelasan Neji sudah cukup. Kalau kau tidak memaksanya, untuk apa tanganmu menahan kepala Neji seperti itu?" Kakashi menunjuk telapak tangan Tenten yang berada di kepala Neji sebelah kiri. Kuso, itu karena siku tanganku ditahan olehnya! Jerit Tenten dalam hati.

"Tapi Sensei—"

"Tidak ada alasan lagi untukmu mengelak. Aku akan nenghukummu."

Kalian tahu apa hukuman dari Kakashi? Ia memberi Tenten tiga lembar soal Matematika untuk malam nanti!

A/N:

Konnichiwa, minna-san~

Saya Yuki dan ini first story saya. Gomen kalau fic ini abal T^T

Silahkan tinggalkan komentar kalian di kotak review^^ Review kalian adalah penyemangat saya('-')9

(Btw di chapter awal ini sengaja saya bikin pendek, tapi selanjutnya lumayan panjang kok'-'v)