Chapter 1: Pertemuan
Konoha. Salah satu desa terbesar dari lima negara besar di Elemental Nation. Mempunyai keindahan dan kedamaian yang sangat sehingga banyak para pengunjung ingin menetap di desa tersebut. Tetapi tidak bagi seorang anak kecil berambut kuning berumur lebih dari enam tahun yang sedang berlari terengah-engah karena dikejar-kejar oleh para penduduk desa. Ada yang membawa obor, pentungan, garpu rumput, bahkan samurai. Bahkan ada juga beberapa shinobi yang mengejar anak itu dimana seharusnya tidak pantas melakukan hal seperti itu kepada seorang anak kecil.
"Berhenti kau dasar iblis.."
"Jangan lari kau dasar iblis.."
"hah hah.. tidak.. hah hah.. kenapa kalian mengejarku.." Jawab anak itu terengah-engah sambil mempercepat larinya.
Ya. Anak itu tidak tahu apa kesalahannya sehingga membuat dia dikejar para penduduk dengan killing intense yang luar biasa. Dia tidak tahu kenapa dia dipanggil iblis.
"kenapa katamu? kau telah membunuh keluarga kami"
"kau telah membunuh Yondaime Hokage-sama"
"hah hah.. aku tidak melakukan apapun.." Jawabnya semakin bingung, kenapa dia dikatakan seorang pembunuh.
Dan 'kegiatan' mengejar dan dikejar itupun sampai pada tepi hutan kematian Konoha.
"BERHENTI KAU IBLIS.." Teriak salah seorang shinobi sambil melempar sebuah kunai dan mengenai kaki kanan anak tersebut.
"arrghh.." Teriak anak kecil itu merasakan sakit yang sangat di kakinya, dan tersungkur jatuh kedepan.
'argh.. sakit.. apa yang harus kulakukan..' batin anak itu takut melihat para penduduk yang semakin dekat mengejarnya. Kemudian dia melihat hutan kematian yang sunyi menyeramkan.
'tidak ada pilihan lain..' Anak itu berusaha berdiri dan berjalan tergopoh-gopoh memasuki hutan kematian.
"BERHENTI!"
"sial dia memasuki hutan kematian.. bagaimana ini..?"
"sial.. biarkan saja.. dia tidak akan berhasil keluar hidup-hidup dari tempat itu.."
"benar.. mari kita pulang dan hidup tenang tanpa ada ancaman dari iblis itu.."
"ya benar.. hahahahah.."
"hahahahah.." Tawa para penduduk senang merasa tidak adanya ancaman iblis akan mengamuk di desa mereka dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
"hah hah hah" terengah seorang anak kecil berlari kecil dengan kaki kanan terluka berlumuran darah memasuki hutan kematian semakin dalam.
'apakah aku kehilangan mereka..?' Melihat kebelakang tidak terlihat para penduduk desa mengejarnya.
"arrghh" terduduk pada sebuah pohon yang cukup besar beristirahat menahan rasa sakit dikakinya.
'arrghh sial' mengucek matanya yang berkunang merasakan badannya semakin lemah kehilangan terlalu banyak darah.
DHUAAR. Petir menyambar di langit sana dan hujanpun mengguyur bumi.
'arrghh sial..' Dan anak kecil itupun kehilangan kesadarannya.
Pagi yang cerah di desa konoha. Burung-burung bernyanyi mewarnai kesibukan di desa ini. Terik cahaya matahari pun dapat menembus dedaunan pohon di hutan kematian dan menerangi sebuah kuil tua yang berada di hutan tersebut. Kuil tua tersebut terlihat cukup terawat dengan sebuah bel yang cukup besar khas kuil kuno menghiasi bagian depan kuil tersebut.
Jika kita memasuki kuil tersebut tepatnya ke ruangan kedua terlihat interior dan perabotan rumah khas rumah Jepang kuno. Memasuki ruangan lain terlihat seorang anak kecil berambut kuning dengan tanda lahir seperti kumis kucing di wajahnya tertidur lelap diatas sebuah futon dengan kaki kanan dibalut perban juga beberapa luka kecil di tangan anak tersebut.
"ugh.. dimana aku..?" Terbangun membuka matanya yang berwarna blue sapphire dengan memegangi kepalanya yang sakit. Anak tersebut bingung dimana dia berada, karena ini bukanlah kamarnya. Melihat sekeliling interior kamar ini terlihat kuno tetapi klasik baginya.
'ugh' memegangi kepalanya mengingat bahwa dia pingsan ketika beristirahat di bawah salah satu pohon hutan kematian. Melihat keluar jendela dapat dilihat bahwa tempat dia berada dikelilingi oleh banyak pohon. Jangan katakan kalau...
Sreek. Pintu tergeser terbuka.
"oh.. kau sudah bangun rupanya?" Terlihat seorang pria berumur diawal 40-an berambut merah mempunyai mata kuning keemasan dengan wajah tampan yang kelihatan lelah berkulit putih mengenakan yukata biru serta syal hijau yang dililitkan di lehernya membawa nampan berisi teh hijau dan beberapa onigiri.
"..." Anak kecil itu terdiam melihat seorang pria masuk dan memandangnya. Pandangan pria itu berbeda.. beda dari yang lain.
"minumlah.. ini akan membuatmu merasa lebih baik.." Meletakkan nampannya di sebelah anak tersebut.
"aku berada dimana..?" Tanya anak itu kalem, tidak seperti biasanya dimana dia selalu berisik.
"di sebuah kuil.. lebih tepatnya di rumahku.. *uhuk*" jawab pria itu sama kalemnya serta diakhiri batuk kecil.
"apa yang terjadi..?" tanya anak itu tidak tahu -atau pura-pura tidak tahu-
"aku menemukanmu tertidur.. atau pingsan.? ditengah hutan.. *uhuk* daripada kau kedinginan tidur diluar lebih baik aku membawamu.." jawab pria itu -terbatuk sesaat- sambil memasang pose mengingat suatu hal.
"..." Mengangguk anak itu meminum teh hijaunya.
"..."
"terima kasih atas bantuannya ojii-san.. aku harus pergi sekarang.." kata anak itu sambil berusaha untuk bangun tetapi tidak berhasil dan kembali terduduk sambil memegangi kepalanya yang sakit.
"beristirahatlah disini dulu naruto sampai kau sembuh.." tahan pria itu melihat naruto hampir terjatuh.
" ...!? darimana kau tahu namaku ojii-san..? aku belum mengatakan namaku.." tanya anak itu bingung namanya disebut karena dia belum mengatakan namanya sama sekali. Ya, namanya adalah Naruto. Uzumaki Naruto.
"ups.." menutup mulutnya karena keceplosan satu kata.
"..." Naruto hanya memandang pria tersebut dengan pandangan meminta jawaban.
"hah.. baiklah.. namaku adalah Uzumaki Fuuruto.. dan aku adalah pamanmu.." jawab pria itu kalem.
" ...! n-n-n-NANI..?!" teriak naruto kaget mendengar apa yang dikatakan pria didepannya.
Menutup telinganya pria itu menjawab "aku mengerti kenapa kau kaget.. tapi tidak perlu teriak.."
"..." naruto tidak menjawab masih 'memproses' hal yang didengarnya di dalam otaknya.
"aku tahu Sandaime-sama tidak menceritakan ini padamu.. tapi aku tidak tahu apa alasannya.." kata pria itu pura-pura tidak tahu, walaupun dia tidak setuju identitasnya tidak diberitahu kepada naruto.
"tunggu dulu.. jika kau adalah pamanku, siapa ayah dan ibuku -ttebayo..?" tanya naruto tidak menyadari menambahkan kata yang menjadi ciri khasnya di akhir perkataannya.
Ya. Naruto seorang anak yatim piatu yang tidak mengetahui siapa kedua orang tuanya. Yang dia tahu orang tuanya meninggal enam tahun yang lalu.
Tersenyum miris menyadari sungguh sedikit informasi yang dimiliki oleh keponakannya, fuuruto menjawab "ibumu adalah Uzumaki Kushina dan.. ayahmu adalah Namikaze Minato.."
" ... ... ...! N-n-n-Namikaze Mi-Minato..? Yo-yo-"
"ya.. Yondaime Hokage Namikaze Minato.."
" ...! tidak mungkin.. kau pasti bercanda.." kata naruto tidak percaya, tidak mungkin Yondaime Hokage adalah ayahnya.
"hah.. kalau kau tidak percaya tak apa.. tapi tidakkah kau lihat kau memiliki ciri yang sama dengan Yondaime Hokage..? *uhuk* berambut kuning bermata blue sapphire..?" jawab fuuruto sabar.
"..." naruto terdiam.
"aku tahu kenapa Sandaime-sama tidak menceritakan ini.. karena Yondaime mempunyai banyak musuh.. apabila informasi ini tersebar luas keselamatanmu akan terancam.."
"..."
"dan aku juga tahu kau diperlakukan tidak baik oleh para penduduk desa.. mengira kaulah yang membunuh minato enam tahun yang lalu.."
" ...! darimana kau tahu..?"
Terbatuk sedikit lalu tersenyum menenangkan, fuuruto menjawab "karena aku selalu mengawasimu.."
Mendengar itu naruto tersenyum. Merasa sedikit tenang naruto bertanya "paman.. kenapa aku dikatakan iblis oleh para penduduk desa..?"
Tersenyum miris fuuruto menceritakan kejadian enam tahun lalu.
*****SKIP TIME*****
Terkejut mendengar kejadian enam tahun yang lalu tepatnya hari saat dia lahir. Dia baru mengetahui bahwa monster yang menghancurkan desa enam tahun yang lalu disegel didalam tubuhnya -selama ini yang dia tahu monster itu telah dibunuh-.
"Maafkan paman karena tidak bisa menolong orang tuamu." Kata fuuruto sedih mengingat kejadian enam tahun lalu. Kalau saja..
"Tidak apa paman. Masa lalu biarkanlah berlalu." Jawab naruto mencoba menenangkan pamannya.. dan juga dirinya.
Fuuruto tersenyum miris menyadari betapa kuatnya keponakannya itu "ya. Kau benar. Lebih baik kita fokus pada masa sekarang."
