Flower Ghost Next Door

Cast:

- Jinyoung

- Gongchan

- Sandeul

- Baro

- Minhwan (FT Island)

- Jeongmin (Boyfriend)

OOC, Angst, AU, OTP, Yaoi, Deathfic, Horror

Panas. Panas sekali.

Jinyoung perlahan – lahan membuka mata. Dia duduk tegak di tempat tidur. Matanya terbelalak ngeri menatap ke segala penjuru kamarnya yang kini telah berubah menjadi lautan api. Lidah – lidah api berwarna kuning terang itu berdesir di meja belajarnya, melahap habis laptop kesayangannya tanpa sisa. Poster – poster yang tertempel di temboknya terbakar lalu jatuh ke lantai. Dan api – api itu dengan cepat berpindah dari lemari pakaian ke rak bukunya. Bahkan cermin di depannya terbakar. Jinyoung bisa melihat pantulan dirinya dikelilingi oleh lidah api yang mulai merambat naik ke ranjangnya.

Dia ingin berteriak. Tapi tidak bisa. Mulutnya seolah – olah terkunci rapat.

Api bergerak dengan cepat mengisi ruangan.

Jinyoung mulai tersedak asap tebal yang masam.

Akhirnya dia bisa membuka mulut. Akhirnya dia bisa menjerit.

Sudah terlambat untuk menjerit.

Tapi dia tetap menjerit sekuat tenaga.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Jinyoung membuka mata.

Dia duduk tegak di tempat tidur sambil merentangkan kedua tangannya ke udara. Mulutnya menguap lebar sekali.

Ada jeda yang agak lama sampai akhirnya Jinyoung sadar kalau dia baru saja bermimpi buruk. Mimpi yang sangat buruk.

Mengingat hal itu membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Jinyoung menyapukan pandangannya ke segala penjuru kamar.

Tidak ada gemercik lidah – lidah api yang membakar habis tembok dan langit – langit kamarnya.

Jinyoung mengalihkan pandangannya ke laptop kesayangannya. Aman. Masih utuh.

Jinyoung menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak ada api yang mengelilinginya.

Semua hanya mimpi. Mimpi. Mimpi yang begitu mengerikan! Begitu nyata.

Hanya mimpi!

"Wah, itu benar – benar menakutkan." Gumam Jinyoung pada dirinya sendiri. Dia duduk bersandar cukup lama, membiarkan debaran jantung di dadanya kembali ke normal. Merenung. Pikirannya terbang kemana – mana. Dia masih bisa mengingat setiap detail mimpi mengerikan itu dengan sangat jelas. Seolah – olah itu… nyata.

Ah, mana mungkin, bodoh! Itu kan cuma mimpi. Mimpi! Batin Jinyoung mensugesti dirinya.

Jinyoung buru – buru bangkit dari ranjang empuknya, menendang selimut yang menutupi separuh kakinya, lalu melirik jam yang bertengger di tembok. Baru jam setengah delapan.

Bagaimana bisa baru jam setengah delapan? Jinyoung bertanya – tanya dalam hati. Dia merasa seperti telah tidur selama berabad – abad. Ini hari apa, sih?

Jinyoung melirik kalender mini di atas meja kecil di samping ranjangnya. Hari Sabtu, Bulan Agustus. Jinyoung ingat sekarang, ini masih musim panas. Kenapa sih dia mendadak jadi linglung begini? Mungkin ini efek masih kebayang – bayang sama mimpi seram tadi. Jinyoung menggeleng cepat. Berusaha keras mengusir lidah – lidah api itu dari kepalanya.

Memikirkan itu semua cuma mimpi membuatnya senang sekali. Saking senangnya tanpa sadar Jinyoung jadi senyam – senyum sendiri.

Ah senangnya masih hidup. Yeess aku masih hidup! Jinyoung melangkah riang menuju kamar mandi. Langkahnya ringan sekali. Seolah – olah dia terbang. Moodnya secerah mentari pagi yang bersinar melalui celah jendelanya.

Hari ini Jinyoung memakai atasan kaos warna merah terang dengan celana bermuda warna biru pudar. Dia sangat menyukai warna merah. Pakaian dan barang – barangnya bahkan didominasi oleh warna merah. Dia juga pernah mengecat rambutnya jadi merah. Sampai – sampai sahabat baiknya, Shinwoo, sering meledeknya iblis merah.

"Berisik! Memangnya salah ya kalau aku suka warna merah?!" Selalu itu jawabannya kalau Shinwoo sudah mulai menggodanya lagi.

Jinyoung menyukai warna merah.

Merah seperti lidah – lidah api di sekitar tempat tidurnya.

"Hei mimpi lenyaplah!" Seru Jinyoung menggeleng cepat. Lalu dia kembali melanjutkan kegiatan mengeringkan rambutnya yang sempat terhenti. Melempar handuknya secara random. Membuka lemari pakaian di samping rak buku. Jinyoung melihat kaos hitam bergambar tengkorak seram yang dibungkus oleh api, dia tidak ingin memakainya sekarang. Tidak disaat mimpi itu masih terekam jelas dalam ingatannya. Sebagai gantinya dia mengenakan kaos lengan panjang putih dengan garis – garis hitam dan bawahan celana khaki berwarna coklat. Lengan kaosnya ia gulung sampai ke siku. Jinyoung menatap pantulan dirinya di cermin. Dia menyisir rapi rambutnya dengan jari – jari tangan.

Yep. Sudah beres.

"Jinyoungiee… apa kau sudah bangun? Sarapan telah siap. Turunlah!" Teriak Ummanya dari arah bawah.

Jinyoung melangkah keluar dari kamarnya kemudian menuruni tangga. Tidak sampai dua menit dia sudah nongol di dapur.

Ummanya sedang berdiri di depan kompor. Semerbak aroma telur dan daging panggang menyebar kemana – mana. Membuat cacing di perut Jinyoung meronta – ronta minta jatah preman.

"Selamat pagi semuanya!" Sapa Jinyoung riang.

Dia bahkan senang melihat kedua adik hiperaktifnya, Minhwan dan Jeongmin. Minhwan berusia enam tahun, sedangkan Jeongmin lima tahun. Mereka bermain pingpong di meja makan. Ya, mereka para pengacau kelas dunia.

"Berapa kali harus kuberitahu agar kalian mengerti? Jangan bermain di meja makan!" Omel Umma sambil berbalik dari kompor dengan wajah marah.

"Seribu satu juta kali." Tukas Jeongmin kacau balau. Dia memang suka asbun. Berani bertaruh dia sendiri bahkan tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Anehnya Minhwan menganggap itu lucu. Dia tertawa terbahak – bahak.

Jinyoung mengendap – endap ke belakang Ummanya lalu memeluk pinggangnya erat – erat.

"Jinyoung, hentikan!" Teriak Ummanya tersentak kaget, "Aku hampir menjatuhkan telur!"

"Jinyoung hentikan, Jinyoung hentikan!" Kedua anak idiot itu membeo mengikuti Ibu mereka.

Bola pingpong memantul dari meja makan, memantul lagi ke dinding, lalu ke mesin cuci, dan terbang ke kompor. Seinci lebih dekat dengan wajan.

Biasanya Jinyoung akan berteriak marah menggantikan Ummanya, tapi berhubung hari ini moodnya sedang bagus sekali, jadi dia malah melemparkan senyum sambil mengacungkan kedua jempolnya, "Tembakan bagus jagoan."

Kedua bocah ingusan itu tertawa senang dengan tawa nada tinggi mereka.

Umma menoleh, matanya memicing sadis, "Jika bola itu jatuh ke wajan, kalian akan memakannya dengan telur kalian." Ancamnya.

Dua bocah itu malah tertawa lebih keras.

"Sudahlah, Umma. Yang penting kan tidak masuk ke wajan."

Umma mengernyit heran menatap Jinyoung. Heran anak sulungnya tiba – tiba berubah jadi bijaksana menghadapi kedua biang kerok itu, "Tumben? Biasanya kau yang akan mengomel – ngomel tidak jelas."

"Mungkin karena moodku sedang bagus hari ini." Lapor Jinyoung menampilkan senyum manis.

Umma menatap curiga, "Bagaimana bisa?"

Jinyoung angkat bahu, "Entahlah. Aku hanya merasa begitu." Dia tidak ingin menceritakan mimpi buruknya. Semakin dibahas malah semakin sulit untuk dilupakan, "Oh iya, Appa kemana?"

"Pergi ke kantor lebih awal." Jawab Umma.

"Bukankah seharusnya Appa libur?" Tanya Jinyoung.

"Yaah… biasalah Appamu, panggilan mendadak dari atasannya. Lagi banyak proyek yang harus dia selesaikan. Dengan kata lain, kerja lembur."

Jinyoung menggeleng sambil berdecak – decak. Memikirkan bagaimana pertambahan usia sangat berbanding terbalik dengan waktu santai yang bisa didapatkan.

"Jadi apa rencanamu hari ini?" Tanya Umma menyadarkan Jinyoung dari lamunan tidak pentingnya.

Jinyoung membuka lemari es dan mengeluarkan sekotak jus jeruk, "Seperti biasa, mungkin bersepeda, atau berjalan – jalan di sekitar perumahan."

"Aku menyesal kau harus menghabiskan musim panas yang sangat membosankan," Tukas Ummanya menghela napas, "Kami benar – benar tidak punya uang untuk mengirimmu ke perkemahan. Mungkin musim panas berikutnya."

"Tidak apa – apa, Umma. Begini juga tidak apa – apa kok. Sungguh." Tukas Jinyoung santai, "Apalagi aku bisa punya banyak waktu menakut – nakuti para kurcaci jelek ini." Jinyoung berpaling menatap kedua adiknya dengan senyum jahil, "Bagaimana? Kalian suka cerita hantu tadi malam?"

"Tidak menakutkan." Jawab Jeongmin cepat.

"Tidak menakutkan sama sekali. Cerita hantumu sangat konyol!" Tambah Minhwan.

"Ya, tidak masuk akal." Timpal Jeongmin lagi.

Jinyoung berakting kaget, "Ah masa? Padahal kalian terlihat sangat ketakutan."

"Kami cuma pura – pura." Jawab Minhwan percaya diri.

Jinyoung merapat ke meja makan. Dia menggoyang – goyangkan sekotak jus jeruk ditangannya, "Mau?"

"Apa ada bubur di dalamnya?" Tanya Jeongmin ngaco. Seperti biasa.

Jinyoung pura – pura membaca tulisan di kemasannya, "Ya, katanya 'Seratus persen bubur'."

"Aku benci bubur!" Seru Jeongmin.

"Aku juga!" Minhwan ikut – ikutan.

"Tak bisakah Umma beli jus jeruk tanpa bubur?" Pinta Jeongmin.

"Bisakah hyung menyaringnya untuk kami?" Tanya Minhwan kepada Jinyoung.

"Bisakah aku mendapat jus apel?" Tanya Jeongmin.

"Aku tak mau jus. Aku ingin susu!" Minhwan cemberut.

Perdebatan semakin absurd. Segala sesuatunya selalu berubah absurd jika itu menyangkut Minhwan dan Jeongmin. Dan biasanya diskusi absurd ini akan membuat Jinyoung menjerit. Tapi sekali lagi berhubung moodnya sedang bagus, ia hanya bereaksi dengan tenang, "Satu susu dan satu jus apel datang." Celotehnya riang sambil membawa kotak jus apel di tangan kanan dan susu coklat di tangan kiri. Menyerahkannya kepada dua adiknya.

"Wah, coba tiap hari kau begini. Umma kan jadi tidak perlu sakit kepala tiap pagi." Komentar Ummanya sumringah. Jinyoung tertawa kecil menanggapi Ummanya.

Setelah sarapan, Jinyoung membantu Ummanya membersihkan dapur.

"Hari yang indah," Tukas Ummanya mengintip ke jendela, "Ini seharusnya lebih dari tiga puluh derajat."

Jinyoung tertawa. Berprofesi sebagai pembawa berita cuaca membuat Ummanya selalu spontan memberikan laporan – laporan cuacanya rutin. Bahkan disaat ia sedang tidak bertugas, "Ya, ada baiknya bersepeda sekarang sebelum matahari semakin terik," Tukas Jinyoung sambil berlalu. Dia melangkah keluar dari pintu depan lalu menarik napas dalam – dalam kemudian menghembuskannya. Udara hangat berbau manis dan segar.

Jinyoung berjalan menuju garasi untuk mengambil sepedanya. Dalam perjalanannya menuju garasi, dia sempat berhenti untuk menatap ke langit biru. Matahari bersinar hangat menerpa wajahnya.

"Hei, awass!" Seru sebuah suara dari arah belakang.

Belum sempat Jinyoung menoleh ketika sesuatu yang sangat keras menabrak kakinya dari belakang. Jinyoung mendarat keras di tanah dengan posisi tengkurap. Dia menoleh untuk melihat apa dan siapa yang telah menabraknya tadi. Dan tatapannya langsung terpaku begitu melihat ternyata yang tadi menabraknya adalah sepeda. Seorang namja duduk di atasnya.

"Gwaenchanayo? " Tanya namja itu dengan wajah cemas sambil melompat turun dari sepeda, berlari menghampiri Jinyoung, "Jeongmal mianhae. Aku benar – benar tidak melihatmu tadi."

Jinyoung terperangah kaget. Perasaan dia tidak kurus – kurus amat? Kenapa anak ini tidak melihatnya?

Jinyoung buru – buru bangkit berdiri sambil mengusap noda rumput di lutut dan kaosnya, "Aduuh." Erangnya masih merasa nyeri di sekujur tubuhnya.

"Maaf. Aku mencoba berhenti." Tukas namja itu pelan dengan wajah penuh penyesalan.

Jinyoung menoleh. Dia melihat namja ini memiliki rambut hitam pekat yang senada dengan warna matanya, tubuhnya tinggi kurus. Namja itu lebih tinggi. Jinyoung memperkirakan dia mungkin lebih tinggi empat senti darinya.

"Kenapa kau bersepeda di halamanku?" Serang Jinyoung langsung. Masih merasa tidak terima. Tatapannya tidak bersahabat.

Namja itu balas memicingkan mata, "Halamanmu? Sejak kapan?"

"Sejak sebelum aku lahir." Tandas Jinyoung tajam.

"Oh." Gumamnya, "Kau tinggal di rumah itu?" Dia menunjuk ke rumah Jinyoung.

Jinyoung mengangguk, raut wajahnya masih jutek.

"Kebetulan sekali, aku tinggal di rumah sebelah." Tunjuknya ke sebuah rumah yang tepat bersebelahan dengan rumah Jinyoung. Kedua rumah itu hanya dibatasi oleh tembok rendah.

"Hah? Kau tinggal disitu?!" Pekik Jinyoung kaget bukan kepalang.

Namja itu mengernyit bingung melihat ekspresi Jinyoung, "Memangnya kenapa?"

"Kau tidak mungkin tinggal disana. Itu rumah kosong! Sudah kosong semenjak Keluarga Ahn pindah." Tukas Jinyoung tidak percaya.

"Well, sekarang tidak lagi." Jawabnya santai, "Aku tinggal disitu dengan ibuku."

Bagaimana bisa seseorang pindah ke samping rumahku tanpa sepengetahuanku? Jinyoung bertanya – tanya dalam hati. Aku bermain – main dengan kedua adikku di depan rumah itu kemarin malam. Aku yakin sekali rumah itu masih gelap dan kosong, pikirnya sambil menatap lekat – lekat namja itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Siapa namamu?" Wajah curiga menggantikan ekspresi judesnya tadi. Jinyoung jadi seperti polisi yang sedang menginterogasi tahannya.

"Gongchan. Gong Chansik." Jawab namja itu masih dengan wajah dan senyum santai. Tidak memperdulikan sikap tidak menyenangkan Jinyoung. Biar gimanapun emang tadi dia yang salah. Jadi tidak bisa protes.

"Jung Jinyoung." Ujar Jinyoung memperkenalkan diri. Wajah curiganya berangsur – angsur hilang, "Kukira kita bertetangga. Aku tujuh belas tahun. Bagaimana denganmu?"

"Aku juga. Kenapa aku tak pernah melihatmu sebelumnya?" Kali ini gantian Gongchan yang curiga.

"Kenapa aku tak pernah melihatmu? Harusnya aku yang bilang begitu!" Tukas Jinyoung.

Gongchan angkat bahu. Sebuah senyuman kembali terlihat. Harus Jinyoung akui namja ini boleh juga. Dia begitu manis dan tampan dalam waktu bersamaan. Dia juga lebih tinggi. Tanpa disadari Jinyoung sudah balas melemparkan senyum malu – malu dengan pipi bersemu pink.

"Nah, apa kau baru saja pindah?" Tanya Jinyoung masih berusaha mengorek informasi.

Gongchan terlihat berpikir keras. Tatapannya menerawang keatas, mencoba untuk mengingat – ingat sesuatu, "Hmm… cukup lama kurasa."

Tidak mungkin! Bagaimana caranya dia pindah ke rumah sebelah tanpa sepengetahuanku?

Tapi sebelum Jinyoung berhasil melontarkan pertanyaan lagi, dia mendengar suara teriakan bernada tinggi dari arah teras.

"Hyung, hyung! Jeongmin tidak mau mengembalikan PSPku!" Seru Minhwan yang sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah cemberut.

"Dimana Umma?" Teriak Jinyoung kembali, "Dia akan mengambilkannya untukmu."

"Baiklah." Tanpa banyak tanya lagi, Minhwan langsung melesat masuk. Daun pintu terbanting keras di belakangnya.

Jinyoung berbalik untuk melanjutkan sesi wawancara yang tadi sempat tertunda, tapi namja itu telah menghilang entah kemana.

-TBC-

.

.

.

.

A/N : Hai ^_^! ini fanfic pertama yang aku posting. Secara aku Gongyoung/Jinchan shipper makanya tokoh utamanya ya mereka.

Sejujurnya, bisa dibilang ini FF balas dendam aku. Secara pengen baca FF B1A4 yang jinchan tapi versi Gongchan topping itu dikit banget!

eh... giliran nemu, bahasa thailand! Mana udah dipakein google translate bukannya jelas malah tambah amburadul!

Untuk ktrgn genre, cast, dll cm aku tampilin di chapter 1. Jadi gk usah repot - repot nyari di chapter berikutnya ^^

Ide cerita aku adaptasi dari novel goosebumps yang paling aku suka "The Ghost Next Door". FYI, mungkin ada dari kalian yg pernah baca

atau masih inget. Ceritanya kurang lebih gak jauh beda, hnya mnglami bbrapa prubhan dan penyesuaian biar jadi BL alias Yaoi version.

Sekian. Enjoy! (Sori kalo gak serem (;-,-) )