Genre : Romance , Drama, Hurt/Comfort
Rate : Teens
Pairing : Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga
Desclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Warning : OOC, Typo, dan segala kekurangan nya.
Title : Maaf
.
.
.
Hari ini terlihat sangat cerah, banyak pengunjung yang datang ke taman Konoha untul berjalan-jalan atau bersantai. Tapi, hal tersebut tidak berlaku bagi kedua pasangan yang ada di bawah pohon sakura.
"Ma-maafkan aku." ucap gadis berambut indigo tersebut sambil menunduk, tak berani menatap sepasang onxy yang menatap nya tajam.
"Kenapa ?" tanya pemuda bermanik onxy kelam tersebut.
"Inti nya, aku tidak bisa, Sasuke-kun. Kau tidak perlu tahu alasan nya." jawab gadis tersebut.
"Apa yang kau rahasia kan dariku, Hinata ?" tanya pemuda bernama Sasuke Uchiha.
"Ti-tidak ada. Ha-hanya perasaan mu saja. Aku mau pulang. Jaa ne, Sasuke-kun." jelas dan pamit Hinata Hyuuga pada Sasuke yang masih menatap nya tak percaya.
"Hinata." panggil Sasuke lirih.
Padahal Sasuke hanya meminta Hinata menjadi kekasih nya , karena Sasuke sangat mencintai Hinata. Sangat tulus. Tapi, apa gadis bermanik amethys itu tak dapat melihat ketulusan hati nya.
.
.
Hinata terus berjalan menjauh dari Sasuke, hati nya gelisah. Mengingat beberapa menit yang lalu ia menolak Sasuke untuk menjadi kekasih nya. Hinata akui, Sasuke adalah pemuda yang baik dan sopan. Kharisma nya mampu membuat kaum hawa termasuk Hinata terpesona oleh nya.
"Kami-sama, apa jalan yang aku ambil ini salah ?" tanya Hinata entah pada siapa.
Tiba-tiba Hinata merasa pusing dan pandangan nya mulai kabur dan menggelap.
"Hime." samar-samar Hinata mendengar suara seseorang memanggil nama nya.
"Neji-nii…" Hinata menjawab pelan dan perlahan membuka kedua amethys nya.
"Syukurlah kamu sudah sadar. Kenapa kamu bisa pingsan, Hime ? Bukankah kamu tahu jika kondisi mu yang sekarang tidak boleh kelelahan sedikit pun." ucap pemuda berambut coklat panjang.
"Ma-maaf, Neji-nii." Hinata menunduk dalam takut memandang amethys yang menatap nya tajam tapi sirat kekhawatiran.
"Hn, sekarang bersiaplah. Hari ini jadwal mu untuk kemotrapi, kan ?" tanya pemuda bernama Neji.
"Ha'i." jawab Hinata pelan. Neji pun meninggalkan kamar Hinata.
.
.
.
Saat ini, Hinata sedang mendengarkan penjelasan dari seorang dokter spesialis kanker, Dokter Sasori.
"Nona Hinata, sebaiknya anda lebih banyak beristirahat." ucap Dokter Sasori pada Hinata.
"Baik, dokter." balas Hinata sambil menunduk.
"Maaf Neji, bisakah kita hanya berbicara berdua saja." ucap Dokter Sasori serius.
"Hime, bisa kamu tunggu di luar ?" tanya Neji pada adik nya.
"Iya, Neji-nii." Jawab Hinata lalu berjalan keluar ruangan. Tapi, tanpa sepengetahuan Dokter Sasori dan Neji, Hinata diam-diam mendengar pembicaraan mereka.
"Ada apa, Sasori ?" tanya Neji heran.
"Maaf sebelum nya, Neji. Tapi, aku memperkirakan bahwa hidup adikmu tidak lama lagi." jawab Sasori.
"Apa maksudmu ? Apa kau mau bilang jika Hinata tidak lama lagi akan meninggal ?" tanya Neji geram.
"Seperti itulah, karena ternyata Hinata selama ini melanggar larangan yang aku berikan. Jadi perkiraanku, hidupnya hanya akan bertahan selama satu minggu atau beberapa hari kedepan." jawab Sasori panjang.
"Hn, aku mengerti." ucap Neji pelan.
"Baiklah, tolong jaga pola makan Hinata. Jangan sampai dia merasa kelelahan." nasehat Sasori sambil menepuk pundak sahabat nya.
"Hn." jawab Neji.
.
.
.
Hinata menatap langit-langit kamar nya dengan datar. Hinata kembali teringat dengan perkataan Dokter Sasori tentang penyakit nya.
"Tinggal beberapa hari lagi." ucap Hinata sedih.
Kanker otak. Ya, penyakit itulah yang saat ini berada di tubuh Hinata. Penyakit yang benar-benar membuat nya takut, penyakit yang membuat nya menolak Sasuke untuk menjadi kekasih nya. Hinata bangkit dari tidur nya dan menuju meja belajar nya, menulis sebuah surat untuk Sasuke. 15 menit kemudian, Hinata selesai menulis surat nya dan meletakkan nya di atas tas sekolah nya.
"Ohok." Hinata terbatuk, dengan cepat Hinata menutup mulut nya, Hinata melihat cairan berwarna merah segar di telapak tangan nya. Saat itu juga Hinata pingsan.
.
.
.
Sudah 5 hari Hinata tidak masuk sekolah. Tentu saja hal itu membuat Sasuke merasa khawatir. Sasuke memutuskan untuk menanyakan keadaan Hinata pada sahabat dekat gadis berambut indigo tersebut.
"Sakura." Panggil Sasuke pada gadis berambut soft pink beberapa meter di depan nya.
"I-iya, Sasuke-kun." Jawab Sakura takut-takut.
"Kemana Hinata ? Apa dia sakit ?" tanya Sasuke datar tapi masih ada sirat kekhawatiran.
"Di-dia …" Sakura menahan tangisan nya.
"Hinata kenapa ?" tanya Sasuke tak sabar.
"Hi-hinata-chan di opname, di-dia menderita penyakit kanker otak stadium akhir." ucap Sakura pelan.
"Kanker otak ? Sejak kapan ? Hinata dirawat dimana ?" tanya Sasuke sedikit keras.
"Kau tidak tahu ? Hinata-chan sudah lama menderita penyakit itu. Hinata-chan dirawat di rumah sakit Konoha." jawab Sakura.
"Hn, thanks." ucap Sasuke lalu meninggalkan Sakura dan menuju rumah sakit.
.
.
.
Hinata membuka mata nya. Samar-samar ia melihat seseorang mengenggam tangan nya.
"Sa-sasuke-kun." ucap Hinata dengan susah payah. Alat bantu pernafasan yang ada di mulut nya membuat ia susah untuk berbicara.
"Aku disini. Aku disini, Hime." ucap Sasuke sambil mengenggam erat jemari mungil Hinata. Tanpa sadar, air mata nya menetes.
Ingin rasa nya Hinata memeluk Sasuke, menumpahkan segala perasaan nya. Tapi, apa daya nya. Tubuh nya terlalu lemah untuk digerakkan.
"Hinata, kumohon. Bertahanlah." ucap Sasuke lembut sambil mengusap-usap pelan pipi chubby Hinata.
"To-tolong, a-ambil su-surat berwarna bi-bi-biru di tas ku. Ba-bacalah se-se-setelah aku pe-pergi." ucap Hinata terbata-bata lalu tersenyum lembut.
Sasuke mengikuti ucapan Hinata, ia membuka tas Hinata dan mengambil surat itu. Lalu, dimasukkan nya ke saku seragam nya.
"Te-terima kasih untuk segala nya." Hinata tersenyum lemah ke arah Sasuke. Surat itu sudah berada di tangan Sasuke, setidak nya ia bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang.
TIITTTTTTTT ! #maaf kalo salah.
Hinata menghembuskan nafas terakhir nya, menandakan ia telah pergi selama nya.
"Hinata, ayo bangun. Jangan bercanda, ini tidak lucu." Sasuke menggoyangkan tubuh Hinata pelan. Sasuke mulai meneteskan air mata nya.
"Hinata …" Sasuke memeluk Hinata erat. Ini pasti cuma mimpi, besok ia akan terbangun dan mendapati Hinata tersenyum lembut kearah nya. Seandai nya hanya mimpi, tapi hal ini ialah kenyataan yang sebenar nya.
.
.
.
Hari ini seluruh teman-teman Hinata berkabung. Awan gelap menyelubungi bumi, seakan-akan tahu perasaan sedih yang saat ini terjadi. Terlihat Hiashi & Neji berusaha tegar di sebelah peti Hinata.
"Kau jahat ! Kenapa kau bisa pergi secepat itu, bukankah kau janji akan berteman denganku selama nya." Sakura menangis sambil mengusap-usap peti yang berada di depan nya.
"Sudahlah, Sakura. Hinata pasti saat ini sedang bahagia di surga." ucap pemuda berambut jabrik kuning, Naruto Uzumaki berusaha menenangkan kekasihnya, Sakura Haruno.
"Tetapi dia sahabatku, sahabat baik ku ! Aku.. aku.. …" Sakura menangis kencang di pelukan Naruto.
"Tenanglah." ucap Naruto sambil mengelus surai musim semi kekasih nya.
~TBC~
Hai, haii .. Saya kembali lagi dengan fic baru nihh… #sok kenal.
Tolong review nya minna-san..
Arigatou .. #bungkuk2
