Disclaimer: Kurobas punya boku, tapi bohooong~ :p #dihajarFujimakisensei. Snow White punyanya siapa yah?

Warning: Karakter Akashi disini adalah Akashi waktu SMP, alias AkashiV1/Akashi/Ore!Akashi/AkashiMajiTenshi/AkashiMajiUnyu. Kingdom AU, Possibly OOC dan alay. AkaKuro

Terinspirasi bikin fic ini gara-gara baca Akagami no Shirayukihime dan nonton Shingeki no Kyojin

Happy reading :D


Ini adalah sebuah kisah, dimana hiduplah seorang pangeran berambut merah disebuah kerajaan bernama 'Rakuzan'. Kerajaan Rakuzan memiliki rekor yang cukup luar biasa, yaitu wilayahnya yang tidak pernah diduduki oleh kerajaan lain, alasannya tidak lain karena kerajaan ini tidak pernah kalah satu kalipun dalam berbagai itulah, Rakuzan sangat ditakuti oleh kerajaan-kerajaan tetangganya.

Rahasia dari kemenangan itu adalah- sang pangeran, Akashi Seijuurou yang baru saja menginjak usia 15 tahun, sangat handal dalam mengatur strategi peperangan. Hampir semua musuh bisa dijatuhkan dengan mudahnya. Para prajuritnya sangat menghormati dirinya, terlepas dari fakta bahwa ia hanyalah seorang pemuda berumur 15 tahun.

Kemenangan yang bertubi-tubi inilah yang menimbulkan niat sang raja untuk menjajah wilayah kerajaan lain dan memperluas wilayah kekuasaan. Iapun menceritakan rencananya itu pada putranya pada saat mereka berdua makan malam.

"Maaf, tapi aku tidak bisa setuju dengan ayahanda." jawab sang pangeran tegas.

Rajapun mengangkat alisnya. "Apa kau punya alasan bagus untuk menolak rencanaku, Seijuuro?" tanyanya, dengan sedikit nada tidak suka.

"Aku paham betul kalau kemenangan kita adalah absolut, dan sebisa mungkin...aku tidak ingin kemenangan itu hanya akan menambah penderitaan orang lain. Lagipula, bukankah sejak dulu kerajaan kita tidak akan menyerang duluan dan hanya akan menyerang apabila kita diserang?"

Sang raja mendecak kesal, "Pola pikirmu naif, Seijuuro," Kemudian, ia melanjutkan, "Kalau kita bisa memperluas kerajaan ini, kita tidak perlu kebingungan lagi kekurangan pangan karena kurangnya lahan pertanian, memaksimalkan berbagai potensi dari wilayah itu dan hasil dari semua itu akan menjadi milik kita, sang pemenang."

Seijuuro menghela nafas, kehabisan kata-kata untuk melawan argumen ayahnya. "Terserah ayahanda saja, yang pasti aku tidak ingin dilibatkan dalam rencana penjajahan ini. " ia berdiri dari kursinya, lalu pergi meninggalkan piring kosongnya di meja besar itu.

Raja hanya mendelik kesal pada sosok putranya itu.

Dan keesokan harinya, pada saat makan pagi, Seijuuro mendapati wajah ayahnya yang terlihat lebih cerah dan segar dibandingkan kemarin malam.

"Selamat pagi, ayahanda." Salamnya seraya menarik kursi yang berseberangan dengan kursi sang raja.

"Pagi, Seijuuro."

'Ayahanda kenapa ya? Apa dia baru saja mendengar berita bagus?' Dua bola mata merah Seijuuro sibuk membaca raut wajah ayahnya itu.

Setahunya, raja jarang sekali tersenyum kecuali dia baru saja 'memenangkan' sesuatu.

"Makan dulu sarapanmu, ada yang ingin kubicarakan denganmu nanti."

Seijuuro cuma mengangguk tidak mengerti, lalu mulai melahap telur mata sapi yang ada di piringnya. Acara makan pagi berlangsung tanpa ada pembicaraan, seperti biasa. Yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang menyentuh permukaan piring dan suara mengunyah yang tenang.

Setelah meneguk tetesan terakhir susunya, ia melap mulutnya dengan serbet dan membuka pembicaraan.

"Jadi? Apa yang akan ayahanda bicarakan?" tanya Seijuuro tanpa basa-basi. Matanya menatap lurus ke arah sang raja yang sudah menyelesaikan sarapannya dari tadi.

"Hari ini, kamu akan pergi berburu bersama Chihiro ke hutan Akami."

Seijuuro memalingkan kepalanya ke sebelah kirinya, disana berdiri seorang pengawal dengan mata abu gelap yang tak berpupil dan rambut pendek dengan warna yang sama, hanya lebih terang. Pengawal bernama Chihiro itu sedikit mengangguk, mengiyakan kata-kata sang raja barusan.

"Di tengah hujan salju begini...?" gumam Seijuuro, yang sekaligus merangkap pertanyaan.

"Memangnya kenapa, Seijuuro? Apa kamu takut dingin?" Sekilas, Seijuuro bisa mendengar dengusan mengejek dari ayahnya, "Kalau salju saja menghambatmu untuk berkembang, aku tidak yakin kalau kamu bisa menggantikan tahta kerajaan suatu hari nanti."

Seijuuro tidak bisa protes kali ini. Apa yang dikatakan ayahnya memang benar. Dia terpaksa menerima tantangan tersebut.

"Baiklah kalau begitu,"

Walaupun Seiijuuro mencium sesuatu yang tidak beres dengan perintah ayahnya kali ini.

赤雪王子

Seijuuro dan Chihiro berjalan menapaki tanah yang tertutup salju tebal menuju hutan Akami. Letaknya cukup jauh dari kerajaan Rakuzan. Hutan Akami adalah hutan yang memanjang dari utara ke selatan dan membentuk garis, sehingga dijadikan perbatasan antara kerajaan Rakuzan dan kerajaan Shutoku yang kebetulan bersebelahan dan dinyatakan sebagai wilayah bebas.

Tepat di jalan masuk hutan Akami, terdapat dua orang prajurit yang berjaga-jaga disana.

"Selamat pagi, Seijuuro-denka, Mayuzumi-dono." Salam kedua prajurit tersebut. "Ada perlu apa anda sekalian kemari?"

"Kami akan melakukan perburuan di hutan Akami untuk melatih kemampuan Seijuuro-denka. Buka jalan." Perintah Chihiro.

"Baik!" tanpa aba-aba lagi, kedua prajurit itupun menyingkir dari jalan masuk hutan.

Chihiro bukanlah seorang prajurit biasa. Ia adalah prajurit yang berperan untuk melindungi dan melayani keluarga kerajaan. Bisa dibilang, pangkatnya lebih tinggi dibanding prajurit yang kerjanya hanya melindungi perbatasan dan berpatroli di daerah berpenduduk. Kemampuannya bertarung baik dengan pedang maupun tangan kosongpun tidak diragukan lagi, toh untuk prajurit khusus istana, sang raja sendirilah yang mengangkatnya.

"Kita akan berjalan sedikit ke dalam hutan, Seijuuro-denka. Tidak begitu banyak hewan yang berkeliaran di wilayah dekat perbatasan." Kata Chihiro, dengan mukanya yang tetap datar.

Seijuuro cuma menurut saja. Namun beberapa saat setelah mereka berjalan ke tengah hutan, ia mulai membuka mulutnya.

"Mengapa ayahanda menyuruhku berburu denganmu?"

"Soal itu, saya yakin yang mulia sudah menjawabnya untuk anda bukan?"

"Setahuku, yang namanya perburuan kerajaan itu, dilakukan oleh lima atau empat prajurit dengan raja atau keluarga kerajaan lainnya di atas kuda."

"Hmm..." Chihiro hanya bergumam, tidak menghentikan langkahnya.

"Sedangkan disini, kita tidak memakai kuda sama sekali. Dan dalam perburuan ini hanya ada kita berdua."

Tiba-tiba saja, Chihiro menghentikan langkahnya dan membalikkan punggungnya, bola mata abu-abu yang kosong itu menatap si pangeran berambut merah dalam-dalam. "Apa anda tidak nyaman dengan hanya adanya saya di sisi anda, Seijuuro-denka?"

"Aku merasakan sesuatu yang tidak beres dengan perburuan ini, setelah pertengkaran kecil antara aku dan ayahanda kemarin, kenapa tiba-tiba dia-"

Kalimat Seijuuro terputus saat ia merasakan benda tajam menusuk perutnya.

Chihiro menarik pedang pendeknya perlahan-lahan, membiarkan tubuh Seijuuro terjatuh ke tanah berlapiskan salju. "Maafkan saya, Seijuuro-denka. Ini perintah dari yang mulia, untuk membunuh anda disini. Tapi jangan cemas, saya yakin anda tidak akan mati hanya dari tusukan ini." Iapun berjalan keluar hutan, meninggalkan tuan mudanya yang terbaring lemah karena serangan mendadak tersebut.

"Chihiro...kenapa?" Seijuuro hanya bisa menatap punggung prajurit berambut abu-abu itu dari kejauhan.

Penglihatannya mulai memburam, namun telinganya masih cukup kuat untuk mendengar suara teriakan seorang pria tidak jauh dari situ.

"Kya! Ada orang yang pingsan disana!"

"Mana? Ah, iya! Ayo kita bawa dia ke pondok!"

"Haa? Kenapa kita malah nemu orang pingsan disini, coba kalau rusa. Aah, aku ingin makan daging rusa."

Dari suaranya, Seijuuro bisa menebak kalau ada tiga orang yang berlari mendekatinya.

"Mou, daripada memikirkan makanan, ayo cepat gendong anak ini! Kasihan, dia kedinginan di tengah salju begini."

"Uwaaah~ Reo-nee! Lihat! Sepertinya dia habis diserang seseorang, darahnya banyak sekali..."

"Sebentar, aku akan menghentikan aliran darahnya sementara dengan handukku."

Seijuuro hanya bisa merasakan badannya diangkat lalu digendong oleh seseorang yang berbadan besar. Setelah itu, kesadarannyapun menghilang.

赤雪王子

Seijuuro membuka matanya perlahan-lahan. Matanya menangkap pemandangan langit-langit yang dibentuk dari kayu pinus dan satu lampu putih bulat yang digantung dengan kabel. Merasa asing dengan tempat tersebut, iapun mengucek matanya dan bangkit dari tidurnya.

"Dimana ini...?"

Pangeran dari Kerajaan Rakuzan itu menyoroti seluruh isi ruangan. Ada tiga ranjang yang ukurannya cukup besar untuk sebuah single bed, dan salah satunya kini sedang diduduki oleh Seijuuro. Tempat tidurnya di istana juga sangat besar, tetapi itu adalah double bed. Melihat ukuran ranjangnya, Seijuuro berpikir kalau-kalau ia sudah terdampar di dunia ogre atau semacamnya.

Sisanya, ruangan itu kelihatan minimalis dengan adanya tiga buah laci, meja-meja kecil dengan lampu tidur di sebelah kasur masing-masing, satu lemari besar, dan disampingnya ada meja rias.

Pupil merah Seijuuro menatap ke arah luar jendela kecil yang terletak diantara lemari dan meja rias. Deretan pohon-pohon cemara diatas tanah berselimutkan salju terlihat melalui jendela itu.

"Pasti ini masih di dalam hutan Akami," gumamnya pelan.

BRAK! Bunyi pintu yang tiba-tiba saja dibuka membuyarkan lamunan sang pangeran.

"Yoo, kamu sudah bangun?" seorang pemuda berkulit gelap dan tinggi besar dengan rambut agak cepak tersenyum kearahnya.

"Ah...iya," jawab Seijuuro seadanya.

"Uwaaa! Dia sudah bangun! Syukurlah! Untung saja kamu tidak mati hanya gara-gara luka tusukan itu~" seorang pemuda dengan mata yang besar dan mengkilat-kilat muncul dari balik pria tinggi besar itu.

"Tusukan...?" Seijuuro berusaha menggali ingatannya, mengingat-ingat kejadian yang baru saja menimpanya beberapa jam yang lalu.

'Maafkan saya, Seijuuro-denka. Ini perintah dari yang mulia, untuk membunuh anda disini.'

Kata-kata terakhir dari Chihiro terngiang-ngiang di kepalanya. Jadi, inilah alasan kenapa raut wajah ayahnya terlihat berbeda saat itu. Ayahnya ingin menghilangkan sosoknya dari kerajaan Rakuzan, agar rencana penjajahannya bisa berjalan mulus. Tapi, yang masih ia tidak bisa percayai sampai sekarang, bahwa sang raja tega membunuh anak satu-satunya, yang notabene pewaris kerajaan.

Oh ya...

'Siapapun yang menentang, akan dibunuh walaupun itu orang tua kita sendiri' itulah prinsip ayahnya.

"Haloo~ Kenapa kamu melamun? Apa lukamu masih sakit?" tanya si pemuda hiperaktif, terdengar khawatir.

"Oh, tidak..." jawab Seijuuro dengan nada menggantung. Luka tusukan di dalamnya tidak terasa sakit sama sekali. Entah orang yang mengobatinya yang ahli, atau mungkin tusukan dari Chihiro yang tidak begitu dalam. "Ngomong-ngomong, apa kalian tahu siapa aku?"

Kedua pemuda di depannya saling bertatapan tanda bingung.

"Nak, apa kamu hilang ingatan?" laki-laki hitam tinggi besar itu bertanya pada Seijuuro.

Pangeran berambut merah itu mengangkat alisnya, terkejut dengan pertanyaan barusan.

"Kami tidak tahu apa-apa kecuali kami melihatmu ditusuk oleh seseorang, lalu membawa kamu yang terluka ke pondok kami." Jelas pemuda yang seorang lagi, mata kucingnya mengerjap-ngerjap heran.

"Be-begitu ya..." Seijuuro tambah terkejut karena mereka sama sekali tak mengetahui statusnya sebagai putra keluarga raja Akashi. Ya sudahlah, mungkin dia memang kurang eksis di wilayah netral seperti hutan Akami.

"Ne, jangan ganggu orang yang sedang sakit dengan pertanyaan yang aneh-aneh, Kotaro-chan, Eikichi-chan." Sosok pemuda tampan dengan poni belah tengah dan bulu matanya yang lentik, memasuki ruangan tempat mereka berada. Kedua tangannya membawa nampan dengan dua mangkuk kecil berisi nasi dan sop.

"Reo-nee! Reo-nee! Sepertinya dia kehilangan ingatan!"

"Ara, benarkah?" seru lelaki yang dipanggil Reo-nee itu. Seijuuro masih tidak mengerti kenapa laki-laki yang tinggi badannya melebihi dirinya ini dipanggil dengan embel-embel '-nee' yang jelas-jelas untuk perempuan. Mungkin faktor cara bicara dan gerak-geriknya yang kelewat feminim?

Seijuuro menatap ketiga orang itu dengan bingung, "Aku...belum tahu nama kalian,"

"Ya ampun, dari tadi kalian belum memperkenalkan diri? Pantas saja dia jadi bingung! Dasar gorila dan kucing kampung ini!" Reo mengumpat kesal pada dua orang lainnya, sambil menaruh nampan di meja kecil tempat Seijuuro berbaring.

"Huweee~ Reo-nee jahat! Aku bukan kucing kampung!"

"Oh, terima kasih! Aku senang sekali!"

Seijuuro mengernyitkan dahi atas kedua respon yang berbeda itu.

"Aku Hayama Kotaro! Kamu boleh memanggilku Kotaro, Kotaro-chan, atau Kota-chan juga boleh!" sahut pemuda bermata kucing itu riang.

"Kalau aku Nebuya Eikichi, aku paling suka daging sapi, daging rusa, dan daging babi. Ah, tapi aku lebih suka kalau daging itu dibuat Gyudon. Salam kenal!" Nebuya menampilkan senyumnya lebar-lebar.

Kepala merah Seijuuro menengok ke arah Reo-nee, yang dibalas dengan senyuman cerah dari pemuda cantik itu. "Mibuchi Reo. Panggil saja aku Reo atau Reo-nee."

Seijuuro cuma balas tersenyum sambil menggumamkan, "Salam kenal juga, semuanya."

"Oh ya! Bagaimana kalau kita tentukan nama sementara untuk dia?" usul Hayama cepat. Mata kucingnya kembali bersinar-sinar.

Kedua mata Seijuuro membulat karena kaget. Haruskah dia memberitahu identitas dirinya yang sebenarnya? Atau...

"Apa kau punya usul untuk namamu?" tanya Nebuya pada Seijuuro.

Akhirnya dia memutuskan untuk ikut arus dan menyembunyikan jati dirinya sebagai pangeran kerajaan Rakuzan. Ia tidak bisa membiarkan ayahandanya tahu kalau dia masih hidup. Bisa-bisa Chihiro akan dieksekusi karena gagal membunuhnya dan sang raja bisa saja mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh dirinya.

"Aka," ucap Seijuuro lirih "Aku suka warna merah."

Reo mengernyitkan dahinya sambil menyentuh bibir bawah dengan telunjuknya. "Hmm...rasanya aneh kalau kita panggil 'Aka' saja. Bagaimana kalau Akayuki-chan?"

"Eeh? Itu sih kepanjangan, Reo-nee!" keluh Hayama.

"Saat kami menemukanmu, kamu tergeletak diatas salju yang berwarna merah karena darah, jadi kurasa itu cocok!" seru Reo.

"Ou, aku setuju! Bagaimana? Apa kamu suka nama itu?" Nebuya bertanya pada Seijuuro. Dari pertanyaan itu, entah kenapa, Seijuuro merasa seperti kucing atau anjing yang baru saja dipungut oleh mereka.

"Ah, tidak masalah bagiku." kata Seijuuro dengan nada meyakinkan.

"Selamat datang di pondok kami, Akayuki-chan!"

Seijuuro sedikit mengernyitkan alis, 'Sekarang aku merasa Reo memanggilku seperti anak perempuan...'

赤雪王子

Sejak saat itu, Seijuuro...uh, dengan nama alias Akayuki mulai tinggal bersama ketiga pria tersebut. Nebuya bertugas untuk mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar, sedangkan Hayama bertugas untuk berburu hewan untuk dijadikan santapan mereka bertiga, terutama Nebuya. Lalu Reo, tentu saja ia bertugas sebagai ibu(bapak) rumah tangga, memasak makanan, membersihkan pondok, bahkan pergi ke pasar sudah menjadi kegiatannya sehari-hari.

"Memangnya di sekitar sini ada pasar?" tanya Seijuuro saat Reo akan pamit untuk berbelanja keperluan sehari-hari.

Reo menalikan tali sepatu bootsnya, lalu menjawab, "Letak pondok ini cukup dekat dengan pasar yang ada di daerah perbatasan kerajaan Shutoku, lebih tepatnya di kota Midorika."

Kota Midorika...bukankah itu tempat istana kerajaan berada? Seijuuro jadi teringat sahabat satu-satunya di sana, pangeran Shintaro. Mereka berdua selalu menyempatkan waktu untuk menghabiskan jam demi jam dengan bermain catur. Walaupun Seijuuro amat sangat yakin kalau ia tidak akan pernah kalah dari Shintaro, berapakalipun mereka bertanding. Dan memang sampai saat ini pangeran berkacamata dan berkepala hijau itu belum pernah mengalahkannya, dan tidak akan pernah.

"Kalau begitu Akayuki-chan, tolong jaga rumah ya. Jangan dibuka pintunya kalau ada orang tak dikenal!" pesan Reo sebelum ia pergi keluar.

"Reo, aku bukan anak kecil lagi." gumam Seijuuro kesal.

"Aku pergi dulu, Akayuki-chan! Thaa thaa~"

Sebuah sweatdrop muncul di kepala merah Seijuuro melihat lelaki feminim tersebut dengan centilnya melambai ke arahnya.

Seijuuro menghela nafas panjang. Setelah berhari-hari tinggal bersama Reo, Hayama dan Nebuya, baru kali ini ia ditugasi untuk menjaga rumah, sendirian. Sekarang, pangeran yang tertukar...ehem, pangeran yang terdampar di pondok terpencil itu bingung mau melakukan apa. Diapun memutuskan untuk menjelajahi seluruh ruangan, mencari sesuatu yang bisa menghilangkan kebosanannya.

"Apa tidak ada buku bacaan atau papan catur disini...?" gumamnya seraya mengobrak-abrik kotak perkakas. Ya, iyalah, bro. Orang kamu nyari di kotak perkakas, mana mungkin ada?

"Cerewet kamu, akaichan. Kotak ini cuma satu-satunya tempat menyimpan barang-barang mereka, tahu. Masa aku harus bongkar juga lemari pakaian mereka?"

Iya, iya.

"Uwa! Celana dalam siapa lagi ini?" tangan Seijuuro berhasil menarik sebuah celana dalam berbentuk segitiga dengan renda putih dari lautan perkakas tersebut. Untuk kedua kalinya, Seijuuro menghela nafas dan menyimpan sang celana dalam ke tempat asalnya sebelum ada yang memergoki dirinya bersama si celana dalam satu frame. Akan jatuhlah martabat seorang Akashi Seijuuro. Sebuah benda di atas meja tiba-tiba saja menarik perhatiannya. Sebuah pedang kayu untuk latihan.

Seijuuropun mengambil pedang itu. "Sudah lama aku tidak latihan pedang." gumamnya.

Luka tusukan di perutnya juga sudah membaik dan tidak terasa sakit sama sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk berlatih pedang di depan rumah. Iapun keluar dari dari rumah mungil itu dan mencoba mengayun-ayunkan pedang itu. 'Bagus, ternyata kemampuanku bermain pedang masih ada' pikir si kepala merah itu.

"Yaa, Aka-chan!"

Suara yang mendadak muncul dari belakangnya itu membuat Seijuuro terperanjat kaget. Ia menengokkan kepalanya ke belakang, mendapati sosok pemuda berponi belah tengah tersenyum selebar-lebarnya ke arahnya.

"A...ada perlu apa denganku?" tanya Seijuuro, berusaha tetap waspada.

"Kamu Akayuki kan? Namaku Takao, dan aku mau mengantarkan koran Daily Oha-Asa hari ini."

"Darimana kau tahu namaku?" tanya Seijuuro, berusaha tetap waspada.

Takao tertawa terkekeh, lalu menyerahkan sebundel koran pada Seijuurou. "Hahaha, tenang saja, tadi di jalan aku bertemu dengan Eikichi-kun. Katanya, 'Berikan saja korannya pada Akayuki, dia pasti sedang sendirian di rumah karena Reo akan pergi ke pasar'. Gitu deh,"

Mata Seijuurou terbelakak melihat headline di koran tersebut. Berita dengan judul 'Kerajaan Rakuzan Berhasil Menguasai Kerajaan Touo' yang ditulis besar-besar itu terpampang dengan space yang paling besar diantara berita lainnya.

"I...ini..."

"Aah, soal penjajahan Kerajaan Touo itu? Itu sekarang menjadi topik utama di koran-koran di setiap wilayah. Aku dengar sih, penjajahan itu murni rencana raja Rakuzan, karena pangeran Seijuurou tidak memimpin pasukan saat peperangan."

"Pangeran Seijuurou..."

Tanpa sadar, Seijuurou menggumamkan namanya sendiri. Ya, dialah pangeran Seijuurou yang disebut-sebut oleh Takao. Dialah yang harusnya menghentikan rencana ayahnya untuk menduduki kerajaan lain. Tapi, untuk saat ini dia hanyalah seseorang yang pura-pura hilang ingatan dan menggunakan nama 'Akayuki'.

"Kenapa pangeran Seijuurou tidak memimpin pasukan?" tanya Seijuurou. Ia hanya penasaran bagaimana ayahnya menutupi fakta kalau ia dibunuh atas perintah sang raja sendiri.

"Gosipnya sih, ia mati dimakan binatang buas saat berburu. Tetapi pihak kerajaan Rakuzan belum memberikan konfirmasi soal itu, jadi itu cuma murni gosip." Takao melirik ke arah pemuda berambut merah tersebut, matanya memicing serius, "Apa kamu ingat sesuatu yang berhubungan dengan kerajaan Rakuzan ini?"

Seijuurou cuma menggeleng cepat, berusaha menangkis rasa penasaran Takao.

"Begitu ya, tadinya aku pikir bercerita tentang kerajaan Rakuzan bisa mengembalikan ingatanmu. Tapi sepertinya kamu tidak ingat apa-apa ya," Takao tersenyum jenaka.

"Kalau begitu, apa kamu tahu sesuatu tentang aku?"

Loper koran berponi belah itu hanya menjawab, "Hmm, entahlah. Yang pasti, aku yakin kamu berasal dari kerajaan Rakuzan atau kerajaan Shutoku, karena daerah ini adalah jalan penghubung antara kedua kerajaan itu."

"Oh..."

Seijuurou merasa sedikit lega. Setidaknya Takao tidak mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

"Sepertinya sudah saatnya aku pergi, jaa ne Aka-"

"TAAAKAAAOOOO-KUUUNN~"

Saat Takao membalikkan badan dan bersiap untuk pergi, matanya menangkap sosok tinggi besar dengan wajah bahagia, berlari menghampirinya bak titan abnormal.

"Uwa! Sepertinya aku akan pilih jalan memutar saja, jaa, Aka-chan!" Takao langsung naik ke sepedanya dan mengambil langkah seribu untuk menghindari titan...ehm, Reo-nee.

"Takao-kun! Iih~ Kok kabur sih? Kita kan belum ngobrol-ngobrol!" seru Reo kecewa, gara-gara pujaan hatinya lari begitu saja.

Akashi berjalan menghampiri Reo, "Okaeri, Reo-nee. Barusan Takao mengantarkan koran ini." ujarnya sambil menyodorkan Daily Oha-Asa pada pemuda feminim tersebut.

"Mou~ padahal aku sengaja berlangganan Daily Oha-Asa supaya aku bisa bertemu Takao...tapi dia selalu menghindariku. Kalau tidak dititipkan ke Eikichi atau Kotaro, pasti ditaruh di depan pintu begitu saja."

"Apa koran ini diterbitkan di kota Midorika juga?"

"Iya, toh hanya kota itu yang dekat dari sini. Lagipula, karena ini surat kabar ibu kota, beritanya bisa mencakup semua wilayah kerajaan Shutoku dan juga kerajaan Rakuzan. Ditambah lagi, disini ada kolom harga bahan-bahan pokok hari ini. Horoskop juga ada."

'Emang majalah?' pikir Seijuurou sambil sweatdrop. Tapi karena dia tahu betul kalau sahabatnya itu sangat tergila-gila dengan ramalan dan horoskop, jadi hal itu tidak aneh lagi baginya.

"Ayo masuk, Akayuki. Siang ini kita makan tahu loh,"

Seijuurou tersenyum simpul. "Baiklah,"

赤雪王子

Hari ini Seijuurou memutuskan untuk pergi berjalan-jalan keluar rumah. Kebetulan cuaca di luar sedang cerah dan tidak turun salju. Sejak Reo bertemu lagi dengan Takao, pemuda feminim itu tak henti-hentinya curhat tentang bagaimana perasaannya pada Takao dan bagaimana Takao mengacuhkan dirinya dan bla bla bla...Seijuurou bisa gila kalau menghabiskan waktunya lebih lama lagi untuk mendengar curhatan Reo-nee, lalu akhirnya dia meminta izin untuk keluar dengan alasan sekedar mencari udara segar.

Sekaligus memikirkan cara untuk menghentikan rencana penjajahan ayahnya itu.

Meskipun Seijuurou tidak begitu dekat dengan kerajaan Touo, tapi ia tidak bisa membiarkan siapapun menderita karena serangan dari kerajaannya, apalagi kerajaan Touo berada di wilayah hijau; kerajaan yang tidak memiliki konflik atau peperangan dengan kerajaan lainnya.

Setelah beberapa lama berjalan, Seijuurou merasa kalau kini ia sudah cukup jauh dari pondok. Ia menarik tudung dari jubah merahnya untuk melindungi telinganya dari udara yang semakin dingin saja. Tiba-tiba saja kedua bola mata merahnya melihat sebuah sungai yang belum membeku dari kejauhan. Iapun berlari menuju sungai itu. Kebetulan tenggorokannya sedang kering karena berjalan jauh.

Langkahnya terhenti saat ia menemukan satu setel baju, jubah dan pedang di bawah pohon dekat sungai tersebut.

'Kenapa ada barang-barang ini disini?' pikirnya.

Iapun maju beberapa langkah dan dibalik semak-semak, ia menemukan punggung seorang pemuda yang sedang...mandi? Pemuda itu memiliki kulit yang putih pucat seperti salju dan rambutnya berwarna biru muda seperti langit. Seijuurou tertegun sejenak melihat sosok yang indah itu. Walaupun tubuh pemuda itu didominasi warna pucat, tapi Seijuurou dapat melihat garis-garis otot yang samar dari lengan dan punggungnya yang tegap.

"Ada siapa disana?"

Seijuurou terperanjat kaget. Ternyata pemuda itu menyadari keberadaannya.

Pemuda itupun menoleh ke arah Seijuurou, "Apa anda ada perlu denganku?" tanyanya lagi.

"Maaf, aku tidak bermaksud mengintip. Aku hanya kaget melihat ada orang yang mandi disini." Seijuuroupun keluar dari semak-semak dan menampakkan sosoknya.

Pemuda itu kelihatannya memiliki tinggi badan yang kurang lebih sama dengan Seijuurou. Wajah pemuda itu terlihat datar, tanpa ekspresi. Tetapi bola matanya yang besar dengan warna biru laut, membuat Seijuurou terpesona.

'Apa aku baru saja bertemu dengan malaikat?

'Seharusnya aku curi saja bajunya supaya ia tidak bisa pulang ke khayangan dan tetap bersamaku disini.'

Stop, Seijuurou. Ini parodi Snow White, bukan Jaka Tarub.

"Saya hanya mendinginkan tubuh setelah latihan pedang tadi," Pemuda itu berjalan ke arah pohon tempat ia menyimpan barang-barangnya. "Ngomong-ngomong, boleh saya tahu nama anda?"

Seijuurou berpikir sejenak, lalu menjawab, "...Akayuki."

"Aku Tetsuya, salam kenal." balas pemuda itu sambil mengenakan pakaiannya satu-persatu.

Kedua pupil merah Seijuurou membesar saat ia melihat Tetsuya akan memasang pedangnya di sisi sabuknya. Di bagian depan pedang itu terdapat emblem kerajaan yang tak pernah Seijuurou lihat.

"Tetsuya, apa kamu seorang anggota keluarga kerajaan?" tanya Seijuurou tanpa basa-basi. Emblem yang ada di pedang Tetsuya bukanlah emblem kerajaan Rakuzan ataupun Shutoku. Itu artinya, Tetsuya berasal dari kerajaan yang cukup jauh dari sini. "Untuk apa kamu datang ke perbatasan ini?"

Tetsuya tetap kalem dan menjawab, "Aku rasa, itu bukan urusan Akayuki-san. Lalu, kenapa kau tahu soal emblem kerajaan? Jarang sekali ada rakyat biasa yang langsung tahu kalau emblem di pedang ini adalah lambang keluarga raja."

"Memang jarang rakyat biasa yang mempelajari sistem pemerintahan dan keluarga kerajaan, dan akulah salah satunya." jelas Seijuurou tegas, tanpa ada nada kekalahan sedikitpun. Dia tahu betul kalau penduduk kerajaan Rakuzan diberikan pengetahuan umum tentang sistem pemerintahan dan keluarga kerajaan. Walaupun dia tidak begitu yakin dengan penduduk kerajaan Shutoku.

"Akayuki-san, apa kau salah satu penduduk kerajaan Rakuzan atau Shutoku?" tanya Tetsuya lagi.

"Aku tinggal di dalam hutan ini, di rumah kayu yang letaknya agak jauh dari sini."

Tetsuya terdiam sejenak.

"Baiklah, akan kuceritakan kenapa aku ada disini. Nama lengkapku adalah Kuroko Tetsuya, pangeran kedua dari kerajaan Seirin."

Seijuurou mengangkat alisnya sebelah, "...Seirin?"

Tetsuya tersenyum pahit, "Sebenarnya, wilayah kerajaan Seirin adalah wilayah kerajaan Touo juga. Dahulu, raja Seirin dan Touo menandatangani perjanjian untuk bekerjasama. Wilayah kerajaan Seirin sangat kecil, tapi kami memiliki prajurit-prajurit yang tangguh dan peralatan perang yang bahkan lebih canggih daripada kerajaan Touo. Akhirnya, raja Touo pada masa itu, Aomine Hazuki, menyerahkan sekitar dua per lima wilayah kerajaannya untuk Seirin, supaya wilayah tersebut dijaga dibawah perlindungan kerajaan Seirin. Mungkin orang luar akan menganggap kalau itu wilayah kerajaan Touo, namun sebenarnya, wilayah itu berada dalam kekuasaan kerajaan Seirin. Karena perjanjian itu hanya antara raja Seirin dan Touo saja."

"Jadi kesimpulannya, Touo berbagi wilayah dengan Seirin...bagaimana dengan penduduk yang ada di wilayah kerajaan Seirin? Apa mereka penduduk Seirin atau Touo?"

"Tergantung tempat dimana mereka lahir. Mereka termasuk penduduk Seirin jika lahir di wilayah kami, sedangkan mereka yang lahir di wilayah Touo akan teregistrasi sebagai penduduk kerajaan Touo."

Kata 'berbagi wilayah' adalah hal yang baru bagi sang pangeran Rakuzan itu.

Dia terbiasa mendengar kalimat 'Pemenang akan mendapat segalanya, dan yang kalah akan tersingkir'. Tetapi ternyata hal itu tidak berlaku mutlak untuk suatu ikatan 'kerjasama'.

"Setelah dijajah oleh Rakuzan, kerajaan Touo mengalami banyak kerugian secara materi, para prajurit istana dan pasukan penjaga wilayahpun banyak yang tewas. Dan kini, raja Touo sedang terkapar karena sakit. Seluruh keluarga kerajaan sedang berusaha untuk memulihkan keadaan setelah peperangan dengan Rakuzan."

Seijuurou menelan ludah. Ia bisa membayangkan betapa tragisnya akibat dari sebuah peperangan. Korban yang berjatuhan dari pihak kerajaan maupun rakyat biasa, kerugian secara material, dan...keadaan wilayah yang kacau balau.

Tetsuya menatap emblem yang ada di pedangnya, "Karena itu...selagi kerajaan Touo berusaha bangkit lagi, kami akan berusaha mengambil kebebasan kerajaan Touo dan juga kerajaan Seirin dari raja Rakuzan."

Seijuurou mengangkat kedua alisnya. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh pasukan sebuah kerajaan kecil untuk melawan Rakuzan? Apa dia tidak tahu kalau Rakuzan ditakuti oleh seluruh kerajaan karena kemenangannya yang absolut? "Jadi, kau akan menyerang kerajaan Rakuzan?"

"Kata 'kerajaan' sepertinya tidak tepat, Akayuki-san. Kami hanya akan menyerang istana Rakuzan, dan meminta raja Akashi menarik para prajuritnya dari wilayah Touo...yang sebagiannya juga wilayah kerajaan Seirin."

Lagi-lagi Seijuurou dibuat kagum oleh pangeran berkepala biru muda yang ada di depannya itu. Sama sekali tidak ada nada ketakutan atau keraguan pada kalimatnya tersebut. Ia tidak berpikir apakah dia akan gagal atau kalah, dan hanya fokus pada tujuannya.

"Sepertinya sudah saatnya aku berkumpul dengan pasukanku," Tetsuya menggigit kedua ujung jarinya dan mengeluarkan bunyi suitan. Seekor kuda berwarna hitam tampak belari keluar dari dalam hutan, menghampirinya. "Sampai jumpa lagi, Akayuki-san."

"Tunggu! Aku ingin membantu kalian!"

"Ini urusan kerajaan Seirin dan Rakuzan, Akayuki-san. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam penyerangan ini." Kata Tetsuya seraya naik ke punggung kudanya.

"Meskipun begitu, aku ingin membantu Seirin dan Touo mengambil kembali wilayah kekuasaannya! Aku cukup mahir bermain pedang dan menunggangi kuda, jadi aku tidak akan jadi beban untuk pasukanmu."

Melihat Seijuurou yang bersikeras untuk ikut bersamanya, Tetsuya cuma menghela nafas pasrah. "Kalau begitu naiklah, tapi berjanjilah akan satu hal."

"Apa itu?"

"Jangan pernah membocorkan soal rencana penyerangan ini pada siapapun. Aku dan para prajuritku tak akan segan-segan untuk membunuhmu."

Seijuurou tersenyum tipis, "Tentu saja, Tetsuya-sama." Lalu Tetsuya mengulurkan tangannya untuk menarik Seijuurou naik ke atas kuda, tepat di belakangnya. "Aku tak masalah kalau harus dibunuh karena sudah mengkhianatimu."

Pangeran kedua kerajaan Seirin itu tertawa kecil, "Jawaban yang bagus," Dia menarik tali kekang kudanya dan membuat kuda itu berlari.

"Akayuki-san, pegangan yang erat!"

Seijuuroupun memeluk tubuh Tetsuya erat-erat. Hembusan angin dingin yang mengenai kedua belah pipinya membuatnya menempelkan mukanya ke punggung yang lebih kecil darinya itu. Ia bisa merasakan wajahnya yang memanas saat mendekap tubuh pemuda berambut biru muda itu.

Padahal bukan kali ini saja Seijuurou naik kuda dengan kecepatan seperti ini.

Tapi, kenapa jantungnya berdebar sangat keras?

Dia buru-buru mengusir pikiran-pikiran aneh yang ada di kepalanya dan fokus pada apa yang akan dia lakukan sekarang.

Seijuurou, putra mahkota kerajaan Rakuzan, akan ikut serta dalam penyerangan istananya sendiri.


Owari~ #dihajarreader

Nyambung kok...mohon doa dan dukungannya supaya boku jadi presiden Indonesia tahun 2014 ya~ #dihajarpart2

Kuroko: Akai-san, jangan main-main terus, nanti para reader kabur loh

Akaichan: Gomeeen~ doain supaya boku semangat buat bikin lanjutannya ya ^^

Takao: Kami tunggu kritik dan sarannya. Maafin Akaichan kalo dia nulis yang aneh-aneh ya~ maklum, dia emang orang aneh :3

Akaichan: Takao...pilih garpu atau pisau?

Takao: Hiii! Ampuun! Bercanda, kok! Bercanda!

Akaichan: Tenang aja, karena kamu muncul di omake, jadi boku nggak bakal ngapa-ngapain kamu kok. Tapi lain kali... #asahpisau

Takao: I, iya, iya! Akaichan baik deh!

Makasih udah baca sampai akhir! ^^


-Omake-

Sementara itu, di suatu kedai di kota Midorika...

Seorang pemuda berponi belah tengah membuka pintu kedai dengan riangnya, "Pamaan~ aku pesan set makan siang 1 ya! Nggak pake lama!"

"Siap, Takao-kun." sahut sang pemilik kedai sambil tersenyum.

Takao berjalan ke arah meja yang berada di sudut kedai. Disana ada seorang pria dengan jubah warna coklat dan wajahnya ditutupi oleh tudung dari jubah tersebut.

"Maaf ya~ kamu sudah lama disini?" Takao menyapa pria tersebut dan langsung duduk di sebelahnya.

"Kelamaan," protesnya pada Takao. "Makananku sudah habis daritadi."

"Maaf, maaf," ujar Takao sambil mengusap-usap belakang kepalanya. "Soal Seijuurou-denka, aku menemukannya tinggal di pondok milik Mibuchi Reo. Dan sepertinya dia kehilangan ingatan."

"...hilang ingatan? Apa benar itu dia?"

"Tentu saja, dia berambut merah terang dengan warna mata yang sama kan? Seperti yang kau ceritakan padaku. Dia sempat bertanya-tanya soal kerajaan Rakuzan, tapi sepertinya dia tidak ingat apapun."

"Huh, kemungkinan besar dia cuma berpura-pura. Dia tidak akan semudah itu hilang ingatan," pria berjubah itu berdiri dari kursinya. "Dan dia tidak akan semudah itu mati dimakan binatang buas."

"Kamu sudah mau pergi?"

"Aku banyak urusan, jadi tidak bisa berlama-lama disini. Sampai nanti, Takao." pria berjubah itupun berjalan menuju pintu kedai.

Takao tersenyum ke arah pria tersebut, lalu bergumam, "Sampai jumpa lagi, Shintarou-denka."