BTS Fanfiction
Min Yoongi x Park Jimin GS
Disclaimer: BTS punya BigHit, diri mereka sendiri, keluarga mereka, ARMY dan Tuhan YME
Warning: newbie author
.
.
Min Yoonji. Seorang gadis yang cantik, berkulit bak porselein, anggun, berprestasi, kaya dan minim ekspresi, 100% orang memandang Yoonji seperti itu, tetapi pada kenyataannya Min Yoonji adalah seorang laki-laki dengan nama asli Min Yoongi.
Ia memiliki empat kakak laki-laki, sedangkan ibunya sangat menginginkan anak perempuan. Suatu hari ibunya sangat senang ketika mengetahui ia mengandung anak kembar laki-laki dan perempuan di kehamilannya yang ke lima. Lahirlah Min Yoonji dan Min Yoongi, tetapi sang ibu seolah menghiraukan Yoongi dan terus memanjakan Yoonji.
Hingga di hari yang sedang badai ketika usia mereka menginjak tujuh tahun, Yoongi mendengar suara teriakan ibunya mengalahkan suara guntur di luar rumah. "Yoonji!, Yoonji!, bangun nak!, ibu tidak sengaja!, maafkan ibu!, ibu mohon bangunlah nak!" ibunya mendekap tubuh Yoonji yang berlumuran darah.
Pelayan di rumah Yoongi mengatakan bahwa saat ibunya sedang memundurkan mobilnya ia tidak melihat jika Yoonji sedang berada di belakang mobil untuk mengambil mainannya yang terjatuh dan semuanya terjadi begitu cepat, pemakaman Yoonji pun segera dilaksanakan.
Di hari pemakaman ibunya terlihat sangat depresi, begitu pula dengan hari berikutnya. "Yoonji!, Yoonji!, kau di mana?" ia terus memanggil nama Yoonji dan terus mencarinya, bahkan ia sama sekali menghiraukan panggilan dari Yoongi hingga tepat satu minggu setelah kematian Yoonji.
"ibu!" Yoongi mencoba memanggil ibunya untuk yang kesekian kalinya. "Yoongi!, tolong ikut bibi sebentar!" ujar bibi Yoongi lalu menariknya menuju kamarnya. Hari ini keluarga dari pihak ibu Yoongi datang untuk menjenguk.
Dibantu seorang pembantu, bibi Yoongi mulai mengganti pakaiannya dengan one piece putih milik Yoonji dan memakaikannya wig hitam yang menyentuh pinggang, lalu menghadapkan Yoongi ke cermin.
"Yoongi!, kau tahu bagaimana keadaan ibumu saat ini?" Yoongi mengangguki pertanyaan bibinya. "apa kau tidak kasihan melihatnya?, dan apa kau ingin melihatnya seperti itu terus?" Yoongi menggeleng. "anak baik, kalau itu yang kau inginkan maka dari sekarang kau adalah Yoonji," kali ini Yoongi hanya terdiam dan memandang bibinya.
"apa maksud dari semua ini?, kenapa kau melakukan ini?" ayah Yoongi tiba-tiba datang lalu menarik Yoongi menjauhi bibinya. "ini semua demi kesembuhan kakakku. Apa kau tidak mau istrimu itu sembuh?" bibi Yoongi meninggikan suaranya. "tentu saja aku ingin, tetapi bukan dengan cara seperti ini," ayah Yoongi pun ikut meninggikan suaranya.
"Yoongi!, dengarkan ayah baik-baik!, kau tidak perlu melakukan hal seperti ini!, Yoongi adalah Yoongi," ayah Yoongi meremas kedua bahu anaknya. "Yoongi!, kau adalah-" kalimat ayah Yoongi terputus ketika melihat istrinya berdidi di ambang pintu.
"Yoonji!, astaga!, dari mana saja kau nak?, ibu sangat khawatir padamu. Berjanjilah pada ibu untuk tidak meninggalkan ibu lagi!" Yoongi terdiam dalam pelukan ibunya, sebelumnya ia tidak pernah merasakan pelukan dari sang ibu. "sayang!, dia bukan-" kalimat ayah Yoongi kembali terputus ketika Yoongi membalas pelukan istrinya dan berkata "iya, Yoonji berjanji."
"oh iya, di mana Yoongi?, kenapa dia menghilang di saat Yoonji sudah kembali?" tanya ibu Yoongi. "Yoongi telah meninggal karena kecelakaan mobil seminggu yang lalu," jawab bibi Yoongi, ayah Yoongi memandangnya dengan tatapan tidak percaya. "oh jadi begitu," ibu Yoongi menjawab dengan ringan.
"ikut ayah sebentar!" dengan cepat ayah Yoongi kembali menariknya, sekarang ia menariknya ke ruang kerjanya. "Yoongi!, kenapa kau menuruti bibimu itu nak?, kau adalah kau, kau Yoongi bukan Yoonji, kau tidak perlu melakukan ini!, pasti ada cara lain yang tidak akan menyakiti siapapun," ujar ayah Yoongi tidak kuat menahan air di pelupuk matanya.
Yoongi melangkah maju dan menghapus air mata ayahnya. "ayah!, ibu mulai melihat ke arahku, ibu juga memelukku, aku sangat senang. Jika dengan menjadi Yoonji aku bisa merasakan hal seperti itu lagi, aku mau melakukannya," ayah Yoongi memeluknya dengan erat setelah mendengar pengakuan Yoongi. Keesokan harinya respon yang diberikan keempat kakak laki-lakinya pun tidak berbeda jauh dari sang ayah.
Ayah dan keempat kakaknya menyuruhnya untuk tidak memaksakan diri, tetapi Yoongi kecil tidak mau. Ia ingin merasakan kasih sayang dari ibunya seperti yang Yoonji dapat. "setidaknya kau bisa menjadi dirimu sendiri jika bersama kami," ujar kakak tertuanya ketika sang ibu tidak ada di rumah.
Sikap ibu Yoongi mulai mengeras saat Yoongi mulai beranjak remaja dan sepeninggalan suaminya dalam kecelakaan mobil, ia bahkan tidak bisa mengendalikan emosinya lalu dengan sengaja memukul Yoongi. Saat itu juga Yoongi mulai berpikir begitu beruntungnya Yoonji, saat kecil ia disayang dan meninggal tanpa merasakan hal yang dialami Yoongi saat ini.
.
"Yoonji-ah!, kau sedang apa?" sebuah pelukan dari belakang dan suara itu berhasil membuyarkan lamunan Yoongi. "kau melamun lagi?" tanya gadis berambut merah yang memeluk Yoongi tadi ketika ia tidak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ia peluk. "tidak," jawab Yoongi singkat tanpa memandang lawan bicaranya. "jelas-jelas kau melamun," ujar gadis itu sambil memainkan rambut Yoongi.
"kau sendiri sedang apa Park Jimin?" Yoongi mengalihkan pembicaraan mereka, sedangkan gadis bernama Park Jimin itu masih asyik bermain dengan rambut Yoongi. "gaya rambut ini sangat cocok untukmu," jawab Jimin tidak sesuai dengan pertanyaan dan mendudukkan diri di bangku depan Yoongi. "Yoonji-ah!, jika kau punya masalah ceritalah padaku!, aku ini sahabatmu, kau ingat?" ujar Jimin dengan bibir yang mengerucut lucu membuat Yoongi tersenyum tipis.
Jimin adalah sahabat dan bisa dibilang cinta pertama Yoongi. Jimin begitu baik dan cantik, Yoongi yang sedang dalam masa pubertas pun tertarik padanya. Pertama kali mereka bertemu adalah saat Yoongi memutuskan untuk berangkat sendiri ke sekolah barunya dan dengan cerobohnya Yoongi tersesat.
Saat itulah ia melihat seorang gadis dengan seragam yang sama dengannya sedang membantu seorang nenek memungut barangnya yang berjatuhan, lalu menuntunnya untuk menyebrangi jalan. Senyuman hangat dan kebaikan hati Jiminlah yang membuat dirinya menjatuhkan hatinya pada Jimin.
Sayangnya keadaan Yoongi yang seperti ini tidak memungkinkannya untuk menyatakan perasaan kepada Jimin, mungkin jika ia mengatakannya pada Jimin, ia akan merasa jijik lalu menjauhi Yoongi. Yoongi harus memikirkan kemungkinan buruk itu.
"Yoonji-ah kau tahu?" Jimin menjeda kalimatnya, "tidak," dan Yoongi mendahului kalimat Jimin. "ya!, aku belum selesai bicara. Dasar!" Yoongi hanya tersenyum melihat respon Jimin. "sepertinya aku menyukai Jungkook," senyum Yoongi seketika menghilang. Ditambah dengan fakta bahwa Jimin menyukai teman sekelasnya membuat kesempatan Yoongi menjadi semakin kecil.
"apa menariknya si kelinci berotot itu?" tanya Yoongi acuh. "itu termasuk kelebihannya, dia sangat tampan, senyumnya sangat manis, lucu dan kuat, dia juga baik hati," jelas Jimin dengan wajah yang berseri-seri.
Yoongi memutar bola matanya jengah, jika dipikir kembali Jungkook memang seperti yang Jimin katakan, tetapi masalahnya Jungkook hanya menganggap Jimin sebagai teman biasa dan yang lebih buruk, Jungkook menyukai gadis dari kelas lain bernama Kim Taehyung.
"aku dengar kemarin ada yang mendapat pernyataan cinta dari kapten tim volli putra. Huuh.. kapan aku akan merasakannya ya?, andai saja Jungkook menyatakan cinta pada ku," Jimin berandai-andai sambil menangkup pipinya. "bangun!, dasar pemimpi!" ujar Yoongi sambil menyentil dahi Jimin, Yoongi bersikap seperti ini di sekolah hanya saat dirinya bersama Jimin, Jimin adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Yoongi tenang dan tersenyum di sekolah.
"berhentilah berbicara dan kembalilah ke tempat duduk kalian masing-masing!" ujar wali kelas mereka sambil melangkah masuk. "hari ini kalian mendapatkan teman baru. Silahkan masuk!"
Bisikan-bisikan mulai terdengar sesaat setelah murit baru itu masuk. "namaku Kim Seokjin, mohon kerjasamanya! Ah satu lagi, aku adalah teman masa kecil sekaligus tunangan dari Min Yoonji, salam kenal!" semua murid berteriak histeris mendengar pengakuan yang mengejutkan dari murid baru bermarga Kim ini. "ini pasti mimpi." "mereka sangat serasi." "level mereka terlalu tinggi untukku." "Min Yoonji kita yang cantik, tidak!"
Jin hanya menanggapi kegaduhan itu dengan senyum lebarnya. "songsaengnim!, bolehkah saya duduk di samping tunangan saya?" wali kelas pun menyuruh siswa yang duduk di samping Yoongi untuk pindah. "ugh," keluh siswa yang terpaksa pindah dari tempat duduk favoritnya. "annyeong Suga!" sapa Jin kepada orang di depannya. Suga adalah panggilan kesayangan Jin pada Yoongi, ia bilang senyum Yoongi sangat manis seperti gula, jadi ia memanggilnya seperti itu.
"jam istirahat nanti, ikut aku!" ujar Yoongi dengan aura dan pandangan dingin. "ya!, aku ini tunagnanmu, kanapa kau bersikap dingin seperti itu?" Jin menggunakan nada manjanya sambil mendudukkan diri di bangku samping Yoongi. "diam!" perintah Yoongi, membuat Jin diam seketika. 'seram.. seram..' batinnya nelangsa.
Bel jam istirahat baru saja berbunyi tetapi berita tentang murit baru tunangan Yoonji sudah menyebar ke seantero sekolah dan hal itu membuat aura dingin Yoongi semakin pekat. "maaf Jiminie!, aku tidak bisa menemanimu makan, aku ada urusan dengan orang ini," ujar Yoongi sambil menunjuk Jin dengan dagunya. Jimin hanya tersenyum dan mengacungkan dua ibu jarinya.
"jadi?" tanya Jin, ia tidak tahan dengan suasana sunyi. Yoongi mengajaknya ke sudut sekolah yang sepi. "kau ini bodoh atau apa?, kanapa kau mengaku seperti itu?, sekarang berita itu sudah menyebar di sekolah," ujar Yoongi geram. "Suga.. kau ini kejam sekali, aku melakukan ini untuk kebaikanmu juga, kau tidak ingin kerepotan menolak pernyataan cinta dari fansmu yang jumlahnya ratusan itu kan?" Yoongi diam dan mendengarkan perkataan Jin.
"lagi pula aku ini memang tunanganmu," ujar Jin. Mereka memang sudah di jodohkan oleh orang tua mereka dari kecil dan di usia Yoongi yang ketujuh belas kemarin mereka melangsungkan pertunangan.
Saat mereka masih kecil orang tua Jin setuju mereka dijodohkan, tetapi lama-kelamaan orang tua Jin tahu identitas Yoongi yang sebenarnya. Tentu saja mereka tidak ingin putranya bertunangan bahkan menikah dengan sesama jenis.
"aku, bahkan Suga juga tidak ingin ini terjadi ayah, ibu, tetapi aku akan tetap melakukannya," ujar Jin saat itu. Sontak saja membuat kedua orang tuanya terkejut. "selama belasan tahun aku bersahabat dengan Suga, aku tahu bagaimana sikap bibi, aku tahu bagaimana perasaan Suga yang sebenarnya. Jika bibi tahu bahwa pertunangan ini ditolak karena gender, beliau pasti akan melakukan hal yang buruk pada Suga dan semua yang dilakukannya akan sia-sia, aku tidak ingin itu terjadi," Jin menjeda kalimatnya cukup lama.
"ijinkan aku melakukannya ayah!, ibu!" pinta Jin, ia membungkuk sangat dalam. Melihat Jin seperti itu membuat orang tuanya luluh dan mengijinkannya, jujur saja orang tua Jin juga sangat iba dengan Yoongi.
Dari sejak kecil Jin adalah orang yang selalu membantu dan menolong Yoongi, ia sudah seperti kakak kelima bagi Yoongi. "jika mereka menyataan cinta padaku, aku akan menunjukkan identitasku yang asli, mudahkan? A-auh.." rintih Yoongi saat Jin mencubit pipinya dengan cukup keras.
"mudah apanya?, ck kau ini terlalu menyepelekan sesuatu. Apa kau bisa bayangkan apa yang akan orang-orang katakan tentangmu dan apa yang akan terjadi padamu jika kau melakukan hal bodoh itu huh?" tanya Jin masih menarik-narik pipi Yoongi, sedangkan Yoongi hanya menunduk dan terdiam. "sudahlah... ah aku lupa mengucapkan sesuatu," ekspresi Jin berubah serius, Yoongi pun ikut memandang Jin dengan serius.
"kau semakin cantik saja hehe.." ujar Jin pada akhirnya, lalu beranjak meningalkan Yoongi. "argh!, sakit," keluh Jin ketika Yoongi menendang pantatnya dengan sangat keras. "terimakasih atas pujiannya," ujar Yoongi sambil mengibaskan rambutnya ke wajah Jin lalu mendahuluinya.
"YA MIN SUGA!" Yoongi terkekeh geli mendengar suara teriakan cempreng khas Jin itu, lama tidak berjumpa ia sangat merindukan teriakan itu. Ia sangat senang Jin kembali, tak sadar Yoongi tersenyum di sepanjang koridor membuat semua murid terpana melihatnya. "wah wah, lihat siapa yang sedang gembira ini!" ujar Jimin ketika Yoongi sampai di kelas masih dengan senyuman di bibirnya.
"jarang sekali melihatmu senyum-senyum seperti ini, apa yang Kim Seokjin lakukan padamu?" tanya Jimin dengan tatapan jahilnya. Yoongi menghela napas lalu wajahnya kembali datar. "tidak ada," jawabnya singkat lalu mendudukkan diri di bangkunya, beberapa menit kemudian Jin masuk sambil mengusap pantatnya.
"Suga.. sepertinya kau bertamabah kejam," ujar Jin sambil mengacak rambut Yoongi lalu pergi sebelum ia babak belur, sedangkan Yoongi hanya memutar bola matanya.
.
"oh!, Yoongi kau sudah pulang," ujar Min Youngsoo kakak keempat Yoongi, satu-satunya kakak Yoongi yang berada di rumah, itu karena ia masih mahasiswa. "seperti yang kau lihat. Ibu?" tanya Yoongi, biasanya jika ia pulang ibunya akan menyambutnya. "bisnis luar kota," jawab Youngsoo. Yoongi mengehela napas lega. Ia sudah lelah dengan semua kebohongan yang ia lakukan.
"bersenang-senanglah!" ujar Youngsoo. Semua kakak Yoongi sering bersekongkol agar ia bisa bebas dari ibunya meski hanya sebentar. "aku pinjam bajumu dan tolong beri tahu aku jika ibu pulang!" pinta Yoongi sambil melangkah ke kamarnya. "iya!, apapun untukmu."
Yoongi memakai celana panjang dan kemeja Youngsoo yang terlihat sangat kedodoran di tubuhnya, ia juga mengikat rambutnya, penampilan khas Yoongi ketika ibunya tidak ada di rumah dan saat ia di rumah Jin. "kapan terakhir kali aku berpenampilan seperti ini?" tanyanya pada diri sendiri.
"setelah dipikir-pikir aku terlihat seperti seorang gadis yang memakai baju pacarnya, kenapa tubuhku tidak berkembang?" tanyanya lagi sambil melihat pantulan dirinya di cermin. Tok tok tok.. suara ketukan pintu itu membuatnya berjengit kaget. "Youngsoo hyung?" panggilnya memastikan, tetapi tidak ada jawaban dari luar dan suara ketukan pintu kembali terdengar.
"hyung kaukah itu?" tanyanya, tetapi masih tidak ada jawaban. "i-ibu?" Yoongi mulai gelisah dan kebingungan. Jika benar itu adalah ibunya maka ia dalam masalah besar, ia masih memakai pakaian kakaknya, ibunya pasti akan menghukumnya. "t-tunggu sebentar!" ujarnya. Dengan tergesa ia mengganti bajunya dengan onepiece putih dan membuka pintunya.
"Jin hyung!" teriaknya frustasi ketika mendapati Jin sedang berdiri di depan pintu kamarnya. "tumben sekali kau memakai pakaian perempuan ketika bibi tidak ada di rumah," ujar Jin sambil masuk ke kamar Yoongi tanpa ijin. "itu salahmu, aku kira kau ibu."
"ngomong-ngomong siapa gadis berambut merah yang sangat dekat dengan mu tadi?" tanya Jin tiba-tiba dan melenceng dari pembicaraan awal mereka. "dia Park Jimin, sahabatku dari kelas satu," jelas Yoongi sambil mengganti pakaiannya kembali. "sahabat?, atau lebih?" senyum jahil tersungging di bibir Jin.
"sebenarnya aku ingin lebih, tapi kau tahu kondisiku kan hyung?" Yoongi menghela napasnya lelah. "kau mungkin benar, tetapi apa kau tidak takut Park Jimin akan diambil orang lain?" tanya Jin lagi. "hyung kau ini terlalu banyak bertanya, jika hal itu terjadi berarti Jimin itu bukan jodohku," jawab Yoongi. 'astaga!, anak ini terlalu pasrah,' pikir Jin sambil menggelengkan kepalanya.
.
To Be Continued
