Summary: Di saat mata dunia memuja Black Spade sebagai sebuah gothic rock band yang populer di era ini, Monkey D. Luffy tak pernah menyangka bahwa takdir hidupnya ternyata bertaut dengan sang rockstar.


One Piece © Eiichiro Oda

Undercover Rockstar © Viero D. Eclipse

Pairing: Ace x Luffy (AceLu), Slight Zoro x Sanji (ZoSan)

Genre: Romance/Humor/Drama

Rated: T

Warning: AU, Shounen Ai (BoyxBoy Love!)

Don't like? Don't read!


-Prolouge-

Black Spade

.

Dalam kepenatan devosi, selalu eksist sebuah perunggu pemujaan bernamakan... idola.

.


"KYAAAAAAA!"

Jeritan fangirl menggema.

Rutinitas klise dimulai.

.

.

Siang itu di Universitas Mugiwara, East Blue.

Monkey D. Luffy tampak menyandarkan kepalanya dengan pasrah di atas hamparan meja. Kedua mata obsidian miliknya mengeruh akan kilat kebosanan. Sesekali ia menguap tanda kantuk. Perutnya berkoar menandakan lapar. Pemuda itu tak dapat melakukan apa-apa selain hanya diam dan menunggu jam makan siang berdentang. Diliriknya refleksi jendela yang ada di samping bangkunya seraya bertopang dagu. Mahkota rambut raven miliknya tampak tergeraikan kuasa hembusan angin.

"Lihatlah ini, Minna! Aku berhasil mendapatkan lagu Black Spade yang terbaru!"

"Na-Nani? A-Apa kau serius, Nami? Aku mau lihat! Aku mau lihat!"

"KYAAAA! Black Spade!"

Jeritan girang Nami, seorang mahasiswi berambut oranye dan juga segenap kawan-kawannya yang lain sungguh sukses membuat seisi ruang kelas menjadi bising. Beberapa mahasiswa yang tak terlibat dalam obsesi fangirl macam mereka hanya dapat memutar bola mata. Tanda miris. Usopp juga tampak melakukan demonstrasi efek. Ia turut memutar bola matanya seraya menggeleng singkat.

"Hal seperti itu kenapa bisa sampai diidolakan secara berlebihan, hah? Selera mereka sama sekali tak berkelas. Kau setuju denganku 'kan, Luffy?"

"Eh? Uhh... itu..." mahasiswa bermata obsidian itu hanya dapat menaikkan sebelah alisnya. Ditatapnya Usopp yang saat ini sudah terduduk di atas mejanya itu.

"Ck! Black Spade adalah sebuah band dengan personil yang hanya bisa menjual tampang saja! Bahkan jika dilihat-lihat, aku jauh lebih keren dibandingkan kumpulan musisi tak jelas seperti mereka!" Usopp menggemakan tawa bangga. Dan di saat yang sama, seseorang lekas menepuk bahu pemuda berhidung panjang itu dari belakang.

"Hati-hati dengan ucapanmu itu, Usopp. Jika mereka mendengarmu, mereka akan menghabisimu."

"Zoro? A-Apa maksudmu?"

Roronoa Zoro, mahasiswa berambut hijau yang juga merupakan kawan dekat Luffy dan Usopp itu kini sudah hadir dalam konversasi verbal mereka. Pemuda itu menyilakan kedua tangannya di dada dan tak melunturkan keseriusan dalam parasnya. "Sebaiknya kau tak perlu membual lebih jauh lagi, Usopp. Akui saja bahwa band itu lebih baik daripada dirimu."

"Apa? Jadi kau lebih memilih Black Spade daripada aku, sahabatmu sendiri, begitu?" Usopp mulai cemberut, tak terima. Ia sendiri sebenarnya sadar akan kelemahan yang ia miliki. "Baiklah, kuakui jika memang dari segi tampang, mereka jauh lebih baik dibandingkan aku. Tapi setidaknya, aku ini jujur! Tak seperti mereka yang menjual kepalsuan di mata publik!"

"Jujur?" Zoro bertampang aneh, sarkas. Kisah-kisah bohong yang diceritakan Usopp tak akan pernah bisa dipercaya oleh anak-anak SD sekalipun. "Sudahlah, Usopp. Terima saja kenyataannya. Black Spade adalah sebuah band beraliran Gothic-Rock yang sedang naik daun saat ini. Album terbaru mereka juga melejit di pasaran dengan suksesnya. Mereka tak hanya sekedar menjual tampang. Musikalitas mereka juga sudah diakui di mata dunia, kau tahu itu."

"Ya, ya... aku tahu. Kau hanya berkata seperti itu karena dari dulu, kau tak pernah menyukaiku sedikitpun 'kan, Zoro? Kau sentimen padaku 'kan? Aku bisa mengerti dengan keirian hatimu akan reputasiku yang pernah menjadi pahlawan bertopeng Usopp saat di kotaku dulu! Tak ada yang bisa mengalahkan kehebatanku! The Almighty Usopp! Hahaha!"

"Cih! Terserahlah." Zoro berdecih pasrah. Percuma, sampai dijelaskan berapa kalipun, sepertinya Usopp tak akan pernah mengerti. Luffy lantas menghela napas panjang.

"Uhh... Aku lapar."

"Ah, iya! Luffy, apa pendapatmu mengenai Black Spade?" tanya Zoro tiba-tiba. Secercah kurositas mendadak tumbuh di dalam benak pemuda berambut hijau itu. Ia penasaran dengan pendapat Luffy. Dan kawannya itu hanya dapat mengacak helai rambut ravennya. Frustasi.

"Aku tak peduli dengan hal itu, Zoro. Yang kuinginkan saat ini cuma DAGIIIING! AKU LAPAAAR!"

GROOOWL!

Gemuruh suara itu lagi-lagi berkoar dari dalam perut Luffy. Mahasiswa berambut raven itu hanya dapat membelai perutnya. "Padahal aku sudah memakan sepuluh porsi daging pagi tadi. Kenapa aku masih saja kelaparan?"

"Hah... muatan perutmu itu seperti karet, Luffy. Dunia akan kiamat jika kau berhenti memakan daging," timpal Usopp sarkastik. Zoro hanya menghela napas pasrah.

"Sudahlah. Daripada kau mengeluh seperti itu, sebaiknya kau jawab saja pertanyaanku, Luffy. Aku penasaran, bagaimana pandanganmu pada Black Spade?"

"Ah, aku setuju dengan Zoro! Aku juga penasaran! Dari tadi kau hanya diam saja saat kami berdebat, Luffy. Kira-kira bagaimana pendapatmu? Jangan bilang kau juga menggemari band tak jelas ini, Luffy!" Usopp dramatis. Luffy hanya dapat menggaruk belakang kepalanya.

"Sesungguhnya teman-teman... aku..."

"Ya?"

"Kenapa kau?" Zoro dan Usopp semakin serius. Sebuah cengiran lebar lantas terpapar pada paras pemuda bermata obsidian itu.

"Aku... tak pernah melihat dan tak pernah tahu sedikitpun mengenai band ini. Aku bahkan tak pernah... mendengarkan lagu-lagu mereka. Hehehe..."

"HAH?"

"WHOT THE?"

Blam!

Serangan syok menghantam. Usopp dan Zoro sungguh terperanjat dengan pernyataan itu. Wajah kedua mahasiswa itu kini sudah terlihat seperti tampang orang yang baru saja melihat ratusan celana kolor yang jatuh dari atas langit.

Sungguh mengejutkan.

Di saat seperti ini...

Saat... dimana Black Spade sungguh sangat populer di mata dunia. Dimana band gothic rock itu menjadi sebuah band pemujaan nomer satu yang dielu-elukan para penggemarnya. Dimana band ini menjadi sebuah dobrakan baru dalam jagad raya dunia musik. Dan sudah dapat dipastikan bahwa tak ada satupun eksistensi manusia yang tak mengetahui adanya band ini.

Namun, fakta menunjukkan sesuatu yang mengejutkan.

Ternyata, hanya ada satu orang yang masih belum tahu bahkan tak pernah melirik sedikitpun pada eksistensi band Black Spade.

Dialah... Monkey D. Luffy.

Seorang mahasiswa biasa yang maniak makan dan mengemban titel Daging-holic.

Ini benar-benar sangat menggemparkan!

Dan secara tak terduga, Nami yang berdiri dengan jarak tiga meter dari mereka, mendadak melotot ke arah Luffy dan lekas menghampiri pemuda lugu itu.

"APA? JADI KAU TIDAK TAHU MENGENAI BLACK SPADE, LUFFY? KAU BELUM PERNAH TAHU?"

Jeritan horor gadis penggila Black Spade itu sukses membuat kedua obsidian Luffy membelalak dengan begitu lebarnya. Sepertinya ia terlalu memandang hal ini dengan sangat berlebihan.

"Gomen, aku sungguh tak tahu tentang mereka. Aku bahkan baru tahu jika Black Spood-"

"Black Spade!"

"Black Spake?"

"Spade!"

"Spate?"

"SPADE!"

"Ah, iya maksudku Black Spade yang selama ini kalian semua bicarakan ternyata adalah... sebuah grup band."

JEDAAARR!

Seakan ada sambaran petir di siang bolong. Sudah dapat dipastikan bahwa Luffy sungguh-sungguh tidak tahu dengan band ini. Jangankan tahu, mengucapkan nama band saja tidak benar. Segenap penghuni kelas pun lekas menatap Luffy layaknya orang gila.

Nami mencoba mengendalikan nalarnya.

"Ka-Kalau begitu, kau harus segera didoktrin mengenai Black Spade, Luffy! Hidupmu tak akan bermakna jika sampai mati, kau tak pernah mengenal band yang luar biasa ini!"

"Eh? Benarkah?" Luffy tampak skeptis. Baginya, tak ada hal yang lebih berharga di dunia ini selain hanya makanan dan daging. Ia adalah seorang pemuda yang sangat berbeda dari kebanyakan remaja lainnya. Ia tak pernah menaruh minat sedikitpun dengan perkembangan style, gaya hidup bebas jaman sekarang ataupun dunia musik. Hah, bahkan pertama kalinya ia mendengar nama "Black Spade" digembar-gemborkan dalam kelasnya, ia malah mengira bahwa nama itu adalah sebuah merk daging. Ia bukanlah orang yang mudah terbawa arus oleh paradigma remaja jaman sekarang. Sepolos-polosnya Luffy, ia bukanlah pemuda yang bodoh. Ia tahu saat dimana ia bisa memutuskan sebuah pilihan yang cukup tepat. Ia memiliki prinsipnya sendiri. Ia memiliki sebuah pendirian.

Dan sekarang, Nami sudah tampak menyodorkan ponsel tepat di kedua obsidian miliknya. Sebuah wallpaper yang memperlihatkan siluet personil band Black Spade kini sudah terpampang dengan begitu jelas. Gadis berambut oranye itu mulai tersenyum. Ia sungguh yakin bisa membuat Luffy terserang virus Black Spade.

"Lihatlah, Luffy! Keempat pemuda ini! Pemuda yang keren dan seksi ini! Perhatikan baik-baik!" Nami memberi perintah. Dan dengan secercah kurositas tak beralasan, Luffy memperhatikan wallpaper itu dengan cukup lekat.

"Dimulai dari pemuda yang berdiri di belakang itu. Dia adalah Shuraiya Bascud, drummer dari band ini. Lalu yang di sampingnya adalah Sabo, sang bassist dan yang di depan ini Marco, lead gitaris Black Spade!" Nami berbinar. Luffy mengerutkan dahinya. Obsidiannya tampak memicing. Penampakan beberapa wujud pria yang merupakan para personil band gothic rock itu sungguh berhasil menarik perhatiannya.

'Jadi yang memakai jaket kuning ini Shuraiya sang drummer, lalu yang memakai jas dan topi pesulap berwarna hitam ini namanya Sabo dan yang rambutnya seperti nanas ini dipanggil Marco?' nalar pemuda berambut raven itu mencoba mencerna fakta yang ada. Dan kini, tinggal satu personil lagi yang belum dijelaskan oleh Nami. Personil itu berdiri di barisan paling depan.

"Kalau dia... siapa?"

"Ah, dia adalah seorang personil yang paling ditunggu-tunggu di Black Spade, Luffy. Dialah orang yang membuat Black Spade semakin keren di mata fans! Personil paling tampan dan keren di antara personil yang lain! Yakni... Sang vokalis Black Spade itu sendiri!" sungguh redudansi. Dengan rasa antusias tinggi, Nami mulai menunjukkan jarinya pada sosok figur pria yang memakai sebuah topi cowboy aneh di barisan personil Black Spade. Wajah pria itu tak terlalu jelas karena tertutupi oleh bayangan gelap yang dihasilkan oleh topi yang dipakainya itu. Kedua alis Luffy bertaut serius. Dan Nami pun semakin bersemangat.

"Dengar baik-baik, Luffy. Catat dalam sejarah otakmu! Sang vokalis Black Spade yang keren itu bernama..."

Jreeeng!

Nami memberi jeda. Aura dramatis mengguyur masa. Segenap penghuni kelas membisu. Keheningan mencekik. Atmosfir tegang menusuk. Luffy menunggu jawaban. Angin berhembus bersamaan dengan semangat membara Nami.

Dan bel tanda jam makan siang telah berdentang dengan kerasnya!

"Dia bernama..."

"DAGIIING!"

"Na-Nani?"

TENG! TENG! TENG!

Bel tanda makan siang lagi-lagi berdentang dengan sangat nyaring, memecah segenap keheningan yang ada. Tanpa basa-basi lebih jauh lagi, Luffy lekas berlari dan melesat menuju cafetaria. Nami menganga dengan raut syok. Kemana perginya rasa kurositas anak itu?

Zoro hanya bisa tertawa.

"Kau tahu, Nami? Di dunia ini, tak ada yang lebih berharga di mata Luffy selain hanya makanan dan juga... daging." Nami lekas melayangkan tatapan tajam pada pemuda berambut hijau itu. Disilakan kedua tangannya tepat di dada dan ia pun berbalik membelakangi Zoro.

"Hah! Lihat saja nanti. Aku yakin bahwa aku pasti bisa membuat Luffy jatuh cinta pada Black Spade."


Central Stadium, Arabasta.

.

.

Lautan penonton tampak membanjiri tempat itu. Tempat dimana sebuah konser musik akbar digelar dengan begitu megahnya. Alunan musik rock terdengar menggelegar, bersaing dengan jeritan antusias para penggemar. Sapuan harmonisasi alunan gitar, dentuman drum dan suara sang vokalis, sungguh mampu membentuk sebuah gelombang euforia yang menusuk setiap indra pendengaran yang ada.

"BLACK SPAAAADDEE!"

"KYAAAAAA!"

"YOU ROCK, MAN!"

Segenap budak musik itu semakin melonjak. Mereka terus menjerit, tak peduli jika tenggorokan sudah meronta akan rasa sakit dan hilang suara. Idola telah ada di depan mata. Tahta musik mereka itu sudah membuat ratusan nalar membuta. Sesosok rockstar yang merupakan vokalis dari Black Spade kini tampak tersenyum dan menutupi parasnya dengan topi yang ia pakai.

"Sayonara. We love you all..." hanya dengan untaian frase singkat sebagai penutup seperti itu, ratusan wanita menjerit sekeras-kerasnya. Mereka menggemakan nama sang vokalis. Sosok figur central yang bagaikan maskot dari Black Spade itu sendiri. Segenap ketenaran ini bagaikan buah manis dari jerih payah mereka dalam bermusik selama ini.

Sungguh sebuah ganjaran yang setimpal.

Dan kini, segenap personil Black Spade pun mulai bergegas pergi ke belakang panggung.

Konser telah selesai.

.

.


"Hah! Untung saja di saat encore, tak terjadi beberapa kesalahan teknis. Akan sangat kacau jika narkolepsimu kambuh, Ace."

"Cih! Diamlah, Marco. Aku bisa menghandle hal ini."

Gol D. Ace tampak begitu ketus dan hanya dapat bersandar di dinding dengan kedua tangan bersila di dadanya. Raut lelah terhampar di paras tampannya itu. Ia adalah vokalis utama band Black Spade. Seorang personil yang paling dielu-elukan oleh para penggemar. Tak heran, dengan kesempurnaan fisik dan ketampanan wajah yang ia miliki.

Ace bisa mendapatkan... apa saja.

Pemuda berusia 22 tahun itu lantas melepas topi cowboy berwarna oranye yang menjadi trademarknya selama ini. Untaian rambut raven miliknya tampak sedikit lembab. Jemarinya lantas mengambil sebuah botol minuman mineral dan mulai menengguk air di botol itu hingga habis. Ia benar-benar haus dan kelelahan.

"Hah! Aku tak bisa membayangkan jika insiden saat di kota Barino kembali terulang di sini. Saat itu kita mengadakan konser di siang hari. Dan kau mendadak tertidur di pertengahan lagu. Insiden waktu itu benar-benar terlalu memalukan." Marco sang lead gitaris itu tampak menggeleng miris. Lipatan sewot terbentuk di samping kening Ace.

"Aku 'kan sudah bilang padamu bahwa aku bisa menghandle ini, Marco! Lagipula, jika narkolepsiku kambuh, kalian bisa menutupi suara vokalku dengan suara rekaman. Inilah alasan utama mengapa Black Spade melakukan lipsync jika konser diadakan siang hari. Aku sungguh lega karena jadwal konser kita kebanyakan dilakukan saat malam hari." Ace lekas memijat dahinya sendiri.

Plok! Plok! Plok!

"Bagus sekali. Konser hari ini berjalan dengan baik. Kalian juga berhasil melakukan encore untuk para penonton."

"Shanks?"

Ace hanya dapat menaikkan sebelah alisnya. Kedua mata obsidian berserpih kelabu miliknya kini terarah pada sosok manajer bandnya itu. Shanks, pria berambut merah itu menepuk tangannya dan melayangkan senyum bangga pada para personil Black Spade. "Setelah ini, kalian bisa beristirahat. Jadwal konser kalian yang berikutnya akan diadakan satu bulan lagi mulai dari sekarang."

"Hah... Be-Benarkan? Akhirnya Tuhan! Long break is finally begin!" Shuraiya menjerit girang. Rasa lega mengguyur benak drummer itu sepenuhnya. Sang bassist, Sabo, tampak tersenyum dan lekas menatap ke arah sahabat baiknya.

"Kau dengar? Kita free selama sebulan, Ace! Sebulan! I-Ini sungguh keajaiban!"

"Haha... Kau benar, Sabo. Ini memang keajaiban." Ace hanya dapat memejamkan mata dan turut mengulum sebuah senyum tipis. Ya, ini memang sungguh sebuah keajaiban. Di tengah eksistensi Black Spade yang dikenal sebagai band gothic rock terpopuler di era ini, akan sangat mustahil jika band itu tidak terikat kontrak untuk mengadakan tour konser ke beberapa daerah di belahan dunia.

Sudah hampir setahun ini, ia dan bandnya itu menjelajahi muka dunia hanya untuk mengadakan konser. Album terbaru Black Spade yang dirilisnya itu ternyata berhasil menuai sukses dan melejit di pasaran. Sembilan puluh persen lagu-lagu Black Spade diciptakan langsung oleh Ace. Sejak kecil, bakatnya dalam hal musik memang sudah terlihat. Suara vokal dan kemampuannya dalam menciptakan sebuah lagu sungguh tak bisa diragukan lagi kualitasnya.

Mengingat retrospek...

Dulu, Ace hanyalah seorang pemuda jalanan yang sudah mengarungi kehidupan luar yang cukup keras. Kedua orang tuanya menghilang secara misterius saat ia lahir di muka bumi ini. Yang ia tahu, ayahnya yakni Gol D. Roger, adalah seorang mafia yang tak pernah menengok kehidupan keluarganya sendiri. Sedangkan ibunya... sungguh, Ace tak memiliki satupun informasi mengenai hal itu. Ibunya menghilang tanpa jejak dan ia pun dibesarkan oleh salah seorang warga yang ada di desanya.

Portgas D. Rouge...

Hah, bahkan nama ibunya saja ia tahu dari warga sekitar.

Sekian tahun ia lewati hidup dalam kesendirian hingga ia pun bertemu dengan Marco dan Sabo. Mereka berteman akrab dan membuat tim pengamen cilik untuk menyambung hidup. Mereka mengamen dari satu tempat ke tempat yang lain. Hingga pada akhirnya, bakat mereka secara tak terduga telah dilirik oleh Edward Newgate, seorang produser musik terkenal yang menaungi Shirohige Production.

Dari segenap rajutan perjuangan yang berat itu...

Inilah hasilnya.

Black Spade telah terlahir, menjadi sebuah band yang cukup populer. Dengan tambahan Shuraiya di bangku drum, band ini siap menjadi sebuah gebrakan baru dalam dunia musik rock.

Ace hanya dapat tersenyum jika mengingat semua itu. Satu pelajaran yang bisa ia dapatkan dari segenap pengalamannya itu adalah...

Untuk tidak pernah menyerah dalam menghadapi kehidupan.

"Ayo, sebaiknya kita segera kembali menuju hotel sebelum kumpulan fans itu menyerbu panggung dan menerobos kemari!" dengan raut panik, Shanks lantas memberi peringatan. Segenap para personil Black Spade menganggukkan kepala tanda sepakat. Mereka pun mulai berlari melewati pintu belakang. Dan ternyata benar dugaan pria berambut merah itu. Kini, sudah tampak beberapa fans yang mencoba menerobos pertahanan para bodyguard.

"OMG! I-Itu Ace! ACEE! I LOVE YOU, ACEE!"

"ACEEEE!"

"SHURAIYAAAA! KYAAAAAAA!"

"SABOOOO! YOU'RE THE BEST! I LUPH U FULL!"

"MARCO CINTAAAKU! AKU CINTA PADAMU SELAMANYA WAHAI NANAS SEKSIKU! KYAAAA!"

"WTF! NANAS SEKSI?" Marco bertampang aneh. Ace dan yang lainnya mulai tertawa melihat itu.

"Apa dari dulu kau tak sadar jika gaya rambutmu itu seperti nanas, Marco? Hahahaha! Kau payah!"

"Tutup mulutmu, Ace!" sang lead gitaris itu mulai sewot. Shanks hanya dapat menepuk dahinya sendiri.

"Sudahlah, kalian jangan bertengkar! Ah, itu mobilnya! Cepat kalian masuk!" sebuah limo sudah nampak terparkir di depan stadium. Tanpa basa-basi lebih lanjut lagi, segenap personil Black Spade segera masuk ke dalam mobil berukuran panjang itu. Limo mulai berjalan dan Marco hanya dapat menatap horor dengan segenap fans yang kini berlari mengejar limo mereka.

"Acee! Tunggu kami, Ace!"

"GOL D. ACEEEEE!"

"SHURAIYAAA! SABOOO!"

"NANAS SEKSEH! AKAN KUKEJAR KAU HINGGA KE UJUNG DUNIAAAAA, SAYAAAANG!"

"Shit! Gadis bertubuh gemuk itu sepertinya terlalu terobsesi denganku! Mengapa ia selalu menyebutku dengan sebutan nanas, hah? Sial!" Marco frustasi. Lead gitaris itu hanya bisa menatap ketus ke depan. Yang lain tampak menggigit bibir menahan tawa. Semua ini sungguh sangat konyol.

"Baiklah, sekarang kalian bisa free hingga sebulan. Apa yang akan kalian lakukan? Apa kalian ingin menggunakan waktu ini untuk liburan ke suatu tempat?" Shanks mencoba mencairkan suasana. Para subyek yang ditanya tampak terdiam untuk memikirkan jawaban.

"Ah, aku ingin ke Hawai! Aku benar-benar merindukan suasana alami pantai!" Shuraiya buka suara. Sabo mengangkat tangannya.

"Aku ingin pergi ke Eropa untuk mengunjungi sanak saudara di sana." Shanks mengangguk mendengar hal itu. Ia pun lekas melirik ke arah Marco dan Ace. "Kalau kalian?"

"Aku ingin ke Las Vegas dan berjudi di sana sampai puas!" tukas Marco semangat.

...

...

Hening.

Semua hanya melayangkan tatapan aneh pada Marco. Lead gitaris itu pun sewot.

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan itu?"

"Apa ini bentuk pelampiasanmu karena nickname 'Nanas Sekseh' tadi, wahai Marco?"

"Tutup mulutmu, Ace! Persetan dengan nickname nista itu! Aku yakin, yang menyebutku dengan sebutan nanas, hanyalah gadis gemuk tadi. Tak ada yang lain!" amarah semakin menguasai Marco. Ace hanya dapat menyimpulkan seringai sinis.

"Hahaha... Kita lihat saja nanti." segenap penghuni limo menggemakan tawa tipis. Shanks lekas mengarahkan pandangannya pada Ace.

"Nah, kalau kau sendiri, Ace? Apa rencanamu saat break nanti?"

"Sebaiknya aku menghabiskan waktu sebulan itu di tempat konser akan diadakan selanjutnya," Ace tampak yakin. Shanks menaikkan sebelah alisnya.

"Apa kau yakin kau ingin menghabiskan jatah break ini di tempat konser akan digelar nanti?"

"Ya. Aku tidak mood untuk berlibur kemana-mana." sebuah keputusan final. Vokalis Black Spade itu lantas melipat kedua tangannya dan tertunduk. Sang manajer hanya mengangguk dengan keputusan itu.

"Baiklah jika itu pilihanmu, Ace. Aku akan segera menyewa sebuah apartemen di kota itu. Kau bisa tinggal di sana sampai konser kalian digelar. Sebaiknya kau mengganti namamu agar segenap fansmu yang ada di sana tak menyadari kehadiranmu."

Pemuda bermata obsidian itu terdiam sejenak. Nalarnya mencoba untuk mencari sebuah pemecahan singkat. Setelah menimbang segala probabilitas yang ada, satu konklusi pun muncul di benaknya.

"Portgas D. Ace."

"Huh?"

"Pakai saja nama ibuku. Daftarkan aku di sana sebagai... Portgas D. Ace."

"Portgas? Baiklah, setelah ini akan segera kupersiapkan semuanya. Aku akan memilihkan sebuah apartemen yang cukup aman untukmu. Dan yang kudengar, ternyata tempat itu lumayan dekat dengan laut dan pegunungan. Kau bisa refreshing di tempat itu, Ace."

"Hnn, baguslah jika begitu." pernyataan Shanks terdengar sangat menjanjikan. Ace tak punya pilihan lain selain hanya sepakat dan menyerahkan semua ini di tangan manajernya. Kini, kedua obsidiannya telah terarahkan pada jendela. Siluet jalanan yang terlewati telah mengiringi nalarnya dalam labirin terkaan. Sang vokalis itu hanya bisa menerka-nerka, hal apa yang akan terjadi pada liburannya nanti.

Tunggu.

Ia bahkan belum tahu, tempat apa yang akan ia singgahi nantinya.

"Shanks, tempat konser berikutnya akan diadakan dimana?" Ace bertanya dengan segenap rasa kurositas tinggi. Dan manajer berambut merah itu memaparkan determinasi yang tak bisa diragukan lagi.

"Konser berikutnya akan diadakan di kota... East Blue."

TBC


A/N: Sampah apalagi ini yang sudah saya publish? O_o #Jleeb!

Ah, sebenarnya ide ini buat fic FNI saya, tapi pada akhirnya saya alihkan kemari. Gomen jika saya hanya bisa numpuk sampah di fandom ini. TT^TT #Dibogem

Untuk updet fic ini... entahlah. Tergantung dari respon reader yang saya terima. Jika ingin fic ini berlanjut, silahkan saja ungkapkan pendapat kalian melalui review. Saran dan kritik yang membangun akan selalu saya terima kapan saja.

Arigato~