Uzumaki Naruto adalah seorang pria berpenghasilan di bawah rata-rata. Ia hidup bersama istri dan anaknya. Bekerja sebagai pegawai rendahan di Uchiha group. Naruto adalah orang baik, ia sangat mencintai istri dan anaknya. Dan rela melakukan apapun demi mereka. Namun, karena kemelut rumah tangga yang tak pernah jauh dari masalah keuangan, membuatnya harus terjebak bersama seorang laki-laki yang tergila-gila padanya.

Uzumaki Shion, wanita sosialita yang memiliki suami tampan tapi miskin. Shion adalah wanita yang cantik dan berkelas. Dulunya ia berasal dari kaum berada, tapi karena cinta ia meninggalkan seluruh kemewahannya dan menikah dengan Uzumaki Naruto. Bertahun-tahun hidup serba ada, tentunya ia tidak mau hidup susah. Karena itulah, Shion memaksa suaminya untuk menikah dengan seorang pemuda pemilik dan pemegang saham terbesar Uchiha group.

Uzumaki Ino, anak pasangan Uzumaki Naruto dan Uzumaki Shion. Dilema menghadapi permasalah orang dewasa. Gadis belia ini sangat menyayangi ayahnya. Ia tidak mau melihat ayahnya terus-terusan disakiti oleh tingkah laku ibunya. Namun tak bisa berbuat apa-apa. Semenjak sang ayah menikahi lelaki cantik kaya raya, sedikit banyak ia memilki tempat berbagi keluh kesah. Ia merasa punya seorang 'ibu'.

Uchiha Sasuke, yatim piatu. Ditinggal mati oleh kedua orang tuanya sejak usia 15 tahun. Kemudian menjadi pewaris tunggal Uchiha group setelah kakak laki-laki satu-satunya juga meninggal dunia beberapa tahun lalu. Pertemuannya dengan pegawai rendahan Uchiha group bernama Uzumaki Naruto, mengubah seluruh hidupnya. Dari yang suram karena kematian keluarganya menjadi berwarna. Karena orang itu pula, Sasuke bisa merasakan cinta. Dan ia rela melakukan apapun demi bersama Uzumaki Naruto.

.

.

.

Istri Kedua

Naruto

Masashi Kishimoto

Narusasu/Rate T-M/BL

-af-

.

.

.

Apa yang diharapkan dari pernikahan kedua. Ditambah jika istri pertama lah yang mengusulkan hal gila semacam itu. Naruto tidak punya pilihan. Demi kebahagian seseorang yang begitu ia cintai, dirinya rela menipu perasaan orang lain.

Malam pertama, setelah acara pernikahan digelar secara sederhana. Hanya mengundang kerabat dekat. Naruto tidak tahu harus berbuat apa. Padahal ia pernah mengalaminya, tapi berhubung yang jadi pasangannya kali ini adalah orang yang berbeda, dirinya malah jadi kikuk luar biasa.

Uchiha Sasuke, setelah resmi menyandang gelar sebagai 'istri' Naruto. Mencoba untuk bersikap wajar. Ini adalah impiannya, menjadi mempelai dari orang yang berhasil menjungkirbalikkan dunia sempitnya. Tapi kecanggungan tak dipungkiri hadir di tengah-tengah mereka.

Saat ini, baik Naruto maupun Sasuke hanya terdiam. Duduk bersebelahan di atas kasur yang sudah dihias sedemikian rupa. Suasana yang nampak asing bagi keduanya seolah menjadi pemicu kebisuan yang tercipta. Bermenit berlalu, dan mereka sama sekali belum buka suara. Hanya gemerisik detik jarum jam di dinding yang menemani malam panjang mereka.

"Anoo...", Sasuke berucap. Menarik atensi dari pemuda pirang yang masih menggulirkan bola mata. "Ini pertama kalinya bagiku, jadi kuharap kau bisa melakukannya untukku".

Naruto tersentak. Tentu saja. Bagaimanapun, yang namanya malam pertama pastinya akan dilalui dengan kegiatan yang sudah bisa Naruto bayangkan. Hanya saja, Naruto masih bingung. Secara hukum, mereka sudah menyandang status menikah. Hal remeh temeh seperti berpegangan tangan, berpelukan, berciuman bahkan melakukan kegiatan dewasa, menjadi hal wajar bagi mereka. Tapi sekali lagi, Naruto bingung. Inginnya ia lari, paling tidak sampai ia benar siap untuk melakukan hal itu dengan Sasuke. Namun, tatapan mata kelam itu entah mengapa begitu menjeratnya.

"Maaf...", buru-buru Sasuke menambahkan. Ia bangkit, menangkap arti pandangan Naruto padanya. Sadar kalau permintaanya sudah kurang ajar. Sasuke cukup tahu diri. Tahu kalau Naruto menerimanya sebagai istri saja sudah sangat membahagiakan bagi Sasuke, setidaknya ia bisa terus berada di samping pria yang amat dicintainya itu.

Kalau boleh jujur, dirinya terluka. Meski tak secara langsung, Naruto telah menolaknya. Mungkin Sasuke harus menunggu, entah sampai kapan. Naruto tidak mencintainya, ia mengerti itu. Hanya saja...

"Eh?"

Tenggelam dalam pikirannya, Sasuke tidak sadar posisi. Sejak kapan ia sudah terbaring di ranjang? Sejak kapan Naruto ada di atasnya? Mengurungnya dengan dua tangan. Apalagi kini pria itu sudah tak berbusana atasan. Wajah Sasuke memerah. Panas seketika menjalar dari ujung kepala. Intimidasi Naruto menenggelamkannya pada nafsu dunia. Sasuke tidak bisa menolak pesona sosok yang kini menyandang predikat suaminya.

.

.

.

"Akh!"

Sensasi memabukkan menjalar dengan sangat cepat. Naruto jelas merasakan bagaimana Sasuke menjepit miliknya. Erat dan panas. Nafsu menggerus kewarasannya. Naruto sudah tak bisa berpikir lagi. Sasuke yang mengangkang di hadapannya kini menjadi prioritasnya. Dengan hentakan keras, yang memancing desahan Sasuke, Naruto membenamkan dirinya jauh dalam tubuh pemuda itu. Menubruk satu-satunya titik nikmat yang membuat Sasuke melayang, dan tanpa sadar mencengkeram Naruto makin erat.

Ini yang ketiga kalinya. Mereka sudah berpindah posisi. Narito yang menggempur Sasuke dari bawah. Dan Sasuke yang terus menerus menghentakkan dirinya. Mencari nikmat dunia yang sengaja Naruto sumbat.

"Akkh... Naru... lep pas... eurnhhh"

Matanya rapat terpejam. Kenikmatan itu merajai tubuhnya. Sasuke hanya bisa mendesah, mengerang. Tangannya yang bebas, merambat. Mencengkeram tangan Naruto yang sejak tadi bersarang di kejantanannya. Menutup saluran urin tempat terbebasnya segala birahi yang mengekang.

Naruto menyeringai. Menikmati wajah Sasuke yang tenggelam warna merah. Selaras dengan sekujur tubuhnya yang banyak tertoreh bekas cupang, hasil kerja Naruto beberapa menit lalu.

"Naru...to... ahnn...", lagi. Desahan sasuke makin keras. Makin brutal pula permainan mereka. Naruto tak sedetik pun memberinya kesempatan untuk klimaks. Dua kali orgasme kering, Sasuke makin kelimpungan. Tubuhnya panas, hasrat belum terpuaskan. Naruto keluar untuk yang keempat kali dalam tubuhnya. Nikmat memang, tapi sungguh menyiksa. Ia ingin dibebaskan, dan Naruto tak membiarkannya.

"Bersama, Suke..."

"AKH! Naru!". Jeritan Sasuke, berbarengan dengan terlepasnya sumbatan Naruto. Hasrat yang sudah ditahannya menyembur keluar. Tubuhnya melengkung indah. Menikmati tiap mili kenikmatan yang perlahan meninggalkannya. Juga semburan panas dari dalam tubuhnya. Kali kelima, Naruto membenamkan dirinya makin dalam.

Mereka terengah. Dengan masih saling bertindihan, berebut oksigen di sekitar. Kegiatan mereka begitu menguras tenaga. Nafas mereka beradu. Naruto yang lebih dulu mampu mengatur pasokan udara, menggulingkan tubuh mereka perlahan. Menarik selimut guna menutupi keduanya. Dengan hati-hati, mengeluarkan miliknya dari rektum Sasuke. Membuat Sasuke kembali mendesah, juga sisa cairan yang tak mampu ditampung Sasuke mengalir membasahi seprei.

"Tidurlah, selamat malam". Naruto mengusap peluh di pelipis Sasuke. Suara beratnya mengantarkan pemuda itu menuju alam mimpi. Lagi pula dirinya memang sangat lelah. Permainan Naruto luar biasa menguras tenaga. Ia mendekatkan diri. Mencari kehangatan pada sebidang dada yang ada di sebelahnya. Memeluk pinggang lelaki yang balas mendekapnya.

.

.

.

Naruto terbangun karena gerakan seseorang dalam pelukannya. Ia menguap beberapa saat sampai akhirnya memilih beranjak dari tempatnya berbaring. Menyingkirkan lengan putih yang memeluk erat pinggangnya, tubuh telanjang Naruto turun dari kasur besar itu. Matanya mencoba menyesuaikan dengan remang cahaya disekitarnya sebelum bergulir, sadar betapa berantakannya kamar itu. Pakaian berceceran dimana-mana. Dan juga bekas sperma, yang tercium jelas menyengat hidung bangirnya.

Naruto membuang nafas kasar. Mengusap wajah tampannya, ada sedikit raut sesal. Tidak habis pikir, kegilaan macam apa yang merasuki jiwanya. Mengingat bagaimana semalaman ia dengan semangat menggauli pria di sebelahnya yang juga sama-sama telanjang.

"Nghh... Naruto?"

Gumaman lirih dari pria berambut aneh itu membuat Naruto menoleh. Mendapati lelaki cantik disebelahnya terbangun, buru-buru ia menutup bagian bawah tubuhnya yang masih telanjang. Naruto segera mengusap peluh yang menggelayut di pelipis pria itu. Mengusap dahinya lembut dan berbisik. "Sshh... tidurlah lagi, kau pasti lelah", katanya tersenyum.

Bukannya kembali terpejam, lelaki cantik itu malah terduduk dari posisinya. Mengucek kedua mata bermanik hitam miliknya dan melirik meja nakas di samping tempat tidur mereka. Melihat jam weker yang menunjukkan pukul lima pagi.

Sasuke, lelaki cantik itu, menyingkap sprei putih yang membelit tubuhnya. Ia beranjak memungut kimono tidurnya di bawah kasur. Memakainya dan berjalan menuju pintu keluar. Tapi belum sempat, rasa nyeri menggagalkan niatnya untuk turun. Seketika itu ingatannya berputar. Bagaimana aktifitasnya semalam. Gila. Hanya itu yang terlintas. Wajahnya memerah.

"Kau baik-baik saja?". Naruto tidak bisa menahan dirinya untuk khawatir. Ringisan Sasuke menjelaskan apa yang dirasakan pemuda itu. Terang saja, semalam ia memang melakukannya berlebihan. Apalagi ini yang pertama bagi Sasuke, Naruto jadi marasa bersalah.

"Aku tidak apa". Dengan sekuat tenaga, Sasuke kembali mengangkat tubuhnya. "Aku akan membuat sarapan", tambahnya. "Kau.. mau sarapan apa, Naruto?"

Naruto memahami jikalau Sasuke adalah seorang yang mandiri. Kesenderiannya selama ini yang memaksa pemuda berusia dua puluhan itu menjadi seperti sekarang. "Kau tidak perlu bangun pagi hanya untuk menyiapkan sarapan, kan?". Naruto mengikuti Sasuke. Ia beranjak, untuk mencomot pakaiannya yang semalam ia sebar sembarangan. Juga membantu Sasuke berjalan. Dengan melihatnya, Naruto tahu kalau Sasuke pasti tidak baik-baik saja.

Sasuke tersenyum, ia tahu kalau Naruto orang baik. Sangat baik malah. Karena itu, ia ingin membalasnya. Membuat sarapan bukanlah hal berat baginya. Ia sudah terbiasa. Masakannya pun bisa dibilang enak. Dan lagi, bukankah melayani Naruto sudah menjadi kewajibannya? Ia istri Naruto sekarang, dan tugasnya untuk melayani pria itu dimana saja.

"Apapun masakanmu, aku akan memakannya".

.

.

.

"Apa yang kaulakukan?"

Sasuke baru saja selesai menata piring di meja makan. Ketika suara seorang wanita menginterupsi kegiatannya. Melirik. Dapat dilihat Shion, turun dari lantai dua. Rambut pirang pucatnya ia gerai indah. Matanya tajam, menyalang Sasuke yang balas menatapnya datar. Sepertinya ia baru saja bersiap, hendak keluar, dilihat dari penampilannya.

"Bisa kaulihat, aku membuat sarapan", jawabnya. Sasuke kembali berkutat denngan kegiatan awalnya. Tidak sadar kalau Shion mempertajam pandangannya. Wanita itu tengah cemburu sepertinya.

"Sarapan? Kaupikir Naruto akan kenyang dengan makan roti seperti itu?"

Sasuke menghentikan tangannya, baru saja ia menuang segelas susu untuknya. Kali ini tidak hanya melirik, tubuhnya sontak berbalik. Dan Sasuke baru sadar ada seringai meremehkan dari wanita yang merupakan istri pertama Naruto itu.

"Naruto tak pernah sarapan roti, kautahu?". Langkahnya anggun. Ditambah sepatu berhak tinggi, membuat kesan kalau Shion adalah wanita kelas atas. Dagunya terangkat, dirinya mencoba merendahkan Sasuke yang saat ini hanya mengerenyit keheranan.

Tak.

Langkah kaki Shion berhenti tepat di hadapan Sasuke. Tubuhnya yang hanya sepundak lelaki itu, terpaksa membuatnya mendongak. Sirat matanya mengancam. Sasuke tidak bodoh untuk menyadari itu. Tapi ia tidak ingin menimbulkan keributan. Aktifitas malamnya dengan Naruto masih menguras tenaga.

"Singkirkan itu dan akan kutunjukkan bagaimana 'memuaskan' Naruto di meja makan". Kata memuaskan Shion tekan. Mencoba menyindir malam pertama Sasuke. Tentu saja Sasuke sadar. Tapi sekali lagi, ia tidak ingin membuat keributan. Ini adalah hari pertamanya menjadi seorang 'istri'. Dan Sasuke mau tak mau memang harus belajar dari Shion yang diakuinya, lebih mengenal Naruto ripada dirinya.

Mereka masih berpandangan, saat Naruto tiba. Lelaki itu heran. Masih pagi, dan kalau tidak salah lihat, dua istrinya sedang adu tatap mematikan. "Ehem...". mencoba mencairkan suasana, deheman Naruto berhasil memutus kontak listrik yang sedang keduanya lakukan. Shion sigap mendekati Naruto, sedangkan Sasuke, terpaksa kembali menata piring untuk disingkirkan ke dapur. Pagi ini, biarkan Shion melayani Naruto, seperti kata wanita itu.

"Apa yang kau lakukan, Sasuke?", Naruto bertanya. Kedua alisnya menukik, mata birunya menyorot tajam pada kedua tangan Sasuke yang mengangkuti piring.

Sasuke terdiam sejenak, sebelum berucap untuk menjawab pertanyaan retoris Naruto. "Ah aku tidak tahu menu sarapanmu, jadi kupikir lebih baik Shion yang –.."

"Hari ini aku yang memasak, Naruto!"

Kalimat bernada tegas itu keluar dari mulut bergincu Shion. Dua manik mata berbeda warna itu saling pandang sejenak, sebelum beralih pada entitas lain yang ada di sana. Shion dengan tatapan tajamnya, menghujam Sasuke. Dalam bisu meminta pria itu untuk mengiyakan kata-katanya. Sasuke menurut, tanpa banyak bicara, ia giring semua hidangan ke tempat semula –dapur.

Naruto kikuk. Merasa tidak enak hati pada pria yang sehari lalu resmi menjadi istri keduanya. Melirik Shion sebentar yang memandangnya tajam. Naruto makin salah tingkah. Dalam hatinya berkata 'Ada apa dengan Shion, bukankah ia yang menyuruhnya menikahi pria Uchiha itu? Mengapa tingkahnya sekarang seolah ia tengah cemburu?'

.

.

.

Shion baru saja menghilang di dapur ketika Uzumaki Ino tiba di ruang makan. Gadis belia itu sempat menyaksikan debat kusi antara orang tuanya. Dirinya sih tidak peduli, hanya risih saja. Masih pagi dan mereka sudah mulai bersitegang karena masalah sepele.

"Cih!"

Kepala keluarga Uzumaki sontak menatap putri tunggalnya heran. Pasalanya ia tak pernah sekali pun mengajari anaknya untuk bersikap tidak sopan. Pria berusia 40-an itu hendak mendekati Ino saat sang anak mengucapkan hanya diam sembari membuang muka. "Mana ucapan selamat pagimu, Ino!", tegurnya. Ino yang mendengar itu memutar bola mata bosan. Tidak. Ia masih marah karena keputusan ayahnya yang menikahi lelaki macam Uchiha. Ia tidak terima. Jadi, selama itu pula Ino tidak akan bicara. "Ino!", tegurnya lagi.

"Aku berangkat!". Cuek. Ketus. Dingin. Naruto sangat sadar perubahan sikap Ino. Semenjak ia menyetujui permintaan istri pertamanya untuk bersedia menjadi pendamping Sasuke, anak semata wayangnya itu menjaga jarak. Mereka jarang sekali bertegur sapa. Apalagi saat pertama kali mereka sekeluarga resmi menempati kediaman Uchiha. Secara verbal memang Ino tak menyuarakan keberatan. Tapi tingkah gadis itu membuat Naruto harus memijit kepala. Entah bagaimana lagi ia harus menjelaskan bahwa ini demi keutuhan hidup keluarganya. Sayang Naruto tak bisa mengatakan kebenarannya.

Baru tiga langkah Ino beranjak. Sasuke yang kini menjabat sebagai 'ibu'nya mencegat. Digenggamannya ada sebuah kotak makan bergambar hello kitty. Ia menyodorkan bekal makan siang pada Ino, yang langsung ditepis. "Aku tidak butuh makanan darimu!"

"Ino!"

"Aku berangkat!"

.

.

.

Tbc kah?

-arigatou gozaimasu-

-silahkan tinggalkan pesan dan kesan-