Title: Love love
Cast : Megurine Luki, Kagamine Len
Side: Kagamine Len, Kaito Shion
Genre: Romance, comedy
Maaf FF ini memuakkan terimakasih
"Oneechan! aku pergi." pamit Len tergesa-gesa setelah selesai mengenakan sepatu.
"Hati-hati Len, pulangnya jangan telat". Timpal Rin sang kakak dari arah ruang tengah.
"baiklah!"
BLAM!
Hening...
Rin berbaring dilantai ruang tengah sambil membaca komik yaoi favoritnya. Semenit... 2 menit... Tiga... Rin melempar komiknya sembarangan. Ia menghela napas bosan dan kesepian. Salah satu hal yang paling dibencinya selain drama straight adalah sendirian dirumah. Liburan musim panas telah dimulai tapi tidak ada hal menyenangkan yang dapat dilakukanya. Sang adik sibuk pacaran, dan sahabatnya yang biasa diajak main bareng sedang mengunjungi keluarganya dikyoto. Benar-benar sial bukan? Adakah yang lebih buruk dari ini?
Kruyukkk~ Shit! Perutnya lapar! Rin mau tidak mau menyeret tubuhnya kedapur. Membuka kulkas tapi harus menelan rasa kecewa karena kulkas kosong. Dia lupa belum belanja minggu ini. Len tidak sempat masak karena ini masih terlalu pagi untuk memasak. Sialan Kaito itu. Bisa-bisanya dia memonopoli adiknya tersayang sampai-sampai melupakan nasib kakaknya yang merana kelaparan.
"Kruyuk~" perut Ri kembali berbunyi nyaring(?).
"Hah! Menyebalkan!" gerutu Rin seraya berjalan kekamar mengambil dompetnya. Setelah mengunci pintu rumah Rin segera berangkat ke tujuan pertama 'membeli makanan
' apapun lah... Yang penting bisa menyumpal cacing diperutnya yang demo itu. Keluar dari kompleks perumahan Rin melihat sebuah stand roti kecil, bau wangi roti menguar dari toko itu membuat perut gadis itu demo besar-besaran mungkin jika diilustrasikan cacing diperut Rin membawa spanduk bertuliskan "makanannn..." lol... Tak mau berlama2 didemo cacing
Rin menghampiri stand roti itu, ia disambut ramah oleh seorang pak tua yang tersenyum manis melihat kedatanganya.
"ohayou... Silakan nona manis. Mau pesan apa?"
"aku mau-"
"pak tua aku minta Roti coklatnya satu!" Rin dan pak tua otomatis menoleh pada seorang pemuda berambut merah muda yang tadi sempat memotong ucapan Rin.
"Luki-san kau tidak boleh memotong antrian seperti itu." kata pak tua kalem.
"cepatlah~ aku tidak ada waktu untuk antri." Luki ngotot.
"tapi nona ini datang duluan." rin merasa berterimakasih karena pak tua penjual roti ini masih ingat dengan kehadiranya yang sejak tadi cuma bisa cengo melihat betapa tidak sopan dan serampanganya pemuda bernama Luki itu.
"ya, aku datang dulu, tolong Roti stroberinya satu."
"baiklah nona tunggu sebentar.. " seulas senyum ramah terkembang diwajah penuh keriput itu sebelum menghilang menyiapkan pesanan Rin didapur.
"yaaa! Pak tua! Hei! Bagaimana denganku?" teriak Luki tidak terima.
"kau harus menunggu! Memangnya hanya kau saja yang tidak punya waktu. Aku sama sibuknya denganmu tapi aku tetap antri. Apa orang tuamu tidak mengajarkanmu antri? " ujar Rin sengit. Ucapan Rin barusan layaknya menyiramkan Bensin pada kobaran api, membuat pemuda disampingnya semakin berkobar dan panas.
"apa?! Hei! Kau gadis mesum jangan sembarangan bicara yah!"
"apa aku gadis mesum! Kau yang mesum bodoh!"
"aku bodoh?! Kau yang bodoh! Hanya orang bodohyang membaca manga..." Ups! rin berkedip menatap Luki yang menutup mulutnya tiba-tiba. Manga? Manga? Jangan-jangan? O_O
"Kau... Bagaimana kau tau?!" tanya rin yang seketika wajahnya memerah seraya menunjuk pemuda didepanya yang wajahnya gugup.
"a-ahaha! Aku sudah telat. Sampai jumpa..." gumam Luki lebih pada diri sendiri. Kemudian Dash! Luki ngacir pergi sambil berlari cepat sekali, Rin menatap kepergian pemuda aneh itu dengan cengo. Orang yang aneh, begitulah yang tergambar diwajah gadis itu.
"Nona ini rotinya..." Rin menerima bungkusan roti pesananya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar.
"nah loh.. Luki-san pergi?" Rin merasa tidak enak hati pada pak tua itu sudah membuat seorang pelangganya kabur.
"dia tadi.. Uhm..." Rin bingung harus bagaimana menjelaskanya. Haruskah ia jujur kalau dia dan pemuda itu sempat bertengkar tadi?
"kalian bertengkar?"
Rin mengangguk lemah. Pak tua tersenyum ramah seperti tadi.
"oh... Tidak usah dipikirkan nona, maaf atas keributan tadi ya. Luki-kun memang selalu seperti itu. Tapi dia pemuda yang baik kok^^"
"maafkan aku..." Rin membungkuk menyesali sikapnya tadi. Dia harusnya bisa lebih menjaga sikap, dia merasa sudah kelewatan tadi.
"tidak apa-apa... Sampai jumpa nona, semoga harimu menyenangkan."
Rin berjalan sempoyongan sambil sesekali menghela napas, wajahnya yang sejak tadi pagi sudah suram kini semakin suram. Rasanya masih tidak enak hati pada pak tua tadi, ini semua gara-gara pemuda meyebalkan itu. Awas saja kalau Rin bertemu denganya lagi, Rin tidak akan segan-segan menyumpal mulut besarnya dengan sampah.
Tap.
Rin berhenti didepan sebuah supermarket bergeser terbuka ketika dia masuk. Seorang pegawai sempat menyapanya selamat pagi yang ia abaikan karena merasa tidak penting. Rin langsung menyerbu deretan rak yang berjejer rapi. Semua keperluan yang ia butuhkan untuk seminggu langsung ia masukkan kedalam troli. Setengah jam berputar-putar troli pun penuh oleh barang belanjaa.
"beli apa lagi ya?" gumam Rin seraya mencermati setiap deretan produk ditoko siapa tau dapat inspirasi apa yang kelupaan.
"oh ya~beli chocobi aku sampai lupa." Rin menghampiri deretan snack anak-anak. Mata Rin jelalatan membaca nama produk yang dipamerkan, bukan.. Bukan... Bukan... Ah! Ini dia! Tapi kenapa hanya satu? Ah sebodo lah dari pada tak ada. Tap! Rin menyentuh bungkus snack tersebut tapi ternyata juga ada tangan lain yang juga menginginkanya. Rin menoleh pada pemilik tangan lain disampingnya.
"Kaaaauuuu!" teriak kedua sejoli itu bersamaan.
"kau gadis mesum bagaimana kau tau aku disini? Kau mengikutiku ya?" teriak sang pemilik tangan lainya yang ternyata Luki.
"apa?! Harusnya aku yang berkata seperti itu orang aneh!" balas Rin tak mau kalah..
"kau yang aneh! Enyahlah dari sini." Luki mengambil bungkus chocobi yang tadi sempat terabaikan tapi secepat kilat Rin berhasil menahanya.
"ini punyaku bodoh!" aku Rin.
"apa? Sudah jelaskan! Ini punyaku. Aku yang menemukanya duluan!" rin berusaha menarik tanganya yang ditahan Rin.
"tidak ini punyaku..."
"punyaku..."
terjadilah adegan tarik menarik yang seru oleh dua orang aneh itu. Beberapa orang bahkan sampai berkumpul menonton sambil bersorak mendukung apakah Rin atau Luki yang menang. Tapi karena terlalu seru tarik menarik membuat Lengan Luki yang panjang tak sengaja menyenggol rak menyebabkan beberapa barang terjatuh dengan bunyi yang nyaring. Tidak hanya Rin dan Luki yang shock orang-orang juga sama terkejutnya. Suasana yang sempat gaduh itu ternyata mengundang sang manager toko untuk mendatangi sumber keributan itu.
"ada apa ini?" tanya sang manager toko yang kepalanya setengah botak. Wajahnya yang sudah garang seketika menjadi semakin horror dengan warnanya yang berganti merah karena marah besar.
"kalian berhenti membuat keributan. Keluar!" teriak sang manager cetar.
"tapi aku belum selesai belanja." protes Rin tidak terima.
"keluar sekaraaanggg!".
"kami akan pergi. Maaf sudah membuat keributan.." Luki membungkuk sedikit.
"ayo kita pergi." Rin cuma bisa bengong dan kebingungan ketika Luki menggandeng memaksanya meninggalkan supermarket itu.
Keduanya tetap bergandengan tangan sepanjang perjalanan,perjalanan kemana? Entahlah Rin juga tidak tau kemana. Dia cuma ngikuti Luki saja yang jalanya cepet banget. Rin sampai harus berlari kecil agar bisa menyamai langkah pemuda tampan itu.
"sebenarnya kita mau kemana?" tanya Rin mulai lelah.
Tap.
Mendengar pertanyaan Rin membuat Luki yang berjalan didepan menghentikan langkahnya tiba-tiba membuat Rin yang berjalan dibelakang sempat menubruk punggung kokoh pemuda itu.
"ya... Jangan berhenti medadak seperti itu." protes Rin kesal.
"aku tidak tau kita mau kemana."
Gubrak!
Rin sweatdrop mendengarnya. Lalu kenapa dia harus repot-repot mengikuti pemuda sinting yang satu ini.
"lalu ke..."
"Oneechan?" Rin reflesk menoleh mendengar suara lembut itu. Oh No! Len ada disini bersama kaito. Sepasang kekasih itu menatap Rin sama terkejutnya
"kalian? Pacaran?" What? Rin shock mendengar pertanyaan itu. Dia buru-buru melepaskan tanganya yang berada dalam genggaman luki.
"tentu saja tidak!" teriak Rin panik.
"Cih! Siapa juga yang mau pacaran dengan gadis sepertinya." sahut Luki angkuh.
"kalau pacaran pun tidak apa-apa... Aku merestui Oneechan bersama Luki-san. Kalian serasi..." ujar Len berbinar.
"kau mengenal orang aneh ini?" tanya Rin tidak percaya ternyata Len mengenal orang aneh disampingnya.
"tentu saja. Luki-san ini sepupunya kaito-nii ya kan kaito-nii?" jelas Len yang ditimpali anggukan mantep dari Kaito. Luka semakin cengo. Jadi Pemuda aneh itu sepupunya kaIto. Rin benar-benar berpikir kalau dunia ini sempit sekali.
"sulit dipercaya dia sepupu kaito-kun, sikapnya sangat jauh berbeda dengan kaito yang lembut dan baik hati." sindir Rin.
"kami kan sepupu bukan sodara kandung bodoh!"
"sudah-sudah kenapa kalian bertengkat terus. Ayo kita makan bersama. Ini sudah saatnya makan siang kan? Ayo kalian ikut kami makan." ajak Kaito yang tak enak hati melihat pertengkaran sepupu dan kakak pacarnya.
Rin dan Luki menghela napas bersamaan.
"baiklah~" ujar keduanya kompak, kemudian saling menatap kaget satu sama lain.
"Ja Len, sampai jumpa. Aku akan menelponmu nanti." Kaito sang seme melambai pada sang kekasih, walau bagaimanapun mereka tetep harus berpisah karena arah rumah yang berbeda. Keduanya telah melewati hari yang menyenangkan bersama. Tentunya berbanding terbaik bagi dua orang lainya yang sejak tadi berwajah masam karena menganggap hari ini hari sial.
"aku akan menunggu telpon kaito Nii^^." Ujar Len dengan wajah yang blushing ria.
"kalian tidak saling mengucapkan kalimat perpisahan?" tanya kaito dengan polosnya pada dua orang yang sejak tadi menebarkan aura ingin membunuh satu sama lain.
"TIDAK!" Luki dan Rin saling memalingkan muka satu sama lain tak ayal membuat Kaito dan Len saling melirik satu sama lain seraya menghela napas melihat sikap menggemaskan(?) dari dua orang itu.
seperti hari biasanya, Rin terbangun dari tidur lelapnya ketika alaram menunjukkan pukul 9 pagi. Terseok-seok Gadis itu menyeret kakinya membuka jendela kamar. Udara hangat khas musim panas menerpa wajahnya yang masih setengah mengantuk.
"Hoammmmzzzz..." Rin menguap lebar seperti singa. Ia mengaruk rambutnya yang berantakan.
Kruyuk~
Rin mengusap perutnya yang keroncongan. Kelaparan gadis itu memutuskan keluar kamar, bau harum telur dadar seketika menyapa indera penciumanya. Wangi sekali~ seperti seekor anjing Rin mengendus mengikuti wangi harum tersebut yang ternyata berasal dari dapur.
"Ohayou Gozaimasu Rin-chan." Mulut Rin seketika mengaga lebar melihat pemadangan dua mahluk sudah nangkring dimeja makanya pagi-pagi buta(?). Bukan kaito yang membuatnya merasa begitu shock berat, pemuda bersurai biru itu sudah biasa berkunjung pagi seperti ini. Tapi.. Tapi...
"Kau pemuda aneh kenapa ada dirumahku?" teriak Rin menggelegar, orang dirumah sebelah pasti sudah mengomel-ngomel mendengar teriakanya.
"oh~ aku hanya mau numpang makan." jawab Luki santai.
"maaf Rin-chan, aku yang mengajaknya kemari." Rin menatap kaito, pemuda itu terlihat merasa bersalah sekali telah membuatnya marah. Rin menghela napas untuk meredam emosinya.
"pagi yang ramai ya~" komentar Len yang muncul dari dapur dengan sepiring omelete dan segelas susu segar. Ia meletakanya dimeja.
"sudahlah~ aku kelaparan..." tak mau ambil pusing Rin mendudukan dirinya kursi yang bersebelahan dengan Luki, mau bagaimana lagi? Dia cukup tau diri untuk tidak duduk disebelah pacar adiknya. Jangan lupakan fakta bahwa Kaito dulu pernah menyukainya juga, Rin tidak mau Len salah paham yang berakhir dengan sepasang kekasih itu putus, tidak! Dia tidak mau itu terjadi.
"itadakimasu~" ujar empat orang itu kompak. Setelah itu suasana menjadi damai dan tentram, hanya denting sumpit dan mangkuk yang sesekali mengisi keheningan.
Selesai makan Rin memutuskan untuk balik kekamarnya, dia mau mandi. Badanya sudah terasa begitu gerah dan bau. Selesai mandi dan berganti baju Rin yang merasa kehausan pergi kedapur untuk minum tapi ditengah perjalananya menuju dapur dia sempat melewati ruang tengah dimana terdengar sayup-sayup tivi menyala. Srak! Rin menggeser pintu.
"kau sedang apa disini?"
"kau tidak lihat? Aku sedang nonton tivi." jawab Luki santai dengan posisi berbaring seraya menggunakan tanganya untuk mengganjal kepalanya.
"Aku tahu. Tapi kenapa dirumaku!"
"oh.. Memangnya kenapa? Ada masalah aku nonton tivi dirumahmu?"
" Tentu saja! Kembalikan remotenya." Rin mengulurkan tangan tetapi malah diabaikan oleh Luki, pemuda itu malah semakin gencar memencet-mencet tombol remote membuat Rin merasa semakin kesal. Cara halus tidak bisa kasarpun jadi begitulah semboyan Rin. Ia berusaha merebut remote tv pertarungan memperebutkan remove pun dimulai.
"Kembalikan! Aku pemilik rumah!" Remote bergeser ke kiri.
"tidak bisa! Tamu adalah raja! Aku juga berhak!" kanan.
"kau bukan tamu!" kiri.
"aku tamu!" kanan.
"bukan!" kiri.
"Iya" kanan.
Dan diakhiri dengan rin yang terjatuh diatas Luki karena tarikan kuat dari pemuda itu membuat keduanya tersungkur bersamaan. Wajah keduanya begitu dekat hingga Rin bisa melihat dengan jelas Iris sejernih laut biru milik pemuda dibawahnya. Indah sekali,,, menghinoptisnya sampai enggan beranjak dari posisi itu.
"ehem! Kalian sedang apa?" Rin dan Luki secara bersamaan menoleh, wajah keduanya seketika gugup dan memerah mendapati Kaito dan Len yang menatap mereka berdua dengan horror.
"Oneechan, kau apa yang kau lakukan?" tanya Len tak percaya dengan penglihatanya sendiri.
Rin cepat-cepat bangkit membenarkan posisinya. Sedangkan Luki dengan santi membenarkan bajunya yang kusut karena adegan tak sengaja tadi.
"itu... Tidak seperti yang kalian pikirkan..." Rin berkata dengan panik.
"Oneechan, aku tidak menyangka. " Len berlari pergi disusul kaito yang mengejar kepergian Ukenya yang sedih karena kakaknya ternyata tidak polos seperti yang dia pikirkan.
"Len tunggu!"teriak kaito.
Rin menggaruk helaian kuningnya dengan kebingungan. Kenapa jadi seperti ini sih?
TBC
