Punya gebetan yang jauh lebih tua itu ribet.
Raut muka Seonho cerah melihat wajah si lelaki tersayang, yang wajahnya berbanding terbalik dengan senyuman. "Kak Minhyun!" Tangan dilempar mendekap si lelaki malang itu erat, tidak pedulian dengan satu meja yang kini diam.
Hwang Minhyun sedang makan malam bersama dengan kolega kampusnya. Seonho, dengan segala leha-leha remaja labil yang seharusnya belajar di kamar (BESOK HARI SENIN,) nekat mengekor.
"Minhyun, mau minum?"
"Kak Minhyun harus nyetir pulang, jadi dia nggak boleh minum alkohol," jawab Seonho. Padahal bukan dia yang ditanya. Sesaat, tatapan gadis-gadis itu sinis kepadanya, tapi berubah ramah kemudian.
"Kamu lucu banget, deh. Adeknya Minhyun, ya?" tanya seorang gadis.
Seonho dengan sopan hendak menyatakan apa yang seharusnya menjadi fakta (menurut pendapatnya). "Bukan,—"
Minhyun menyubit pinggangnya pelan dari bawah meja. "Iya, hahaha. Dia anak teman mamaku, suka dititipkan ke rumah kalau orangtuanya kerja."
Yang duduk di sampingnya cemberut. Apa salahnya sih kalau Seonho bercita-cita menjadi pacarnya Minhyun? Seonho ingin menyanggah, tapi Minhyun memberi tatapan dari samping dan menyuruhnya diam.
Seonho anak baik, jadi dia menurut. Masih cemberut.
(Meski mengekor Minhyun ke urusan makan malam kuliahnya itu masuk kategori bandel.)
Makin lama, malam makin gelap. Tapi tanda-tanda makan malam akan usai belum kelihatan juga batang hidungnya. Sementara itu, Minhyun kelihatan seperti orang yang akan meledak sewaktu-waktu. Jenggot non-eksistennya kebakaran.
Seonho cuek begitu Minhyun menengok dengan tatapan yang berusaha tegas. "Udah jam sepuluh. Pulang. Aku teleponin bang Dongho, dia pasti khawatir."
"Nggak mau." Seonho menggeleng. "Aku maunya pulang bareng kakak."
Muka Seonho bebal dengan tatapan Minhyun. Sambil tersenyum (pura-pura) inosen, dia bersandar memeluk sebelah lengan Minhyun. Gadis-gadis yang duduk di seberang mereka sambil memegang gelas soju melihat iri. Kata pepatah, kalau iri artinya kalah. Seonho menang.
Minhyun cuma menghela nafas. Kentara sekali capeknya. Seonho bisa mencium adanya perselisihan setelah ini, tapi siapa yang peduli kalau lengan ototan Minhyun sedang dia rangkul?
Ponsel Minhyun tetap berdering. Konteksnya panggilan dari Dongho, sang abang sepupu yang menjaga rumah kalau orangtuanya sedang pergi kerja semalaman. Minhyun menjauh mengabaikan rengekan Seonho supaya Minhyun jangan angkat teleponnya. Dia mengatakan beberapa kalimat di ponselnya, kelihatan seperti 'iya' dan 'maaf, nggak bisa dibujuk.'
Seperti yang Seonho sudah maklumi dari jauh-jauh hari; punya gebetan yang jauh lebih tua itu ribet.
Seonho duduk manis di jok samping Minhyun, tangan terlipat di pangkuan dan menyatu di telapak. Posisi hukuman ketika sedang memohon permaafan dari guru SMA-nya kalau Seonho berbuat bandel di sekolah, hanya saja minus kaki yang bersimpuh. Sekeliling mobil hening, hanya suara gerungan mesin. Raut muka Minhyun masam.
Merengut. Seonho menyandarkan kepalanya melawan tali safety belt. Dia punya keinginan dalam untuk menyalakan musik di radio, tapi takut dimarahi Minhyun yang jelas sedang tak ingin ada suara tanpa seizinnya.
Seonho lagi-lagi melirik muka Minhyun, dan cepat-cepat membuang tatap. Takut ketahuan. Padahal jelas sekali dia sedang mengintip, lagi dan lagi. Mobil berbelok ke perempatan, sementara ditahan lampu merah.
"Sekarang jam berapa?" kata Minhyun pada akhirnya.
Seonho menengok. Dia melirik jam digital di dasbor mobil. "Setengah dua belas."
"Besok hari apa?"
"Senin."
"Kesimpulannya?"
Seonho memalingkan muka menolak mengambil kesimpulan. Dibanding mengomel panjang lebar, Minhyun lebih suka membuat Seonho menyimpulkan sendiri. Hal itu bagus untuk pendidikan, tapi disini Seonho posisinya seperti anak kecil yang disuruh refleksi. Lagipula Minhyun bukan seorang bapak atau seorang mama.
"Seonho. Kesimpulannya."
Suara Minhyun menegas dan Seonho tidak bisa menolak. "Aku yang salah."
Minhyun tidak berniat melanjutkan. Omelan selesai. Sepanjang perjalanan sepi, seolah menyuruh Seonho untuk kembali memikirkan perbuatannya. Minhyun tidak pernah banyak bicara. Seonho tidak pernah diizinkan berkenalan dengan isi pikirannya.
Suka sama Minhyun itu memang ribet. Ribet, tapi nggak pernah susah karena Seonho selalu memastikan selama ada Minhyun, susah itu rasanya tidak seberapa. Tidak susah sama sekali.
Tapi kadang-kadang, Seonho ingin memaklumi kalau punya gebetan jauh lebih tua itu susah.
Bang Dongho sudah menunggu di depan rumah dengan galak ketika Seonho datang. Seonho merengut (lagi), merasakan tangan Minhyun mendorongnya pelan di bahu supaya cepat bersitatap dengan abangnya tersebut.
"Kamu nggak tau sekarang jam berapa, Seonho?" tanya bang Dongho, nada marah jelas ada di suaranya. "Anak SMA mana boleh jalan sendirian malem-malem, hah? Mana besoknya sekolah. Abang lapor mama kamu aja, ya? Siap-siap aja kamu nggak boleh ketemu Minhyun lagi."
Seonho mencoba berkelit, "Jangan dilapor, bang. Kan Seonho udah izin—lewat sticky notes yang ada di meja belajar. Seonho juga udah bilang ke Guanlin."
"Kalo izin itu sama abang, bukan sama Guanlin atau sama meja belajar," omel Dongho, masih marah. "Kamu itu bikin abang repot. Minhyun pasti nggak enak sama temen-temennya, digelendotin kamu terus. Sekarang masuk. Tidur. Besok kamu harus sekolah, abang nggak mau tau. Tanggung sendiri kalo kamu teler atau apa."
"Seonho masih mau—"
"Ma. Suk."
Nada Dongho jadi makin keras di setiap perkataannya. Seonho akhirnya menurut, masuk ke apartemen sambil mencuri-curi pandang ke Minhyun sebelum melangkah ke kamar gontai. Seluruh penjuru apartemen gelap, hanya kamar Dongho yang masih terang benderang. Seonho mulai merasa agak tidak enak membuat abangnya bangun semalam ini.
Setelah beberapa saat, pintu depan kedengaran ditutup. Minhyun sudah pulang. Dongho menyempatkan diri mengecek Seonho di kamarnya. Seonho masih cemberut, bergelung dengan selimutnya. Remaja lelaki itu abai saja dengan Dongho yang mengecek ponsel dan buku-buku sekolahnya.
Seonho menahan Dongho sebelum lelaki itu keluar dari kamar. "Bang," katanya. "Memang Seonho nggak boleh suka sama kak Minhyun?"
Dongho menoleh. Sorot matanya melembut. Lelaki itu menghampiri Seonho, mengacak rambut si remaja pelan. "Nanti. Nanti—kalo kamu sukanya sekarang, urusannya bakal panjang, Seonho."
"Tapi Seonho suka sama kak Minhyun."
"Abang tau," jawab Dongho singkat. Seonho ditinggalkan sendiri dengan pikiran acakadut.
Besoknya, Seonho bangun teler.
Author's Note:
- dilabeli complete aja supaya nggak memicu harapan berlebih.
- dari episode sekian udah gemes banget sama minhyun seonho, kayak; yaampun dek, suka banget sama minhyun? terus di wanna one go mereka vidcall-an kan, si seonho 'mumu' /cium jauh/ terus dibales 'mumumumu' /cium balik/ sama minhyun. i'm so done with them.
