Yo minna! Salam kenal! Saya Yanz Namiyukimi-chan panggil aja Yan.

Ini fic pertama Yan di fandom Naruto. Jadi mohon bantuannya senpai-senpai dan para readers semua.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto.

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Pairing : SasuNaru, ShikaNaru.

Rate : T.

Warning : Canon, OOC, typo(s), gaje, NO YAOI!

DONT LIKE DONT READ!

One Heart © Yanz Namiyukimi-chan.

Chapter 1

.


.

Tempat itu lagi-lagi menjadi saksi bisu luapan emosi mereka. Perasaan ini begitu menyesakkan dada.

Kepedulian…

Rasa benci…

Keputusasaan…

"SASUKEEE …"

Perasaan ini begitu campur aduk.

"NARUTOOO …"

Perlahan membunuh mereka…

.

BLAAARR!

.


.

Hari yang cerah di Konoha, mulai dipadati oleh kegiatan-kegiatan masyarakat disana. Semua tampak biasa melakukan aktivitas mereka setiap harinya.

Tapi kecuali untuk yang satu ini.

Seorang gadis berambut merah muda, tampak terburu-buru menuju gedung Hokage. Sesekali ia menabrak orang menghalangi jalannya, membuat orang-orang yang ditabraknya mengumpat kesal.

Namun ia tidak peduli. Ia harus segera menuju kantor Hokage secepat mungkin dan kemudian bertemu sang Pemimpin disana.

BRAK!

"Tsunade-sama!" Sakura mendobrak pintu itu dengan ganas.

"Ada apa Sakura? Kenapa kau mendobrak pintu sampai seperti itu?" Sang Hokage menatap kesal dengan kelakuan muridnya yang satu ini.

"Maaf, Tsunade-sama, kami mendapat berita dari tim Kakashi-sensei," ucap Sakura sambil terus mengatur napasnya dan berjalan mendekati Tsunade.

Seketika itu juga suasana menjadi serius.

"Cepat katakan!"

Seketika Sakura tersenyum cerah, "Kakashi-sensei, Naruto dan yang lainnya telah berhasil membawa Sasuke kembali. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju Konoha!"

"Benarkah?" ucap sang Hokage tak percaya.

"Iya, Tsunade-sama!"

"Ternyata misi kali ini berhasil, ya?" gumamnya entah pada siapa. Sejujurnya Tsunade tidak mengharap lebih dari misi ini. Nah, misi telah berhasil dan sekarang ia tidak perlu mendapat rengekan dari Naruto tentang menyelamatkan temannya itu.

"Apa semuanya selamat, Sakura?"

"Dalam informasi yang dikirimkan semuanya selamat tidak memakan korban jiwa, tapi kita diperintahkan untuk menyiapkan para medis untuk mengobati mereka," ucap Sakura menangkap rasa khawatir sang Hokage.

"Apa mereka terluka parah?"

"Saya tidak tahu, Tsunade-sama. Informasi yang diberikan hanya seperti itu saja," ucap Sakura sambil menggeleng.

"Baiklah, sekarang siapkan para medis untuk mengobati mereka nanti!" perintah Tsunade dengan tegas.

"Baik, Tsunade-sama!"

Dengan segera Sakura meninggalkan ruang Hokage setelah mendapat perintah.

"Semoga semuanya baik-baik saja." Tsunade tidak bisa menutupi rasa kekhawatirannya.

.


.

Di rumah sakit Konoha

Tampak banyak orang yang berlalu lalang dengan tenang. Itu hal sewajarnya dimana kita tidak boleh membuat keributan. Namun di sudut rumah sakit, semua tampak sibuk menyiapkan sesuatu.

"Cepat ambil peralatannya!"

"Baik!"

"Kita harus segera menjalankan operasi!"

"Yare, yare! Semua tampak sibuk, ya?" ucap seorang lelaki berambut spike putih. Ia memakai masker yang menutup sebagian wajahnya.

"Diam kau, Kakashi! Bukankah kau juga harus diobati? Lukamu cukup parah," seru Tsunade. Terlihat jelas kalau wajahnya tegang.

Kakashi memegang sebelah matanya, "Ya, mungkin kau benar, Hokage-sama. Tapi aku cukup merasa baik sekarang. Jadi kau tak usah mengkhawatirkan aku lagi!"

"Jangan membantah perintahku! Kau pasti terlalu banyak menggunakan mata Sharingan-mu!"

Kakashi menghela napas, "Ya, tapi mau bagaimana lagi," serunya pasrah.

"Hokage-sama! Semua telah siap!" seru salah seorang ninja medis pada Tsunade.

"Baiklah, kita mulai operasinya!"

Tsunade lekas pergi meninggalkan Kakashi dan yang lainnya.

"Ck, merepotkan," decak malas seorang lelaki berambut dikuncir nanas.

Ia merebahkan tubuhnya di atas kursi tunggu yang tersedia disana. Sungguh tubuhnya merasa lelah.

"Jangan khawatir! Dia pasti baik-baik saja," seru seorang pria berambut panjang berwarna coklat. Ia berada di samping Shikamaru. Walaupun tidak terlalu jelas, tapi lelaki bernama Neji itu bisa melihat kekhawatiran dengan jelas di wajah Shikamaru.

"Hn."

Kakashi, Yamato, Naruto, Shikamaru dan Neji merupakan tim yang mendapatkan misi untuk membawa Sasuke kembali ke Konoha.

Dan hasilnya memuaskan, mereka berhasil membawa Sasuke kembali ke Konoha—secara paksa. Namun Naruto dan Sasuke kini terluka parah karena mereka bertarung saling mempertaruhkan nyawa mereka. Kakashi mendapat luka yang cukup serius karena terlalu banyak menggunakan mata Sharingannya saat melawan tim Hebi. Sedangkan Yamato, Shikamaru dan Neji hanya luka ringan saja, walaupun cakra mereka hampir habis digunakan untuk bertarung tapi itu tidak masalah.

"Sebaiknya Kakashi-senpai istirahat saja. Tidak salahnya mengikuti perintah Hokage-sama," ucap Yamato pada Kakashi.

"Baiklah," Kakashi bangkit dari duduknya.

"Sebaiknya, kalian juga istirahat. Tak usah mengkhawatirkan Naruto. Sekarang ia sudah ada di tangan ahlinya," tambah Kakashi pada Neji dan Shikamaru yang seperti tidak mau beranjak dari tempat duduknya.

Kakashi membuka sebuah buku berukuran kecil yang bersampul berwarna orange. Kemudian berjalan meninggalkan Neji, Shikamaru dan Yamato.

"Hufft … Apa Kakashi-senpai tidak bisa lepas dari buku itu, ya?"

"Sepertinya tidak," seru Neji melipat kedua tangan di depan dadanya sambil memejamkan matanya.

"Apa kalian tidak pulang untuk istirahat? Beberapa waktu ke depan kita akan dibebaskan dari misi. Sebaiknya kalian gunakan itu dengan baik untuk memulihkan tubuh kalian."

"Hah … Merepotkan. Aku ingin di sini saja," Shikamaru merebahkan tubuhnya di antara deretan kursi sambil memejamkan matanya.

"Neji?"

"Aku di sini saja menemani Shikamaru."

"Terserah kalian saja."

"Naruto pasti baik-baik saja!" hibur Yamato.

Ia tahu kedua jounin muda di hadapannya ini sedang mencemaskan salah satu temannya yang sedang ada di dalam ruang operasi.

"Hn."

"Ck, merepotkan."

"Hahaha … Baiklah, aku pulang saja. Kalian baik-baiklah di sini!" Yamato tertawa mendengar Neji dan Shikamaru mengeluarkan ciri khas masing-masing.

Kini suasana sunyi menyergap mereka. Tampaknya tidak ada yang ingin memecah keheningan yang ada.

"Kenapa kau tidak pulang untuk istirahat, Shikamaru?" tanya Neji memecah keheningan.

"Terlalu merepotkan jika harus berjalan pulang ke rumah hanya untuk istirahat. Kau sendiri?"

"Sama sepertimu."

Untuk beberapa saat keheningan kembali menguasi mereka. Detik-detik jam telah berlalu. Hingga suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian mereka.

Tsunade keluar dari ruang operasi diiringi oleh beberapa ninja ahli medis di belakangnya sambil mendorong sebuah bangsal keluar.

"Kalian masih di sini?" tanya Tsunade saat melihat Neji dan Shikamaru dengan wajah lelah.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Shikamaru tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Tsunade.

Tsunade menoleh ke belakang memandang seorang gadis berambut pirang yang memiliki tiga garis di masing-masing pipinya yang tidak sadarkan diri.

"Sekarang dia sudah tidak apa-apa. Masa kritisnya sudah lewat, tapi untuk beberapa hari depan ia tidak akan sadarkan diri," terang Tsunade.

"Sebaiknya kalian pulang dan istirahat. Naruto akan dirawat di rumah sakit sampai keadaannya kembali membaik."

Neji mengangguk menanggapinya.

Sedangkan Shikamaru bahkan tidak menanggapinya. Hanya menatap sang gadis yang sedang terbaring tak berdaya dengan tatapan kosong.

.


.

Sebuah ruangan kecil yang khas dengan berwarna putih dan bau obat-obatan yang menyengat. Seorang gadis terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Kulit tannya itu terlihat pucat. Rambut pirangnya yang tergerai menyebar bebas di atas bantal yang ia gunakan. Di sampingnya terdapat seorang lelaki tampan di kuncir nanas. Memandang sang gadis dengan kedua bola mata hitamnya. Tangan hangatnya mulai menggenggam tangan sang gadis yang terasa dingin. Ia mengangkat tangannya bersama tangan sang gadis yang berada dalam genggamannya dan menaruhnya di pipinya. Berharap bisa berbagi kehangatan pada sang gadis.

"Cepat bangun, Naruto."

.


.

"Bagaimana dengan keadaan Sasuke, Sakura?" tanya Tsunade. Ia telah menugaskan Sakura untuk merawat Sasuke.

"Dia baik-baik saja, Tsunade-sama. Tapi, kemungkinan ia tidak bisa sadar dalam waktu yang cepat."

Tsunade menopang dagunya, " Kembalilah! Kerjakan tugasmu yang belum kau selesaikan," serunya tanpa memandang Sakura.

"Baiklah, Tsunade-sama. Saya permisi."

Sakura tampak semangat hari ini. Senyumnya merekah nampak menghiasi wajah cantiknya. Di tangannya terdapat beberapa kuntum bunga yang telah dibungkus rapih.

Hari ini, ia akan menjenguk Sasuke. Walaupun Sasuke belum sadarkan diri, tapi hatinya senang. Sekarang Sasuke telah kembali ke Konoha setelah sekian lama.

"Sepertinya, aku akan menjenguk Naruto dulu saja," putusnya.

Sakura memang seorang konoichi—Ninja Medis, tapi ia tidak terlalu lama menghabiskan waktunya di rumah sakit karena ia kadang harus membantu sang Hokage.

Kaki-kakinya terus melangkah melewati koridor rumah sakit. Beberapa orang menyapanya. Memang ia tidak asing dengan orang-orang yang berada di rumah sakit itu.

Cklek!

"Shikamaru?" seru Sakura ketika sampai di ruang tempat Naruto dirawat.

"Hah? Yo, Sakura! Kukira siapa?"

"Kau yang menjaga Naruto?" tanya Sakura. Ia berjalan menuju meja di samping tempat tidur Naruto. Dilihatnya Naruto juga masih belum sadarkan diri.

"Huah … Begitulah! Tapi dia belum juga sadar," jawab Shikamaru dengan menguap kecil. Lalu merebahkan kepalanya kembali di samping tubuh Naruto.

"Tenang saja. Naruto pasti segera sadar kok. Apalagi kau selalu menjaganya. Ia pasti senang," seru Sakura setelah menaruh bunga yang ia bawa di vas bunga.

"Hm."

"Baiklah, aku tak bisa lama-lama. Aku harus ke tempat lain setelah ini."

"Menjenguk Uchiha?"

"Hm," Sakura tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat ditanya seperti itu. Ia mengangguk dan kemudian Sakura meninggalkan Shikamaru sendirian. Tujuannya sekarang adalah kamar inap yang ditempati Sasuke. Teman setimnya dulu.

Perlahan Sakura memasuki ruang di mana Sasuke berada. Sepi saat ia memasuki ruangan itu. Ya, tidak aneh karena memang tidak ada siapa-siapa disana. Hanya sang Uchiha yang sedang terbaring lemah tak sadarkan diri.

Perlahan Sakura mendekati Sasuke. Menaruh bunga yang ia bawa di dalam vas bunga yang ada di meja. Ia memandang wajah sang Uchiha yang selama ini ia rindukan.

Rambut raven itu masih seperti pantat ayam, tapi tidak pernah mengurangi pesona sang Uchiha itu sendiri. Mata onyx yang selalu menatap tajam, kini tersembunyi di balik kelopak matanya. Hidungnya yang mancung, wajah tegasnya yang kini tampak lebih dewasa dan satu lagi yang Sakura sadari. Sasuke semakin tampan saja. Hal membuatnya secara tidak langsung menimbulkan semburat pink di wajahnya. Begitu kontras dengan kulit putihnya.

.


.

Suara kicau burung menemani sang pagi. Memulai kembali satu hari yang baru. Cahaya mentari yang mulai muncul menyinari setiap sudut bumi, bertugas menghangatkan semua makhluk hidup yang ada.

Seorang gadis berambut pirang mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk melewati kaca jendelanya. Kepalanya terasa pusing dan tenggorokannya terasa kering. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Tapi, ada sesuatu yang menghalangi gerak tubuhnya dan tubuhnya juga terasa agak berat, seperti ada yang menindihnya.

Tiba-tiba saja ia merasakan deru napas yang hangat menerpa lehernya. Perlahan kepalanya menoleh, melihat apa sumber deruan napas yang terasa begitu dekat. Mata biru bak batu mulia itu menangkap makhluk yang sedang berbaring di sampingnya. Jarak wajah sang makhluk itu dengan wajahnya hanya tinggal beberapa senti saja. Begitu dekat dan dalam sekejap

.

"KYAAAAA …"

.

TBC


Hahaha … Gomen ficnya gaje banget.

Review Please …