Apakah semua ini benar-benar keputusan yang tepat?

Ludwig menatap keluar jendela dengan minim ekspresi. Sebelah tangannya menopang dagunya dan sesekali menatap kembali sebuah dokumen serta lampiran foto diatas mejanya.

"Tidak, aku tidak bisa."

Tepat diseberang mejanya, duduk Elizaveta yang menatapnya serius. Seandainya tatapannya dapat menusuk dan membunuh, ia akan senang hati melakukan hal itu sekarang juga.

"maaf"

'Apakah harga dirimu jauh lebih berharga daripada nyawa seorang kakak yang telah membesarkanmu seorang diri, Ludwig?' ingin rasanya ia mengutarakan hal itu dihadapannya. Wajahnya mengeras mencoba menahan amarah, Ia bahkan sudah melupakan secangkir kopi panas yang kini sudah dingin.

Elizaveta hanya bisa menggigit sudut bibirnya dengan penuh kebencian.

Ia harus melakukan apa?

.

.

.

.

.

.

dve tváre

Hetalia © Himaruya Hidekaz

Saya tidak mengambil keuntungan dalam kisah ini

Warning! BL, OOC, a lot of typo(s), etc

.

.

.

'Hoi , Eli. Diam dan bersembunyilah. Aku akan menemukan tempat persembunyian yang lain. Jika semua sudah aman, keluar dan cari bantuan.' Elizaveta takut, namun empat tahun cukup membuatnya membulatkan tekad untuk mencari sahabatnya. Mencari orang yang telah menyelamatkannya saat itu. Ruspru dan AusHung.

.

.

chapter 1 : Intro

.

.

"Elizaveta!"

Alam sadar Elizaveta kembali, keringat dingin membasahi kening dan pipinya. Kedua matanya menatap kaget orang yang tengah duduk di depannya. Ah, ia sadar. Setelah kembali dari Jerman, tanpa berpikir panjang ia melangkahkan kakinya keluar dari negara itu menuju Wina.

Rumah dimana tunangannya sekaligus saudara jauh dari 'orang itu' tinggal.

"Roderich." Gumamnya sadar akan siapa yang duduk di depannya.

"Kau benar-benar keras kepala." Roderich hanya bisa menghela nafas, "Apa kau lupa akan peringatanku? Ludwig tidak bisa membantu kita."

Elizaveta tidak menceritakan apapun mengenai pertemuannya dengan Ludwig. Kenapa Roderich bisa-

"Kenapa bisa- t-tunggu! apa Kau membelanya? Apa kau menyerah untuk menemukan Gilbert?!" emosinya naik

"Eli dengar—"

"Apa kau lupa? karena aku, Gilbert—"

"Tidak, Eli!" Roderich menarik Elizaveta dan memeluknya, "Ludwig tengah diawasi. Ludwig tahu itu, dan ia tidak ingin kau tertarik masuk dalam masalahnya! Aku bahkan tak tahu siapa mereka, tapi bukan hanya kau saja yang ingin menemukannya, Aku bahkan Ludwig sangat ingin menemukannya!" penjelasan panjang Roderich membuat Elizaveta menatapnya kaget.

Kedua mata Elizaveta panas dan menangis sekencang mungkin didalam pelukan Roderich.

"kau harulah tenang, Eliza. Kau tidak boleh ceroboh."

Bagaimana bisa dia tenang? Ia tidak bisa melakukan apapun ketika sahabatnya sendiri dibawa pergi oleh orang-orang misterius tepat didepan mata sendiri.

'Hoi , Eli. Diam dan bersembunyilah. Aku akan menemukan tempat persembunyian yang lain. Jika semua sudah aman, keluar dan cari bantuan.' Bohong, itu semua bohong. Gilbert tertangkap, dan dibawa secara paksa setelah menolongnya bersembunyi. Elizaveta melihat hal itu di lubang kecil pada dinding lemari baju tempat ia bersembunyi.

Ia tahu bila Gilbert sengaja tertangkap agar Elizaveta tidak tertangkap. Empat tahun sudah cukup meyakinkan Elizaveta untuk mencari sahabatnya.

'oh Tuhan, Lindungilah Gilbert apapun yang terjadi. Kumohon sangat, dimanapun kau berada… bertahanlah hingga aku dapat menemukanmu.'

.

.

.

.

.

.

TBC